<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160868">
<title>DF - Medicine and Nutrition</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160868</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179369"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179378"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179258"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179209"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-09-01T14:45:15Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179369">
<title>Pengaruh Intervensi Puding Okra Ungu Mengandung Probiotik terhadap Profil Metabolik Darah dan Feses Penyandang Diabetes Mellitus Tipe-2</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179369</link>
<description>Pengaruh Intervensi Puding Okra Ungu Mengandung Probiotik terhadap Profil Metabolik Darah dan Feses Penyandang Diabetes Mellitus Tipe-2
Puruhita, Tri Kusuma Agung
Diabetes Mellitus adalah penyakit akibat gangguan metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah, disebabkan oleh resistensi insulin, gangguan sekresi insulin, atau kombinasi keduanya. Penggunaan probiotik sebagai terapi adjuvan diabetes mellitus tipe-2 (DMT2) semakin meningkat. Lactiplantibacillus plantarum Dad-13 merupakan strain lokal Indonesia, menunjukkan potensi memodulasi mikrobiota usus, meningkatkan produksi asam lemak rantai pendek (SCFA), meningkatkan integritas barrier usus, dan mencegah disbiosis. Okra ungu (Abelmoschus esculentus L) varietas Zahira memiliki mucilage dan kuersetin yang berpotensi memperbaiki kontrol glikemik dan lipid. Puding okra ungu telah dikembangkan sebagai pangan fungsional dengan potensi anti-diabetes. Belum terdapat penelitian yang mengombinasikan puding okra ungu dengan probiotik dan mengevaluasi pengaruhnya terhadap profil metabolik darah dan feses. &#13;
Tahap pertama dilakukan pengembangan puding okra ungu mengandung probiotik menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga taraf penambahan mucilage (10, 15, dan 20%) dan inokulasi Lactiplantibacillus plantarum Dad-13 sebanyak 1 g/100 g (10^9 CFU/g). puding dengan penambahan 20% mucilage memberikan daya terima tertinggi. Puding (per 100 g) memiliki kalori 16,56 kkal dengan komposisi zat gizi dan senyawa bioaktif sebagai berikut: kadar air 93,97 ± 0,03 g, protein 1,07 ± 0,01 g, lemak 0,16 ± 0,05 g, dan karbohidrat 2,72 ± 0,24 g, serat pangan total 1,68 ± 0,14 g, serat pangan larut air 0,13 ± 0,017 g, serat pangan tidak larut air 1,54 ± 0,124 g, dan kuersetin 322 µg. Selama penyimpanan viabilitas total BAL puding menurun dari 1,9 × 10^7 CFU/g pada hari ke-0, menjadi 8,4 × 10^6 CFU/g pada hari ketujuh, 3,8 x 10^5 CFU/g pada hari keempat belas, dan 1,2 x 10^5 CFU/g pada hari kedua puluh satu. Kesukaan terhadap tekstur selama penyimpanan menurun secara nyata (p&lt;0,05), sedangkan aroma, warna, dan rasa tidak berpengaruh.&#13;
Tahap kedua dilakukan penelitian randomized clinical trial placebo-controlled selama 6 minggu pada pasien DMT2. Sebanyak 30 subjek diacak menjadi kelompok intervensi (mendapatkan okra ungu mengandung probiotik; 2×100 g/hari) dan kelompok kontrol (mendapatkan puding okra ungu plasebo; 2×100 g/hari). Sebanyak 24 subjek berhasil menyelesaikan penelitian. Puding okra ungu mengandung probiotik berisi total BAL sebesar 10^7 CFU/g pada minggu pertama, menurun menjadi 10^5 CFU/g pada minggu keempat, dan menjadi 10^3 CFU/g pada minggu keenam. Intervensi secara signifikan menurunkan nilai glycated albumin (GA) pada minggu keempat dan keenam; menurunkan nilai kolesterol total, kolesterol low-density lipoprotein (K-LDL), dan trigliserida (TG) pada minggu keempat; meningkatkan short chain fatty acid (SCFA) butirat; serta menurunkan konsistensi feses (skor BSC) pada minggu keempat dan keenam (p&lt;0,05). Namun, intervensi tidak menunjukkan perubahan signifikan terhadap nilai glukosa darah puasa (GDP), Kolesterol HDL (K-HDL, SCFA asetat dan propionat pada feses, total bakteri asam laktat (BAL) feses, dan nilai pH feses (p&gt;0,05). &#13;
Intervensi menurunkan GA secara signifikan pada minggu ke-4 dan ke-6 dibandingkan kelompok kontrol, tetapi tidak menghasilkan perbedaan signifikan pada GDP. GA mencerminkan kontrol glikemik selama dua sampai tiga minggu sebelumnya sehingga lebih responsif terhadap intervensi jangka pendek dibandingkan pengukuran glukosa pada satu waktu. Penurunan GA diperkirakan berkaitan dengan aktivitas probiotik serta metabolit mikroba seperti butirat yang berhubungan dengan integritas sawar usus, regulasi inflamasi, dan sensitivitas insulin. Namun, mekanisme tersebut perlu diteliti lebih lanjut karena tidak langsung mengukur komposisi mikrobiota, biomarker inflamasi, dan permeabilitas usus.&#13;
Pada minggu ke-4, kelompok perlakuan mengalami penurunan kolesterol total, K-LDL, dan trigliserida yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol, sedangkan K-HDL tidak berubah signifikan. Pada minggu ke-6, konsentrasi butirat feses meningkat secara signifikan, tetapi asetat dan propionat tidak menunjukkan perbedaan bermakna. Total BAL feses juga tidak berbeda signifikan antar kelompok, meskipun reratanya meningkat dan variasi data kelompok perlakuan menjadi lebih homogen. Skor BSC berubah secara signifikan menuju konsistensi feses yang lebih normal pada minggu ke-4 dan ke-6, sedangkan pH feses menunjukkan kecenderungan menurun tanpa perbedaan signifikan. &#13;
Peningkatan butirat tanpa peningkatan total BAL menunjukkan bahwa tidak menutup kemungkinan aktivitas metabolik dapat dipengaruhi fermentasi mucilage, aktivitas Lactiplantibacillus plantarum Dad-13, dan interaksinya dengan kuersetin yang diperkirakan berkontribusi terhadap pembentukan butirat dan perbaikan metabolisme. Meskipun demikian, desain penelitian belum memungkinkan pemisahan efek setiap komponen ataupun pembuktian adanya efek sinergis antara probiotik, mucilage, dan kuersetin
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179378">
<title>Efikasi Nugget Ayam dengan Penambahan Hati Ayam serta Daun Kelor (Moringa Oleifera) untuk Pencegahan Anemia pada Remaja Putri</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179378</link>
<description>Efikasi Nugget Ayam dengan Penambahan Hati Ayam serta Daun Kelor (Moringa Oleifera) untuk Pencegahan Anemia pada Remaja Putri
Wijaya, Sofyan Musyabiq
Berdasarkan data nasional dan global, prevalensi anemia pada remaja menunjukkan tren meningkat, terutama pada wilayah Asia Tenggara. Kondisi ini memengaruhi konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, kesehatan reproduksi, serta risiko komplikasi pada masa kehamilan dan kehidupan dewasa. Salah satu penyebab utama anemia adalah kurangnya asupan zat besi, terutama dari sumber hewani. Gaya hidup dan pola konsumsi remaja yang cenderung memilih makanan cepat saji berkontribusi pada rendahnya konsumsi pangan bergizi, termasuk makanan yang menjadi sumber protein dan zat besi yang memadai. Untuk menjawab tantangan ini, penelitian dilakukan dengan pendekatan pengembangan produk pangan yang mudah diterima remaja namun kaya akan zat gizi, yaitu pengembangan nugget ayam dengan penambahan hati ayam dan daun kelor sebagai intervensi pangan fungsional dalam pencegahan anemia.  &#13;
Hati ayam dipilih karena merupakan sumber zat besi heme yang memiliki tingkat absorpsi lebih tinggi dibandingkan zat besi nabati. Kandungan zat besi pada hati ayam berkisar 15,8 mg/100 g, serta dilengkapi vitamin A, vitamin B12 yang berperan dalam pembentukan hemoglobin. Sementara daun kelor dipilih karena kaya zat gizi mikro seperti zat besi non-heme, vitamin C sebagai enhancer absorpsi zat besi, serta antioksidan yang berperan dalam memproteksi hemoglobin dari kerusakan oksidatif. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor dapat meningkatkan kadar hemoglobin dan feritin secara signifikan pada kelompok rentan anemia. Kombinasi kedua bahan ini, disertai basis daging ayam sebagai bahan utama nugget, diharapkan menciptakan pangan intervensi yang memiliki nilai gizi tinggi, diterima secara sensori, dan efektif meningkatkan status zat besi pada remaja putri. &#13;
Tujuan umum penelitian ini adalah mengembangkan produk untuk mencegah anemia pada remaja putri melalui intervensi produk nugget hati ayam dengan penambahan hati ayam dan daun kelor. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini, adalah 1) mengembangkan nugget ayam dengan penambahan hati ayam dan daun kelor berdasarkan karakteristik fisik (warna dan tekstur), sensori (afektif dan deskriptif), dan zat gizi (makronutrien),  2) menganalisis bioavailabilitas zat besi pada nugget dengan penambahan hati ayam dan daun kelor terpilih, 3) mengevaluasi pengaruh pemberian nugget dengan penambahan hati ayam dan daun kelor terhadap kadar Hb, kadar feritin, dan nilai estimasi bioavailabilitas asupan zat besi pada remaja putri anemia.&#13;
Metode penelitian dilakukan dalam tiga tahapan utama: 1) pengembangan produk melalui formulasi, uji proksimat, uji sensoris, dan evaluasi tingkat kesukaan; (2) uji bioavailabilitas zat besi pada produk dilakukan secara in vitro menggunakan metode dialysis; dan (3) uji intervensi pada kelompok remaja putri menggunakan desain quasi-experimental. Proses formulasi melibatkan variasi proporsi daging ayam, hati ayam, dan daun kelor dengan rasio yang berbeda, kemudian diuji menggunakan panelis semi terlatih untuk menentukan tingkat penerimaan atribut sensoris seperti warna, aroma, tekstur, rasa, dan penerimaan keseluruhan. Setelah formulasi terbaik diperoleh, produk diuji kandungan makronutrien, zat besi, serta tingkat bioavailabilitas zat besi. Tahap akhir intervensi dilakukan selama tiga bulan kepada santriwati yang memenuhi kriteria umumnya adalah tidak anemia, dengan pengukuran hemoglobin, feritin, dan nilai estimasi bioavailabilitas asupan zat besi sebelum dan setelah intervensi. Analisis menggunakan IBM SPSS versi 22. &#13;
Hasil uji sensori menunjukkan produk dapat diterima oleh panelis, meskipun terjadi perubahan warna dan aroma akibat karakteristik bahan tambahan. Hasil uji bioavailabilitas zat besi menggunakan metode dialisis menunujukan bahwa produk nugget dengan penambahan hati ayam dan daun kelor memiliki biovailabilitas zat besi yang jauh lebih tinggi (60,01%) dibandingkan dengan nugget ayam kontrol (28,93%). Secara in vitro, formulasi terpilih (daging ayam 76%; hati ayam 20%, dan daun kelor 5%) menunjukkan peningkatan bioavailabilitas zat besi yang lebih tinggi dibandingkan kontrol. Intervensi selama tiga bulan menunjukan bahwa konsumsi nugget ayam dengan penambahan hati ayam dan daun kelor meningkatkan asupan energi, protein, lemak, dan zat besi secara signifikan (p&lt;0,05) dibandingkan dengan kelompok kontrol (nugget ayam). Kadar hemoglobin dan feritin meningkat meskipun tidak signifikan (p&lt;0,05). Rata-rata kadar Hb sebelum intervensi sebesar 13,18±0,77 g/dL dan meningkat menjadi 13,33±0,79 g/dL setelah intervensi, dengan selisih sebesar 0,15±0,67 g/dL. Rata-rata kadar feritin sebelum intervensi tercatat sebesar 47,76±22,03 ng/mL dan meningkat menjadi 48,47±24,50 ng/mL setelah intervensi, dengan selisih sebesar 0,71±17,73 ng/mL Meskipun hasilnya tidak signifikan akan tetapi nilai ini masih dalam kategori normal. Hal ini dapat menjelaskan bahwa intervensi ini mampu mempertahankan kadar Hb dan feritin dalam nilai yang normal sehingga dapat berpotensi mencegah anemia defisiensi zat besi pada remaja putri. &#13;
Penelitian ini menegaskan bahwa nugget ayam dengan penambahan hati ayam dan daun kelor merupakan inovasi pangan fungsional yang tidak hanya memenuhi standar mutu pangan olahan, tetapi juga memiliki potensi dalam upaya pencegahan anemia pada remaja putri. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dalam bentuk pendekatan pangan berbasis bahan lokal yang terjangkau, kaya gizi, dan berpotensi dikembangkan sebagai intervensi nasional dalam penanggulangan anemia. Selain itu, kebaruan penelitian terletak pada integrasi sumber zat besi heme dan non-heme dalam produk pangan siap konsumsi yang diuji hingga level klinis pada populasi sasaran.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179258">
<title>Pengembangan Es Krim Gayam (Inocarpus Fagifer) serta Pengaruhnya terhadap Kadar Leptin, Bobot dan Jaringan Adiposa Serta Respon Lapar Kenyang</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179258</link>
<description>Pengembangan Es Krim Gayam (Inocarpus Fagifer) serta Pengaruhnya terhadap Kadar Leptin, Bobot dan Jaringan Adiposa Serta Respon Lapar Kenyang
Rahayu, Nur Setiawati
Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan global yang terus meningkat dan dipengaruhi oleh ketidakseimbangan energi serta rendahnya konsumsi pangan tinggi serat. Upaya penanggulangan obesitas melalui pendekatan pangan fungsional menjadi semakin relevan, terutama dengan memanfaatkan sumber pangan lokal yang memiliki ketersediaan tinggi namun belum banyak diolah. Gayam (Inocarpus fagifer) adalah salah satu tanaman lokal Indonesia yang kaya karbohidrat kompleks, protein, dan serat pangan, namun pemanfaatannya masih terbatas pada konsumsi dalam bentuk rebusan. Transformasi gayam menjadi tepung dan diaplikasikan dalam produk pangan modern seperti es krim menawarkan peluang inovatif untuk meningkatkan nilai guna dan nilai ekonominya. Kandungan serat pangan tepung gayam yang tinggi dapat memberikan efek fisiologis yang menguntungkan, terutama terkait regulasi respon lapar-kenyang, pengendalian asupan energi, dan perbaikan komponen metabolik terkait obesitas.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi es krim gayam sebagai pangan fungsional yang berpengaruh terhadap kadar leptin, jaringan adiposa, berat badan, dan respon lapar-kenyang pada kondisi obesitas. Secara khusus, penelitian mengevaluasi peran tepung gayam sebagai sumber serat pangan yang mampu memodulasi hormon metabolik, meningkatkan rasa kenyang, serta menurunkan akumulasi lemak tubuh. Pendekatan ini menawarkan alternatif intervensi berbasis pangan lokal yang lebih mudah diterima masyarakat serta memiliki tingkat keberlanjutan yang tinggi.&#13;
Metode penelitian menggunakan desain experimental dengan pemberian es krim gayam dalam dosis terstandar. Tepung gayam diperoleh melalui proses perebusan, pengeringan sinar matahari, penggilingan, dan ayakan 80 mesh untuk memastikan homogenitas ukuran partikel. Analisis proksimat menunjukkan tepung gayam mengandung karbohidrat 74,59%, protein 9,49%, lemak 3,62%, dan serat pangan 13,79%. Es krim diformulasikan dengan substitusi sebagian bahan tepung dan total solid menggunakan tepung gayam sehingga menghasilkan produk sumber serat namun tetap memiliki karakteristik organoleptik yang baik. Pengukuran kadar leptin, penimbangan berat badan, analisis jaringan adiposa, dan penilaian skala lapar-kenyang dilakukan sebelum dan setelah intervensi. Analisis statistik menggunakan uji parametrik atau nonparametrik sesuai karakteristik data.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa es krim dari aspek sensori, formulasi es krim berbasis susu full cream (A2) menunjukkan tingkat penerimaan tertinggi pada atribut rasa, tekstur, dan keseluruhan, dengan perbedaan yang signifikan dibandingkan formulasi lain (p &lt;0,05). Sementara itu, formulasi berbasis santan memberikan tekstur yang lebih padat dan karakter rasa khas, meskipun memiliki tingkat kesukaan yang lebih rendah dibandingkan formula berbasis susu. Pada uji preklinis, pemberian es krim gayam pada tikus obesitas menunjukkan efek signifikan dalam menekan kenaikan berat badan, dengan peningkatan berat badan kelompok intervensi sebesar ±41–44 g dibandingkan kelompok kontrol obesitas sebesar ±71–73 g (p = 0,005). Selain itu, terjadi penurunan kadar leptin yang signifikan pada kelompok intervensi, masing-masing sebesar -6,548 ± 0,093 ng/mL dan -6,413 ± 0,218 ng/mL, yang mengindikasikan adanya perbaikan sensitivitas leptin. Analisis jaringan adiposa menunjukkan penurunan berat jaringan lemak secara nyata serta perubahan morfologi adiposit dari hipertrofi menjadi hiperplasia, ditandai dengan peningkatan jumlah adiposit kecil dan penurunan ukuran sel (2621–2651 µm²), yang mencerminkan profil metabolik yang lebih sehat. Pada uji manusia, konsumsi es krim gayam terbukti mampu meningkatkan rasa kenyang dan menurunkan rasa lapar secara signifikan pada menit ke-30 dan 60 (p &lt;0,05), meskipun efeknya bersifat sementara hingga menit ke-120. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa es krim berbasis tepung gayam memiliki potensi sebagai pangan fungsional dalam pengendalian obesitas melalui mekanisme peningkatan rasa kenyang, perbaikan regulasi hormon, serta penurunan akumulasi lemak tubuh. Es krim berbahan tepung gayam dapat meningkatkan sensasi kenyang dan menurunkan frekuensi makan berlebih. Peningkatan rasa kenyang ini diduga berasal dari kandungan serat pangan yang meningkatkan viskositas bolus makanan, memperlambat pengosongan lambung, serta memodulasi pelepasan hormon kenyang seperti leptin. Pada responden obesitas, ditemukan tren penurunan kadar leptin yang lebih stabil setelah intervensi, menunjukkan adanya perbaikan sensitivitas leptin. Selain itu, terdapat kecenderungan penurunan berat badan dan jaringan adiposa meskipun dalam jumlah moderat, yang sejalan dengan penelitian serat pangan dan resistant starch dalam mempengaruhi metabolisme energi dan profil hormon. Karakteristik gizi tepung gayam yang rendah lemak dan tinggi serat turut mendukung penurunan densitas energi makanan, sehingga konsumsi es krim ini tidak menambah beban kalori harian secara signifikan. Dari sisi mutu produk, es krim gayam memiliki kualitas fisik yang baik, stabilitas struktur yang memadai, serta tingkat penerimaan panelis yang cukup tinggi, menunjukkan bahwa inovasi pangan lokal ini layak dikembangkan lebih lanjut.&#13;
Secara keseluruhan, temuan ini memberikan kontribusi baru bahwa tepung gayam dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan fungsional dalam bentuk es krim untuk membantu manajemen obesitas. Inovasi ini tidak hanya menawarkan alternatif pangan yang lebih sehat, tetapi juga mendukung diversifikasi pangan lokal Indonesia. Implikasi praktis penelitian ini meliputi potensi pengembangan produk komersial es krim tinggi serat, peluang peningkatan nilai ekonomi gayam sebagai komoditas lokal, serta prospek integrasi pangan fungsional berbasis serat dalam program pencegahan obesitas. Penelitian lanjutan dengan durasi intervensi lebih panjang dan ukuran sampel lebih besar diperlukan untuk mengonfirmasi dampak metabolik jangka panjang serta mengevaluasi mekanisme fisiologis yang lebih spesifik, termasuk pengaruh terhadap mikrobiota usus dan resistensi leptin.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179209">
<title>Pengembangan Instrumen Asesmen Malnutrisi Anak (Pediatric Malnutrition Assessment Tool) Pada Pelayanan Kesehatan Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179209</link>
<description>Pengembangan Instrumen Asesmen Malnutrisi Anak (Pediatric Malnutrition Assessment Tool) Pada Pelayanan Kesehatan Indonesia
Nofi, Lora Sri
Malnutrisi pada pasien anak yang dirawat di rumah sakit masih menjadi&#13;
masalah kesehatan dengan prevalensi tinggi dan berdampak terhadap peningkatan&#13;
komplikasi, lama rawat inap, penurunan kualitas hidup, serta mortalitas. Penilaian&#13;
status malnutrisi pada anak memerlukan asesmen yang komprehensif karena&#13;
dipengaruhi oleh penyakit akut dan kronis, inflamasi, asupan yang tidak adekuat,&#13;
gangguan metabolik, serta perubahan komposisi tubuh. Instrumen asesmen yang&#13;
digunakan di Indonesia saat ini, seperti Subjective Global Nutritional Assessment&#13;
(SGNA) dan Academy of Nutrition and Dietetics/American Society for Parenteral&#13;
and Enteral Nutrition Indicators of Malnutrition in Pediatrics (AAIMPtool), belum&#13;
sepenuhnya mengakomodasi lima konsep kunci malnutrisi anak menurut&#13;
McCarthy, yaitu antropometri, etiologi dan kronisitas, mekanisme,&#13;
ketidakseimbangan zat gizi, dan luaran klinis. Oleh karena itu, penelitian ini&#13;
bertujuan mengembangkan instrumen asesmen malnutrisi anak yang komprehensif,&#13;
valid, reliabel, praktis, dan aplikatif sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan di&#13;
Indonesia.&#13;
Penelitian ini menggunakan desain research and development dalam tiga&#13;
tahap, yaitu Penelitian Tahap I (Studi Pendahuluan), Penelitian Tahap II&#13;
(Pengembangan Instrumen), dan Penelitian Tahap III (Implementasi Instrumen).&#13;
Penelitian Tahap I (Studi Pendahuluan) dilakukan melalui Systematic Literature&#13;
Review (SLR) dan analisis persepsi tenaga gizi, Dietisien/Nutrisionis terhadap&#13;
instrumen asesmen malnutrisi yang digunakan di rumah sakit Indonesia. Hasil&#13;
penelitian menunjukkan bahwa asesmen malnutrisi anak masih didominasi oleh&#13;
indikator antropometri sehingga belum mampu menggambarkan kondisi malnutrisi&#13;
secara komprehensif. Literatur menunjukkan perlunya pendekatan&#13;
multidimensional yang mengintegrasikan indikator antropometri, lingkar lengan&#13;
atas (LiLA), Hand Grip Strength (HGS), parameter biokimia, serta luaran klinis.&#13;
Analisis persepsi tenaga gizi menunjukkan kebutuhan terhadap instrumen yang&#13;
ringkas, mudah digunakan, memiliki sistem skoring terstandar, dan mencakup&#13;
indikator multidimensional yang relevan secara klinis. Seluruh responden menilai&#13;
antropometri dan pemeriksaan fisik sebagai indikator utama, sedangkan hampir&#13;
seluruh responden menghendaki riwayat penyakit, masalah gastrointestinal, dan&#13;
riwayat asupan energi-protein sebagai komponen asesmen. Temuan pada tahap ini&#13;
menjadi dasar konseptual penyusunan PedNutr.&#13;
Penelitian Tahap II (Pengembangan Instrumen) menghasilkan PedNutr yang&#13;
disusun berdasarkan lima konsep kunci McCarthy et al. (2019) dan terdiri atas 18&#13;
item yang mencakup antropometri, riwayat penyakit dan inflamasi, masalah&#13;
gastrointestinal, pemeriksaan fisik dan kapasitas fungsional, serta asupan energi dan&#13;
zat gizi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa PedNutr memiliki validitas isi yang&#13;
sangat baik (S-CVI=0,94), seluruh item valid secara konstruk (p&lt;0,05), reliabilitas&#13;
internal sangat baik (Cronbach's Alpha=0,88), serta reliabilitas eksternal denganCohen's Kappa kategori moderate hingga near perfect agreement pada 81,7% item&#13;
dan Fleiss' Kappa sebesar 0,658 (substantial agreement). Dibandingkan dengan&#13;
SGNA, PedNutr memiliki sensitivitas sebesar 94,2% dan spesifisitas sebesar 84,3%&#13;
dalam mengidentifikasi status malnutrisi anak. Uji coba terbatas menunjukkan&#13;
bahwa PedNutr memiliki tingkat keterpakaian yang sangat baik, memperoleh&#13;
penilaian positif terhadap kemudahan implementasi, kelengkapan indikator,&#13;
efisiensi waktu, dan kelayakan penggunaan, serta memerlukan waktu asesmen rata-&#13;
rata 6,8 menit, lebih singkat dibandingkan SGNA (11,7 menit). Hasil tahap ini&#13;
menunjukkan bahwa PedNutr merupakan instrumen yang valid, reliabel, praktis,&#13;
efisien, dan berpotensi digunakan sebagai instrumen asesmen maupun skrining&#13;
malnutrisi anak di rumah sakit.&#13;
Penelitian Tahap III (Implementasi Instrumen) mengevaluasi penerapan&#13;
PedNutr melalui uji responsivitas pada pasien kanker anak serta pengembangan&#13;
aplikasi e-PedNutr berbasis Android. Hasil implementasi menunjukkan prevalensi&#13;
malnutrisi menurun dari 38,9% saat masuk rumah sakit menjadi 25% saat pulang,&#13;
dengan 42,9% pasien mengalami perbaikan status malnutrisi. Meskipun hubungan&#13;
antara status malnutrisi dengan LiLA, HGS, dan lama rawat inap belum mencapai&#13;
signifikansi statistik, terdapat tren peningkatan LiLA dan HGS selama perawatan&#13;
serta kecenderungan lama rawat yang lebih singkat pada kelompok yang tidak&#13;
mengalami malnutrisi. Hasil ini menunjukkan bahwa PedNutr mampu memantau&#13;
perubahan status malnutrisi selama perawatan. Selain itu, dikembangkan aplikasi&#13;
e-PedNutr berbasis Android yang meningkatkan efisiensi, akurasi, dan kemudahan&#13;
asesmen sehingga mendukung pengambilan keputusan dalam pelayanan gizi klinik&#13;
berbasis digital.&#13;
Berdasarkan keseluruhan tahapan penelitian, PedNutr terbukti merupakan&#13;
instrumen asesmen malnutrisi anak yang valid, reliabel, praktis, efisien, dan&#13;
aplikatif untuk digunakan pada pelayanan kesehatan di Indonesia. Kebaruan&#13;
penelitian ini terletak pada pengembangan instrumen asesmen malnutrisi anak&#13;
pertama di Indonesia yang disusun berdasarkan lima konsep kunci McCarthy,&#13;
sehingga mengintegrasikan antropometri, etiologi dan kronisitas, mekanisme&#13;
malnutrisi, ketidakseimbangan zat gizi, dan luaran klinis ke dalam satu instrumen&#13;
multidimensional dengan sistem skoring terstandar. Selain menghasilkan instrumen&#13;
PedNutr, penelitian ini juga menghasilkan aplikasi e-PedNutr berbasis Android&#13;
beserta panduan penggunaannya untuk mendukung implementasi asesmen&#13;
malnutrisi anak pada era transformasi pelayanan kesehatan digital. PedNutr&#13;
diharapkan dapat meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan mutu pelayanan asuhan&#13;
gizi pasien anak di rumah sakit Indonesia.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
