<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/156493">
<title>Faculty of Medicine and Nutrition</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/156493</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177371"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174819"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174818"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174707"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-12T18:42:01Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177371">
<title>BPPV Pada Pasien Lansia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177371</link>
<description>BPPV Pada Pasien Lansia
Winugroho, Mohammad Lukmanul Hakim
Dizziness atau vertigo merupakan sensasi subyektif yang digambarkan dengan adanya instabilitas postural atau perasaan berputar terhadap diri atau sekitar juga sensasi berputar atau jatuh. Dizziness merupakan keluhan terbanyak pada pasien yang berumur 65 tahun keatas di poli rawat jalan. Prevalensi dizziness antara 4%-30% pada kelompok umur tersebut. Prevalensi pada semua umur yaitu 29.3%, sedangkan pada kelompok dewasa muda sekitar 22.9%. Dizziness dikaitkan dengan gangguan fungsional dan resiko jatuh sebesar 20% akibat gejala yang ditimbulkan.1&#13;
Kejadian jatuh pada pasien lansia berkaitan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Ketakutan akan jatuh menyebabkan penurunan aktivitas harian dan kualitas hidup pasien lansia.2 Pemeriksaan dan penanganan yang cermat terhadap pasien lansia dengan keluhan dizziness bertujuan untuk mencari dan mengatasi penyebab dan mengindentifikasi perkembangan dizziness lebih lanjut. Etiologi dizzines beragam dan melibatkan sistem organ multipel serta dikaitkan dengan sindroma geriatri multifaktorial kronik ...
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174819">
<title>Fisiologi Dan Fungsi Serumen Serta Penatalaksanaannya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174819</link>
<description>Fisiologi Dan Fungsi Serumen Serta Penatalaksanaannya
Winugroho, Mohammad Lukmanul Hakim
Telinga merupakan organ pendengaran yang memiliki reseptor khusus. Selain&#13;
itu telinga juga dibagi menjadi tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah dan&#13;
telinga dalam 1. Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai&#13;
membran timpani. Sedangkan daun telinga itu sendiri terdiri dari tulang rawan elastin&#13;
dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada&#13;
sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari&#13;
tulang. Panjangnya kira-kira 2,5-3cm. Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga&#13;
terdapat banyak kelenjar serumen (kelenjar keringat) dan rambut. Dan pada&#13;
duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen 2. Sedangkan&#13;
telinga tengah itu berbentuk kubus dengan batas luar membran timpani, batas depan&#13;
tuba Eustachius, batas bawah vena jugularis (bulbus jugularis), batas belakang&#13;
aditus ad antrum dan kanalis fasialis pars vertikalis, batas atas tegmen timpani, dan&#13;
batas dalam berturut-turut dari atas kebawah kanalis semisirkularis horizontal,&#13;
kanalis fasialis, tingkap lonjong atau oval window serta tingkap bundar atau round&#13;
window dan promontorium. Telinga dalam terdiri dari koklea(rumah siput) yang&#13;
berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari tiga buah kanalis&#13;
semisirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan&#13;
perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli 3. ...
</description>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174818">
<title>Anatomi Fisiologi Sistem Vestibuler Perifer</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174818</link>
<description>Anatomi Fisiologi Sistem Vestibuler Perifer
Winugroho, Mohammad Lukmanul Hakim
Sistem keseimbangan didefinisikan sebagai detektor gerak vestibuler perifer&#13;
yang terkait dengan struktur sistem saraf pusat, dan mengubahnya menjadi informasi.&#13;
Sistem ini memfasilitasi persepsi seseorang tentang orientasinya terhadap lingkungan&#13;
sekitar.Sistem vestibuler perifer bertanggung jawab untuk merasakan dan&#13;
mengendalikan gerak. Reseptor vestibuler perifer yang terletak di labirin setiap telinga&#13;
bagian dalam memberikan informasi kepada otak mengenai gerak dan orientasi&#13;
kepala yang relatif terhadap gravitasi.1,2&#13;
Penyakit gangguan keseimbangan merupakan masalah yang sering&#13;
ditemukanpada orang dewasa dan orang tua,tetapi jarang terdeteksi karena sering&#13;
menjadi kelainan penyertadari penyakit kronis. Penyakit ini diderita orang tua selama&#13;
hidupnya dengan prevalensi 2,4%. Gangguan keseimbangan dari total keseluruhan&#13;
penderita dengan keluhan vertigo dan pusing sebesar 65%. Penyebab tersering dari&#13;
gangguan keseimbangan adalah BPPV yaitu 32%.3-6&#13;
Keluhan gangguan keseimbangan jarangdiperiksa, dan ketika&#13;
terdiagnosisjarangdirawat. Kesembuhan gangguan keseimbangan sulit dicapai secara&#13;
tuntas, sehingga dapat mengganggu aktivitas serta mengurangi kualitas hidup&#13;
seseorang. Oleh sebab itu, topik ini sangat perlu di bahas secara mendalam, dengan&#13;
tujuanagar mendapat pemahaman mengenai anatomi dan fisiologi vestibuler perifer. ...
</description>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174707">
<title>Pendekatan Kliniks Hepatitis A</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174707</link>
<description>Pendekatan Kliniks Hepatitis A
Rahim, Ditia Gilang Shah Putra
Hepatitis A adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis A (HAV). Infeksi virus hepatitis A umumnya terjadi karena kontaminasi makanan atau air, dan transmisi secara horizontal dari satu individu ke individu lainnya. HAV merupakan virus RNA beruntai tunggal dan masuk dalam famili Picornaviridae.1,2&#13;
Hepatitis A umumnya bersifat self-limited disease. Pasien akan mengalami gejala prodromal, seperti mual, muntah, lemas, anoreksia, demam, mialgia, dan sakit kepala ringan. Kemudian pasien akan mengalami hiperbilirubinemia, yang ditandai dengan kondisi jaundice, berupa sklera ikterik, urin kuning atau coklat gelap, feses yang pucat, dan pruritus ...
</description>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
