<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/156493">
<title>Faculty of Medicine and Nutrition</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/156493</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180003"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180002"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177371"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174819"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-09-26T17:34:38Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180003">
<title>Intervensi Pemberian Edukasi Gizi dan Telur-Susu untuk Perbaikan Gizi Balita di Karawang, Batang, dan Pasuruan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180003</link>
<description>Intervensi Pemberian Edukasi Gizi dan Telur-Susu untuk Perbaikan Gizi Balita di Karawang, Batang, dan Pasuruan
Khomsan, Ali; Sukma P, Nabila; Indriana, Sagina
Gizi balita merupakan determinan penting kualitas sumber daya manusia. Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan fase kritis bagi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kesehatan anak. Kekurangan gizi pada periode ini dapat menyebabkan stunting, gangguan perkembangan, dan meningkatkan risiko penyakit di kemudian hari. Oleh karena itu, diperlukan intervensi terpadu melalui edukasi gizi kepada ibu dan kader Posyandu serta pemberian makanan tambahan berupa telur dan susu untuk meningkatkan asupan dan mendukung pertumbuhan balita.   Penelitian ini merupakan studi longitudinal untuk mengevaluasi dampak intervensi edukasi gizi dan pemberian makanan tambahan berupa telur dan susu terhadap balita di Karawang, Batang, dan Pasuruan. Pengukuran dilakukan pada lima periode, yaitu baseline, midline, endline, follow-up 1 (FU1), dan follow-up 2 (FU2). Intervensi makanan tambahan diberikan selama enam bulan berupa satu porsi susu DANCOW GroPlus dan satu butir telur setiap hari kepada balita yang memenuhi kriteria inklusi. Edukasi gizi diberikan kepada ibu balita dan kader Posyandu sebanyak tiga kali, setiap dua bulan, dengan durasi sekitar 60–120 menit. Materi mencakup masalah gizi anak dan pola asuh makan, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), jajanan sehat, serta sanitasi dan higiene. Pengetahuan gizi dinilai menggunakan pre-test dan post-test. Data konsumsi pangan dikumpulkan melalui food recall, termasuk asupan zat gizi dan Individual Dietary Diversity Score (IDDS). Status gizi dinilai berdasarkan berat badan dan tinggi badan serta indikator antropometri. Pelaksanaan intervensi dan pertumbuhan anak dipantau secara berkala. Kesimpulan dan rekomendasi dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:   Pengetahuan gizi ibu balita menunjukkan peningkatan yang konsisten setelah intervensi edukasi, dengan skor rata-rata meningkat dari 76,0 pada baseline menjadi 80,5 pada midline dan 83,5 pada endline. Peningkatan skor dari baseline ke endline ini signifikan secara statistik ($p&lt;0{,}01$) baik secara total maupun di ketiga wilayah penelitian. Pengetahuan tersebut dapat dipertahankan selama follow-up, yaitu 83,6 pada FU1 dan 83,4 pada FU2, sehingga tetap berada dalam kategori tinggi, dan perbedaan skor antara baseline dan FU2 juga tetap signifikan ($p&lt;0{,}01$) baik secara total maupun di masing-masing wilayah.   Pada kader Posyandu, skor pengetahuan meningkat dari 71,9 pada pretest menjadi 90,4 pada posttest, dan perbedaan ini signifikan secara statistik ($p&lt;0{,}01$). Namun, skor menurun menjadi 79,0 pada FU1 dan 77,5 pada FU2, dan perbedaan skor antara pretest dan FU2 tidak lagi signifikan secara statistik ($p&gt;0{,}05$). Dengan demikian, edukasi gizi efektif meningkatkan pengetahuan ibu dan kader secara bermakna, tetapi retensi pengetahuan kader cenderung menurun setelah intervensi dan tidak bertahan secara statistik hingga akhir periode pengamatan. Oleh karena itu, diperlukan edukasi penyegaran dan pembinaan kader secara berkala untuk mempertahankan pengetahuan dan mendukung keberlanjutan penyampaian pesan gizi kepada keluarga balita. ...
</description>
<dc:date>2026-08-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180002">
<title>Household Food Security, Feeding Practices, and Chrononutrition between Stunted and Non-Stunted Children Aged 6–23 Months</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180002</link>
<description>Household Food Security, Feeding Practices, and Chrononutrition between Stunted and Non-Stunted Children Aged 6–23 Months
Khomsan, Ali; Riyadi, Hadi; Purwaningtyas, Desiani Rizki; Adha, As-Syaffa Amalia
Stunting remains an important nutritional problem in Indonesia, particularly during the first 1,000 days of life. Stunting reflects impaired linear growth resulting from chronic or recurrent nutritional and health-related constraints and may have consequences for child development, health, productivity, and human-resource quality. The period from 6 to 23 months is particularly critical because children experience rapid physical and neurodevelopmental growth while transitioning from predominantly breast-milk feeding to complementary foods. During this period, inadequate dietary intake, inappropriate feeding practices, recurrent infection, and unfavorable household conditions may contribute to growth faltering.&#13;
Household food security and infant and young child feeding practices are important components of the nutritional environment. However, adequate food availability alone does not necessarily guarantee adequate nutritional status because food selection, feeding practices, caregiving, disease, and access to health services also influence child growth. In addition, chrononutrition—the timing, frequency, duration, and regularity of food intake in relation to biological rhythms—has emerged as a potentially relevant dimension of child nutrition. Evidence concerning chrononutrition among children aged 6–23 months remains limited, particularly in relation to stunting. Therefore, examining household food security, feeding practices, nutrient adequacy, morbidity, and chrononutrition together may provide a more comprehensive understanding of the factors associated with linear growth during early childhood.&#13;
The general objective of this study was to analyze differences in household food security, child feeding practices, and chrononutrition between stunted and non-stunted children aged 6–23 months. The specific objectives were to compare child and family characteristics; household food security; breastfeeding and complementary feeding practices; energy, macronutrient, and micronutrient adequacy; chrononutrition patterns; infectious-disease morbidity; and nutritional status based on weight-for-age (WAZ) and weight-for-height (WHZ). The study also aimed to examine the relationships of these factors with stunting and height-for-age Z-score (HAZ).&#13;
This was a quantitative exploratory study using a comparative cross-sectional design. The research was conducted in Sayang Village, Cianjur Subdistrict, Cianjur Regency, West Java, Indonesia, a designated stunting locus. Mother-child pairs were recruited purposively according to predefined inclusion and exclusion criteria. The final analytical sample consisted of 160 children aged 6–23 months, including 48 stunted children (30.0%) and 112 non-stunted children (70.0%). ...
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177371">
<title>BPPV Pada Pasien Lansia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177371</link>
<description>BPPV Pada Pasien Lansia
Winugroho, Mohammad Lukmanul Hakim
Dizziness atau vertigo merupakan sensasi subyektif yang digambarkan dengan adanya instabilitas postural atau perasaan berputar terhadap diri atau sekitar juga sensasi berputar atau jatuh. Dizziness merupakan keluhan terbanyak pada pasien yang berumur 65 tahun keatas di poli rawat jalan. Prevalensi dizziness antara 4%-30% pada kelompok umur tersebut. Prevalensi pada semua umur yaitu 29.3%, sedangkan pada kelompok dewasa muda sekitar 22.9%. Dizziness dikaitkan dengan gangguan fungsional dan resiko jatuh sebesar 20% akibat gejala yang ditimbulkan.1&#13;
Kejadian jatuh pada pasien lansia berkaitan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Ketakutan akan jatuh menyebabkan penurunan aktivitas harian dan kualitas hidup pasien lansia.2 Pemeriksaan dan penanganan yang cermat terhadap pasien lansia dengan keluhan dizziness bertujuan untuk mencari dan mengatasi penyebab dan mengindentifikasi perkembangan dizziness lebih lanjut. Etiologi dizzines beragam dan melibatkan sistem organ multipel serta dikaitkan dengan sindroma geriatri multifaktorial kronik ...
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174819">
<title>Fisiologi Dan Fungsi Serumen Serta Penatalaksanaannya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174819</link>
<description>Fisiologi Dan Fungsi Serumen Serta Penatalaksanaannya
Winugroho, Mohammad Lukmanul Hakim
Telinga merupakan organ pendengaran yang memiliki reseptor khusus. Selain&#13;
itu telinga juga dibagi menjadi tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah dan&#13;
telinga dalam 1. Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai&#13;
membran timpani. Sedangkan daun telinga itu sendiri terdiri dari tulang rawan elastin&#13;
dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada&#13;
sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari&#13;
tulang. Panjangnya kira-kira 2,5-3cm. Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga&#13;
terdapat banyak kelenjar serumen (kelenjar keringat) dan rambut. Dan pada&#13;
duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen 2. Sedangkan&#13;
telinga tengah itu berbentuk kubus dengan batas luar membran timpani, batas depan&#13;
tuba Eustachius, batas bawah vena jugularis (bulbus jugularis), batas belakang&#13;
aditus ad antrum dan kanalis fasialis pars vertikalis, batas atas tegmen timpani, dan&#13;
batas dalam berturut-turut dari atas kebawah kanalis semisirkularis horizontal,&#13;
kanalis fasialis, tingkap lonjong atau oval window serta tingkap bundar atau round&#13;
window dan promontorium. Telinga dalam terdiri dari koklea(rumah siput) yang&#13;
berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari tiga buah kanalis&#13;
semisirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan&#13;
perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli 3. ...
</description>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
