<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153667">
<title>UF - Environmental Engineering and Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153667</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173548"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173000"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171860"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171859"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-01T13:33:27Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173548">
<title>Optimalisasi Pengolahan Air Limbah Regenerasi Ion Exchange Pada Karbon Dioksida Removal Plant Subang</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173548</link>
<description>Optimalisasi Pengolahan Air Limbah Regenerasi Ion Exchange Pada Karbon Dioksida Removal Plant Subang
DAMAYANTI, ICA ALISSA
Regenerasi resin ion exchange menghasilkan air limbah dalam bentuk residu regeneran kimia asam kuat dan basa kuat, dengan konsentrasi zat terlarut tinggi. Penelitian bertujuan untuk memodifikasi kolam netralisasi guna mengoptimalkan pengolahan air limbah hasil regenerasi resin ion exchange. Hasil analisis menunjukkan beberapa parameter melebihi baku mutu, seperti pH, TSS, TDS, COD, dan Sulfat. Metode analisis pemilihan teknologi tepat guna yang digunakan adalah Weighted Sum Model (WSM). Unit yang dirancang meliputi prasedimentasi, netralisasi dan presipitasi, Biological Aerated Filter (BAF), adsorpsi, serta penampung akhir. Kadar air lumpur hasil pengolahan diturunkan melalui Sludge Drying Bed (SDB). Hasil pengolahan air limbah telah memenuhi baku mutu PP No. 22 Tahun 2021 Kelas IV, yang ditunjukkan oleh pH yang telah netral serta konsentrasi COD sebesar 23,60 mg/L, TDS sebesar 695,29 mg/L, TSS sebesar 22,59 mg/L, dan sulfat sebesar 207,09 mg/L yang berada di bawah baku mutu yang ditetapkan. Estimasi biaya modifikasi kolam netralisasi sebesar Rp 138.971.800.; Ion exchange resin regeneration produces wastewater in the form of chemical regenerant residues of strong acids and strong bases, with high solute concentrations. The study aimed to modify the neutralization pond to optimize the treatment of wastewater resulting from ion exchange resin regeneration. The analysis results showed that several parameters exceeded quality standards, such as pH, TSS, TDS, COD, and sulfate. The analysis method used for selecting appropriate technology was the Weighted Sum Model (WSM). The designed units included pre-sedimentation, neutralization and precipitation, Biological Aerated Filter (BAF), adsorption, and final storage. The moisture content of the processed sludge was reduced through Sludge Drying Bed (SDB). The wastewater treatment results met the quality standards of Government Regulation No. 22 of 2021 Class IV, as indicated by a neutral pH and COD concentrations of 23.60 mg/L, TDS of 695.29 mg/L, TSS of 22.59 mg/L, and sulfate of 207.09 mg/L, all below the established quality standards. The estimated cost of modifying the neutralization pond is IDR 138,971,800.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173000">
<title>Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Mangga Harum Manis dan Jeruk Siam dalam Pembuatan Detergen Eco-enzyme Ramah Lingkungan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173000</link>
<description>Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Mangga Harum Manis dan Jeruk Siam dalam Pembuatan Detergen Eco-enzyme Ramah Lingkungan
Perwitasari, Alfira Risma
Detergent waste poses a serious threat to water quality. Surfactants are compounds that are difficult to degrade by microorganisms in nature and cause environmental pollution. The study aims to compare the physical characteristics of eco-enzyme detergent with commercial detergents, the effectiveness of eco-enzyme detergent in reducing pollution, and determine the selling price of the product. The research method is an experiment with direct trials. The results show that eco-enzyme detergent meets the quality requirements of organoleptic tests, with a pH value of 6,6-5,9 according to standards, abundant foam stability high as 6,5 cm and stable cleaning ability. Eco-enzyme detergent is effective in reducing the impact of pollution for test parameters of pH 7, TDS 739 ppm, TSS 50 mg/L, COD 9,33 mg/L, and Turbidity of 479,98 NTU. However, it is less effective in reducing the MBAS value of 4,32 mg/L. Both detergents have the same phosphate value of &lt;0,01 mg/L. The cost analysis yielded a cost of goods sold of Rp5.212, with a selling price of Rp6.776 per bottle (250 ml). Eco-enzyme detergent is considered suitable for use as a safe and effective environmentally friendly alternative.; Limbah detergen menjadi ancaman serius terhadap kualitas air. Surfaktan termasuk dalam senyawa yang sukar didegradasi oleh mikroorganisme di alam dan menimbulkan pencemaran lingkungan. Penelitian bertujuan membandingkan karakteristik fisik detergen eco-enzyme dengan komersial, efektivitas detergen eco-enzyme dalam mengurangi pencemaran, serta menentukan harga jual produk. Metode penelitian berupa eksperimen dengan percobaan langsung. Hasil penelitian menunjukkan detergen eco-enzyme memenuhi syarat mutu uji organoleptis, nilai pH 6,6-5,9 sesuai standar, stabilitas busa melimpah setinggi 6,5 cm dan kemampuan daya pembersihan yang stabil. Detergen eco-enzyme efektif mengurangi dampak pencemaran untuk parameter uji pH 7, TDS 739 ppm, TSS 50 mg/L, COD 9,33 mg/L, dan Turbidy sebesar 479,98 NTU. Namun, kurang efektif dalam menurunkan nilai MBAS 4,32 mg/L. Kedua detergen memiliki nilai fosfat yang sama sebesar &lt;0,01 mg/L. Analisis biaya memperoleh harga pokok produksi sebesar Rp5.212 dengan harga jual produk Rp6.776 / botol (250 ml). Produk detergen eco-enzyme dinilai layak digunakan sebagai produk alternatif ramah lingkungan yang aman dan efektif.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171860">
<title>Pemanfaatan Serat Kotoran Gajah menjadi Kertas Daur Ulang dengan Penambahan Daun Sirih sebagai Disinfektan Alami</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171860</link>
<description>Pemanfaatan Serat Kotoran Gajah menjadi Kertas Daur Ulang dengan Penambahan Daun Sirih sebagai Disinfektan Alami
Qolbi, Zakiatun
Kotoran gajah merupakan limbah organik dengan kandungan serat tinggi karena sistem pencernaan gajah hanya mampu menyerap sekitar 40% nutrisi pakan, sehingga sisanya masih berpotensi dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi serat kotoran gajah sebagai bahan baku kertas daur ulang serta menguji efektivitas penambahan ekstrak daun sirih sebagai disinfektan alami. Proses pembuatan kertas dilakukan melalui tahap pencucian, perebusan dengan ekstrak daun sirih, pencampuran dengan kertas bekas, pencetakan, dan pengeringan. Tiga variasi komposisi digunakan, yaitu sampel a (60% serat kotoran gajah : 40% kertas bekas), sampel b (50% : 50%), dan sampel c (80% : 20%). Analisis dilakukan melalui uji mikrobiologi menggunakan metode (FDA-BAM Chapter 3) serta uji fisik meliputi kuat tarik dan kadar air berdasarkan standar SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun sirih mampu menurunkan jumlah bakteri dari 5,9 × 105 menjadi 4,3 × 10³ koloni/g. Secara fisik, sampel b menunjukkan kekuatan tarik tertinggi dan kadar air terendah, sedangkan sampel a berada pada kualitas menengah dan sampel c memiliki ketebalan serta beban maksimum terbesar namun kadar air tinggi dan kekuatan tarik spesifik lebih rendah. Sampel a dan b memenuhi standar kadar air SNI (&lt;10%). Secara keseluruhan, kotoran gajah berpotensi sebagai alternatif serat non-kayu untuk kertas ramah lingkungan, dengan penambahan ekstrak daun sirih yang meningkatkan higienitas dan umur simpan produk.; Elephant dung is an organic waste material with high fiber content, as only about 40% of dietary nutrients are digested by elephants, leaving a significant amount of usable fiber. This study aimed to evaluate the potential of elephant dung fiber as a raw material for recycled paper and to assess the effectiveness of betel leaf extract as a natural disinfectant. The papermaking process involved washing, boiling with betel leaf extract, mixing with waste paper, sheet forming, and drying. Three composition ratios were applied: sample a (60% elephant dung fiber : 40% waste paper), sample b (50% : 50%), and sample c (80% : 20%). Microbiological analysis was conducted using method based on FDA-BAM Chapter 3, while physical properties were evaluated through tensile strength and moisture content tests according to Indonesian National Standards (SNI). The results showed that the addition of betel leaf extract significantly reduced bacterial counts from 5.9 × 105 to 4.3 × 10³ colony/g. Physically, sample b exhibited the highest tensile strength and lowest moisture content, sample a showed moderate quality, and sample c had the greatest thickness and maximum load but higher moisture content and lower specific tensile strength. Samples a and b met the SNI moisture content requirement (&lt;10%). Overall, elephant dung demonstrates strong potential as a sustainable non-wood fiber source for art paper, while betel leaf extract provides added value by improving hygiene and extending product durability.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171859">
<title>Pemanfaatan Adsorben Serbuk Kulit Singkong dan Kulit Pisang dalam Menurunkan Kadar COD dan Zat Warna pada Limbah Batik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171859</link>
<description>Pemanfaatan Adsorben Serbuk Kulit Singkong dan Kulit Pisang dalam Menurunkan Kadar COD dan Zat Warna pada Limbah Batik
Febriana, Ashilah
Industri batik menghasilkan limbah cair dengan kadar zat warna dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang berpotensi mencemari lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik fisik karbon aktif dari limbah kulit singkong, kulit pisang, dan campurannya (KPS), serta efektivitasnya menurunkan kadar COD dan zat warna pada limbah batik cair. Pembuatan karbon aktif melalui proses karbonisasi, aktivasi kimia, kemudian uji adsorpsi dengan variasi massa 3g dan 5g. Hasil menunjukkan bahwa karbon aktif KPS memiliki karakteristik fisik terbaik dengan kadar air 7,8% dan kadar abu 4,9%, yang memenuhi standar SNI 06-3730-1995. Efektivitas penurunan kadar COD tertinggi diperoleh pada karbon aktif kulit pisang sebesar 46,5% pada massa 3g, sedangkan penurunan kadar zat warna tertinggi adalah karbon aktif kulit pisang sebesar 34% pada massa 5g. Variasi massa adsorben tidak berpengaruh signifikan, namun pada karbon aktif KPS penambahan massa meningkatkan penurunan COD dan zat warna, sehingga kombinasi adsorben berpotensi memberikan kinerja yang lebih stabil dan efektif.; The batik industry produces liquid waste with high levels of dyes and Chemical Oxygen Demand (COD) that have the potential to pollute the environment. This study aims to identify the physical characteristics of activated carbon from cassava peel, banana peel, and their mixture (KPS) waste, as well as its effectiveness in reducing COD and dye levels in liquid batik waste. Activated carbon was made through a carbonization process, chemical activation, and then adsorption tests with variations in mass of 3g and 5g. The results showed that KPS activated carbon had the best physical characteristics with a water content of 7.8% and ash content of 4.9%, which met the SNI 06-3730-1995 standard. The highest COD reduction effectiveness was obtained in banana peel activated carbon at 46.5% at a mass of 3g, while the highest reduction in dye levels was obtained in banana peel activated carbon at 34% at a mass of 5g. Variations in adsorbent mass did not have a significant effect, but in KPS activated carbon, increasing mass increased the reduction in COD and dye, so that the combination of adsorbents has the potential to provide more stable and effective performance.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
