<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153663">
<title>UF - Livestock Management and Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153663</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178442"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178429"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178389"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178388"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-12T06:25:32Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178442">
<title>Evaluasi Pengendalian Mutu Produk Whole Chicken berdasarkan Indikator Suhu Chilling dan Defect Karkas</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178442</link>
<description>Evaluasi Pengendalian Mutu Produk Whole Chicken berdasarkan Indikator Suhu Chilling dan Defect Karkas
SARI, JIHAN INTAN PURNAMA
Pentingnya produk whole chicken sebagai komoditas pangan menuntut Rumah Potong Ayam (RPA) untuk menerapkan quality control yang ketat demi menjaga standar mutu produk. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi konsistensi manajemen suhu chilling dan menganalisis tingkat defect karkas pada dua shift kerja yang berbeda. Penelitian dilakukan secara observasional terhadap 500 sampel karkas dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk data suhu dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk data defect. Variabel yang diamati meliputi suhu inti karkas pasca-chiller serta indikator defect fisik yaitu sisa bulu, memar (bruise), patah tulang, kulit sobek, dan warna karkas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata suhu karkas mencapai 3°C, yang memenuhi standar operasional perusahaan (&lt;4°C) tanpa perbedaan nyata antar shift (p&gt;0.05). Indikator patah tulang, kulit sobek, dan warna karkas menunjukkan angka kejadian nol (terkendali). Namun, terdapat perbedaan nyata (p&lt;0.05) pada kejadian memar yang lebih tinggi pada shift 2. Analisis fishbone menunjukkan bahwa faktor manusia (shackling yang terlalu cepat dan kelelahan) serta faktor mesin (tekanan plucker yang terlalu keras) menjadi akar permasalahan defect memar.; The importance of whole chicken as a food commodity requires Chicken Slaughterhouses (RPA) to implement strict Quality Control to maintain product quality standards. This study aimed to evaluate the consistency of chilling temperature management and analyze carcass defect levels across two different work shifts. The study was conducted observationally on 500 carcass samples using a Completely Randomized Design (CRD) for temperature data and a Randomized Block Design (RBD) for defect data. Variables observed included core carcass temperature post-chiller and physical defect indicators: feathers, bruising, broken bones, skin tears, and carcass color. The results showed that the average carcass temperature reached 3°C, meeting company standards (&lt;4°C) with no significant difference between shifts (p&gt;0.05). Broken bones, skin tears, and carcass color indicators showed zero incidence (controlled). However, there was a significant difference (p&lt;0.05) in bruising, which was higher in Shift 2. Fishbone analysis indicated that human factors (too fast shackling and fatigue) and machine factors (excessive plucker pressure) were the root causes of bruising defects.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178429">
<title>Pengaruh Penambahan Sophorolipid  Sebagai Pengganti Antibiotic Growth Promoter (AGP) Terhadap Performa Ayam  Broiler</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178429</link>
<description>Pengaruh Penambahan Sophorolipid  Sebagai Pengganti Antibiotic Growth Promoter (AGP) Terhadap Performa Ayam  Broiler
Putra, Kreshna Biandra Prabu
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan &#13;
sophorolipid sebagai pengganti antibiotic growth promoter (AGP) terhadap &#13;
performa ayam broiler. Penelitian dilaksanakan pada Februari hingga Maret 2025 &#13;
di kandang percobaan Sekolah Vokasi IPB, Bogor, menggunakan 205 ekor DOC &#13;
broiler strain Hybro yang dipelihara selama 28 hari. Penelitian ini menggunakan &#13;
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. &#13;
Perlakuan yang diuji terdiri atas perlakuan A (probiotik/isolat B1), perlakuan B &#13;
(probiotik/isolat B2), perlakuan C (campuran isolat B1 dan B2), dan perlakuan D &#13;
sebagai kontrol dengan lecitin. Peubah yang diamati meliputi konsumsi pakan, &#13;
bobot badan, pertambahan bobot badan, feed conversion ratio (FCR), mortalitas, &#13;
dan indeks performa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan &#13;
sophorolipid belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap konsumsi pakan, &#13;
bobot badan, FCR, mortalitas, dan indeks performa ayam broiler. Namun, pada &#13;
pertambahan bobot badan terdapat perbedaan nyata pada minggu kedua untuk &#13;
beberapa perlakuan. Secara umum, penggunaan sophorolipid pada penelitian ini &#13;
belum mampu meningkatkan performa produksi ayam broiler secara signifikan &#13;
dibandingkan kontrol.; This study aimed to determine the effect of sophorolipid supplementation as &#13;
a substitute for antibiotic growth promoter (AGP) on the performance of broiler &#13;
chickens. The research was conducted from February to March 2025 at the &#13;
experimental poultry house of the Vocational School, IPB University, Bogor, using &#13;
205 broiler DOC of Hybro strain reared for 28 days. The experiment used a &#13;
completely randomized design (CRD) with four treatments and five replications. &#13;
The treatments consisted of treatment A (probiotic/isolate B1), treatment B &#13;
(probiotic/isolate B2), treatment C (a mixture of isolates B1 and B2), and treatment &#13;
D as the control with lecithin. The observed variables included feed intake, body &#13;
weight, body weight gain, feed conversion ratio (FCR), mortality, and performance &#13;
index. The results showed that sophorolipid supplementation did not significantly &#13;
affect feed intake, body weight, FCR, mortality, or broiler performance index. &#13;
However, body weight gain showed a significant difference in the second week for &#13;
some treatments. Overall, sophorolipid supplementation in this study was not able &#13;
to significantly improve broiler production performance compared with the control.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178389">
<title>Analisis Usaha Penjualan Ayam Fillet Paha di PT Keiko Multi Primaindo Kabupaten Bandung Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178389</link>
<description>Analisis Usaha Penjualan Ayam Fillet Paha di PT Keiko Multi Primaindo Kabupaten Bandung Barat
Hakiki, Ahmad Razan
Penelitian ini menganalisis kelayakan usaha, manajemen operasional, aspek&#13;
finansial, dan strategi pemasaran penjualan ayam fillet paha di PT Keiko Multi&#13;
Primindo selama Desember 2025–Maret 2026 dengan metode deskriptif&#13;
(operasional, bauran pemasaran 10P, SWOT) dan kuantitatif (pendapatan, HPP,&#13;
R/C). Selama empat bulan perusahaan mengadakan 49.382,47 kg fillet paha dengan&#13;
penerimaan total Rp2.339.924.035,31 dan total biaya operasional&#13;
Rp2.181.901.650,17 sehingga menghasilkan keuntungan bersih Rp157.968.312,14;&#13;
keuntungan bulanan tertinggi tercatat Januari sebesar Rp78.534.493,34 dan&#13;
terendah Februari Rp6.948.657,69 akibat gangguan pasokan air pasca bencana.&#13;
Nilai R/C Ratio bulanan masing-masing 1,04; 1,19; 1,01; dan 1,08, yang semuanya&#13;
&gt;1, menunjukkan usaha layak dan menguntungkan. Berdasarkan SWOT,&#13;
direkomendasikan perluasan pasar melalui optimalisasi promosi media sosial dan&#13;
pembentukan kontrak harga tetap dengan pemasok untuk mengurangi dampak&#13;
fluktuasi biaya produksi.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178388">
<title>Pengaruh Tepung Daun Kelor terhadap Respon Fisiologis dan Performa Ternak Domba</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178388</link>
<description>Pengaruh Tepung Daun Kelor terhadap Respon Fisiologis dan Performa Ternak Domba
Azis, Abdul
Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang berperan penting dalam perekonomian pedesaan, namun produktivitasnya di Indonesia masih rendah akibat keterbatasan pakan berkualitas yang berkesinambungan. Tepung daun kelor (Moringa oleifera) 30g (P1) dan 60g (P2) berpotensi sebagai suplemen pakan lokal yang diduga dapat memengaruhi performa produksi serta kestabilan respon fisiologis ternak. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pemberian tepung daun kelor dalam ransum terhadap respon fisiologis dan performa produksi domba Garut jantan, dilaksanakan selama 30 hari di Ananta Farm, Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan (P0: tanpa tepung kelor; P1: 30 g/ekor/hari; P2: 60 g/ekor/hari), masing-masing empat ulangan. Variabel yang diamati meliputi respon fisiologis dan performa ternak, dianalisis dengan ANOVA dan DMRT. Hasil menunjukkan perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap frekuensi respirasi maupun PBBH, namun berpengaruh nyata terhadap denyut jantung, dengan P2 (82,75 kali/menit) lebih rendah dibandingkan P0 (101,50) dan P1 (102,25), serta suhu tubuh, dengan P0 (38,33°C) lebih rendah dibandingkan P1 (38,63°C) dan P2 (38,55°C), meski masih dalam kisaran normal. Disimpulkan bahwa tepung daun kelor hingga 60 g/ekor/hari aman diberikan dan berpotensi meningkatkan efisiensi kerja jantung.; Sheep are small ruminants important to rural economies, but their productivity in Indonesia remains low due to limited access to continuous, quality feed. Moringa oleifera leaf meal at 30g (P1) and 60g (P2) may serve as a local feed supplement affecting production performance and physiological stability in livestock. This study examined the effect of dietary Moringa leaf meal on the physiological responses and production performance of male Garut sheep over 30 days at Ananta Farm, Parakansalak, Sukabumi Regency, using a Completely Randomized Design with three treatments (P0: no Moringa leaf meal; P1: 30 g/head/day; P2: 60 g/head/day), each with four replications. Physiological and production variables were analyzed using ANOVA and DMRT. Treatment had no significant effect on respiration rate or average daily gain, but significantly affected  heart rate, which was lower in P2 (82.75 beats/min) than P0 (101.50) and P1 (102.25), and body temperature, which was lower in P0 (38.33°C) than P1 (38.63°C) and P2 (38.55°C), though all values remained normal. Moringa leaf meal up to 60 g/head/day is safe and may improve cardiac efficiency.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
