<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/151149">
<title>UF - Medicine and Nutrition</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/151149</link>
<description>Undergraduate Theses on Faculty of Medicine and Nutrition</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177832"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176404"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175700"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175676"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-12T19:02:26Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177832">
<title>Hubungan Pengetahuan Gizi, Sedentary Behavior, Frekuensi Konsumsi Fast Food, Asupan Minuman Berkafein, dan Dismenore Primer pada Mahasiswi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177832</link>
<description>Hubungan Pengetahuan Gizi, Sedentary Behavior, Frekuensi Konsumsi Fast Food, Asupan Minuman Berkafein, dan Dismenore Primer pada Mahasiswi
Sopiandini, Isvie Tresna
Dismenore primer merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami mahasiswi dan diduga berkaitan dengan pengetahuan gizi, sedentary behavior, frekuensi konsumsi fast food, dan asupan minuman berkafein. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan gizi dengan sedentary behavior, frekuensi konsumsi fast food, dan asupan minuman berkafein, serta hubungan sedentary behavior, frekuensi konsumsi fast food, dan asupan minuman berkafein dengan dismenore primer pada mahasiswi PPKU IPB University. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan teknik purposive sampling pada 98 mahasiswi yang mengalami dismenore primer. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan gizi, Sedentary Behaviour Questionnaire (SBQ), Food Frequency Questionnaire (FFQ), Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), dan WaLIDD. Mayoritas subjek mengalami dismenore primer derajat sedang, memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori cukup, dan sedentary behavior yang tinggi. Sedentary behavior berhubungan positif dengan frekuensi konsumsi fast food (p=0,006; r=0,275) dan asupan minuman berkafein (p=0,004; r=0,288), serta frekuensi konsumsi fast food berhubungan positif dengan dismenore primer (p=0,036; r=0,213). Pengetahuan gizi tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan sedentary behavior, frekuensi konsumsi fast food, dan asupan minuman berkafein, serta usia menarche, siklus menstruasi, sedentary behavior, dan asupan minuman berkafein tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan dismenore primer.; Primary dysmenorrhea is a common reproductive health problem among female university students and is thought to be associated with nutrition knowledge, sedentary behavior, fast food consumption frequency, and caffeine intake. This study aimed to examine relationships between nutrition knowledge and sedentary behavior, fast food consumption frequency, and caffeinated beverage intake, as well as the relationships of sedentary behavior, fast food consumption frequency, and caffeinated beverage intake with primary dysmenorrhea among female students in the Common Competency Education Program (PPKU) at IPB University. This cross-sectional study used purposive sampling and included 98 female students with primary dysmenorrhea. Data were collected using a nutrition knowledge questionnaire, the Sedentary Behaviour Questionnaire (SBQ), the Food Frequency Questionnaire (FFQ), the Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), and WaLIDD. Most participants had moderate primary dysmenorrhea, moderate nutrition knowledge, and high sedentary behavior. Sedentary behavior was positively associated with fast food consumption frequency (p=0.006; r=0.275) and caffeinated beverage intake (p=0.004; r=0.288), while fast food consumption frequency was positively associated with primary dysmenorrhea (p=0.036; r=0.213). Nutrition knowledge was not significantly associated with sedentary behavior, fast food consumption, or caffeinated beverage intake. Age at menarche, menstrual cycle, sedentary behavior, and caffeinated beverage intake were not significantly associated with primary dysmenorrhea.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176404">
<title>Body Image, Pengetahuan Gizi, Kebiasaan Makan, Aktivitas Fisik, dan Status Gizi Pada Siswi SMA</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176404</link>
<description>Body Image, Pengetahuan Gizi, Kebiasaan Makan, Aktivitas Fisik, dan Status Gizi Pada Siswi SMA
Azzahro, Haura
Masa remaja merupakan periode terjadinya perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang dapat memengaruhi gaya hidup serta status gizi. Body image menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan status gizi remaja perempuan, disertai faktor lain seperti pengetahuan gizi, kebiasaan makan, dan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan body image, pengetahuan gizi, kebiasaan makan, aktivitas fisik, dan status gizi pada remaja perempuan. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 88 siswi SMAIT Ummul Quro Bogor. Data body image (BSQ-16), pengetahuan gizi, kebiasaan makan (AFHC dan FFQ), aktivitas fisik (PAQ-A), diperoleh melalui kuesioner dan wawancara. Sementara data status gizi diperoleh melalui pengukuran langsung berat badan dan tinggi badan. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas subjek berusia 16 tahun (51,1%), memiliki uang saku kurang dari Rp50.000,00/hari(75,0%), serta berasal dari keluarga dengan tingkat pendidikan dan pendapatan orang tua yang relatif tinggi. Sebagian besar subjek memiliki body image negatif (59,1%) dan tingkat pengetahuan gizi kategori sedang (61,4%). Mayoritas subjek memiliki kebiasaan makan kategori baik (56,8%), aktivitas fisik kategori sedang, serta status gizi kategori baik (71,6%). Terdapat hubungan yang signifikan (p&lt;0,05) antara kebiasaan makan dengan aktivitas fisik, body image dengan status gizi, serta frekuensi konsumsi karbohidrat dan jajanan dengan status gizi subjek.; Adolescence is a period of physical, psychological, and social changes that may affect lifestyle and nutritional status. Body image is one of the factors associated with the nutritional status of adolescent girls, along with nutritional knowledge, eating habits, and physical activity. This study aimed to analyze the relationships between body image, nutritional knowledge, eating habits, physical activity, and nutritional status among adolescent girls. A cross-sectional study was conducted involving 88 female students from SMAIT Ummul Quro Bogor. Data on body image (BSQ-16), nutritional knowledge, eating habits (AFHC and FFQ), and physical activity (PAQ-A) were collected through questionnaires and interviews, while nutritional status was assessed through direct measurements of body weight and height. Most participants were 16 years old (51.1%), had daily pocket money below IDR50,000 (75.0%), and came from families with relatively high parental education and income levels. Most had negative body image (59.1%), moderate nutritional knowledge (61.4%), good eating habits (56.8%), moderate physical&#13;
activity (48.9%), and normal nutritional status (71.6%). Significant relationships (p&lt;0.05) were found between eating habits and physical activity, body image and nutritional status, and the frequency of carbohydrate and snack consumption with nutritional status
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175700">
<title>Hubungan antara Pengetahuan dan Praktik Gizi pada Siswa, Ibu, dan Guru Jurusan Tata Busana SMKN 3 Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175700</link>
<description>Hubungan antara Pengetahuan dan Praktik Gizi pada Siswa, Ibu, dan Guru Jurusan Tata Busana SMKN 3 Bogor
Azzahrah, Siti Fatimah
Tantangan akan rendahnya pengetahuan dan praktik gizi remaja masih ditemukan. Pada siswa remaja, pengetahuan dan praktik gizi dapat dibentuk oleh peran ibu dan guru. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pengetahuan dan praktik gizi siswa, ibu, dan guru jurusan Tata Busana SMKN 3 Bogor. Penelitian dilakukan secara cross-sectional pada 137 pasang siswa dan ibu serta 21 guru menggunakan instrumen kuesioner terkait 4 pilar gizi seimbang, program Makan Bergizi Gratis, dan peran guru terkait gizi. Pengetahuan gizi siswa, ibu, dan guru yang dominan secara berturut-turut tergolong kategori sedang (55,5%), sedang (68,6%), dan baik (61,9%). Sementara itu, praktik gizi siswa, ibu, dan guru dominan secara berturut-turut tergolong kategori sedang (73,7%), baik (50,4%), dan sedang (71,4%). Mayoritas siswa merasa kurangnya peran guru terkait gizi (55,5%). Pengetahuan gizi siswa dan ibu berhubungan positif signifikan dengan korelasi lemah. Praktik gizi siswa dan peran guru berhubungan positif signifikan dengan korelasi lemah. Tidak ada hubungan signifikan antara pengetahuan gizi siswa dan pengetahuan gizi serta peran guru, maupun antara praktik gizi siswa dan praktik gizi ibu serta guru. Selain itu, tidak ditemukan hubungan signifikan antara pengetahuan dan praktik gizi pada setiap kelompok subjek.; Challenges regarding low nutritional knowledge and practices among adolescents persist. These aspects can be shaped by the roles of mothers and teachers. This cross-sectional study aims to analyze the relationships between the nutritional knowledge and practices of students, mothers, and teachers in the Fashion Design study program at SMKN 3 Bogor, involving 137 student-mother pairs and 21 teachers. Questionnaires evaluated the four pillars of balanced nutrition, the Free Nutritious Meal program, and the teachers' nutritional role. The predominant nutritional knowledge among students, mothers, and teachers was moderate (55.5%), moderate (68.6%), and good (61.9%), respectively. Meanwhile, their predominant nutritional practices were moderate (73.7%), good (50.4%), and&#13;
moderate (71.4%), respectively. Most students perceived a lack of teacher’s role regarding nutrition (55.5%). Students' nutritional knowledge was significantly and positively associated with mothers' knowledge, showing a weak correlation. Similarly, students' nutritional practices and the perceived role of teachers demonstrated a significant positive but weak correlation. No significant relationships were found between students' nutritional knowledge and teachers' knowledge or role, nor between students' practices and the practices of mothers or teachers. Furthermore, no significant relationship was found between nutritional knowledge and practices within each subject group.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175676">
<title>Hubungan Uang Saku, Online Food Delivery, Akses Pangan Fisik, dan FoMO dengan Pengeluaran Pangan dan Asupan Gizi Mahasiswa</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175676</link>
<description>Hubungan Uang Saku, Online Food Delivery, Akses Pangan Fisik, dan FoMO dengan Pengeluaran Pangan dan Asupan Gizi Mahasiswa
Wardani, Mellisa Tri
Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) pada generasi muda dapat memengaruhi perilaku konsumsi pangan melalui paparan tren makanan di media sosial dan penggunaan aplikasi pemesanan makanan online. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan FoMO, uang saku, dan akses pangan dengan &#13;
pengeluaran pangan serta tingkat kecukupan zat gizi mahasiswa Program Studi Sekolah Bisnis dan Manajemen IPB University. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan purposive sampling pada 72 responden (36 mahasiswa Sekolah Bisnis dan 36 mahasiswa Manajemen). Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner karakteristik responden, FoMO, food recall 2×24 jam, dan data pengeluaran pangan. Analisis dilakukan menggunakan uji Fisher-Freeman-Halton, korelasi Spearman, Mann-Whitney, dan Independent T-Test. Hasil menunjukkan FoMO berhubungan signifikan dengan tingkat kecukupan energi (p=0,023), protein (p=0,005), dan serat (p=0,016) pada mahasiswa Sekolah Bisnis dengan arah hubungan negatif, tetapi tidak pada mahasiswa Manajemen (p&gt;0,05). Uang saku berhubungan signifikan dengan pengeluaran pangan pada mahasiswa Sekolah Bisnis (p=0,016) dan Manajemen (p=0,011). Frekuensi penggunaan aplikasi pemesanan makanan online dan jarak kos ke pasar tidak berhubungan signifikan dengan pengeluaran pangan maupun tingkat kecukupan zat gizi (p&gt;0,05), kecuali jarak kos ke pasar yang berhubungan dengan kecukupan energi pada mahasiswa Manajemen (p=0,013). Alasan utama penggunaan aplikasi adalah preferensi (48,7%) serta promo dan harga terjangkau (33,9%).; Fear of Missing Out (FoMO) among young adults may influence food consumption behavior through exposure to food trends on social media and the use of online food delivery applications. This study aimed to analyze the relationships between FoMO, allowance, and food access with food expenditure and nutrient adequacy among students of the School of Business and Management study programs at IPB University. A cross-sectional design with purposive sampling was employed involving 72 respondents, consisting of 36 School of Business students and 36 Management students. Data were collected through &#13;
interviews using respondent characteristic questionnaires, the FoMO questionnaire, 2×24-hour food recalls, and food expenditure records. Data were analyzed using the Fisher-Freeman-Halton test, Spearman correlation, Mann Whitney test, and independent t-test. The results showed that FoMO was &#13;
significantly associated with energy (p=0.023), protein (p=0.005), and fiber adequacy (p=0.016) among School of Business students, with negative correlations, but not among Management students (p&gt;0.05). Allowance was significantly associated with food expenditure among School of Business (p=0.016) and Management students (p=0.011). Online food delivery application use and market distance were not significantly associated with food expenditure or nutrient adequacy (p&gt;0.05), except for the association between market distance and energy adequacy among Management students (p=0.013). Preference (48.7%) and promotions or affordability (33.9%) were the main reasons for using online food delivery applications.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
