<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/119">
<title>UF - Soil Science and Land Resources</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/119</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179812"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179810"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179787"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179764"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-09-02T13:33:06Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179812">
<title>Pengaruh Aplikasi Bahan Organik Selama Lima Belas Tahun pada Lahan Sawah terhadap Sifat Kimia Tanah dan Erapan Fosfor di Kabupaten Subang</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179812</link>
<description>Pengaruh Aplikasi Bahan Organik Selama Lima Belas Tahun pada Lahan Sawah terhadap Sifat Kimia Tanah dan Erapan Fosfor di Kabupaten Subang
Ayuningtyas, Nazmy
Aplikasi bahan organik pada lahan sawah dapat memengaruhi sifat kimia tanah dan karakteristik erapan fosfor (P). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh aplikasi bahan organik terhadap sifat kimia tanah serta erapan P di Kabupaten Subang. Penelitian dilakukan pada lahan sawah organik yang menerima aplikasi bahan organik selama lima belas tahun serta lahan sawah konvensional sebagai pembanding. Dosis aplikasi bahan organik pada lahan sawah organik adalah 5 ton ha-1 yang terdiri dari campuran pupuk kandang sapi, pupuk kandang kambing, pupuk kandang ayam dan jerami padi. Untuk sawah konvensional pupuk yang digunakan adalah 200 kg ha-1 pupuk urea dan 200 kg pupuk majemuk Phonska 15:10:12.  Analisis sifat kimia tanah meliputi pH, karbon (C)-organik, kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa (KB), basa-basa dapat dipertukarkan, aluminium dapat ditukar (Al-dd), dan P tersedia. Karakteristik erapan P ditentukan menggunakan metode Fox dan Kamprath yang disimulasikan dengan persamaan isoterm Langmuir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi bahan organik pada sawah organik selama lima belas tahun meningkatkan kualitas sifat kimia tanah yang ditunjukkan oleh nilai pH, C-organik, KTK, KB, serta kandungan basa-basa dapat dipertukarkan yang lebih tinggi dibandingkan sawah konvensional dan menurunkan kandungan Al-dd. Untuk  P tersedia pada lahan yang diaplikasikan bahan organik selama lima belas tahun cenderung memiliki nilai yang lebih rendah. Kapasitas erapan P maksimum (b) pada lahan sawah yang mendapat aplikasi bahan organik selama lima belas tahun sebesar 2.250 mg kg?¹ lebih tinggi dibandingkan lahan konvensional sebesar 1.429 mg kg?¹ meskipun tidak berbeda nyata, sedangkan energi ikatan erapan P (K) (4,5 L mg?¹) berbeda nyata lebih tinggi dibandingkan sawah konvensional (2,33 L mg?¹). Tingginya kapasitas dan energi ikatan erapan fosfor pada lahan yang mendapat aplikasi bahan organik selama lima belas tahun berkaitan erat dengan reaksi pertukaran ligan antara gugus hidroksil pada asam humat yang terbentuk selama lima belas tahun dengan ion ortofosfat dan reaksi metal bridging antara senyawa humat dengan Al atau Fe menghasilkan pembentukan phospho-metal-humates. Hasil penelitian ini  mengungkap bahwa aplikasi bahan organik mampu memperbaiki sifat kimia tanah, tetapi juga  meningkatkan erapan P, sehingga P menjadi relatif tidak tersedia bagi tanaman.; The application of organic matter in rice fields can affect the chemical properties of the soil and the sorption characteristics of phosphorus (P). This study aimed to evaluate the influence of organic matter application for fifteen years on soil chemical properties and P sorption in Subang Regency. The research was conducted on organic rice fields  that received the application of organic matter for fifteen years and conventional rice fields as a comparison. The application dose of organic matter on organic rice fields is 5 tons ha-1 consisting of a mixture of cow manure, goat manure, chicken manure and rice straw. For conventional rice fields, the fertilizers used are 200 kg ha-1 urea fertilizer and 200 kg of Phonska 15:10:12 compound fertilizer. Analysis of soil chemical properties included pH, carbon(C)-organic, cation exchange capacity (CEC), base saturation (BS), exchangeable basic cations, exchangeable aluminum (Exch. Al), and available P. The characteristics of the P application were determined using the Fox and Kamprath methods simulated  by the Langmuir isothermal equation. The results of the study showed that the application of organic matter in organic rice fields for fifteen years improved the quality of soil chemical properties as indicated by higher pH, C-organic, CEC, BS, and exchangeable basic cations content than conventional rice fields and reduced the exch. Al content. For available P on land where organic matter has been applied for fifteen years, it tended to have a lower value. The P sorption maximum capacity in rice fields that received the application of organic matter for fifteen years of 2.250 mg kg?¹ was higher than conventional land of 1.429 mg kg?¹ although it was not significantly different, while the bonding energy of P sorption (K) (4,50 L mg?¹) was significantly higher than conventional rice fields (2,33 L mg?¹). The high P sorption maximum and high bonding energy of P sorption in fields that have been applied to organic matter for fifteen years is closely related to the reaction of ligand exchange between hydroxyl groups in humic acid formed over fifteen years with orthophosphate ions, as well as metal-bridging reactions between humic substances and Al or Fe, resulting in the formation of phospho-metal-humates. The results of this study revealed that the application of organic matter is able to improve the chemical properties of the soil, but also increase the P sorption maximum and P sorption bonding energy, so that P becomes relatively unavailable to plants.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179810">
<title>Klasifikasi Penutupan/Penggunaan Lahan Menggunakan Metode Random Forest dan Support Vector Machine Pada Platform Google Earth Engine (Land Cover/Land Use Classification Using Random Forest and Support Vector Machine Methods on the Google Earth Engine Platform).</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179810</link>
<description>Klasifikasi Penutupan/Penggunaan Lahan Menggunakan Metode Random Forest dan Support Vector Machine Pada Platform Google Earth Engine (Land Cover/Land Use Classification Using Random Forest and Support Vector Machine Methods on the Google Earth Engine Platform).
Ramadhani, Muh Fatih Akbar
Kabupaten Bogor memiliki heterogenitas penutupan/penggunaan lahan yang tinggi dan mengalami dinamika perubahan lahan akibat perkembangan wilayah metropolitan Jabodetabek. Kondisi tersebut menuntut ketersediaan informasi penutupan/penggunaan lahan yang reliabel untuk mendukung perencanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan penutupan/penggunaan lahan Kabupaten Bogor menggunakan algoritma Random Forest (RF) dan Support Vector Machine (SVM) pada platform Google Earth Engine (GEE), serta membandingkan performa kedua algoritma tersebut. Data yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan Landsat 9 OLI-2, indeks spektral EVI, NBR, NDMI, NDWI, NDBI, NBR2, serta data elevasi SRTM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RF menghasilkan performa yang lebih baik dibandingkan SVM. RF memperoleh Overall Accuracy sebesar 90,4% dan koefisien Kappa sebesar 87,6%, sedangkan SVM memperoleh Overall Accuracy sebesar 81,6% dan Kappa sebesar 75,8%. Analisis confusion matrix menunjukkan bahwa kesalahan klasifikasi terbesar pada kedua algoritma terjadi pada kelas vegetasi yang memiliki karakteristik spektral saling berdekatan, terutama kebun campuran, tegalan, dan rumput. Secara visual, RF menghasilkan pola klasifikasi yang lebih homogen dengan efek salt and pepper yang lebih rendah dibandingkan SVM. Hasil klasifikasi RF menunjukkan bahwa tutupan lahan Kabupaten Bogor didominasi oleh hutan seluas 116.952,07 ha, sedangkan hasil SVM menunjukkan luas hutan sebesar 129.857,61 ha. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma RF lebih andal dalam memetakan penutupan/penggunaan lahan pada wilayah dengan karakteristik heterogen dibandingkan SVM. &#13;
&#13;
Kata kunci: Akurasi, GEE, Kabupaten Bogor; Bogor Regency is characterized by highly heterogeneous land cover/land use and has experienced substantial land-use dynamics associated with the development of the Greater Jakarta (Jabodetabek) metropolitan area. These conditions necessitate the availability of accurate land cover/land use information to support spatial planning and environmental management. This study aimed to map land cover/land use in Bogor Regency using the Random Forest (RF) and Support Vector Machine (SVM) algorithms on the Google Earth Engine (GEE) platform and to compare the performance of the two classification methods. The datasets used in this study consisted of Landsat 8 and Landsat 9 imagery, spectral indices including EVI, NBR, NDMI, NDWI, NDBI, and NBR2, as well as SRTM elevation data. The results showed that the RF algorithm outperformed SVM in land cover/land use classification. RF achieved an Overall Accuracy of 90.4% and a Kappa coefficient of 87.6%, whereas SVM produced an Overall Accuracy of 81.6% and a Kappa coefficient of 75.8%. The confusion matrix analysis indicated that the largest classification errors for both algorithms occurred among vegetation-related classes with similar spectral characteristics, particularly mixed plantations, dryland agriculture, and grassland. Visually, RF generated a more homogeneous classification pattern with a lower salt-and-pepper effect than SVM. The RF classification results revealed that forest was the dominant land cover class in Bogor Regency, covering 116,952.07 ha, while the SVM classification estimated a forest area of 129,857.61 ha. Overall, the findings indicate that the RF algorithm is more effective than SVM for mapping land cover/land use in areas with highly heterogeneous landscape characteristics.&#13;
&#13;
&#13;
Keywords: accuracy, GEE, Bogor Regency.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179787">
<title>Skripsi a.n Agnes Andrian (A1401221055) Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Komoditas Manggis di Kabupaten Sukabumi Bagian Utara</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179787</link>
<description>Skripsi a.n Agnes Andrian (A1401221055) Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Komoditas Manggis di Kabupaten Sukabumi Bagian Utara
Andrian, Agnes
Pengembangan manggis (Garcinia mangostana L.) di Kabupaten Sukabumi bagian utara memerlukan perencanaan berbasis kesesuaian biofisik dan ketersediaan ruang. Penelitian ini bertujuan menentukan sebaran kelas kesesuaian lahan, mengidentifikasi ketersediaan lahan berdasarkan penggunaan lahan aktual dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), serta menyusun arahan prioritas spasial pengembangan manggis. Sebelas parameter biofisik dan aksesibilitas dianalisis menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Multi-Criteria Evaluation berbasis sistem informasi geografis. Ketersediaan dan prioritas lahan ditentukan melalui analisis tumpang susun, sedangkan penggunaan lahan dan kondisi aktual diverifikasi pada 54 titik pengamatan yang dipilih secara purposif. Hasil AHP menunjukkan rasio konsistensi 0,031, dengan curah hujan dan kedalaman efektif berbobot tertinggi. Kesesuaian lahan terdiri atas kelas S1 sebesar 29,62%, S2 sebesar 38,53%, S3 sebesar 30,53%, dan N sebesar 1,32%. Faktor pembatas utama ialah curah hujan lebih dari 3.300 mm/tahun dan lereng agak curam hingga curam. Integrasi analisis menghasilkan kelas sangat prioritas seluas 4.530 ha, prioritas 4.243 ha, agak prioritas 6.608 ha, dan tidak disarankan 32.041 ha. Observasi lapangan menunjukkan bahwa rendahnya produktivitas beberapa tegakan diduga berkaitan dengan curah hujan tinggi saat pembungaan dan serangan organisme pengganggu tanaman. Pengembangan manggis diarahkan pada lahan prioritas melalui konservasi tanah, pengelolaan drainase, pengendalian organisme pengganggu tanaman, dan agroforestri pada lahan tersedia bersyarat.; Mangosteen (Garcinia mangostana L.) development in northern Sukabumi Regency requires planning based on biophysical suitability and spatial availability. This study aimed to determine land suitability classes, identify land availability based on land use and the Regional Spatial Plan, and formulate development priorities. Eleven biophysical and accessibility parameters were analyzed using the Analytical Hierarchy Process (AHP) and a geographic information system-based Multi-Criteria Evaluation. Land availability and priorities were determined through overlay analysis, while land-use interpretation and field conditions were verified at 54 purposively selected observation points. The AHP produced a consistency ratio of 0.031, with rainfall and effective soil depth receiving the highest weights. Land suitability consisted of 29.62% S1, 38.53% S2, 30.53% S3, and 1.32% N. The main limiting factors were rainfall exceeding 3,300 mm/year and moderately steep to steep slopes. The analysis resulted in 4,530 ha of very high priority land, 4,243 ha of priority land, 6,608 ha of moderate priority land, and 32,041 ha of not recommended land. Field observations suggested that low productivity was associated with high rainfall during flowering and pest and disease incidence. Mangosteen development should focus on priority areas through soil conservation, drainage management, pest and disease control, and agroforestry on conditionally available land.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179764">
<title>Dinamika Sifat Kimia Beberapa Jenis Tanah Akibat Pemberian Kalsit dan Blast Furnace Slag</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179764</link>
<description>Dinamika Sifat Kimia Beberapa Jenis Tanah Akibat Pemberian Kalsit dan Blast Furnace Slag
Andia, Eighen Tri
Tanah masam mendominasi lahan kering di Indonesia dan menjadi kendala utama pertanian karena pH rendah, aluminium dapat ditukar (Al-dd) tinggi, kapasitas tukar kation (KTK) rendah, serta kejenuhan basa (KB) rendah. Pengapuran dengan kalsit umum diterapkan untuk memperbaiki kemasaman tanah. Blast furnace slag sebagai produk samping industri baja berpeluang menjadi amelioran alternatif sekaligus sumber magnesium dan silikon. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh kalsit dan blast furnace slag pada berbagai dosis terhadap sifat kimia beberapa jenis tanah dari Kabupaten Bogor, yaitu Latosol Dramaga (Inceptisols), Podsolik Jasinga (Ultisols), Andosol Sukamantri (Andisols), dan Regosol Dramaga (Entisols). Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap faktor tunggal dengan tujuh perlakuan yang diulang empat kali sehingga diperoleh 28 satuan percobaan pada setiap tanah. Tanah diinkubasi selama enam minggu. Peubah yang diamati meliputi dinamika pH H2O (minggu ke-2, 4, dan 6), Al-dd dan H-dd (minggu ke-2), serta KTK, basa-basa dapat ditukar, dan KB pada akhir masa inkubasi (minggu ke-6). Data dianalisis ragam dan dilanjutkan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa selama 6 minggu inkubasi, kedua amelioran secara nyata meningkatkan pH H2O, menetralkan Al-dd dan H-dd pada minggu ke-2 sebagai indikator utama penurunan kemasaman tanah, serta meningkatkan KTK, Ca-dd, dan KB pada akhir inkubasi dibandingkan kontrol. Dibandingkan blast furnace slag, kalsit menaikkan pH lebih tinggi dan menyumbang Ca-dd lebih tinggi, terutama pada tanah paling masam yaitu Latosol dan Podsolik, sedangkan pada Andosol dan Regosol perbedaan Ca-dd antara keduanya tidak nyata. blast furnace slag lebih unggul dalam memasok Mg-dd dan meningkatkan KTK. Respons perbaikan terbesar terjadi pada Podsolik Jasinga yang paling masam. Andosol Sukamantri merespons paling lambat karena daya sangganya tinggi. Regosol Dramaga berubah terbatas karena kemasaman awalnya rendah. Berdasarkan indikator utama pH dan Al-dd, kalsit dan blast furnace slag efektif memperbaiki sifat kimia tanah masam dengan efektivitas yang dipengaruhi jenis tanah dan dosis amelioran.; Acidic soils dominate the drylands of Indonesia and constrain agriculture because of low pH, high exchangeable aluminum (Al), low cation exchange capacity (CEC), and low base saturation (BS). Liming with calcite is commonly applied to improve soil acidity. Blast furnace slag, a by-product of the steel industry, is a potential alternative ameliorant as well as a source of magnesium and silicon. This study evaluated the effects of calcite and blast furnace slag at various doses on the chemical properties of several soils from Bogor Regency, namely Latosol Dramaga (Inceptisols), Podsolik Jasinga (Ultisols), Andosol Sukamantri (Andisols), and Regosol Dramaga (Entisols). The experiment used a one-factor completely randomized design with seven treatments replicated four times, resulting in 28 experimental units per soil. The soils were incubated for six weeks. The observed variables included pH (H2O) dynamics (weeks 2, 4, and 6), exchangeable Al and H (week 2), as well as CEC, exchangeable bases, and BS at the end of incubation (week 6). Data were analyzed by ANOVA followed by DMRT at the 5% level. The follow-up test showed that over the 6-week incubation, both ameliorants significantly increased soil pH, neutralized exchangeable Al and H at week 2 as the main indicators of acidity reduction, and increased CEC, exchangeable Ca, and BS at the end of incubation relative to the control. Compared with blast furnace slag, calcite raised pH higher and supplied more exchangeable Ca, particularly in the most acidic soils (Latosol and Podsolik), whereas in Andosol and Regosol the difference in exchangeable Ca between the two was not significant. Blast furnace slag was superior in exchangeable Mg and increasing CEC. The greatest improvement occurred in the most acidic Podsolik Jasinga. Andosol Sukamantri responded most slowly because of its high buffering capacity. Regosol Dramaga changed only slightly because of its low initial acidity. Based on the key indicators pH and exchangeable Al, calcite and blast furnace slag effectively improve the chemical properties of acidic soils, with effectiveness influenced by soil type and ameliorant dose.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
