<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/119">
<title>UF - Soil Science and Land Resources</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/119</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174483"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174440"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174322"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174154"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-14T06:35:47Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174483">
<title>FORMULASI PUPUK ORGANIK BERBAHAN SLUDGE, ARANG SEKAM, KOMPOS, DAN AGEN KHELAT TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG (Ipomoea reptans)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174483</link>
<description>FORMULASI PUPUK ORGANIK BERBAHAN SLUDGE, ARANG SEKAM, KOMPOS, DAN AGEN KHELAT TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG (Ipomoea reptans)
MUBAROQ, SETIA NUZULUL
Limbah sludge industri bumbu masak berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik karena mengandung bahan organik dan unsur hara. Namun, pemanfaatannya terkendala oleh kadar air yang tinggi dan kontaminasi logam berat yang melampaui ambang batas Kepmentan No. 261/2019. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi formulasi pupuk organik berbasis sludge (75%) yang dikombinasikan dengan arang sekam, kompos, dan agen khelat (EDTA dan asam sitrat) terhadap karakteristik sifat tanah dan pertumbuhan kangkung (Ipomoea reptans). Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Acak Lengkap (RKAL) satu faktor dengan 10 perlakuan agen khelat EDTA dan asam sitrat dengan parameter pengamatan meliputi sifat kimia tanah, biologi tanah, serta variabel vegetatif dan generatif tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EDTA dan asam sitrat pada berbagai dosis tidak memberikan pengaruh nyata terhadap sifat biologi tanah, sifat kimia tanah, maupun pertumbuhan kangkung. Secara numerik, asam sitrat 50% menghasilkan populasi mikrob tertinggi, sedangkan EDTA 125% menghasilkan tinggi tanaman dan diameter batang tertinggi, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Formulasi berbasis sludge, arang sekam, dan kompos mampu mendukung pertumbuhan kangkung, tetapi penambahan agen khelat pada dosis yang digunakan belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap sifat tanah maupun pertumbuhan tanaman.; Seasoning industry sludge waste has potential for use as an organic fertilizer due to its organic matter and nutrient content. However, its utilization is constrained by high moisture content and heavy metal contamination exceeding the threshold limits established by the Indonesian Ministry of Agriculture Decree No. 261/2019. This study aimed to evaluate an organic fertilizer formulation based on sludge (75%) combined with rice husk biochar, compost, and chelating agents (EDTA and citric acid) on soil characteristics and the growth of spinach (Ipomoea reptans). The experiment was conducted using a Randomized Complete Block Design (RCBD) with a single factor consisting of ten treatments of EDTA and citric acid at different dosages. Observed parameters included soil chemical properties, soil biological properties, and vegetative and generative growth variables of the plant. The results showed that the application of EDTA and citric acid at various dosages did not significantly affect soil biological properties, soil chemical properties, or spinach growth. Numerically, the 50% citric acid treatment produced the highest microbial population, while the 125% EDTA treatment resulted in the greatest plant height and stem diameter; however, these values were not significantly different from those of the other treatments. The sludge-based fertilizer formulation combined with rice husk biochar and compost was able to support the growth of spinach, but the addition of chelating agents at the applied dosages did not produce a significant effect on soil properties or plant growth.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174440">
<title>Pengaruh Penggunaan Lahan dan Karakteristik Tanah terhadap Fluks CO2 pada Inceptisol Dramaga</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174440</link>
<description>Pengaruh Penggunaan Lahan dan Karakteristik Tanah terhadap Fluks CO2 pada Inceptisol Dramaga
PRASETYO, INDRA MUKTI
Penelitian emisi gas rumah kaca sangat penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai fluks CO2 di berbagai penggunaan lahan serta mengetahui pengaruh dan peubah penting dari faktor karakteristik tanah dan lingkungan terhadap dinamika fluks CO2 pada Inceptisol Kebun Percobaan Cikabayan dan Arboretum IPB University (Agustus 2025–Maret 2026). Pengukuran fluks CO2 menggunakan Infrared Gas Analyzer (IRGA) Li-Cor 830 dilakukan pada penggunaan lahan kelapa sawit, karet, kakao, arboretum, dan bambu, jarak dari pohon (dekat, sedang, dan jauh), dan posisi pada lereng (atas, tengah, dan bawah). Penggunaan lahan dan posisi pada lereng mempengaruhi fluks CO2 secara signifikan. Lahan bambu mengemisikan CO2 tertinggi (62.1 Mg/ha/tahun), yang diikuti secara berurutan oleh arboretum (41.1), kakao (28.2), kelapa sawit (13.4), dan karet (12.3), nilai fluks CO2 menurun semakin bertambahnya jarak dari pohon. Kontributor utama terhadap nilai fluks CO2 berdasarkan model prediktif pembelajaran mesin Random Forest adalah suhu udara, elevasi, dan persentase lereng. Analisis komponen utama (PCA) menunjukkan korelasi positif antara fluks CO2 dengan P potensial, suhu (udara dan tanah), Cu, K potensial, total mikrob, persentase lereng, Zn, serta elevasi.  Sebaliknya, N-total, C-organik, pH, dan Mn berkorelasi negatif dengan fluks CO2  Penelitian ini membuktikan variasi spasial dan temporal emisi gas rumah kaca dipengaruhi oleh interaksi parameter biokimia tanah dan mikroklimat akibat perbedaan lanskap.; Research on greenhouse gas emissions is crucial for climate change mitigation efforts. This study aims to determine CO2 flux values across various land uses, identify the influences and important variables of soil characteristics and environmental factors on CO2 flux dynamics on Inceptisols at the Cikabayan Experimental Farm and IPB University Arboretum (August 2025–March 2026). CO2 flux measurements using an Infrared Gas Analyzer (IRGA) Li-Cor 830 were conducted across oil palm, rubber, cacao, arboretum, and bamboo land uses, considering distances from the tree (near, medium, and far) and slope positions (upper, middle, and lower). Land use and slope position significantly affected CO2 flux. Bamboo plantations emitted the highest CO2 (62.1 Mg/ha/year), followed &#13;
sequentially by the arboretum (41.1), cacao (28.2), oil palm (13.4), and rubber (12.3); CO2 flux values decreased as the distance from the tree increased. The main contributors to the CO2 flux values based on the Random Forest machine learning predictive model were air temperature, elevation, and slope percentage. Principal component analysis (PCA) revealed positive correlation between CO2&#13;
flux and potential P, temperature (air and soil), Cu, potential K, total microbes, slope percentage, Zn, and elevation. Conversely, total N, organic C, pH, and Mn were negatively correlated with CO2&#13;
flux. This study demonstrates that spatial and temporal variations in greenhouse gas emissions are influenced by the interaction of soil biochemical parameters and microclimate resulting from landscape differences.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174322">
<title>Tipologi Tingkat Perkembangan Wilayah dan Ketimpangan Pembangunan Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174322</link>
<description>Tipologi Tingkat Perkembangan Wilayah dan Ketimpangan Pembangunan Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan
Ali, Muh. Chaidir
Ketimpangan pembangunan antar kabupaten/kota masih menjadi permasalahan utama dalam pembangunan wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, ditandai oleh perbedaan tingkat kelengkapan infrastruktur, capaian pembangunan manusia, dan aktivitas ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat perkembangan wilayah, ketimpangan pembangunan, serta tipologi kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan meliputi analisis skalogram untuk mengukur tingkat kelengkapan infrastruktur dan Indeks Pembangunan Daerah, Indeks Theil Entropy untuk mengukur ketimpangan pembangunan, serta analisis klaster menggunakan algoritma k-means untuk menyusun tipologi wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelengkapan infrastruktur cenderung meningkat pada periode 2020 dan 2025, namun belum merata antar wilayah. Ketimpangan pembangunan relatif stabil dengan fluktuasi kecil dan lebih dipengaruhi oleh ketimpangan di dalam kelompok wilayah. Tipologi wilayah terbagi ke dalam tiga klaster, yaitu wilayah pusat, berkembang rendah, dan transisi, dengan Kota Makassar secara konsisten membentuk klaster pusat. Bertambahnya wilayah transisi pada tahun 2025 mengindikasikan adanya pergeseran karakteristik pembangunan pada sebagian wilayah. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi perencanaan pembangunan wilayah yang lebih berorientasi pada pemerataan dan penguatan wilayah non-pusat.; Development disparities among regencies and municipalities remain a major challenge in South Sulawesi Province, as reflected in differences in infrastructure availability, human development outcomes, and economic activity. This study aims to analyze the level of regional development, development disparities, and the typology of regencies and municipalities in South Sulawesi Province. The methods employed include scalogram analysis to measure infrastructure availability and the Regional Development Index, the Theil Entropy Index to assess development disparities, and cluster analysis using the k-means algorithm to develop regional typologies. The results indicate that infrastructure availability generally improved between 2020 and 2025, although its distribution remained uneven across regions. Development disparities were relatively stable, showing only minor fluctuations, and were primarily driven by disparities within regional groups. The regional typology was classified into three clusters: central regions, less-developed regions, and transitional regions, with Makassar City consistently forming the central-region cluster. The increase in the number of transitional regions in 2025 indicates a shift in the development characteristics of several regions. These findings provide important implications for regional development planning by promoting more equitable development and strengthening the role of non-central regions.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174154">
<title>PEMETAAN DAN EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK  MENILAI ADAPTABILITAS PADI SAWAH DAN PADI GOGO  DARI KELAS KEMIRINGAN LERENG</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174154</link>
<description>PEMETAAN DAN EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK  MENILAI ADAPTABILITAS PADI SAWAH DAN PADI GOGO  DARI KELAS KEMIRINGAN LERENG
PUTRI, NATASYA PRAMUDITA ADINDA
Penelitian ini bertujuan memetakan dan mengevaluasi kesesuaian lahan aktual dan potensial untuk padi sawah dan padi gogo pada lahan terasering di Dusun Pandan Arum, Kabupaten Sukabumi. Penelitian dilaksanakan pada September hingga Desember 2025 pada lahan seluas 201 ha menggunakan metode survei dan analisis spasial dengan ArcMap. Telah dihasilkan empat peta kesesuaian lahan skala 1:25.000. Pada kondisi aktual, padi sawah didominasi kelas sangat tidak sesuai (N) seluas 144,75 ha (71,96%). Setelah perbaikan, padi sawah meningkat menjadi kelas sesuai (S2) seluas 57,30 ha (28,49%) dan sesuai marginal (S3) seluas 91,43 ha (45,45%). Padi gogo menunjukkan hasil lebih baik dengan kelas sangat sesuai (S1) seluas 56,34 ha (28,01%) dan sesuai (S2) seluas 90,31 ha (44,90%) pada kondisi potensial. Produktivitas padi sawah menurun seiring peningkatan kemiringan lereng, dari 5,16 ton/ha (lereng 0-3%) menjadi 2,70 ton/ha (lereng 30-45%). Tindakan perbaikan meliputi pembuatan teras bangku sempurna pada lereng 8-30%, pengapuran, perbaikan irigasi, dan penambahan bahan organik. Pada lereng &gt;30%, kedua komoditas tetap tidak sesuai dengan sisa lahan padi sawah 52,41 ha (26,05%) dan padi gogo 2,17 ha (1,08%).; This study aimed to map and evaluate the actual and potential land suitability for irrigated rice (Oryza sativa L.) and upland rice on terraced agricultural land in Pandan Arum Hamlet, Sukabumi Regency. The research was conducted from September to December 2025 on an area of 201 ha using field survey methods and spatial analysis with ArcMap. Four land suitability maps at a scale of 1:25,000 were produced. Under actual conditions, irrigated rice was predominantly classified as not suitable (N), covering 144.75 ha (71.96%) of the study area. After improvement measures were applied, the suitability of irrigated rice increased to moderately suitable (S2) over 57.30 ha (28.49%) and marginally suitable (S3) over 91.43 ha (45.45%). Upland rice showed better results, reaching highly suitable (S1) conditions on 56.34 ha (28.01%) and moderately suitable (S2) conditions on 90.31 ha (44.90%) under potential land suitability. Irrigated rice productivity declined with increasing slope gradient, decreasing from 5.16 t ha?¹ on slopes of 0–3% to 2.70 t ha?¹ on slopes of 30–45%. Recommended improvement measures included the construction of well-designed bench terraces on slopes of 8–30%, liming, irrigation improvement, and the application of organic matter. On slopes greater than 30%, both crops remained unsuitable, with unsuitable areas of 52.41 ha  (26.05%) for irrigated rice and 2.17 ha (1.08%) for upland rice.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
