<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118">
<title>UT - Plant Protection</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172919"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172918"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172651"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172640"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-17T23:10:30Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172919">
<title>Serangan Oxya japonica (Thunberg) (Orthoptera: Acrididae) dan Hama Lainnya pada Tanaman Talas di Kecamatan Kemang, Bogor, Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172919</link>
<description>Serangan Oxya japonica (Thunberg) (Orthoptera: Acrididae) dan Hama Lainnya pada Tanaman Talas di Kecamatan Kemang, Bogor, Jawa Barat
Kautsar, Attar Hanif
Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) merupakan tanaman umbi yang semakin banyak dibudidayakan sebagai tanaman diversifikasi pangan di Indonesia. Produktivitas talas sering menurun akibat serangan hama, terutama belalang Oxya japonica (Thunberg) yang merusak daun dan pelepah. Laporan mengenai O. japonica dan hama lain pada talas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menghitung populasi, intensitas serangan O. japonica, dan melaporkan serangan hama lainnya di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan di Desa Parakan Jaya, Desa Bojong dan Desa Kemang. Setiap desa diamati dua plot pengamatan. Populasi dan serangan O. japonica diamati empat kali interval dalam dua minggu sekali. Populasi O. japonica diamati menggunakan metode pengambilan contoh area transek yang dimodifikasi. Intensitas serangan dinilai dari skala kerusakan daun 0–4 dengan metode stratifikasi diagonal. Rasio perbandingan populasi (imago per nimfa) yaitu 1:3,2 di Desa Parakan Jaya, 1:3,6 di Desa Bojong dan 1:4,1 di Desa Kemang. Populasi nimfa tertinggi yaitu instar ke-1 mencapai 0,88 individu per tanaman. Populasi nimfa instar ke-4 terendah yaitu 0 individu per tanaman. Intensitas serangan O. japonica tertinggi mencapai 40,60% di Desa Bojong dan terendah 15,62% di Desa Parakan Jaya. Dua hama talas lain yang tercatat, wereng talas Tarophagus colocasiae (Matsumura) (Hemiptera: Delphacidae) dan Aplosonyx sp. (Chevrolat) (Coleoptera: Chrysomelidae), masih terbatas laporannya di Indonesia.; Taro (Colocasia esculenta (L.) Schott) is a tuber crop increasingly cultivated as a diversification crop in Indonesia. Taro productivity is often reduced by pests, particularly the grasshopper Oxya japonica (Thunberg), which damages leaves and petioles. Reports on O. japonica and other pests of taro remain limited. This study estimated the population and attack intensity of O. japonica. This study also documented other pest attacks in three villages from Kemang District, Bogor Regency, West Java. The study was conducted with two plots in each village. Population and attack of O. japonica were monitored 4 times at two-week intervals. O. japonica populations were observed using modified transect area sampling. Attack intensity was scored using a diagonal stratified sampling. The population ratio (imago per nymph) was 1:3.2 in Parakan Jaya, 1:3.6 in Bojong, and 1:4.1 in Kemang. The highest nymph population was first instar, reaching 0.88 individuals per plant. The lowest nymph population was 4th nymphal stage with 0 individuals per plant. The highest intensity of O. japonica attack reached 40.6% in Bojong, and the lowest was 15.62% in Parakan Jaya Village. Two taro pests were recorded, i.e., the taro planthopper Tarophagus colocasiae (Matsumura) (Hemiptera: Delphacidae) and Aplosonyx sp. (Chevrolat)(Coleoptera: Chrysomelidae), both are still poorly documented in Indonesia.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172918">
<title>Serangan Oxya japonica (Thunberg) (Orthoptera: Acrididae) dan Hama Lainnya pada Tanaman Talas di Kecamatan Kemang, Bogor, Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172918</link>
<description>Serangan Oxya japonica (Thunberg) (Orthoptera: Acrididae) dan Hama Lainnya pada Tanaman Talas di Kecamatan Kemang, Bogor, Jawa Barat
Kautsar, Attar Hanif
Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) merupakan tanaman umbi yang semakin banyak dibudidayakan sebagai tanaman diversifikasi pangan di Indonesia. Produktivitas talas sering menurun akibat serangan hama, terutama belalang Oxya japonica (Thunberg) yang merusak daun dan pelepah. Laporan mengenai O. japonica dan hama lain pada talas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menghitung populasi, intensitas serangan O. japonica, dan melaporkan serangan hama lainnya di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan di Desa Parakan Jaya, Desa Bojong dan Desa Kemang. Setiap desa diamati dua plot pengamatan. Populasi dan serangan O. japonica diamati empat kali interval dalam dua minggu sekali. Populasi O. japonica diamati menggunakan metode pengambilan contoh area transek yang dimodifikasi. Intensitas serangan dinilai dari skala kerusakan daun 0–4 dengan metode stratifikasi diagonal. Rasio perbandingan populasi (imago per nimfa) yaitu 1:3,2 di Desa Parakan Jaya, 1:3,6 di Desa Bojong dan 1:4,1 di Desa Kemang. Populasi nimfa tertinggi yaitu instar ke-1 mencapai 0,88 individu per tanaman. Populasi nimfa instar ke-4 terendah yaitu 0 individu per tanaman. Intensitas serangan O. japonica tertinggi mencapai 40,60% di Desa Bojong dan terendah 15,62% di Desa Parakan Jaya. Dua hama talas lain yang tercatat, wereng talas Tarophagus colocasiae (Matsumura) (Hemiptera: Delphacidae) dan Aplosonyx sp. (Chevrolat) (Coleoptera: Chrysomelidae), masih terbatas laporannya di Indonesia.; Taro (Colocasia esculenta (L.) Schott) is a tuber crop increasingly cultivated as a diversification crop in Indonesia. Taro productivity is often reduced by pests, particularly the grasshopper Oxya japonica (Thunberg), which damages leaves and petioles. Reports on O. japonica and other pests of taro remain limited. This study estimated the population and attack intensity of O. japonica. This study also documented other pest attacks in three villages from Kemang District, Bogor Regency, West Java. The study was conducted with two plots in each village. Population and attack of O. japonica were monitored 4 times at two-week intervals. O. japonica populations were observed using modified transect area sampling. Attack intensity was scored using a diagonal stratified sampling. The population ratio (imago per nymph) was 1:3.2 in Parakan Jaya, 1:3.6 in Bojong, and 1:4.1 in Kemang. The highest nymph population was first instar, reaching 0.88 individuals per plant. The lowest nymph population was 4th nymphal stage with 0 individuals per plant. The highest intensity of O. japonica attack reached 40.6% in Bojong, and the lowest was 15.62% in Parakan Jaya Village. Two taro pests were recorded, i.e., the taro planthopper Tarophagus colocasiae (Matsumura) (Hemiptera: Delphacidae) and Aplosonyx sp. (Chevrolat)(Coleoptera: Chrysomelidae), both are still poorly documented in Indonesia.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172651">
<title>Isolasi Cendawan Kanker Buah Pada Jambu Biji Dan Infeksinya Pada Tiga Varietas</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172651</link>
<description>Isolasi Cendawan Kanker Buah Pada Jambu Biji Dan Infeksinya Pada Tiga Varietas
Yani, Mely Indri
Jambu biji (Psidium guajava) merupakan salah satu tanaman hortikultura&#13;
dengan nilai ekonomis yang signifikan dan permintaan yang tinggi serta berpotensi&#13;
untuk bersaing di pasar global. Gangguan hama dan penyakit dapat menurunkan&#13;
produksi serta harga jual komoditas, sehingga pendapatan petani dapat menurun.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membandingkan gejala&#13;
serangan patogen Pestalotiopsis pada varietas jambu biji, serta pada 5 jenis umur&#13;
jambu kristal (1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, 4 minggu, dan 8 minggu). Isolat&#13;
patogen didapatkan dari buah jambu kristal dari pasar Bogor. Sumber buah yang&#13;
digunakan dalam pengujian selanjutnya adalah buah jambu biji varietas jambu&#13;
kristal, jambu biji putih, dan jambu biji merah yang ditanam di pekarangan&#13;
masyarakat di Kecamatan Ciampea dan Rancabungur. Identifikasi patogen&#13;
dilakukan secara morfologi dan molekuler dengan primer ITS1 dan ITS4.&#13;
Pengamatan gejala dilakukan dengan memerhatikan gejala yang muncul di&#13;
permukaan setiap sampel buah jambu. Selain itu, juga dilakukan pemotongan buah&#13;
dan mengukur kedalaman gejala pada buah. Identifikasi secara morfologi&#13;
menunjukkan patogen kanker buah merupakan genus Pestalotiopsis. Jambu kristal&#13;
memiliki perkembangan gejala paling parah dan tercepat dibandingkan varietas&#13;
lain, serta jambu biji kristal berumur muda (1-2 minggu) memiliki keparahan&#13;
tertinggi dibandingkan jambu kristal berumur lebih tua (3-8 minggu).&#13;
&#13;
Kata kunci: hama, keparahan, molekuler, morfologi, penyakit.; Guava (Psidium guajava) is a horticultural crop with significant economic&#13;
value and high market demand, and it has strong potential to compete in the global&#13;
market. Pest and disease infestations can reduce yield and market price, there by&#13;
decreasing farmers’ income. This study aimed to identify and compare the&#13;
symptoms of Pestalotiopsis pathogen infection among guava varieties, as well as at&#13;
different developmental stages of crystal guava (1, 2, 3, 4, and 8 weeks). Pathogen&#13;
isolates were obtained from crystal guava fruits purchased from a market in Bogor.&#13;
The fruit sources used for subsequent experiments were crystal guava, white guava,&#13;
and red guava grown in household gardens in the Ciampea and Rancabungur&#13;
districts. Pathogen identification was carried out using morphological and&#13;
molecular approaches with ITS1 and ITS4 primers. Symptom observation was&#13;
conducted by examining the visible symptoms on the surface of each guava fruit&#13;
sample. In addition, fruits were cut to measure the depth of symptom penetration.&#13;
Morphological identification indicated that the fruit cancer pathogen belonged to&#13;
the genus Pestalotiopsis. Crystal guava showed the fastest and most severe&#13;
symptom development compared to other varieties, and younger crystal guava fruits&#13;
(1–2 weeks old) exhibited higher disease severity than older fruits (3–8 weeks old).&#13;
&#13;
Keywords: disease, molecular, morphological, pest, severity
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172640">
<title>Tingkat Penghambatan Relatif Bahan Aktif Metalaksil dan Mankozeb terhadap Alternaria porri pada Bawang Daun (Allium fistulosum)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172640</link>
<description>Tingkat Penghambatan Relatif Bahan Aktif Metalaksil dan Mankozeb terhadap Alternaria porri pada Bawang Daun (Allium fistulosum)
Rahmadani, Dewi
Bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porri merupakan salah satu &#13;
penyakit penting pada bawang daun yang dapat menurunkan produktivitas dan &#13;
meningkatkan biaya pengendalian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui &#13;
keefektifan bahan aktif metalaksil dan mankozeb dalam menekan pertumbuhan A. &#13;
porri secara in vitro. Sampel daun bergejala dikumpulkan dari empat lokasi di &#13;
Cianjur dan Bogor menggunakan metode purposive sampling, kemudian dilakukan &#13;
isolasi A. porri dan diidentifikasi secara morfologi. Sebanyak 20 isolat A. porri &#13;
berhasil diisolasi dan diuji responnya terhadap kedua bahan aktif fungisida &#13;
menggunakan metode peracunan media pada konsentrasi 0,25; 0,50; 1; dan 2 ml/L. &#13;
Pertumbuhan koloni A. porri diamati pada 3, 7, 10, dan 14 hari setelah perlakuan &#13;
untuk menghitung tingkat hambatan relatif dan IC50. Hasil pengamatan &#13;
menunjukkan bahwa sensitivitas isolat terhadap mankozeb bervariasi, dengan nilai &#13;
IC50 berkisar 0,347–0,597 ml/L. Isolat JGC3 merupakan isolat yang paling sensitif, &#13;
sedangkan STP5 paling toleran. Pengujian terhadap metalaksil juga &#13;
memperlihatkan variasi sensitivitas yang lebar dengan nilai IC50 antara 4,32-45,69. &#13;
Isolat BLC2 memiliki sensitivitas tertinggi, sedangkan STP3 paling toleran &#13;
terhadap metalaksil.; Purple blotch caused by Alternaria porri is a major disease of Welsh onion that &#13;
reduces productivity and increases control costs. This study aimed to determine the &#13;
effectiveness of the active ingredients metalaxyl and mancozeb in suppressing the &#13;
growth of A. porri under in vitro conditions. Symptomatic leaves were collected &#13;
from four locations in Cianjur and Bogor using purposive sampling, followed by &#13;
isolation and morphological identification of A. porri. A total of 20 A. porri isolates &#13;
were successfully isolated and then tested for sensitivity to both fungicides using &#13;
the poisoning medium method at the concentrations of 0.25, 0.50, 1, and 2 ml/L. &#13;
The growth of fungal colony was measured at 3, 7, 10, and 14 days after treatment &#13;
to calculate relative inhibition and IC50 values. Results showed variable sensitivity &#13;
to mancozeb, with IC50 values ranging from 0.347 to 0.597 ml/L. Isolate JGC3 was &#13;
the most sensitive, whereas STP5 was the most tolerant. Metalaxyl sensitivity also &#13;
varied widely, with IC50 values ranging from 4.32 to 45.69. Isolate BLC2 exhibited &#13;
the highest sensitivity, while STP3 showed the greatest tolerance.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
