<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118">
<title>UT - Plant Protection</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173039"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172981"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172919"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172918"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-03T15:59:52Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173039">
<title>Preferensi Tikus Pohon (Rattus tiomanicus Mill.) Terhadap Rodentisida Organik Berbasis Selulosa dan Efikasinya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173039</link>
<description>Preferensi Tikus Pohon (Rattus tiomanicus Mill.) Terhadap Rodentisida Organik Berbasis Selulosa dan Efikasinya
NOORSIAM, SHAFA LAYLA
Tikus pohon (Rattus tiomanicus) merupakan hama perkebunan yang menyebabkan kerugian ekonomi, sehingga pengendaliannya masih bergantung pada rodentisida sintetik. Rodentisida organik berbasis selulosa berpotensi menjadi alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan menguji preferensi makan tikus pohon terhadap umpan berbasis selulosa serta menilai efikasinya dalam menyebabkan kematian tikus. Penelitian dilakukan melalui uji pilihan (choice test) dan uji tanpa pilihan (no-choice test). Parameter yang diamati meliputi konsumsi umpan, perubahan bobot tubuh, dan persentase kematian tikus selama 14 hari pengamatan. Hasil menunjukkan bahwa konsumsi rodentisida berbasis selulosa jauh lebih rendah dibandingkan umpan alami dan rodentisida kimia sintetis. Pada uji tanpa pilihan, rodentisida selulosa tetap dikonsumsi tetapi hanya menyebabkan tingkat kematian yang rendah (25%). Rendahnya konsumsi dan mortalitas menunjukkan bahwa daya tarik dan efektivitas rodentisida selulosa masih terbatas. Hal ini mengindikasikan bahwa formulasi dan atraktan perlu ditingkatkan agar rodentisida selulosa dapat berfungsi optimal dalam pengendalian tikus pohon yang ramah lingkungan.; The Malaysian field rat (Rattus tiomanicus) is a major plantation pest that causes economic losses, and its control still relies on synthetic rodenticides. Cellulose-based organic rodenticides have the potential to be a safer and more environmentally friendly alternative. This study aimed to evaluate Malaysian field rat feeding preference for cellulose-based bait and assess its efficacy in causing mortality. The study employed a choice test, and a no-choice test. The observed parameters included bait consumption, changes in body weight, and mortality rate over a 14-day observation period. The results showed that the consumption of cellulose-based rodenticide was much lower than that of natural baits and synthetic chemical rodenticides. In the no-choice test, the cellulose rodenticide was still consumed, but only resulted in low mortality (25%). The low consumption and mortality rates indicate that the attractiveness and effectiveness of the cellulose-based rodenticide remain limited. This suggests that improvements in formulation and the addition of attractants are needed for cellulose rodenticides to function optimally in environmentally friendly rat control.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172981">
<title>Struktur Komunitas Ekor Pegas (Collembola) pada Empat Tata Guna Lahan di Lanskap Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Harapan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172981</link>
<description>Struktur Komunitas Ekor Pegas (Collembola) pada Empat Tata Guna Lahan di Lanskap Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Harapan
Nurissa'adah, Adzkia
Ekor pegas merupakan arthropoda serasah yang dapat ditemukan di hutan, &#13;
padang rumput, dan semak. Collembola berperan penting dalam dekomposisi bahan &#13;
organik. Konversi lahan menjadi perkebunan monokultur berdampak pada &#13;
perubahan kondisi lingkungan yang menyebabkan penurunan populasi arthropoda &#13;
tanah, khususnya Collembola. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh &#13;
perubahan penggunaan lahan terhadap kelimpahan, kekayaan spesies, dan &#13;
komposisi Collembola serasah di lanskap Taman Nasional Bukit Duabelas dan &#13;
Hutan Harapan pada empat tipe penggunaan lahan yang berbeda. Sampel &#13;
Collembola dikumpulkan dengan metode pengumpulan serasah (Winkler litter &#13;
extraction), di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, dan Hutan Harapan, &#13;
Provinsi Jambi. Penelitian ini dilakukan pada empat tipe penggunaan lahan berbeda, &#13;
yaitu hutan, perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet, dan semak. Setiap tipe &#13;
penggunaan lahan terdapat 33 plot inti dengan ukuran 1000 m2, dan total seluruh &#13;
plot ada 124 plot yang diamati. Sebanyak 3974 individu ditemukan terdiri dari 3 &#13;
ordo, 9 famili, 28 genus, dan 101 morfospesies. Kelimpahan dan kekayaan spesies &#13;
Collembola tidak berbeda secara signifikan pada empat tipe penggunaan lahan. &#13;
Ketersediaan serasah pada empat tipe penggunaan lahan dapat menyediakan &#13;
mikrohabitat yang sesuai bagi Collembola, sehingga mendukung keberlangsungan &#13;
hidup spesies generalis untuk beradaptasi dan mempertahankan populasi dengan &#13;
stabil. Komposisi Collembola dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama &#13;
leaf area index (LAI), C percent litter, dan C:N ratio litter.; Springtails are litter dwelling arthropods commonly found in forests, &#13;
meadows, and shrublands, that play a vital role in the decomposition process. The &#13;
conversion of natural landscape into monoculture plantations alters environmental &#13;
conditions, potentially leading to declines in soil arthropods populations, especially &#13;
Collembola. This study aims to analyze the impact of land-use change on &#13;
abundance and composition of Collembola within the Bukit Duabelas National Park &#13;
and Harapan Forest landscapes in Jambi Province. Samplings were conducted using &#13;
winkler litter extraction across 124 plots (1000 m2) representing four land use types &#13;
that is, forest, oil palm plantations, rubber plantations, and shrublands. A total of &#13;
3,974 individuals were identified, consisting of 3 orders, 9 families, 28 genera, and &#13;
101 morphospecies. Results indicated that abundance and species richness of &#13;
Collembola did not differ significantly across the four land use types, suggesting &#13;
that the available litter provides suitable microhabitats for generalist species to &#13;
adapt and maintain stable populations. However, the specific community &#13;
composition was significantly influenced by environmental factors, particularly &#13;
leaf area index (LAI), litter carbon percentage, and the litter C:N ratio.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172919">
<title>Serangan Oxya japonica (Thunberg) (Orthoptera: Acrididae) dan Hama Lainnya pada Tanaman Talas di Kecamatan Kemang, Bogor, Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172919</link>
<description>Serangan Oxya japonica (Thunberg) (Orthoptera: Acrididae) dan Hama Lainnya pada Tanaman Talas di Kecamatan Kemang, Bogor, Jawa Barat
Kautsar, Attar Hanif
Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) merupakan tanaman umbi yang semakin banyak dibudidayakan sebagai tanaman diversifikasi pangan di Indonesia. Produktivitas talas sering menurun akibat serangan hama, terutama belalang Oxya japonica (Thunberg) yang merusak daun dan pelepah. Laporan mengenai O. japonica dan hama lain pada talas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menghitung populasi, intensitas serangan O. japonica, dan melaporkan serangan hama lainnya di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan di Desa Parakan Jaya, Desa Bojong dan Desa Kemang. Setiap desa diamati dua plot pengamatan. Populasi dan serangan O. japonica diamati empat kali interval dalam dua minggu sekali. Populasi O. japonica diamati menggunakan metode pengambilan contoh area transek yang dimodifikasi. Intensitas serangan dinilai dari skala kerusakan daun 0–4 dengan metode stratifikasi diagonal. Rasio perbandingan populasi (imago per nimfa) yaitu 1:3,2 di Desa Parakan Jaya, 1:3,6 di Desa Bojong dan 1:4,1 di Desa Kemang. Populasi nimfa tertinggi yaitu instar ke-1 mencapai 0,88 individu per tanaman. Populasi nimfa instar ke-4 terendah yaitu 0 individu per tanaman. Intensitas serangan O. japonica tertinggi mencapai 40,60% di Desa Bojong dan terendah 15,62% di Desa Parakan Jaya. Dua hama talas lain yang tercatat, wereng talas Tarophagus colocasiae (Matsumura) (Hemiptera: Delphacidae) dan Aplosonyx sp. (Chevrolat) (Coleoptera: Chrysomelidae), masih terbatas laporannya di Indonesia.; Taro (Colocasia esculenta (L.) Schott) is a tuber crop increasingly cultivated as a diversification crop in Indonesia. Taro productivity is often reduced by pests, particularly the grasshopper Oxya japonica (Thunberg), which damages leaves and petioles. Reports on O. japonica and other pests of taro remain limited. This study estimated the population and attack intensity of O. japonica. This study also documented other pest attacks in three villages from Kemang District, Bogor Regency, West Java. The study was conducted with two plots in each village. Population and attack of O. japonica were monitored 4 times at two-week intervals. O. japonica populations were observed using modified transect area sampling. Attack intensity was scored using a diagonal stratified sampling. The population ratio (imago per nymph) was 1:3.2 in Parakan Jaya, 1:3.6 in Bojong, and 1:4.1 in Kemang. The highest nymph population was first instar, reaching 0.88 individuals per plant. The lowest nymph population was 4th nymphal stage with 0 individuals per plant. The highest intensity of O. japonica attack reached 40.6% in Bojong, and the lowest was 15.62% in Parakan Jaya Village. Two taro pests were recorded, i.e., the taro planthopper Tarophagus colocasiae (Matsumura) (Hemiptera: Delphacidae) and Aplosonyx sp. (Chevrolat)(Coleoptera: Chrysomelidae), both are still poorly documented in Indonesia.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172918">
<title>Serangan Oxya japonica (Thunberg) (Orthoptera: Acrididae) dan Hama Lainnya pada Tanaman Talas di Kecamatan Kemang, Bogor, Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172918</link>
<description>Serangan Oxya japonica (Thunberg) (Orthoptera: Acrididae) dan Hama Lainnya pada Tanaman Talas di Kecamatan Kemang, Bogor, Jawa Barat
Kautsar, Attar Hanif
Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) merupakan tanaman umbi yang semakin banyak dibudidayakan sebagai tanaman diversifikasi pangan di Indonesia. Produktivitas talas sering menurun akibat serangan hama, terutama belalang Oxya japonica (Thunberg) yang merusak daun dan pelepah. Laporan mengenai O. japonica dan hama lain pada talas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menghitung populasi, intensitas serangan O. japonica, dan melaporkan serangan hama lainnya di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan di Desa Parakan Jaya, Desa Bojong dan Desa Kemang. Setiap desa diamati dua plot pengamatan. Populasi dan serangan O. japonica diamati empat kali interval dalam dua minggu sekali. Populasi O. japonica diamati menggunakan metode pengambilan contoh area transek yang dimodifikasi. Intensitas serangan dinilai dari skala kerusakan daun 0–4 dengan metode stratifikasi diagonal. Rasio perbandingan populasi (imago per nimfa) yaitu 1:3,2 di Desa Parakan Jaya, 1:3,6 di Desa Bojong dan 1:4,1 di Desa Kemang. Populasi nimfa tertinggi yaitu instar ke-1 mencapai 0,88 individu per tanaman. Populasi nimfa instar ke-4 terendah yaitu 0 individu per tanaman. Intensitas serangan O. japonica tertinggi mencapai 40,60% di Desa Bojong dan terendah 15,62% di Desa Parakan Jaya. Dua hama talas lain yang tercatat, wereng talas Tarophagus colocasiae (Matsumura) (Hemiptera: Delphacidae) dan Aplosonyx sp. (Chevrolat) (Coleoptera: Chrysomelidae), masih terbatas laporannya di Indonesia.; Taro (Colocasia esculenta (L.) Schott) is a tuber crop increasingly cultivated as a diversification crop in Indonesia. Taro productivity is often reduced by pests, particularly the grasshopper Oxya japonica (Thunberg), which damages leaves and petioles. Reports on O. japonica and other pests of taro remain limited. This study estimated the population and attack intensity of O. japonica. This study also documented other pest attacks in three villages from Kemang District, Bogor Regency, West Java. The study was conducted with two plots in each village. Population and attack of O. japonica were monitored 4 times at two-week intervals. O. japonica populations were observed using modified transect area sampling. Attack intensity was scored using a diagonal stratified sampling. The population ratio (imago per nymph) was 1:3.2 in Parakan Jaya, 1:3.6 in Bojong, and 1:4.1 in Kemang. The highest nymph population was first instar, reaching 0.88 individuals per plant. The lowest nymph population was 4th nymphal stage with 0 individuals per plant. The highest intensity of O. japonica attack reached 40.6% in Bojong, and the lowest was 15.62% in Parakan Jaya Village. Two taro pests were recorded, i.e., the taro planthopper Tarophagus colocasiae (Matsumura) (Hemiptera: Delphacidae) and Aplosonyx sp. (Chevrolat)(Coleoptera: Chrysomelidae), both are still poorly documented in Indonesia.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
