<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118">
<title>UT - Plant Protection</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173382"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173266"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173039"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172981"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-14T13:34:01Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173382">
<title>Eksplorasi dan Karakterisasi Aktinomiset Asal Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) sebagai Agens Hayati Colletotrichum spp. Pada Tanaman Cabai</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173382</link>
<description>Eksplorasi dan Karakterisasi Aktinomiset Asal Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) sebagai Agens Hayati Colletotrichum spp. Pada Tanaman Cabai
ROHMAH, DEWI ZULFA NUR
Antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum spp. merupakan penyakit utama pada cabai yang dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 90%. Pengendalian yang umum dilakukan masih bergantung pada fungisida sintetis, yang berpotensi menimbulkan resistensi patogen serta meninggalkan residu berbahaya. Sebagai alternatif, aktinomiset—bakteri Gram-positif penghasil senyawa bioaktif anticendawan—memiliki potensi sebagai agen pengendali hayati. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dan mengkarakterisasi aktinomiset dari bawang dayak yang berpotensi menghambat Colletotrichum spp.. Tahapan penelitian meliputi isolasi mikroba, uji keamanan hayati, karakterisasi morfologi dan fisiologi, uji aktivitas anticendawan secara in vitro dan aktivitas kitinolitik, seleksi isolat unggul menggunakan AHP, identifikasi molekuler, pengujian ekstrak kasar dan analisis senyawa menggunakan LC-MS/MS. Sebanyak 63 isolat diperoleh, dengan daya hambat tertinggi mencapai 88% secara in vitro, 29,7% melalui aktivitas VOC dan 68,7% penghambatan uji filtrat aktinomiset. Isolat U10G2 menunjukkan potensi terbaik dengan skor AHP 0,335, lebih tinggi dari rata-rata yaitu 0,263. Pengujian ekstrak kasar U10G2 yang diekstraksi dengan pelarut etil asetat belum mencapai IC50. Analisis regresi menunjukkan nilai IC50 pada konsentrasi 8,22% (v/v). Isolat U10G2 teridentifikasi sebagai Streptomyces ardesiacus dengan homologi 98,10% menghasilkan metabolit sekunder seperti L-(+)-valine, DL-fenilalanin, Gandicin W, serta phthalic acid yang berperan sebagai anticendawan.; Anthracnose, caused by Colletotrichum spp., is a major disease in chili that can result in yield losses up to 90%. Current control strategies rely heavily on synthetic fungicides, which may induce pathogen resistance and leave harmful residues. As an alternative, actinomycetes, Gram-positive bacteria known for producing antifungal bioactive compounds, offer promising potential as biological control agents. This study aimed to explore and characterize actinomycetes isolated from dayak onion for their antifungal activity against Colletotrichum spp.. The research involved isolation of actinomycetes and Colletotrichum spp., biosafety assay, morphological and physiological characterization, in vitro antifungal and chitinolytic assays, selection of superior isolates using AHP, molecular identification, crude extracts in vitro assays and LC-MS/MS analysis. A total of 63 isolates were obtained, with the highest inhibition reaching 88% in vitro, 29,7%  inhibition of VOC activity and 68,7% inhibition in filtrate assays. Isolate U10G2 demonstrated the highest potential (AHP score 0.335), exceeding the average score (0.199). Isolate U10G2 that extracted using ethyl acetate had not reached IC50 in in vitro assays, regression analysis estimated IC50 at 8.22% (v/v). U10G2 isolated were identified as Streptomyces ardesiacus with 98.10% homology, producing metabolites such as L-(+)-valine, DL-phenylalanine, Gancidin W, and phthalic acid, which are associated with antifungal activity.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173266">
<title>ANALISIS KEMAMPUAN DAYA RUSAK Neochetina eichhorniae (COLEOPTERA: CURCULIONIDAE) TERHADAP DAUN DAN PERTUMBUHAN ECENG GONDOK  (Pontederia crassipes)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173266</link>
<description>ANALISIS KEMAMPUAN DAYA RUSAK Neochetina eichhorniae (COLEOPTERA: CURCULIONIDAE) TERHADAP DAUN DAN PERTUMBUHAN ECENG GONDOK  (Pontederia crassipes)
Raihan, Fadil
Eceng gondok (Pontederia crassipes) merupakan gulma air invasif yang mengancam ekosistem perairan tawar di Indonesia. Perkembangbiakan vegetatifnya yang sangat cepat menurunkan penetrasi cahaya dan kadar oksigen terlarut, mempercepat sedimentasi, serta menimbulkan kerugian ekonomi pada sektor perikanan dan pembangkit listrik tenaga air. Metode pengendalian mekanis dan kimiawi relatif mahal serta berisiko mencemari lingkungan, sehingga pengendalian biologis dengan Neochetina eichhorniae menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mempelajari tingkat kerusakan akibat aktivitas makan kumbang N. eichhorniae pada daun dan tanaman eceng gondok, membandingkan perbedaan kerusakan antara kumbang jantan dan betina dewasa, serta menilai dampaknya terhadap pertumbuhan tanaman. Percobaan dilakukan di laboratorium dan lapangan dengan variasi kepadatan kumbang. Kerusakan daun diukur berdasarkan jumlah bekas makan dan luas area yang rusak, sedangkan respons tanaman dianalisis melalui parameter pertumbuhan dan laju pertumbuhan relatif berdasarkan biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerusakan meningkat seiring bertambahnya kepadatan kumbang dan lamanya paparan. Kumbang betina menyebabkan kerusakan lebih besar dibandingkan jantan, meskipun aktivitas makan individu sedikit menurun pada kepadatan tinggi. Pada skala tanaman, peningkatan kepadatan kumbang secara signifikan memperbesar intensitas kerusakan dan memperlambat waktu penggandaan biomassa, yang menunjukkan tertekannya pertumbuhan eceng gondok. Namun, kepadatan yang digunakan belum mampu menurunkan populasi eceng gondok, sehingga diperlukan kepadatan lebih tinggi atau integrasi dengan metode pengendalian lain untuk hasil yang optimal.; Water hyacinth (Pontederia crassipes) is an invasive aquatic weed that threatens freshwater ecosystems in Indonesia. Its rapid vegetative reproduction reduces light penetration and dissolved oxygen levels, accelerates sedimentation, and causes economic losses in fisheries and hydropower sectors. Mechanical and chemical control methods are relatively costly and pose risks of environmental pollution; therefore, biological control using Neochetina eichhorniae offers a more environmentally friendly alternative. This study aimed to evaluate the level of damage caused by the feeding activity of N. eichhorniae on water hyacinth leaves and plants, compare the differences in damage between adult male and female beetles, and assess its impact on plant growth. Experiments were conducted under laboratory and field conditions using different beetle densities. Leaf damage was measured based on the number of feeding scars and the damaged leaf area, while plant responses were analyzed through growth parameters and relative growth rate based on biomass. The results showed that feeding damage increased with higher beetle density and longer exposure duration. Female beetles caused greater damage than males, although individual feeding activity slightly decreased at higher densities. At the plant level, increased beetle density significantly intensified damage and prolonged biomass doubling time, indicating suppressed growth of water hyacinth. However, the applied densities were insufficient to significantly reduce plant populations, suggesting that higher beetle densities or integration with other control methods are required for optimal management.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173039">
<title>Preferensi Tikus Pohon (Rattus tiomanicus Mill.) Terhadap Rodentisida Organik Berbasis Selulosa dan Efikasinya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173039</link>
<description>Preferensi Tikus Pohon (Rattus tiomanicus Mill.) Terhadap Rodentisida Organik Berbasis Selulosa dan Efikasinya
NOORSIAM, SHAFA LAYLA
Tikus pohon (Rattus tiomanicus) merupakan hama perkebunan yang menyebabkan kerugian ekonomi, sehingga pengendaliannya masih bergantung pada rodentisida sintetik. Rodentisida organik berbasis selulosa berpotensi menjadi alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan menguji preferensi makan tikus pohon terhadap umpan berbasis selulosa serta menilai efikasinya dalam menyebabkan kematian tikus. Penelitian dilakukan melalui uji pilihan (choice test) dan uji tanpa pilihan (no-choice test). Parameter yang diamati meliputi konsumsi umpan, perubahan bobot tubuh, dan persentase kematian tikus selama 14 hari pengamatan. Hasil menunjukkan bahwa konsumsi rodentisida berbasis selulosa jauh lebih rendah dibandingkan umpan alami dan rodentisida kimia sintetis. Pada uji tanpa pilihan, rodentisida selulosa tetap dikonsumsi tetapi hanya menyebabkan tingkat kematian yang rendah (25%). Rendahnya konsumsi dan mortalitas menunjukkan bahwa daya tarik dan efektivitas rodentisida selulosa masih terbatas. Hal ini mengindikasikan bahwa formulasi dan atraktan perlu ditingkatkan agar rodentisida selulosa dapat berfungsi optimal dalam pengendalian tikus pohon yang ramah lingkungan.; The Malaysian field rat (Rattus tiomanicus) is a major plantation pest that causes economic losses, and its control still relies on synthetic rodenticides. Cellulose-based organic rodenticides have the potential to be a safer and more environmentally friendly alternative. This study aimed to evaluate Malaysian field rat feeding preference for cellulose-based bait and assess its efficacy in causing mortality. The study employed a choice test, and a no-choice test. The observed parameters included bait consumption, changes in body weight, and mortality rate over a 14-day observation period. The results showed that the consumption of cellulose-based rodenticide was much lower than that of natural baits and synthetic chemical rodenticides. In the no-choice test, the cellulose rodenticide was still consumed, but only resulted in low mortality (25%). The low consumption and mortality rates indicate that the attractiveness and effectiveness of the cellulose-based rodenticide remain limited. This suggests that improvements in formulation and the addition of attractants are needed for cellulose rodenticides to function optimally in environmentally friendly rat control.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172981">
<title>Struktur Komunitas Ekor Pegas (Collembola) pada Empat Tata Guna Lahan di Lanskap Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Harapan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172981</link>
<description>Struktur Komunitas Ekor Pegas (Collembola) pada Empat Tata Guna Lahan di Lanskap Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Harapan
Nurissa'adah, Adzkia
Ekor pegas merupakan arthropoda serasah yang dapat ditemukan di hutan, &#13;
padang rumput, dan semak. Collembola berperan penting dalam dekomposisi bahan &#13;
organik. Konversi lahan menjadi perkebunan monokultur berdampak pada &#13;
perubahan kondisi lingkungan yang menyebabkan penurunan populasi arthropoda &#13;
tanah, khususnya Collembola. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh &#13;
perubahan penggunaan lahan terhadap kelimpahan, kekayaan spesies, dan &#13;
komposisi Collembola serasah di lanskap Taman Nasional Bukit Duabelas dan &#13;
Hutan Harapan pada empat tipe penggunaan lahan yang berbeda. Sampel &#13;
Collembola dikumpulkan dengan metode pengumpulan serasah (Winkler litter &#13;
extraction), di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, dan Hutan Harapan, &#13;
Provinsi Jambi. Penelitian ini dilakukan pada empat tipe penggunaan lahan berbeda, &#13;
yaitu hutan, perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet, dan semak. Setiap tipe &#13;
penggunaan lahan terdapat 33 plot inti dengan ukuran 1000 m2, dan total seluruh &#13;
plot ada 124 plot yang diamati. Sebanyak 3974 individu ditemukan terdiri dari 3 &#13;
ordo, 9 famili, 28 genus, dan 101 morfospesies. Kelimpahan dan kekayaan spesies &#13;
Collembola tidak berbeda secara signifikan pada empat tipe penggunaan lahan. &#13;
Ketersediaan serasah pada empat tipe penggunaan lahan dapat menyediakan &#13;
mikrohabitat yang sesuai bagi Collembola, sehingga mendukung keberlangsungan &#13;
hidup spesies generalis untuk beradaptasi dan mempertahankan populasi dengan &#13;
stabil. Komposisi Collembola dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama &#13;
leaf area index (LAI), C percent litter, dan C:N ratio litter.; Springtails are litter dwelling arthropods commonly found in forests, &#13;
meadows, and shrublands, that play a vital role in the decomposition process. The &#13;
conversion of natural landscape into monoculture plantations alters environmental &#13;
conditions, potentially leading to declines in soil arthropods populations, especially &#13;
Collembola. This study aims to analyze the impact of land-use change on &#13;
abundance and composition of Collembola within the Bukit Duabelas National Park &#13;
and Harapan Forest landscapes in Jambi Province. Samplings were conducted using &#13;
winkler litter extraction across 124 plots (1000 m2) representing four land use types &#13;
that is, forest, oil palm plantations, rubber plantations, and shrublands. A total of &#13;
3,974 individuals were identified, consisting of 3 orders, 9 families, 28 genera, and &#13;
101 morphospecies. Results indicated that abundance and species richness of &#13;
Collembola did not differ significantly across the four land use types, suggesting &#13;
that the available litter provides suitable microhabitats for generalist species to &#13;
adapt and maintain stable populations. However, the specific community &#13;
composition was significantly influenced by environmental factors, particularly &#13;
leaf area index (LAI), litter carbon percentage, and the litter C:N ratio.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
