<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/116">
<title>UF - Animal Disease and Veterinary Health</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/116</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175306"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175294"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175290"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175206"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-21T19:28:26Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175306">
<title>EKSTRAKSI DNA DARI TELUR NEMATODA STRONGYLE UNTUK POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175306</link>
<description>EKSTRAKSI DNA DARI TELUR NEMATODA STRONGYLE UNTUK POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)
RASYIDAH, PUTRI NAJLA
Ekstraksi DNA dari telur nematoda strongyle diperlukan untuk memperoleh DNA template yang dapat digunakan dalam analisis molekuler berbasis Polymerase Chain Reaction (PCR). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keberhasilan ekstraksi DNA dari telur nematoda strongyle hasil flotasi sebagai DNA template untuk amplifikasi PCR dan mengevaluasi penggunaan dua volume reaksi PCR yang berbeda. Sampel feses domba diperiksa terhadap telur strongyle menggunakan metode flotasi dengan larutan NaCl jenuh. Telur yang diperoleh dibersihkan dan DNA diekstraksi menggunakan lysis solution. DNA template hasil ekstraksi diamplifikasi menggunakan primer ITS–2G dengan dua variasi volume Master Mix PCR, yaitu 10 µL dan 25 µL, hasilnya divisualisasikan melalui elektroforesis gel agarosa 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel uji menghasilkan pita DNA berukuran sekitar 370 bp sesuai target primer ITS-2G, yang menunjukkan bahwa DNA hasil ekstraksi dapat diamplifikasi menggunakan PCR. Volume reaksi 10 µL menghasilkan hasil pita DNA yang sebanding dengan volume 25 µL. Dengan demikian, ekstraksi DNA dari telur nematoda strongyle hasil flotasi dapat menghasilkan DNA template yang layak digunakan untuk amplifikasi PCR.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175294">
<title>Perubahan Jumlah Makrofag Peritoneal terhadap Kandidat Vaksin Iradiasi Streptococcus agalactiae Kombinasi Nanopartikel Kitosan pada Mencit</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175294</link>
<description>Perubahan Jumlah Makrofag Peritoneal terhadap Kandidat Vaksin Iradiasi Streptococcus agalactiae Kombinasi Nanopartikel Kitosan pada Mencit
TANIHARJA, ALVIN
Mastitis subklinis yang disebabkan oleh Streptococcus agalactiae merupakan masalah penting pada sapi perah, sehingga diperlukan pengembangan vaksin yang mampu memicu aktivasi imun yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respons imun bawaan melalui dinamika makrofag peritoneal pada mencit setelah pemberian kandidat vaksin iradiasi S. agalactiae yang diformulasikan dengan nanopartikel kitosan sebagai adjuvan. Sebanyak 40 mencit galur DDY dibagi ke dalam sepuluh kelompok perlakuan dan diberikan injeksi intraperitoneal yang terdiri atas kontrol, nanopartikel kitosan, antigen iradiasi, serta kombinasi antigen–nanopartikel. Pengambilan cairan peritoneal dilakukan pada hari ke-1 dan ke-4 untuk menghitung jumlah makrofag sebagai indikator respons imun awal. Uji Two-Way ANOVA menunjukkan adanya interaksi signifikan antara jenis perlakuan dan waktu observasi (Sig. &lt; 0,001). Pada hari ke-1, kombinasi antigen iradiasi dengan nanopartikel kitosan menghasilkan aktivasi makrofag peritoneal tertinggi, menunjukkan potensi kitosan dalam meningkatkan imunogenisitas antigen iradiasi. Pada hari ke-4, kelompok yang menerima antigen mengalami penurunan jumlah makrofag yang konsisten dengan fenomena Macrophage Disappearance Reaction, sedangkan kelompok kontrol tetap stabil. Temuan ini menegaskan bahwa formulasi nanopartikel kitosan mampu memperkuat respons imun bawaan dan berpotensi dikembangkan sebagai adjuvan inovatif dalam kandidat vaksin iradiasi S. agalactiae untuk pencegahan mastitis subklinis.; Subclinical mastitis caused by Streptococcus agalactiae remains a major issue in dairy cows, highlighting the need for vaccines capable of inducing stronger immune activation. This study evaluated innate immune responses by examining the dynamics of peritoneal macrophages in mice following administration of an irradiated S. agalactiae vaccine candidate formulated with chitosan nanoparticles as an adjuvant. Forty DDY mice were allocated into ten treatment groups and received intraperitoneal injections consisting of a control, chitosan nanoparticles, irradiated antigen, and a combination of antigen–nanoparticles. Peritoneal fluid was collected on days 1 and 4 to quantify macrophage numbers as an indicator of early immune activation. Two-Way ANOVA revealed a significant interaction between treatment type and observation time (Sig. &lt; 0.001). On day 1, the combination of irradiated antigen with chitosan nanoparticles triggered the highest peritoneal macrophage activation, demonstrating the ability of chitosan to enhance the immunogenicity of the irradiated antigen. On day 4, antigen-receiving groups showed a reduction in macrophage numbers consistent with the Macrophage Disappearance Reaction, while control groups remained stable. These findings confirm that chitosan nanoparticle formulation can potentiate innate immune activation and holds promise as an innovative adjuvant for S. agalactiae irradiated vaccine development against subclinical mastitis.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175290">
<title>Deteksi Gen uspA dan Gen Resistansi blaTEM pada Escherichia coli dari Feses Kuda</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175290</link>
<description>Deteksi Gen uspA dan Gen Resistansi blaTEM pada Escherichia coli dari Feses Kuda
khairi, Zulfahmi
Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif oportunis yang terdapat pada saluran pencernaan hewan berdarah panas, termasuk kuda. Escherichia coli dapat menjadi reservoir gen resistansi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi E. coli dari feses kuda menggunakan pendekatan molekuler, yaitu deteksi gen uspA, serta mendeteksi keberadaan gen resistansi blaTEM pada isolat yang terkonfirmasi sebagai E. coli. Sebanyak 22 isolat yang diduga E. coli dari feses kuda diperiksa dalam penelitian ini. Deteksi gen uspA dan blaTEM dilakukan menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 18 dari 22 isolat (81,8%) yang diuji PCR terkonfirmasi positif E. coli dengan terdeteksinya gen uspA. Dari 18 isolat E. coli yang diuji, sebanyak 15 isolat (83,3%) positif gen blaTEM yang mengode resistansi terhadap antimikroba beta-laktam. Studi ini menunjukkan pentingnya deteksi molekuler untuk mengidentifikasi bakteri dan mendeteksi gen resistansi pada E. coli. Selain itu, E. coli dari feses kuda dapat menjadi reservoir gen resistansi blaTEM sehingga berpotensi berkontribusi terhadap penyebaran resistansi antimikroba.; Escherichia coli is an opportunistic Gram negative bacterium commonly found in the gastrointestinal tract of warm-blooded animals, including horses. Escherichia coli can act as a reservoir of antimicrobial resistance genes. This study aimed to identify E. coli isolated from horse feces using a molecular approach through the detection of the uspA gene and to detect the presence of the blaTEM resistance gene in confirmed isolates. A total of 22 presumptive E. coli isolates obtained from horse feces were examined in this study. Detection of the uspA and blaTEM genes was performed using the Polymerase Chain Reaction (PCR) technique. The results showed that 18 out of 22 isolates tested by PCR (81.8%) were confirmed as E. coli through the detection of the uspA gene. Furthermore, 15 out of 18 E. coli tested were positive for blaTEM antimicrobial resistance gene, indicating resistance to beta-lactam antimicrobials. This study demonstrates the importance of molecular methods for identifying bacteria and detecting resistance genes in E. coli. Furthermore, E. coli from horse feces can harbor the blaTEM resistance gene and potentially contribute to the spread of antimicrobial resistance.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175206">
<title>Efektivitas Jamur Cordyceps (Cordyceps militaris) pada Efek Analgesik dan Stamina pada Mencit Jantan (Mus musculus)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175206</link>
<description>Efektivitas Jamur Cordyceps (Cordyceps militaris) pada Efek Analgesik dan Stamina pada Mencit Jantan (Mus musculus)
VISSER, NERINA CHRISTINA
Jamur Cordyceps militaris diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai analgesik alami dan penambah stamina. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas infusa jamur Cordyceps militaris pada efek analgesik dan peningkatan stamina pada mencit jantan. Penelitian dilakukan dengan metode Tail Flick Immersion Test untuk menguji efek analgesik dan Swimming Endurance Test untuk menguji peningkat stamina. Mencit diberi infusa cordyceps dalam konsentrasi 0% (kontrol), 1%, 5%, 10%, dan 15% selama 14 hari melalui air minum. Hasil menunjukkan bahwa Cordyceps militaris mampu meningkatkan stamina mencit secara signifikan dengan konsentrasi tertinggi menunjukkan durasi berenang terlama dibanding kelompok kontrol. Akan tetapi, peningkatan waktu respons terhadap nyeri pada mencit tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik. Temuan ini memberikan implikasi penting bahwa infusa Cordyceps militaris memiliki potensi tinggi sebagai penambah stamina alami, meskipun efek analgesiknya masih tergolong rendah.; Cordyceps militaris fungi is known to contain bioactive compound with potential as a natural analgesic and stamina enhancer. This study aimed to evaluate the effectiveness of Cordyceps militaris infusion on analgesic effects and stamina enhancement in male mice. The research employed the Tail Flick Immersion Test to assess analgesic effects and the Swimming Endurance Test to evaluate stamina enhancement. Mice were administered cordyceps infusion at concentrations of 0% (control), 1%, 5%, 10%, and 15% for 14 days via drinking water. The results showed that Cordyceps militaris significantly improved stamina in mice, with the highest concentration group exhibiting the longest swimming duration compared to the control group. However, the increase in pain response time in mice was not statistically significant. These findings imply that Cordyceps militaris infusion has strong potential as a natural stamina enhancer, although its analgesic effect remains relatively low.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
