<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/115">
<title>UT - Veterinary Clinic Reproduction and Pathology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/115</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173071"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172851"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172115"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171157"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-05-29T21:33:11Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173071">
<title>Prevalensi Kejadian Kawin Berulang pada Sapi dan Metode Penanganannya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173071</link>
<description>Prevalensi Kejadian Kawin Berulang pada Sapi dan Metode Penanganannya
Wardana, Prawira Eka
Kawin berulang (repeat breeder) adalah  kondisi pada hewan yang mengalami kegagalan untuk menjadi bunting setelah dilakukan perkawinan lebih dari 2 kali dengan siklus estrus yang normal. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kejadian kawin berulang serta mengidentifikasi faktor penyebab dan teknik penanganan di berbagai negara selama periode 2020-2025. Data diperoleh  melalui penelusuran literatur dari jurnal ilmiah tentang kasus kawin berulang sebagai data sekunder. Artikel dicari di web google scholar dengan kata kunci “repeat breeder prevalence” diperoleh enam belas (16) artikel. Data yang dikumpulkan dirangkum dalam bentuk tabulasi meliputi jumlah kasus, faktor penyebab, cara penanganan dan tingkat keberhasilan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat prevalensi kejadian kawin berulang berkisar antara 23,6-65% dari sekitar 7499 ekor. Faktor penyebab meliputi abnormalitas saluran reproduksi, gangguan kontraktilitas uterus, gangguan hormonal, kualitas oosit yang rendah, penurunan regulasi gen, ketidaktepatan waktu inseminasi, kesalahan deteksi estrus, manajemen peternakan yang kurang optimal, dan endometritis. Teknik penanganan yang dilaporkan meliputi pemberian antibiotik, perbaikan siklus hormonal, dan perbaikan lingkungan uterus. Manajemen pengelolaan peternakan, pendidikan peternak, serta pemberian pakan ikut berkontribusi pada kejadian kawin berulang. Secara umum, kejadian kawin berulang dapat ditangani secara efektif apabila terapi dan manajemen disesuaikan dengan kausa penyebab kejadian.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172851">
<title>Produksi Embrio In Vivo Pada Kuda: Kajian Terhadap Waktu Koleksi Embrio dan Pemberian Hormon Oksitosin</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172851</link>
<description>Produksi Embrio In Vivo Pada Kuda: Kajian Terhadap Waktu Koleksi Embrio dan Pemberian Hormon Oksitosin
Suryadi, Widyastuti Pratiwi
Praktik pengembangbiakan kuda di Indonesia masih sebatas perkawinan alam&#13;
dan inseminasi buatan (IB). Teknologi reproduksi berbantu Transfer Embrio (TE)&#13;
menjadi strategi peningkatan efisiensi reproduksi dibandingkan dengan perkawinan&#13;
alam dan IB. Prosedur TE memungkinkan untuk dihasilkannya lebih dari satu&#13;
anakan kuda dalam satu tahun dari seekor betina unggul dan untuk mempertahankan&#13;
genetik unggul tersebut tanpa mengganggu performa betina atlet. Tujuan dari&#13;
penelitian ini untuk menganalisis potensi pengembangan produksi embrio in vivo&#13;
pada kuda di Indonesia berdasarkan perbedaan waktu koleksi embrio, pemberian&#13;
oksitosin pada koleksi embrio dan durasi perkembangan folikel dominan terhadap&#13;
recovery rate embrio.&#13;
Penelitian ini dilakukan di Unit Rehabilitasi Reproduksi, Sekolah Kedokteran&#13;
Hewan dan Biomedis IPB dari Januari 2024 hingga Maret 2025. Metode penelitian&#13;
yang dilakukan meliputi seleksi betina donor embrio berdasarkan pemeriksaan fisik&#13;
dan aktivitas ovarium, sinkronisasi estrus, IB dan koleksi embrio menggunakan&#13;
prosedur flushing uterus. Koleksi embrio dilakukan pada hari ke 5, 6 dan 7 pasca&#13;
ovulasi. Tidak ada embrio yang berhasil dikoleksi pada kelompok hari ke-5. Koleksi&#13;
embrio pada hari ke 6 dan 7 masing-masing memiliki recovery rate embryo 66.7%&#13;
yaitu early blastocyst pada hari ke-6 dan blastosis pada hari ke-7. Donor embrio&#13;
yang memiliki durasi perkembangan folikel dominan =4 hari memberikan hasil yang&#13;
lebih baik terhadap recovery rate embrio. Pemberian oksitosin maupun tanpa&#13;
oksitosin tidak berpengaruh nyata terhadap recovery rate embrio pada penelitian ini.&#13;
Kelompok betina yang mengalami gangguan reproduksi pada proses penelitian tidak&#13;
berhasil untuk menghasilkan embrio meskipun koleksi embrio dilakukan pada hari&#13;
ke-6 dan ke-7. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai recovery&#13;
rate embrio dipengaruhi oleh penentuan waktu koleksi yang tepat, dinamika folikel&#13;
dan kondisi uterus yang optimal.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172115">
<title>Pengembangan Peranti Mikrofluida Kain Katun Berbasis Uji Mastitis California untuk Mendeteksi Mastitis Subklinis pada Sapi Perah</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172115</link>
<description>Pengembangan Peranti Mikrofluida Kain Katun Berbasis Uji Mastitis California untuk Mendeteksi Mastitis Subklinis pada Sapi Perah
Setiandri, Qiara Jasmine
Mastitis merupakan peradangan kelenjar ambing yang bersifat kompleks. Mastitis subklinis tidak menunjukkan perubahan pada ambing serta susu yang dihasilkan sehingga sulit untuk dideteksi. Namun, mastitis subklinis menyebabkan kerugian karena menyebabkan terjadinya penurunan produksi dan kualitas susu. Mastitis subklinis dapat dideteksi dengan melakukan monitoring jumlah sel somatik (JSS) yang hanya dapat dilakukan di laboratorium dan membutuhkan keahlian sehingga tidak praktis dilakukan di lapang. Penelitian ini bertujuan mengembangkan perangkat mikrofluida berbahan kain katun sebagai alat deteksi mastitis subklinis yang lebih sederhana, cepat, dan ekonomis.  Matriks kain katun diberi perlakuan berbeda, dilapisi reagen California mastitis test (CMT), dan dipasangi conjugate pad untuk memfasilitasi pewarnaan sampel. Sampel susu sehat, mastitis subklinis, dan mastitis klinis diuji untuk mengamati pola rembesan plasma dan koagulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kain katun yang dicuci dua kali memiliki laju perembesan yang paling baik, perbedaan JSS memengaruhi reaksi koagulasi serta jarak tempuh rembesan, di mana susu sehat memiliki jarak rembesan paling jauh dan mastitis subklinis paling pendek. Nilai Limit of Detection (LoD) dan Limit of Quantification (LoQ) menunjukkan kemampuan perangkat dalam mendeteksi variasi koagulasi pada sampel. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perangkat mikrofluida berbahan kain katun dengan reagen CMT mampu mendeteksi mastitis subklinis dalam waktu 60 detik dan berpotensi digunakan sebagai alat diagnostik di lapangan yang praktis dan murah.; Mastitis is a complex inflammation of the mammary gland. Subclinical mastitis does not cause visible changes in the udder or in the milk produced, making it difficult to detect. However, subclinical mastitis resulting in economic losses due to reduced milk production and quality. Subclinical mastitis can be detected by monitoring somatic cell count (SCC) that can only be performed in the laboratory and requires technical expertise, making it impractical for field use. This study aimed to develop a cotton-based microfluidic device as a simpler, faster, and more economical tool for detecting subclinical mastitis. The cotton matrices were subjected to different treatments, coated with California Mastitis Test (CMT) reagent, and equipped with a conjugate pad to facilitate sample staining. Milk samples from healthy, subclinical and clinical mastitis cows were tested to observe plasma and coagulum wicking patterns. The results showed that the fabric that washed twice has the best permeation rate, the differences in SCC affected coagulation reactions and wicking distances, with healthy milk exhibiting the longest wicking distance and subclinical mastitis the shortest. The Limit of Detection (LoD) and Limit of Quantification (LoQ) demonstrated the device’s ability to detect variations in sample coagulation. This study concludes that the cotton-based microfluidic device with CMT reagent can detect subclinical mastitis within 60 seconds and has strong potential for use as a practical and low-cost field diagnostic tool.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171157">
<title>Faktor-Faktor yang Memengaruhi Nilai Calf Crop Sapi Potong Di Peternakan Lembu Prima Perkasa</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171157</link>
<description>Faktor-Faktor yang Memengaruhi Nilai Calf Crop Sapi Potong Di Peternakan Lembu Prima Perkasa
Suhirman, Syauqi Ananda
Permintaan masyarakat terhadap daging sapi terus meningkat seiring dengan pertambahan populasi dan konsumsi protein hewani. Hal ini mendorong berkembangnya pemeliharaan sapi potong secara intensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi nilai calf crop sapi potong pada peternakan PT. Lembu Prima Perkasa. Data yang digunakan berupa data sekunder inseminasi buatan (IB), kelahiran, dan kematian pedet selama periode sepuluh tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase calf crop tertinggi terjadi pada tahun 2020 sebesar 100%, sedangkan nilai terendah ditemukan pada tahun 2018 sebesar 55%, dengan rata-rata selama sepuluh tahun sebesar 82%. Faktor utama yang memengaruhi nilai calf crop meliputi kegagalan bunting (74%), abortus (16%), dan kematian pedet baru lahir (6%). Penyakit yang paling sering menyebabkan kematian pedet adalah pneumonia dan diare, diikuti oleh hairball, cedera akibat terinjak induk, kelemahan, frothy bloat, asidosis, serta koksidiosis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai calf crop di peternakan PT. Lembu Prima Perkasa relatif mendekati nilai minimum yang dianjurkan, sehingga diperlukan upaya perbaikan manajemen reproduksi dan kesehatan pedet untuk meningkatkan produktivitas.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
