<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/115">
<title>UF - Veterinary Clinic Reproduction and Pathology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/115</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174395"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174394"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173071"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172851"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-12T20:23:37Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174395">
<title>Pengaruh Bakteri Asam Laktat Dadih terhadap Biokimia Darah dari Mencit C57BL/6 Model Obesitas</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174395</link>
<description>Pengaruh Bakteri Asam Laktat Dadih terhadap Biokimia Darah dari Mencit C57BL/6 Model Obesitas
Qutni, Zalza Miftahul Hasana Al
Obesitas memicu gangguan metabolik seperti peningkatan glukosa darah, kolesterol, dan aktivitas enzim hati dalam darah. Bakteri asam laktat (BAL) asal dadih memiliki potensi untuk mengatasi kondisi tersebut. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus paracasei asal dadih terhadap glukosa darah puasa, kolesterol total, Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT), dan Serum Glutamate Oxaloacetate Transaminase (SGOT) pada mencit C57BL/6 model obesitas. Sebanyak 20 ekor mencit dibagi menjadi 5 kelompok: pakan standar, High Fat Diet (HFD), HFD + Orlistat, HFD + L. plantarum (10? cfu/mL), dan HFD + L. paracasei (10? cfu/mL). Induksi obesitas dilakukan dengan pemberian pakan tinggi lemak selama 8 minggu diikuti pemberian intervensi orlistat, L. plantarum, dan L, paracasei selama 4 minggu. Hasil pada minggu ke-12 menunjukkan kelompok HFD tanpa intervensi mengalami kondisi hiperglikemia dan hiperkolesterolemia. L. paracasei efektif menormalkan glukosa darah puasa sedangkan L. plantarum masih menunjukkan hiperglikemia. Kedua BAL (L. plantarum dan L. paracasei) berhasil menurunkan kolesterol total ke rentang normal. Kedua BAL juga menjaga aktivitas enzim SGPT dan SGOT tetap stabil serta lebih rendah dari kelompok HFD tanpa intervensi. Secara keseluruhan kedua BAL asal dadih berpotensi sebagai agen penanganan gangguan metabolik seperti peningkatan kadar glukosa darah puasa, kadar kolesterol total, dan enzim hati SGPT dan SGOT akibat obesitas, dengan L. paracasei lebih optimal untuk homeostasis glukosa.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174394">
<title>Pengaruh Bakteri Asam Laktat Dadih terhadap Biokimia Darah dari Mencit C57BL/6 Model Obesitas</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174394</link>
<description>Pengaruh Bakteri Asam Laktat Dadih terhadap Biokimia Darah dari Mencit C57BL/6 Model Obesitas
Qutni, Zalza Miftahul Hasana Al
Obesitas memicu gangguan metabolik seperti peningkatan glukosa darah, kolesterol, dan aktivitas enzim hati dalam darah. Bakteri asam laktat (BAL) asal dadih memiliki potensi untuk mengatasi kondisi tersebut. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus paracasei asal dadih terhadap glukosa darah puasa, kolesterol total, Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT), dan Serum Glutamate Oxaloacetate Transaminase (SGOT) pada mencit C57BL/6 model obesitas. Sebanyak 20 ekor mencit dibagi menjadi 5 kelompok: pakan standar, High Fat Diet (HFD), HFD + Orlistat, HFD + L. plantarum (10? cfu/mL), dan HFD + L. paracasei (10? cfu/mL). Induksi obesitas dilakukan dengan pemberian pakan tinggi lemak selama 8 minggu diikuti pemberian intervensi orlistat, L. plantarum, dan L, paracasei selama 4 minggu. Hasil pada minggu ke-12 menunjukkan kelompok HFD tanpa intervensi mengalami kondisi hiperglikemia dan hiperkolesterolemia. L. paracasei efektif menormalkan glukosa darah puasa sedangkan L. plantarum masih menunjukkan hiperglikemia. Kedua BAL (L. plantarum dan L. paracasei) berhasil menurunkan kolesterol total ke rentang normal. Kedua BAL juga menjaga aktivitas enzim SGPT dan SGOT tetap stabil serta lebih rendah dari kelompok HFD tanpa intervensi. Secara keseluruhan kedua BAL asal dadih berpotensi sebagai agen penanganan gangguan metabolik seperti peningkatan kadar glukosa darah puasa, kadar kolesterol total, dan enzim hati SGPT dan SGOT akibat obesitas, dengan L. paracasei lebih optimal untuk homeostasis glukosa.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173071">
<title>Prevalensi Kejadian Kawin Berulang pada Sapi dan Metode Penanganannya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173071</link>
<description>Prevalensi Kejadian Kawin Berulang pada Sapi dan Metode Penanganannya
Wardana, Prawira Eka
Kawin berulang (repeat breeder) adalah  kondisi pada hewan yang mengalami kegagalan untuk menjadi bunting setelah dilakukan perkawinan lebih dari 2 kali dengan siklus estrus yang normal. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kejadian kawin berulang serta mengidentifikasi faktor penyebab dan teknik penanganan di berbagai negara selama periode 2020-2025. Data diperoleh  melalui penelusuran literatur dari jurnal ilmiah tentang kasus kawin berulang sebagai data sekunder. Artikel dicari di web google scholar dengan kata kunci “repeat breeder prevalence” diperoleh enam belas (16) artikel. Data yang dikumpulkan dirangkum dalam bentuk tabulasi meliputi jumlah kasus, faktor penyebab, cara penanganan dan tingkat keberhasilan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat prevalensi kejadian kawin berulang berkisar antara 23,6-65% dari sekitar 7499 ekor. Faktor penyebab meliputi abnormalitas saluran reproduksi, gangguan kontraktilitas uterus, gangguan hormonal, kualitas oosit yang rendah, penurunan regulasi gen, ketidaktepatan waktu inseminasi, kesalahan deteksi estrus, manajemen peternakan yang kurang optimal, dan endometritis. Teknik penanganan yang dilaporkan meliputi pemberian antibiotik, perbaikan siklus hormonal, dan perbaikan lingkungan uterus. Manajemen pengelolaan peternakan, pendidikan peternak, serta pemberian pakan ikut berkontribusi pada kejadian kawin berulang. Secara umum, kejadian kawin berulang dapat ditangani secara efektif apabila terapi dan manajemen disesuaikan dengan kausa penyebab kejadian.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172851">
<title>Produksi Embrio In Vivo Pada Kuda: Kajian Terhadap Waktu Koleksi Embrio dan Pemberian Hormon Oksitosin</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172851</link>
<description>Produksi Embrio In Vivo Pada Kuda: Kajian Terhadap Waktu Koleksi Embrio dan Pemberian Hormon Oksitosin
Suryadi, Widyastuti Pratiwi
Praktik pengembangbiakan kuda di Indonesia masih sebatas perkawinan alam&#13;
dan inseminasi buatan (IB). Teknologi reproduksi berbantu Transfer Embrio (TE)&#13;
menjadi strategi peningkatan efisiensi reproduksi dibandingkan dengan perkawinan&#13;
alam dan IB. Prosedur TE memungkinkan untuk dihasilkannya lebih dari satu&#13;
anakan kuda dalam satu tahun dari seekor betina unggul dan untuk mempertahankan&#13;
genetik unggul tersebut tanpa mengganggu performa betina atlet. Tujuan dari&#13;
penelitian ini untuk menganalisis potensi pengembangan produksi embrio in vivo&#13;
pada kuda di Indonesia berdasarkan perbedaan waktu koleksi embrio, pemberian&#13;
oksitosin pada koleksi embrio dan durasi perkembangan folikel dominan terhadap&#13;
recovery rate embrio.&#13;
Penelitian ini dilakukan di Unit Rehabilitasi Reproduksi, Sekolah Kedokteran&#13;
Hewan dan Biomedis IPB dari Januari 2024 hingga Maret 2025. Metode penelitian&#13;
yang dilakukan meliputi seleksi betina donor embrio berdasarkan pemeriksaan fisik&#13;
dan aktivitas ovarium, sinkronisasi estrus, IB dan koleksi embrio menggunakan&#13;
prosedur flushing uterus. Koleksi embrio dilakukan pada hari ke 5, 6 dan 7 pasca&#13;
ovulasi. Tidak ada embrio yang berhasil dikoleksi pada kelompok hari ke-5. Koleksi&#13;
embrio pada hari ke 6 dan 7 masing-masing memiliki recovery rate embryo 66.7%&#13;
yaitu early blastocyst pada hari ke-6 dan blastosis pada hari ke-7. Donor embrio&#13;
yang memiliki durasi perkembangan folikel dominan =4 hari memberikan hasil yang&#13;
lebih baik terhadap recovery rate embrio. Pemberian oksitosin maupun tanpa&#13;
oksitosin tidak berpengaruh nyata terhadap recovery rate embrio pada penelitian ini.&#13;
Kelompok betina yang mengalami gangguan reproduksi pada proses penelitian tidak&#13;
berhasil untuk menghasilkan embrio meskipun koleksi embrio dilakukan pada hari&#13;
ke-6 dan ke-7. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai recovery&#13;
rate embrio dipengaruhi oleh penentuan waktu koleksi yang tepat, dinamika folikel&#13;
dan kondisi uterus yang optimal.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
