<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/113">
<title>UF - Aquatic Resources Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/113</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180050"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180025"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180015"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179880"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-10-31T05:15:03Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180050">
<title>Biodiversitas Makrozoobentos sebagai Bioindikator Status Ekologis Sungai CIsadane</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180050</link>
<description>Biodiversitas Makrozoobentos sebagai Bioindikator Status Ekologis Sungai CIsadane
Simamora, Yoel Marthin
Penelitian ini menilai status ekologis Sungai Cisadane pada zona hulu, tengah, &#13;
dan hilir berdasarkan struktur komunitas makrozoobentos. Contoh diambil dengan &#13;
Surber net pada Februari, Maret, dan Mei 2026 di 12 stasiun dan diidentifikasi &#13;
sampai genus. Seluruh bulan berada dalam musim hujan sehingga yang &#13;
dibandingkan adalah periode curah hujan rendah (Februari–Maret) dan tinggi (Mei). &#13;
Tercatat 30 genera dari lima kelas (531 individu), kepadatan 11–226 Ind./m2 dan &#13;
keanekaragaman 0,18–1,67. Kekayaan genus menurun nyata dari hulu ke hilir (p = &#13;
0,017), sedangkan penurunan keanekaragaman hanya kecenderungan. Komposisi &#13;
komunitas berbeda antarperiode (p = 0,003), bukan antarzona. Suhu berkorelasi &#13;
negatif dengan kekayaan genus (? = -0,592, p = 0,043), namun hasilnya rapuh. &#13;
Zona hulu tergolong tercemar sedang karena masih menampung genus sensitif &#13;
(Epeorus sp., Neoperla sp.), sedangkan zona tengah dan hilir tercemar berat. &#13;
Kekayaan genus dan taksa sensitif menjadi penanda utama dengan indikasi &#13;
degradasi yang menguat ke arah hilir.; This study assessed the ecological status of the Cisadane River in its upstream, &#13;
middle, and downstream zones based on macrozoobenthos community structure. &#13;
Samples were collected with a Surber net in February, March, and May 2026 at 12 &#13;
stations and identified to genus level. All months fell within the wet season, so a &#13;
low rainfall period (February–March) was compared with a high rainfall period &#13;
(May). Thirty genera from five classes (531 individuals) were recorded, with &#13;
densities of 11–226 Ind./m2 and diversity of 0.18–1.67. Genus richness declined &#13;
significantly from upstream to downstream (p = 0.017), whereas the decline in &#13;
diversity was only a tendency. Community composition differed between periods &#13;
(p = 0.003), not among zones. Temperature was negatively correlated with genus &#13;
richness (? = -0.592, p = 0.043), but the result is fragile. The upstream zone was &#13;
moderately polluted because it still supported sensitive genera (Epeorus sp., &#13;
Neoperla sp.), whereas the middle and downstream zones were heavily polluted. &#13;
Genus richness and sensitive taxa were the main indicators, with degradation &#13;
increasing toward the river mouth.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180025">
<title>Strategi Pengelolaan Ekowisata Pantai di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180025</link>
<description>Strategi Pengelolaan Ekowisata Pantai di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu
Hernantoro, Daffa Setoary
Pulau Tidung merupakan salah satu destinasi ekowisata bahari di Kepulauan Seribu yang memiliki potensi sumber daya pantai tinggi, namun pengelolaannya masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan sarana prasarana dan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian kawasan wisata, daya dukung kawasan, dan strategi pengelolaan ekowisata pantai di Pulau Tidung. Hasil analisis indeks kesesuaian wisata (IKW) menunjukkan bahwa stasiun 1 dan 2 memiliki nilai 2,34 (kategori sesuai), sedangkan stasiun 3 memiliki nilai 1,97 (kategori tidak sesuai), dengan 66,6% pantai tergolong sesuai untuk kegiatan ekowisata. Nilai daya dukung kawasan (DDK) untuk kegiatan rekreasi pantai sebesar 48 orang per hari. Analisis SWOT menghasilkan 13 alternatif strategi pengelolaan dengan tiga strategi prioritas utama yaitu mengembangkan ekowisata berbasis kelestarian lingkungan, konservasi sumber daya alam melalui pengelolaan sampah dan pengawasan aktivitas wisata, serta perbaikan sarana prasarana dan fasilitas wisata secara bertahap.; Tidung Island is one of the marine ecotourism destinations in the Kepulauan Seribu (Thousand Islands) with high coastal resource potential, yet its management still faces challenges such as limited facilities and environmental pollution. This study aimed to analyze the tourism suitability, carrying capacity, and management strategy of coastal ecotourism on Tidung Island. The tourism suitability index (TSI) analysis showed that stations 1 and 2 scored 2,34 (suitable category), while station 3 scored 1,97 (unsuitable category), with 66,6% of the beach classified as suitable for ecotourism activities. The area carrying capacity (ACC) for beach recreation activities was 48 people per day. The SWOT analysis produced 13 alternative management strategies, with three main priorities as follows developing environmentally sustainable ecotourism, conserving natural resources through waste management and tourism activity monitoring, and gradually improving facilities and infrastructure.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180015">
<title>Estimasi Beban Pencemar Bahan Organik Benur Udang  Vaname (Litopenaeus vannamei) di Hatchery PT. Summa Benur, Situbondo.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180015</link>
<description>Estimasi Beban Pencemar Bahan Organik Benur Udang  Vaname (Litopenaeus vannamei) di Hatchery PT. Summa Benur, Situbondo.
Avhanti, Anneke Sri
Kualitas air merupakan faktor penting dalam keberhasilan pemeliharaan &#13;
benur udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada kegiatan hatchery. Penelitian &#13;
ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan dosis pakan terhadap &#13;
parameter kualitas air selama stadia Zoea-Mysis (ZM) hingga Post Larva 9 (PL-9). &#13;
Perlakuan terdiri atas A1, A2, A3, dan A4 sebagai perlakuan dosis pakan berbeda &#13;
serta A5 sebagai kontrol. Parameter yang diamati meliputi suhu, salinitas, pH, &#13;
dissolved oxygen (DO), Total organic matter (TOM), amonia, nitrit, nitrat, &#13;
alkalinitas, dan ortofosfat. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA). &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air masih berada pada kisaran optimal &#13;
untuk pemeliharaan benur udang vaname. Nilai TOM berkisar antara 35,05-51,68 &#13;
ppm, nitrit 0,29-0,33 mg/L, dan nitrat 0,068-0,077 mg/L. Hasil ANOVA &#13;
menunjukkan bahwa perbedaan dosis pakan berpengaruh terhadap beberapa &#13;
parameter kualitas air, terutama TOM, amonia, nitrit, dan nitrat. Peningkatan dosis &#13;
pakan cenderung meningkatkan akumulasi bahan organik dan senyawa nitrogen &#13;
pada media budidaya.; Water quality is an important factor in the successful rearing of Pacific white &#13;
shrimp (Litopenaeus vannamei) post-larvae in hatchery activities. This study aimed &#13;
to analyze the effect of different feeding doses on water quality parameters during &#13;
the Zoea-Mysis (ZM) to Post Larva 9 (PL-9) stages. The treatments consisted of A1, &#13;
A2, A3, and A4 as different feeding dose treatments, while A5 served as the control. &#13;
The observed parameters included temperature, salinity, pH, dissolved oxygen &#13;
(DO), Total organic matter (TOM), ammonia, nitrite, nitrate, alkalinity, and &#13;
orthopHospHate. Data was analyzed using analysis of variance (ANOVA). The &#13;
results showed that water quality parameters remained within the optimal range &#13;
for rearing Pacific white shrimp post-larvae. TOM values ranged from 35.05-51.68 &#13;
ppm, nitrite from 0.29-0.33 mg/L, and nitrate from 0.068-0.077 mg/L. ANOVA &#13;
results indicated that differences in feeding doses affected several water quality &#13;
parameters, particularly TOM, ammonia, nitrite, and nitrate. Higher feeding doses &#13;
tended to increase the accumulation of organic matter and nitrogen compounds in &#13;
the culture media.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179880">
<title>Struktur Komunitas Plankton Sebagai Dasar Pengelolaan Berkelanjutan Perairan Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179880</link>
<description>Struktur Komunitas Plankton Sebagai Dasar Pengelolaan Berkelanjutan Perairan Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Indonesia
Wibowo, Mohamad Farrel Reysava
Plankton merupakan komponen penting dalam ekosistem perairan yang berperan sebagai produsen primer dan indikator kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur komunitas plankton serta hubungan antara plankton dan kualitas air di perairan Pantai Indah Kapuk pada musim kemarau dan musim hujan. Pengambilan sampel plankton dan pengukuran parameter fisika-kimia perairan dilakukan pada beberapa stasiun pengamatan, kemudian dianalisis menggunakan indeks ekologi dan Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitoplankton didominasi Bacillariophyceae (61–81%), sedangkan zooplankton didominasi Maxillopoda (31–58%). Struktur komunitas plankton dipengaruhi oleh parameter nutrien, kekeruhan, suhu, salinitas, oksigen terlarut, dan pH. Komunitas plankton berpotensi digunakan sebagai indikator kondisi ekologis perairan Pantai Indah Kapuk.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
