<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/111">
<title>UF - Fisheries Resource Utilization</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/111</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179790"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179789"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178923"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178856"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-09-01T15:08:07Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179790">
<title>Estimasi Potensi Abandoned, Lost, and Discarded Fishing Gear pada Perikanan Jaring Rampus di Kali Adem, Muara Angke</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179790</link>
<description>Estimasi Potensi Abandoned, Lost, and Discarded Fishing Gear pada Perikanan Jaring Rampus di Kali Adem, Muara Angke
Moonica
Jaring rampus di Kali Adem, Muara Angke termasuk dalam jenis jaring &#13;
insang dan berpotensi mengalami ALDFG (Abandoned, Lost, and Discarded &#13;
Fishing Gear). Jaring yang mengalami ALDFG menjadi sampah di laut dan dapat &#13;
menimbulkan fenomena ghost fishing. Penelitian ini bertujuan mengestimasi &#13;
potensi ALDFG pada perikanan jaring rampus di Kali Adem serta mengidentifikasi&#13;
faktor penyebab dan upaya untuk meminimalisir dampak negatifnya. Data diambil &#13;
melalui survei kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian &#13;
menunjukkan estimasi potensi ALDFG sebanyak 52,80 piece (2.375,88 meter) dan &#13;
kerugian materi sebesar Rp34.582.236 dalam kurun waktu 1 tahun atau setara &#13;
dengan 5,28 piece (237,59 meter) dan kerugian materi sebesar Rp3.458.223 tiap &#13;
bulan. Penyebab ALDFG didominasi oleh tersangkutnya jaring di patok kerang, &#13;
faktor arus, dan kurangnya komunikasi dengan kapal lain. Upaya yang dapat &#13;
dilakukan untuk mengurangi ALDFG antara lain edukasi dampak negatif ALDFG, &#13;
penandaan alat tangkap, melaporkan ALDFG ke pihak pelabuhan, pengadaan &#13;
fasilitas pengumpulan jaring rusak dan pemberian insentif, serta meningkatkan &#13;
pengawasan di sekitar jalur keluar masuk kapal.; Rampus net at Kali Adem, Muara Angke is classified as gillnet and have the &#13;
potential to become ALDFG (Abandoned, Lost, and Discarded Fishing Gear). Nets &#13;
that became ALDFG are going to be marine litter and can cause a phenomenon &#13;
called ghost fishing. This research aims to estimate the ALDFG potential in gillnet &#13;
fishery at Kali Adem, also identifying its factors and ways to minimize the negative &#13;
effects. The data was collected through survey then analyzed with descriptive &#13;
analysis. The result shows that the estimated ALDFG potential is 52,80 piece &#13;
(2.375,88 meter) and Rp34.582.236 loss in a year or equivalent to 5,28 piece &#13;
(237,59 meter) and Rp3.458.223 loss in a month. The cause of ALDFG is &#13;
dominated by getting stuck with wooden structure of green mussels farming, &#13;
current factor, and lack of communication with other vessels. Efforts that can be &#13;
done to reduce ALDFG include education about negative effects of ALDFG, gear&#13;
marking, reporting ALDFG to the port authorities, create a collecting station for &#13;
damaged nets, and increase supervision around the vessel’s entry and exit route.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179789">
<title>Efektivitas Rumpon dalam Operasi Penangkapan Ikan Menggunakan Pancing Ulur di Palabuhanratu, Sukabumi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179789</link>
<description>Efektivitas Rumpon dalam Operasi Penangkapan Ikan Menggunakan Pancing Ulur di Palabuhanratu, Sukabumi
Hidayat, Wahyu
Rumpon merupakan alat bantu penangkapan ikan yang banyak digunakan nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas penangkapan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas rumpon sebagai daerah penangkapan ikan buatan, menganalisis komposisi hasil tangkapan ikan, dan mengevaluasi efektivitas penggunaannya. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2025 hingga Januari 2026 menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui observasi, wawancara, serta pengukuran hasil tangkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas rumpon dipengaruhi oleh aspek teknis, &#13;
operasional, dan hambatan. Kapal pengguna rumpon menghasilkan 79% dari total hasil tangkapan, sedangkan kapal tanpa rumpon hanya 21%. Spesies yang mendominasi hasil tangkapan adalah madidihang, tuna mata besar, cakalang, dan cumi-cumi. Meskipun mampu meningkatkan kuantitas hasil tangkapan, penggunaan rumpon menghasilkan proporsi ikan layak tangkap yang lebih rendah dibandingkan penangkapan tanpa rumpon, terutama pada madidihang dan tuna mata besar. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas rumpon tidak hanya diukur dari peningkatan hasil tangkapan, tetapi juga perlu mempertimbangkan kualitas hasil tangkapan untuk mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.; Fish Aggregating Devices (FADs) are widely used by fishers at Palabuhanratu National Fishing Port (PPN Palabuhanratu) to improve fishing efficiency and productivity. This study aimed to identify the factors affecting the effectiveness of FADs as artificial fishing grounds, analyse the composition of fish catches, and evaluate the effectiveness of FAD use in fishing operations. The study was conducted from December 2025 to January 2026 using quantitative and qualitative approaches through field observations, interviews, and catch &#13;
measurements. The results showed that the effectiveness of FADs was influenced by technical, operational, and constraint-related factors. Vessels using FADs contributed 79% of the total catch, while non-FAD vessels contributed only 21%. The dominant catch species were yellowfin tuna, bigeye tuna, skipjack tuna, and squid. Although FADs significantly increased the quantity of fish catches, they produced a lower proportion of legally catchable fish than non-FAD fishing, particularly for yellowfin tuna and bigeye tuna. These findings indicate that the effectiveness of FADs should be evaluated not only by catch quantity but also by catch quality to support sustainable fisheries management.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178923">
<title>Dinamika Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut Daerah Penangkapan Cumi-cumi di Perairan Sebelah Selatan Kepulauan Bangka</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178923</link>
<description>Dinamika Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut Daerah Penangkapan Cumi-cumi di Perairan Sebelah Selatan Kepulauan Bangka
Manik, Raja Kami Ginting
Perairan yang produktif untuk armada penangkapan cumi-cumi dapat diramalkan melalui kajian hubungan antara kelimpahan cumi-cumi dan kondisi lingkungan perairan, khususnya klorofil-a (KLO) dan suhu permukaan laut (SPL). Karakteristik lingkungan perairan berbeda pada setiap wilayah sehingga diperlukan informasi spesifik untuk perairan selatan Kepulauan Bangka. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan kondisi KLO dan SPL, serta (2) mengidentifikasi kondisi KLO dan SPLpada musim penangkapan cumi-cumi. Data citra bulanan KLO dan SPL periode Januari 2021–Desember 2025 diolah untuk memperoleh statistik bulanan, meliputi rata-rata, standar deviasi, dan jumlah data. Setiap statistik kemudian dinormalisasi menggunakan rata-rata dan standar deviasi bulanan selama lima tahun untuk menghasilkan indeks bulanan. Bulan dengan kondisi tinggi didefinisikan sebagai bulan yang memiliki nilai indeks = 0 dengan frekuensi = 4 kali selama lima tahun. Hubungan antara KLO dan SPLdianalisis melalui berbagai plot statistik dan indeks untuk mengidentifikasi pola keteraturannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ratarata SPL tinggi terjadi pada bulan Mei–Juni, sedangkan rata-rata KLO tinggi terjadi pada bulan Juli–Agustus. Pada bulan dimana cumi-cumi banyak ditangkap, yaitu April-Mei dan Oktober-November, SPL berkisar pada 29,3-29,5oC dan 28,6- 28,9 oC sedangkan KLO berkisar pada 0,42 – 0,45mg/m3 dan 0.45-0.47 mg/m3. Informasi ini dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan perairan yang produktif bagi armada penangkapan cumi-cumi di wilayah penelitian.; Productive squid fishing grounds can be predicted by examining the relationship between squid abundance and marine environmental conditions, particularly chlorophyll-a (Chl-a) and sea surface temperature (SST). Because environmental characteristics vary spatially, this study investigated the waters off south of the Bangka Islands. The objectives were (1) to describe the temporal patterns of Chl-a and SST and (2) to identify their characteristics during the reported squid fishing season. Monthly satellite-derived Chl-a and SST data from January 2021 to December 2025 were analyzed to calculate the mean, standard deviation, and the other eleven statistics of the Chlo-a and SST data. These statistics were normalized using five-year monthly means and standard deviations to generate monthly indices. High-condition months were defined when the index of = 0 occurred at least four times over the five-year period. The relationship between Chl-a and SST was explored using statistical and index plots. High SST was observed during May–June, whereas high Chl-a occurred during July– August. During peak seasons of squids, i.e., April-May and October-November, SST range was 29.3-29.5 oC and 28.6-28.9 oC respectively while the Chl-a range was 0.42 – 0.45mg/m3 dan 0.45-0.47 mg/m3. These findings provide a scientific basis for identifying productive squid fishing grounds in the study area.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178856">
<title>Analisis Kekuatan dan Ketahanan Perekat Limbah Styrofoam untuk Konstruksi Kapal</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178856</link>
<description>Analisis Kekuatan dan Ketahanan Perekat Limbah Styrofoam untuk Konstruksi Kapal
nasution, Silvia andini
Timbulan limbah styrofoam menjadi permasalahan lingkungan serius,&#13;
sementara informasi terkait pemanfaatanya sebagai bahan perekat konstruksi kapal,&#13;
serta kekuatan dan ketahananya terhadap air masih terbatas. Penelitian ini bertujuan&#13;
mendeskripsikan pemanfaatannya sebagai bahan perekat konstruksi kapal, serta&#13;
menganalisis kekuatan dan ketahanan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Alat&#13;
Penangkapan Ikan dan Laboratorium Material Departemen Pemanfaatan&#13;
Sumberdaya Perikanan, IPB University, Januari–Maret 2026. Metode yang&#13;
digunakan adalah observasi dan experimental laboratory. Styrofoam dilarutkan&#13;
dalam bensin dan aseton membentuk perekat, perekat diujicoba pada simulasi&#13;
sambungan kayu meranti. Kekuatan tarik dan geser diuji menggunakan UTM pada&#13;
tiga variasi arah serat kayu meranti, sedangkan ketahanan diuji kekedapan air laut&#13;
selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan perbandingan perekat campuran&#13;
styrofoam dengan bensin adalah 1:1,25 (1,6 gram styrofoam : 2,0 gram bensin) dan&#13;
campuran styrofoam dengan aseton 1:1,11 (1,8 gram styrofoam : 2,0 gram aseton).&#13;
Hasil kekuatan tarik tegak lurus serat perekat bensin 194,11 KgF dan perekat aseton&#13;
23,75 KgF. Tarik sejajar serat perekat bensin 103,59 KgF dan perekat aseton&#13;
136,12 KgF. Geser tegak lurus perekat bensin 51,94 KgF dan perekat aseton 41,14&#13;
KgF. Hasil uji kekedapan air, perekat bensin mampu menahan penetrasi air laut&#13;
selama 7 hari tanpa kebocoran dibandingkan perekat aseton.; Styrofoam waste generation is a serious environmental problem, while&#13;
information related to its use as an adhesive material for ship construction, as well&#13;
as its strength and resistance to water is still limited. This study aims to describe its&#13;
use as an adhesive material for ship construction, as well as to analyze its strength&#13;
and resistance. The study was conducted at the Fishing Gear Laboratory and&#13;
Materials Laboratory of the Department of Fisheries Resource Utilization, IPB&#13;
University, January–March 2026. The methods used were observation and&#13;
experimental laboratory. Styrofoam was dissolved in gasoline and acetone to form&#13;
an adhesive, the adhesive was tested on a simulation of meranti wood joints.&#13;
Tensile and shear strength were tested using UTM on three variations of meranti&#13;
wood grain directions, while durability was tested for seawater tightness for 7 days.&#13;
The results showed that the adhesive ratio of the styrofoam mixture with gasoline&#13;
was 1:1.25 (1.6 grams of styrofoam: 2.0 grams of gasoline) and the styrofoam&#13;
mixture with acetone was 1:1.11 (1.8 grams of styrofoam: 2.0 grams of acetone).&#13;
The results of the perpendicular tensile strength of the gasoline adhesive fiber are&#13;
194.11 KgF and the acetone adhesive is 23.75 KgF. The parallel tensile strength of&#13;
the gasoline adhesive fiber is 103.59 KgF and the acetone adhesive is 136.12 KgF.&#13;
The perpendicular shear strength of the gasoline adhesive is 51.94 KgF and the&#13;
acetone adhesive is 41.14 KgF. The results of the waterproofing test, the gasoline&#13;
adhesive is able to withstand seawater penetration for 7 days without leakage&#13;
compared to the acetone adhesive.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
