<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/109">
<title>UF - Animal Production Science and Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/109</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180199"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179784"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179771"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179251"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-10-29T22:17:06Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180199">
<title>Analisis Produksi Biogas Berbahan Dasar Campuran Feses Sapi dan Kuda</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180199</link>
<description>Analisis Produksi Biogas Berbahan Dasar Campuran Feses Sapi dan Kuda
Dedah, Alvin
Kebutuhan energi nasional meningkat namun ketersediaan energi fosil menurun. Biogas hadir sebagai salah satu sumber energi berkelanjutan dengan pemanfaatan kotoran ternak. Tujuan penelitian adalah menganalisis hasil produksi biogas dari campuran kotoran sapi dan kotoran kuda. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga level perlakuan dan tiga ulangan dengan kombinasi S100K0 (100% feses sapi perah dan 0% feses kuda), S80K20 (80% feses sapi perah dan 20% feses kuda), dan S60K40 (60% feses sapi perah dan 40% feses kuda ). Parameter yang diamati meliputi total solid (TS), volatil solid (VS), suhu, pH, volume biogas, dan uji nyala api. Nilai TS awal dan TS akhir setiap perlakuan berbeda nyata (P&lt;0,05). Hasil analisis memaparkan bahwa takaran S60K40 menghasilkan biogas yang signifikan lebih tinggi dibandingkan yang hanya berbahan dasar feses sapi, meskipun hanya relatif lebih tinggi dibanding dengan S80K20. Simpulan, kombinasi antara feses sapi dan kuda dalam proses produksi biogas sangat berpotensi meningkatkan volume gas dan nyala api, sehingga sangat disarankan untuk diterapkan pada pengelolaan limbah di peternakan sapi perah. Kata kunci: biogas, feses, friesian holstein, kuda, pengelolaan limbah; National energy demand is increasing, while the availability of fossil energy is declining. Biogas emerges as a sustainable energy source produced from livestock manure. The objective of this study was to analyze biogas production from a mixture of cow manure and horse manure. This study used a completely randomized design (CRD) with three treatment levels and three replications, with the combinations S100K0 (100% dairy cow feces and 0% horse feces), S80K20 (80% dairy cow feces and 20% horse feces), and S60K40 (60% cow dairy feces and 40% horse feces). The parameters observed were total solids (TS), volatile solids (VS), temperature, pH, biogas volume, and flame test. The initial and final TS values of each treatment differed significantly (P&lt;0.05). The analysis showed that the S60K40 formulation produced significantly more biogas than the formulation based solely on cow feces, although it was only slightly higher than S80K20. In conclusion, combining cow and horse feces in the biogas production process has great potential to increase gas volume and flame duration, making it highly recommended for application in waste management systems on dairy farms. Keywords: biogas, feces, friesian holstein, horse, waste management
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179784">
<title>Identification of BGN Gene Polymorphism and Its Association with Gastrointestinal Parasite Resistance in Sheep</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179784</link>
<description>Identification of BGN Gene Polymorphism and Its Association with Gastrointestinal Parasite Resistance in Sheep
Fadhilah, Muhammad Naufal
Nematode infection remains a problem in sheep production, compromising animal health and productivity while increasing reliance on anthelmintic treatments. Biglycan (BGN) is predicted to contribute to nematode resistance through by regulating immune and inflammatory responses. This study aimed to identify polymorphisms in the BGN gene at SNP g.77807325 (G &gt; C) and evaluate its association with nematode resistance traits in sheep. A total of 75 ewes were genotyped using PCR-RFLP with the HinfI restriction enzyme. Resistance traits, including fecal egg count (FEC), FAMACHA score, body weight, and body condition score (BCS) were analyzed using the t-test and Mann-Whitney test. The analysis revealed that the BGN gene was polymorphic, with two genotypes (GG and GC) identified at frequencies of 0,95 and 0,05, while the CC genotype was absent. The population was in Hardy–Weinberg equilibrium. The BGN genotype was significantly associated (P &lt; 0.05) with Strongyle FEC and BCS, with GC sheep showing lower egg counts and higher BCS than GG sheep. No significant associations were observed for FAMACHA score, body weight, or oocyst count. These findings suggest that BGN polymorphism may serve as a molecular marker to improve resistance to gastrointestinal nematodes in sheep breeding programs.; Infeksi nematoda masih menjadi kendala utama dalam produksi domba karena menurunkan kesehatan dan produktivitas ternak serta meningkatkan ketergantungan pada obat antelmintik. Gen Biglycan (BGN) diprediksi berperan dalam resistensi terhadap nematoda melalui regulasi respons imun dan inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi polimorfisme gen BGN pada SNP g.77807325 (G &gt; C) serta mengevaluasi asosiasinya dengan sifat resistensi terhadap nematoda pada domba. Sebanyak 75 ekor induk domba betina dianalisis genotipenya menggunakan metode PCR-RFLP dengan enzim restriksi HinfI. Fenotipe yang diamati meliputi jumlah telur cacing dan ookista dalam feses (FEC), skor FAMACHA, bobot badan, dan body condition score (BCS), yang dianalisis menggunakan uji t dan uji Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa gen BGN bersifat polimorfik dengan dua genotipe, yaitu GG dan GC, masing-masing berfrekuensi 0,95 dan 0,05, sedangkan genotipe CC tidak ditemukan. Populasi berada dalam keseimbangan Hardy–Weinberg. Genotipe BGN berasosiasi signifikan (P &lt; 0,05) dengan Strongyle FEC dan BCS, di mana individu bergenotipe GC memiliki jumlah telur cacing lebih rendah dan nilai BCS lebih tinggi dibandingkan GG. Tidak ditemukan asosiasi yang signifikan (P &gt; 0,05) terhadap skor FAMACHA, bobot badan, maupun jumlah ookista. Hasil ini menunjukkan bahwa polimorfisme gen BGN berpotensi menjadi penanda molekuler untuk meningkatkan resistensi terhadap nematoda gastrointestinal dalam program pemuliaan domba
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179771">
<title>Tingkah Laku  Puyuh yang Dipelihara Dalam Kandang dengan Sistem Kipas Otomatis</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179771</link>
<description>Tingkah Laku  Puyuh yang Dipelihara Dalam Kandang dengan Sistem Kipas Otomatis
Destriani, Anisa
Puyuh merupakan unggas yang sensitif terhadap perubahan lingkungan, &#13;
khususnya suhu dan kelembapan sehingga rentan mengalami cekaman panas yang &#13;
dapat mempengaruhi tingkah laku dan kenyamanannya. Penelitian ini bertujuan &#13;
menganalisis pengaruh penggunaan kipas otomatis berbasis internet of things (IoT) &#13;
terhadap mikroklimat kandang dan tingkah laku puyuh. Metode penelitian &#13;
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dua faktorial dengan faktor pertama &#13;
penggunaan kipas (tanpa kipas dan kipas otomatis) dan faktor kedua yaitu waktu &#13;
pengamatan (pagi, siang, dan sore). Pengamatan tingkah laku dilakukan &#13;
menggunakan metode scan sampling. Hasil menunjukkan adanya interaksi sangat &#13;
nyata pada tingkah laku panting. Penggunaan kipas berpengaruh nyata terhadap &#13;
tingkah laku makan, panting, dan istirahat, sedangkan waktu pengamatan &#13;
berpengaruh nyata terhadap tingkah laku makan, minum, bergerak, panting, dan &#13;
istirahat.; Quail are poultry species that are sensitive to environmental changes, particularly temperature and humidity, making them vulnerable to heat stress, which may affect their behavior and comfort. This study aimed to analyze the effect of an internet of things (IoT)-based automatic fan system on the cage microclimate and quail behavior. The research employed a two-factor factorial completely randomized design (CRD). The first factor was fan usage (without a fan and with an automatic fan), while the second factor was observation time (morning, afternoon, and evening). Behavioral observations were conducted using the scan sampling method. The results showed a highly significant interaction between fan usage and observation time on panting behavior. Fan usage significantly affected feeding, panting, and resting behaviors, whereas observation time significantly influenced feeding, drinking, locomotor, panting, and resting behaviors.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179251">
<title>Analisis Tingkah Laku Makan Kuda Lokal Jantan Dewasa yang Diisolasikan Selama 24 Jam</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179251</link>
<description>Analisis Tingkah Laku Makan Kuda Lokal Jantan Dewasa yang Diisolasikan Selama 24 Jam
Rakanarayi, Kayla Rahmi
Penerapan Sistem pemeliharaan intensif berpotensi memicu penyimpangan&#13;
perilaku alami kuda. Penelitian ini bertujuan menganalisis profil tingkah laku&#13;
makan normal dan stereotipik pada tiga ekor kuda lokal jantan dewasa. Pengamatan&#13;
dilakukan melalui focal animal sampling menggunakan kamera CCTV selama 6&#13;
jam (18.00–24.00 WIB) dan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan&#13;
aktivitas makan didominasi mastikasi (rerata 10.624 kali hari ekor?¹) dibandingkan&#13;
prehensi (rerata 1.184 kali hari ekor?¹) sebagai kompensasi pola pakan waktu&#13;
tunggal (single meal). Tidak terpenuhinya kesejahteraan dasar 3 Fs (Friends,&#13;
Forage, Freedom) menggeser time budget harian kuda menjadi perilaku eksitasi.&#13;
Hal ini bermanifestasi pada tingginya tingkah laku stereotipik lokomotor berupa&#13;
weaving (90 kejadian) dan box walking (88 kejadian), serta stereotipik oral crib&#13;
biting (74 kejadian). Kesimpulannya, manajemen kandang intensif memberikan&#13;
tekanan bio-psikologis yang menurunkan kesejahteraan ternak.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
