<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/109">
<title>UF - Animal Production Science and Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/109</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179784"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179771"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179251"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179188"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-21T03:13:48Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179784">
<title>Identification of BGN Gene Polymorphism and Its Association with Gastrointestinal Parasite Resistance in Sheep</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179784</link>
<description>Identification of BGN Gene Polymorphism and Its Association with Gastrointestinal Parasite Resistance in Sheep
FADHILAH, MUHAMMAD NAUFAL
Nematode infection remains a problem in sheep production, compromising animal health and productivity while increasing reliance on anthelmintic treatments. Biglycan (BGN) is predicted to contribute to nematode resistance through by regulating immune and inflammatory responses. This study aimed to identify polymorphisms in the BGN gene at SNP g.77807325 (G &gt; C) and evaluate its association with nematode resistance traits in sheep. A total of 75 ewes were genotyped using PCR-RFLP with the HinfI restriction enzyme. Resistance traits, including fecal egg count (FEC), FAMACHA score, body weight, and body condition score (BCS) were analyzed using the t-test and Mann-Whitney test. The analysis revealed that the BGN gene was polymorphic, with two genotypes (GG and GC) identified at frequencies of 0,95 and 0,05, while the CC genotype was absent. The population was in Hardy–Weinberg equilibrium. The BGN genotype was significantly associated (P &lt; 0.05) with Strongyle FEC and BCS, with GC sheep showing lower egg counts and higher BCS than GG sheep. No significant associations were observed for FAMACHA score, body weight, or oocyst count. These findings suggest that BGN polymorphism may serve as a molecular marker to improve resistance to gastrointestinal nematodes in sheep breeding programs.; Infeksi nematoda masih menjadi kendala utama dalam produksi domba karena menurunkan kesehatan dan produktivitas ternak serta meningkatkan ketergantungan pada obat antelmintik. Gen Biglycan (BGN) diprediksi berperan dalam resistensi terhadap nematoda melalui regulasi respons imun dan inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi polimorfisme gen BGN pada SNP g.77807325 (G &gt; C) serta mengevaluasi asosiasinya dengan sifat resistensi terhadap nematoda pada domba. Sebanyak 75 ekor induk domba betina dianalisis genotipenya menggunakan metode PCR-RFLP dengan enzim restriksi HinfI. Fenotipe yang diamati meliputi jumlah telur cacing dan ookista dalam feses (FEC), skor FAMACHA, bobot badan, dan body condition score (BCS), yang dianalisis menggunakan uji t dan uji Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa gen BGN bersifat polimorfik dengan dua genotipe, yaitu GG dan GC, masing-masing berfrekuensi 0,95 dan 0,05, sedangkan genotipe CC tidak ditemukan. Populasi berada dalam keseimbangan Hardy–Weinberg. Genotipe BGN berasosiasi signifikan (P &lt; 0,05) dengan Strongyle FEC dan BCS, di mana individu bergenotipe GC memiliki jumlah telur cacing lebih rendah dan nilai BCS lebih tinggi dibandingkan GG. Tidak ditemukan asosiasi yang signifikan (P &gt; 0,05) terhadap skor FAMACHA, bobot badan, maupun jumlah ookista. Hasil ini menunjukkan bahwa polimorfisme gen BGN berpotensi menjadi penanda molekuler untuk meningkatkan resistensi terhadap nematoda gastrointestinal dalam program pemuliaan domba
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179771">
<title>Tingkah Laku  Puyuh yang Dipelihara Dalam Kandang dengan Sistem Kipas Otomatis</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179771</link>
<description>Tingkah Laku  Puyuh yang Dipelihara Dalam Kandang dengan Sistem Kipas Otomatis
Destriani, Anisa
Puyuh merupakan unggas yang sensitif terhadap perubahan lingkungan, &#13;
khususnya suhu dan kelembapan sehingga rentan mengalami cekaman panas yang &#13;
dapat mempengaruhi tingkah laku dan kenyamanannya. Penelitian ini bertujuan &#13;
menganalisis pengaruh penggunaan kipas otomatis berbasis internet of things (IoT) &#13;
terhadap mikroklimat kandang dan tingkah laku puyuh. Metode penelitian &#13;
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dua faktorial dengan faktor pertama &#13;
penggunaan kipas (tanpa kipas dan kipas otomatis) dan faktor kedua yaitu waktu &#13;
pengamatan (pagi, siang, dan sore). Pengamatan tingkah laku dilakukan &#13;
menggunakan metode scan sampling. Hasil menunjukkan adanya interaksi sangat &#13;
nyata pada tingkah laku panting. Penggunaan kipas berpengaruh nyata terhadap &#13;
tingkah laku makan, panting, dan istirahat, sedangkan waktu pengamatan &#13;
berpengaruh nyata terhadap tingkah laku makan, minum, bergerak, panting, dan &#13;
istirahat.; Quail are poultry species that are sensitive to environmental changes, particularly temperature and humidity, making them vulnerable to heat stress, which may affect their behavior and comfort. This study aimed to analyze the effect of an internet of things (IoT)-based automatic fan system on the cage microclimate and quail behavior. The research employed a two-factor factorial completely randomized design (CRD). The first factor was fan usage (without a fan and with an automatic fan), while the second factor was observation time (morning, afternoon, and evening). Behavioral observations were conducted using the scan sampling method. The results showed a highly significant interaction between fan usage and observation time on panting behavior. Fan usage significantly affected feeding, panting, and resting behaviors, whereas observation time significantly influenced feeding, drinking, locomotor, panting, and resting behaviors.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179251">
<title>Analisis Tingkah Laku Makan Kuda Lokal Jantan Dewasa yang Diisolasikan Selama 24 Jam</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179251</link>
<description>Analisis Tingkah Laku Makan Kuda Lokal Jantan Dewasa yang Diisolasikan Selama 24 Jam
Rakanarayi, Kayla Rahmi
Penerapan Sistem pemeliharaan intensif berpotensi memicu penyimpangan&#13;
perilaku alami kuda. Penelitian ini bertujuan menganalisis profil tingkah laku&#13;
makan normal dan stereotipik pada tiga ekor kuda lokal jantan dewasa. Pengamatan&#13;
dilakukan melalui focal animal sampling menggunakan kamera CCTV selama 6&#13;
jam (18.00–24.00 WIB) dan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan&#13;
aktivitas makan didominasi mastikasi (rerata 10.624 kali hari ekor?¹) dibandingkan&#13;
prehensi (rerata 1.184 kali hari ekor?¹) sebagai kompensasi pola pakan waktu&#13;
tunggal (single meal). Tidak terpenuhinya kesejahteraan dasar 3 Fs (Friends,&#13;
Forage, Freedom) menggeser time budget harian kuda menjadi perilaku eksitasi.&#13;
Hal ini bermanifestasi pada tingginya tingkah laku stereotipik lokomotor berupa&#13;
weaving (90 kejadian) dan box walking (88 kejadian), serta stereotipik oral crib&#13;
biting (74 kejadian). Kesimpulannya, manajemen kandang intensif memberikan&#13;
tekanan bio-psikologis yang menurunkan kesejahteraan ternak.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179188">
<title>Skripsi a.n VALENT SANJAYA (D1401221019)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179188</link>
<description>Skripsi a.n VALENT SANJAYA (D1401221019)
SANJAYA, VALENT
Manajemen kebersihan memegang peran penting dalam produksi susu pada&#13;
peternakan rakyat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hubungan indeks&#13;
kebersihan sapi perah saat pemerahan dengan kualitas susu mentah di peternakan&#13;
rakyat Cibungbulang Bogor. Sejumlah 40 ekor sapi perah dievaluasi menggunakan&#13;
cow cleanliness assessment score card (ambing, kaki belakang, pinggul-paha atas),&#13;
dan pengujian kualitas susu mentah (kadar lemak, protein, laktosa, solid non fat,&#13;
density, dan total solid). Data dianalisis secara deskriptif dan uji korelasi rank&#13;
spearman. Hasil menunjukkan mayoritas ternak pada saat pemerahan dalam&#13;
kategori bebas dari kotoran dan kualitas susu memenuhi standar mutu susu mentah&#13;
nasional, kecuali kadar lemak. Uji korelasi menunjukkan semakin bersih kondisi&#13;
tubuh sapi maka kualitas susu mentah akan semakin baik terutama kebersihan pada&#13;
area kaki belakang. Simpulan, peternak memperhatikan kebersihan tubuh sapi saat&#13;
pemerahan dan kebersihan area kaki belakang menjadi faktor penentu kualitas susu&#13;
mentah, secara khusus parameter kadar lemak.; Hygiene management played a crucial role in milk production within&#13;
smallholder farming. This study aimed to identify the relationship between the dairy&#13;
cow cleanliness index during milking and the physicochemical quality of raw milk&#13;
at Cibungbulang Bogor. Forty dairy cows were evaluated using the cow cleanliness&#13;
assessment score card (udder, hind legs, hips-flanks), and raw milk quality (fat,&#13;
protein, lactose, solid non fat, density, and total solid). Data were analyzed&#13;
descriptively and spearman rank correlation test. The results showed that majority&#13;
of cattle during milking were free of dirt, and the physicochemical quality of milk&#13;
with quality of national standard was met, except fat content. Correlation test&#13;
showed a better raw milk quality is produced by cleaner cow body conditions,&#13;
mainly by the cleanliness of the lower hind leg area. In conclusion, farmers paid&#13;
attention to cow’s body cleanliness during milking, and the raw milk quality,&#13;
especially the fat content, is determined by the cleanliness of the lower hind leg&#13;
area.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
