<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/106">
<title>UF - Forestry Products</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/106</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179952"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179918"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179896"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179837"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-09-19T16:27:59Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179952">
<title>Identifikasi Spesies Rayap dan Intensitas Kerusakan Bangunan di Kelurahan Sekip Hilir, Indragiri Hulu, Riau.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179952</link>
<description>Identifikasi Spesies Rayap dan Intensitas Kerusakan Bangunan di Kelurahan Sekip Hilir, Indragiri Hulu, Riau.
SANJANI, IKRAM
Kelurahan Sekip Hilir, Indragiri Hulu, Riau, memiliki kondisi lingkungan yang mendukung aktivitas rayap, terutama adanya kebun kelapa sawit di sekitar permukiman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies rayap dan menganalisis intensitas kerusakan komponen kayu pada bangunan di Kelurahan Sekip Hilir. Kayu umpan dikubur selama tiga bulan, kemudian dianalisis persentase kerusakannya. Identifikasi rayap dilakukan secara morfologi menggunakan mikroskop digital. Hasil identifikasi menunjukkan terdapat dua genus rayap, yaitu Nasutitermes sp. dan Macrotermes sp., dengan sebaran yang tidak merata dan lebih banyak ditemukan pada wilayah yang berdekatan di perkebunan kelapa sawit. Suhu lingkungan selama penelitian berkisar antara 22,2–37,9 °C, sedangkan kelembapan berkisar antara 49,8–89,7%. Kondisi bangunan didominasi kategori baik (60%), diikuti kategori sedang (36,7%) dan rusak ringan (3,3%). Kerusakan bangunan didominasi oleh faktor abiotik sebesar 60,8%, diikuti faktor biotik sebesar 21,07% dan faktor mekanis sebesar 17,03%.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179918">
<title>EVALUASI METODE APLIKASI PENAMBAHAN NANO MAGNETIT (Fe3O4) PADA FINIR SUNGKAI DAN JATI</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179918</link>
<description>EVALUASI METODE APLIKASI PENAMBAHAN NANO MAGNETIT (Fe3O4) PADA FINIR SUNGKAI DAN JATI
Nurrahman, Muhamad Rifki
Finir kayu sungkai dan jati berpotensi dikembangkan sebagai material fungsional karena memiliki struktur berpori, ringan, dan mudah dimodifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengaplikasian nano magnetit (Fe3O4) terhadap sifat fisis finir kayu sungkai dan jati, perubahan warna, serta kemampuan mereduksi gelombang elektromagnetik. Nano magnetit (Fe3O4) diaplikasikan melalui metode impregnasi dan spray gun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaplikasian nano magnetit (Fe3O4) meningkatkan nilai weight percent gain, anti-swelling efficiency, dan kerapatan, serta menyebabkan perubahan warna dibandingkan kontrol. Metode impregnasi menghasilkan nilai anti-swelling efficiency, perubahan warna, dan reduksi gelombang elektromagnetik yang lebih tinggi dibandingkan metode spray gun. Sedangkan metode spray gun menghasilkan nilai leaching yang lebih tinggi. Pengaplikasian nano magnetit (Fe3O4) melalui metode impregnasi memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan metode spray gun dalam meningkatkan sifat fisis dan kemampuan mereduksi gelombang elektromagnetik pada finir kayu sungkai dan jati.; Sungkai and teak veneers have the potential to be developed as functional materials due to their porous, lightweight, and easily modified structures. This study aimed to analyze the effect of magnetite nanoparticles (Fe3O4) application on the physical properties of sungkai and teak veneers, color changes, and electromagnetic wave reduction capability. Fe3O4 nanoparticles were applied using impregnation and spray gun methods. The results showed that the application of magnetite nanoparticles Fe3O4 increased the weight percent gain, anti-swelling efficiency, and density, as well as caused color changes compared with the control samples. The impregnation method resulted in higher anti-swelling efficiency, color changes, and electromagnetic wave reduction capability compared with the spray gun method. Meanwhile, the spray gun method produced higher leaching values. The application of magnetite nanoparticles Fe3O4 through the impregnation method provided better performance than the spray gun method in improving the physical properties and electromagnetic wave reduction capability of sungkai and teak veneers.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179896">
<title>Performa Mekanis dan Akustik pada Panel Sandwich Bambu Ampel dengan Variasi Material Peredam Suara</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179896</link>
<description>Performa Mekanis dan Akustik pada Panel Sandwich Bambu Ampel dengan Variasi Material Peredam Suara
Putri, Miftah Aliyah Bilqis Arifin
Kebisingan pada ruang interior membutuhkan material yang mampu mereduksi suara sekaligus memiliki kekuatan yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh diameter bambu ampel dan variasi material peredam suara terhadap performa akustik dan mekanis panel sandwich. Panel terdiri dari plywood sebagai skin, buluh bambu berdiameter 5 dan 7 cm sebagai core, serta rockwool, glasswool, PE foam, dan styrofoam sebagai material pengisinya. Pengujian meliputi sound pressure level difference (D) menurut ISO 140-4:1998, serta MOE, MOR, dan IB berdasarkan ASTM C393-00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis material berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter. Rockwool menghasilkan performa akustik tertinggi dengan nilai rata-rata nilai D sebesar 9,62 dB, sedangkan styrofoam menghasilkan nilai MOE tertinggi sebesar 356,68 MPa dan MOR tertinggi sebesar 1,361 MPa. Panel kontrol menghasilkan nilai IB tertinggi sebesar 0,360 MPa. Diameter bambu tidak berpengaruh nyata terhadap D dan MOE, tetapi berpengaruh nyata terhadap MOR dan IB. Panel sandwich bambu ampel berpotensi dikembangkan sebagai material interior multifungsi.; Noise in interior spaces requires materials that can reduce sound transmission while maintaining adequate strength. This study aimed to analyze the effects of ampel bamboo diameter and sound-absorbing material type on the acoustic and mechanical performance of sandwich panels. The panels consisted of plywood as the skin, bamboo culm (5 and 7 cm diamenetrs) as the core, and rockwool, glasswool, PE foam, and styrofoam as filling materials. The tests included sound pressure level difference  (D) in accordance with ISO 140-4:1998, as well as MOE, MOR, and IB based on ASTM C393-00. The results showed that, the filling material type significantly affected all parameters. Rockwool produced the highest acoustic performance with D value of 9.62 dB, while styrofoam produced the highest MOE and MOR values of 356.68 MPa and 1.361 MPa, respectively. The control panel produced the highest IB value of 0.360 MPa. Bamboo diameter did not significantly affect D value  and MOE but significantly affected MOR and IB. Ampel bamboo sandwich panels have potential to be developed as multifunctional interior materials
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179837">
<title>Analisis Pengaruh Kadar Air terhadap Serangan Blue Stain pada Tiga Jenis Kayu Berwarna Terang</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179837</link>
<description>Analisis Pengaruh Kadar Air terhadap Serangan Blue Stain pada Tiga Jenis Kayu Berwarna Terang
Ridanli, Daffa Putra
Cendawan pewarna (blue stain) merupakan perusak kayu yang menurunkan nilai estetika, terutama pada kayu berwarna terang. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi kadar air terhadap intensitas dan kedalaman serangan blue stain pada kayu pinus (Pinus merkusii), karet (Hevea brasiliensis), dan gmelina (Gmelina arborea). Contoh uji berukuran 90 × 40 × 10 mm dikondisikan pada kadar air &gt;30%, 25–30%, 20–25%, 15–20%, 10–15%, dan &lt;10%, kemudian diumpankan selama satu bulan dalam container box dengan sumber kayu terserang blue stain. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan lima ulangan. Parameter meliputi kehilangan berat, perubahan kadar air, intensitas, dan kedalaman serangan. Interaksi kedua faktor berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter. Intensitas tertinggi pada kadar air &gt;30% terdapat pada karet (55%), pinus (41%), dan gmelina (28%), sedangkan kedalaman mencapai karet (76%), pinus (48%), dan gmelina (43%). Intensitas tidak ditemukan pada kadar air &lt;15%, sedangkan kedalaman tidak ditemukan pada kadar air &lt;25%. Kayu karet mengalami serangan blue stain tertinggi, diikuti pinus, dan gmelina terendah.; Blue stain fungi are wood-deteriorating organisms that reduce the aesthetic value of timber, particularly light-coloured wood. This study aimed to analyse the effect of varying moisture content on the intensity and depth of blue stain attack in pine (Pinus merkusii), rubber wood (Hevea brasiliensis), and gmelina (Gmelina arborea). Wood specimens measuring 90 × 40 × 10 mm were conditioned at six moisture-content levels: &gt;30%, 25–30%, 20–25%, 15–20%, 10–15%, and &lt;10%, and subsequently exposed for one month in a container box containing blue-stained wood as the inoculum source. The study employed a two-factor Completely Randomised Design with five replications. The parameters assessed included weight loss, changes in moisture content, and the intensity and depth of fungal attack. The interaction between wood species and moisture content significantly affected all parameters. At a moisture content above 30%, the highest attack intensity was recorded in rubberwood (55%), followed by pine (41%) and gmelina (28%). Similarly, the greatest attack depth was observed in rubberwood (76%), pine (48%), and gmelina (43%). Intensity was not detected at moisture contents below 15%, whereas depth was not detected at moisture contents below 25%. Rubber wood exhibited the highest level of attack, followed by pine, and gmelina showed the lowest attack.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
