<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/106">
<title>UF - Forestry Products</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/106</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179837"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179829"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179774"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179687"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-30T02:24:17Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179837">
<title>Analisis Pengaruh Kadar Air terhadap Serangan Blue Stain pada Tiga Jenis Kayu Berwarna Terang</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179837</link>
<description>Analisis Pengaruh Kadar Air terhadap Serangan Blue Stain pada Tiga Jenis Kayu Berwarna Terang
Ridanli, Daffa Putra
Cendawan pewarna (blue stain) merupakan perusak kayu yang menurunkan nilai estetika, terutama pada kayu berwarna terang. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi kadar air terhadap intensitas dan kedalaman serangan blue stain pada kayu pinus (Pinus merkusii), karet (Hevea brasiliensis), dan gmelina (Gmelina arborea). Contoh uji berukuran 90 × 40 × 10 mm dikondisikan pada kadar air &gt;30%, 25–30%, 20–25%, 15–20%, 10–15%, dan &lt;10%, kemudian diumpankan selama satu bulan dalam container box dengan sumber kayu terserang blue stain. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan lima ulangan. Parameter meliputi kehilangan berat, perubahan kadar air, intensitas, dan kedalaman serangan. Interaksi kedua faktor berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter. Intensitas tertinggi pada kadar air &gt;30% terdapat pada karet (55%), pinus (41%), dan gmelina (28%), sedangkan kedalaman mencapai karet (76%), pinus (48%), dan gmelina (43%). Intensitas tidak ditemukan pada kadar air &lt;15%, sedangkan kedalaman tidak ditemukan pada kadar air &lt;25%. Kayu karet mengalami serangan blue stain tertinggi, diikuti pinus, dan gmelina terendah.; Blue stain fungi are wood-deteriorating organisms that reduce the aesthetic value of timber, particularly light-coloured wood. This study aimed to analyse the effect of varying moisture content on the intensity and depth of blue stain attack in pine (Pinus merkusii), rubber wood (Hevea brasiliensis), and gmelina (Gmelina arborea). Wood specimens measuring 90 × 40 × 10 mm were conditioned at six moisture-content levels: &gt;30%, 25–30%, 20–25%, 15–20%, 10–15%, and &lt;10%, and subsequently exposed for one month in a container box containing blue-stained wood as the inoculum source. The study employed a two-factor Completely Randomised Design with five replications. The parameters assessed included weight loss, changes in moisture content, and the intensity and depth of fungal attack. The interaction between wood species and moisture content significantly affected all parameters. At a moisture content above 30%, the highest attack intensity was recorded in rubberwood (55%), followed by pine (41%) and gmelina (28%). Similarly, the greatest attack depth was observed in rubberwood (76%), pine (48%), and gmelina (43%). Intensity was not detected at moisture contents below 15%, whereas depth was not detected at moisture contents below 25%. Rubber wood exhibited the highest level of attack, followed by pine, and gmelina showed the lowest attack.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179829">
<title>Daya Saing Ekspor Bambu Indonesisa dan Produk Turunannya di Pasar Global Periode 2018-2024</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179829</link>
<description>Daya Saing Ekspor Bambu Indonesisa dan Produk Turunannya di Pasar Global Periode 2018-2024
YUWONO, NATHANAEL KEVIN MAHESWARA
Bambu merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu unggulan Indonesia, namun kekayaan sumber daya bambu belum sepenuhnya diikuti oleh daya saing ekspor yang kuat pada seluruh kelompok produknya. Penelitian ini bertujuan menganalisis keunggulan komparatif dan kompetitif, faktor penentu, serta strategi pengembangan daya saing ekspor bambu dan produk turunannya Indonesia di pasar internasional periode 2018-2024. Data yang digunakan merupakan data sekunder time series tahunan pada enam kode HS produk bambu yang bersumber dari Trade Map, dianalisis menggunakan Revealed Comparative Advantage (RCA), Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP), dan Constant Market Share (CMS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keunggulan komparatif dan kompetitif produk bambu Indonesia terkonsentrasi pada produk anyaman dan barang bentuk sederhana (HS 460192 dan HS 460211), sementara produk bernilai tambah tinggi seperti kursi dan furnitur (HS 940152 dan HS 940382) menunjukkan pelemahan daya saing dari waktu ke waktu. Hasil dekomposisi CMS menunjukkan bahwa penurunan nilai ekspor bambu Indonesia terutama disebabkan oleh efek daya saing yang bernilai negatif hampir di seluruh negara tujuan dan kelompok komoditas, bukan oleh melemahnya permintaan pasar dunia. Faktor penentu daya saing mencakup ketersediaan sumber daya alam, kelembagaan dan sertifikasi, kemampuan inovasi nilai tambah, serta daya saing pada tingkat makro. Strategi pengembangan yang disarankan meliputi penguatan hilirisasi dan diversifikasi produk, penguatan kelembagaan dan akses pembiayaan, serta peningkatan daya saing pada tingkat makro.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179774">
<title>Analisis Karakteristik Aerogel dari Kayu Balsa (Ochroma bicolor) dan Sengon (Falcataria falcata) dengan Variasi Jenis Ionic Liquid</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179774</link>
<description>Analisis Karakteristik Aerogel dari Kayu Balsa (Ochroma bicolor) dan Sengon (Falcataria falcata) dengan Variasi Jenis Ionic Liquid
Turnip, Ribka Febrianty
Pemanasan global akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca mendorong pengembangan adsorben karbon yang bermutu tinggi. Salah satunya terbuat dari kayu. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik aerogel dari kayu balsa (Ochroma bicolor) dan sengon (Falcataria falcata) yang dimodifikasi menggunakan dua jenis cairan ionik, yaitu 1-etil-3-metilimidazolium asetat (EmimAc) dan 1-butil-metilimidazolium klorida (BmimCl). Proses pembuatan aerogel diawali dengan mendelignifikasi kayu secara bertingkat menggunakan NaOH/Na2SO3 dan H2O2, lalu melarutkan komponen dinding sel kayu dalam DMAc/LiCl dan dimodifikasi dengan cairan ionik, terus dibekukan dan difreeze-drying. Karakterisasi aerogel meliputi perubahan berat, kerapatan, penyusutan, warna, dan struktur anatomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan berpengaruh nyata terhadap sifat fisis dan morfologi sampel. Modifikasi menggunakan BmimCl menghasilkan aerogel kayu dengan kerapatan, penyusutan, dan ukuran pori yang lebih tinggi dibandingkan EmimAc. Kayu balsa menunjukkan respon modifikasi yang lebih baik dibandingkan kayu sengon.; Global warming due to increased green-house gas emissions is driving the development of high-quality carbon adsorbents. One of them is made from wood. This study aimed to analyze the characteristics of wood aerogels made from balsa (Ochroma bicolor) and sengon (Falcataria falcata) modified with two ionic liquids, specifically 1-ethyl-3-methylimidazolium acetate (EmimAc) and 1-butyl-3-methylimidazolium chloride (BmimCl). The aerogel fabrication process begins with sequentially delignification process using NaOH/Na2SO3 and H2O2, then dissolving the wood cell wall components in DMAc/LiCl and modifying them with ionic liquid, followed by freezing and freeze-drying. Aerogels characterization includes changes in weight, density, shrinkage, color, and anatomical structure. The results indicate that all treatments have a significant effect on the physical properties and morphology of the samples. Modification using BmimCl resulted in wood aerogel with higher density, shrinkage, and pore size compared to EmimAc. Balsa wood exhibited a better modification response than sengon wood.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179687">
<title>Karakteristik Bambu Betung (Dendrocalamus asper) dan Bambu Tali (Gigantochloa apus) Terpadatkan Berbasis Panas</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179687</link>
<description>Karakteristik Bambu Betung (Dendrocalamus asper) dan Bambu Tali (Gigantochloa apus) Terpadatkan Berbasis Panas
Lyandra, Vania Kesyara Putri
Bambu merupakan bahan alami yang berpotensi sebagai pengganti kayu. Batangnya bulat, berongga dan berbuku dengan ukuran yang tidak seragam telah membatasi pemanfaatannya. Teknologi flattened bamboo melalui pelunakan menggunakan uap jenuh (steam) dan pemadatan dengan hot press diterapkan untuk meningkatkan kualitas bambu. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh suhu pemadatan (170 dan 180 °C) serta ketebalan bambu (0,50, 0,60 dan 0,70 cm) terhadap karakteristik papan rata yang dihasilkan. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu betung dan bambu tali. Pengujian meliputi sifat fisik, mekanis, perubahan warna, dan struktur anatomi. Perlakuan pemadatan meningkatkan kualitas bambu dibandingkan kontrol dan steam. Perlakuan 170 °C menghasilkan kerapatan tertinggi (1,05 g/cm³), penyerapan air terendah (11,65%), serta nilai MOE dan MOR sebesar 292.000 kgf/cm² dan 2.300 kgf/cm². Perlakuan 180 °C menghasilkan kadar air dan pengembangan tebal yang paling rendah. Pemadatan juga menggelapkan warna dan memadatkan struktur anatomi batang bambu. Secara keseluruhan, pemadatan berbasis panas berpotensi meningkatkan kualitas bambu sebagai bahan baku produk rekayasa.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
