<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/105">
<title>UF - Conservation of Forest and Ecotourism</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/105</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179859"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179854"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179827"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179636"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-09-01T15:08:21Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179859">
<title>Valuasi Ekonomi Rangkong Badak (Buceros rhinoceros, Linnaeus 1758)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179859</link>
<description>Valuasi Ekonomi Rangkong Badak (Buceros rhinoceros, Linnaeus 1758)
Ilhandi, Moch Gibran
Rangkong badak (Buceros rhinoceros) merupakan spesies burung dari famili Bucerotidae yang populasinya mengalami penurunan akibat perburuan dan perdagangan ilegal. Upaya penegakan hukum terhadap kejahatan tersebut masih menghadapi berbagai kendala, salah satunya adalah kesulitan bagi aparat penegak hukum dalam menentukan besaran sanksi dan nominal denda yang efektif dalam memberikan efek jera kepada pelaku. Penelitian ini bertujuan untuk menduga nilai&#13;
ekonomi rangkong badak melalui metode biaya pemeliharaan, harga pasar, valuasi kontingensi serta menganalisis hubungan karakteristik responden dengan willingness to pay (WTP), kemudian membandingkan ketiga metode tersebut. Nilai ekonomi dengan menggunakan metode harga pasar menghasilkan nilai sebesar Rp6.906.332/ekor, metode valuasi kontingensi sebesar Rp7.999.000/ekor, dan metode biaya pemeliharaan menghasilkan nilai sebesar Rp8.410.394/ekor yang menghasilkan nilai ekonomi tertinggi karena memperhitungkan keseluruhan kebutuhan pemeliharaan dan pengelolaan satwa di lembaga konservasi. Meskipun demikian, ditinjau dari aspek efektivitas dalam pengambilan dan pengolahan data,&#13;
metode harga pasar cenderung lebih praktis dan paling efisien dari segi biaya yang dikeluarkan.&#13;
Kata kunci: perdagangan ilegal, rangkong badak, valuasi ekonomi
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179854">
<title>Potensi Tumbuhan Aromatik di Resor Pasir Hantap, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179854</link>
<description>Potensi Tumbuhan Aromatik di Resor Pasir Hantap, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat
FAISHAL, MUHAMMAD FACHRY DISA AL
Tumbuhan aromatik merupakan sumber daya hayati yang memiliki nilai ekologi, ekonomi, dan sosial budaya, namun informasi mengenai tumbuhan aromatik di Resor Pasir Hantap, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), masih terbatas sehingga penelitian ini perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keanekaragaman jenis tumbuhan aromatik dan mendokumentasikan pemanfaatannya oleh masyarakat sekitar kawasan. Data dikumpulkan melalui metode jalur berpetak menggunakan 30 plot berukuran 20 × 20 m pada zona rehabilitasi, rimba, dan inti, serta wawancara terhadap 31 responden dengan metode snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 45 jenis tumbuhan aromatik dari 26 famili, dengan Zingiberaceae sebagai famili terbanyak. Sebanyak 26 jenis dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama bagian daun sebagai bumbu masak yang umumnya diperoleh melalui budidaya. Perbedaan antara jenis yang ditemukan dan dimanfaatkan menunjukkan perlunya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai potensi tumbuhan aromatik di Resor Pasir Hantap.; Aromatic plants are biological resources with significant ecological, economic, and socio-cultural values. However, limited information on aromatic plants in Pasir Hantap Resort, Gunung Gede Pangrango National Park (TNGGP), highlights the need for further study. This study aimed to identify the diversity of aromatic plant species and document their utilization by local communities. Data were collected using a line-plot sampling method with 30 plots (20 × 20 m) established across the rehabilitation, wilderness, and core zones, complemented by interviews with 31 respondents selected through snowball sampling. The study recorded 45 aromatic plant species belonging to 26 families, with Zingiberaceae being the most represented family. Local communities utilized 26 aromatic plant species, with leaves being the most frequently used plant part, primarily as culinary spices obtained through cultivation. The discrepancy between the number of species recorded and those utilized suggests a need to enhance community knowledge regarding the potential uses of aromatic plants in Pasir Hantap Resort.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179827">
<title>Kinerja Pengelolaan Taman Nasional Karimunjawa Berdasarkan &amp; Prinsip Kelestarian Sosial Budaya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179827</link>
<description>Kinerja Pengelolaan Taman Nasional Karimunjawa Berdasarkan &amp; Prinsip Kelestarian Sosial Budaya
Risyanti, Ria
Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) merupakan kawasan konservasi yang dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan sosial, budaya, dan ekonomi sehingga memerlukan pengelolaan yang menyeimbangkan tujuan konservasi dengan kepentingan masyarakat. Penelitian ini bertujuan menilai kinerja pengelolaan TNKJ berdasarkan prinsip kelestarian sosial budaya serta menyusun rekomendasi perbaikannya. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi lapang, dan studi dokumen. Penilaian dilakukan dengan membandingkan Nilai Indikator Aktual (NIA) dan Nilai Baku Minimum (NBM) berdasarkan Standar Kinerja Pengelolaan Taman Nasional (2004). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan TNKJ telah memenuhi standar dengan total bobot NIA sebesar 0,1177, lebih tinggi daripada NBM sebesar 0,1067. Namun, sistem manajemen kolaboratif dengan masyarakat lokal dan sistem informasi sumber daya alam untuk mendukung pendidikan serta penelitian masih belum memenuhi standar. Penguatan pengelolaan kolaboratif, pengembangan sistem informasi sumber daya alam, dan penyempurnaan standar penilaian kinerja diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan TNKJ.; Karimunjawa National Park (KNP) is a conservation area utilized by local communities for social, cultural, and economic activities, requiring management that balances conservation objectives with community interests. This study evaluated the management performance of KNP based on the principle of socio-cultural sustainability and formulated recommendations for improvement. Data were collected through interviews, field observations, and document reviews. Performance was assessed by comparing the Actual Indicator Value (AIV) and the Minimum Standard Value (MSV) using the National Park Management Performance Standards (2004). The results showed that KNP management met the required standard, with a total weighted AIV of 0,1177, exceeding the weighted MSV of 0,1067. However, collaborative management with local communities and natural resource information systems supporting education and research remained below the minimum standard. Strengthening collaborative management, improving natural resource information systems, and refining performance assessment standards are recommended to enhance KNP management effectiveness.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179636">
<title>Pemanfaatan Tumbuhan Obat Masyarakat Desa Leuweung Kolot, Kecamatan Cibungbulang, Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179636</link>
<description>Pemanfaatan Tumbuhan Obat Masyarakat Desa Leuweung Kolot, Kecamatan Cibungbulang, Bogor
Kareva, Muhammad Zaid Imam
Masyarakat Desa Leuweung Kolot menjadi fokus dalam penelitian ini mengingat kemungkinan potensi etnobotani tumbuhan obat yang ada di sekitar desa. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman spesies tumbuhan obat dan khasiatnya yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Leuweung Kolot serta mengidentifikasi bagian tumbuhan yang dimanfaatkan dan cara pengolahannya. Kegiatan penelitian dilaksanakan dengan metode wawancara, observasi lapangan, dan studi literatur untuk pengambilan data. Analisis data menggunakan karakteristik responden, karakteristik tumbuhan obat, pembagian tumbuhan obat berdasarkan khasiat, dan Indeks Etnobotani. Hasil wawancara terhadap 34 orang responden menunjukkan bahwa sebanyak 48 spesies tumbuhan obat dari 28 famili telah dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa Leuweung Kolot sebagai bahan obat tradisional. Famili yang dominan yaitu famili Zingiberaceae dan Fabaceae, daun menjadi bagian tumbuhan paling banyak dimanfaatkan, habitus terbanyak yaitu herba, dan pemanfaatan paling banyak digunakan untuk kesehatan pencernaan. Cara pengolahan terbanyak yaitu dengan cara diseduh, dan cara penggunaan terbanyak yaitu dengan cara diminum.; The community of Leuweung Kolot Village is the focus of this study, given the potential for medicinal plant ethnobotany in the area surrounding the village. The study aims to identify the diversity of medicinal plant species and their therapeutic properties utilized by the Leuweung Kolot community, as well as to identify the plant parts used and the methods of preparation. Data collection was conducted through interviews, field observations, and a literature review. Data analysis involved examining respondent characteristics, medicinal plant characteristics, the classification of plants based on therapeutic properties, and the Ethnobotanical Index. Interviews with 34 respondents revealed that the community in Leuweung Kolot Village utilizes 48 medicinal plant species from 28 families for traditional medicine. The dominant families were Zingiberaceae and Fabaceae; leaves were the most frequently utilized plant part; herbaceous plants were the most common growth habit; and the plants were most often used for digestive health. The most common preparation method was steeping, and the most common method of administration was drinking.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
