<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/101">
<title>UF - Agroindustrial Technology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/101</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174907"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172016"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171847"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171823"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-21T20:13:49Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174907">
<title>Perancangann Sistem IoT Monitoring Energi Idle untuk Mendukung Peningkatan Efisiensi pada Lini Pengemasan Tepung Terigu</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174907</link>
<description>Perancangann Sistem IoT Monitoring Energi Idle untuk Mendukung Peningkatan Efisiensi pada Lini Pengemasan Tepung Terigu
Wati, Euis Trisna
Sektor industri, khususnya lini pengemasan tepung terigu, menghadapi tantangan efisiensi listrik saat terjadi downtime operasional. Pemborosan energi sering muncul ketika mesin dibiarkan dalam kondisi idle pada durasi lama. Penelitian ini merancang sebuah perangkat monitoring sistem energi otomatis berbasis teknologi Internet of Things (IoT) yang mampu melakukan analisis konsumsi energi secara real-time. Sistem dikembangkan menggunakan mikrokontroler ESP32 melalui skema Hardware-in-the-Loop (HIL) Simulation untuk merepresentasikan variabel arus listrik dan durasi idle. Logika utama sistem membandingkan akumulasi energi terbuang dengan kebutuhan operasional normal. Data dikirimkan ke cloud database untuk divisualisasikan melalui dashboard interaktif. Hasil pengujian membuktikan sistem mampu memberikan rekomendasi melalui alarm peringatan jika energi downtime melampaui ambang batas. Implementasi ini mendukung upaya konservasi energi dengan meminimalisir penggunaan listrik tidak produktif, sekaligus menjadi instrumen pendukung keputusan manajemen industri dalam mengoptimalkan efisiensi lini pengemasan.; The industrial sector, particularly the wheat flour packaging line, faces electricity efficiency challenges during operational downtime. Energy waste often occurs when machines are left idle for extended periods. This study designs an automated energy monitoring system device based on Internet of Things (IoT) technology capable of analyzing energy consumption in real time. The system was developed using an ESP32 microcontroller through a Hardware-in-the-Loop (HIL) Simulation scheme to represent electrical current and idle duration variables. The system's main logic compares accumulated wasted energy with normal operational needs. Data is sent to a cloud database for visualization through an interactive dashboard. Test results prove the system is capable of providing recommendations through warning alarms if downtime energy exceeds a threshold. This implementation supports energy conservation efforts by minimizing unproductive electricity use, while also serving as a decision-making instrument for industrial management in optimizing packaging line efficiency.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172016">
<title>Pengaruh Aerasi dan Agitasi pada Proses Produksi Enzim Inulinase Kasar dari Aspergillus niger</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172016</link>
<description>Pengaruh Aerasi dan Agitasi pada Proses Produksi Enzim Inulinase Kasar dari Aspergillus niger
Setiawan S, Alim
Enzim inulinase mcrupakan salah satu enzim yang dapat digunakan untuk&#13;
hidrolisis dalam proses produksi sirup fruktosa. Enzim ini memotong satuan&#13;
fruktosa dari inulin pada posisi terminal P-2, 1 polifruktosa. Hidrolisis enzimatis&#13;
pada inulin ini dapat terjadi oleh aksi tunggal exoinulinase (EC 3.2.2.80; P-Dfructan-&#13;
fructohydrolase) atau aksi bersama antara exoinulinase dengan&#13;
endoinulinasc (EC 3.2.1.7; 2,1 P-D-fructo-fructohydrolase) (Byun dan Nahm,&#13;
1978; Vandamme dan Derycke, 1983; Kim et al., 1997; Park et al., 1999).&#13;
Hidrolisis enzimatis terscbut membcrikan banyak kountungan seperti pemotongan&#13;
ikatan inulin yang spesifik, wama produk yang lebih baik, dan kccilnya&#13;
kcmungkinan tcrbcntuknya difruktosa anhidrid (Sulistyo, 1992). Meskipun&#13;
dcmikian, hidrolisis cnzimatis masih sedikit digunakan dalam industri sirup&#13;
fruktosa, mcngingat enzim inulinase masih harus di impor.&#13;
Aspergillus niger merupakan salah satu mikroorganisme pcnghasil cnzim&#13;
inulinase. Untuk produksi enzim inulinase ini, Aspergilbs niger dikultivasi pada&#13;
suhu 37°C selama 84 jam dalam fermentor Biostat-M 2 liter dengan volume kerja&#13;
1200 ml medium. Komposisi medium ini adalah substrat in:ilin 5% (w/v),&#13;
(NH4)2SO4 1.0% (w/v), larutan garam 5% (v/v), MgSO4 2.25 M 0.5 % (v/v), trace&#13;
element 0.1 % (v/v), dan suspensi kapang Aspergillus niger dalam 100 ml media&#13;
propagasi. Kandungan pada larutan garam adalah NaNO3, KCI, K2SO4, sedangkan&#13;
trace element mengandung ZnSO4, asam borat, Fe2(SO4)2, CoCfi, CuSO4,&#13;
ammonium molibdate, dan EDTA (disodium salt) dengan konsentrasi terlarutnya&#13;
masing-masing.&#13;
Dalan1 setiap proses kultivasi aerobik, aerasi dan agitasi merupakan faktor&#13;
yang sangat penting. Fungsi utamanya adalah untuk mensuplai kebutuhan oksigen&#13;
bagi aktifitas metabolik mikroorganisme, selain juga untuk mengaduk&#13;
mikroorganisme agar dapat tersuspensi secar.1 homogen dan merata (Gumbira&#13;
Sa'id, 1987). Perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini adalah dengan&#13;
rnemvariasikan aerasi dan agitasi pada proses kultivasi. Faktor perlakuan untuk&#13;
agitasi adalah 400 rpm dan 600 rpm, sedangkan faktor perlakuan aerasi adalah 0.5&#13;
vvm, 1.0 vvm dan 1.5 vvm. Kedua faktor perlakuan tersebut kemudian&#13;
dikombinasikan, sehingga didapat 6 jenis perlakuan. Pada tiap perlakuan,&#13;
pengamtilan sampel dilakukan tiap 12 jam sekali untuk mengukur nilai pH, kadar&#13;
biomassa, serta nilai aktifitas enzimnya.&#13;
Pada analisis nilai aktifitas enzim, dapat diketahui bahwa kombinasi&#13;
perlakuan agitasi 600 rpm dan aerasi 1.0 vvm merupakan perlakuan yang relatif&#13;
lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya. Nilai aktifitas enzimnya pada jam ke-&#13;
84 adalah 6,85 U-enzim/ml. Hasil perhitungan rendemen produk terhadap kadar&#13;
biomassa (Y pix) dan laju pertumbuhan spesifik (μ), sebagai parameter utama&#13;
pcnelitian, juga membuktikan hal yang sama. Nilai Y p/x dan μ untuk perlakuan&#13;
terse but masing-masing adalah sebesar 1.0156 U-enzim mr1 /g biomassa dan&#13;
0,0114 jam·1&#13;
Sementara itu, pada hasil rancangan percobaan pada sclang&#13;
kcpercayaan 99% dan dilanjutkan dengan uji Duncan, menunjukkan bahwa&#13;
pcrlakuan aerasi sangat berpcngaruh terhadap jalannya proses ferrnentasi.
</description>
<dc:date>2005-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171847">
<title>Analisis Teknis Dan Teknologis Dalam Perancangan Agroindustri Berbasis Kaliks Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Di UGTechnopark</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171847</link>
<description>Analisis Teknis Dan Teknologis Dalam Perancangan Agroindustri Berbasis Kaliks Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Di UGTechnopark
Taqiyuddin, Muhammad Ihsa
Dominasi pewarna sintetis dalam industri pangan menimbulkan risiko&#13;
kesehatan sehingga diperlukan alternatif alami yang aman dan berkelanjutan.&#13;
Kaliks rosella (Hibiscus sabdariffa L.) mengandung antosianin yang berpotensi&#13;
sebagai pewarna alami sekaligus antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk&#13;
menganalisis aspek teknis dan teknologis perancangan agroindustri pewarna alami&#13;
pangan dengan penerapan flexible manufacturing di UG Technopark. Metode&#13;
meliputi ekstraksi bahan baku segar dan kering dengan variasi rasio pelarut, analisis&#13;
matriks keputusan, dan perancangan teknis mencakup kapasitas, fasilitas, konsumsi&#13;
energi, tata letak, dan harga pokok produksi. Hasil terbaik pada tahapan eksperimen&#13;
diperoleh dari kaliks kering dengan rasio pelarut 1:15 menghasilkan rendemen&#13;
45,80% bk dan kadar air 93,08%. Penerapan flexible manufacturing meningkatkan&#13;
efisiensi proses dan membuka peluang diversifikasi produk pertanian milik UG&#13;
Technopark. Penelitian ini menghasilkan perancangan dasar agroindustri pewarna&#13;
alami pangan berbasis kaliks rosella dalam bentuk konsentrat yang adaptif, efisien,&#13;
dan mendukung hilirisasi komoditas pertanian berkelanjutan.; The dominance of synthetic dyes in the food industry poses health risks,&#13;
necessitating safe and sustainable natural alternatives. Roselle (Hibiscus sabdariffa&#13;
L.) contains anthocyanins that have potential as natural dyes and antioxidants. This&#13;
study aims to analyze the technical and technological aspects of designing a natural&#13;
food dye agroindustry with the application of flexible manufacturing at UG&#13;
Technopark. The methods included the extraction of fresh and dried raw materials&#13;
with varying solvent ratios, decision matrix analysis, and technical design covering&#13;
capacity, facilities, energy consumption, layout, and cost of production. The best&#13;
results in the experimental stage were obtained from dried calyxes with a solvent&#13;
ratio of 1:15, yielding 45.80% db, and a moisture content of 93.08%. The&#13;
application of flexible manufacturing improves process efficiency and opens up&#13;
opportunities for diversifying UG Technopark's agricultural products. This research&#13;
produced a basic design for a natural food coloring agroindustry based on rosella&#13;
calyx in the form of a concentrate that is adaptive, efficient, and supports the&#13;
downstreaming of sustainable agricultural commodities.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171823">
<title>Pengembangan Produk Snack Bite Dengan Bahan Dasar Biji Rosella di UG Technopark</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171823</link>
<description>Pengembangan Produk Snack Bite Dengan Bahan Dasar Biji Rosella di UG Technopark
Kacaribu, Andrew Raphael
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pangan sehat serta belum optimalnya pemanfaatan biji rosella sebagai hasil samping produksi rosella di UG Technopark menjadi latar belakang pengembangan produk snack bite berbasis biji rosella sebagai alternatif diversifikasi pangan bernilai tambah. Penelitian ini bertujuan mengembangkan formulasi snack bite berbasis biji rosella, menentukan formulasi terbaik melalui uji hedonik, serta menganalisis kandungan gizinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji rosella memiliki potensi tinggi sebagai bahan pangan fungsional dengan kandungan protein 32,48%, serat 30,07%, dan energi 321,1 kkal/100 g. Uji hedonik menghasilkan formulasi terbaik pada formulasi keempat yang mengkombinasikan biji rosella, biji bunga matahari, biji labu, rice crispy, virgin coconut oil, dan gula merah. Analisis gizi terhadap formulasi terbaik menunjukkan kandungan lemak 8,73 g/100 g, protein 8,37 g/100 g, karbohidrat 57,14 g/100 g, gula 51,43 g/100 g, dan energi 317,77 kkal/100 g. Hasil penelitian ini adalah pembuktian bahwa biji rosella yang sebelumnya dianggap limbah dapat dijadikan bahan dasar camilan fungsional dengan karakteristik sensori yang dapat diterima dan profil gizi kompetitif.; Increasing public awareness of healthy food and the underutilization of roselle seeds as a by-product of roselle processing at UG Technopark form the basis for developing a roselle seed–based snack bite as a value-added food diversification alternative. This study aims to develop a formulation for roselle seed based snack bites, determine the best formulation through hedonic testing, and analyze their nutritional content. The results show that roselle seeds have strong potential as a functional food ingredient, containing 32.48% protein, 30.07% fiber, and 321.1 kcal/100 g of energy. The hedonic test identified the fourth formulation combining roselle seeds, sunflower seeds, pumpkin seeds, rice crispy, virgin coconut oil, and palm sugar as the most preferred by panelists. Nutritional analysis of this formulation revealed fat content of 8.73 g/100 g, protein 8.37 g/100 g, carbohydrates 57.14 g/100 g, sugar 51.43 g/100 g, and energy 317.77 kcal/100 g. A key finding of this study is the demonstration that roselle seeds, previously considered waste, can be utilized as a functional snack ingredient with acceptable sensory characteristics and competitive nutritional profile.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
