<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Economics and Development Studies</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/99" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/99</id>
<updated>2026-08-30T17:39:29Z</updated>
<dc:date>2026-08-30T17:39:29Z</dc:date>
<entry>
<title>Pengaruh Keterbukaan dan Tingkat Pendapatan terhadap Intensitas Energi ASEAN Plus Three: Negara Maju dan Berkembang</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179691" rel="alternate"/>
<author>
<name>Muharam, Rezi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179691</id>
<updated>2026-08-19T02:28:40Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Keterbukaan dan Tingkat Pendapatan terhadap Intensitas Energi ASEAN Plus Three: Negara Maju dan Berkembang
Muharam, Rezi
Penelitian ini menganalisis pengaruh keterbukaan ekonomi dan tingkat pendapatan terhadap intensitas energi negara maju dan berkembang ASEAN Plus Three periode 2000–2021 menggunakan Panel ARDL dengan estimator Pooled Mean Group (PMG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada negara berkembang, tingkat pendapatan dan kuadratnya berpengaruh signifikan dalam jangka panjang dengan pola inverted U, sedangkan keterbukaan perdagangan, FDI, dan harga energi dunia tidak signifikan. Dalam jangka pendek, seluruh variabel tidak signifikan, namun terdapat penyesuaian menuju keseimbangan jangka panjang. Pada negara maju, tingkat pendapatan dan kuadratnya, FDI, keterbukaan perdagangan, dan harga energi dunia berpengaruh signifikan dalam jangka panjang dengan pola U antara tingkat pendapatan dan intensitas energi. Dalam jangka pendek, hanya tingkat pendapatan dan kuadratnya yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa keterbukaan ekonomi dan tingkat pendapatan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap intensitas energi antara negara maju dan berkembang ASEAN Plus Three.; This study analyzes the effects of economic openness and income level on energy intensity in developed and developing ASEAN Plus Three countries during 2000–2021 using Panel ARDL with the Pooled Mean Group (PMG) estimator. The results show that in developing countries, income level and its squared term have significant long-run effects with an inverted U-shaped pattern, while trade openness, FDI, and world energy prices are insignificant. In the short run, all variables are insignificant, although adjustment toward long-run equilibrium occurs. In developed countries, income level and its squared term, FDI, trade openness, and world energy prices have significant long-run effects, with a U shaped relationship between income level and energy intensity. In the short run, only income level and its squared term are significant. These findings indicate that economic openness and income level have different effects on energy intensity between developed and developing ASEAN Plus Three countries.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Belanja Pro-Poor Fiskal terhadap Indeks Foster-Greer-Thorbecke (P0, P1, P2) Di Provinsi Nusa Tenggara Timur</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178963" rel="alternate"/>
<author>
<name>NAJMULMUNIR, ZIDNY LAGORBY</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178963</id>
<updated>2026-08-14T07:17:31Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Belanja Pro-Poor Fiskal terhadap Indeks Foster-Greer-Thorbecke (P0, P1, P2) Di Provinsi Nusa Tenggara Timur
NAJMULMUNIR, ZIDNY LAGORBY
Kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersifat persisten dan multidimensional, dengan tingkat kemiskinan yang secara konsisten berada lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional selama periode 2018–2024. Penelitian ini menggunakan data panel 22 kabupaten/kota dan diestimasi dengan Fixed Effect Model (FEM) untuk menganalisis efektivitas belanja pro-poor fiskal, meliputi Program Indonesia Pintar (PIP), Bantuan Sosial (Bansos), Dana Desa, dan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), terhadap indeks Foster–Greer–Thorbecke (P0, P1, dan P2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa PIP merupakan instrumen yang paling efektif dan konsisten dalam menurunkan seluruh dimensi kemiskinan. Bansos efektif menurunkan P0 dan P1, sedangkan Dana Desa hanya efektif di Wilayah Pulau Flores dan Lembata. BOK tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan pada seluruh model. PDRB per kapita berpengaruh signifikan di Wilayah Pulau Alor, Timor, dan Rote, sedangkan pandemi COVID-19 memperburuk seluruh dimensi kemiskinan, terutama di Wilayah Pulau Sumba. Temuan ini mengindikasikan bahwa kebijakan pengentasan kemiskinan di NTT perlu dirancang secara asimetris melalui perluasan PIP, peningkatan ketepatan sasaran Bansos, dan penguatan sinergi Dana Desa dengan pembangunan kemandirian ekonomi.; Poverty in East Nusa Tenggara Province remains persistent and multidimensional, with poverty levels consistently exceeding twice the national average during 2018–2024. This study employs panel data consisting of 22 district/city and estimates a Fixed Effect Model (FEM) to examine the effectiveness of pro-poor fiscal expenditure, including the Indonesia Smart Program (PIP), Social Assistance (Bansos), Village Fund, and Health Operational Assistance (BOK), on the Foster–Greer–Thorbecke (FGT) poverty indices (P0, P1, and P2). The results indicate that PIP is the most effective and consistent instrument in reducing all poverty dimensions. Social Assistance significantly reduces P0 and P1, while the Village Fund is effective only in the Flores–Lembata island region. BOK has no significant effect across all models. GRDP per capita significantly reduces poverty in the Alor–Timor–Rote region, whereas the COVID-19 pandemic significantly worsened all poverty dimensions, particularly in the Sumba region. These findings suggest that poverty alleviation policies in East Nusa Tenggara should adopt an asymmetric approach by expanding PIP, improving the targeting accuracy of Social Assistance, and strengthening the integration of the Village Fund and the development of economic self-reliance.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>PENGARUH INFLASI PANGAN TERHADAP KERAWANAN PANGAN DI INDONESIA</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178670" rel="alternate"/>
<author>
<name>SINURAT, BERNARDA THERESIA TRI PUTRI</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178670</id>
<updated>2026-08-14T04:53:07Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">PENGARUH INFLASI PANGAN TERHADAP KERAWANAN PANGAN DI INDONESIA
SINURAT, BERNARDA THERESIA TRI PUTRI
Kerawanan pangan di Indonesia menjadi tantangan di tengah fluktuasi harga pangan dan ketimpangan pendapatan. Penelitian ini menganalisis pengaruh inflasi pangan dan faktor lainnya terhadap kerawanan pangan yang diukur melalui ketidakcukupan konsumsi energi dan keterbatasan akses pangan di 34 provinsi Indonesia periode 2020-2024 dengan menggunakan regresi data panel. Hasil menunjukkan inflasi pangan memperburuk kedua dimensi kerawanan pangan. Pangsa pengeluaran pangan meningkatkan ketidakcukupan konsumsi energi sejalan dengan Hukum Engel, namun menunjukkan hubungan berlawanan pada dimensi akses pangan. Pengangguran meningkatkan pengalaman kerawanan pangan, sedangkan kemiskinan meningkatkan ketidakcukupan konsumsi energi. Indeks Ketersediaan Pangan tidak berpengaruh signifikan terhadap kedua dimensi, sementara PDRB per kapita berkaitan dengan penurunan kedua dimensi kerawanan pangan. Temuan ini mendorong kebijakan yang tidak hanya menyasar produksi, tetapi daya beli masyarakat dan perlindungan sosial yang terarah pada daerah berpendapatan rendah.; Food insecurity in Indonesia remains a challenge amid food price fluctuations and income inequality. This study analyzes the effects of food inflation and other factors on food insecurity, measured by insufficient energy consumption and limited access to food, across 34 provinces in Indonesia during 2020-2024 using panel data regression. The results show that food inflation worsens both dimensions of food insecurity. Food expenditure share increases insufficient energy consumption in line with Engel’s Law, but exhibits an opposite relationship with the access to food dimension. Unemployment increases the experience of food insecurity, while poverty increases insufficient energy consumption. The Food Availability Index has no significant effect on either dimension, while higher PDRB per capita is associated with lower levels of both dimensions of food insecurity. These findings call for policies that address not only food production but also household purchasing power and targeted social protection in lower income regions.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Peran Modal Manusia dan Energi Terbarukan dalam Transisi Menuju Pembangunan Berkelanjutan di Kawasan Asia</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178666" rel="alternate"/>
<author>
<name>OCTAVIA, SEBA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178666</id>
<updated>2026-08-14T04:53:01Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Peran Modal Manusia dan Energi Terbarukan dalam Transisi Menuju Pembangunan Berkelanjutan di Kawasan Asia
OCTAVIA, SEBA
World Meteorological Organization melaporkan suhu rata-rata global terus meningkat  mencapai 1.4°C sebagai akibat dari peningkatan emisi karbon. Asia merupakan kawasan yang menjadi emitor tertinggi emisi karbon di dunia, di tahun 2021, 58 persen dari total emisi di dunia berasal dari kawasan Asia. Modal manusia dan penggunaan energi terbarukan diduga mampu menekan emisi karbon dan mendorong pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis gambaran dan pengaruh modal manusia, energi terbarukan, dan GDP per kapita terhadap emisi karbon di 14 negara Asia dengan periode analisis 2010-2021 dengan metode analisis berupa analisis deskriptif, tipologi klassen, dan regresi data panel menggunakan Fixed Effect Model (FEM). Hasil dari temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas modal manusia pada tahap awal akan meningkatkan emisi, namun setelah mencapai ambang batas tertentu efek penurunannya baru terlihat. Penggunaan energi terbarukan terbukti mampu menekan emisi karbon dan &#13;
GDP per kapita berpengaruh positif terhadap emisi karbon.; The World Meteorological Organization reported that the global average temperature continues to rise, reaching 1.4°C, as a result of increasing carbon emissions. Asia is the region with the highest carbon emitter in the world in 2021, 58 percent of total global emissions originated from the Asian region. Human capital and renewable energy capable to reducing carbon emissions and fostering sustainable development. This study aims to analyze the pattern and influence of human capital, renewable energy, and GDP per capita on carbon emissions in 14 Asian economies over the 2010–2021 period, employing descriptive analysis, Klassen typology, and panel data regression The findings indicate that human capital capacity increases emissions in the early stages, with the reducing effect only becoming apparent after a certain threshold is reached. Renewable energy use is found to significantly reduce carbon emissions, while GDP per capita has a positive effect on emissions.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
