<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Economics and Development Studies</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/99" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/99</id>
<updated>2026-07-10T07:53:47Z</updated>
<dc:date>2026-07-10T07:53:47Z</dc:date>
<entry>
<title>Dampak Kebijakan Hilirisasi dan Kinerja Ekspor Komoditas Olahan Kakao Indonesia</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174352" rel="alternate"/>
<author>
<name>Astuti, Oky Dwi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174352</id>
<updated>2026-07-10T04:06:53Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Dampak Kebijakan Hilirisasi dan Kinerja Ekspor Komoditas Olahan Kakao Indonesia
Astuti, Oky Dwi
Ekspor kakao Indonesia yang masih didominasi bahan mentah menyebabkan rendahnya nilai tambah sehingga diperlukan kebijakan hilirisasi. Namun, nilai ekspor olahan kakao menunjukkan tren fluktuatif pasca kebijakan tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja ekspor sebelum dan sesudah hilirisasi serta dampaknya terhadap nilai ekspor. Data yang digunakan adalah data panel periode 2005–2023 pada enam negara tujuan utama dan empat produk olahan kakao (HS 1803, 1804, 1805, 1806). Metode analisis meliputi RCA, EPD, X-Model, dan regresi data panel. Hasil menunjukkan kebijakan hilirisasi meningkatkan daya saing, terutama pada HS 1803 dan HS 1804, namun belum merata karena HS 1806 masih rendah. Secara simultan, kebijakan hilirisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai ekspor. GDP riil negara tujuan dan daya saing (RCA) berpengaruh positif signifikan, sedangkan nilai tukar riil berpengaruh negatif signifikan pada HS 1805 dan HS 1806. Tarif impor berpengaruh positif signifikan pada HS 1803.; Indonesia’s cocoa exports are still dominated by raw materials, resulting in low value added and necessitating downstream policies. However, export values of processed cocoa have fluctuated after implementation. This study analyzes export performance before and after downstreaming and its impact on export value. Panel data from 2005–2023 covering six destination countries and four processed cocoa products (HS 1803, 1804, 1805, 1806) are used. Methods include RCA, EPD, XModel, and panel data regression. Results show downstreaming improves competitiveness, especially for HS 1803 and HS 1804, but not uniformly as HS 1806 remains relatively weak. The policy has a positive and significant effect on export value. Destination countries real GDP and competitiveness (RCA) positively and significantly affect exports, while the real exchange rate negatively affects HS 1805 and HS 1806. Import tariffs positively affect HS 1803.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Kesenjangan Digital terhadap Tingkat Modal Manusia Bidang Pendidikan di Indonesia</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174297" rel="alternate"/>
<author>
<name>Wahyuni, Enggie Tri</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174297</id>
<updated>2026-07-09T06:55:15Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Kesenjangan Digital terhadap Tingkat Modal Manusia Bidang Pendidikan di Indonesia
Wahyuni, Enggie Tri
Kesenjangan digital di Indonesia masih menjadi tantangan dalam pembangunan modal manusia bidang pendidikan akibat perbedaan akses dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kesenjangan digital terhadap rata-rata lama sekolah di 34 provinsi di Indonesia periode 2020–2024. Penelitian menggunakan analisis deskriptif dan regresi data panel dengan Random Effect Model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan internet untuk pembelajaran daring berpengaruh negatif dan signifikan, sedangkan kemampuan memiliki atau menguasai komputer dan telepon seluler berpengaruh positif dan signifikan terhadap rata-rata lama sekolah. Anggaran pendidikan dan rasio murid-guru berpengaruh negatif dan signifikan, sedangkan PDRB per kapita berpengaruh positif namun tidak signifikan. Hasil penelitian menegaskan pentingnya pemerataan akses digital, pengelolaan anggaran pendidikan yang efektif, dan pemerataan tenaga pendidik dalam meningkatkan modal manusia bidang pendidikan.; The digital divide remains a challenge to educational human capital development in Indonesia due to unequal access to and use of information and communication technology. This study examines the effect of the digital divide on the average years of schooling in 34 Indonesian provinces during 2020–2024 using descriptive analysis and panel data regression with the Random Effects Model. The results show that internet use for online learning has a negative and significant effect, while computer and mobile phone ownership or use have positive and significant effects. Education expenditure and the student–teacher ratio have negative and significant effects, whereas GRDP per capita has a positive but insignificant effect. These findings emphasize the importance of equitable digital access, effective education spending, and better teacher distribution to improve educational human capital.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Financial Development dan Financial Technology terhadap Shadow Economy: Pendekatan Nonlinier</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173966" rel="alternate"/>
<author>
<name>SYAM, NAJWA AULIA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173966</id>
<updated>2026-07-03T02:17:16Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Financial Development dan Financial Technology terhadap Shadow Economy: Pendekatan Nonlinier
SYAM, NAJWA AULIA
Shadow economy menjadi permasalahan bagi stabilitas ekonomi karena &#13;
aktivitas ekonomi yang tidak tercatat dapat menurunkan keandalan statistik &#13;
nasional dan menggerus basis pajak. Perkembangan sektor keuangan dan &#13;
teknologi keuangan diharapkan mampu meningkatkan transparansi transaksi dan &#13;
mendorong formalisasi ekonomi. Namun, pengaruh keduanya terhadap shadow &#13;
economy diduga tidak selalu linier. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh &#13;
financial development dan financial technology terhadap shadow economy serta &#13;
mengidentifikasi pola hubungan nonlinier di negara maju dan berkembang periode &#13;
2005–2020. Penelitian ini menggunakan analisis data panel statis dengan fixed &#13;
effect model dan driscoll-kraay standard error, dengan variabel utama &#13;
diproksikan menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Hasil &#13;
menunjukkan hubungan inverted U-shaped di negara maju, U-shaped di negara &#13;
berkembang, dan S-shaped pada seluruh sampel. Temuan ini menunjukkan bahwa &#13;
efektivitas financial development dan financial technology bergantung pada &#13;
perkembangan sektor keuangan dan kesiapan institusi.; The shadow economy poses a challenge to economic stability because &#13;
unrecorded economic activities reduce the reliability of national statistics and &#13;
erode the tax base. Financial development and financial technology are expected &#13;
to increase transaction transparency and encourage economic formalization. &#13;
However, their effects on the shadow economy may be nonlinear. This study &#13;
analyzes the effects of financial development and financial technology on the &#13;
shadow economy and identifies nonlinear relationship patterns in developed and &#13;
developing countries over the period 2005–2020. The study employs static panel &#13;
data analysis using a fixed effect model with Driscoll-Kraay standard errors, &#13;
while the main variables are proxied using Principal Component Analysis (PCA). &#13;
The results indicate an inverted U-shaped relationship in developed countries, a &#13;
U-shaped relationship in developing countries, and an S-shaped relationship for &#13;
the full sample. These findings suggest that the effectiveness of financial &#13;
development and financial technology depends on financial sector development &#13;
and institutional readiness.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Dampak Asimetris Global Economic Policy Uncertainty terhadap Pasar Saham : Studi Negara Maju dan Berkembang</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173963" rel="alternate"/>
<author>
<name>IHSANI, WAFI</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173963</id>
<updated>2026-07-03T02:11:40Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Dampak Asimetris Global Economic Policy Uncertainty terhadap Pasar Saham : Studi Negara Maju dan Berkembang
IHSANI, WAFI
Penelitian ini menganalisis dampak asimetris Global Economic Policy &#13;
Uncertainty (GEPU) terhadap pasar saham di negara maju dan berkembang. Data &#13;
yang digunakan mencakup 28 negara maju dan 13 negara berkembang, berbasis &#13;
data bulanan tahun 2017-2025, serta menggunakan metode panel NARDL. Hasil &#13;
analisis menunjukkan bahwa pasar saham di kedua kelompok negara memiliki &#13;
sensitivitas yang lebih tinggi terhadap penurunan dibandingkan peningkatan &#13;
ketidakpastian (relief effect). Pasar negara maju responsif terhadap perubahan &#13;
kenaikan maupun penurunan GEPU, baik di jangka pendek maupun jangka panjang. &#13;
Sementara, pasar negara berkembang justru tidak berpengaruh signifikan terhadap &#13;
GEPU dalam jangka panjang, di mana pasar saham lebih dominan dipengaruhi oleh &#13;
faktor domestik seperti jumlah uang beredar, inflasi, dan pertumbuhan industri (IPI). &#13;
Temuan ini mengindikasikan bahwa GEPU perlu dipertimbangkan sebagai risiko &#13;
sistematis dalam penentuan premi risiko aset di negara maju, sedangkan investor di &#13;
negara berkembang lebih memfokuskan pada fundamental domestik karena &#13;
adanya indikasi decoupling pasar.; This study analyzes the asymmetric impact of Global Economic Policy &#13;
Uncertainty (GEPU) on stock markets in advanced and emerging economies, &#13;
covering 28 advanced and 13 emerging economies, based on monthly data from &#13;
2017 - 2025, and analyze using the panel NARDL method. The results show that &#13;
stock markets in both groups of countries are more sensitive to decreases than to &#13;
increases in uncertainty (relief effect). Markets in advanced countries respons to &#13;
both increases and decreases in GEPU, in both the short run and the long run. &#13;
Meanwhile, emerging countries exhibit no significant long-run impact of GEPU, as &#13;
their stock markets are primarily driven by domestic macroeconomic fundamental. &#13;
These findings suggest that GEPU should be incorporated as a systematic risk &#13;
factor in asset pricing and the determination of equity risk premiums in advanced &#13;
economies. In contrast, investors in emerging markets should place greater &#13;
emphasis on domestic fundamentals, given the evidence of market decoupling.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
