<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Agribusiness</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/96" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/96</id>
<updated>2026-10-15T06:34:37Z</updated>
<dc:date>2026-10-15T06:34:37Z</dc:date>
<entry>
<title>Dinamika Harga Urea Non-Subsidi di Indonesia dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180099" rel="alternate"/>
<author>
<name>CHAHYANI, MELLIA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180099</id>
<updated>2026-10-13T06:08:55Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Dinamika Harga Urea Non-Subsidi di Indonesia dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya
CHAHYANI, MELLIA
Harga urea non-subsidi di Indonesia mengalami dinamika yang cukup besar selama 2011–2025, terutama setelah lonjakan harga pada 2021, sehingga penting dianalisis faktor-faktor yang memengaruhi perubahannya. Penelitian ini bertujuan menjelaskan dinamika harga urea non-subsidi di Indonesia selama 2011–2025 dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perubahan harganya dalam jangka pendek. Penelitian menggunakan data sekunder bulanan sebanyak 180 observasi dan dianalisis secara deskriptif serta menggunakan regresi runtut waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga urea non-subsidi berfluktuasi dan mengalami lonjakan tajam pada 2021–2022 sebelum menurun pada 2023–2024 dan kembali meningkat pada 2025. Dalam jangka pendek, perubahan harga DAP internasional dan harga urea internasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan harga urea non-subsidi. Harga gas alam Amerika Serikat, nilai tukar rupiah, inflasi, BI-Rate, dan PDB sektor pertanian tidak berpengaruh signifikan pada taraf nyata 5 persen, sedangkan Brent hanya menunjukkan indikasi pengaruh pada taraf 10 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan harga urea non-subsidi domestik lebih erat berkaitan dengan perkembangan pasar pupuk internasional.; Non-subsidized urea prices in Indonesia exhibited substantial dynamics during 2011–2025, particularly following the sharp price surge in 2021, making it important to examine the factors associated with short-run price changes. This study aims to describe the dynamics of non-subsidized urea prices in Indonesia during 2011–2025 and analyze the factors affecting their short-run changes. The study uses 180 monthly secondary observations and applies descriptive analysis and time-series regression. The results show that non-subsidized urea prices fluctuated considerably, rising sharply in 2021–2022, declining in 2023–2024, and increasing again in 2025. In the short run, changes in international DAP and urea prices have positive and significant effects on changes in domestic non-subsidized urea prices. United States natural gas prices, the rupiah exchange rate, inflation, the BI-Rate, and agricultural GDP are not significant at the 5 percent level, while Brent crude oil shows only an indication of significance at the 10 percent level. These findings indicate that short-run domestic price changes are more closely associated with developments in international fertilizer markets.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Daya Saing Jagung Pipilan di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180079" rel="alternate"/>
<author>
<name>HALINDA, APRILISTYA NUR</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180079</id>
<updated>2026-10-08T01:06:11Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Daya Saing Jagung Pipilan di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur
HALINDA, APRILISTYA NUR
Indonesia masih mengimpor jagung pipilan untuk kebutuhan bahan baku pakan ternak &#13;
meskipun memiliki sentra produksi, salah satunya Kabupaten Tuban. Penelitian ini bertujuan &#13;
menganalisis keuntungan privat dan sosial, keunggulan kompetitif dan komparatif, serta dampak &#13;
kebijakan pemerintah terhadap daya saing usahatani jagung pipilan di Desa Wolutengah, &#13;
Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Data primer diperoleh dari 36 petani yang dipilih secara &#13;
purposive dan snowball sampling, lalu dianalisis menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM) &#13;
dan analisis sensitivitas kenaikan harga jagung dunia sebesar 10%, 20%, dan 30%. Usahatani &#13;
jagung pipilan menguntungkan secara privat dan sosial serta memiliki keunggulan kompetitif &#13;
(PCR 0,69) dan komparatif (DRCR 0,65). Kebijakan pemerintah memberikan subsidi pada input &#13;
(NPCI 0,89), tetapi belum melindungi harga output (NPCO 0,92), sehingga secara keseluruhan &#13;
merugikan petani. Kenaikan harga dunia memperkuat keunggulan komparatif, tetapi memperlebar &#13;
kesenjangan harga di tingkat petani. Penguatan pengawasan harga acuan pembelian diperlukan &#13;
agar kenaikan harga dunia dirasakan petani.; Indonesia still imports shelled corn for livestock feed despite having production centers, &#13;
including Tuban Regency. This study analyzes private and social profits, competitive and &#13;
comparative advantages, and the impact of government policy on the competitiveness of shelled &#13;
corn farming in Wolutengah Village, Kerek District, Tuban Regency. Primary data from 36 &#13;
farmers, selected through purposive and snowball sampling, were analyzed using the Policy &#13;
Analysis Matrix (PAM) and a sensitivity analysis with world corn price increases of 10%, 20%, &#13;
and 30%. Shelled corn farming was profitable at private and social prices and had competitive &#13;
(PCR 0.69) and comparative (DRCR 0.65) advantages. Government policy subsidized inputs &#13;
(NPCI 0.89) but did not protect output prices (NPCO 0.92), resulting in an overall net loss for &#13;
farmers. Higher world prices strengthened comparative advantage but widened the farm-level &#13;
price gap. Stronger monitoring of the government reference purchase price is needed so that &#13;
farmers benefit from higher world prices.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kelayakan Vanili dengan Pengusahaan Konvensional dan Modern di Kabupaten Temanggung</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180078" rel="alternate"/>
<author>
<name>Alaudinsyah, Dzaki</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180078</id>
<updated>2026-10-08T01:05:14Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kelayakan Vanili dengan Pengusahaan Konvensional dan Modern di Kabupaten Temanggung
Alaudinsyah, Dzaki
Vanili merupakan komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi dengan&#13;
prospek pasar yang menjanjikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan&#13;
nonfinansial dan finansial pengusahaan vanili konvensional dan greenhouse di&#13;
Kabupaten Temanggung serta menentukan pengusahaan yang lebih layak.&#13;
Penelitian menggunakan metode studi kasus dengan sampel dua pelaku usaha vanili,&#13;
yaitu satu konvensional dan satu greenhouse. Kelayakan nonfinansial dianalisis&#13;
berdasarkan aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, sosial, dan lingkungan,&#13;
sedangkan kelayakan finansial menggunakan Net Present Value (NPV), Internal&#13;
Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Payback Period (PP), dan&#13;
switching value pada tingkat diskonto 8,15 persen. Kedua pengusahaan layak secara&#13;
nonfinansial dan finansial. Hasil penelitian menemukan bahwa pengusahaan vanili&#13;
greenhouse lebih layak untuk dikembangkan karena memberikan indikator kriteria&#13;
kelayakan yang lebih tinggi dari pada pengusahaan konvensional. Pengusahaan&#13;
greenhouse juga lebih kuat menghadapi risiko penurunan penerimaan dan biaya&#13;
pengeluaran jika terjadi perubahan di masa depan.; Vanilla is a high-value plantation commodity with promising market&#13;
prospects. This study aims to analyze the non-financial and financial feasibility of&#13;
conventional and greenhouse vanilla farming in Temanggung Regency and&#13;
determine which production system is more feasible. The study employed a case&#13;
study method involving two vanilla farmers, consisting of one conventional farmer&#13;
and one greenhouse farmer. Non-financial feasibility was analyzed based on market,&#13;
technical, management, legal, social, and environmental aspects, while financial&#13;
feasibility was assessed using Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return&#13;
(IRR), Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C), Payback Period (PP), and switching value&#13;
at a discount rate of 8.15 percent. Both farming systems were found to be feasible&#13;
in terms of both non-financial and financial aspects. The results indicate that&#13;
greenhouse vanilla farming is more feasible for development, as it yields higher&#13;
feasibility indicators than conventional farming. Furthermore, greenhouse farming&#13;
demonstrates greater resilience to potential decreases in revenue and increases in&#13;
operating costs due to future changes.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Transmisi Volatilitas Harga Kedelai Dunia dengan Indonesia</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180055" rel="alternate"/>
<author>
<name>Hilmianingsih, Wildani</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180055</id>
<updated>2026-10-04T01:36:00Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Transmisi Volatilitas Harga Kedelai Dunia dengan Indonesia
Hilmianingsih, Wildani
Ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor menyebabkan harga kedelai domestik rentan terhadap fluktuasi harga di pasar dunia. Penelitian ini&#13;
bertujuan menganalisis tingkat volatilitas harga kedelai dunia dan domestik serta transmisi volatilitasnya selama periode 2015-2024 menggunakan data bulanan. Metode yang digunakan adalah model ARCH-GARCH untuk mengestimasi volatilitas dan model VAR untuk menganalisis transmisi volatilitas melalui IRF dan FEVD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volatilitas harga kedelai impor dan lokal memiliki persistensi tinggi, sedangkan volatilitas harga kedelai dunia memiliki persistensi rendah dan cepat mereda. Transmisi volatilitas antara pasar dunia dengan domestik terjadi meskipun pengaruhnya kecil.; Indonesia’s high dependency on imported soybean makes domestic prices vulnerable to fluctuations in the world market. This study aims to analyze the&#13;
volatility level of world and domestic and volatility spillover during 2015-2024 using monthly data. The methods used are the ARCH-GARCH model to estimate volatility and the VAR model to analyze volatility spillover through IRF and FEVD. The results show that the volatility of imported and local soybean prices has high persistence, while the volatility of world soybean prices has low persistence and quickly subsides. Volatility spillover between the world and domestic market occurs, although its impact is relatively small.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
