<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Nutrition Science</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95</id>
<updated>2026-04-13T11:59:47Z</updated>
<dc:date>2026-04-13T11:59:47Z</dc:date>
<entry>
<title>Formulasi Produk Selai Berbasis Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) dan Minyak Sawit Merah sebagai Pangan Sehat Sumber Beta Karoten</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172885" rel="alternate"/>
<author>
<name>Gemala, Arwa</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172885</id>
<updated>2026-04-01T04:45:02Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Formulasi Produk Selai Berbasis Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) dan Minyak Sawit Merah sebagai Pangan Sehat Sumber Beta Karoten
Gemala, Arwa
Kekurangan vitamin A pada ibu hamil dapat mengakibatkan masalah pada perkembangan janin. Vitamin A dapat diperoleh dengan mengonsumsi makanan yang mengandung pro vitamin A, salah satunya beta karoten. Pemanfaatan minyak sawit merah yang tinggi akan beta karoten dapat menjadi salah satu cara mengatasi defisiensi vitamin A. Penelitian ini bertujuan memformulasikan selai berbasis kacang tanah dan minyak sawit merah sebagai pangan sehat sumber beta karoten. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 taraf perlakuan rasio minyak sawit biasa dan minyak sawit merah, yaitu  F0 (100:0), F1 (50:50), dan F2 (25:75). Berdasarkan hasil analisis karakteristik fisik, organoleptik, dan kandungan gizi, formula yang terpilih adalah F1. Satu takaran saji (20 g) mengandung 97 kkal energi; 4,9 g protein; 4,4 g lemak; dan 9,4 g karbohidrat yang memenuhi kebutuhan 19,0% energi, 32,5% protein; 26,3% lemak; dan 13,6% karbohidrat ibu hamil. Kandungan beta karoten selai kacang adalah 359,15 mg/100 g atau setara dengan 14,9 kali wortel dan 78,9 kali tomat. Formula selai yang terpilih memenuhi klaim pangan sumber protein dan memiliki beta karoten yang lebih tinggi dibandingkan wortel.; Vitamin A deficiency in pregnant women can cause problems in fetal development. Vitamin A can be obtained by consuming foods that contain pro-vitamin A, one of which is beta-carotene. The use of red palm oil, which is high in beta-carotene, can be used as a way to overcome vitamin A deficiency. This study aims to formulate peanut and red palm oil-based spread as a healthy food source of beta-carotene. This study used a completely randomized design (CRD) with three treatment levels of regular palm oil and red palm oil, namely F0 (0:100), F1 (50:50), and F2 (25:75). Based on the analysis of physical characteristics, organoleptic properties, and nutritional content, the selected formula was F1. One serving (20 g) contains 97 kcal of energy; 4.9 g of protein; 4.4 g of fat; and 9.4 g of carbohydrates, which meets 19.0% of the energy, 32.5% of the protein; 26.3% of the fat; and 13.6% of the carbohydrate requirements for pregnant women. The beta-carotene content of peanut butter is 359.15 mg/100 g, which is equivalent to 14.9 times that of carrots and 78.9 times that of tomatoes. The selected peanut butter formula meets the nutritional claim of being a protein source and contains beta carotene higher than carrots.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak Baduta Penerima PMT di Makassar</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172625" rel="alternate"/>
<author>
<name>Abdillah, Andi Nur Atikah</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172625</id>
<updated>2026-02-06T03:44:08Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak Baduta Penerima PMT di Makassar
Abdillah, Andi Nur Atikah
Masalah gizi di Makassar masih kritis dengan prevalensi di atas rata-rata nasional. Penelitian ini menganalisis praktik pemberian makan (Infant and Young Child Feeding/IYCF), keragaman pangan rumah tangga (Household Dietary Diversity Score/HDDS), dan status gizi pada 84 baduta penerima Program Makanan Tambahan (PMT) menggunakan desain cross-sectional. Hasil menunjukkan proporsi kejadian stunting (48,8%), underweight (34,5%), dan wasting (14,3%) yang tinggi. Praktik IYCF tampak kontras, capaian indikator dasar seperti Minimum Dietary Diversity (MDD) tergolong baik, tetapi konsumsi minuman manis dan jajanan tidak sehat tinggi. HDDS berhubungan signifikan dengan capaian MDD anak dan konsumsi sayur buah. Temuan utama menunjukkan Inisiasi Menyusui Dini berhubungan sangat signifikan dengan kejadian stunting dan underweight (p&lt;0.001), menandakan dampak protektif intervensi awal kehidupan dibanding praktik makan saat ini yang memiliki jeda waktu manifestasi. Adanya hubungan paradoks pada konsumsi jajanan mengindikasikan perlunya kajian faktor sosial ekonomi lebih lanjut.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Faktor yang Memengaruhi Kemampuan Kader Kesehatan Masyarakat dalam Pencegahan dan Penanganan Stunting</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172605" rel="alternate"/>
<author>
<name>Billah, Rufaidah Izdihar</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172605</id>
<updated>2026-02-05T13:38:56Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Faktor yang Memengaruhi Kemampuan Kader Kesehatan Masyarakat dalam Pencegahan dan Penanganan Stunting
Billah, Rufaidah Izdihar
Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di kawasan Asia Tenggara, sehingga peran kader kesehatan masyarakat sebagai penggerak utama pelayanan kesehatan di tingkar daerah menjadi penting dalam upaya pencegahan dan penanganannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengelompokkan faktor internal dan faktor eksternal yang memengaruhi kemampuan kader, serta kemampuan yang dimiliki kader dalam pencegahan dan penanganan stunting di Asia Tenggara. Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review dengan 313 artikel terpilih yang telah melalui tahap penyaringan dan digunakan untuk ditelaah lebih lanjut. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor internal yang memengaruhi kemampuan kader meliputi pengetahuan dan keterampilan awal, karakteristik kader, pengalaman, kemampuan dasar, serta motivasi dan sikap personal. Faktor eksternal mencakup akses terhadap pelatihan, dukungan lingkungan sekitar, dukungan pemerintah, ketersediaan fasilitas pelayanan, insentif, dan beban kerja. Selain itu, kemampuan kader yang diperlukan meliputi pengetahuan terkait stunting dan gizi, keterampilan teknis, keterampilan praktis, serta kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan dan budaya lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan faktor internal dan eksternal secara terpadu diperlukan untuk meningkatkan kemampuan kader dalam mendukung pencegahan dan penanganan stunting secara efektif.; Stunting remains a significant public health problem in Southeast Asia, highlighting the critical role of community health workers as prime mover of local health services in its prevention and control. This study aimed to examine and classify the internal and external factors influencing the capacity of community health workers, as well as the competencies required for effective stunting prevention and control in the region. A systematic literature review was conducted on 313 selected articles that had passed the screening process and were included for further analysis. The findings indicate that internal factors affecting cadre capacity include initial knowledge and skills, individual characteristics, experience, basic abilities, and personal motivation and attitudes. External factors comprise access to training programs, environmental support, government support, availability of service facilities, incentives, and workload. Furthermore, the competencies required by community health workers include knowledge related to stunting and nutrition, technical skills, practical skills, and the ability to adapt to local environmental and cultural contexts. The study concludes that strengthening internal and external factors in an integrated manner is essential to enhance cadre capacity and support effective stunting prevention and control.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Formulasi Smoothie Berbahan Jambu Biji Merah, Bayam Hijau, dan Kacang Kedelai sebagai Minuman Fungsional Remaja Putri Anemia</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172603" rel="alternate"/>
<author>
<name>Lutfiani, Rizka</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172603</id>
<updated>2026-02-05T08:42:01Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Formulasi Smoothie Berbahan Jambu Biji Merah, Bayam Hijau, dan Kacang Kedelai sebagai Minuman Fungsional Remaja Putri Anemia
Lutfiani, Rizka
Anemia masih menjadi masalah gizi terbesar pada remaja dan dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan jangka panjang remaja putri. Pencegahan anemia secara nonfarmakologis dapat dilakukan melalui pengembangan produk smoothie dari jambu biji merah, bayam hijau, dan kacang kedelai sebagai minuman fungsional untuk memenuhi kebutuhan zat besi dan vitamin C remaja putri. Kombinasi jambu biji merah yang tinggi vitamin C dapat meningkatkan penyerapan zat besi pada bayam hijau dan kedelai. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga formula (rasio jambu biji merah dan bayam hijau), yaitu F1 (1:2), F2 (1:1), dan F3 (2:1). Formula terpilih adalah F1 dengan kandungan gizi terbaik dan mendapat nilai kesukaan yang cukup baik. Satu takaran saji formula terpilih (200 mL) mengandung 102 kkal energi, 6,7 g protein, 4,0 g lemak, 9,8 g karbohidrat, 3,36 mg zat besi, dan 23,08 mg vitamin C. Berdasarkan kontribusinya terhadap ALG kelompok umum, smoothie F1 memenuhi syarat klaim sumber zat besi dan sumber vitamin C. Biaya produksi smoothie sebesar Rp5.381,83 dan harga jual Rp6.727,29 atau jika dibulatkan menjadi Rp7.000,00.; Anemia remains the biggest nutritional problem among adolescents and can have a significant impact on the long-term health of adolescent girls. Nonpharmacological prevention of anemia can be achieved through the development of smoothies made from red guava, green spinach, and soybeans as functional drinks to meet the iron and vitamin C needs of adolescent girls. The combination of red guava, which is high in vitamin C, can enhance iron absorption in spinach and soybeans. This study used a completely randomized design (CRD) with three formulas (ratios of red guava and green spinach), namely F1 (1:2), F2 (1:1), and F3 (2:1). The selected formula was F1, which had the best nutritional content and received a good preference score. One serving of the selected formula (200 mL) contains 102 kcal of energy, 6.7 g of protein, 4.0 g of fat, 9.8 g of carbohydrates, 3.36 mg of iron, and 23.08 mg of vitamin C. Based on its contribution to the ALG for the general group, smoothie F1 qualifies for iron and vitamin C source claims. The production cost of smoothie is Rp5,381.83 and the selling price is Rp6,727.29 or if rounded up to Rp7,000.00.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
