<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Nutrition Science</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95</id>
<updated>2026-09-01T14:53:04Z</updated>
<dc:date>2026-09-01T14:53:04Z</dc:date>
<entry>
<title>Hubungan Rasio Asupan Natrium-kalium dan Tingkat Aktivitas Fisik dengan Tekanan Darah pada Ibu Hamil di Puskesmas Cangkurawok, Dramaga, Bogor</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178846" rel="alternate"/>
<author>
<name>ZULAIKHA, NAYLA SHAVA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178846</id>
<updated>2026-08-14T06:43:10Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hubungan Rasio Asupan Natrium-kalium dan Tingkat Aktivitas Fisik dengan Tekanan Darah pada Ibu Hamil di Puskesmas Cangkurawok, Dramaga, Bogor
ZULAIKHA, NAYLA SHAVA
Hipertensi dalam kehamilan merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu serta janin. Tekanan darah selama kehamilan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk faktor yang dapat dimodifikasi, seperti asupan natrium, asupan kalium, dan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan rasio asupan natrium-kalium dan tingkat aktivitas fisik dengan tekanan darah pada ibu hamil di Puskesmas Cangkurawok, Dramaga, Bogor. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan teknik total sampling pada 37 ibu hamil trimester II dan III. Asupan natrium dan kalium diperoleh melalui non-consecutive food recall 2×24 jam, aktivitas fisik diukur menggunakan Pregnancy Physical Activity Questionnaire, dan tekanan darah diukur menggunakan tensimeter digital. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman (p&lt;0,05). 83,8% subjek memiliki tekanan darah normal, sedangkan masing-masing 8,1% mengalami hipertensi kronis dan hipertensi gestasional. Sebanyak 86,5% subjek memiliki asupan natrium melebihi rekomendasi WHO (&gt;2.000 mg/hari), dan seluruh subjek memiliki asupan kalium di bawah rekomendasi WHO (&lt;3.510 mg/hari). Asupan kalium berhubungan negatif dengan tekanan darah sistolik, sedangkan rasio natrium-kalium berhubungan positif dengan tekanan darah sistolik dan diastolik. Aktivitas fisik tidak berhubungan dengan tekanan darah. Rasio natrium-kalium lebih representatif dibandingkan asupan natrium atau kalium secara terpisah dalam menggambarkan variasi tekanan darah, sehingga berpotensi menjadi indikator gizi dalam upaya pencegahan hipertensi pada ibu hamil.; Hypertensive disorders during pregnancy are a major cause of maternal and fetal morbidity and mortality. Blood pressure during pregnancy is influenced by various factors, including modifiable factors such as sodium intake, potassium intake, and physical activity. This study aimed to analyze the association between the sodium-to-potassium intake ratio and physical activity level with blood pressure among pregnant women at Cangkurawok Primary Health Center, Dramaga, Bogor. A cross-sectional study was conducted using a total sampling technique involving 37 pregnant women in the second and third trimesters. Sodium and potassium intakes were assessed using two non-consecutive 24-hour food recalls, physical activity was measured using the Pregnancy Physical Activity Questionnaire, and blood pressure was measured using a digital sphygmomanometer. Data were analyzed using Pearson's and Spearman's correlation tests (p&lt;0.05). Most participants had normal blood pressure (83.8%), while 8.1% had chronic hypertension and 8.1% had gestational hypertension. A total of 86.5% of participants had sodium intake exceeding the WHO recommendation (&gt;2,000 mg/day), and all participants had potassium intake below the WHO recommendation (&lt;3,510 mg/day). Potassium intake was negatively associated with systolic blood pressure, whereas the sodium-to-potassium ratio was positively associated with both systolic and diastolic blood pressure. Physical activity was not associated with blood pressure. The sodium-to-potassium ratio was more representative than sodium or potassium intake alone in explaining blood pressure variation and may serve as a potential nutritional indicator for preventing hypertensive disorders during pregnancy.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Tingkat Penerimaan, Karakteristik Fisik, dan Kandungan Gizi Puding Sari Kedelai dan Sari Rosella</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178817" rel="alternate"/>
<author>
<name>DARADINANTI, AHLA ULYA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178817</id>
<updated>2026-08-14T06:26:39Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Tingkat Penerimaan, Karakteristik Fisik, dan Kandungan Gizi Puding Sari Kedelai dan Sari Rosella
DARADINANTI, AHLA ULYA
Puding sari kedelai dan sari rosella berpotensi dikembangkan sebagai produk pangan berbasis protein nabati dan rosella. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat penerimaan sensori, karakteristik fisik, dan kandungan gizi tiga formulasi, yaitu F0 (100% puding sari kedelai), F1 (75% puding sari kedelai dan 25% sari rosella), serta F2 (50% puding sari kedelai dan 50% sari rosella). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor dan dua kali ulangan. Tingkat penerimaan sensori dianalisis menggunakan uji rating hedonik, ranking,&#13;
dan Quantitative Descriptive Analysis (QDA), sedangkan karakteristik fisik dan kandungan gizi dianalisis melalui pengujian laboratorium. Formula F0 memiliki penerimaan sensori tertinggi dengan skor aroma 7,33, tekstur 5,87, rasa 5,87, mouthfeel 6,67, aftertaste 6,43, dan keseluruhan 7,00. Peningkatan proporsi sari rosella meningkatkan karakter floral, tangy, redness, rasa asam, sensasi sepat, lingering bitterness, dan vitamin C dari 4,1 mg/100 g pada F0 menjadi 20,3 mg/100 g pada F2, tetapi menurunkan protein dari 8,5 menjadi 2,2 g/100 g. Ketiga formulasi belum memenuhi persyaratan klaim kandungan gizi berdasarkan Acuan Label Gizi
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Hubungan Pengetahuan, Sikap, Praktik Hidup Sehat, dan Pengeluaran Pangan dengan Status Gizi Mahasiswa</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178811" rel="alternate"/>
<author>
<name>Zaskia, Ananda Putri</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178811</id>
<updated>2026-08-14T06:26:05Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hubungan Pengetahuan, Sikap, Praktik Hidup Sehat, dan Pengeluaran Pangan dengan Status Gizi Mahasiswa
Zaskia, Ananda Putri
ANANDA PUTRI ZASKIA. Hubungan Pengetahuan, Sikap, Praktik Hidup Sehat, dan Pengeluaran Pangan dengan Status Gizi Mahasiswa. Dibimbing oleh EVY DAMAYANTHI dan CESILIA METI DWIRIANI.&#13;
&#13;
Masa dewasa awal merupakan periode kritis terutama pada mahasiswa baru yang mengalami perubahan tempat tinggal dan pola makan sehingga berpotensi mengalami masalah gizi. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, praktik hidup sehat, dan pengeluaran pangan dengan status gizi mahasiswa. Penelitian cross-sectional ini melibatkan 74 mahasiswa yang dipilih secara random sampling. Data pengetahuan, sikap, aktivitas fisik (IPAQ), dan durasi tidur dikumpulkan melalui kuesioner. Data asupan gizi untuk menilai kualitas diet diperoleh melalui food recall 3x24 jam. Status gizi ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh. Analisis data menggunakan uji korelasi pearson dan spearman. Hampir separuh (47,3%) subjek memiliki pengetahuan yang baik, hampir seluruh (89,2%) subjek memiliki sikap yang positif, namun kualitas diet hampir seluruh (98%) masih memerlukan perbaikan. Lebih dari dua per tiga subjek memiliki aktivitas sedang (69%) dengan durasi tidur yang tidak optimal (70%). Sekitar seperlima (20,3%) subjek memiliki status gizi kurus dan sekitar sepersepuluh (10,9%) berstatus gizi lebih. Pengetahuan, sikap, praktik hidup sehat tidak berhubungan signifikan dengan status gizi. Uang saku berhubungan signifikan positif dengan status gizi (p=0,043), dan pengeluaran pangan berhubungan signifikan positif dengan asupan energi (p=0,003) dan lemak (p=0,006). Aktivitas fisik ditemukan signifikan lebih sering dan lebih lama pada laki–laki dibandingkan perempuan.&#13;
&#13;
Kata kunci:  aktivitas fisik, kualitas diet, pengeluaran pangan, status gizi, uang saku; ANANDA PUTRI ZASKIA. The Relationship Between Knowledge, Attitudes, Healthy Lifestyle Practices, and Food Expenditures and the Nutritional Status of College Students. Supervised by EVY DAMAYANTHI and CESILIA METI DWIRIANI.&#13;
&#13;
Early adulthood is a critical period for first-year college students who experience changes in living arrangements and eating patterns, putting at risk for nutritional problems. The purpose to analyze the relationship between knowledge, attitudes, healthy lifestyle practices, and food expenditure and the nutritional status of college students. This cross-sectional study involved 74 college students with random sampling. Data on knowledge, attitudes, physical activity (IPAQ), and sleep duration collected via a questionnaire. Nutritional intake data to assess diet quality were obtained through a 3×24-hour food recall. Nutritional status was determined based on BMI. Data analysis used correlation tests. Nearly half (47.3%) of the subjects had good knowledge, nearly all (89.2%) had positive attitudes, but the dietary quality of nearly all (98%) still need improvement. More than two-thirds of the subjects engaged in moderate physical activity (69%) and had suboptimal sleep duration (70%). One-fifth (20.3%) of the subjects were underweight, and one-tenth (10.9%) were overweight. Knowledge, attitudes, and healthy lifestyle practices were not significantly associated with nutritional status. Pocket money positively significantly with nutritional status (p=0.043), and food expenditure was positively significantly with energy intake (p=0.003) and fat intake (p=0.006). Physical activity significantly more frequent and longer in duration males than females.&#13;
Keywords:	diet quality, food expenditure, nutritional status, physical activity, pocket money
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Hubungan Kualitas dan Kuantitas Sarapan dengan Kadar Glukosa Darah dan Sustained Attention</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178806" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fatah, Alam Akbar Al</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178806</id>
<updated>2026-08-14T06:25:26Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hubungan Kualitas dan Kuantitas Sarapan dengan Kadar Glukosa Darah dan Sustained Attention
Fatah, Alam Akbar Al
Sarapan merupakan waktu makan penting yang menyediakan energi bagi tubuh dan otak setelah puasa semalaman. Kualitas dan kuantitas sarapan diduga memengaruhi kadar glukosa darah sebagai sumber energi utama otak dalam menjalankan fungsi kognitif, termasuk sustained attention (SA). Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kualitas dan kuantitas sarapan dengan kadar glukosa darah serta hubungan kadar glukosa darah dengan SA pada remaja. Penelitian menggunakan desain cross-sectional pada 66 siswa SMPN 1 Ciomas, Kabupaten Bogor. Data kualitas dan kuantitas sarapan diperoleh melalui food record, kadar glukosa darah diukur menggunakan glukometer metode finger-prick, dan SA diukur menggunakan Single Letter Cancellation Test (SLCT). Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dan Pearson (p&lt;0,05). Sebagian besar subjek memiliki kualitas sarapan baik (74,2%), kuantitas sarapan adekuat (54,5%), kadar glukosa darah kategori hipoglikemia (66,7%), dan SA kategori tidak tinggi (81,8%). Terdapat hubungan positif yang signifikan antara kualitas dan kuantitas sarapan (p=0,001; r=0,415). Namun, tidak terdapat hubungan antara kualitas sarapan dan kadar glukosa darah (p=0,774; r=-0,036), kuantitas sarapan dan kadar glukosa darah (p=0,483; r=0,088), maupun kadar glukosa darah dan SA (p=0,900; r=0,016). Disimpulkan bahwa kualitas sarapan berhubungan dengan kuantitas sarapan, tetapi kualitas maupun kuantitas sarapan tidak berhubungan dengan kadar glukosa darah, serta kadar glukosa darah tidak berhubungan dengan SA pada remaja.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
