<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>DT - Veterinary Science</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/92" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/92</id>
<updated>2026-06-20T11:01:52Z</updated>
<dc:date>2026-06-20T11:01:52Z</dc:date>
<entry>
<title>Studi Potensi Khasiat Senyawa Aktif Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam.) Pada Proses  Laktasi Tikus Sebagai Hewan Model</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173435" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fachruddin</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173435</id>
<updated>2026-06-16T06:10:19Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Potensi Khasiat Senyawa Aktif Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam.) Pada Proses  Laktasi Tikus Sebagai Hewan Model
Fachruddin
Anak baru lahir atau bayi membutuhkan kecukupan nutrisi yang memadai &#13;
untuk mendukung tumbuh kembangnya secara optimal. Makanan terbaik bagi bayi &#13;
adalah air susu ibu (ASI). Manfaat ASI bagi bayi antara lain untuk pertumbuhan &#13;
dan perkembangan, imunitas, kognisi, kesehatan pencernaan, dan pencegahan &#13;
risiko penyakit jangka panjang. Meskipun demikian, pemberian ASI seringkali &#13;
menghadapi berbagai tantangan. Salah satu alasan fisiologis yang menjadi kendala &#13;
utama adalah belum optimalnya kuantitas produksi ASI selama periode laktasi.&#13;
Secara fisiologis, produksi susu bergantung pada fungsionalitas sel-sel &#13;
kelenjar susu yang dirancang terutama selama masa kehamilan dan kecukupan &#13;
nutrisi untuk sintesis susu selama masa laktasi. Baik pertumbuhan dan &#13;
perkembangan kelenjar susu maupun produksi ASI sangat bergantung pada kontrol &#13;
hormonal, seperti estrogen, progesteron, prolaktin, oksitosin dan sejumlah hormon &#13;
pendukung lainnya. Kadar hormon regulator yang tidak adekuat dalam tubuh, &#13;
khususnya selama periode reproduksi akan memengaruhi perkembangan kelenjar &#13;
susu yang berdampak pada minimnya jumlah ASI yang dihasilkan. Salah satu &#13;
upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara mengonsumsi tanaman &#13;
herbal yang memiliki efek galaktagogum. Pada penelitian ini digunakan daun kelor &#13;
(Moringa oleifera) yang secara empirik dan saintifik telah terbukti mampu &#13;
meningkatkan produksi ASI. Khasiat galaktagogum daun kelor dihipotesiskan &#13;
sebagai konsekuensi biologis dari sejumlah senyawa aktif yang dikandungnya, &#13;
seperti fitoestrogen, fitosterol, dan asam lemak untuk meningkatkan hormon &#13;
reproduksi yang penting untuk mendukung mammogenesis dan laktasi. Sejauh ini, &#13;
masih belum dapat diverifikasi senyawa-senyawa spesifik apa saja yang benar-&#13;
benar bertanggung jawab dan bagaimana mekanisme aksinya dalam menjalankan &#13;
peran sebagai herbal galaktagogum.&#13;
Penelitian ini merupakan tipe eksperimental murni (pure experimental &#13;
research) dengan pendekatan multi-tahap. Tahap pertama merupakan penelitian &#13;
jenis eksploratif dan deskriptif dengan mengkarakterisasi simplisia daun kelor dan &#13;
mengidentifikasi fitokonstituen ekstrak daun kelor. Tahap kedua adalah penelitian &#13;
eksperimental murni dengan desain kelompok kontrol acak (randomized controlled &#13;
group design). Tahap ketiga adalah studi bioinformatika dengan pendekatan &#13;
Network Pharmacology (untuk identifikasi target potensial) dan Molecular &#13;
Docking (untuk verifikasi afinitas ikatan).&#13;
Penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa daun kelor mengandung &#13;
senyawa flavonoid, tanin, dan steroid dengan intensitas tinggi hingga rendah &#13;
berdasarkan pemeriksaan fitokimia kualitatif. Analisis LC-HRMS menunjukkan &#13;
perbedaan komposisi kimia dari ketiga jenis ekstrak daun kelor berdasarkan pola &#13;
kromatogram dan jumlah peak (puncak). Senyawa dominan berdasarkan persentase &#13;
area puncak darisetiap ekstrak adalah Unknown (C29H44N4O7) 8,04% dalam ekstrak &#13;
etanol (EEDK), DL-malic acid 9,27% dalam ekstrak etanol-air (EADK), dan 13-&#13;
KODE 13,47% dalam ekstrak n-Heksana. Senyawa-senyawa dalam ekstrak daun kelor memiliki potensi aktivitas biologi yang relevan dengan peningkatan performa &#13;
reproduksi mamalia betina selama masa reproduksinya.&#13;
Penelitian tahap kedua, ekstrak daun kelor diimbuhkan dalam pakan tikus &#13;
dengan dosis 53,5 mg EEDK, 36,5 mg EADK, dan 26 mg EHDK yang &#13;
disuplementasi sejak masa prakebuntingan, kebuntingan hingga laktasi. Penelitian &#13;
menunjukkan terjadinya peningkatan yang signifikan pada kinerja laktasi yang &#13;
termanifestasi melalui produksi susu yang tinggi. Respons positif ini berbanding &#13;
lurus dengan peningkatan bobot badan anak tikus selama periode laktasi. Kinerja &#13;
laktasi yang baik tidak terlepas dari dukungan kinerja reproduksi secara &#13;
keseluruhan. Dukungan ini terlihat pada masa laktasi melalui peningkatan kadar &#13;
prolaktin dan pertambahan morfometri alveoli kelenjar susu. Selain itu, terdapat &#13;
persiapan panjang sejak masa prakebuntingan hingga kebuntingan yang ditandai &#13;
dengan keteraturan siklus estrus (durasi 4,6-5,3 hari). Peningkatan estrogen dan &#13;
progesteron serta ekspresi reseptornya juga teramati secara spesifik pada kelompok &#13;
EEDK dan EHDK. Berbeda dengan kelompok EADK yang menunjukkan &#13;
gangguan hormonal (penurunan tajam estrogen dan progesteron) selama periode &#13;
kebuntingan yang berdampak pada viabilitas janin yang rendah. Capaian kinerja &#13;
reproduksi dan laktasi juga didorong oleh konsumsi pakan dan pertambahan bobot &#13;
badan induk yang menunjukkan adanya efisiensi metabolisme serta didukung oleh &#13;
profil hematologi yang berada dalam rentang sehat. Data menunjukkan tidak &#13;
adanya gangguan palatabilitas pakan, bahkan meningkat pada EHDK selama &#13;
kebuntingan. Tikus yang mengonsumsi ekstrak daun kelor juga memperlihatkan &#13;
status kesehatan yang lebih baik dengan peningkatan pada beberapa parameter &#13;
hematologi penting seperti jumlah sel darah putih (WBC), sel darah merah (RBC), &#13;
hemoglobin (HGB), hematokrit (HCT), dan rata-rata hemoglobin korpuskel &#13;
(MCH) pada masa kebuntingan. Namun demikian, nilai hematologi yang terlihat &#13;
baik pada kelompok EADK tidak sejalan dengan profil hormon yang pengaruhnya &#13;
lebih kuat pada kinerja repopduksi.&#13;
Penelitian tahap ketiga, sebanyak 21 senyawa aktif daun kelor terpilih sebagai &#13;
kandidat potensial berdasarkan seleksi Lipinski dan profil ADMET. Analisis &#13;
farmakologi jaringan menunjukkan 21 senyawa aktif berinteraksi dengan 34 protein &#13;
mammogenesis melalui jalur pensinyalan estrogen dan jalur pensinyalan prolaktin, &#13;
sementara itu ada 18 senyawa aktif yang berinteraksi dengan 30 protein laktasi &#13;
melalui jalur pensinyalan prolaktin dan jalur pensinyalan PI3K-Akt. Analisis &#13;
penambatan molekuler menunjukkan sinergi lima senyawa kunci, yaitu quercetin, &#13;
12-oxo phytodienoic acid, 13(S)-HpOTrE, 2,3-dinor-8-epi-prostaglandin F2a, dan &#13;
DL-tryptophan yang memengaruhi proses laktasi. Quercetin menunjukkan ikatan &#13;
energi terkecil (-7,4 kcal/mol) yang mendekati ligan kontrol EST (-11 kcal/mol) &#13;
pada reseptor ESR1 untuk mammogenesis, dan quercetin (-8,5 kcal/mol) berselisih &#13;
tipis dengan ligan kontrol G4H501 (-10,1 kcal/mol) pada reseptor AKT1 untuk &#13;
laktasi. Hasil ini menunjukkan potensi quercetin dan senyawa lainnya dalam &#13;
mendukung pertumbuhan dan perkembangan kelenjar susu dan meningkatkan &#13;
produksi susu melalui pemeliharaan sel-sel epitel susu (pro-survival dan anti-&#13;
apoptosis) dan peningkatan kadar prolaktin sirkulasi selama masa laktasi.; Newborns and infants require adequate nutrition to support their optimal &#13;
growth and development. Breast milk is universally recognized as the optimal &#13;
source of nutrition for infants. The benefits of breast milk for infants include &#13;
promoting growth and development, enhancing immunity, supporting cognitive &#13;
function, maintaining gastrointestinal health, and mitigating the risk of long-term &#13;
diseases. However, breastfeeding practices frequently encounter various challenges. &#13;
One of the primary physiological barriers is the suboptimal quantity of breast milk &#13;
produced during the lactation period.&#13;
Physiologically, milk production depends on the functionality of mammary &#13;
gland cells, which undergo primary development during pregnancy, as well as the &#13;
adequacy of nutritional supply for milk synthesis during lactation. Both the growth &#13;
and development of the mammary gland and subsequent breast milk production are &#13;
highly dependent on hormonal regulation, which includes estrogen, progesterone, &#13;
prolactin, oxytocin, and several other supportive hormones. Inadequate levels of &#13;
these regulatory hormones, particularly during the reproductive period, can impair &#13;
mammary gland development, ultimately resulting in insufficient breast milk yield. &#13;
One strategy to overcome this issue is the consumption of medicinal plants&#13;
exhibiting galactagogue properties. Thisstudy investigates Moringa oleifera leaves, &#13;
which have been empirically and scientifically proven to enhance breast milk &#13;
production. The galactagogue efficacy of M. oleifera leaves is hypothesized to be a &#13;
biological consequence of their active constituents—such as phytoestrogens,&#13;
phytosterols, and fatty acids—which elevate the reproductive hormones essential &#13;
for supporting mammogenesis and lactation. However, to date, the specific &#13;
compounds definitively responsible for this activity and their exact mechanisms of &#13;
action as an herbal galactagogue remain largely unverified.&#13;
This study represents pure experimental research utilizing a multi-stage &#13;
approach. The first stage is an explorative and descriptive study involving the &#13;
characterization of M. oleifera leaf simplicia and the identification of &#13;
phytoconstituents within the leaf extracts. The second stage constitutes pure &#13;
experimental research employing a randomized controlled group design. The third &#13;
stage is a bioinformatics study utilizing Network Pharmacology (to identify &#13;
potential targets) and Molecular Docking approaches (to verify binding affinities)&#13;
The first stage of the study demonstrated that Moringa leaves contain &#13;
flavonoids, tannins, and steroids with varying intensities, ranging from high to low, &#13;
based on qualitative phytochemical screening. LC-HRMS analysis revealed &#13;
differences in the chemical composition among the three types of Moringa leaf &#13;
extracts, as indicated by their chromatogram patterns and the number of peaks . &#13;
Based on the peak area percentages, the dominant compounds for each extract were &#13;
an unknown compound (C29H44N4O7) at 8.04% in the ethanol extract (EEDK), DL-&#13;
malic acid at 9.27% in the ethanol-water extract (EADK), and 13-KODE at 13.47% &#13;
in the n-hexane extract. The compounds present in the Moringa leaf extracts possess potential biological activities relevant to the enhancement of reproductive &#13;
performance in female mammals during their reproductive period.&#13;
In the second stage of the study, Moringa oleifera leaf extracts were &#13;
incorporated into the rat diets at doses of 53.5 mg for EEDK, 36.5 mg for EADK, &#13;
and 26 mg for EHDK. The supplementation was administered throughout the pre-&#13;
gestation, gestation, and lactation periods. The study demonstrated a significant &#13;
improvement in lactation performance, manifested by high milk production. This &#13;
positive response was directly proportional to the increased body weight of the rat &#13;
pups during the lactation period. This favorable lactation performance was &#13;
intrinsically supported by the overall reproductive performance. During lactation, &#13;
thissupport was evidenced by elevated prolactin levels and increased morphometric &#13;
measurements of the mammary gland alveoli. Furthermore, a prolonged preparatory &#13;
phase from pre-gestation to gestation was indicated by the regularity of the estrous &#13;
cycle (duration of 4.6–5.3 days). Increases in estrogen and progesterone levels, &#13;
along with the expression of their respective receptors, were specifically observed &#13;
in the EEDK and EHDK groups. In contrast, the EADK group exhibited hormonal &#13;
disruptions—characterized by a sharp decline in estrogen and progesterone during &#13;
the gestation period—which consequently resulted in low fetal viability. The &#13;
achievements in reproductive and lactation performance were also driven by &#13;
maternal feed consumption and body weight gain, indicating metabolic efficiency, &#13;
and were further supported by hematological profiles remaining within the healthy &#13;
range. The data indicated no impairment in feed palatability; in fact, it increased in &#13;
the EHDK group during gestation. Rats consuming the Moringa leaf extracts also &#13;
displayed improved health status, characterized by increases in several key &#13;
hematological parameters during gestation, including white blood cell (WBC) &#13;
count, red blood cell (RBC) count, hemoglobin (HGB), hematocrit (HCT), and &#13;
mean corpuscular hemoglobin (MCH). Nevertheless, the seemingly favorable &#13;
hematological values in the EADK group did not align with its hormonal profile, &#13;
which exerts a more profound impact on reproductive performance.&#13;
In the third stage of the study, 21 active compounds of Moringa leaves were &#13;
selected as potential candidates based on Lipinski's Rule of Five and ADMET &#13;
profiling. Network pharmacology analysis revealed that these 21 active compounds &#13;
interacted with 34 mammogenesis-related proteins via the estrogen and prolactin &#13;
signaling pathways. Meanwhile, 18 active compounds interacted with 30 lactation-&#13;
related proteins through the prolactin and PI3K-Akt signaling pathways. Molecular &#13;
docking analysis demonstrated the synergy of five key compounds—namely &#13;
quercetin, 12-oxo phytodienoic acid, 13(S)-HpOTrE, 2,3-dinor-8-epi-prostaglandin &#13;
F2a, and DL-tryptophan—in influencing the lactation process. Quercetin exhibited &#13;
the lowest binding energy (-7.4 kcal/mol), closely approaching that of the control &#13;
ligand EST (-11.0 kcal/mol) at the ESR1 receptor for mammogenesis. Furthermore, &#13;
the binding energy of quercetin (-8.5 kcal/mol) showed only a marginal difference &#13;
from the control ligand G4H501 (-10.1 kcal/mol) at the AKT1 receptor for lactation. &#13;
These findings underscore the potential of quercetin and other compounds in &#13;
supporting mammary gland growth and development, as well as enhancing milk &#13;
production through the maintenance of mammary epithelial cells (pro-survival and &#13;
anti-apoptotic effects) and the elevation of circulating prolactin levels during the &#13;
lactation period.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Efektivitas Antioksidan Nanopartikel Kuersetin Intranasal Sebagai Terapi Awal Pada Tikus Model Strok Iskemik</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173258" rel="alternate"/>
<author>
<name>Perdhana, Ika Satya</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173258</id>
<updated>2026-06-05T06:33:00Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Efektivitas Antioksidan Nanopartikel Kuersetin Intranasal Sebagai Terapi Awal Pada Tikus Model Strok Iskemik
Perdhana, Ika Satya
Strok iskemik masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, sehingga diperlukan upaya pengembangan model penelitian dan terapi yang lebih efektif. Penelitian ini dilakukan secara bertahap, dimulai dari pengembangan model hewan strok iskemik hingga evaluasi terapi potensial berbasis antioksidan kuersetin yang dihantarkan secara intranasal menggunakan sistem nanopartikel.&#13;
Pada tahap pertama, dilakukan pembuatan hewan model strok iskemik dengan metode Middle Cerebral Artery Occlusion (MCAO) yang dimodifikasi agar lebih sederhana dan ekonomis. Modifikasi dilakukan menggunakan kateter intravena sebagai okluder arteri serebri media pada tikus Sprague Dawley. Hasil pengamatan klinis menggunakan skala Bederson menunjukkan adanya gangguan fungsi motorik pada kelompok induksi, sedangkan pemeriksaan histopatologi memperlihatkan peningkatan kematian sel saraf, yang menegaskan keberhasilan pembentukan model stroke iskemik. Tahap berikutnya meliputi pengembangan dan karakterisasi nanopartikel albumin berlapis polydopamine (Quercetin–Albumin–Polydopamine Nanoparticles, Q-Alb-PDA NPs) sebagai sistem penghantaran kuersetin melalui rute intranasal. Nanopartikel yang dihasilkan memiliki ukuran seragam (~200 nm), efisiensi penjerapan tinggi (±86%), profil pelepasan obat bertahap hingga 96 jam, serta biokompatibilitas tinggi. Pelapisan polydopamine meningkatkan penyerapan seluler&#13;
dan retensi mukosa hidung, yang berpotensi meningkatkan penetrasi ke otak.&#13;
Pada tahap terakhir, dilakukan evaluasi efek neuroprotektif kuersetin yang diberikan secara intranasal pada tikus model strok iskemik. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan signifikan pada fungsi motorik, penurunan jumlah neuron yang mengalami nekrosis, serta penurunan kadar malondialdehid (MDA) dan peningkatan aktivitas superoksida dismutase (SOD) pada jaringan otak dan serum.&#13;
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa modifikasi metode MCAO dapat digunakan untuk menghasilkan model hewan stroke iskemik yang andal, dan bahwa pemberian kuersetin dalam bentuk nanopartikel albumin berlapis polydopamine melalui rute intranasal memiliki potensi besar sebagai terapi awal strok iskemik melalui mekanisme antioksidan dan neuroprotektif.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Identifikasi dan Karakterisasi Variasi Genetik Virus African Swine Fever yang Bersirkulasi di Indonesia Tahun 2021-2023</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172164" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ratnawati, Atik</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172164</id>
<updated>2026-01-20T03:52:53Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Identifikasi dan Karakterisasi Variasi Genetik Virus African Swine Fever yang Bersirkulasi di Indonesia Tahun 2021-2023
Ratnawati, Atik
African swine fever (ASF) merupakan penyakit hemoragik virus yang menyerang babi domestik dan babi liar. ASF  muncul di Indonesia sejak tahun 2019. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menentukan genotipe virus ASF yang beredar di Indonesia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa virus ASF penyebab wabah di Indonesia termasuk dalam genotipe II, genotipe yang paling dominan di Indonesia. Namun, studi literatur memberikan informasi terbatas tentang sifat molekuler dan epidemiologi virus ini. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memberikan informasi lebih lanjut tentang karakterisasi in vitro dan genetik serta variasi strain virus ASF yang bersirkulasi di Indonesia. Penyakit ASF disebabkan oleh virus DNA beruntai ganda berukuran antara 170 sampai dengan 190 kb termasuk ke dalam famili Asfarviridae dan genus Asfivirus. Penularan virus ASF ke babi domestik yang sehat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau cairan tubuh dan bangkai hewan yang terinfeksi, atau melalui kontak tidak langsung dengan material yang terkontaminasi atau melalui konsumsi produk yang terkontaminasi, termasuk swill feeding. Karakteristik genetik yang stabil dari genotipe II memberikan dasar penting untuk pengembangan strategi pengendalian dan pencegahan yang lebih terfokus. Terkait dengan kondisi ini, penelitian ini memiliki tujuan umum untuk mengidentifikasi karakter variasi genetik virus ASF yang bersirkulasi di Indonesia tahun 2021-2023.&#13;
Penelitian pertama bertujuan menentukan sirkulasi genotipe II dan variasi genetik dari virus ASF representatif penyebab wabah di Indonesia pada tahun 2021–2023. Hasil qPCR mengonfirmasi DNA virus ASF pada 33 sampel klinis dari organ dan sampel usap yang dikumpulkan dari tiga provinsi berbeda. Analisis filogenetik menunjukkan bahwa kelima sampel virus ASF terpilih dari Kota Berau (Provinsi Kalimantan Timur), Kota Pematang Siantar (Provinsi Sumatera Utara), dan Kota Kupang (Provinsi NTT) tergolong genotipe II berdasarkan gen B646L (p72) dan E183L (p54). Hasil analisis asam amino gen E183L (p54) menunjukkan bahwa dua sampel Indonesia, yaitu IDN/2022/Pig/PSJ dan IDN/2022/Pig/PSB, memiliki variasi genetik berupa insersi lima asam amino (PVTDN). Analisis sekuens IGR antara gen I73R/I329L, khususnya pada TRS yang menampilkan motif GGAATATATA, menunjukkan bahwa varian IGR II bersirkulasi di tiga provinsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strain virus ASF yang beredar di Provinsi Kalimantan Timur, Sumatera Utara, dan NTT di Indonesia selama wabah 2021–2023 menunjukkan keragaman genetik yang rendah dan menunjukkan stabilitas genetik di wilayah-wilayah tersebut. Variasi genetik diamati dalam bentuk insersi lima asam amino (PVTDN) berdasarkan gen E183L (p54) pada dua sampel Indonesia dari Provinsi Sumatera Utara. Kesamaan genetik antar sampel ASFV di Indonesia pada IGR II antara gen I73R/I329L dengan motif GGAATATATA adalah 100% identik di seluruh sampel Indonesia, yang mengonfirmasi stabilitas genetik di wilayah-wilayah tersebut. &#13;
Penelitian kedua bertujuan untuk identifikasi karakteristik hasil propagasi virus ASF secara in vitro dan respon sel leukosit terhadap inokulasi virus ASF. Propagasi virus ASF dilakukan dengan menginokulasikan sampel lapang asal Sumatra Utara dengan kode IDN/2022/Pig/PSJ ke kultur sel primer leukosit babi yang konfluen (70-80%). Pengamatan morfologi sel dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya setiap 24, 48, 72, 96,120, 144, and 164 jam pasca inokulasi (jpi). Sampel lapang dari kultur sel primer leukosit babi dipurifikasi dengan menggunakan metode Percoll. Pelet virus di deteksi virus ASF dengan menggunakan uji qPCR. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan morfologis pada sel primer leukosit yang terinfeksi, dengan adanya reaksi hemadsorpsi (HAD) yang teramati pada 48 jpi, dibandingkan dengan sel kontrol yang tidak terinfeksi. Pengikatan eritrosit babi ke permukaan sel yang terinfeksi virus ASF, membentuk rosette-like structure. Reaksi hemadsorpsi (HAD) dapat diamati setelah 2 kali blind passage. Purifikasi virus ASF menggunakan Percoll dapat meningkatkan kemurnian virus yang ditandai dengan nilai Ct yang lebih rendah dibandingkan dengan supernatant hasil kultur sel primer leukosit babi. &#13;
Penelitian ketiga bertujuan mendeteksi koinfeksi virus ASF dengan virus CSF atau Salmonella pada sampel babi di Indonesia menggunakan metode multiplex qPCR. Sebanyak 33 organ dan swab sampel klinis yang dikoleksi dari Kota Berau (Provinsi Kalimantan Timur), Kota Pematang Siantar (Provinsi Sumatera Utara), dan Kota Kupang (Provinsi NTT) antara tahun 2021–2023 dideteksi menggunakan multiplex qPCR. Hasil multiplex qPCR mengonfirmasi positif  virus ASF pada 33 sampel berdasarkan gen B646L (p72) dan tidak ada virus CSF atau bakteri Salmonella yang dideteksi positif. Tidak adanya koinfeksi virus CSF atau bakteri Salmonella dalam sampel ini menunjukkan bahwa virus ASF adalah patogen utama yang bertanggung jawab atas kasus klinis yang diuji.&#13;
Penelitian keempat bertujuan mengidentifikasi kontaminasi virus ASF pada produk daging babi yang dibawa oleh wisatawan internasional ke Indonesia, dan jalur potensial masuknya ASF ke Indonesia. Koleksi sampel dilakukan pada produk daging babi yang disita di tiga bandara internasional di Indonesia dari tahun 2019 hingga 2020 . Deteksi virus ASF menggunakan qPCR TaqMan yang menargetkan gen B646L (p72), diikuti dengan sekuen gen B646L (p72) dan E183L (p54) untuk karakterisasi molekuler. Analisis filogenetik dilakukan untuk membandingkan strain virus ASF lokal dengan strain global. Di antara 29 sampel yang disita, dua produk daging babi asal China dinyatakan positif virus ASF. Produk-produk ini diidentifikasi sebagai genotipe II, konsisten dengan strain dari Afrika, Eropa, dan Asia. Analisis sekuens mengonfirmasi hubungan genetik yang erat antara strain Indonesia dengan isolat virus ASF genotipe II global, seperti yang berasal dari China, Vietnam, dan Georgia.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Aktivitas Biomolekul Dan Formulasi Sediaan Antiinflamasi Dari Mukus Bekicot Lissachatina fulica</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172153" rel="alternate"/>
<author>
<name>Supiyani, Atin</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172153</id>
<updated>2026-01-20T03:28:53Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Aktivitas Biomolekul Dan Formulasi Sediaan Antiinflamasi Dari Mukus Bekicot Lissachatina fulica
Supiyani, Atin
Mukus bekicot Lissachatina fulica secara etnozoologi telah digunakan sebagai obat alamiah, namun efektivitasnya bergantung pada kandungan senyawa aktif hasil biosintesis makromolekul dari pakan yang dikonsumsi bekicot. Lissachatina fulica, sebagai detritivora, mengonsumsi materi organik yang dapat terkontaminasi dengan mikroplastik seperti polistirena. Penelitian ini bertujuan utama untuk mengkaji perubahan kandungan biomolekul dalam musin bekicot setelah diberi pakan berupa sampah organik dan polistirena. Perlakuan polistirena dipilih untuk menguji hipotesis bahwa paparan polistirena dapat mengubah jalur biosintesis musin dan memengaruhi penyerapannya, yang pada akhirnya berdampak pada efikasi dan keamanan produk hilirnya. Sebagai aplikasi lanjut, penelitian ini juga akan memvalidasi secara in vivo melalui uji keamanan dan efikasi sediaan krim musin pada model dermatitis atopik (DA) mencit.&#13;
Penelitian tahap 1 meliputi standarisasi bahan baku dan perlakuan pakan pada bekicot, melalui identifikasi spesies dan budi daya bekicot Lissachatina fulica hingga stadia juvenil III, yang digunakan sebagai bekicot percobaan. Sebanyak 50 ekor bekicot juvenil III dibagi menjadi 2 kelompok pakan, yaitu pakan sampah organik (PO) (kacang panjang dan kulit melon) dan pakan sampah organik (kacang panjang dan kulit melon) kombinasi polistirena (POP) diberikan ad libitum selama 28 hari. Parameter meliputi pertumbuhan, karakteristik mukus, analisis proksimat pakan dan daging bekicot, serta analisis histologi sel mukus yang diwarnai dengan Periodic Acid Schiff-Alcian Blue (PAS-AB). Tahap 2 dilakukan analisis protein mukus dan network pharmacology (NP). Mukus di-freeze-dried pada suhu -53 ºC selama 72 jam menghasilkan musin. Protein musin diidentifikasi dengan LC-MS,&#13;
dilanjutkan dengan analisis in silico menggunakan basis data bioinformatika (PubChem, SwissTargetPrediction, STRING) untuk memprediksi target protein dan interaksi protein-protein target. Visualisasi menggunakan software Cytoscape 3.10.4 untuk memprediksi mekanisme kerja protein musin. Kelompok musin bekicot dengan mekanisme terbaik dalam patogenesis DA akan dipilih dan digunakan dalam uji in vivo.&#13;
Tahap 3 adalah uji in vivo, dimulai dengan pembuatan krim musin. Uji yang dilakukan meliputi uji toksisitas akut dermal (Fixed Dose Method dosis 0, 5, dan 10% selama 14 hari) dan uji efikasi pada dermatitis atopik (DA) yang diinduksi 2,4- dinitrochlorobenzena (DNCB) 1% pada mencit jantan strain BALB/c usia 2 bulan. Uji efikasi dilakukan pada lima kelompok perlakuan terdiri atas (1) kontrol negatif (DNCB); (2) kontrol positif (deksametason); (3) basis krim; (4) krim musin 5%; dan (5) krim musin 10% selama 7 hari. Parameter diukur pada hari ke-0, 3, 5, dan 7 meliputi penilaian skor Atopic Dermatitis Severity Index (ADSI), analisis histologi dermis, aktivitas imunologis (sel-sel peradangan, ekspresi interleukin-1b), dan profil hematologi. Data kuantitatif dianalisis dengan uji t-independen untuk pertumbuhan bekicot; dan data lainnya menggunakan uji Two-way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Tukey (p&lt;0,05). Data kualitatif dianalisis secara deskriptif.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan kelompok POP memiliki pertambahan bobot dan konsumsi pakan lebih rendah dibandingkan kelompok PO (p&lt;0,05). Analisis proksimat pakan POP mengandung protein dan lemak yang lebih rendah, namun memiliki serta kasar yang jauh lebih tinggi dari pakan PO. Sementara itu, proksimat daging bekicot menghasilkan peningkatan kadar protein dan lemak kasar pada kelompok POP. Karakteristik mukus kelompok POP lebih berpigmen, berbusa, dan memiliki viskositas serta pH yang lebih tinggi dibanding PO. Secara histologi, jumlah sel penghasil mukus pada kelompok POP rendah signifikan (p&lt;0,05) pada area anterior-dorsal, anterior-ventral, dan posterior-ventral, dengan jumlah sekresi mukus asam di area dorsal dan mukus netral-asam di area ventral. Hasil analisis LC-MS menunjukkan bahwa pakan memengaruhi keragaman protein musin. Musin PO memiliki 61 protein dan 617 ligan protein yang lebih banyak dibandingkan musin POP (26 protein dan 291 ligan). Analisis network pharmacology (NP) musin PO memiliki mekanisme yang lebih kompleks dalam patogenesis DA. Dua jalur utama yang beririsan dengan patogenesis DA dan kerja deksametason yaitu CCL2 dan TNF. Tiga protein musin, yaitu macamide dan N-benzyloleamide menginhibisi jalur CCL2 dan eplerenone menginhibisi jalur TNF. Sementara itu, musin POP hanya melibatkan protein eplerenone sebagai inhibitor TNF.&#13;
Hasil uji toksisitas akut dermal menunjukkan sediaan krim musin bekicot bersifat aman, tanpa menimbulkan gejala toksik seperti iritasi kulit, pembengkakan, tremor, atau perubahan bobot organ. Pada uji efikasi, kelompok deksametason dan musin bekicot menunjukkan penurunan skor ADSI di bawah 2 pada hari ke-5 (p&lt;0,05) dibandingkan kelompok DNCB. Secara histologis, ketebalan lapisan epidermis kembali normal pada kelompok deksametason dan musin pada hari ke-7 (p&lt;0,05). Analisis imunologi menunjukkan kelompok musin 5% meningkat signifikan jumlah sel makrofag dan sel mast pada hari ke-5 (p&lt;0,05), serta terjadi peningkatan jumlah sel netrofil di atas nilai normal, sementara sel limfosit menurun pada hari ke-3 dan dalam kisaran normal (p&lt;0,05). Ekspresi IL-1b menunjukkan perbedaan yang signifikan antarkelompok dan antarhari perlakuan (p&lt;0,05).&#13;
Berdasarkan hasil penelitian membuktikan bahwa pakan sampah organik-polistirena (POP) secara signifikan memengaruhi bekicot. Perlakuan ini tidak hanya menurunkan pertumbuhan dan memengaruhi karakteristik mukus, tetapi juga mengakibatkan perubahan pada komposisi dan jumlah protein dalam musin. Secara mekanistik, protein dalam musin bekicot dari kedua kelompok pakan (PO dan POP) dapat menginhibisi jalur CCL2 dan TNF yang berperan penting sebagai aktivator sel-sel peradangan dan apoptosis pada DA. Efikasi ini dibuktikan pada uji in vivo, bahwa pemberian krim musin bekicot menyebabkan penurunan cepat gejala klinis (skor ADSI &lt; 2 pada hari ke-5). Respons ini sejalan dengan pola perbaikan dan resolusi inflamasi melalui aktivitas sel makrofag dan sel mast, serta ekspresi interleukin-1b pada jaringan kulit yang mengindikasikan respons imun cepat terhadap DA. Sementara itu, aktivitas sel netrofil dan limfosit merupakan bentuk respons inflamasi akut dan resolusi peradangan yang diinisiasi oleh musin. Secara keseluruhan, musin bekicot Lissachatina fulica yang diberi pakan sampah organik menghasilkan senyawa biomolekul yang efektif dan aman sebagai kandidat pengobatan topikal untuk dermatitis atopik.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
