<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>DF - Veterinary Science</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/92" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/92</id>
<updated>2026-09-23T19:09:19Z</updated>
<dc:date>2026-09-23T19:09:19Z</dc:date>
<entry>
<title>Studi Pengembangan Pengencer Semen Sapi Berbasis Nabati Menggunakan Nano Liposom dari Lesitin Kedelai</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178073" rel="alternate"/>
<author>
<name>Gunawan, Muhammad</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178073</id>
<updated>2026-08-10T15:05:08Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Pengembangan Pengencer Semen Sapi Berbasis Nabati Menggunakan Nano Liposom dari Lesitin Kedelai
Gunawan, Muhammad
Liposom untuk mengatasi keterbatasan tersebut, telah diperkenalkan sebagai pengencer alternatif selain pengencer konvensional yang berasal dari hewan. Liposom menguntungkan karena biokompatibilitas, biodegradabilitas, dan sifatnya yang tidak beracun. Ukuran skala nano dan sifat amfifiliknya memungkinkan pembentukan spontan vesikel bilayer yang mampu mengkapsulasi dan mengirimkan senyawa bioaktif. Penerapan nanoteknologi dalam biologi reproduksi memanfaatkan karakter fisikokimia yang khas ini untuk meningkatkan kriopreservasi sperma.&#13;
Pengencer komersial berbasis liposom meskipun telah tersedia, namun masih impor. Pengembangan pengencer lesitin nabati yang terstandarisasi, seperti nanoliposom (NL) yang berasal dari kedelai, merupakan langkah penting untuk meningkatkan kualitas semen, keamanan bahan biologis, dan penyimpanan jangka panjang dalam program pembibitan ternak di Indonesia.&#13;
Penelitian ini terbagi beberapa tahap. Tahap pertama bertujuan untuk melakukan analisis partikel lesitin pada pengencer buatan sendiri dan komersial, menggunakan deteksi parameter pola pergerakan sistem Computer Assisted Sperm Analyzer (CASA) dan ukuran partikel pengencer dengan Particle Size Analyzer (PSA). Pengencer yang digunakan dalam penelitian ini adalah Tris Kuning Telur (TKT), Andromed® (Minitube, Jerman), Bovifree® (Minitube, Jerman), OptiXcell® (IMV, Prancis), dan BioXcell® (IMV, Prancis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengencer Tris kuning telur memiliki rentang ukuran partikel terluas, dari 584,5 ± 2,2 nm hingga 3255,7 ± 48,84 nm, ukuran partikel yang besar ini terdeteksi oleh sistem CASA. Pengencer komersial dengan ukuran partikel terkecil adalah OptiXcell® (64,6 ± 2 nm), diikuti oleh BioXcell® (186,2 ± 2,2 nm), Andromed® (245,7 ± 2,8 nm) dan Bovifree® (278,5 ± 2,5 nm), sehingga tidak terdeteksi oleh sistem CASA.&#13;
Penelitian kedua bertujuan untuk mengembangkan nanoliposom dari lesitin kedelai menggunakan proses sonikasi dan ultrasentrifugasi. Evaluasi ukuran, kestabilan dan keseragaman distribusi ukuran partikel nanoliposom dengan PSA. Pembuatan Nano Liposom (NL) menggunakan metode probe sonikasi dengan variasi interval waktu 15, 30 dan 45 menit. Partikel NL yang dioptimalkan pada&#13;
sonikasi selama 45 menit menunjukkan ukuran partikel rata-rata 76±1,95 nm dan kestabilan potensial zeta -43,2±0,25 mV, yang mengkonfirmasi stabilitas elektrostatik yang tinggi dan dispersi koloid yang baik. Keseragaman distribusi ukuran partikel atau Polydispersity Index (PDI) sebesar 0,399±0,020 menunjukkan distribusi ukuran partikel cukup homogen dan stabil (moderat monodisperse). Penilaian morfologi pada partikel NL hasil sonikasi selama 45 menit menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dan High Resolution Electron Transmission Microscope (HR-TEM) memperlihatkan adanya nanovesikel unilamelar berbentuk bulat yang mampu berinteraksi secara dinamis dengan membran sperma.&#13;
Penelitian ketiga bertujuan memformulasikan pengencer tris dengan nano liposom sebagai pengencer spermatozoa sapi. Perlakuan formulasi pengencer tris dengan konsentrasi nanoliposom 5, 10, 15, 20 dan 25 mg/mL, dengan parameter yang diamati pada nilai pH, osmolalitas, ukuran dan kestabilan partikel. Formulasi pengencer Tris Nano Liposom (TNL) pada konsentrasi 5-10 mg/mL mampu mempertahankan pH yang normal (6,5–7,5), osmolalitas yang normal (280–320 mOsmol/kg), ukuran partikel nano kurang dari 100 nm dan kestabilan partikel nano lebih kecil dari -30 mV. Nilai Polydispersity Index (PDI) sebesar 0,356-0,395 menunjukkan distribusi ukuran partikel cukup homogen dan stabil (moderat monodisperse). Pengencer TNL selama proses ekuilibrasi dan evaluasi setelah thawing, menunjukkan parameter motilitas total, motilitas progresif, viabilitas, dan kinematik sperma (Velocity curved line (VCL), Velocity straight line (VSL), Velocity average path (VAP), Beat cross frequency (BCF), dan Amplitude of lateral head displacement (ALH)) signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol TKT (P&lt;0,05). Hasil Scanning Electron Microscope (SEM) mengkonfirmasi peningkatan integritas plasma membran dan berkurangnya kelainan pada morfologi dan topografi permukaan sperma yang dikriopreservasi menggunakan TNL. Formulasi TNL 10 mg/mL mampu melindungi akrosom, membran plasma, membran mitokondria dan berkurangnya fragmentasi DNA sperma, menunjukkan perlindungan yang lebih baik terhadap kerusakan akibat proses pembekuan dan thawing.&#13;
Penelitian keempat bertujuan mengevaluasi efektivitas pengencer TKT dan TNL 10 mg/mL dalam mempertahankan kualitas semen beku sapi bali setelah thawing dari uji coba produksi di BBIB Singosari dan BIBD Riau. Untuk meneliti hubungan antar parameter dan evaluasi perbedaan kelompok antar pengencer, dilakukan analisis korelasi, Principal Component Analysis (PCA) dan Partial Least Squares–Discriminant Analysis (PLS-DA). Kedua jenis pengencer mampu mempertahankan kualitas sperma setelah thawing dengan baik, tanpa perbedaan signifikan (P&gt;0,05) pada motilitas total, viabilitas, integritas membran, integritas akrosom, dan fragmentasi DNA. Parameter kinematika juga tetap berada dalam kisaran optimal, yang menunjukkan bahwa pola gerak progresif dan kurvilinear tetap terjaga. Analisis multivariat (PCA dan PLS-DA) mengidentifikasi motilitas dan integritas membran sebagai kontributor utama variasi kualitas semen secara keseluruhan. Pengencer TNL menghasilkan respons yang lebih stabil dan homogen dibandingkan TKT. Pengencer TNL menunjukkan performa krioprotektif yang sebanding dengan pengencer TKT konvensional, sekaligus memberikan keunggulan tambahan berupa kejernihan, biosekuriti yang lebih baik, dan standarisasi komposisi. Karakteristik ini menonjolkan TNL sebagai alternatif yang layak dan berkelanjutan untuk kriopreservasi semen sapi serta mendukung&#13;
potensinya untuk penerapan yang lebih luas dalam program inseminasi buatan (IB).&#13;
Penelitian kelima bertujuan untuk mengetahui kualitas pengencer TNL 10 mg/mL dibandingkan dengan pengencer komersial yaitu: Andromed®, Bovifree® dan OptiXcell®. Hasil evaluasi kualitas semen setelah pembekuan diperoleh motilitas, progresif, kinematik dan keutuhan membran plasma berbeda nyata lebih tinggi (P&lt;0,05) pada pengencer TNL 10 mg/mL dibandingkan pengencer komersial. Pengencer TNL 10 mg/mL mampu mempertahankan kualitas semen setelah pembekuan dan dapat digunakan untuk program inseminasi buatan (IB).&#13;
Hasil penelitian menyimpulkan pengencer TNL 10 mg/mL menghasilkan respons yang lebih stabil dan homogen, menunjukkan performa krioprotektif yang sebanding dengan pengencer TKT. Keunggulan tambahan berupa kejernihan, biosekuriti yang lebih baik, dan standarisasi komposisi. Karakteristik dari TNL sebagai alternatif pengencer yang layak dan berkelanjutan untuk kriopreservasi semen sapi serta mendukung potensinya untuk penerapan yang lebih luas dalam program pembibitan ternak sapi di Indonesia.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Studi Genomik Resistansi Antimikrob terhadap Escherichia coli pada Interface Manusia, Hewan, dan Lingkungan dalam Ekosistem Tempat Pemotongan Babi di Provinsi Banten</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177781" rel="alternate"/>
<author>
<name>Saskito, Dinda Iryawati Bedy</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177781</id>
<updated>2026-08-08T00:24:50Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Genomik Resistansi Antimikrob terhadap Escherichia coli pada Interface Manusia, Hewan, dan Lingkungan dalam Ekosistem Tempat Pemotongan Babi di Provinsi Banten
Saskito, Dinda Iryawati Bedy
Resistansi antimikrob (AMR) merupakan ancaman kesehatan global yang melibatkan manusia, hewan, dan lingkungan. Bakteri Escherichia coli (E. coli) menjadi indikator penting untuk surveilans AMR dalam kerangka One Health, karena kemampuannya membawa dan mempertahankan berbagai gen resistansi antimikrob (ARG). Tempat pemotongan babi (TPB) merupakan ekosistem dengan interaksi manusia-hewan-lingkungan yang intensif sehingga berpotensi berperan dalam dinamika AMR. Penelitian ini bertujuan mengkaji profil ARG, distribusi lokasi gen resistansi, kekerabatan filogenetik, serta keterkaitan antara resistom dan filogenom E. coli pada ekosistem TPB di Provinsi Banten menggunakan pendekatan whole-genome sequencing (WGS).&#13;
Penelitian diawali dengan tinjauan sistematis terhadap 3.550 artikel, yang menghasilkan 13 studi memenuhi kriteria inklusi. Hasil sintesis menunjukkan bahwa ampisilin merupakan antimikrob dengan resistansi fenotipik tertinggi, sedangkan gen blaTEM dan sul1 ditemukan secara konsisten pada seluruh studi. Sementara itu, penelitian yang dilakukan pada ekosistem TPB di Provinsi Banten menunjukkan bahwa analisis terhadap 94 isolat E. coli manusia mengidentifikasi 30 ARG dari 10 kelas antimikrob, dengan variasi terbanyak berasal dari kelompok beta-laktam dan didominasi oleh gen blaEC.&#13;
Analisis filogenetik terhadap 114 genom E. coli yang berasal dari manusia, lantai TPB, dan efluen TPB menunjukkan adanya kedekatan kekerabatan genetik pada sebagian isolat dari sumber yang berbeda. Selain informasi kekerabatan genetik, analisis genomik juga memberikan gambaran mengenai distribusi ARG dalam ekosistem TPB. Sebanyak 42 ARG yang tergolong dalam 12 kelas antimikrob, dengan tujuh kelas antimikrob ditemukan beririsan antar sumber. Integrasi data filogenetik dan profil ARG menunjukkan bahwa beberapa isolat yang berkerabat dekat memiliki profil ARG yang serupa.&#13;
Karakterisasi lokasi ARG menunjukkan pola yang berbeda antar sumber. Pada isolat manusia, ARG lebih banyak ditemukan pada kromosom, sedangkan pada isolat lantai TPB dan efluen TPB ARG lebih dominan berada pada plasmid. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan karakteristik keberadaan ARG pada masing-masing kompartemen dalam ekosistem TPB. Sejalan dengan temuan tersebut, potensi multidrug resistance (MDR) tertinggi ditemukan pada isolat lantai TPB (90%), diikuti efluen TPB (40%) dan manusia (12,8%).&#13;
Penelitian ini menunjukkan integrasi informasi genomik dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika AMR pada ekosistem TPB. Hasil tersebut menegaskan pentingnya penguatan surveilans genomik dan pengendalian AMR melalui pendekatan One Health yang didukung oleh komunikasi, kolaborasi, koordinasi, dan penguatan kapasitas lintas sektor.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Disertasi a.n Haslinda DS (B3601211009)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176304" rel="alternate"/>
<author>
<name>DS, Haslinda</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176304</id>
<updated>2026-07-29T15:06:47Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Disertasi a.n Haslinda DS (B3601211009)
DS, Haslinda
Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi meningkatkan kebutuhan energi dan konsumsi oksigen, yang pada gilirannya memicu pembentukan reactive oxygen species (ROS). Ketika produksi ROS melebihi kapasitas antioksidan endogen, stres oksidatif dapat terjadi, mengganggu homeostasis metabolik, meningkatkan inflamasi, mempercepat kelelahan, dan menurunkan performa fisik. Salah satu strategi untuk meminimalkan kondisi ini adalah pemberian antioksidan alami sebelum berolahraga (pre-exercise). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguji potensi ekstrak buah lontar sebagai suplemen kebugaran tubuh melalui normofungsi gula darah dan stres sistemik pre-exercise. Secara khusus, penelitian ini dilakukan untuk membuktikan ekstrak buah lontar yang dapat menjaga kebugaran tubuh saat olahraga dapat diberikan melalui aplikasi pre-exercise, menganalisis profil bahan aktif pada ekstrak buah lontar sebagai suplemen kebugaran tubuh, mengidentifikasi kriteria dan indikator kebugaran yang dapat dipertahankan oleh suplementasi bahan berkhasiat buah lontar secara in vivo, serta mengidentifikasi mekanisme fisiologi dan farmakologi dari bahan berkhasiat yang dapat menjaga kebugaran tubuh saat olahraga melalui aplikasi pre-exercise.&#13;
Simplisia buah tua lontar dianalisis proksimat dan dimaserasi menggunakan pelarut polar (etanol 70% dan metanol) dan pelarut non-polar (n-heksana) selama 14 – 16 jam diaduk menggunakan shaker dengan agitasi 150 rpm untuk mendapatkan ekstrak kental. Ekstrak kental masing-masing kemudian diuji aktivitas antioksidan dengan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil (DPPH) dan dianalisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Hasil dari DPPH akan dipilih satu ekstrak yang terbaik aktivitas antioksidannya untuk selanjutnya diuji in vivo. Sebanyak 36 ekor tikus jantan galur Sprague-Dawley dibagi ke dalam 9 kelompok perlakuan dengan masing-masing kelompok perlakuan diwakili oleh 3 ekor, tambahan 3 ekor untuk database, dan tambahan 6 ekor sebagai cadangan: (1) kontrol normal (N), (2) kontrol negatif (C-) renang 5 menit, (3) kontrol negatif (C-) renang 15 menit, (4) kontrol positif (C+) renang 5 menit, (5) kontrol positif (C+) renang 15 menit, (6) Dosis 1 (D1) renang 5 menit, (7) Dosis 1 (D1) renang 15 menit, (8) Dosis 2 (D2) renang 5 menit, (9) Dosis 2 (D2) renang 15 menit. Pemberian ekstrak dilakukan per oral 1 kali/hari sebanyak 1 mL sebelum olahraga selama 14 hari. Tikus diberi perlakuan renang gaya bebas pada jam 9 sampai 10 pagi dengan durasi 5 dan 15 menit pada hari ke-1, 7, dan 14. Bobot badan dan gula darah diukur pada hari ke-0, 1, 7, 14, dan 15. Profil hematologi diukur pada hari ke-0 dan 15, rasio neutrofil-limfosit (NLR) dan Blood Urea Nitrogen (BUN) diukur pada hari ke-15, serta lama renang diukur pada hari ke-1, 7, dan 14. Analisis statistik menggunakan uji One-way ANOVA (aktivitas antioksidan), Two-way Repeated Measure ANOVA (bobot badan, gula darah, dan profil hematologi), dan Two-way ANOVA (NLR dan BUN) yang dilanjutkan dengan uji Tukey (p&lt;0,05).&#13;
Penelitian tahap 1 analisis proksimat dan pengujian aktivitas antioksidan. Hasil uji proksimat, kandungan karbohidrat yang sangat dominan sebesar 78,61%. Nilai energi bruto sebesar 3762 kal/gram, kadar air sebesar 11,89%, abu sebesar 2,30%, lemak kasar sebesar 0,69%, protein kasar 6,51%, dan serat kasar sebesar 3,17%. Aktivitas antioksidan dalam ekstrak buah lontar diukur dengan metode DPPH. Masing-masing ekstrak  buah lontar dengan berbagai konsentrasi (0,05 mg/mL, 0,1 mg/mL, 0,15 mg/mL, 0,25 mg/mL, 0,3 mg/mL, 0,35 mg/mL, dan 0,4 mg/mL). Perbandingan efektivitas ketiga pelarut (etanol, metanol, dan n-heksana) pada konsentrasi 0,40 mg/mL mencapai 59,25%, 53,69%, dan 64,27%. Aktivitas antioksidan yang dihasilkan oleh ekstrak n-heksana mencapai 64.27%, sedangkan ekstrak etanol dan metanol masing-masing menghasilkan 59.25% dan 53.69%. Hasil pengujian IC50 mengkonfirmasi temuan aktivitas antioksidan, di mana n-heksana dan etanol merupakan pelarut dengan IC50 terendah, yaitu dengan konsentrasi 0.23 ± 0.02 mg/mL dan 0.24 ± 0.03 mg/mL. Nilai IC50 pelarut metanol sebesar 0.37 ± 0.27 mg/mL, menegaskan kembali bahwa n-heksana dan etanol adalah pelarut yang paling efisien. &#13;
Tahap 2 adalah analisis fitokimia menggunakan metode GC-MS. Berdasarkan nilai % area, terdapat perbedaan senyawa dominan pada masing-masing ekstrak. Pada ekstrak etanol senyawa dengan kontribusi terbesar antara lain n-Hexadecanoic acid, 9,12-Octadecadienoic acid (Z,Z)-, methyl ester, 9-Octadecenoic acid (Z)-, methyl ester, dan Hexadecanoic acid, methyl ester. Ekstrak metanol menunjukkan dominasi senyawa seperti n-Hexadecanoic acid, Oleic acid, ?-Sitosterol, dan Octadecanoic acid. Sementara itu, ekstrak n-heksana didominasi oleh senyawa nonpolar seperti ?-Sitosterol, 1-Norvaline, N-(2-methoxyethoxycarbonyl)-, hexadecyl ester, serta beberapa senyawa aromatik. Berdasarkan hasil karakterisasi kimia menggunakan GC–MS serta uji potensi antioksidan, ekstrak buah lontar dengan pelarut etanol menunjukkan profil senyawa fitokimia yang representatif dan aktivitas fungsional yang baik. Oleh karena itu, ekstrak etanol dipilih sebagai sampel yang digunakan pada tahapan pengujian in vivo. &#13;
Tahap 3 adalah uji in vivo, pemberian ekstrak buah lontar pre-exercise menunjukkan kelompok D2 (15 menit) secara signifikan (p&lt;0,05) mengalami peningkatan bobot badan pada hari ke-15 (251 g), mampu mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran fisiologis, menjaga profil hematologi tetap normal, penurunan NLR (0,43) sebagai indikator stres sistemik, serta kadar BUN pada D1 (15 menit) rendah (17 mg/dL) sehingga mengindikasikan berkurangnya katabolisme protein selama aktivitas fisik. Kelompok yang memperoleh ekstrak D2 juga menunjukkan kemampuan mempertahankan kondisi fisiologis dan daya tahan fisik yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Simpulan pada penelitian ini adalah pemberian ekstrak etanol buah tua lontar pre-exercise terbukti memiliki nutrisi yang kaya energi dan profil bahan aktif sebagai antioksidan sehingga kadar gula darah, profil hematologi, NLR, dan BUN pada hewan tikus dapat terjaga secara normal, serta meningkatkan daya tahan renang pada tikus.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Efek suplementasi Gracilaria sp. terhadap ekspresi insulin pankreas pada tikus model obesitas</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174622" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ajis, Fikri Alsidik</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174622</id>
<updated>2026-07-15T02:10:39Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Efek suplementasi Gracilaria sp. terhadap ekspresi insulin pankreas pada tikus model obesitas
Ajis, Fikri Alsidik
Obesitas merupakan masalah kesehatan global yang berhubungan erat dengan gangguan metabolik seperti hiperglikemia, dislipidemia, dan resistensi insulin. Kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi metabolik yang berdampak pada fungsi organ, termasuk pankreas. Salah satu bahan alami yang berpotensi memperbaiki kondisi tersebut adalah Gracilaria sp., yaitu rumput laut merah yang mengandung serat pangan tinggi dan senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi Gracilaria sp. termodifikasi terhadap parameter metabolik serta ekspresi insulin pankreas pada tikus obesitas yang diinduksi diet tinggi lemak. Sebanyak 30 ekor tikus jantan galur Sprague Dawley dibagi secara acak menjadi enam kelompok, yaitu kelompok kontrol normal (N), kontrol negatif (KN), kontrol positif yang diberi orlistat (KP), serta tiga kelompok perlakuan yang menerima tepung Gracilaria sp. termodifikasi dengan dosis berbeda, yaitu D25, D50, dan D100. Parameter yang diamati meliputi perubahan berat badan, kadar glukosa darah, kadar kolesterol total, akumulasi lemak abdominal, serta ekspresi insulin pankreas yang dianalisis menggunakan metode imunohistokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian diet tinggi lemak meningkatkan berat badan, akumulasi lemak abdominal, kadar kolesterol, serta ekspresi insulin pada pulau Langerhans pankreas sebagai bentuk respons kompensasi terhadap resistensi insulin. Suplementasi Gracilaria sp. termodifikasi mampu menurunkan peningkatan berat badan, mengurangi akumulasi lemak abdominal, menurunkan kadar kolesterol, serta menormalkan ekspresi insulin mendekati kondisi kelompok kontrol normal. Perbaikan paling konsisten terlihat pada dosis rendah hingga sedang (25–50%). Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas suplementasi Gracilaria sp. termodifikasi bersifat tergantung dosis. Kesimpulannya, Gracilaria sp. berpotensi sebagai pangan fungsional dalam memperbaiki profil metabolik dan fungsi pankreas pada kondisi obesitas yang diinduksi diet tinggi lemak.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
