<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Dissertations and Theses</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/9" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/9</id>
<updated>2026-06-02T14:14:10Z</updated>
<dc:date>2026-06-02T14:14:10Z</dc:date>
<entry>
<title>Efek Pemberian Ekstrak Daun Senggani (Melastoma malabathricum) terhadap Proliferasi dan Apoptosis Sel Hipokampus serta Pembelajaran Spasial pada Mencit (Mus musculus)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173218" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fernando, Ardian Putra</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173218</id>
<updated>2026-06-02T06:43:42Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Efek Pemberian Ekstrak Daun Senggani (Melastoma malabathricum) terhadap Proliferasi dan Apoptosis Sel Hipokampus serta Pembelajaran Spasial pada Mencit (Mus musculus)
Fernando, Ardian Putra
Hipokampus merupakan wilayah otak yang memiliki peran penting dalam&#13;
 proses neurogenesis dan pembentukan memori. Proses neurogenesis dapat&#13;
 dipengaruhi senyawa aktif dari tumbuhan. Senggani (Melastoma malabathricum)&#13;
 merupakan tumbuhan yang berpotensi meningkatkan neurogenesis. Penelitian ini&#13;
bertujuan menganalisis efek pemberian ekstrak daun senggani terhadap proliferasi&#13;
 dan apoptosis sel di hipokampus serta pembelajaran spasial pada mencit.&#13;
 Penelitian ini menggunakan sembilan ekor mencit yang dibagi dalam tiga&#13;
 kelompok, yaitu Kelompok K diberikan air, Kelompok P diberikan ekstrak daun&#13;
 senggani (500 mg/kg BB), dan Kelompok K+ diberikan perlakuan voluntary&#13;
 running. Perlakuan diberikan selama 30 hari. Analisis proliferasi dan apoptosis sel&#13;
 dilakukan dengan pengamatan preparat histologi otak mencit dan analisis&#13;
 pembelajaran spasial dilakukan dengan uji alternasi menggunakan Y-maze.&#13;
 Mencit P dan K+ menunjukkan peningkatan signifikan pada densitas sel putative&#13;
 neural progenitor cell, granular, dan kemampuan pembelajaran spasial, serta&#13;
 penurunan densitas sel apoptotik, sehingga menunjukkan bahwa ekstrak daun&#13;
 senggani memiliki kemampuan neuroprotektif terhadap sel di hipokampus.; The hippocampus is a region of the brain that plays an important role in&#13;
 neurogenesis and memory formation. The neurogenesis process can be influenced&#13;
by active compounds from plants. Senggani (Melastoma malabathricum) is a&#13;
 plant that has the potential to increase neurogenesis. This study aims to analyze&#13;
 the effects of senggani leaf extract administration on cell proliferation and&#13;
 apoptosis in the hippocampus as well as spatial learning in mice. This study used&#13;
 nine mice divided into three groups, namely Group K given water, Group P given&#13;
 senggani leaf extract (500 mg/kg BW), and Group K+ given voluntary running&#13;
 treatment. The treatment was given for 30 days. Cell proliferation and apoptosis&#13;
 analysis was performed by observing mouse brain histology preparations, and&#13;
 spatial learning analysis was performed using an alternation test with a Y-maze.&#13;
 Mice in groups P and K+ showed a significant increase in the density of putative&#13;
 neural progenitor cells and granular cells, as well as spatial learning ability, and a&#13;
decrease in the density of apoptotic cells, indicating that senggani leaf extract has&#13;
neuroprotective properties for cells in the hippocampus
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Model Kebijakan Alokasi Beban Pencemaran Air di Sungai Cileungsi Kabupaten Bogor Jawa Barat.</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173217" rel="alternate"/>
<author>
<name>Komarudin, Muhamad</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173217</id>
<updated>2026-06-02T06:40:06Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Model Kebijakan Alokasi Beban Pencemaran Air di Sungai Cileungsi Kabupaten Bogor Jawa Barat.
Komarudin, Muhamad
Disertasi ini membahas model kebijakan alokasi beban pencemaran air di Sungai Cileungsi Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sungai Cileungsi mengalami tekanan pencemaran akibat meningkatnya aktivitas domestik, industri, pertanian, peternakan, perubahan penggunaan lahan, serta lemahnya pengendalian sumber pencemar. Penelitian ini tidak hanya menilai kualitas air, tetapi merumuskan model kebijakan yang menghubungkan kondisi biofisik sungai, sumber pencemar, aktor kelembagaan, instrumen pengendalian, dan prioritas program secara terpadu.&#13;
Disertasi ini bertujuan untuk : (1) menganalisis potensi beban pencemaran air di Sungai Cileungsi menurut sektor, distribusi spasial, dan waktu; (2) menyusun model Alokasi Beban Pencemaran Air Cileungsi; (3) menganalisis dinamika  peran pembangku kepentingan dalam pengelolaan alokasi beban pencemaran air sungai; dan (4) menyusun model kebijakan alokasi beban pencemaran air sungai yang berkelanjutan.&#13;
Kerangka pikir penelitian dibangun dari hubungan antara sistem daratan dan badan air dalam DAS Cileungsi. Kualitas air sungai dipengaruhi oleh batas administrasi, batas DAS, karakteristik badan air, hidrologi, hidrolika, meteorologi, penggunaan lahan, serta sumber pencemar point source dan non-point source. Oleh karena itu, penelitian menggunakan pendekatan integratif yang menggabungkan analisis spasial berbasis SIG, inventarisasi beban pencemaran, pemodelan kualitas air QUAL2Kw, model dinamik Powersim, Load Action Translation, MACTOR, dan PROMETHEE.&#13;
Wilayah penelitian berada pada DAS Cileungsi seluas 26.614,68 ha yang terdiri atas Sub DAS Cileungsi, Citeureup, Cijanggel, Ciherang, Cibadak, dan Cikeruh. Sungai dimodelkan dalam empat segmen badan air dengan panjang total 48,93 km. Untuk menghubungkan sumber pencemar di daratan dengan segmen sungai penerima, penelitian menetapkan sembilan Wilayah Pengelolaan Sumber Pencemar, yaitu Citeurep, Cikeruh, Cibadak, Ciherang, Cijanggel, Cileungsi 1, Cileungsi 2, Cileungsi 3, dan Cileungsi 4.&#13;
Hasil analisis wilayah menunjukkan bahwa DAS Cileungsi mengalami peningkatan kawasan terbangun, terutama permukiman, tempat kegiatan, dan kawasan industri. Perubahan tutupan vegetatif menjadi lahan terbangun meningkatkan limpasan permukaan, erosi, serta potensi masuknya bahan pencemar ke sungai. Pengukuran kualitas air memperlihatkan bahwa parameter BOD dan COD telah melampaui baku mutu, sedangkan TSS masih memenuhi baku mutu sesaat, tetapi tetap perlu dikendalikan berdasarkan neraca beban agar daya tampung tidak terlampaui pada kondisi hidrologi tertentu.&#13;
Potensi Beban Pencemaran Air di DAS Cileungsi menunjukkan bahwa tekanan pencemaran didominasi oleh sektor domestik dan industri. Total potensi beban pencemaran mencapai 31.560,33 kg/hari untuk BOD, 57.947,78 kg/hari untuk COD, dan 29.864,35 kg/hari untuk TSS. Untuk parameter BOD, kontribusi terbesar berasal dari domestik sebesar 59,57%, sedangkan menurut parameter COD didominasi industri sebesar 49,48%, sedangkan berdasatkan parameter TSS didominasi domestik sebesar 59,80% dan diikuti industri. Distribusi Potensi Beban Pencemaran terbesar berada pada wilayah hulu, Segmen 1, dan Segmen 2.&#13;
Model Alokasi Beban Pencemaran Air disusun menggunakan QUAL2Kw untuk parameter BOD, COD, dan TSS. Model BOD menunjukkan beban eksisting 4.480,90 kg/hari dan ABPA akhir menuju Kelas II sebesar 2.005,91 kg/hari, sehingga reduksi terutama perlu diarahkan pada non-point source. Model COD menunjukkan beban eksisting 28.199,39 kg/hari dan ABPA akhir 22.119,93 kg/hari, dengan respons yang dipengaruhi distribusi beban, debit, pengenceran, dan degradasi alami. Model TSS menunjukkan beban eksisting 3.632,22 kg/hari dan ABPA Kelas II sebesar 3.287,85 kg/hari, sehingga diperlukan pengendalian preventif sebesar 344,37 kg/hari.Berdasarkan sektor, kebutuhan penurunan beban berbeda antar parameter.  untuk BOD total reduksi sebesar 2.492,50 kg/hari, terutama di Segmen 1 dan Segmen 2, dengan sumber utama domestik sebesar 1.474,24 kg/hari dan industri 844,37 kg/hari. Untuk COD, total reduksi mencapai 6.079,46 kg/hari, terutama dari industri 3.007,89 kg/hari dan domestik 2.711,86 kg/hari. Untuk TSS, reduksi mencapai 482,81 kg/hari, didominasi industri 344,37 kg/hari dan peternakan 126,59 kg/hari. Secara ekonomi, pencapaian mutu air Kelas II memerlukan dukungan biaya pengolahan yang relatif besar, dengan estimasi biaya operasional atau operational expenditure (OPEX) sebesar Rp16.633.128,04/hari atau Rp5.987.926.093,75/tahun, serta biaya investasi atau capital expenditure (CAPEX) sebesar Rp19.959.753.645,84. Oleh karena itu, implementasi pengendalian perlu dilakukan secara bertahap melalui model dinamik untuk memantau perubahan beban, menguji skenario intervensi, dan mendukung kebijakan operasional berbasis optimasi biaya.&#13;
Model dinamik Powersim dikembangkan untuk menjembatani hasil QUAL2Kw dengan simulasi kebijakan. QUAL2Kw menyediakan informasi teknis tentang kualitas air, beban eksisting, ABPA, dan KPAL, sedangkan model dinamik digunakan untuk memantau perubahan beban, menguji intervensi, dan mendukung simulasi kebijakan secara operasional. BOD ditempatkan sebagai parameter pengendali utama karena paling konsisten menunjukkan kebutuhan reduksi dan berpengaruh langsung terhadap proses deoksigenasi sungai.&#13;
Model kebijakan ABPA dirumuskan melalui empat tahapan utama, yaitu identifikasi gap daya tampung dengan QUAL2Kw, translasi kebutuhan reduksi melalui Load Action Translation, analisis dukungan dan pengaruh aktor menggunakan MACTOR, serta prioritisasi program dengan PROMETHEE. Load Action Translation menerjemahkan kebutuhan reduksi menjadi program teknis, antara lain pembangunan dan perbaikan IPAL, pembatasan pembuangan pada segmen kritis, produksi bersih, peningkatan sanitasi domestik, infrastruktur hijau, waduk/kolam retensi, reboisasi lereng curam, dan peningkatan kapasitas masyarakat.&#13;
Analisis MACTOR menunjukkan bahwa aktor pemerintah memiliki pengaruh paling kuat dalam regulasi, koordinasi, pengawasan, dan penegakan kebijakan. Aktor strategis meliputi PPA, BPDAS, BBWS-CC, DLH Provinsi, dan DLH Kabupaten. Masyarakat dan pelaku usaha memiliki ketergantungan tinggi terhadap kebijakan pemerintah, sedangkan media berperan sebagai aktor tidak langsung melalui pembentukan opini, tekanan publik, dan pengawasan sosial. Implementasi ABPA karena itu memerlukan kolaborasi pentahelix antara pemerintah, bisnis, akademisi, masyarakat/komunitas, dan media.&#13;
Hasil PROMETHEE menunjukkan bahwa prioritas kebijakan utama adalah perbaikan kinerja IPAL bagi usaha yang telah memiliki fasilitas tetapi belum memenuhi baku mutu, diikuti penerapan produksi bersih, dan kewajiban pembangunan IPAL bagi usaha yang belum memiliki pengolahan air limbah. Program menengah seperti infrastruktur hijau, penggunaan pupuk organik, dan reboisasi tetap penting untuk mengendalikan non-point source. Kebijakan pengendalian perlu dilakukan bertahap dari Kelas IV menuju Kelas III dan Kelas II, berbasis segmen, serta dibedakan antara point source dan non-point source.&#13;
Kebaruan penelitian terletak pada integrasi analisis dinamika penggunaan lahan, QUAL2Kw, model dinamik, Load Action Translation, MACTOR, dan PROMETHEE ke dalam satu kerangka kebijakan pengelolaan alokasi beban pencemaran air berbasis DAS. Model yang dihasilkan bersifat adaptif, aplikatif, dan implementatif karena tidak berhenti pada simulasi kualitas air, tetapi bergerak sampai pada kuota beban, rencana aksi, prioritas program, dukungan aktor, dan instrumen kebijakan pengendalian pencemaran air Sungai Cileungsi.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Transformasi Strategi Model Bisnis Paska Merger (Studi Kasus PT FITS dan PT Serambi Botani)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173216" rel="alternate"/>
<author>
<name>Waluya, Vidi Firdaus</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173216</id>
<updated>2026-06-02T06:31:59Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Transformasi Strategi Model Bisnis Paska Merger (Studi Kasus PT FITS dan PT Serambi Botani)
Waluya, Vidi Firdaus
Pertumbuhan pesat industri pangan fungsional di pasar berkembang membuka peluang yang sangat besar. Namun, banyak perusahaan yang terafiliasi dengan universitas masih kesulitan mengubah inovasi berbasis riset menjadi hasil komersial yang berkelanjutan. Studi ini mengkaji kasus PT FITS Mandiri dan PT Serambi Botani, dua entitas yang terkait dengan universitas di Indonesia, yang mengalami kinerja keuangan yang terus kurang optimal meskipun beroperasi di sektor dengan pertumbuhan tinggi dan memiliki pipeline inovasi yang kuat.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab struktural dari kinerja yang kurang optimal tersebut, serta merancang kerangka transformasi model bisnis pasca-merger yang dapat meningkatkan daya saing dan keberlanjutan jangka panjang. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian ini menggabungkan data primer dari wawancara manajerial dan data sekunder dari laporan keuangan serta dokumen strategis selama periode 2015–2024.&#13;
Analisis dilakukan menggunakan berbagai alat strategi yang komprehensif, termasuk Resource-Based View (RBV), VRIO, Value Chain Analysis, PESTEL, Porter’s Five Forces, SWOT, Blue Ocean Strategy, serta Triple Layered Business Model Canvas (TLBMC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan utama bukan terletak pada kurangnya inovasi, melainkan pada ketidaksesuaian antara pengembangan produk berbasis riset dengan validasi pasar, strategi portofolio, sistem distribusi, dan struktur tata kelola.&#13;
Merger diposisikan bukan sekadar sebagai konsolidasi operasional, melainkan sebagai enabler strategis untuk melakukan rekonfigurasi model bisnis. Transformasi yang diusulkan menekankan pada validasi produk–pasar, rasionalisasi portofolio, distribusi multi-channel yang terintegrasi, serta penyelarasan tata kelola untuk mendorong pergeseran dari entitas berbasis riset menjadi platform pangan fungsional yang berorientasi pasar.&#13;
Studi ini berkontribusi pada literatur dengan menawarkan kerangka terintegrasi yang menghubungkan inovasi model bisnis dan transformasi pasca-merger dalam konteks spin-off universitas di pasar berkembang, serta menegaskan peran merger sebagai katalis dalam menyelaraskan kapabilitas inovasi dengan dinamika pasar.; The rapid growth of the functional food industry in emerging markets presents significant opportunities, yet many university-affiliated enterprises struggle to translate research-based innovations into sustainable commercial outcomes. This study investigates the case of PT FITS Mandiri and PT Serambi Botani, two university-linked entities in Indonesia that have experienced persistent financial under performance despite operating in a high-growth sector and possessing substantial innovation pipelines. &#13;
The research aims to examine the structural causes of this under performance and to develop a post-merger business model transformation framework that enhances competitiveness and long-term sustainability. Adopting a qualitative case study approach, the study integrates primary data from managerial interviews and secondary data from financial reports and strategic documents over the period 2015–2024. &#13;
The analysis employs a comprehensive set of strategic tools, including Resource-Based View (RBV), VRIO, Value Chain Analysis, PESTEL, Porter’s Five Forces, SWOT, Blue Ocean Strategy, and the Triple Layered Business Model Canvas (TLBMC). &#13;
The findings reveal that the core issue lies not in the scarcity of innovation but in the misalignment between research-driven product development, market validation mechanisms, portfolio strategy, distribution systems, and governance structures. The merger is therefore conceptualized as a strategic enabler for business model reconfiguration rather than merely an operational consolidation. &#13;
The proposed transformation emphasizes product–market validation, portfolio rationalization, integrated multi-channel distribution, and governance alignment to support a shift from a research-oriented entity toward a market-driven functional food platform. &#13;
This study contributes to the literature by offering an integrated framework linking business model innovation and post-merger transformation in the context of university spin-offs in emerging markets, and highlights the role of merger as a catalyst for aligning innovation capabilities with market dynamics.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Karakteristik Morfologi dan Produksi Nutrien Enam Varietas Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) sebagai Hijauan Pakan di Wilayah Tropis</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173215" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fauzan, Abdul Zumar</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173215</id>
<updated>2026-06-02T06:28:16Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Karakteristik Morfologi dan Produksi Nutrien Enam Varietas Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) sebagai Hijauan Pakan di Wilayah Tropis
Fauzan, Abdul Zumar
Rendahnya produktivitas dan kualitas hijauan pakan menjadi kendala utama dalam sektor peternakan, terutama pada daerah tropis yang memiliki karakteristik agroklimat yang beragam. Hijauan potensial dalam menjaga produktivitas ternak ruminansia secara berkelanjutan yaitu Pennisetum purpereum atau dikenal dengan ‘Rumput Gajah’. Rumput gajah memiliki tantangan karena struktur rumpunnya kompleks, jumlah anakan yang banyak, dan terus bertambah. Hal ini berbeda dengan tanaman seperti jagung atau sorgum yang secara anakan lebih sederhana dan mudah diatur oleh mesin. Penelitian varietas rumput gajah yang berbeda perlu diarahkan untuk menemukan varietas mana yang paling efisien secara keseluruhan yaitu; biomassa tinggi, produksi nutrien tinggi, mudah dikelola, dan mendukung mekanisasi pemanfaatan batang untuk bioenergi. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan karakteristik morfologi serta kualitas enam varietas rumput gajah sebagai hijauan pakan di wilayah tropis, dan dasar informasi pengembangan rumput rumput gajah unggul di Indonesia. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan parameter meliputi variabel morfologi, produktivitas, produksi biomassa, kualitas nutrien, dan produksi nutrien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Pakchong-2 memiliki perbedaan signifikan (P&lt;0.05) pada panjang tanaman, diameter batang, panjang daun, lebar daun, produksi biomassa, dan produksi nutrien. Pakchong-1 memiliki jumlah helai daun yang lebih banyak, Gama Umami memili warna daun lebih hijau dan jumlah anakan yang lebih banyak dan Biograss memiliki panjang batang yang lebih tinggi. Dari segi produksi nutrien, varietas Pakchong-2 memiliki perbedaan nyata (p&lt;0,05) dari varietas lain. Simpulan bahwa varietas Pakchong-2 potensial dikembangkan sebagai hijauan pakan unggul berbasis biomassa dan produksi nutrien tinggi pada kondisi media tanam terbatas.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Hijauan, Morfologi, Pakchong, Pennisetum purpureum, Produksi; Low productivity and poor forage quality are major challenges in the livestock sector, particularly in tropical regions with diverse agroclimatic conditions. A promising forage for sustaining the productivity of ruminant livestock is Pennisetum purpureum, commonly known as “elephant grass.” Elephant grass poses challenges due to its complex clump structure, numerous tillers, and continuous growth. This differs from crops like corn or sorghum, which have simpler tillering patterns and are easier to manage with machinery. Research on different Elephant Grass varieties should focus on identifying which variety is most efficient overall—that is, high in biomass, high in nutrient production, easy to manage, and supportive of mechanized utilization of the stems for bioenergy. This study aims to analyze and compare the morphological characteristics and quality of six elephant grass varieties as forage in tropical regions, and to provide a basis for the development of superior elephant grass varieties in Indonesia. The study employed a completely randomized design with parameters including morphological variables, productivity, biomass production, nutrient quality, and nutrient yield. The results showed that the Pakchong-2 variety exhibited significant differences (P&lt;0.05) in plant height, stem diameter, leaf length, leaf width, biomass production, and nutrient production. Pakchong-1 had a higher number of leaves, Gama Umami had greener leaves and a higher number of tillers, and Biograss had a taller stem. In terms of nutrient production, the Pakchong-2 variety showed a significant difference (p&lt;0.05) compared to the other varieties. It is concluded that the Pakchong-2 variety has potential for development as a superior forage crop based on high biomass and nutrient production under limited growing media conditions.&#13;
&#13;
Keywords: Forage, Morphology, Pakchong, Pennisetum purpureum, Production
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
