<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>DT - Human Ecology</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/88" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/88</id>
<updated>2026-04-07T15:58:30Z</updated>
<dc:date>2026-04-07T15:58:30Z</dc:date>
<entry>
<title>Komunikasi Remaja dengan Orang Tua, Teman Sebaya dan Akses Internet yang Memengaruhi Perilaku Perundungan di Kota Bogor</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172830" rel="alternate"/>
<author>
<name>Aminah, Ratih Siti</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172830</id>
<updated>2026-03-10T00:21:38Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Komunikasi Remaja dengan Orang Tua, Teman Sebaya dan Akses Internet yang Memengaruhi Perilaku Perundungan di Kota Bogor
Aminah, Ratih Siti
Perilaku perundungan pada remaja di Indonesia sangat mengkhawatirkan Kasus perundungan di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun. Hasil survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) menyebutkan, pada tahun 2020, terdapat 11.057 pelajar di Indonesia yang menjadi korban perundungan. Tahun 2021 meningkat menjadi 11.0278, kemudian naik lagi menjadi 14.517 pada tahun 2022, dan terus bertambah hingga mencapai 21.241 korban pada tahun 2023. Selain itu, KPPA pada tahun 2021 menemukan, 14 dari setiap 100 siswa laki-laki dan 11 dari setiap 100 siswa perempuan berusia 13 hingga 17 tahun terlibat dalam beberapa jenis perilaku perundungan. Bahkan, pada tahun 2018, Indonesia berada di urutan kelima dari tujuhpuluh delapan negara dengan jumlah siswa terbanyak yang terlibat dalam perundungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis komunikasi remaja dengan ayah dan ibu, komunikasi remaja dengan teman sebaya, serta akses internet remaja dan pengaruhnya terhadap perilaku perundungan. Penelitian bertujuan melengkapi dengan pendekatan kualitatif yang menggambarkan pengalaman dan persepsi remaja terhadap komunikasi dalam keluarga dan lingkungan sosialnya serta tingkat perilaku perundungannya.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode campuran “mix method” dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang diisi oleh 400 siswa kelas XI dari dua Sekolah Menengah Atas (SMA), dan dua Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Bogor. Pemilihan sekolah dilakukan secara acak, dengan asumsi, di setiap sekolah dapat terjadi perundungan. Pengolahan data dilakukan menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM) dengan software LISREL, sedangkan pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui wawancara dengan pertanyaan terbuka.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja berkomunikasi dengan ayah, ibu, teman sebaya, dan memanfaatkan internet sebagai sumber informasi, dan media aktualisasi diri.  Komunikasi remaja laki-laki dan perempuan dengan ayah mayoritas tentang nilai ulangan di sekolah dan perihal keuangan. Durasi pembicaraan remaja dengan ayah antara tigapuluh menit sampai satu jam, biaasanya pada pagi hari sebelum ayah berangkat bekerja, dan pada saat melakukan suatu kegiatan secara bersama. Komunikasi remaja dengan ibu lebih bersifat emosional dan kedekatan, dengan topik pembicaraan mencakup nilai ulangan, teman di sekolah, tentang perundungan, cita-cita dan pelajaran di sekolah. Remaja berkomunikasi dengan ibu setiap hari dengan durasi minimal tigapuluhmenit, dan maksimal lebih dari satu jam. Remaja memiliki ikatan yang kuat dengan teman sebaya. Topik pembicaraan remaja dengan teman sebaya mencakup informasi yang sedang viral di internet dan media sosial, perundungan, dan cita-cita. Sebagian kecil remaja juga membicarakan seks pada teman sebaya. Remaja berkomunikasi dengan teman sebaya di sekolah, dimulai pada saat pagi hari sebelum pelajaran dimulai, pada saat jeda pergantian mata pelajaran, pada saat istirahat, sebelum pulang, dan sesekali berlanjut setelah sampai di rumah. Durasi pembicaraan remaja dengan teman sebaya minimal tigapuluh menit, dan maksimal lebih dari satu jam. Remaja mengakses internet setiap hari, mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur di malam hari. Topik yang diakses remaja meliputi informasi yang sedang viral seperti perundungan, informasi tentang hobi dan pengembangan diri, media sosial, game online dan hiburan. Mayoritas remaja mengakses internet menggunakan ponsel dengan durasi empat sampai lima jam,  dengan frekuensi mengakses sebanyak delapan kali dalam sehari. Remaja mengakses internet secara sendiri, sesekali bersama teman sebaya dan orangtua.&#13;
Bentuk perundungan verbal yang dilakukan remaja di sekolah  adalah memanggil dengan julukan yang tidak disukai. Perundungan fisik yang dilakukan terbanyak pada laki-laki adalah mengancam dan menendang teman. Pada perundungan sosial, bentuk yang terbanyak dilakukan adalah menghasut teman untuk memusuhi teman lain. Pada topik tentang seks, remaja cenderung tidak membicarakan dengan teman sebaya. Temuan utama penelitian ini meliputi: (1) Komunikasi remaja laki-laki dan perempuan dengan ibu, lebih terbuka, hangat, bersifat emosional, dan terbukti menekan kecenderungan perundungan, sedangkan komunikasi remaja dengan ayah lebih bersifat fungsional dan berpengaruh terhadap perilaku remaja laki-laki; (2) Komunikasi remaja dengan teman sebaya menunjukkan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, yaitu remaja perempuan lebih ekspresif secara emosional dan laki-laki cenderung membatasi topik komunikasi. Dalam beberapa kasus, kelompok teman sebaya laki-laki justru menjadi pemicu perundungan karena tekanan konformitas sosial; (3) Akses internet yang tidak dikontrol, terutama pada konten kekerasan dan interaksi tanpa pengawasan, turut meningkatkan risiko perundungan.&#13;
Hasil uji pengaruh menggunakan SEM menunjukkan, komunikasi remaja dengan orang tua berpengaruh signifikan dan negatif terhadap perilaku perundungan remaja. Hasil ini berarti, semakin baik komunikasi remaja dengan orang tua akan meminimalisir perilaku perundungan pada remaja. Komunikasi remaja dengan teman sebaya berpengaruh positif, artinya semakin baik komunikasi remaja dengan orang tua akan akan meningkatkan komunikasi remaja dengan teman sebaya. Demikian pula komunikasi remaja dengan orang tua berpengaruh signifikan dan positif terhadap akses internet remaja. Remaja, ketika mengakses informasi melalui internet, sangat mungkin mendapatkan paparan informasi dengan konten yang mengandung kekerasan, pornografi, ataupun konten negatif lain. Remaja yang memiliki hubungan hangat dalam keluarga, cenderung akan memilah informasi yang diperoleh. Komunikasi remaja dengan teman sebaya berpengaruh positif terharap akses internet remaja. Selanjutnya, akses internet remaja berpengaruh positif terhadap perilaku perundungan remaja.&#13;
Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi lebih dalam peran kualitas komunikasi dalam keluarga berdasarkan latar belakang sosio-kultural yang berbeda, serta mengevaluasi efektivitas kebijakan pencegahan perundungan di sekolah melalui intervensi komunikasi berbasis keluarga dan komunitas.; Bullying behavior among adolescents in Indonesia is a growing concern. The number of bullying cases has increased every year. A survey conducted by the Ministry of Women’s Empowerment and Child Protection reported that in 2020 there were 11,057 students in Indonesia who became victims of bullying. In 2021 the number increased to 11,278, then rose again to 14,517 in 2022, and continued to grow to 21,241 victims in 2023. Furthermore, in 2021 the ministry found that 14 out of every 100 male students and 11 out of every 100 female students aged 13 to 17 were involved in some form of bullying behavior. In 2018, Indonesia ranked fifth out of seventy-eight countries with the highest number of students involved in bullying. This study aims to analyze adolescents’ communication with fathers and mothers, communication with peers, and adolescents’ internet access, and their influence on bullying behavior. The study also complements the analysis with a qualitative approach to describe adolescents’ experiences and perceptions regarding communication within the family and their social environment as well as their level of bullying behavior.&#13;
This study employed a mixed-methods approach combining quantitative and qualitative methods. Data was collected through questionnaires completed by 400 eleventh-grade students from two Senior High Schools (SMA) and two Vocational High Schools (SMK) in Bogor City. Schools were selected randomly based on the assumption that bullying can occur in any school. Quantitative data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) with LISREL software, while qualitative data was collected through interviews with open-ended questions.&#13;
The results show that adolescents communicate with fathers, mothers, and peers, and use the internet as a source of information and a medium for self-actualization. Communication between male and female adolescents and their fathers mostly concerns school test scores and financial matters. The duration of conversations with fathers’ ranges from thirty minutes to one hour, usually in the morning before fathers leave for work or while engaging in activities together. Communication with mothers tends to be more emotional and intimate, covering topics such as school grades, friends at school, bullying, future aspirations, and school lessons. Adolescents communicate with their mothers daily, with a duration of at least thirty minutes and often more than one hour. Adolescents also have strong bonds with their peers. Topics discussed with peers include information that is currently viral on the internet and social media, bullying, and future aspirations. A small number of adolescents also discuss sexual topics with their peers. Adolescents communicate with peers at school starting in the morning before classes begin, during breaks between lessons, at recess, before going home, and occasionally continuing after arriving home. The duration of conversations with peer’s ranges from at least thirty minutes to more than one hour.&#13;
Adolescents access the internet from the moment they wake up until before going to sleep at night. The topics they access include viral information such as bullying, hobbies and self-development, social media, online games, and entertainment. Most adolescents access the internet using mobile phones for four to five hours per day, with an average frequency of eight times a day. Adolescents usually access the internet alone, and occasionally together with peers or parents.   &#13;
The most common form of verbal bullying carried out by adolescents at school is calling others by nicknames they dislike. Physical bullying, mostly among male adolescents, includes threatening and kicking peers. In social bullying, the most common behavior is persuading others to dislike or exclude another student. Regarding sexual topics, adolescents tend not to discuss them with their peers. The main findings of this study include: (1) communication between adolescents and mothers tends to be more open, warm, and emotional, and it significantly reduces the tendency toward bullying, while communication with fathers is more functional and influences male adolescents’ behavior; (2) communication with peers differs by gender, where female adolescents tend to be more emotionally expressive, while male adolescents tend to limit communication topics. In some cases, male peer groups become triggers for bullying due to social conformity pressure; (3) uncontrolled internet access, especially exposure to violent content and unsupervised interactions, increases the risk of bullying behavior.&#13;
The SEM analysis shows that communication between adolescents and parents has a significant negative effect on adolescents’ bullying behavior. This means that better communication between adolescents and parents reduces the likelihood of bullying behavior. Communication with parents also has a positive effect on communication with peers, indicating that adolescents with good parental communication tend to be more selective when interacting with peers. Information obtained from peers is filtered according to the values taught by parents. Likewise, communication with parents has a significant positive effect on adolescents’ internet access. When adolescents access information on the internet, they may be exposed to violent, pornographic, or other negative content. Adolescents who have warm family relationships tend to be more selective in filtering such information. Communication with peers also has a positive effect on adolescents’ internet access. Furthermore, adolescents’ internet access has a positive effect on bullying behavior.&#13;
Future research is recommended to further explore the role of communication quality within families from different socio-cultural backgrounds and to evaluate the effectiveness of school bullying prevention policies through communication-based interventions involving families and communities.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Photovoice sebagai Metode Komunikasi Pendidikan Partisipatif dalam Membangun Karakter Toleransi Murid Sekolah Menengah Atas di Jakarta</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172768" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sitanggang, Asima Oktavia</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172768</id>
<updated>2026-02-26T00:56:21Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Photovoice sebagai Metode Komunikasi Pendidikan Partisipatif dalam Membangun Karakter Toleransi Murid Sekolah Menengah Atas di Jakarta
Sitanggang, Asima Oktavia
Toleransi merupakan agenda penting dalam kehidupan global di tengah arus globalisasi yang mendorong terbentuknya masyarakat multikultural. Namun demikian, praktik intoleransi masih kerap terjadi, termasuk dalam dunia pendidikan. Di Indonesia, intoleransi bahkan dikategorikan sebagai salah satu dari tiga “dosa besar” pendidikan, bersama dengan perundungan dan kekerasan seksual. Kondisi ini bertentangan dengan nilai persatuan yang terkandung dalam semboyan nasional Bhinneka Tunggal Ika, khususnya sila Persatuan Indonesia. Berbagai kebijakan pendidikan karakter telah diterapkan, namun fakta bahwa intoleransi masih muncul di lingkungan sekolah menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran konvensional belum sepenuhnya menyentuh dimensi afektif dan konatif peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan komunikasi pendidikan yang partisipatif untuk menumbuhkan kesadaran kritis serta keterlibatan aktif siswa dalam memaknai dan mempraktikkan toleransi secara nyata. Penelitian ini berfokus pada pendidikan karakter toleransi pada remaja tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), khususnya dalam konteks proses pembelajaran di kelas. Komunikasi partisipatif dipandang mampu mendorong siswa menjadi subjek aktif dalam pembelajaran toleransi, sehingga pendidikan karakter tidak hanya berdampak pada aspek kognitif, tetapi juga membentuk sikap afektif dan kesiapan berperilaku toleran (konatif). Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis pengaruh faktor komunikasi siswa dengan keluarga, guru, teman sebaya, dan media sosial terhadap tingkat toleransi siswa SMA; (2) menganalisis proses partisipatif dan hasil penggunaan Photovoice sebagai metode komunikasi pendidikan partisipatif dalam membangun kesadaran dan perilaku toleransi; (3) menganalisis efektivitas Photovoice dalam meningkatkan karakter toleransi siswa SMA; serta (4) merumuskan strategi komunikasi pendidikan partisipatif dalam membangun karakter toleransi siswa SMA. Penelitian ini menggunakan desain mixed methods melalui rangkaian kuasi-eksperimen pre-test–post-test yang dipadukan dengan eksplorasi kualitatif berbasis refleksi visual-naratif. Penelitian dilaksanakan di tiga SMA di Jakarta Barat, yaitu SMAN 19 Jakarta, SMAS Damai, dan SMA Islam Tambora, dengan melibatkan kelas kontrol dan kelas perlakuan yang memperoleh pembelajaran berbasis Photovoice dalam dua sesi pembelajaran. Penelitian berlangsung pada periode Mei 2024 hingga Oktober 2025. Data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan guru dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat toleransi siswa dipengaruhi oleh pola komunikasi dengan keluarga, guru, teman sebaya, dan media sosial, dengan kontribusi terbesar berasal dari komunikasi dengan teman sebaya. Penerapan Photovoice menghasilkan proses pembelajaran dialogis yang memungkinkan siswa mengamati realitas sosial, merefleksikan pengalaman keberagaman, serta mengonstruksi pemaknaan tentang toleransi melalui foto dan narasi. Temuan baru penelitian ini menunjukkan bahwa Photovoice tidak hanya memperkuat pemahaman konseptual tentang toleransi, tetapi juga mengaktifkan dimensi afektif berupa empati serta dimensi konatif berupa kesiapan bertindak toleran. Secara kuantitatif, terdapat peningkatan skor toleransi yang signifikan setelah perlakuan, terutama pada dimensi keadilan dan empati. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Photovoice merupakan strategi komunikasi pendidikan partisipatif yang efektif dalam meningkatkan karakter toleransi siswa melalui integrasi refleksi kritis, dialog horizontal, dan pembelajaran berbasis pengalaman. Secara teoretis, penelitian ini mengintegrasikan perspektif pedagogi kritis, teori kognisi sosial, dan ekologi perkembangan dalam model pendidikan karakter yang sensitif terhadap konteks sosial remaja. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan penggunaan Photovoice sebagai bagian dari strategi pembelajaran di sekolah, khususnya dalam penguatan pendidikan karakter dan komunikasi pendidikan partisipatif.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Komunikasi Organisasi dalam Pengembangan Kinerja Pustakawan Perpustakaan Khusus Lembaga Pemerintah</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172761" rel="alternate"/>
<author>
<name>Rachmani, Ira Dwi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172761</id>
<updated>2026-02-25T00:47:36Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Komunikasi Organisasi dalam Pengembangan Kinerja Pustakawan Perpustakaan Khusus Lembaga Pemerintah
Rachmani, Ira Dwi
Perpustakaan, khususnya perpustakaan lembaga pemerintah, menghadapi dinamika baru di era transformasi digital, meningkatnya kebutuhan informasi publik, serta tuntutan akuntabilitas layanan yang semakin kompleks. Sebagai institusi yang berkontribusi langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada pilar pendidikan berkualitas (SDG 4), inklusi informasi (SDG 16.10), pengurangan kesenjangan (SDG 10), dan inovasi (SDG 9), perpustakaan memiliki peran strategis dalam memastikan keterjangkauan informasi, literasi digital, serta dukungan pengetahuan bagi pengambilan keputusan berbasis data. Namun, perkembangan teknologi, lingkungan kerja VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity), keterbatasan sumber daya, serta perubahan pola kebutuhan pengguna menempatkan pustakawan pada situasi yang menuntut kompetensi yang lebih kompleks daripada sebelumnya. Pustakawan pemerintah kini tidak lagi hanya mengelola koleksi, tetapi juga mendukung manajemen data, layanan digital, knowledge management, literasi informasi, hingga kolaborasi lintas unit dalam mendukung tugas dan fungsi organisasi induk. Berbagai tantangan muncul, seperti rendahnya kompetensi digital lanjutan, budaya organisasi yang birokratis, komunikasi internal yang belum efektif, kurangnya dukungan pengembangan profesional, serta belum kuatnya kemampuan adaptif pustakawan menghadapi percepatan teknologi. Karena itu, penelitian mengenai peran komunikasi organisasi, kompetensi digital, dan agilitas pustakawan terhadap kinerja menjadi sangat relevan dan mendesak. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis komunikasi kepemimpinan, kepuasan komunikasi internal organisasi, kompetensi digital, agilitas dan kinerja pustakawan yang bekerja di perpustakaan khusus lembaga pemerintah, 2) menganalisis pengaruh komunikasi kepemimpinan, kepuasan komunikasi,  kompetensi digital dan agilitas pustakawan terhadap kinerja pustakawan, dan 3) merumuskan strategi komunikasi organisasi untuk meningkatkan kinerja pustakawan yang bekerja di perpustakaan khusus lembaga pemerintah di Indonesia. Berlandaskan paradigma post-positivistik dengan pendekatan survei kuantitatif menggunakan Structual Equation Model (SEM-PLS), penelitian ini melibatkan 310 pustakawan perpustakaan khusus lembaga pemerintah. Data diperoleh melalui survei daring menggunakan kuesioner, serta wawancara mendalam untuk memperkaya temuan kuantitatif. Variabel penelitian mencakup komunikasi kepemimpinan, kompetensi digital, kepuasan komunikasi, agilitas, serta kinerja pustakawan. Validitas isi, validitas konstruk, dan reliabilitas instrumen menunjukkan hasil yang baik sehingga layak digunakan untuk analisis lanjutan. Untuk merumuskan strategi peningkatan kinerja pustakawan, penelitian ini mengintegrasikan Importance Performance Map Analysis (IPMA) dan Implementation Research Logic Model (IRLM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi kepemimpinan dan kepuasan komunikasi berada pada kategori sedang, sementara kompetensi digital berada pada kategori sedang-tinggi. Literasi informasi dan data merupakan kekuatan utama, sedangkan dimensi kolaborasi digital, keamanan, dan kreativitas konten masih memerlukan peningkatan. Agilitas pustakawan berada pada tingkat sedang dan mencerminkan perlunya penguatan kemampuan adaptif, problem solving, dan ketahanan menghadapi tekanan. Kinerja pustakawan tergolong baik pada aspek operasional, tetapi pada aspek strategis seperti kontribusi organisasi, kepemimpinan, dan kemampuan bekerja di bawah tekanan belum optimal. Secara struktural, tidak ada pengaruh langsung komunikasi kepemimpinan, kepuasan komunikasi, maupun kompetensi digital terhadap kinerja pustakawan. Ketiganya memengaruhi kinerja melalui mediasi penuh agilitas pustakawan, yang menjadi prediktor utama kinerja. Model menunjukkan bahwa 50,2 persen varians agilitas dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut, dan agilitas menjelaskan 40 persen varians kinerja. Ini menegaskan bahwa dalam ekosistem kerja pemerintah, kinerja tidak dapat ditingkatkan hanya melalui kompetensi teknis dan komunikasi, tetapi membutuhkan kemampuan adaptasi yang kuat. Strategi implementasi peningkatan kinerja pustakawan lembaga pemerintah dirumuskan dengan menempatkan komunikasi organisasi sebagai pengungkit utama perubahan kinerja. Empat strategi utama yaitu penguatan agilitas pustakawan, penguatan komunikasi kepemimpinan, pengembangan kompetensi digital, dan optimalisasi kepuasan komunikasi internal, dirancang saling melengkapi dalam membangun lingkungan kerja yang adaptif. Melalui integrasi dalam sistem manajemen kinerja, pengembangan SDM, jejaring profesional, dan dukungan kebijakan sektoral, strategi bertujuan membentuk perilaku kerja pustakawan yang proaktif, adaptif, dan resilien. Penelitian ini menawarkan kebaruan berupa model integratif yang menghubungkan komunikasi organisasi, kompetensi digital, agilitas, dan kinerja; temuan mediasi penuh agilitas; serta integrasi metode SEM–IPMA–IRLM untuk menghasilkan strategi berbasis riset. Secara praktis, hasil ini penting untuk memperkuat kapasitas SDM perpustakaan pemerintah dalam menjawab tantangan transformasi digital, mendukung pencapaian SDGs, dan meningkatkan kualitas layanan publik di era informasi.; Libraries, particularly government special libraries, are currently navigating rapid changes driven by digital transformation, rising public information demands, and increasing pressures for accountability and service quality. As institutions that directly contribute to the Sustainable Development Goals (SDGs), especially SDG 4 (quality education), SDG 9 (industry, innovation, and infrastructure), SDG 10 (reduced inequalities), and SDG 16.10 (public access to information), libraries play a pivotal role in ensuring inclusive access to knowledge, strengthening digital literacy, supporting evidence-based decision-making, and enabling citizens to participate in public life. However, technological acceleration, VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity) environments, limited resources, and shifting user needs present significant challenges for librarians, requiring broader and more adaptive skill sets than ever before. Government librarians are now expected not only to manage collections but also to support data governance, digital services, knowledge management, organizational communication, and inter-unit collaboration. Challenges such as insufficient advanced digital competence, bureaucratic communication patterns, limited professional development, weak cross-unit collaboration, and low adaptive capacity hinder their ability to respond to emerging demands. Within this context, research that investigates the roles of leadership communication, communication satisfaction, digital competence, and agility in shaping librarian performance becomes highly relevant and necessary. This study aims to 1) analyze leadership communication, organizational internal communication satisfaction, digital competence, agility and performance of librarians working in special libraries of government institutions, 2) analyze the influence of leadership communication, communication satisfaction, digital competence and librarian agility on librarian performance, and 3) formulate organizational communication strategies to improve the performance of librarians working in special libraries of government institutions in Indonesia. Based on the post-positivistic paradigm with a quantitative survey approach using the Structural Equation Model (SEM-PLS), this study involved 310 librarians of special libraries of government institutions. Data was obtained through online surveys using questionnaires, as well as in-depth interviews to enrich quantitative findings. The research variables include leadership communication, digital competence, communication satisfaction, agility, and librarian performance. The validity of the content, the validity of the construct, and the reliability of the instrument show good results so that it is suitable for use for advanced analysis. To formulate strategies to improve librarian performance, this study integrates Importance Performance Map Analysis (IPMA) and Implementation Research Logic Model (IRLM). The results showed that leadership communication and communication satisfaction were in the medium category, while digital competence was in the medium-high category. Information and data literacy are key strengths, while the dimensions of digital collaboration, security, and content creativity still need improvement. Librarians' agility is at a moderate level and reflects the need to strengthen adaptive skills, problem solving, and resilience to pressure. The performance of librarians is classified as good in the operational aspect, but in strategic aspects such as organizational contribution, leadership, and the ability to work under pressure are not optimal. Structurally, there is no direct influence of leadership communication, communication satisfaction, or digital competence on librarian performance. All three affect performance through the full mediation of librarians' agility, which is the main predictor of performance. The model shows that 50.2 percent of the agility variance is explained by all three variables, and the agility explains 40 percent of the performance variance. This confirms that in the government work ecosystem, performance cannot be improved only through technical and communication competencies, but requires strong adaptability. The implementation strategy for improving the performance of government agency librarians is formulated by placing organizational communication as the main lever for performance change. The four main strategies, namely strengthening librarian agility, strengthening leadership communication, developing digital competencies, and optimizing internal communication satisfaction, are designed to complement each other in building an adaptive work environment. Through integration in performance management systems, human resource development, professional networks, and sectoral policy support, the strategy aims to shape the work behavior of librarians that are proactive, adaptive, and resilient. This research offers novelty in the form of an integrative model that connects organizational communication, digital competence, agility, and performance; agile mediation findings; and the integration of SEM-IPMA-IRLM methods to produce research-based strategies. In practical terms, this result is important to strengthen the capacity of government library human resources in responding to digital transformation challenges, supporting the achievement of the SDGs, and improving the quality of public services in the information age.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Konstruksi Sosiokultural Dan Tata Kelola Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Komunitas Dan Desa</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172659" rel="alternate"/>
<author>
<name>Jannah, Raudlatul</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172659</id>
<updated>2026-02-07T10:49:29Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Konstruksi Sosiokultural Dan Tata Kelola Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Komunitas Dan Desa
Jannah, Raudlatul
Dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan oleh masyarakat Indonesia, dari banjir rob, kekeringan, abrasi pantai, hingga penurunan produktivitas pertanian dan perikanan. Namun, berbagai kebijakan dan aksi iklim belum menunjukkan hasil signifikan, sementara pemahaman masyarakat terhadap perubahan iklim masih terbatas dan sering dipengaruhi oleh pengalaman, nilai, serta pengetahuan lokal. Penelitian ini bertujuan menjelaskan konstruksi sosiokultural yang membentuk adaptasi perubahan iklim di tingkat komunitas dan desa, mengkaji inisiatif lokal yang berkonvergensi dengan pengurangan risiko bencana, serta menganalisis peran tata kelola berbasis komunitas dan desa dalam mendukung proses adaptasi dan mitigasi. Analisis menggunakan perspektif Konstruksi Sosial, imajinasi sosiologis, analisis wacana, dan kerangka polycentric governance. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif-interpretatif di Desa Binor dan Desa Lumbang, Kabupaten Probolinggo, melalui analisis wacana, sejarah lokal, tematik, dan integrasi hermeneutik-dialektik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi perubahan iklim merupakan proses sosial-historis yang berakar pada pengalaman ekologis, nilai gotong royong, spiritualitas, dan relasi masyarakat dengan alam. Perbedaan kondisi geografis membentuk variasi strategi adaptasi, di mana wilayah pesisir menekankan konservasi pesisir dan ekonomi bahari, sedangkan wilayah daratan mengembangkan adaptasi pertanian lahan kering dan konservasi sumber air. Inisiatif adaptasi masyarakat sering beririsan dengan praktik pengurangan risiko bencana melalui aksi kolektif dan solidaritas sosial. Tata kelola desa berperan penting dalam melembagakan nilai, pengetahuan lokal, dan praktik adaptasi melalui regulasi serta kolaborasi multi-aktor. Sinergi antara komunitas sebagai produsen praktik adaptif dan pemerintah desa sebagai pengelola kelembagaan lokal menjadi kunci bagi adaptasi perubahan iklim yang kontekstual, inklusif, dan berkelanjutan.; The impacts of climate change are increasingly evident in Indonesia, ranging from coastal flooding, drought, and shoreline erosion to declining agricultural and fishery productivity. However, many climate policies and actions have not yet produced significant outcomes, and public understanding of climate change remains limited and is often shaped by local experience, values, and knowledge. This study aims to explain the sociocultural construction of climate change adaptation at the community and village levels, examine local initiatives converging with disaster risk reduction, and analyze the role of community- and village-based governance in supporting adaptation and mitigation processes. The analysis draws on Social Construction theory, sociological imagination, discourse analysis, and a polycentric governance framework. A qualitative-interpretive approach was employed in Binor and Lumbang Villages, Probolinggo Regency, using discourse, local historical, and thematic analyses, combined with a hermeneutic-dialectical interpretation. The findings show that climate change adaptation is a socio-historical process rooted in ecological experience, mutual cooperation, spirituality and community–nature relations. Geographic diversity shapes differentiated adaptation strategies, with coastal areas emphasizing coastal conservation and marine-based livelihoods and inland areas focusing on dryland agriculture and water resource conservation. Community adaptation initiatives frequently intersect with disaster risk reduction through collective actions and social solidarity. Village governance plays a significant role in institutionalizing local values, knowledge, and adaptive practices through local regulations and multi-actor collaborations. Synergy between communities as producers of adaptive knowledge and practices and village governments as institutional managers is essential for achieving contextual, inclusive, and sustainable climate change adaptation.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
