<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>DT - Human Ecology</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/88" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/88</id>
<updated>2026-06-18T05:46:15Z</updated>
<dc:date>2026-06-18T05:46:15Z</dc:date>
<entry>
<title>Praksis Komunikasi Lingkungan Partisipatoris dalam Gerakan Pelestarian Sungai di Bali: Penyadaran, Kolaborasi, dan Aksi Kolektif</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173405" rel="alternate"/>
<author>
<name>Assegaf, Achmad Hamudi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173405</id>
<updated>2026-06-14T12:09:46Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Praksis Komunikasi Lingkungan Partisipatoris dalam Gerakan Pelestarian Sungai di Bali: Penyadaran, Kolaborasi, dan Aksi Kolektif
Assegaf, Achmad Hamudi
Indonesia merupakan negara produsen sampah terbesar kelima dunia, dan Denpasar menjadi penyumbang terbesar di Provinsi Bali. Pencemaran sungai oleh sampah rumah tangga menuntut pelibatan masyarakat sebagai pemangku kepentingan utama. menggunakan Participatory Environmental Communication (PEC) dengan perspektif Freirean, penelitian ini mengkaji bagaimana Komunitas Tukad Bindu di Desa Kesiman Petilan menggunakan komunikasi lingkungan partisipatoris untuk mentransformasi keberagaman sistem pengetahuan dan nilai-nilai kebudayaan menjadi kekuatan kolektif, menavigasi relasi lintas struktur kekuasaan, dan membangun agensi komunitas yang berdampak ekologis nyata. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus tunggal dan paradigma konstruktivis, menggunakan wawancara mendalam, mini FGD, observasi lapangan, dan penelusuran dokumen sebagai Teknik pengumpulan data.&#13;
Penelitian ini menghasilkan tiga temuan utama beserta tiga kontribusi konseptual orisinal. Pertama, keberagaman latar belakang, sistem pengetahuan, dan nilai kearifan lokal ditransformasi menjadi kekuatan kolektif melalui modal diskursif (discursive capital), yaitu kapasitas kolektif komunitas untuk memproduksi, menegosiasikan, dan mensirkulasikan wacana bersama. Modal diskursif berfungsi sebagai mekanisme konversi antar-modal dan lintas-ranah dalam kerangka Bourdieu, dipahami sebagai produk conscientização Freirean yang terinternalisasi menjadi habitus baru. Ia beroperasi melalui empat dimensi yang membentuk siklus generatif: kredibilitas kolektif, kapasitas framing makna, storytelling komunitas, dan produksi konsensus. Kedua, komunitas mengelola relasi horizontal (antaranggota) dan vertikal (birokrasi dan adat) melalui agensi konektif (connective agency), yaitu kapasitas kolektif untuk membangun, memelihara, dan menavigasi koneksi lintas struktur kekuasaan sambil mempertahankan kedaulatan. Agensi konektif merupakan kelanjutan dari agensi kolektif yang telah matang dan beroperasi melalui tiga dimensi: navigasi lintas ranah, kolaborasi berdaulat, dan orkestrasi multipihak. Ketiga, agensi komunitas dibangun melalui model kepemimpinan Community-Empowering Leadership Narratives (CELN), yaitu ekspansi terhadap Motivating Language Theory yang menambahkan dimensi narasi pemberdaya (agency-building) untuk mentransformasi warga dari objek pembangunan menjadi subjek penggerak yang berdaulat. Ketiga pilar tersebut membentuk rantai generatif yang siklikal: modal diskursif menyediakan fondasi energi, CELN mengolahnya menjadi kekuatan aktif, dan agensi konektif memproyeksikannya ke ranah eksternal.; Indonesia is the world’s fifth-largest producer of waste, and Denpasar is the largest contributor in the province of Bali. River pollution caused by household waste necessitates the involvement of the community as the primary stakeholders. Using Participatory Environmental Communication (PEC) with a Freirean perspective, this study examines how the Tukad Bindu Community in Kesiman Petilan Village utilises participatory environmental communication to transform the diversity of knowledge systems and cultural values into collective strength, navigate cross-structural power relations, and build community agency that yields tangible ecological impacts. The research employs a qualitative method with a single case study design and a constructivist paradigm, utilising in-depth interviews, mini-FGDs, field observations, and document review as data collection techniques.&#13;
This study yields three main findings alongside three original conceptual contributions. Firstly, the diversity of backgrounds, knowledge systems and local wisdom values is transformed into collective strength through discursive capital, that is, the community’s collective capacity to produce, negotiate and circulate shared discourse. Discursive capital functions as a mechanism for inter-modal and cross-field conversion within Bourdieu’s framework, understood as a product of Freirean conscientização that has been internalised into a new habitus. It operates through four dimensions that form a generative cycle: collective credibility, the capacity to frame meaning, community storytelling, and the production of consensus. Secondly, the community manages horizontal (inter-member) and vertical (bureaucracy and custom) relations through connective agency, namely the collective capacity to build, maintain, and navigate connections across power structures whilst maintaining sovereignty. Connective agency is an extension of mature collective agency and operates through three dimensions: cross-domain navigation, autonomous collaboration, and multi-stakeholder orchestration. Thirdly, community agency is built through the Community-Empowering Leadership Narratives (CELN) model, which is an expansion of Motivating Language Theory that adds a dimension of agency-building narratives to transform citizens from objects of development into autonomous agents of change. These three pillars form a cyclical generative chain: discursive capital provides the foundation of energy, CELN processes it into active power, and connective agency projects it into the external sphere.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Intensi Perilaku dan Penggunaan Teknologi Smart Farming pada Pelaku Usahatani di Jawa Barat</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173334" rel="alternate"/>
<author>
<name>Rasmira</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173334</id>
<updated>2026-06-10T07:33:42Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Intensi Perilaku dan Penggunaan Teknologi Smart Farming pada Pelaku Usahatani di Jawa Barat
Rasmira
Smart farming dipromosikan sebagai masa depan pertanian karena potensinya meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan usahatani. Namun, penggunaan teknologi di tingkat pelaku usahatani tidak selalu berlanjut meskipun teknologi telah tersedia dan manfaat ekonomi yang diharapkan telah terbuka bagi pengguna. Perbedaan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan smart farming tidak cukup dipahami melalui aspek teknis dan ekonomi semata. Di balik keputusan pelaku usahatani menerima teknologi terdapat dinamika intensi perilaku yang masih belum banyak dipahami, terutama dalam konteks negara berkembang. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor pembentuk intensi perilaku pelaku usahatani terhadap smart farming, menganalisis dinamika intensi perilaku yang berkembang selama penggunaan teknologi, dan menganalisis pola penggunaan smart farming dalam praktik usahatani, serta merumuskan strategi komunikasi yang mendukung keberlanjutan penggunaan smart farming.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus kolektif instrumental. Dua puluh empat pelaku usahatani pengguna smart farming di delapan kabupaten/kota Jawa Barat menjadi unit kasus, dipilih secara purposif untuk memaksimalkan variasi komoditas, jenis teknologi, skema akses, dan hasil penggunaan. Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT2) diposisikan sebagai kerangka konseptual yang memandu analisis, bukan sebagai model yang diuji secara deduktif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan telaah dokumen selama Mei 2024 hingga Mei 2025. Analisis dilakukan melalui pemahaman menyeluruh pada setiap kasus, peringkasan data, interpretasi langsung, serta pengelompokan kategori, yang kemudian dilanjutkan dengan sintesis lintas kasus untuk membangun pola umum (quintain).&#13;
&#13;
Faktor-faktor yang membentuk intensi pelaku usahatani tidak bekerja secara terpisah, melainkan saling terkait dalam konteks penggunaan teknologi. Analisis terhadap aspek personal, harapan kinerja, harapan upaya, pengaruh sosial, kondisi yang memfasilitasi, dan kebiasaan menunjukkan bahwa intensi penggunaan berkembang melalui interaksi antara pengalaman penggunaan, kapasitas adaptasi, dan lingkungan sosial pelaku usahatani. Di antara berbagai faktor tersebut, modal pengetahuan muncul sebagai unsur yang berulang kali ditemukan pada pelaku usahatani yang mampu mempertahankan penggunaan smart farming. Penelitian ini juga mengidentifikasi tiga aspek penting yang memperluas pemahaman tentang kondisi yang memfasilitasi penggunaan teknologi, yaitu paradoks pendampingan, kerentanan sensor terhadap kondisi iklim tropis, dan kesenjangan fungsi antara desain teknologi dengan kondisi teknis lahan. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan smart farming tidak hanya bergantung pada ketersediaan teknologi, tetapi juga pada proses belajar dan adaptasi yang berlangsung selama penggunaan.&#13;
&#13;
Temuan penelitian menunjukkan bahwa intensi perilaku pelaku usahatani terhadap smart farming berkembang melalui interaksi antara pengalaman penggunaan, kondisi struktural, kapasitas adaptasi, dan ekologi komunikasi yang melingkupinya. Analisis lintas kasus mengidentifikasi tiga konfigurasi intensi, yaitu intensi rapuh, intensi bersyarat, dan intensi transformatif. Ketiga konfigurasi tersebut menunjukkan perbedaan dalam cara pelaku usahatani mempertahankan penggunaan teknologi ketika menghadapi berbagai kendala. Temuan juga menunjukkan bahwa jaringan komunikasi horizontal antarpetani menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman, membangun pembelajaran, dan mengembangkan adaptasi lokal terhadap teknologi. Temuan ini memperluas pemahaman UTAUT2 dengan menunjukkan bahwa intensi penggunaan tidak hanya dibentuk oleh persepsi individu terhadap teknologi, tetapi juga berkembang melalui proses adaptasi dan interaksi dalam ekologi komunikasi pelaku usahatani.&#13;
Penggunaan smart farming dalam praktik menunjukkan tiga pola utama, yaitu paket utuh, selektif-adaptif, dan evaluatif-withdrawal. Pola penggunaan tersebut berkembang sesuai pengalaman penggunaan dan konteks yang dihadapi pelaku usahatani. Dalam sejumlah kasus, pelaku usahatani yang terhubung dengan komunitas pembelajaran horizontal cenderung mampu mengembangkan berbagai bentuk adaptasi, sedangkan pelaku usahatani yang mengalami keterbatasan akses terhadap dukungan komunikasi teknis dan sosial lebih rentan menghentikan penggunaan teknologi. Temuan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan penggunaan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi teknis, tetapi juga oleh akses terhadap proses pembelajaran dan dukungan komunikasi. Berdasarkan sintesis lintas kasus, penelitian ini menghasilkan Model Adaptasi Smart Farming Berbasis Ekologi Komunikasi yang menggambarkan hubungan antara faktor pembentuk intensi, konfigurasi intensi, dan pola penggunaan aktual dalam proses adaptasi teknologi.&#13;
&#13;
Strategi komunikasi untuk mendukung keberlanjutan penggunaan smart farming disusun sebagai suatu sistem yang saling terhubung dengan menempatkan komunikasi sebagai mekanisme yang mendukung proses adaptasi teknologi. Strategi tersebut difokuskan pada empat arah utama, yaitu pengelolaan ekspektasi, penguatan komunikasi horizontal antarpetani, peningkatan kapasitas teknis pengguna, serta penguatan orientasi ekonomi dan pasar. Keempat strategi tersebut saling melengkapi dalam mendukung proses adaptasi teknologi, di mana keberlanjutan penggunaan tidak hanya dipengaruhi oleh niat awal pengguna, tetapi juga oleh kemampuan mereka untuk mengevaluasi, menyesuaikan, dan mengintegrasikan teknologi ke dalam praktik usahatani sehari-hari; Smart farming is promoted as the future of agriculture because of its potential to increase the efficiency, productivity, and sustainability of farming. However, the use of technology at the level of farmers does not always continue even though technology has become available and the expected economic benefits have been made available to users. This difference shows that the sustainability of smart farming is not sufficiently understood through technical and economic aspects alone. Behind the decision of farmers to accept technology, there are dynamics of behavioral intentions that are still not widely understood, especially in the context of developing countries. This study aims to analyze the factors that shape the behavioral intentions of farmers towards smart farming, analyze the dynamics of behavioral intentions that develop during the use of technology, and analyze the patterns of smart farming  use in farming practices, as well as formulate communication strategies that support the sustainability of smart farming use.&#13;
The research uses a qualitative approach with an instrumental collective case study strategy. Twenty-four agribusiness actors using smart farming in eight districts/cities of West Java became case units, selected purposively to maximize the variety of commodities, types of technology, access schemes, and use results. The Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT2) is positioned as a conceptual framework that guides the analysis, rather than as a model that is tested deductively. Data was collected through in-depth interviews, field observations, and document review during May 2024 to May 2025. The analysis is carried out through a thorough understanding of each case, summary of data, direct interpretation, and categorization, which is then followed by cross-case synthesis to build a common pattern (quintain).&#13;
The factors that shape the intentions of farming actors do not work separately, but are interrelated in the context of using technology. Analysis of personal aspects, performance expectations, effort expectations, social influences, facilitating conditions, and habits show that use intentions develop through the interaction between user experience, adaptation capacity, and the social environment of farming actors. Among these various factors, knowledge capital has emerged as an element that is repeatedly found in farming actors who are able to maintain the use of smart farming. The study also identifies three important aspects that expand understanding of the conditions that facilitate the use of technology, namely the paradox of mentoring, the vulnerability of sensors to tropical climatic conditions, and the functional gap between the design of the technology and the technical conditions of the land. These findings show that the use of smart farming depends not only on the availability of technology, but also on the learning and adaptation processes that take place during use.&#13;
The findings of the study show that the behavioral intentions of farmers towards smart farming develop through the interaction between user experience, structural conditions, adaptation capacity, and the communication ecology that surrounds it. Cross-case analysis identified three configurations of intent, namely fragile intent, conditional intent, and transformative intent. These three configurations show differences in the way farmers maintain the use of technology when facing various obstacles. The findings also show that horizontal communication networks between farmers are an important space for sharing experiences, building learning, and developing local adaptations to technology. These findings expand the understanding of UTAUT2 by showing that the intention of use is not only shaped by an individual's perception of technology, but also develops through the process of adaptation and interaction in the communication ecology of farmers.&#13;
The use of smart farming in practice shows three main patterns, namely intact packages, selective-adaptive, and evaluative-withdrawal. These usage patterns develop according to the experience of use and the context faced by farming actors. In some cases, farmers who are connected to horizontal learning communities tend to be able to develop various forms of adaptation, while farmers who experience limited access to technical and social communication support are more vulnerable to stop using technology. These findings show that the sustainability of use is not only influenced by technical conditions, but also by access to learning processes and communication support. Based on a cross-case synthesis, this study produced  a Communication Ecology-Based Smart Farming  Adaptation Model that describes the relationship between intention-forming factors, intention configuration, and actual usage patterns in the technology adaptation process.&#13;
Communication strategies to support the sustainability of the use of smart farming are structured as an interconnected system by placing communication as a mechanism that supports the process of technological adaptation. The strategy is focused on four main directions, namely managing expectations, strengthening horizontal communication between farmers, increasing user technical capacity, and strengthening economic and market orientation. The four strategies complement each other in supporting the process of technology adaptation, where the sustainability of use is not only influenced by the initial intentions of the users, but also by their ability to evaluate, adapt, and integrate technology into daily farming practices.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Disertasi_S3 I3602211016_Retno Widihastuti</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173283" rel="alternate"/>
<author>
<name>Widihastuti, Retno</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173283</id>
<updated>2026-06-08T08:24:47Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Disertasi_S3 I3602211016_Retno Widihastuti
Widihastuti, Retno
Penelitian ini berangkat dari permasalahan utama pada penyuluhan perikanan yang belum responsif terhadap gender, sehingga menimbulkan perubahan perilaku yang berdampak pada permasalahan keberlanjutan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk: menganalisis penyelenggaraan penyuluhan perikanan dari perspektif gender pada pelaku perikanan skala kecil di wilayah pesisir Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, serta Kabupaten Cilacap; menganalisis perubahan perilaku terkait kognitif, konatif, dan keterampilan (psikomotorik) pelaku perikanan (nelayan, pembudidaya, serta pengolah dan pemasar) baik laki-laki maupun perempuan di wilayah pesisir Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, serta Kabupaten Cilacap; menganalisis keberlanjutan perikanan ditinjau dari aspek ekologi, sosial, dan ekonomi di wilayah pesisir Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, serta Kabupaten Cilacap; menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutan perikanan pada pelaku perikanan skala kecil di wilayah pesisir Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, serta Kabupaten Cilacap; serta menganalisis strategi penyuluhan yang dibangun untuk mendukung perikanan berkelanjutan.&#13;
Penelitian ini dibangun atas integrasi beberapa pendekatan teoritis utama. Pertama, Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1991) digunakan untuk menjelaskan perubahan perilaku pada aspek kognitif, konatif, dan psikomotorik. Kedua, pendekatan Gender and Development (GAD) digunakan untuk menganalisis ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan dalam akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat dari program penyuluhan&#13;
Ketiga, perspektif ekofeminisme digunakan untuk memahami bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, namun sering terpinggirkan dalam sistem pengelolaan sumber daya. Keempat, teori keberlanjutan perikanan (fisheries sustainability) digunakan untuk menilai dampak perubahan perilaku terhadap aspek ekologi (stabilitas produksi dan ekosistem), sosial (partisipasi dan keadilan), serta ekonomi (pendapatan dan ketahanan usaha).&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research yang dikombinasikan dengan analisis deskriptif dan inferensial. Lokasi penelitian meliputi tiga wilayah pesisir, yaitu Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Cilacap, dengan total responden sebanyak 291 pelaku perikanan skala kecil yang terdiri dari nelayan, pembudidaya, pengolah, dan pemasar. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Variabel penelitian meliputi: penyuluhan perikanan (materi, metode, akses, partisipasi, kontrol, manfaat); perubahan perilaku (kognitif, konatif, psikomotorik); keberlanjutan perikanan (ekologi, sosial, ekonomi). Analisis data dilakukan menggunakan: analisis deskriptif untuk melihat rerata skor dan distribusi perilaku; analisis gender; dan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji hubungan kausal antarvariabel.&#13;
Penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan penyuluhan perikanan pada pelaku perikanan skala kecil di Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Cilacap berada pada kategori sedang (L: 48,3%; P:47,0%), atau belum sepenuhnya responsif terhadap perspektif gender; perubahan perilaku pelaku perikanan skala kecil berada pada kategori sedang yang dikontribusikan dari aspek kognitif (L:62,7%; P:52,9%), konatif (L:56,4%; P:56,5%), dan keterampilan (L:57,5%; P:54,1%), dapat dikatakan mampu meningkatkan pengetahuan pelaku perikanan, namun demikian, belum sepenuhnya mencerminkan transformasi perilaku yang kuat dalam praktik usaha perikanan sehari-hari; keberlanjutan perikanan pada pelaku perikanan skala kecil di tiga lokasi penelitian pada kategori sedang yaitu aspek ekologi (L:56,2%; P:52,4%), sosial (L:51,7%;P; 36,3%), dan ekonomi (L:44,0%; P:34,7%), dapat dikatakan bahwa praktik usaha perikanan yang dilakukan oleh pelaku perikanan telah mulai mengarah pada upaya pengelolaan sumber daya perikanan yang lebih berkelanjutan, namun belum sepenuhnya mencapai kondisi yang optimal baik pada aspek ekologi, sosial, dan ekonomi.&#13;
Faktor-faktor yang memengaruhi penyelenggaraan penyuluhan perikanan dalam penelitian ini adalah dukungan penyuluhan (T-value 7.830) dan nilai budaya masyarakat pesisir (T-value 2.883), atau hasil analisis menunjukkan bahwa dukungan penyuluhan belum secara optimal mampu merefleksikan kapasitas dan frekuensi yang secara langsung menumbuhkan kesadaran pelaku perikanan dalam kegiatan penyuluhan. Nilai budaya masyarakat pesisir juga belum memiliki peran seutuhnya dalam memengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan penyuluhan perikanan. Nilai budaya yang berkembang dalam masyarakat pesisir pada dasarnya mencerminkan hubungan sosial masyarakat, relasi gender dalam rumah tangga perikanan, serta kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam. Nilai-nilai tersebut memengaruhi cara masyarakat memandang kegiatan penyuluhan perikanan serta memengaruhi perilaku masyarakat dalam mengelola sumber daya perikanan. Strategi penyuluhan perikanan yang dibangun dalam penelitian ini adalah strategi penyuluhan perikanan pesisir berkelanjutan dengan perspektif gender yang dikembangkan melalui pendekatan input–process–output–outcome.&#13;
Penelitian ini memiliki beberapa kebaruan utama pada model integratif, yaitu hubungan penyuluhan–perubahan perilaku–keberlanjutan dalam perikanan skala kecil dengan menggabungkan teori Theory of Planned Behavior (TPB), Gender and Development (GAD), dan ekofeminisme (lingkungan dan perempuan). Integrasi analisis gender dan analisis struktural dalam penelitian penyuluhan perikanan. Model penyuluhan perikanan pesisir berkelanjutan dengan perspektif gender yang dikembangkan di penelitian. Strategi penyuluhan perikanan berperspektif gender untuk keberlanjutan perikanan adalah kebaruan strategis penelitian ini yang disusun menggunakan pendekatan input-process-output-outcome (David, 2011).
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Disertasi_S3 I3602211016_Retno Widihastuti</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173282" rel="alternate"/>
<author>
<name>Widihastuti, Retno</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173282</id>
<updated>2026-06-08T08:24:39Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Disertasi_S3 I3602211016_Retno Widihastuti
Widihastuti, Retno
Penelitian ini berangkat dari permasalahan utama pada penyuluhan perikanan yang belum responsif terhadap gender, sehingga menimbulkan perubahan perilaku yang berdampak pada permasalahan keberlanjutan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk: menganalisis penyelenggaraan penyuluhan perikanan dari perspektif gender pada pelaku perikanan skala kecil di wilayah pesisir Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, serta Kabupaten Cilacap; menganalisis perubahan perilaku terkait kognitif, konatif, dan keterampilan (psikomotorik) pelaku perikanan (nelayan, pembudidaya, serta pengolah dan pemasar) baik laki-laki maupun perempuan di wilayah pesisir Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, serta Kabupaten Cilacap; menganalisis keberlanjutan perikanan ditinjau dari aspek ekologi, sosial, dan ekonomi di wilayah pesisir Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, serta Kabupaten Cilacap; menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutan perikanan pada pelaku perikanan skala kecil di wilayah pesisir Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, serta Kabupaten Cilacap; serta menganalisis strategi penyuluhan yang dibangun untuk mendukung perikanan berkelanjutan.&#13;
Penelitian ini dibangun atas integrasi beberapa pendekatan teoritis utama. Pertama, Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1991) digunakan untuk menjelaskan perubahan perilaku pada aspek kognitif, konatif, dan psikomotorik. Kedua, pendekatan Gender and Development (GAD) digunakan untuk menganalisis ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan dalam akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat dari program penyuluhan&#13;
Ketiga, perspektif ekofeminisme digunakan untuk memahami bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, namun sering terpinggirkan dalam sistem pengelolaan sumber daya. Keempat, teori keberlanjutan perikanan (fisheries sustainability) digunakan untuk menilai dampak perubahan perilaku terhadap aspek ekologi (stabilitas produksi dan ekosistem), sosial (partisipasi dan keadilan), serta ekonomi (pendapatan dan ketahanan usaha).&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research yang dikombinasikan dengan analisis deskriptif dan inferensial. Lokasi penelitian meliputi tiga wilayah pesisir, yaitu Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Cilacap, dengan total responden sebanyak 291 pelaku perikanan skala kecil yang terdiri dari nelayan, pembudidaya, pengolah, dan pemasar. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Variabel penelitian meliputi: penyuluhan perikanan (materi, metode, akses, partisipasi, kontrol, manfaat); perubahan perilaku (kognitif, konatif, psikomotorik); keberlanjutan perikanan (ekologi, sosial, ekonomi). Analisis data dilakukan menggunakan: analisis deskriptif untuk melihat rerata skor dan distribusi perilaku; analisis gender; dan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji hubungan kausal antarvariabel.&#13;
Penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan penyuluhan perikanan pada pelaku perikanan skala kecil di Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Cilacap berada pada kategori sedang (L: 48,3%; P:47,0%), atau belum sepenuhnya responsif terhadap perspektif gender; perubahan perilaku pelaku perikanan skala kecil berada pada kategori sedang yang dikontribusikan dari aspek kognitif (L:62,7%; P:52,9%), konatif (L:56,4%; P:56,5%), dan keterampilan (L:57,5%; P:54,1%), dapat dikatakan mampu meningkatkan pengetahuan pelaku perikanan, namun demikian, belum sepenuhnya mencerminkan transformasi perilaku yang kuat dalam praktik usaha perikanan sehari-hari; keberlanjutan perikanan pada pelaku perikanan skala kecil di tiga lokasi penelitian pada kategori sedang yaitu aspek ekologi (L:56,2%; P:52,4%), sosial (L:51,7%;P; 36,3%), dan ekonomi (L:44,0%; P:34,7%), dapat dikatakan bahwa praktik usaha perikanan yang dilakukan oleh pelaku perikanan telah mulai mengarah pada upaya pengelolaan sumber daya perikanan yang lebih berkelanjutan, namun belum sepenuhnya mencapai kondisi yang optimal baik pada aspek ekologi, sosial, dan ekonomi.&#13;
Faktor-faktor yang memengaruhi penyelenggaraan penyuluhan perikanan dalam penelitian ini adalah dukungan penyuluhan (T-value 7.830) dan nilai budaya masyarakat pesisir (T-value 2.883), atau hasil analisis menunjukkan bahwa dukungan penyuluhan belum secara optimal mampu merefleksikan kapasitas dan frekuensi yang secara langsung menumbuhkan kesadaran pelaku perikanan dalam kegiatan penyuluhan. Nilai budaya masyarakat pesisir juga belum memiliki peran seutuhnya dalam memengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan penyuluhan perikanan. Nilai budaya yang berkembang dalam masyarakat pesisir pada dasarnya mencerminkan hubungan sosial masyarakat, relasi gender dalam rumah tangga perikanan, serta kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam. Nilai-nilai tersebut memengaruhi cara masyarakat memandang kegiatan penyuluhan perikanan serta memengaruhi perilaku masyarakat dalam mengelola sumber daya perikanan. Strategi penyuluhan perikanan yang dibangun dalam penelitian ini adalah strategi penyuluhan perikanan pesisir berkelanjutan dengan perspektif gender yang dikembangkan melalui pendekatan input–process–output–outcome.&#13;
Penelitian ini memiliki beberapa kebaruan utama pada model integratif, yaitu hubungan penyuluhan–perubahan perilaku–keberlanjutan dalam perikanan skala kecil dengan menggabungkan teori Theory of Planned Behavior (TPB), Gender and Development (GAD), dan ekofeminisme (lingkungan dan perempuan). Integrasi analisis gender dan analisis struktural dalam penelitian penyuluhan perikanan. Model penyuluhan perikanan pesisir berkelanjutan dengan perspektif gender yang dikembangkan di penelitian. Strategi penyuluhan perikanan berperspektif gender untuk keberlanjutan perikanan adalah kebaruan strategis penelitian ini yang disusun menggunakan pendekatan input-process-output-outcome (David, 2011).
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
