<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>DF - Human Ecology</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/88" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/88</id>
<updated>2026-11-06T13:23:51Z</updated>
<dc:date>2026-11-06T13:23:51Z</dc:date>
<entry>
<title>Pengaruh Dukungan Keluarga, Lingkungan Sekolah, Interaksi Teman Sebaya, dan Strategi Koping terhadap Kualitas Hidup Remaja di Sekolah Kedinasan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180249" rel="alternate"/>
<author>
<name>Kumoro, Retno</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180249</id>
<updated>2026-11-05T22:12:47Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Dukungan Keluarga, Lingkungan Sekolah, Interaksi Teman Sebaya, dan Strategi Koping terhadap Kualitas Hidup Remaja di Sekolah Kedinasan
Kumoro, Retno
RETNO KUMORO. Pengaruh Dukungan Keluarga, Lingkungan Sekolah, Interaksi Teman Sebaya, dan Strategi Koping terhadap Kualitas Hidup Remaja di Sekolah Kedinasan. Dibimbing oleh TIN HERAWATI, UJANG SUMARWAN, ISTIQLALIYAH MUFLIKHATI.&#13;
Remaja merupakan aset strategis bangsa dalam menyongsong Indonesia Emas 2045 karena akan menjadi pilar utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul di masa depan. Oleh karena itu, kualitas hidup remaja menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Remaja yang berada di lingkungan pendidikan berasrama, seperti di Sekolah Kedinasan, menghadapi tekanan yang lebih kompleks berupa tuntutan akademik, ketahanan fisik, serta adaptasi terhadap budaya dan norma baru di asrama. Penelitian ini bertujuan 1) menganalisis karakteristik responden, dukungan keluarga, lingkungan sekolah, interaksi teman sebaya, strategi koping, dan kualitas hidup remaja di Sekolah Kedinasan; 2) menganalisis hubungan dukungan keluarga, lingkungan sekolah, interaksi teman sebaya, strategi koping, dengan kualitas hidup remaja di Sekolah Kedinasan; 3) menganalisis perbedaan dukungan keluarga, lingkungan sekolah, interaksi teman sebaya, strategi koping, dan kualitas hidup pada remaja laki-laki dan perempuan di Sekolah Kedinasan; 4) menganalisis pengaruh dukungan keluarga, lingkungan sekolah, interaksi teman sebaya, strategi koping, terhadap kualitas hidup remaja di Sekolah Kedinasan; dan 5) merumuskan rekomendasi kebijakan peningkatan kualitas hidup remaja di Sekolah Kedinasan.  &#13;
Penelitian menggunakan metode kuantitatif jenis eksplanatori dan bersifat cross-sectional, yang dilakukan di salah satu Sekolah Kedinasan yang berlokasi di Bekasi, di bawah Kementerian Perhubungan.  Pengambilan data dilakukan pada bulan April 2025. Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa yang berada di Tingkat I dan II. Pengambilan contoh pada penelitian ini adalah remaja yang berada di tingkat I dan II, berusia 18 sampai 21 tahun, dan memiliki orang tua lengkap. Pemilihan responden dilakukan dengan teknik stratified non proportional. Sebanyak 331 remaja terpilih sebagai contoh yang terdiri dari 185 taruna dan 146 taruni dengan 20 responden dilakukan wawancara mendalam (in-depth interview).  Penelitian lolos kaji etik di Komisi Etik Manusia Institut Pertanian Bogor dengan Nomor: 1705/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2025.&#13;
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Instrumen penelitian yang digunakan: 1) kualitas hidup remaja, diukur menggunakan modifikasi dari WHOQOL-BREF (WHO, 2004) berdasarkan kerangka Quality of Life Research Unit, University of Toronto (2003), dengan Cronbach’s alpha = 0,921; 2) dukungan keluarga, diukur menggunakan Perceived Social Support–Family Scale (Procidano &amp; Heller, 1983) dengan Cronbach’s alpha = 0,956; 3) lingkungan sekolah, diukur dengan School Environment Inventory (Stern, 1974) dengan Cronbach’s alpha = 0,710; 4) interaksi teman sebaya, diukur menggunakan Friendship Qualities Scale (Bukowski et al., 1994) dengan Cronbach’s alpha = 0,932; 5) strategi koping, diukur dengan Ways of Coping Questionnaire (Folkman et al., 1986) dengan Cronbach’s alpha = 0,787.  Pengolahan dan analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu editing, coding, entry, dan scoring, kemudian pengolahan dan analisis data menggunakan Microsoft Excel, Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 25.0 untuk analisis deskriptif dan analisis inferensia (uji Independent Samples t-test dan Pearson Correlation) serta Structural Equation Modeling–Partial Least Square (SEM-PLS) untuk analisis uji pengaruh antar variabel.&#13;
Hasil uji beda menunjukkan perbedaan signifikan antara remaja laki-laki dan perempuan pada beberapa aspek, yaitu dukungan keluarga (dimensi emosional, penghargaan, dan informasi), lingkungan sekolah (dimensi sosial dan budaya), interaksi teman sebaya (dimensi persahabatan), strategi koping fokus masalah, serta kualitas hidup remaja (dimensi being, belonging, dan becoming). Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson, terdapat hubungan positif signifikan antara dimensi dukungan keluarga, lingkungan sekolah, interaksi teman sebaya, dan strategi koping dengan kualitas hidup remaja. Dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan informasi, dan dukungan instrumental menunjukkan hubungan positif yang signifikan dengan kualitas hidup remaja. Selain itu, lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya juga memiliki hubungan positif dengan kualitas hidup remaja. Namun, terdapat hubungan negatif yang signifikan antara konflik dengan kualitas hidup remaja. Faktor-faktor lain seperti persahabatan, bantuan, keamanan, strategi koping fokus masalah, dan strategi koping fokus emosi juga berhubungan positif dengan kualitas hidup remaja.&#13;
Kualitas hidup remaja keseluruhan responden menunjukkan responden laki-laki dan  perempuan dipengaruhi secara langsung oleh dukungan keluarga, lingkungan sekolah dan strategi koping, artinya semakin tinggi dukungan dari keluarga, semakin tinggi lingkungan sekolah dan semakin tinggi strategi koping yang dilakukan remaja akan meningkatkan kualitas hidup remaja. Pengaruh langsung antar variabel menunjukkan bahwa dukungan keluarga berpengaruh positif terhadap interaksi teman sebaya dan strategi koping. Selain itu, interaksi teman sebaya berpengaruh positif terhadap strategi koping, sedangkan lingkungan sekolah berpengaruh positif terhadap interaksi teman sebaya dan strategi koping. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa interaksi teman sebaya berpengaruh tidak langsung terhadap kualitas hidup remaja melalui strategi koping.&#13;
Rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan kualitas hidup remaja di Sekolah Kedinasan berfokus pada peningkatan: lingkungan sekolah, dukungan keluarga, dan strategi koping, melalui beberapa program antara lain pembentukan forum komunitas orang tua, revitalisasi fasilitas fisik sekolah, pengembangan sistem mentoring dan peer support, dan penerapan sistem pelaporan perundungan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Model Ekologi Keluarga dalam Upaya Meningkatkan Status Gizi Balita pada Keluarga Berisiko Stunting</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180217" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sugiharto, Adam</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180217</id>
<updated>2026-10-29T22:32:22Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Model Ekologi Keluarga dalam Upaya Meningkatkan Status Gizi Balita pada Keluarga Berisiko Stunting
Sugiharto, Adam
Masalah stunting masih menjadi tantangan besar bagi pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, produktivitas, serta potensi ekonomi bangsa di masa depan. Upaya percepatan penurunan stunting membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan lintas sektor, termasuk dari perspektif ekologi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor mikrosistem, mesosistem, eksosistem, dan makrosistem keluarga yang memengaruhi pola asuh makan dan status gizi balita pada keluarga berisiko stunting, serta merumuskan model ekologi keluarga yang dapat digunakan sebagai dasar intervensi peningkatan status gizi balita. &#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif didukung data kualitatif. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten dengan menyasar tujuh desa (Desa Cigorondong, Kertamukti, Kertajaya, Sumberjaya, Tamanjaya, Tunggaljaya, dan Ujungjaya). Adapun alasan pemilihan lokasi kabupaten Pandeglang merupakan salah satu daerah terpencil yang memiliki jumlah keluarga berisiko stunting terbanyak ke-4 yaitu 109.812 keluarga, adapun untuk Kecamatan Sumur memiliki sekitar 900 Keluarga berisiko stunting (BKKBN 2024). Pengambilan data dilakukan pada bulan September 2025. Selain itu, penelitian ini telah lolos kaji etik di Komisi Etik Penelitian yang Melibatkan Subyek Manusia Institut Pertanian Bogor dengan Nomor: 1803/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2025. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan bantuan kuesioner terstruktur, indept interview dan Focus Group Discussion (FGD). Pengolahan dan analisis data menggunakan Microsoft Excel, Statistical Package for Social Science (SPSS) 25.0 untuk analisis deskriptif dan analisis inferensia (uji correlation pearson) dan SEM-PLS (Structural Equation Modelling Partial Least Square) untuk analisis uji pengaruh.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ekonomi keluarga umumnya sedang, namun alokasi waktu ibu untuk pengasuhan masih rendah. Meskipun pengetahuan gizi dan penerapan 8 fungsi keluarga tergolong cukup baik, keterbatasan pada aspek air, sanitasi, dan kebersihan masih menjadi hambatan. Pada tingkat mesosistem, akses terhadap fasilitas kesehatan belum optimal, sedangkan pada tingkat eksosistem sebagian besar keluarga memiliki modal sosial rendah hingga sedang. Di tingkat makrosistem, hanya sedikit keluarga yang merasakan manfaat langsung dari program pemberdayaan masyarakat. Secara keseluruhan, pola asuh makan sudah diterapkan cukup baik meski belum optimal, dan status gizi anak sebagian besar berada pada kategori normal, meskipun masih terdapat anak dengan berat badan sangat kurang. &#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor mikrosistem, seperti riwayat penyakit anak, alokasi waktu ibu, dan penerapan 8 fungsi keluarga, memiliki hubungan signifikan dengan pola asuh makan. Anak yang memiliki riwayat penyakit tertentu cenderung memperoleh perhatian lebih dalam hal pola makan. Kemudian, semakin besar waktu yang dialokasikan ibu untuk anak, semakin baik pula pola asuh makan yang diterapkan. Sementara itu, status gizi anak berdasarkan berat badan berhubungan signifikan dengan usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, pendapatan per kapita, serta kondisi air, sanitasi, dan kebersihan. Adapun status gizi berdasarkan panjang badan berhubungan dengan usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, alokasi waktu ibu, dan tekanan ekonomi subjektif. Faktor pada tingkat mesosistem, eksosistem, dan makrosistem seperti akses fasilitas kesehatan, modal sosial, serta program pemberdayaan masyarakat juga memiliki hubungan signifikan dengan pola asuh makan, namun tidak dengan status gizi anak. Hal ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan status gizi anak perlu memperhatikan peran tidak langsung dari faktor lingkungan sosial dan ekonomi keluarga.&#13;
Berdasarkan temuan-temuan yang dihasilkan maka diformulasikan sebuah model ekologi keluarga dalam upaya peningkatan status gizi balita pada keluarga berisiko stunting. Model ini terdiri atas empat sistem utama, yaitu mikrosistem, mesosistem, eksosistem, dan makrosistem yang saling berinteraksi. Pada tingkat mikrosistem, diperlukan penguatan peran keluarga melalui peningkatan pengetahuan gizi, penerapan 8 fungsi keluarga, serta perbaikan akses air bersih dan sanitasi. Pada tingkat mesosistem, optimalisasi akses layanan kesehatan dilakukan melalui revitalisasi posyandu, puskesmas, dan penguatan koordinasi lintas sektor. Pada tingkat eksosistem, pemanfaatan modal sosial diperkuat melalui dukungan komunitas dan kolaborasi antar lembaga masyarakat. Sedangkan pada tingkat makrosistem, pemberdayaan masyarakat dan lembaga lokal perlu ditingkatkan untuk mewujudkan ketahanan gizi keluarga secara berkelanjutan. Model ekologi keluarga ini diharapkan menjadi dasar bagi perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terintegrasi dalam upaya percepatan penurunan stunting di tingkat keluarga.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Model Penyuluhan Peningkatan Kompetensi Pembudidaya Rumput Laut  untuk Keberlanjutan Usaha di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179377" rel="alternate"/>
<author>
<name>Husniah</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179377</id>
<updated>2026-08-15T06:27:39Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Model Penyuluhan Peningkatan Kompetensi Pembudidaya Rumput Laut  untuk Keberlanjutan Usaha di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat
Husniah
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi kelautan dan wilayah &#13;
pesisir yang strategis bagi ekonomi, pangan, dan lingkungan. Namun, masyarakat &#13;
pesisir masih menghadapi berbagai permasalahan, seperti kemiskinan, keterbatasan &#13;
akses pendidikan, kesehatan, permodalan, serta kerentanan terhadap perubahan &#13;
iklim. Kabupaten Polewali Mandar memiliki potensi kelautan yang besar, &#13;
khususnya budidaya rumput laut, tetapi masih menghadapi tantangan dalam &#13;
pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sumber daya pesisir secara &#13;
berkelanjutan. &#13;
Rumput laut merupakan komoditas unggulan yang berperan penting dalam &#13;
perekonomian masyarakat Kabupaten Polewali Mandar. Namun, produksinya &#13;
mengalami fluktuasi; berdasarkan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten &#13;
Polewali Mandar (2020), produksi tahun 2016 mencapai 1.191,50 ton, tetapi pada &#13;
2018 mengalami penurunan sebesar 39,57 ton. Menurut Syachruddin et al. (2019), &#13;
penurunan tersebut dipengaruhi rendahnya kompetensi pembudidaya dalam &#13;
menerapkan teknik budidaya yang tepat, terutama dalam pemilihan lokasi yang &#13;
masih didasarkan pada perkiraan subjektif tanpa mempertimbangkan kriteria teknis &#13;
dan ekologis. &#13;
Upaya peningkatan kompetensi pembudidaya melalui kegiatan penyuluhan &#13;
di Kabupaten Polewali Mandar belum sepenuhnya mencapai tujuan yang &#13;
diharapkan. Hal ini mengindikasikan bahwa model penyuluhan yang diterapkan &#13;
belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pembudidaya rumput &#13;
laut, sehingga belum mampu memberikan solusi yang efektif terhadap berbagai &#13;
permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan budidaya. Selain itu, penyuluh yang &#13;
bertugas umumnya merupakan penyuluh perikanan dengan kompetensi yang &#13;
bersifat umum, sehingga belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan teknis &#13;
spesifik budidaya rumput laut. Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan waktu &#13;
pendampingan, sarana dan prasarana penyuluhan, serta metode penyampaian &#13;
materi yang kurang adaptif terhadap kebutuhan pembudidaya. Akibatnya, proses &#13;
pembelajaran dan transfer pengetahuan belum berlangsung secara optimal sehingga &#13;
pengelolaan usaha budidaya rumput laut yang berkelanjutan belum dapat &#13;
diwujudkan secara maksimal. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis tingkat kompetensi &#13;
pembudidaya rumput laut dalam menjalankan usaha budidaya; (2) Menganalisis &#13;
pengaruh kompetensi terhadap keberlanjutan usaha pembudidaya rumput laut; (3) &#13;
Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kompetensi pembudidaya rumput &#13;
laut.(4) &#13;
Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi peran kelompok &#13;
pembudidaya rumput laut. (5) Menghasilkan model penyuluhan budidaya rumput &#13;
laut dalam mencapai keberlanjutan usaha. &#13;
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data &#13;
primer melalui survei terhadap pembudidaya rumput laut di tiga kecamatan sentra &#13;
produksi, yaitu Kecamatan Polewali, Kecamatan Binuang, dan Kecamatan &#13;
Wonomulyo. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive berdasarkan &#13;
tingkat aktivitas dan kontribusi produksi rumput laut yang relatif tinggi. Setelah &#13;
melalui proses validasi data, diperoleh 267 responden yang memenuhi kriteria &#13;
untuk dianalisis. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan Structural Equation &#13;
Modeling (SEM) untuk menguji hubungan kausal antarvariabel secara simultan. &#13;
Hasil penelitain menunjukkan kompetensi teknis pembudidaya rumput laut &#13;
berada pada kategori sedang dengan skor rata-rata 2,07. Kondisi ini &#13;
mengindikasikan bahwa sebagian besar pembudidaya masih menerapkan metode &#13;
budidaya yang bersifat tradisional dalam pengelolaan usahanya. Sementara itu, &#13;
kompetensi manajerial tergolong rendah dengan skor rata-rata 1,58. Rendahnya &#13;
kompetensi manajerial tercermin dari belum optimalnya penerapan fungsi &#13;
manajemen usaha, seperti perhitungan biaya tenaga kerja dan biaya pembibitan, &#13;
serta minimnya praktik pencatatan dan pembukuan usaha. Kompetensi sosial dan &#13;
kewirausahaan masing-masing berada pada kategori sedang dengan skor rata-rata &#13;
2,11 dan 2,03. Kompetensi sosial yang berada pada kategori sedang menunjukkan &#13;
bahwa keterlibatan pembudidaya dalam kegiatan sosial dan kerja sama masih &#13;
bersifat situasional serta belum berlangsung secara konsisten dalam berbagai aspek &#13;
interaksi sosial. Adapun kompetensi kewirausahaan yang berada pada kategori &#13;
sedang mengindikasikan bahwa pembudidaya, khususnya pembudidaya pemula, &#13;
masih memiliki kecenderungan untuk menghindari risiko sehingga belum berani &#13;
melakukan inovasi atau pengembangan usaha guna meningkatkan produktivitas. &#13;
Kompetensi pembudidaya rumput laut berpengaruh positif dan signifikan &#13;
terhadap keberlanjutan usaha, meskipun pengaruhnya masih relatif lemah &#13;
(koefisien jalur 0,158). Kondisi ini disebabkan oleh belum optimalnya penyuluhan, &#13;
fungsi kelompok pembudidaya, dan pengembangan kompetensi. Secara teknis, &#13;
pembudidaya telah menguasai tahapan budidaya, tetapi masih mengandalkan &#13;
pengalaman sehingga adopsi teknologi belum optimal. Kompetensi manajerial &#13;
menjadi aspek terlemah karena perencanaan, pencatatan, dan evaluasi usaha belum &#13;
diterapkan dengan baik. Sementara itu, kompetensi sosial cukup baik melalui kerja &#13;
sama antarpembudidaya, sedangkan kompetensi kewirausahaan masih terbatas &#13;
akibat rendahnya keberanian mengambil risiko dan mengadopsi inovasi. &#13;
Karakteristik pembudidaya, efektivitas penyuluhan, dan kelompok tani &#13;
berpengaruh positif terhadap kompetensi pembudidaya rumput laut dengan &#13;
koefisien jalur masing-masing sebesar 0,179; 0,211; dan 0,275. Temuan ini &#13;
mengindikasikan bahwa kompetensi pembudidaya akan meningkat seiring dengan &#13;
semakin baiknya karakteristik individu yang ditunjukkan oleh motivasi, &#13;
rasionalitas, dan penerimaan terhadap inovasi, semakin efektifnya penyelenggaraan &#13;
penyuluhan yang didukung oleh materi, metode, kompetensi penyuluh, serta sarana &#13;
dan kelembagaan, dan semakin optimalnya peran kelompok tani sebagai kelas &#13;
belajar, wahana kerja sama, dan unit produksi dalam meningkatkan pengetahuan, &#13;
keterampilan, dan sikap pembudidaya dalam mengelola usaha budidaya rumput &#13;
laut. &#13;
Belum optimalnya peran kelompok pembudidaya rumput laut di Kabupaten &#13;
Polewali Mandar dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal yang &#13;
saling berkaitan. Faktor internal meliputi rendahnya kualitas sumber daya manusia, &#13;
lemahnya kepemimpinan dan manajemen kelompok, terbatasnya kapasitas &#13;
anggota, serta keterbatasan modal usaha, sedangkan faktor eksternal mencakup &#13;
belum optimalnya pendampingan penyuluhan, kondisi lingkungan yang tidak &#13;
menentu, keterbatasan akses pasar, minimnya sarana dan prasarana pendukung, &#13;
vii &#13;
serta belum terjalinnya kemitraan yang kuat dengan berbagai pemangku &#13;
kepentingan. &#13;
Model penyuluhan yang dikembangkan dalam penelitian ini berlandaskan &#13;
Teori Difusi Inovasi Rogers (2003) sebagai kerangka konseptual untuk menjelaskan &#13;
hubungan antarvariabel dalam model Structural Equation Modeling (SEM). Teori &#13;
ini menjelaskan bahwa karakteristik individu, efektivitas penyuluhan, dan peran &#13;
kelompok merupakan faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan kompetensi &#13;
pembudidaya. Selanjutnya, kompetensi tersebut berperan dalam meningkatkan &#13;
keberlanjutan usaha budidaya rumput laut yang mencakup dimensi ekonomi, sosial, &#13;
lingkungan, dan sumber daya manusia. &#13;
Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa kompetensi pembudidaya &#13;
dipengaruhi secara signifikan oleh karakteristik individu, efektivitas penyuluhan, &#13;
dan peran kelompok. Temuan ini mengindikasikan bahwa rendahnya karakteristik &#13;
individu, belum optimalnya pelaksanaan penyuluhan, serta lemahnya peran &#13;
kelompok pembudidaya menyebabkan kompetensi pembudidaya belum &#13;
berkembang secara optimal. Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak pada &#13;
rendahnya tingkat keberlanjutan usaha budidaya rumput laut. &#13;
Berdasarkan hasil penelitian, model penyuluhan yang paling sesuai untuk &#13;
mendukung keberlanjutan usaha budidaya rumput laut adalah Participatory Need&#13;
Based Extension Model (Model penyuluhan partisipatif berbasis kebutuhan). Model &#13;
ini menempatkan penyuluhan sebagai instrumen utama dalam meningkatkan &#13;
kompetensi pembudidaya melalui pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan &#13;
nyata dan permasalahan yang dihadapi di lapangan. Selain itu, model ini &#13;
menekankan pentingnya penguatan karakteristik individu, seperti motivasi &#13;
berusaha, keterbukaan terhadap inovasi, dan kemampuan belajar, serta optimalisasi &#13;
peran kelompok sebagai wahana pembelajaran, kerja sama, pertukaran informasi, &#13;
dan pengembangan usaha. Dengan demikian, penyuluhan tidak hanya berfungsi &#13;
sebagai media transfer teknologi dan informasi, tetapi juga sebagai sarana &#13;
pemberdayaan yang mampu membangun kemampuan adaptif pembudidaya dalam &#13;
menghadapi dinamika lingkungan usaha. &#13;
Desain penelitian potong lintang belum mampu menggambarkan dinamika &#13;
perubahan kompetensi dan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang, sehingga &#13;
penelitian longitudinal diperlukan untuk menguji konsistensi hubungan &#13;
antarvariabel. Model yang dikembangkan juga belum mencakup seluruh faktor &#13;
yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan usaha, seperti kondisi biofisik, &#13;
kualitas bibit, akses pembiayaan, infrastruktur, pasar, kebijakan, dan perubahan &#13;
iklim. Selain itu, pengukuran berbasis persepsi responden berpotensi menimbulkan &#13;
subjektivitas. Ruang lingkup penelitian yang terbatas pada wilayah tertentu &#13;
menyebabkan generalisasi model perlu dilakukan secara hati-hati melalui validasi &#13;
di lokasi berbeda. &#13;
Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan pendekatan &#13;
longitudinal guna mengkaji dinamika perubahan kompetensi dan keberlanjutan &#13;
usaha budidaya rumput laut dalam jangka panjang. Selain itu, perlu dilakukan &#13;
pengujian implementasi Participatory Need-Based Extension Model melalui &#13;
penelitian aksi untuk mengetahui efektivitasnya dalam meningkatkan kompetensi, &#13;
produktivitas, dan keberlanjutan usaha pembudidaya. Pengembangan model juga &#13;
perlu mempertimbangkan variabel lain, seperti kondisi biofisik perairan, kualitas &#13;
bibit, teknologi budidaya, akses pembiayaan, pasar, infrastruktur, kebijakan, dan &#13;
perubahan iklim agar menghasilkan model yang lebih komprehensif. Penelitian &#13;
berikutnya juga perlu mengkaji penguatan kelembagaan kelompok pembudidaya &#13;
serta melakukan validasi model pada wilayah lain dengan karakteristik berbeda &#13;
untuk menguji penerapannya secara lebih luas; Indonesia, as an archipelagic country, has significant marine and coastal &#13;
potential that is strategically important for the economy, food security, and the &#13;
environment. However, coastal communities continue to face various challenges, &#13;
including poverty, limited access to education, healthcare, and capital, as well as &#13;
vulnerability to climate change. Polewali Mandar Regency has considerable marine &#13;
potential, particularly in seaweed cultivation, but still faces challenges in &#13;
community empowerment and sustainable management of coastal resources. &#13;
Seaweed is a leading commodity that plays an important role in the &#13;
economy of communities in Polewali Mandar Regency. However, its production &#13;
has fluctuated; according to the Polewali Mandar Regency Marine and Fisheries &#13;
Agency (2020), seaweed production reached 1,191.50 tons in 2016 but decreased &#13;
by 39.57 tons in 2018. According to Syachruddin et al. (2019), this decline was &#13;
influenced by the low competency of seaweed farmers in implementing appropriate &#13;
cultivation techniques, particularly in site selection, which was still based on &#13;
subjective estimates without considering technical and ecological criteria. &#13;
Efforts to improve the competence of seaweed farmers through extension &#13;
activities in Polewali Mandar Regency have not fully achieved the expected goals. &#13;
This indicates that the extension model implemented does not fully align with the &#13;
needs and characteristics of seaweed farmers, thus failing to provide effective &#13;
solutions to the various problems faced in cultivation activities. Furthermore, the &#13;
extension workers on duty are generally fisheries extension workers with general &#13;
competencies, thus not fully able to meet the specific technical needs of seaweed &#13;
cultivation. This situation is exacerbated by limited mentoring time, extension &#13;
facilities and infrastructure, and material delivery methods that are not adaptive to &#13;
the needs of farmers. As a result, the learning process and knowledge transfer have &#13;
not been optimal, thus preventing the realization of sustainable seaweed cultivation &#13;
management. &#13;
This study aims to: (1) analyze the level of competence of seaweed &#13;
cultivators in running a cultivation business; (2) Analyze the influence of &#13;
competence on the sustainability of seaweed cultivation businesses; (3) Analyze the &#13;
factors that influence the competence of seaweed cultivators. (4) Analyze the &#13;
factors that influence the role of seaweed cultivation groups. (5) Produce a seaweed &#13;
cultivation extension model in achieving business sustainability. &#13;
The study employed a quantitative approach, collecting primary data &#13;
through a survey of seaweed farmers in three sub-districts known as production &#13;
centers: Polewali, Binuang, and Wonomulyo. The research locations were &#13;
purposively selected based on their relatively high levels of activity and &#13;
contribution to seaweed production. After data validation, 267 respondents met the &#13;
criteria for analysis. The data were then analyzed using Structural Equation &#13;
Modeling (SEM) to simultaneously test causal relationships between variables &#13;
The research results show that the technical competence of seaweed farmers &#13;
is in the moderate category with an average score of 2.07. This condition indicates &#13;
that most farmers still apply traditional cultivation methods in managing their &#13;
businesses. Meanwhile, managerial competence is low with an average score of &#13;
1.58. Low managerial competence is reflected in the suboptimal implementation of &#13;
business management functions, such as calculating labor costs and nursery costs, &#13;
as well as minimal business recording and bookkeeping practices. Social and &#13;
entrepreneurial competence are both in the moderate category with average scores &#13;
of 2.11 and 2.03, respectively. Social competence in the moderate category &#13;
indicates that farmer involvement in social activities and cooperation is still &#13;
situational and has not been consistent in various aspects of social interaction. &#13;
Meanwhile, entrepreneurial competence in the moderate category indicates that &#13;
farmers, especially novice farmers, still have a tendency to avoid risks and therefore &#13;
do not dare to innovate or develop businesses to increase productivity. &#13;
Seaweed farmer competency has a positive and significant impact on &#13;
business sustainability, although the effect is still relatively weak (path coefficient &#13;
0.158). This is due to suboptimal extension services, farmer group functions, and &#13;
competency development. Technically, farmers have mastered the cultivation &#13;
stages, but still rely on experience, resulting in suboptimal technology adoption. &#13;
Managerial competency is the weakest aspect because business planning, record&#13;
keeping, and evaluation have not been implemented effectively. Meanwhile, social &#13;
competency is quite good through collaboration between farmers, while &#13;
entrepreneurial competency remains limited due to a lack of courage to take risks &#13;
and adopt innovations. &#13;
The characteristics of cultivators, the effectiveness of extension, and farmer &#13;
groups have a positive effect on the competence of seaweed cultivators with path &#13;
coefficients of 0.179, 0.211, and 0.275, respectively. These findings indicate that &#13;
cultivator competence will increase along with the improvement of individual &#13;
characteristics indicated by motivation, rationality, and acceptance of innovation, &#13;
the increasing effectiveness of extension services supported by materials, methods, &#13;
competence of extension workers, as well as facilities and institutions, and the &#13;
increasingly optimal role of farmer groups as learning classes, cooperation vehicles, &#13;
and production units in improving the knowledge, skills, and attitudes of cultivators &#13;
in managing seaweed cultivation businesses. &#13;
The suboptimal role of seaweed farming groups in Polewali Mandar &#13;
Regency is influenced by various interrelated internal and external factors. Internal &#13;
factors include low-quality human resources, weak group leadership and &#13;
management, limited member capacity, and limited business capital. External &#13;
factors include suboptimal outreach support, uncertain environmental conditions, &#13;
limited market access, inadequate supporting facilities and infrastructure, and the &#13;
lack of strong partnerships with various stakeholders. &#13;
The extension model developed in this study is based on Rogers' (2003) &#13;
Diffusion of Innovation Theory as a conceptual framework to explain the &#13;
relationships between variables in Structural Equation Modeling (SEM). This &#13;
theory explains that individual characteristics, extension effectiveness, and group &#13;
roles are factors that influence the improvement of cultivator competency. &#13;
Furthermore, this competency plays a role in improving the sustainability of &#13;
seaweed cultivation businesses, encompassing economic, social, environmental, &#13;
and human resource dimensions. &#13;
SEM analysis results show that cultivator competency is significantly &#13;
influenced by individual characteristics, extension effectiveness, and group roles. &#13;
These findings indicate that low individual characteristics, suboptimal extension &#13;
implementation, and the weak role of cultivator groups contribute to the &#13;
underdevelopment of cultivator competency. This ultimately impacts the low level &#13;
of sustainability of seaweed cultivation businesses. &#13;
Based on the research results, the most appropriate extension model to &#13;
support the sustainability of seaweed cultivation is the Participatory Need-Based &#13;
Extension Model. This model positions extension as the primary instrument in &#13;
improving the competence of seaweed farmers through an approach oriented &#13;
towards real needs and problems faced in the field. Furthermore, this model &#13;
emphasizes the importance of strengthening individual characteristics, such as &#13;
entrepreneurial motivation, openness to innovation, and learning ability, as well as &#13;
optimizing the role of groups as a vehicle for learning, collaboration, information &#13;
exchange, and business development. Thus, extension functions not only as a &#13;
medium for technology and information transfer, but also as a means of &#13;
empowerment that can build the adaptive capacity of farmers in facing the dynamics &#13;
of the business environment. &#13;
The cross-sectional research design is not capable of depicting the dynamics &#13;
of changes in competency and business sustainability over the long term, therefore, &#13;
longitudinal research is needed to test the consistency of the relationships between &#13;
variables. The developed model also does not encompass all factors that could &#13;
potentially influence business sustainability, such as biophysical conditions, seed &#13;
quality, access to financing, infrastructure, markets, policies, and climate change. &#13;
Furthermore, measurements based on respondents' perceptions have the potential &#13;
to introduce subjectivity. The limited scope of the research to a specific region &#13;
requires careful generalization of the model through validation in different &#13;
locations. &#13;
Future research is recommended to use a longitudinal approach to assess the &#13;
dynamics of competency changes and the long-term sustainability of seaweed &#13;
farming businesses. Furthermore, it is necessary to test the implementation of the &#13;
Participatory Need-Based Extension Model through action research to determine &#13;
its effectiveness in improving competency, productivity, and the sustainability of &#13;
seaweed farming businesses. Model development also needs to consider other &#13;
variables, such as the biophysical conditions of the waters, seed quality, cultivation &#13;
technology, access to financing, markets, infrastructure, policies, and climate &#13;
change to produce a more comprehensive model. Future research should also &#13;
examine the institutional strengthening of seaweed farming groups and validate the &#13;
model in other regions with different characteristics to test its broader applicability.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Model Peningkatan Efikasi Diri Dan Kesejahteraan Psikologis Anak Usia Dini</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179376" rel="alternate"/>
<author>
<name>Malihah, Zahro</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179376</id>
<updated>2026-08-15T06:27:03Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Model Peningkatan Efikasi Diri Dan Kesejahteraan Psikologis Anak Usia Dini
Malihah, Zahro
ZAHRO MALIHAH. Model Peningkatan Efikasi diri dan Kesejahteraan&#13;
Psikologis Anak Usia Dini. Dibimbing oleh MEGAWATI SIMANJUNTAK,&#13;
YULINA EVA RIANY, dan ALI KHOMSAN.&#13;
&#13;
Kesejahteraan psikologis anak usia dini merupakan fondasi penting bagi&#13;
perkembangan anak pada tahap kehidupan berikutnya. Berbagai penelitian&#13;
menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis dipengaruhi oleh karakteristik anak,&#13;
keluarga, dan lingkungan. Namun, sebagian besar penelitian masih mengkaji&#13;
faktor-faktor tersebut secara terpisah sehingga belum menjelaskan mekanisme&#13;
yang menghubungkan faktor keluarga, lingkungan, dan karakteristik anak dalam&#13;
membentuk kesejahteraan psikologis secara utuh. Selain itu, kajian mengenai&#13;
efikasi diri anak usia dini sebagai mekanisme psikologis yang menjembatani&#13;
pengaruh berbagai faktor tersebut masih terbatas. Oleh karena itu, diperlukan&#13;
suatu model yang mampu menjelaskan keterkaitan antarfaktor dalam&#13;
meningkatkan kesejahteraan psikologis anak usia dini.&#13;
Penelitian ini disusun berdasarkan integrasi Teori Ekologi Perkembangan&#13;
Bronfenbrenner, Teori Belajar Sosial Bandura, dan Family Stress Model untuk&#13;
memahami bagaimana karakteristik keluarga, kondisi lingkungan, dan faktor&#13;
psikologis anak saling berinteraksi dalam membentuk kesejahteraan psikologis&#13;
anak usia dini.&#13;
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh religiositas ibu, tingkat stres&#13;
ibu, gaya pengasuhan, lingkungan fisik rumah, lingkungan fisik sekolah,&#13;
penggunaan gadget, peran teman sebaya, dan efikasi diri terhadap kesejahteraan&#13;
psikologis anak usia dini, serta merumuskan model peningkatan kesejahteraan&#13;
psikologis anak usia dini.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain&#13;
explanatory sequential. Tahap kuantitatif dilakukan melalui survei terhadap 304&#13;
ibu yang memiliki anak usia 4–6 tahun pada 19 taman kanak-kanak di Kecamatan&#13;
Bogor Barat, Kota Bogor, kemudian dianalisis menggunakan Structural Equation&#13;
Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji hubungan&#13;
antarvariabel dalam model penelitian. Tahap kualitatif dilakukan melalui Focus&#13;
Group Discussion (FGD) bersama para pakar dari bidang ilmu keluarga, psikologi&#13;
perkembangan anak, pendidikan anak usia dini, manajemen pendidikan, pengawas&#13;
sekolah, dan praktisi PAUD. Tahap ini bertujuan memperdalam hasil kuantitatif&#13;
sekaligus menyempurnakan model yang dihasilkan sehingga tidak hanya&#13;
didukung oleh bukti empiris, tetapi juga mempertimbangkan aspek implementatif&#13;
dalam penyelenggaraan layanan pendidikan anak usia dini.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis anak usia&#13;
dini dibentuk melalui keterkaitan faktor individu, keluarga, dan lingkungan. Di&#13;
antara seluruh variabel yang dianalisis, efikasi diri merupakan faktor yang&#13;
memiliki pengaruh langsung paling besar terhadap kesejahteraan psikologis anak.&#13;
Selain itu, lingkungan fisik rumah, lingkungan fisik sekolah, dan gaya pengasuhan&#13;
berpengaruh positif terhadap kesejahteraan psikologis anak.&#13;
Sebaliknya, religiositas ibu, tingkat stres ibu, penggunaan gadget, dan peran&#13;
teman sebaya tidak berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan psikologis,&#13;
tetapi memiliki pengaruh tidak langsung melalui hubungan dengan variabel lain.&#13;
&#13;
iv&#13;
&#13;
Religiositas ibu berhubungan positif dengan tingkat stres ibu, gaya pengasuhan,&#13;
dan efikasi diri anak. Lingkungan fisik rumah berhubungan positif dengan gaya&#13;
pengasuhan dan efikasi diri anak, sedangkan penggunaan gadget berhubungan&#13;
negatif dengan efikasi diri anak. Gaya pengasuhan dan peran teman sebaya juga&#13;
berhubungan dengan penggunaan gadget anak. Temuan tersebut menunjukkan&#13;
bahwa kesejahteraan psikologis anak terbentuk melalui hubungan antarfaktor&#13;
yang saling berkaitan.&#13;
Hasil penelitian menempatkan efikasi diri sebagai mekanisme utama dalam&#13;
model yang dihasilkan. Berbagai faktor keluarga dan lingkungan tidak seluruhnya&#13;
memengaruhi kesejahteraan psikologis secara langsung, tetapi bekerja melalui&#13;
berkembangnya efikasi diri anak. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan&#13;
kesejahteraan psikologis anak memerlukan lingkungan dan pengasuhan yang&#13;
mendukung sekaligus pengalaman-pengalaman yang mampu memperkuat&#13;
keyakinan anak terhadap kemampuan dirinya.&#13;
Hasil Focus Group Discussion (FGD) memperdalam temuan kuantitatif&#13;
dengan menunjukkan bahwa efikasi diri berkembang melalui pengalaman berhasil&#13;
(mastery experience), dukungan dari orang dewasa yang bermakna, kesempatan&#13;
untuk mencoba secara mandiri, serta lingkungan belajar yang aman dan&#13;
mendukung. FGD juga menegaskan pentingnya keterpaduan peran keluarga,&#13;
satuan PAUD, dan pemangku kebijakan dalam meningkatkan kesejahteraan&#13;
psikologis anak.&#13;
Berdasarkan integrasi hasil kuantitatif dan kualitatif, penelitian ini&#13;
menghasilkan Model Peningkatan Kesejahteraan Psikologis Anak Usia Dini yang&#13;
menempatkan efikasi diri sebagai mekanisme utama yang menghubungkan&#13;
berbagai faktor keluarga dan lingkungan dengan kesejahteraan psikologis anak.&#13;
Model tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai proses&#13;
terbentuknya kesejahteraan psikologis anak usia dini serta memberikan dukungan&#13;
empiris terhadap pentingnya melihat perkembangan anak sebagai hasil interaksi&#13;
karakteristik individu, keluarga, dan lingkungan.&#13;
Implikasi penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan&#13;
psikologis anak usia dini perlu diarahkan pada penguatan efikasi diri melalui&#13;
praktik pengasuhan yang positif, lingkungan rumah dan sekolah yang mendukung,&#13;
serta pengelolaan penggunaan gadget secara bijaksana. Model yang dihasilkan&#13;
diharapkan dapat menjadi salah satu acuan dalam memperkuat program parenting,&#13;
layanan PAUD, dan kebijakan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan&#13;
psikologis anak usia dini&#13;
&#13;
Kata kunci: efikasi diri, gaya pengasuhan, kesejahteraan psikologis, lingkungan&#13;
fisik, usia dini; ZAHRO MALIHAH. A Model for Improving Self-Efficacy and Psychological&#13;
Well-Being in Early Childhood. Supervised by MEGAWATI SIMANJUNTAK,&#13;
YULINA EVA RIANY, and ALI KHOMSAN.&#13;
Early childhood psychological well-being is a crucial foundation for child&#13;
&#13;
development in later life. Various studies have shown that psychological well-&#13;
being is influenced by the characteristics of the child, family, and environment.&#13;
&#13;
However, most studies examine these factors separately, thus failing to explain&#13;
the mechanisms connecting family factors, the environment, and child&#13;
characteristics in shaping psychological well-being as a whole. Furthermore,&#13;
studies on early childhood self-efficacy as a psychological mechanism that&#13;
bridges the influence of these various factors are still limited. Therefore, a model&#13;
is needed that can explain the interrelationships between factors in improving&#13;
early childhood psychological well-being.&#13;
This research is structured based on an integration of Bronfenbrenner's&#13;
Developmental Ecology Theory, Bandura's Social Learning Theory, and the&#13;
Family Stress Model to understand how family characteristics, environmental&#13;
conditions, and child psychological factors interact to shape early childhood&#13;
psychological well-being.&#13;
This study aims to analyze the influence of maternal religiosity, maternal&#13;
stress levels, parenting style, the physical home environment, the physical school&#13;
environment, gadget use, the role of peers, and self-efficacy on early childhood&#13;
psychological well-being, and to formulate a model for improving early childhood&#13;
psychological well-being.&#13;
The research uses a mixed methods approach with an explanatory sequential&#13;
design. The quantitative phase involved a survey of 304 mothers with children&#13;
aged 4–6 years old at 19 kindergartens in West Bogor District, Bogor City. The&#13;
data were then analyzed using Structural Equation Modeling–Partial Least&#13;
Squares (SEM-PLS) to examine the relationships between variables in the&#13;
research model. The qualitative phase involved Focus Group Discussions (FGDs)&#13;
with experts from the fields of family science, child development psychology,&#13;
early childhood education, educational management, school supervisors, and&#13;
PAUD practitioners. This phase aimed to deepen the quantitative results and&#13;
refine the resulting model so that it was supported not only by empirical evidence&#13;
but also considered implementation aspects in the provision of early childhood&#13;
education services.&#13;
The results showed that the psychological well-being of early childhood&#13;
children is shaped through the interplay of individual, family, and environmental&#13;
factors. Among all the variables analyzed, self-efficacy was the factor with the&#13;
greatest direct influence on children's psychological well-being. Furthermore, the&#13;
physical environment of the home, the physical environment of the school, and&#13;
parenting style positively influenced children's psychological well-being. In&#13;
contrast, maternal religiosity, maternal stress levels, gadget use, and peer role did&#13;
not directly influence psychological well-being, but had an indirect influence&#13;
through their relationships with other variables. Maternal religiosity was&#13;
&#13;
vi&#13;
&#13;
positively associated with maternal stress levels, parenting style, and child self-&#13;
efficacy. The physical home environment was positively associated with parenting&#13;
&#13;
style and child self-efficacy, while gadget use was negatively associated with&#13;
child self-efficacy. Parenting style and peer role were also associated with child&#13;
gadget use. These findings suggest that children's psychological well-being is&#13;
shaped through interrelated interrelationships between factors.&#13;
The research findings position self-efficacy as the primary mechanism in the&#13;
resulting model. Various family and environmental factors do not directly&#13;
influence psychological well-being but instead operate through the development&#13;
of children's self-efficacy. These findings suggest that improving children's&#13;
psychological well-being requires a supportive environment and care, as well as&#13;
experiences that strengthen children's confidence in their abilities.&#13;
The Focus Group Discussion (FGD) results furthered the quantitative&#13;
findings by demonstrating that self-efficacy develops through mastery&#13;
experiences, support from significant adults, opportunities for independent&#13;
experimentation, and a safe and supportive learning environment. The FGD also&#13;
emphasized the importance of integrating the roles of families, early childhood&#13;
&#13;
education units, and policymakers in improving children's psychological well-&#13;
being.&#13;
&#13;
Based on the integration of quantitative and qualitative results, this study&#13;
produced a Model for Improving Early Childhood Psychological Well-being,&#13;
which positions self-efficacy as the primary mechanism linking various family&#13;
and environmental factors to children's psychological well-being. This model&#13;
provides a more comprehensive picture of the process of developing early&#13;
childhood psychological well-being and provides empirical support for the&#13;
importance of viewing child development as a result of the interaction of&#13;
individual, family, and environmental characteristics.&#13;
The implications of this research indicate that improving the psychological&#13;
&#13;
well-being of early childhood children needs to be directed at strengthening self-&#13;
efficacy through positive parenting practices, supportive home and school&#13;
&#13;
environments, and wise management of gadget use. The resulting model is&#13;
expected to serve as a reference for strengthening parenting programs, early&#13;
childhood education services, and policies oriented toward improving the&#13;
psychological well-being of early childhood children.&#13;
Keywords: early childhood, parenting styles, physical environment, psychological&#13;
&#13;
well-being, self-efficacy
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
