<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>DT - Economic and Management</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85</id>
<updated>2026-04-06T22:41:44Z</updated>
<dc:date>2026-04-06T22:41:44Z</dc:date>
<entry>
<title>Model Pengembangan Rantai Nilai Global Karet Alam Indonesia: Pendekatan Sistem Dinamik</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172884" rel="alternate"/>
<author>
<name>AGUSTINA, DWI SHINTA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172884</id>
<updated>2026-04-01T04:43:24Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Model Pengembangan Rantai Nilai Global Karet Alam Indonesia: Pendekatan Sistem Dinamik
AGUSTINA, DWI SHINTA
Pengembangan rantai nilai karet alam Indonesia masih dihadapkan pada&#13;
berbagai permasalahan mulai dari rendahnya produktivitas kebun karet, posisi&#13;
tawar petani yang lemah, rendahnya harga karet yang diterima petani, serta&#13;
kurangnya keterkaitan sektor hulu dan sektor hilir sehingga nilai tambah yang&#13;
diperoleh masih rendah. Penelitian mengenai peningkatan kinerja rantai nilai karet&#13;
pada umumnya dianalisis secara deskriptif, bersifat parsial, dan hanya mencakup&#13;
pada satu waktu tertentu yang biasanya bersifat statis sehingga belum mampu&#13;
menjelaskan dinamika jangka panjang di dalam rantai nilai global karet alam. Oleh&#13;
sebab itu, diperlukan suatu studi yang dapat memotret perilaku, interaksi, dan&#13;
dinamika di dalam rantai nilai secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk:&#13;
(1) memetakan (mapping) rantai nilai global karet alam Indonesia; (2) menganalisis&#13;
tata kelola (governance) rantai nilai global karet alam di Indonesia; (3)&#13;
menganalisis posisi dan partisipasi industri karet alam Indonesia dalam rantai nilai&#13;
global karet; dan (4) menganalisis strategi upgrading rantai nilai global karet alam&#13;
Indonesia. Kebaruan dari penelitian yaitu (a) mengintegrasikan konsep rantai nilai&#13;
global dengan pendekatan sistem sehingga dapat memotret dinamika sistem secara&#13;
holistik; (b) analisis rantai nilai global dilakukan secara keseluruhan mulai dari&#13;
pemetaan aktor, aktivitas, aliran produk, nilai tambah, cakupan geografis, dan tata&#13;
kelola; (c) penelitian ini tidak hanya memotret rantai nilai karet dalam lingkup&#13;
regional tetapi juga menganalisis partisipasi dan posisi industri karet Indonesia&#13;
dalam cakupan global; serta (d) penelitian ini menghasilkan rekomendasi kebijakan&#13;
upgrading karet yang dianalisis secara kuantitatif menggunakan pendekatan sistem&#13;
dinamik mulai dari subsistem produksi, subsistem pengolahan, dan subsistem&#13;
perdagangan.&#13;
Penelitian dilakukan dengan metode survei dan focus group discussion (FGD)&#13;
di dua provinsi sentra karet di Indonesia yaitu Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi.&#13;
Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer&#13;
dikumpulkan dari 236 aktor rantai nilai yang meliputi 201 orang petani, 8 orang&#13;
pedagang perantara skala kecil, 12 orang pedagang perantara skala besar, 9 orang&#13;
pengurus Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (UPPB), dan 6 orang&#13;
perwakilan pabrik. Selanjutnya, data sekunder diperoleh dari berbagai publikasi&#13;
yang relevan dengan kegiatan penelitian ini seperti publikasi ilmiah hasil penelitian&#13;
terdahulu, data statistik, dokumen, dan laporan serta sumber lainnya. Analisis&#13;
pemetaan rantai nilai dilakukan dengan analisis deskriptif secara kualitatif dan&#13;
kuantitatif menggunakan pendekatan making market work better for the poor&#13;
(M4P). Analisis tata kelola menggunakan skala Likert berdasarkan pendekatan&#13;
Gereffi yang mencakup lima tipe tata kelola yaitu market, modular, relational,&#13;
captive, dan hierarchy. Analisis posisi dan partisipasi industri karet Indonesia dalam&#13;
rantai nilai global menggunakan data MRIO (Multi Regional Input-Output) dari&#13;
ADB (Asian Development Bank) tahun 2015 dan 2022 dari 35 negara. Selanjutnya,&#13;
model strategi peningkatan menggunakan pendekatan sistem dinamik dianalisis&#13;
melalui beberapa tahapan penelitian termasuk artikulasi masalah, identifikasi sistem, perumusan model simulasi, validasi model, analisis sensitivitas, simulasi&#13;
model serta evaluasi kebijakan. Pemodelan sistem dinamik dianalisis menggunakan&#13;
Powersim Studio Academic (versi 10).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai nilai global karet alam Indonesia&#13;
terdiri dari lima aktivitas utama yaitu produksi, pasca panen dan pengolahan awal,&#13;
pemasaran, pengolahan lanjutan, dan perdagangan yang melibatkan beragam aktor&#13;
seperti petani skala kecil, UPPB/pasar lelang, pengumpul, pabrik karet remah,&#13;
eksportir, dan konsumen akhir. Setiap pelaku di sepanjang rantai nilai memiliki&#13;
aktivitas yang berbeda yang memberikan nilai tambah dan membedakan produk&#13;
karet alam. Tipe tata kelola rantai nilai karet alam dikategorikan sebagai tata kelola&#13;
modular dengan kompleksitas informasi tinggi, kodifikasi informasi tinggi, dan&#13;
kapabilitas pemasok tinggi. Rantai nilai ini menunjukkan cakupan geografis North-&#13;
South, yaitu produsen karet sebagian besar berada di bumi bagian selatan dan&#13;
konsumen karet alam sebagian besar berada di bumi bagian utara. Hasil analisis&#13;
partisipasi Indonesia di dalam rantai nilai global karet alam dunia menunjukkan&#13;
bahwa partisipasi industri karet Indonesia di pasar karet global pada tahun 2022&#13;
mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2015. Pada tahun 2015 Indonesia&#13;
berada pada peringkat 32 sedangkan pada tahun 2022 berada pada peringkat 28.&#13;
Secara keseluruhan, nilai partisipasi ke belakang (backward participation)&#13;
Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan nilai partisipasi ke depan (forward&#13;
participation). Hasil analisis menunjukkan bahwa industri karet Indonesia paling&#13;
banyak menggunakan input dari negara Cina, Jepang, Singapura, Korea, Thailand,&#13;
India, dan Malaysia. Selanjutnya, negara yang paling banyak menggunakan hasil&#13;
karet Indonesia adalah negara Amerika, Jepang, Korea, Cina, Jerman, dan India. Di&#13;
sisi lain, posisi industri karet Indonesia di pasar karet global mengalami penurunan,&#13;
yang semula berada pada kuadran II pada tahun 2015, bergeser menjadi kuadran IV&#13;
pada tahun 2022. Posisi Indonesia di kuadran IV ini menunjukkan bahwa industri&#13;
karet Indonesia memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang di bawah rata-rata&#13;
dunia. Penggunaan input yang kurang dari sisi backward linkage memengaruhi&#13;
kemampuan ekspor Indonesia dari sisi forward linkage sehingga baik dari sisi input&#13;
dan output mengalami pelemahan.&#13;
Hasil analisis sistem dinamik pada kondisi basis menunjukkan bahwa target&#13;
produksi karet alam sebesar 4,4 juta ton serta target volume ekspor sebesar 4,27 juta&#13;
ton pada tahun 2045 tidak tercapai. Rendahnya produktivitas, pertumbuhan&#13;
produksi yang lambat, luas areal yang terus berkurang, serta fluktuasi harga global&#13;
menjadi kendala utama dalam pengembangan rantai nilai global karet alam&#13;
Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan strategi terintegrasi untuk meningkatkan&#13;
produktivitas, keberlanjutan pasokan, dan kesejahteraan petani guna memperkuat&#13;
kinerja ekspor karet Indonesia. Upaya peningkatan kinerja rantai nilai global karet&#13;
alam Indonesia dilakukan melalui perumusan dan pengujian enam skenario&#13;
kebijakan berupa empat skenario tunggal dan dua skenario gabungan. Empat&#13;
skenario tunggal meliputi upgrading proses melalui peningkatan produktivitas dan&#13;
luas areal (skenario 1), upgrading produk melalui peningkatan mutu produk&#13;
(skenario 2), upgrading fungsi melalui peningkatan teknologi pengolahan lateks&#13;
(skenario 3), dan upgrading rantai melalui perubahan saluran rantai (skenario 4).&#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa skenario 6, yang mengintegrasikan seluruh&#13;
bentuk kebijakan upgrading yang dilakukan secara bersamaan, merupakan strategi&#13;
yang paling efektif dalam mendorong pengembangan rantai nilai global karet alam Indonesia. Implementasi skenario ini meliputi peningkatan produktivitas kebun,&#13;
perluasan areal tanam, perbaikan mutu bahan olah karet, adopsi teknologi&#13;
pengolahan yang lebih maju, serta optimalisasi pemilihan rantai pemasaran. Hasil&#13;
simulasi menunjukkan bahwa skenario terintegrasi tersebut mampu menghasilkan&#13;
capaian tertinggi pada indikator produksi karet alam, pendapatan petani, serta&#13;
kinerja ekspor, baik dari sisi volume maupun nilai, pada akhir periode analisis.&#13;
Dibandingkan dengan jenis upgrading lainnya, perbaikan pada aspek proses,&#13;
khususnya peningkatan produktivitas dan perluasan areal, memberikan pengaruh&#13;
yang lebih besar pada kondisi awal. Analisis sensitivitas lebih lanjut&#13;
mengindikasikan bahwa produktivitas kebun dan luas areal tanam merupakan&#13;
faktor paling menentukan dalam pencapaian target ekspor karet alam Indonesia,&#13;
yang kemudian diikuti oleh peningkatan mutu produk dan peningkatan teknologi&#13;
pengolahan.&#13;
Rumusan kebijakan untuk pengembangan rantai nilai global karet alam perlu&#13;
dilakukan secara menyeluruh di sepanjang rantai nilai, mulai dari sektor hulu&#13;
hingga sektor hilir. Hal ini tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan petani&#13;
dan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat partisipasi dan posisi Indonesia di dalam&#13;
rantai nilai global karet alam. Kebijakan di sektor hulu meliputi peningkatan&#13;
produktivitas, perluasan areal tanam, dan perbaikan mutu bahan olah karet&#13;
merupakan strategi yang dapat diambil untuk menjamin keberlanjutan pasokan dan&#13;
daya saing karet alam di pasar global. Selanjutnya, pada sektor hilir, penguatan&#13;
kapasitas pengolahan, inovasi barang jadi karet, serta strategi pemasaran yang lebih&#13;
terintegrasi diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah dan posisi tawar karet&#13;
Indonesia di pasar global.; The development of the Indonesian natural rubber value chain is still faced&#13;
with various problems ranging from low productivity of rubber plantations, weak&#13;
bargaining position of farmers, low prices of rubber received by farmers, and the&#13;
lack of linkage between upstream and downstream sectors so that the added value&#13;
obtained is still low. Research on improving the performance of the rubber value&#13;
chain is still partial so that a study is needed that can comprehensively capture the&#13;
behavior, interactions, and dynamics within the value chain. This study aims to: (1)&#13;
map the global value chain of Indonesian natural rubber; (2) analyze the governance&#13;
of the global value chain of natural rubber in Indonesia; (3) analyze the position and&#13;
participation of the Indonesian natural rubber industry in the global value chain of&#13;
rubber; and (4) analyze the upgrading strategy of the global value chain of&#13;
Indonesian natural rubber. The novelty of this study is (a) integrating the concept&#13;
of the global value chain with a systems approach so that it can capture the&#13;
dynamics of the system holistically; (b) the analysis of the global value chain is&#13;
carried out as a whole starting from mapping actors, activities, product flows, added&#13;
value, geographic scope, and governance; (c) this study not only captures the rubber&#13;
value chain in the regional scope but also analyzes the participation and position of&#13;
the Indonesian rubber industry in the global scope; and (d) this research produces&#13;
recommendations for rubber upgrading policies which are analyzed quantitatively&#13;
using a dynamic systems approach starting from the production subsystem,&#13;
processing subsystem, and trade subsystem.&#13;
The research was conducted using survey and focus group discussion (FGD)&#13;
methods in two rubber-producing provinces in Indonesia, namely South Sumatra&#13;
and Jambi. The data used in this study include primary and secondary data. Primary&#13;
data were collected from 236 value chain actors, including 201 farmers, 8 smallscale&#13;
intermediary traders, 12 large-scale intermediary traders, 9 UPPB&#13;
administrators, and 6 factory representatives. Furthermore, secondary data were&#13;
obtained from various publications relevant to this research activity, such as&#13;
scientific publications of previous research results, statistical data, documents, and&#13;
reports, and other sources. Value chain mapping analysis was conducted using&#13;
qualitative and quantitative descriptive analysis using the M4P approach.&#13;
Governance analysis used a Likert scale based on the Gereffi approach, which&#13;
includes five types of governance: market, modular, relational, captive, and&#13;
hierarchy. Analysis of the position and participation of the Indonesian rubber&#13;
industry in the global value chain used MRIO (Multi Regional Input-Output) data&#13;
from the ADB in 2015 and 2022 from 35 countries. Furthermore, the improvement&#13;
strategy model using a dynamic systems approach was analyzed through several&#13;
research stages, including problem articulation, system identification, simulation&#13;
model formulation, model validation, sensitivity analysis, model simulation, and&#13;
policy evaluation. The dynamic systems modeling was analyzed using Powersim&#13;
Studio Academic (version 10). The research results show that the Indonesian global natural rubber value&#13;
chain consists of five main activities, namely production, post-harvest and initial&#13;
processing, marketing, further processing, and trade, involving various actors such&#13;
as small-scale farmers, UPPB/auction markets, collectors, crumb rubber factories,&#13;
exporters, and end consumers. Each actor along the chain has different value&#13;
activities that add value and differentiate natural rubber products. The natural&#13;
rubber value chain governance type is categorized as modular governance with high&#13;
information complexity, high information codification, and high supplier&#13;
capabilities. This value chain demonstrates a North-South geographic location, with&#13;
rubber producers predominantly located in the southern hemisphere and natural&#13;
rubber consumers predominantly in the northern hemisphere. The analysis of&#13;
Indonesia's participation in the global natural rubber value chain shows that the&#13;
participation of the Indonesian rubber industry in the global rubber market in 2022&#13;
has increased compared to 2015. In 2015, Indonesia was ranked 32nd, while in 2022&#13;
it was ranked 28th. Overall, Indonesia's backward participation value is higher than&#13;
its forward participation value. The analysis shows that the Indonesian rubber&#13;
industry uses the most inputs from China, Japan, Singapore, Korea, Thailand, India,&#13;
and Malaysia. In addition, the countries that use the most Indonesian rubber&#13;
products are the United States, Japan, Korea, China, Germany, and India. On the&#13;
other hand, the position of the Indonesian rubber industry in the global rubber&#13;
market has decreased, from being in quadrant II in 2015, shifting to quadrant IV in&#13;
2022. Indonesia's position in quadrant IV indicates that the Indonesian rubber&#13;
industry has forward and backward linkages below the world average. Insufficient&#13;
use of inputs from the backward linkage side effects Indonesia's export capabilities&#13;
from the forward linkage side so that both the input and output sides experience&#13;
weakness.&#13;
A dynamic system analysis under baseline conditions indicates that the&#13;
natural rubber production target of 4.4 million tons and the export volume target of&#13;
4.27 million tons by 2045 will not be achieved. Low productivity, slow production&#13;
growth, continuously decreasing planted area, and global price fluctuations are the&#13;
main obstacles in the development of the Indonesian natural rubber global value&#13;
chain. Therefore, an integrated strategy is needed to increase productivity, supply&#13;
sustainability, and farmer welfare to strengthen Indonesia's rubber export&#13;
performance. Efforts to improve the performance of the Indonesian natural rubber&#13;
global value chain are carried out through the formulation and testing of six policy&#13;
scenarios: four single scenarios and two combined scenarios. The four single&#13;
scenarios include process upgrading through increased productivity and area&#13;
(scenario 1), product upgrading through improved product quality (scenario 2),&#13;
functional upgrading through improved latex processing technology (scenario 3),&#13;
and chain upgrading through changes in chain channels (scenario 4). The analysis&#13;
results indicate that scenario 6, which integrates all forms of upgrading policies&#13;
implemented simultaneously, is the most effective strategy in encouraging the&#13;
development of the Indonesian natural rubber global value chain. The&#13;
implementation of this scenario includes increasing plantation productivity,&#13;
expanding planted areas, improving the quality of rubber raw materials, adopting&#13;
more advanced processing technologies, and optimizing the marketing chain.&#13;
Simulation results indicate that this integrated scenario is capable of producing the&#13;
highest achievements in natural rubber production indicators, farmer income, and export performance, both in terms of volume and value, at the end of the analysis&#13;
period. Compared with other types of upgrading, improvements in process aspects,&#13;
particularly productivity increases and area expansion, have a greater impact on&#13;
initial conditions. Further sensitivity analysis indicates that plantation productivity&#13;
and planted area are the most determining factors in achieving Indonesia's natural&#13;
rubber export target, followed by improvements in product quality and the&#13;
improvement of processing technology.&#13;
Policy formulation for the development of the global natural rubber value&#13;
chain needs to be comprehensive, spanning the entire value chain, from upstream&#13;
to downstream. This not only has the potential to increase the income of farmers&#13;
and business actors but also strengthen Indonesia's participation and position within&#13;
the global natural rubber value chain. Upstream policies, including increasing&#13;
productivity, expanding planting areas, and improving the quality of processed&#13;
rubber materials, are strategies that can be adopted to ensure the sustainability of&#13;
natural rubber supply and competitiveness in the global market. Furthermore, in the&#13;
downstream sector, strengthening processing capacity, innovation in finished&#13;
rubber products, and a more integrated marketing strategy are needed to increase&#13;
the added value and bargaining position of Indonesian rubber in the global market.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Wirausahatani dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja Usahatani Padi Organik di Jawa Tengah</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172515" rel="alternate"/>
<author>
<name>Nadapdap, Hendrik Johannes</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172515</id>
<updated>2026-02-04T02:38:56Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Wirausahatani dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja Usahatani Padi Organik di Jawa Tengah
Nadapdap, Hendrik Johannes
Beras merupakan komoditas strategis sehingga menyebabkan intervensi pemerintah pada harga beras hal tersebut berdampak terhadap pendapatan petani. Penting bagi petani untuk memproduksi komoditas yang bernilai tinggi untuk meningkatkan pendapatan. Salah satu produk beras yang bernilai tinggi adalah beras khusus seperti beras organik yang mana harganya diserahkan pada mekanisme pasar. Masalah krusial lainnya dari produksi padi Indonesia adalah masih rendahnya produktivitas. Oleh karena itu penggunaan teknologi menjadi sangat penting untuk meningkatkan produktivitas padi yaitu dengan sistem organik. Transisi dari usahatani anorganik ke usahatani organik membutuhkan kapasitas kewirausahaan yang mencakup inovasi, pengambilan risiko, sikap proaktif serta kemampuan mengakses jaringan sumber daya. Umumnya petani yang memiliki karakter kewirausahaan memiliki pandangan ke depan dan bersedia mengambil risiko serta mengadopsi teknologi untuk peningkatan produksi. Oleh karena itu, sangat menarik melihat bagaimana kemampuan kewirausahaan petani padi organik yang diperlukan dalam mengambil berbagai risiko dan mengadopsi serat menghasilkan inovasi. Berdasarkan permasalahan di atas, maka penelitian ini meneliti perilaku kewirausahaan petani, efisiensi usahatani, pendapatan wirausahatani padi serta membangun model wirausahatani padi organik yang dapat mendukung kinerja usahatani padi secara keberlanjutan.&#13;
Penelitian ini dilaksanakan di Provinsi Jawa Tengah karena Jawa Tengah merupakan salah satu produsen padi organik di Indonesia. Pemilihan kabupaten yang diteliti menggunakan purposive sampling sehingga terpilih tiga kabupaten yaitu Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Magelang. Pengambilan sampel petani dilakukan dengan Multistage random sampling-Equal Allocation yang artinya mengambil jumlah sampel yang sama di setiap wilayah agar memiliki perbandingan yang adil sehingga diperoleh jumlah sampel 180 sampel. Kemudian total sampel 180 dibagi ke dalam 3 wilayah (kabupaten) secara seimbang sehingga diambil masing-masing kabupaten sebesar 60 orang sampel. Data yang digunakan adalah data primer yang terdiri dari data karakteristik individu petani padi, data faktor lingkungan, data faktor sosial petani padi organik, data produksi, data pendapatan petani. Metode analisis Entrepreneursial Behavior Index (EBI) digunakan untuk mengukur kewirausahaan petani padi organik di Jawa Tengah. Kinerja usahatani dilakukan dengan analisis produksi usahatani melalui analisis fungsi produksi Stochastic Frontier Analysis (SFA) yang kemudian dilanjutkan analisis efisiensi teknis dan efisiensi ekonomi dan faktor-faktor yang memengaruhi inefisiensi usahatani. Pendapatan usahatani menggunakan analisis struktur biaya dan penerimaan usahatani. Model ekosistem wirausahatani padi organik dibangun dengan Partial Least Square- Structural Equation Modeling (PLS-SEM).&#13;
Kebaruan pada penelitian ini terletak pada beberapa aspek penting. Pertama adalah penelitian ini mengintegrasikan analisis tingkat kewirausahaan pada usahatani padi organik  terhadap analisis  ekonomi yang  meliputi efisiensi,&#13;
 &#13;
pendapatan, dan produktivitas usahatani padi organik di Jawa Tengah. Kedua, pendekatan yang lebih menyeluruh terhadap aspek kewirausahaan pada usahatani padi mulai dari faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan kewirausahaan dilihat dari faktor petani, lingkungan dan sosial. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini memasukkan efisiensi ekonomi menjadi salah satu ukuran kinerja usahatani. Kebaruan lainnya yaitu penelitian ini menambahkan variabel kompetensi kewirausahaan yang menjadi variabel mediasi yang berdampak terhadap kinerja usahatani.&#13;
Orientasi kewirausahaan petani padi organik berada pada kategori sedang dengan nilai indeks komposit/ nilai EBI sebesar 85,36. Orientasi kewirausahaan diukur dengan 3 dimensi yaitu inovasi, pengambilan risiko, dan sikap proaktif. Dimensi inovasi merupakan peringkat pertama (indeks dimensi 86,36) yang artinya bahwa petani padi organik lebih dominan dalam melakukan praktik inovasi. Sub dimensi seperti Inovasi produk, risiko harga, risiko pasar, dan proaktif dalam memulai perubahan menunjukkan konsentrasi yang lebih kuat dalam kisaran tinggi, yang menunjukkan bahwa petani memiliki sifat kewirausahaan. Produktivitas padi organik di Jawa Tengah adalah 6797kg/ha atau 6.8 ton/ha dan produktivitas ini dapat dikatakan tinggi karena produksi rata-rata padi Indonesia adalah 5,2 ton/ha. Luas lahan, benih, tenaga kerja, pestisida nabati merupakan input yang berpengaruh dalam peningkatan produksi padi organik di Jawa Tengah. Usahatani padi organik di Jawa Tengah sudah efisien secara teknis dan ekonomi yang mana nilai efisiensi teknisnya adalah 0,88 dan nilai efisiensi ekonominya sebesar 0,79. Faktor-faktor yang memengaruhi inefisiensi adalah usia petani, pengalaman petani dan orientasi kewirausahaan. Usahatani padi organik di Jawa Tengah memiliki pendapatan yang tinggi yang mana pendapatan petani padi organik sebesar Rp37.090,685,00 serta nilai rasio R/C sebesar 4.27. Model ekosistem wirausahatani padi organik dibangun dari faktor-faktor yang mempengaruhi secara langsung orientasi kewirausahaan yaitu faktor pribadi, faktor lingkungan dan faktor sosial. Orientasi kewirausahaan yang dimiliki petani secara langsung mempengaruhi kinerja usahatani dan akhirnya secara tidak langsung mempengaruhi luaran usahatani yang meliputi produktivitas dan pendapatan. Kompetensi kewirausahaan merupakan moderasi semu yang memengaruhi hubungan yang negatif antara orientasi kewirausahaan dan kinerja usahatani. Secara bersamaan, kompetensi kewirausahaan dan orientasi kewirausahaan dapat meningkatkan kinerja usahatani padi organik yang meliputi efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis.&#13;
Melihat masih belum tingginya tingkat kewirausahaan petani padi organik maka perlu dilakukan pelatihan dan pendampingan kewirausahaan kepada petani terkait inovasi proses, input dan pemasaran sehingga dapat memfasilitasi tumbuhnya orientasi kewirausahaan serta perubahan pola pikir petani. Peningkatan kewirausahaan tersebut juga berdampak terhadap efisiensi usahatani dan penciptaan inovasi dalam usahatani padi organik. Selain itu, perlu memperkuat kapasitas kelompok tani atau asosiasi petani dalam melakukan tindakan kolektif (collective action) dalam hal pemasaran produk.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Efisiensi Produksi, Preferensi Risiko, dan Keberlanjutan Usaha Peternakan Sapi Perah Perkotaan di Provinsi DKI Jakarta</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172504" rel="alternate"/>
<author>
<name>Magrianti, Tessa</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172504</id>
<updated>2026-02-03T23:47:21Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Efisiensi Produksi, Preferensi Risiko, dan Keberlanjutan Usaha Peternakan Sapi Perah Perkotaan di Provinsi DKI Jakarta
Magrianti, Tessa
Usaha peternakan sapi perah rakyat di Provinsi DKI Jakarta merupakan bagian penting dari sistem pangan perkotaan (urban food system) yang menyediakan susu segar lokal di tengah tingginya tekanan urbanisasi. Usaha ini beroperasi dalam kondisi keterbatasan lahan, keterbatasan hijauan pakan, tingginya biaya tenaga kerja, serta ketidakpastian harga input dan output. Kepadatan penduduk DKI Jakarta yang mencapai 16.341 jiwa/km² (BPS, 2022) semakin mempersempit ruang bagi pengelolaan pakan, kandang, dan fasilitas pendukung. Dalam konteks tersebut, keberlanjutan peternakan sapi perah perkotaan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan skala usaha, tetapi oleh kemampuan peternak dalam mengelola efisiensi produksi, risiko usaha, dan pemanfaatan sumber daya secara optimal.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif faktor-faktor produksi dan profitabilitas usaha, tingkat efisiensi teknis dan ekonomi, preferensi risiko peternak terhadap input produksi, serta tingkat keberlanjutan usaha peternakan sapi perah perkotaan di DKI Jakarta. Penelitian dilaksanakan pada Oktober–November 2024 dengan metode sensus terhadap 56 peternak aktif (94,9% dari populasi). Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi lapang, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi pemerintah dan koperasi.&#13;
Analisis dilakukan menggunakan beberapa pendekatan, yaitu: (1) fungsi produksi Cobb–Douglas untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi output susu dan profitabilitas usaha; (2) Stochastic Frontier Analysis (SFA) untuk mengestimasi efisiensi teknis dan ekonomi serta sumber-sumber inefisiensi; (3) model preferensi risiko Kumbhakar (2002) untuk mengestimasi perilaku risiko peternak secara simultan terhadap produksi dan risiko produksi; serta (4) pendekatan Sustainable Value Added (SVA) untuk menilai keberlanjutan usaha berbasis pemanfaatan sumber daya ekonomi, sosial, dan lingkungan, yang dilengkapi dengan perhitungan emisi gas rumah kaca menggunakan metode Tier-2 IPCC (2006).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi susu sapi perah di DKI Jakarta secara signifikan dipengaruhi oleh penggunaan konsentrat dan jumlah sapi laktasi. Tingkat efisiensi teknis peternak berada pada kategori cukup baik, namun belum optimal. Temuan penting menunjukkan bahwa keterbatasan utama usaha sapi perah perkotaan bukan terletak pada kemampuan teknis produksi, melainkan pada tingginya biaya memperoleh hijauan pakan akibat terpisahnya lokasi peternakan dengan sumber pakan. Rata-rata biaya produksi tahunan per satuan ternak sebesar Rp13.448.374,00, dengan struktur biaya didominasi oleh pakan (ampas tahu 25,08%, hijauan 12,26%, konsentrat 9,40%) dan tenaga kerja (26,06%). Meskipun menghadapi tekanan biaya tersebut, usaha sapi perah perkotaan tetap layak secara ekonomi, dengan penerimaan rata-rata Rp28.341.980,00 per satuan ternak per tahun dan laba bersih atas total biaya 12.219.316,00, serta nilai R/C ratio atas biaya total sebesar 1,76.&#13;
Analisis preferensi risiko menunjukkan bahwa peternak sapi perah di DKI Jakarta memiliki perilaku risiko yang heterogen dan spesifik terhadap jenis input. Peternak cenderung bersikap risk averse terhadap input pakan dan tenaga kerja, yang tercermin dalam alokasi input di bawah standar rekomendasi sebagai upaya menekan risiko biaya. Sebaliknya, perilaku risk taker ditunjukkan pada jumlah sapi laktasi serta penggunaan obat dan vitamin, yang dipersepsikan penting untuk menjaga kesinambungan produksi. Pola ini mencerminkan strategi adaptasi peternak perkotaan dalam menyeimbangkan risiko produksi dan risiko biaya di tengah keterbatasan sumber daya dan ketidakpastian usaha.&#13;
Hasil analisis SVA menunjukkan variasi tingkat keberlanjutan usaha yang cukup besar, dengan nilai berkisar antara –Rp31.752.000,00 hingga Rp588.659.000,00 per tahun, dan rata-rata sebesar Rp121.588.000,00. Sekitar 21% peternak berada pada kategori keberlanjutan terendah, sementara 23% peternak memiliki rasio efisiensi keberlanjutan (RtC) di bawah satu, yang menunjukkan penggunaan sumber daya yang belum efisien. Variabel tenaga kerja dan kapital terbukti menurunkan kinerja keberlanjutan karena menyerap biaya besar tanpa peningkatan output yang sebanding, terutama akibat aktivitas pencarian hijauan yang memakan waktu. Sebaliknya, sarana produksi dan pengelolaan lingkungan memberikan kontribusi positif terhadap penciptaan nilai keberlanjutan usaha.&#13;
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan usaha peternakan sapi perah perkotaan di DKI Jakarta ditentukan oleh keterpaduan antara efisiensi teknis, perilaku pengelolaan risiko, dan kemampuan menciptakan nilai keberlanjutan di bawah keterbatasan sumber daya perkotaan. Temuan ini memberikan dasar empiris yang kuat bagi perumusan kebijakan penguatan peternakan sapi perah urban, khususnya melalui stabilisasi pasokan pakan, peningkatan layanan kesehatan ternak, penguatan kelembagaan koperasi, serta dukungan pembiayaan dan manajemen usaha yang adaptif terhadap karakteristik wilayah perkotaan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Dampak Kebijakan Pengembangan Biodieselterhadap Agribisnis Minyak Kelapa Sawit Indonesia</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172445" rel="alternate"/>
<author>
<name>Gultom, Gusti Artama</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172445</id>
<updated>2026-02-09T07:11:39Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Dampak Kebijakan Pengembangan Biodieselterhadap Agribisnis Minyak Kelapa Sawit Indonesia
Gultom, Gusti Artama
Minyak kelapa sawit merupakan salah satu komoditas agribisnis strategis Indonesia yang mengalami pertumbuhan produksi sangat pesat sejak periode 1990an, menjadikan Indonesia sebagai produsen crude palm oil (CPO) terbesar di dunia dan menjadi eksportir CPO terbesar sejak tahun 2007. Peningkatan produksi yang pesat tersebut memberikan kontribusi penting terhadap perekonomian nasional melalui ekspor. Namun, tingginya ketergantungan pada pasar ekspor juga menjadikan industri kelapa sawit rentan terhadap fluktuasi harga global dan kebijakan perdagangan internasional.&#13;
Dalam menghadapi tantangan tersebut, kebijakan pengembangan biodiesel berbasis CPO muncul sebagai strategi untuk menciptakan pasar baru di dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Penerapan kebijakan mandatori biodiesel tidak hanya berperan dalam memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang peningkatan nilai tambah CPO melalui hilirisasi. Namun demikian, pengembangan biodiesel juga membawa implikasi luas terhadap sistem agribisnis kelapa sawit Indonesia, mulai dari produksi di tingkat hulu, struktur pasar, hingga distribusi CPO antara kebutuhan domestik dan ekspor. Peningkatan permintaan CPO untuk biodiesel berpotensi memengaruhi keseimbangan pasar, harga CPO dan tandan buah segar (TBS) sawit, serta keberlanjutan pasokan jangka panjang, terutama di tengah keterbatasan lahan dan isu produktivitas. &#13;
Oleh karena itu, diperlukan kajian yang komprehensif untuk menganalisis dampak kebijakan pengembangan biodiesel terhadap agribisnis minyak kelapa sawit Indonesia. Tujuan umum penelitian adalah untuk menganalisis dampak kebijakan pengembangan biodiesel terhadap agribisnis minyak kelapa sawit Indonesia. Tujuan umum ini kemudian diturunkan menjadi tujuan khusus yang terdiri dari lima tujuan yakni untuk menganalisis (a) sejarah dan dinamika perkembangan kebijakan pengembangan biodiesel di Indonesia; (b) pengaruh kebijakan pengembangan biodiesel terhadap harga CPO internasional; (c) pengaruh kebijakan pengembangan biodiesel terhadap harga CPO domestik; (d) pengaruh kebijakan pengembangan biodiesel terhadap harga TBS di tingkat petani; dan (e) pengaruh kebijakan pengembangan biodiesel terhadap kebutuhan CPO domestik.&#13;
Tujuan pertama dianalisis dengan pendekatan studi pustaka. Pengembangan biodiesel pada awal tahun 2000an dilatarbelakangi oleh peningkatan produksi minyak kelapa sawit Indonesia yang sangat pesat, sehingga mendorong perlunya penciptaan pasar baru guna menyerap kelebihan pasokan dan mencegah terjadinya penurunan harga minyak kelapa sawit. Pada tahun 2008, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan mandatori biodiesel melalui Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 32 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain. Pengembangan biodiesel di Indonesia bertujuan untuk menciptakan new market (pasar baru) minyak sawit Indonesia, diversifikasi dan ketahanan energi dan penghematan devisa negara, peningkatan nilai tambah CPO, penyedia lapangan pekerjaan dan untuk menurunkan gas rumah kaca. &#13;
Tujuan penelitian kedua dianalisis dengan menggunakan metode Vector Error Correction Model (VECM) dan menggunakan data deret waktu periode Januari 2015 hingga Desember 2023. Variabel penelitian terdiri dari harga CPO di bursa Rotterdam, volume produksi biodiesel Indonesia, harga CPO domestik Indonesia, harga CPO di bursa Malaysia, harga minyak kedelai, biji bunga mahari, rapeseed, dan minyak mentah. Dalam jangka pendek, harga CPO di bursa Rotterdam dipengaruhi secara signifikan dan positif oleh harga CPO di bursa Rotterdam itu sendiri, volume produksi biodiesel dan harga CPO domestik Indonesia. Sementara itu, variabel yang berpengaruh secara negatif dan signifikan adalah harga CPO di bursa Malaysia dan harga minyak mentah. Dalam jangka panjang, harga CPO di bursa Rotterdam dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh volume produksi biodiesel Indonesia, harga minyak kedelai, dan harga CPO domestik Indonesia, sedangkan harga minyak rapeseed berpengaruh secara negatif dan signifikan. &#13;
Tujuan penelitian ketiga adalah untuk menganalisis pengaruh kebijakan pengembangan biodiesel terhadap harga CPO domestik. Data deret waktu dan sekunder dari Januari 2015 hingga Desember 2023 digunakan dalam penelitian ini dengan metode Autoregressive Distributed Lag (ARDL). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah harga CPO domestik. Sebaliknya, variabel independen adalah harga CPO di pasar internasional, volume produksi biodiesel, ekspor CPO dan produk olahannya, harga minyak goreng sawit, pungutan ekspor, bea keluar, volume produksi CPO, dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Harga CPO domestik dalam jangka pendek dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh harga CPO internasional, volume produksi biodiesel, volume ekspor CPO dan produk olahannya, dan harga minyak goreng sawit. Sementara itu, harga CPO domestik, bea keluar, pungutan ekspor, produksi CPO, dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS memiliki efek negatif yang signifikan. Dalam jangka panjang, harga CPO domestik dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh harga CPO internasional dan harga minyak goreng, sedangkan punguatan ekspor, volume produksi CPO, dan nilai tukar Rupiah berpengaruh secara signifikan dan negatif. &#13;
Tujuan penelitian keempat adalah untuk menganalisis pengaruh kebijakan pengembangan biodiesel terhadap harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani. Penelitian ini menggunakan data sekunder dalam deret waktu (time series) dari bulan Januari 2015 hingga Desember 2023 dan dianalisis dengan menggunakan metode Autoregressive Distributed Lag (ARDL). Variabel dependen adalah harga TBS dan variabel independen adalah harga CPO domestik, harga CPO internasional, volume produksi biodiesel, volume ekspor CPO dan turunannya, pungutan ekspor, bea keluar, volume produksi CPO dan nilai tukar Rupiah. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, harga TBS dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh harga CPO domestik, harga CPO internasional, dan volume produksi biodiesel. Sementara harga TBS, pungutan ekspor, bea keluar, volume produksi CPO, dan nilai tukar Rupiah berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap harga TBS. Dalam jangka panjang, harga TBS dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh harga CPO domestik, harga CPO internasional, dan volume produksi biodiesel. Pungutan ekspor, bea keluar dan volume produksi CPO berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap harga TBS dalam jangka panjang.&#13;
Tujuan penelitian kelima adalah untuk menganalisis pengaruh pengembangan biodiesel terhadap kebutuhan crude palm oil (CPO) domestik. Penelitian ini menggunakan metode system dynamics. Produksi CPO nasional hingga tahun 2045 menunjukkan tren penurunan secara bertahap, terutama akibat penuaan tanaman kelapa sawit, keterbatasan ekspansi lahan baru, serta belum optimalnya percepatan peremajaan dan peningkatan produktivitas, khususnya di perkebunan rakyat. Puncak produksi CPO diprekdiksi terjadi pada tahun 2026 hingga 2029 yakni 68 juta ton dan akan turun secara perlahan menuju 54–55 juta ton. Di sisi lain, kebutuhan CPO domestik diproyeksikan meningkat secara konsisten, terutama didorong oleh pertumbuhan konsumsi biodiesel seiring kebijakan mandatori energi terbarukan, serta peningkatan kebutuhan sektor pangan dan industri hilir. Peningkatan permintaan domestik ini menyebabkan pangsa CPO yang tersedia untuk ekspor semakin menyempit, meskipun Indonesia masih mempertahankan surplus produksi sepanjang periode proyeksi. Kombinasi antara penurunan produksi dan peningkatan kebutuhan domestik berdampak langsung pada penurunan volume ekspor CPO secara perlahan hingga 2045. Kondisi ini mencerminkan pergeseran orientasi pemanfaatan CPO nasional dari dominasi ekspor menuju pemenuhan kebutuhan domestik, khususnya untuk ketahanan energi dan pengembangan industri bernilai tambah. &#13;
Pengembangan biodiesel berdampak positif terhadap agribisnis minyak kelapa sawit Indonesia, terutama melalui penciptaan pasar domestik baru yang mampu menyerap sebagian besar produksi CPO nasional. Peningkatan penyerapan CPO oleh industri biodiesel berperan dalam mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor dan meredam dampak fluktuasi harga internasional. Selain itu, kebijakan biodiesel mendorong proses hilirisasi kelapa sawit dengan meningkatkan pemanfaatan CPO sebagai bahan baku energi terbarukan, sehingga membuka peluang peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Dampak positif tersebut tidak hanya tercermin pada penguatan struktur pasar CPO, tetapi juga berpotensi meningkatkan stabilitas harga dan keberlanjutan usaha di sepanjang rantai agribisnis kelapa sawit, termasuk pada tingkat petani, industri pengolahan, dan sektor pendukung lainnya.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
