<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MT - Human Ecology</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79</id>
<updated>2026-06-11T21:56:13Z</updated>
<dc:date>2026-06-11T21:56:13Z</dc:date>
<entry>
<title>Peran Komunikasi Partisipatif terhadap Kapabilitas Pengelola Desa Wisata (Studi: Desa Wisata Alamendah dan Desa Wisata Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173221" rel="alternate"/>
<author>
<name>Oktaviyani, Rena</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173221</id>
<updated>2026-06-03T00:31:46Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Peran Komunikasi Partisipatif terhadap Kapabilitas Pengelola Desa Wisata (Studi: Desa Wisata Alamendah dan Desa Wisata Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat)
Oktaviyani, Rena
Pengembangan desa wisata merupakan strategi penting dalam memajukan pariwisata berbasis masyarakat di Indonesia. Namun, banyak desa wisata masih menghadapi keterbatasan dalam kapasitas manajerial dan partisipasi masyarakat. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah komunikasi partisipatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik individu, keterdedahan media, dan peran pemangku kepentingan terhadap komunikasi partisipatif, serta pengaruh komunikasi partisipatif terhadap kapasitas manajerial pengelola Desa Wisata Alamendah dan Desa Wisata Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) dengan desain sequential explanatory. Responden penelitian terdiri atas 77 orang pengelola pada masing-masing desa wisata. Data dianalisis menggunakan metode SEM-PLS dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik individu dan peran pemangku kepentingan berpengaruh signifikan terhadap komunikasi partisipatif di Desa Wisata Alamendah, tetapi tidak berpengaruh signifikan di Desa Wisata Cibiru Wetan. Keterdedahan media tidak berpengaruh signifikan terhadap komunikasi partisipatif di kedua desa wisata. Komunikasi partisipatif berpengaruh signifikan terhadap kapasitas manajerial di Desa Wisata Alamendah, tetapi tidak berpengaruh signifikan di Desa Wisata Cibiru Wetan. Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi partisipatif akan lebih efektif apabila didukung oleh kepemimpinan yang dialogis dan praktik komunikasi yang berkelanjutan.; The development of tourism villages is an important strategy in advancing community-based tourism in Indonesia. However, many tourism villages still face limitations in managerial capacity and community participation. One of the key factors influencing this condition is participatory communication. This study aims to analyze the effects of individual characteristics, media exposure, and stakeholders roles on participatory communication, as well as the effect of participatory communication on the managerial capacity of tourism village managers in Alamendah Tourism Village and Cibiru Wetan Tourism Village, Bandung Regency. This research employed a mixed-methods approach using a sequential explanatory design. The respondents consisted of 77 managers in each tourism village. The data were analyzed using the SEM-PLS method with the assistance of SmartPLS 4.0. The results show that individual characteristics and stakeholders roles have a significant effect on participatory communication in Alamendah Tourism Village, but not in Cibiru Wetan Tourism Village. Media exposure does not have a significant effect on participatory communication in either village. Participatory communication has a significant effect on managerial capacity in Alamendah Tourism Village, but does not have a significant effect in Cibiru Wetan Tourism Village. These findings emphasize that participatory communication becomes more effective when supported by dialogical leadership and sustainable communication practices.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Edukasi Gizi Berbasis Theory of Planned Behaviour untuk Peningkatan Konsumsi Sayur dan Buah pada Anak Sekolah Dasar</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173007" rel="alternate"/>
<author>
<name>ZAFIRA, TSURAYA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173007</id>
<updated>2026-04-29T00:04:31Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Edukasi Gizi Berbasis Theory of Planned Behaviour untuk Peningkatan Konsumsi Sayur dan Buah pada Anak Sekolah Dasar
ZAFIRA, TSURAYA
Anak sekolah dasar merupakan fase pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan asupan gizi optimal untuk mencegah permasalahan gizi dan risiko penyakit di kemudian hari, namun konsumsi sayur dan buah pada kelompok usia ini masih rendah. Edukasi gizi berbasis Theory of Planned Behaviour (TPB) menjadi salah satu pendekatan yang efektif karena tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga memengaruhi sikap, norma subjektif, perceived behavioral control, dan niat berperilaku anak terhadap konsumsi sayur dan buah. Keterlibatan ibu dalam edukasi gizi turut berperan penting mengingat ibu memiliki pengaruh besar dalam penyediaan pangan dan pembentukan kebiasaan makan anak di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi gizi berbasis TPB terhadap peningkatan konsumsi sayur dan buah anak.&#13;
Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental pre–post dengan kelompok perlakuan dan kontrol. Sebanyak 70 ibu dan anak sekolah dasar kelas 5 dari SDN 04 Bojong Rangkas sebagai kelompok perlakuan dan SDN 01 Cihideung Udik sebagai kelompok kontrol, yang dipilih dengan cara multistage random sampling. Intervensi dilakukan selama 4 minggu, pada kelompok perlakuan menggunakan media booklet dan sesi pertemuan berbasis power point, sedangkan kelompok kontrol hanya menerima leaflet tanpa pertemuan. Pertemuan edukasi dilakukan sebanyak empat kali pada anak dan dua kali pada ibu. Penilaian meliputi pengetahuan dan konstruk TPB menggunakan kuesioner, konsumsi sayur dan buah melalui kuesioner terbuka dan FFQ, serta tingkat kecukupan gizi dengan metode recall 2×24 jam. Analisis data menggunakan SPSS 26.0 dengan uji statistik Shapiro Wilk, Chi-square, Wilcoxon Signed-Rank, Paired t-test, Mann-Whitney U, Independent Sample t-test, dan uji ANCOVA dengan melibatkan variabel confounder (pendidikan ibu dan pendapatan perkapita keluarga).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa edukasi gizi berbasis Theory of Planned Behaviour efektif meningkatkan pengetahuan dan konstruk TPB pada anak dan ibu di kelompok perlakuan, sementara pada kelompok kontrol tidak terjadi perubahan signifikan pada norma subjektif anak. Kelompok perlakuan mengalami peningkatan signifikan pada ketersediaan sayur dan buah di rumah, frekuensi konsumsi sayur dan buah anak serta keluarga, serta jumlah konsumsi buah anak, namun belum pada jumlah konsumsi sayur. Pada kelompok kontrol, peningkatan signifikan hanya terjadi pada ketersediaan sayur di rumah dan frekuensi konsumsi sayur anak dan keluarga. Selain itu, tingkat kecukupan gizi anak pada kelompok perlakuan meningkat signifikan pada asupan energi, protein, lemak, karbohidrat, dan serat, sedangkan pada kelompok kontrol hanya terjadi peningkatan asupan energi, dan tidak terdapat perubahan signifikan pada kecukupan zat gizi mikro pada kedua kelompok.&#13;
Edukasi gizi dengan durasi singkat belum mampu menghasilkan perubahan asupan sayur dan buah yang bermakna, sehingga diperlukan penguatan berkelanjutan melalui peran aktif guru dan dukungan lingkungan pangan sekolah yang selaras dengan pesan edukasi. Instansi terkait disarankan mengembangkan kebijakan yang menjadikan edukasi gizi sebagai bagian dari sistem sekolah secara berkesinambungan, tidak hanya program jangka pendek. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan menggunakan durasi intervensi yang lebih panjang (minimal 3-6 bulan), menyertakan evaluasi tindak lanjut, mengendalikan faktor lingkungan sekolah, serta menggunakan metode pengukuran konsumsi yang lebih objektif dan memperkuat pendekatan berbasis Theory of Planned Behaviour (TPB), agar efektivitas intervensi dalam membentuk perilaku konsumsi sayur dan buah yang berkelanjutan dapat dibuktikan secara lebih komprehensif.; Elementary school children are in a critical phase of growth and development that requires optimal nutritional intake to prevent nutritional problems and disease risks later in life; however, vegetable and fruit consumption in this age group remains low. Nutrition education based on the Theory of Planned Behaviour (TPB) is considered an effective approach because it not only improves knowledge but also influences attitudes, subjective norms, perceived behavioral control, and children’s behavioral intentions regarding vegetable and fruit consumption. Mothers’ involvement in nutrition education also plays an important role, as they have a major influence on food provision and the formation of children’s eating habits at home. This study aimed to analyze the effect of TPB-based nutrition education on improving children’s vegetable and fruit consumption.&#13;
This study employed a quasi-experimental pre–post design with intervention and control groups. A total of 70 mothers and fifth-grade elementary school children from SDN 04 Bojong Rangkas (intervention group) and SDN 01 Cihideung Udik (control group) were selected using multistage random sampling. The intervention was conducted over four weeks. The intervention group received booklet media and educational sessions using PowerPoint presentations, while the control group received only leaflets without any meetings. Educational sessions were conducted four times for children and twice for mothers. Assessments included knowledge and TPB constructs measured using questionnaires, vegetable and fruit consumption assessed through open-ended questionnaires and a Food Frequency Questionnaire (FFQ), and nutritional adequacy evaluated using a 2×24-hour dietary recall. Data were analyzed using SPSS 26.0 with Shapiro–Wilk, Chi-square, Wilcoxon Signed-Rank, Paired t-test, Mann–Whitney U, Independent Sample t-test, and ANCOVA tests, controlling for confounding variables (maternal education and family per capita income).&#13;
The results showed that TPB-based nutrition education effectively improved knowledge and TPB constructs among children and mothers in the intervention group, whereas no significant change in children’s subjective norms was observed in the control group. The intervention group experienced significant increases in the availability of vegetables and fruits at home, the frequency of vegetable and fruit consumption among children and families, and children’s fruit intake, although not in vegetable intake quantity. In the control group, significant improvements were observed only in the availability of vegetables at home and the frequency of vegetable consumption among children and families. Additionally, children’s nutritional adequacy in the intervention group significantly improved in energy, protein, fat, carbohydrate, and fiber intake, while in the control group only energy intake increased, and no significant changes were found in micronutrient adequacy in either group.&#13;
Short-duration nutrition education was not sufficient to produce meaningful changes in vegetable and fruit intake; therefore, sustained reinforcement through active teacher involvement and supportive school food environments aligned with educational messages is needed. Relevant institutions are encouraged to develop policies that integrate nutrition education into the school system on a continuous basis rather than as short-term programs. Future studies are recommended to implement longer intervention durations (at least 3-6 months), include follow-up evaluations, control for school environmental factors, use more objective dietary assessment methods, and further strengthen the Theory of Planned Behaviour (TPB) approach to provide more comprehensive evidence of the effectiveness of nutrition education in promoting sustainable vegetable and fruit consumption behaviors among school children.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Akses Pangan, Kualitas Diet, Praktik Pemberian Makan pada Anak Usia 24–59 Bulan Stunting dan Normal</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172949" rel="alternate"/>
<author>
<name>Safitri, Rahmauldianti</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172949</id>
<updated>2026-04-16T23:32:04Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Akses Pangan, Kualitas Diet, Praktik Pemberian Makan pada Anak Usia 24–59 Bulan Stunting dan Normal
Safitri, Rahmauldianti
Kajian mengenai asupan zat gizi mikro pada balita stunting di Indonesia masih terbatas. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada jumlah asupan zat gizi tanpa mempertimbangkan estimasi bioavailabilitas, khususnya zat gizi mikro esensial seperti seng dan besi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan Akses Pangan, Kualitas Diet, Praktik Pemberian Makan Pada Balita Stunting dan Normal.   &#13;
Penelitian ini menggunakan desain comparative cross-sectional study. Lokasi penelitian mencakup Puskesmas Purwasari yang membawahi Desa Sukadamai, Purwasari, dan Petir, serta Puskesmas Kampung Manggis yang membawahi Desa Dramaga, Neglasari, dan Sinarsari, Kecamatan Dramaga. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan 01 - 26 Agustus 2025 dan telah mendapat Persetujuan Etik dari Komisi Etik Penelitian yang Melibatkan Subjek Manusia Institut Pertanian Bogor, Nomor 1838/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2025. Jumlah sampel total 120 balita (60 balita stunting dan 60 balita normal) dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Data primer yang dikumpukan mencakup sosioekonomi, karakteristik anak, akses pangan menggunakan Household Food Security Scale Module (HFSSM), praktik pemberian makan menggunakan Child Feeding Questionnaire (CFQ), konsumsi pangan menggunakan repeated recall 2×24 jam dan status gizi. Analisis yang digunakan adalah independent t-test, dan Mann-Whitney test. &#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar tiga perempat ibu balita stunting memiliki pendidikan terakhir rendah SD/MI/sederajat (71,4%), sedangkan pada kelompok normal sekitar dua pertiga ibu berpendidikan SMA/MA/sederajat (66,7%) dan sekitar tiga perempat merupakan lulusan perguruan tinggi (75%). Pendidikan ibu berbeda signifikan antara kelompok balita stunting dan normal (?&lt;0,05). Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar tiga perlima ayah balita stunting memiliki pendidikan terakhir SD/MI/sederajat (60%). Sementara itu, pada balita dengan status gizi normal, sekitar tiga perlima ayah berpendidikan SMA/MA/sederajat (60%) dan seluruhnya merupakan lulusan perguruan tinggi (100%). Pendidikan ayah berbeda signifikan antara balita stunting dan normal (?&lt;0,05). Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar setengah ibu balita stunting maupun normal tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga, dengan persentase masing-masing (52,3% dan 47,7%). Sementara itu, pada balita stunting, lebih dari setengah ayah bekerja sebagai wirausaha/pedagang/jasa (56,0%) dan buruh/sopir (53,8%). Pekerjaan ayah berbeda signifikan (?&lt;0,05) dan ibu tidak berbeda signifikan antara balita stunting dan norma (?&gt;0,05). Sekitar setengah keluarga balita stunting termasuk dalam kategori keluarga kecil (51,5%), sedangkan pada balita dengan status gizi normal sekitar setengah termasuk dalam kategori keluarga besar (51,9%), tidak berbeda secara signifikan (?&gt;0,05). Sekitar dua pertiga balita stunting berasal dari keluarga dengan paritas tidak ideal (66,7%), sedangkan pada balita dengan status gizi normal sekitar setengah berasal dari keluarga dengan paritas ideal (51,8%), terdapat perbedaan secara signifikan (?&lt;0,05). Pendapatan perkapita berbeda secara signifikan antara kelompok balita stunting dan normal (?&lt;0,05).  &#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar setengah balita stunting memiliki berat badan lahir rendah, dan kondisi ini berbeda signifikan dibandingkan balita normal (?&lt;0,05). Sekitar setengah balita pada kedua kelompok memiliki panjang badan lahir normal serta usia kehamilan cukup bulan, tanpa perbedaan signifikan (?&gt;0,05). Berdasarkan jenis kelamin, sekitar setengah balita stunting berjenis kelamin laki-laki dan balita normal didominasi perempuan, juga tanpa perbedaan signifikan (?&gt;0,05). Sementara itu, sekitar setengah balita stunting memiliki riwayat penyakit infeksi dalam enam bulan terakhir, dengan proporsi lebih tinggi dibandingkan balita normal, dan perbedaannya signifikan (?&lt;0,05).&#13;
Tidak terdapat perbedaan signifikan skor kualitas diet total (? &gt; 0,05). Asupan serealia, kacang-kacangan, minyak/lemak, lemak jenuh, dan lemak total rendah pada kedua kelompok. Terdapat perbedaan signifikan pada sayuran, buah keragaman pangan, di mana balita normal memiliki keragaman lebih baik. Konsumsi sayur dan buah (enhancer) signifikan lebih tinggi pada balita normal. Tidak terdapat perbedaan signifikan estimasi bioavailabilitas zat besi maupun seng (?&gt;0,05). Berdasarkan hasil analisis, pangan yang dikonsumsi pada kedua kelompok cenderung memiliki estimasi bioavailabilitas besi yang rendah. Median zat besi terserap lebih tinggi pada balita normal (0,50 mg) dibanding stunting (0,36 mg) dengan perbedaan signifikan. Sebaliknya, pangan yang dikonsumsi balita sebagian besar termasuk dalam kategori estimasi bioavailabilitas seng tinggi; median seng terserap lebih tinggi pada balita normal (0,83 mg dengan 0,43 mg) dengan perbedaan signifikan. Kecukupan zat gizi makro dan mikro berbeda signifikan antara balita stunting dan normal (?&lt;0,05), mayoritas orang tua pada kedua kelompok berada pada kategori "kontrol rendah". Terdapat perbedaan yang signifikan akses pangan antara kedua kelompok (?&lt;0,05).&#13;
Dalam upaya penanggulangan stunting pada balita, diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan asupan makanan, tetapi juga pada perbaikan kondisi sosial-ekonomi keluarga yang terbukti berbeda antara kedua kelompok. Selain itu, edukasi gizi perlu diberikan, khususnya terkait pengaturan waktu konsumsi teh agar tidak berdekatan dengan waktu makan utama, guna mendukung peningkatan penyerapan zat gizi serta promosi buah dan sayur lokal terjangkau kaya vitamin C untuk meningkatkan penyerapan besi non-heme dan peningkatan konsumsi protein hewani. Penguatan edukasi gizi yang berfokus pada dampak status gizi ibu hamil, pemantauan pertumbuhan dengan KMS, kebutuhan gizi balita, sumber dan fungsi zat gizi, serta prinsip pola makan seimbang. Perbaikian kualitas diet dengan meningkatkan asupan pada komponen adekuasi yang masih mengalami defisit, khususnya serealia, sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, serta minyak dan lemak, baik pada balita stunting maupun normal.   &#13;
Penelitian selanjutnya diperlukan untuk memperkuat bukti hubungan estimasi bioavailabilitas seng dan zat besi melalui penggunaan indikator biomarker laboratorium, seperti IGF-1 (Insulin-Like Growth Factor 1) untuk status protein, kadar seng darah atau rambut, serta hemoglobin, feritin, dan transferin sebagai indikator status zat besi.; Studies examining micronutrient intake among stunted children in Indonesia remain limited. Most previous research has focused on the quantity of nutrient intake without considering estimated bioavailability, particularly of essential micronutrients such as zinc and iron. Therefore, this study aimed to analyze differences in food access, diet quality, and feeding practices between stunted and normal children.&#13;
This research employed a comparative cross-sectional study design. The study sites included Purwasari Community Health Center, covering Sukadamai, Purwasari, and Petir villages, and Kampung Manggis Community Health Center, covering Dramaga, Neglasari, and Sinarsari villages, Dramaga District. The study was conducted from 1–26 August 2025 and received ethical approval from the Ethics Committee for Research Involving Human Subjects, IPB University (No. 1838/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2025). A total sample of 120 children (60 stunted and 60 normal) was selected based on inclusion criteria. Primary data collected included socioeconomic characteristics, child characteristics, food access using the Household Food Security Scale Module (HFSSM), feeding practices using the Child Feeding Questionnaire (CFQ), dietary intake using repeated 2×24-hour recalls, and nutritional status. Data were analyzed using independent t-tests and Mann–Whitney tests.&#13;
The results showed that approximately three-quarters of mothers of stunted children had low educational attainment (elementary school level) (71.4%), whereas among normal children about two-thirds of mothers had senior high school education (66.7%) and about three-quarters were university graduates (75%). Maternal education differed significantly between stunted and normal groups (?&lt;0.05). About three-fifths of fathers of stunted children had elementary education (60%), while among normal children about three-fifths of fathers had senior high school education (60%) and all were university graduates (100%). Paternal education differed significantly between groups (?&lt;0.05). Approximately half of mothers in both groups were unemployed or homemakers (52.3% and 47.7%), while more than half of fathers of stunted children worked in self-employment/services (56.0%) and as laborers/drivers (53.8%). Father’s occupation differed significantly (?&gt;0.05) and mother’s occupation did not differ significantly between stunted and normal toddlers (?&gt;0.05) About half of families of stunted children were categorized as small families (51.5%), while about half of normal children belonged to large families (51.9%), with no significant difference (p&gt;0.05). Approximately two-thirds of stunted children came from families with non-ideal parity (66.7%), while about half of normal children came from families with ideal parity (51.8%), showing a significant difference (?&lt;0.05). Per capita income also differed significantly between groups (?&lt;0.05). &#13;
Approximately half of stunted children had low birth weight, significantly higher than among normal children (?&lt;0.05). About half of children in both groups had normal birth length and full-term gestational age, with no significant difference (?&gt;0.05). By sex, about half of stunted children were male, while normal children were predominantly female, also without significant difference (?&lt;0.05). Around half of stunted children had experienced infectious disease in the previous six months, with a significantly higher proportion than normal children (?&lt;0.05).&#13;
There was no significant difference in total diet quality scores (?&gt;0.05). Intake of cereals, legumes, oils/fats, saturated fat, and total fat was low in both groups. Significant differences were observed in vegetable, fruit, and dietary diversity components, with normal children showing better diversity. Consumption of vegetables and fruits (enhancers) was significantly higher among normal children. There were no significant differences in the estimated bioavailability of iron or zinc (?&gt;0.05). Based on the analysis results, the foods consumed by both groups tended to have low estimated iron bioavailability. The median absorbed iron was higher in normal toddlers (0.50 mg) than in stunted children (0.36 mg), with significant differences. Conversely, the foods consumed by toddlers mostly fell into the category of high estimated zinc bioavailability; the median absorbed zinc was higher in normal toddlers (0.83 mg and 0.43 mg), with a significant difference. Adequacy of macro- and micronutrients differed significantly between groups (?&lt;0.05). Most parents in both groups were categorized as having “low control” feeding practices. There was a significant difference in food access between the two groups (?&lt;0.05).&#13;
Efforts to address stunting should not focus solely on improving food intake but also on improving family socioeconomic conditions, which differed between groups. Nutrition education is needed, particularly regarding appropriate timing of tea consumption relative to main meals to enhance nutrient absorption, promotion of affordable local fruits and vegetables rich in vitamin C to improve non-heme iron absorption, and increased consumption of animal protein. Strengthening nutrition education on maternal nutritional status during pregnancy, growth monitoring, toddler nutrient requirements, nutrient sources and functions, and balanced diet principles is essential. Improving diet quality by increasing intake of deficient adequacy components especially cereals, vegetables, fruits, legumes, oils, and fats is recommended for both stunted and normal children.&#13;
Future research is needed to strengthen evidence on estimated bioavailability of zinc and iron using laboratory biomarker indicators, such as IGF-1 (Insulin-Like Growth Factor-1) for protein status, blood or hair zinc levels, and hemoglobin, ferritin, and transferrin as indicators of iron status.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Hubungan Karakteristik Kader Posyandu dengan Kualitas Data Pengukuran Status Gizi dalam E-PPGBM di Kabupaten Toraja Utara</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172888" rel="alternate"/>
<author>
<name>ISHAK, ANISA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172888</id>
<updated>2026-04-01T23:07:39Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Hubungan Karakteristik Kader Posyandu dengan Kualitas Data Pengukuran Status Gizi dalam E-PPGBM di Kabupaten Toraja Utara
ISHAK, ANISA
Kualitas data status gizi dalam sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) sangat bergantung pada akurasi pengukuran antropometri oleh kader posyandu. Namun, kompetensi kader dan faktor-faktor yang memengaruhi kualitas data pengukurannya masih perlu dikaji, khususnya di daerah dengan tantangan geografis seperti Kabupaten Toraja Utara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik kader Posyandu dengan kualitas data tinggi badan balita dalam aplikasi E-PPGBM di Kabupaten Toraja Utara.&#13;
Penelitian ini menggunakan desain metode campuran sequential explanatory dengan pendekatan utama kuantitatif (cross-sectional) dilanjutkan dengan pengumpulan data kualitatif (wawancara mendalam). Sebanyak 34 kader posyandu dan 188 balita dari delapan posyandu dipilih secara purposif, serta 8 informan kunci dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner, observasi keterampilan pengukuran tinggi badanmenggunakan daftar tilik, pengukuran presisi dan akurasi tinggi badan berulang (kader dan gold standard), serta wawancara mendalam. Analisis data kuantitatif menggunakan uji Chi square, regresi logistik, uji diagnostik (ROC, sensitivitas, spesifisitas, PPV, dan NPV), dan analisis Bland-Altman plot. Analisis kualitatif menggunakan analisis tematik dan SWOT.&#13;
Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar kader memiliki pengetahuan (70,6%) dan keterampilan (79,4%) yang kurang. Akurasi (82,4%) dan presisi (64,7%) pengukuran kader tergolong tidak baik. Pekerjaan merupakan faktor determinan utama, di mana kader tidak bekerja/Ibu Rumah Tangga memiliki akurasi (OR=12,6) dan presisi (OR=53,3) yang lebih baik dibanding kader petani. Data E-PPGBM cenderung underestimate prevalensi stunting (30,9% vs 39,9% menurut gold standard) dengan sensitivitas 70,7% dan spesifisitas 95,6%. Analisis kualitatif mengungkap tantangan validasi eksternal, risiko data di level input, dan hambatan koordinasi dalam pemanfaatan data.&#13;
Kualitas data pengukuran tinggi badan oleh kader masih rendah dengan pekerjaan sebagai faktor dominan. Data E-PPGBM berpotensi menyebabkan underdiagnosis stunting. Diperlukan peningkatan kapasitas kader melalui pelatihan berjenjang dan berkelanjutan, standarisasi dan kalibrasi alat ukur antropometri, monitoring dan evaluasi secara berkala, penguatan sistem validasi data, dan sinergi lintas sektor untuk meningkatkan akurasi data dan efektivitas program penurunan stunting.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
