<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MF - Economic and Management</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78</id>
<updated>2026-08-07T16:17:10Z</updated>
<dc:date>2026-08-07T16:17:10Z</dc:date>
<entry>
<title>Pengaruh Inklusi Keuangan Syariah Terhadap  Ketahanan Pangan Provinsi di Indonesia</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177504" rel="alternate"/>
<author>
<name>Martiza, Nadhira Runa</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177504</id>
<updated>2026-08-07T01:05:35Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Inklusi Keuangan Syariah Terhadap  Ketahanan Pangan Provinsi di Indonesia
Martiza, Nadhira Runa
Ketahanan pangan di Indonesia menunjukkan tren yang semakin baik, namun &#13;
tingkat pencapaiannya masih belum merata antarprovinsi. Kondisi tersebut &#13;
mengindikasikan bahwa peningkatan ketahanan pangan tidak cukup hanya melalui &#13;
peningkatan produksi, tetapi juga memerlukan penguatan produktivitas sektor &#13;
pangan melalui inovasi. Implementasi inovasi pada sektor pangan memerlukan &#13;
dukungan modal dan akses pembiayaan yang memadai. Inklusi keuangan syariah &#13;
menjadi salah satu alternatif yang berpotensi memperluas akses pembiayaan &#13;
produktif bagi masyarakat dan pelaku usaha pangan. Selain itu, ketahanan pangan &#13;
juga merupakan fenomena multidimensional yang dipengaruhi oleh berbagai faktor &#13;
ekonomi, sosial, dan kapasitas pembangunan wilayah.   &#13;
Penelitian mengenai hubungan inklusi keuangan syariah dan ketahanan &#13;
pangan pada tingkat regional masih relatif terbatas, khususnya yang &#13;
mempertimbangkan perbedaan karakteristik antarprovinsi. Maka dari itu penelitian &#13;
ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh inklusi keuangan syariah terhadap &#13;
ketahanan pangan serta mengidentifikasi faktor ekonomi, sosial, dan karakteristik &#13;
wilayah terhadap ketahanan pangan provinsi di Indonesia. Penelitian ini &#13;
menggunakan data panel 34 provisi di Indonesia selama tahun 2019-2024. Data &#13;
diperoleh dari berbagai sumber resmi, seperti OJK,BPS, BAPANAS, Kementerian &#13;
Pertanian dan Kementerian Pembangunan Daerah Republik Indonesia. Analisis &#13;
menggunakan metode regresi data panel, dengan variabel dependen adalah Indeks &#13;
Ketahanan Pangan (IKP), variabel independen utama adalah Index of Syaria &#13;
Financial Inclusion (ISFI), serta variabel kontrol yaitu PDRB per kapita, proporsi &#13;
pengeluaran pangan per kapita, rata-rata lama sekolah, rata-rata ukuran keluarga, &#13;
Indeks Desa Membangun (IDM), luas panen tanaman pangan per kapita.  &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa inklusi keuangan syariah (ISFI) &#13;
berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketahanan pangan di Indonesia. &#13;
Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan akses masyarakat terhadap layanan &#13;
keuangan syariah mampu mendukung penguatan sistem pangan melalui &#13;
peningkatan akses pembiayaan produktif dan pengembangan usaha pangan. Selain &#13;
ISFI, variabel PDRB, proporsi pengeluaran pangan per kapita, rata-rata lama &#13;
sekolah, Indeks Desa Membangun (IDM), dan luas panen tanaman pangan per &#13;
kapita juga berpengaruh positif signifikan terhadap ketahanan pangan. Sementara &#13;
itu, proporsi pengeluaran pangan per kapita menunjukkan hubungan negatif &#13;
terhadap ketahanan pangan.  &#13;
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa inklusi keuangan &#13;
syariah berpotensi mendukung pembangunan ketahanan pangan yang lebih inklusif &#13;
dan berkelanjutan melalui perluasan akses pembiayaan sektor pangan, peningkatan &#13;
produktivitas, serta pengurangan kerentanan pangan antarwilayah. Oleh karena itu, &#13;
diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan syariah, dan pemangku &#13;
kepentingan terkait untuk memperluas jangkauan layanan, khususnya di daerah &#13;
sentra pangan, sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan Indonesia secara &#13;
berkelanjutan.; Food security in Indonesia has shown a steadily improving trend, however its &#13;
achievement remains uneven across provinces. This condition indicates that &#13;
strengthening food security requires not only increasing food production but also &#13;
enhancing agricultural productivity through innovation. The implementation of &#13;
innovation in the food sector requires adequate capital and access to financing. In &#13;
this context, Islamic financial inclusion represents a promising alternative for &#13;
expanding access to productive financing for communities and agribusiness actors. &#13;
Furthermore, food security is a multidimensional phenomenon influenced by &#13;
various economic, social, and regional development factors. &#13;
Research examining the relationship between Islamic financial inclusion and &#13;
food security at the regional level remains limited, particularly studies that consider &#13;
variations in provincial characteristics. Therefore, this study aims to analyze the &#13;
effect of Islamic financial inclusion on food security and to identify the economic, &#13;
social, and regional factors influencing provincial food security in Indonesia. This &#13;
study employs panel data covering 34 provinces in Indonesia from 2019 to 2024. &#13;
The data were obtained from several official institutions, including the Financial &#13;
Services Authority (OJK), Statistics Indonesia (BPS), the National Food Agency &#13;
(BAPANAS), the Ministry of Agriculture, and the Ministry of Villages and &#13;
Development of Disadvantaged Regions. Panel data regression analysis was &#13;
employed, with the Food Security Index (FSI) as the dependent variable, the Index &#13;
of Sharia Financial Inclusion (ISFI) as the primary independent variable, and gross &#13;
regional domestic product (GRDP) per capita, the proportion of per capita food &#13;
expenditure, average years of schooling, average household size, the Village &#13;
Development Index (IDM), and harvested food crop area per capita as control &#13;
variables. &#13;
The results indicate that Islamic financial inclusion (ISFI) has a positive and &#13;
statistically significant effect on food security in Indonesia. These findings suggest &#13;
that expanding public access to Islamic financial services can strengthen the food &#13;
system by improving access to productive financing and supporting the &#13;
development of food-related economic activities. In addition to ISFI, gross regional &#13;
domestic product (GRDP) per capita, average years of schooling, the Developing &#13;
Village Index (DVI), and harvested food crop area per capita have significant &#13;
positive effects on food security. In contrast, the proportion of per capita food &#13;
expenditure has a significant negative effect on food security. &#13;
Overall, this study demonstrates that Islamic financial inclusion has the potential to &#13;
promote more inclusive and sustainable food security by expanding access to &#13;
financing in the food sector, enhancing productivity, and reducing regional &#13;
disparities in food vulnerability. Therefore, stronger collaboration among the &#13;
government, Islamic financial institutions, and other relevant stakeholders is &#13;
essential to expand the coverage of Islamic financial services, particularly in major &#13;
food-producing regions, in order to strengthen Indonesia's food security in a &#13;
sustainable manner.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Peran Identitas Diri Terhadap Niat Beli Skincare Berbahan Alami</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177363" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ferdian, Shabrina Ghaissan Mulki</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177363</id>
<updated>2026-08-06T09:15:39Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Peran Identitas Diri Terhadap Niat Beli Skincare Berbahan Alami
Ferdian, Shabrina Ghaissan Mulki
Seiring dengan meningkatnya pengetahuan konsumen mengenai kandungan produk, preferensi masyarakat terhadap penggunaan skincare mengalami pergeseran dari skincare konvensional menuju skincare berbahan alami. Skincare berbahan alami dipersepsikan lebih aman, memiliki risiko iritasi yang lebih rendah, serta lebih ramah lingkungan dibandingkan skincare konvensional yang umumnya&#13;
mengandung bahan sintetis, seperti parfum, mikroplastik, silikon, pewarna buatan, dan pengawet.&#13;
&#13;
Meskipun demikian, niat beli produk skincare berbahan alami masih menghadapi berbagai kendala, antara lain persepsi harga yang kurang terjangkau, keterbatasan aksesibilitas produk, serta switching barrier dari produk yang telah digunakan sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa niat beli juga dipengaruhi oleh faktor psikologis dan nilai yang dimiliki konsumen. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi niat beli produk skincare berbahan alami dengan mengembangkan Theory of Planned Behavior (TPB) melalui penambahan variabel identitas diri serta menguji peran moderasi literasi halal pada hubungan antara sikap dan niat beli.&#13;
&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 157 responden Muslim di Indonesia yang rutin menggunakan produk skincare berbahan alami. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji validitas,&#13;
reliabilitas, serta hubungan antarvariabel dalam model penelitian.&#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap, persepsi kontrol perilaku, dan identitas diri berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat beli produk skincare berbahan alami. Sebaliknya, norma subjektif dan literasi halal tidak berpengaruh signifikan terhadap niat beli. Selain itu, literasi halal juga tidak mampu memoderasi hubungan antara sikap dan niat beli. Temuan ini menunjukkan bahwa identitas diri&#13;
merupakan determinan yang paling kuat dalam mendorong niat beli, yang mengindikasikan bahwa konsumen cenderung memilih produk yang selaras dengan nilai, gaya hidup, dan citra diri yang ingin mereka tampilkan.&#13;
&#13;
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaku industri perlu menempatkan identitas diri sebagai dasar segmentasi dan positioning skincare berbahan alami. Strategi pemasaran sebaiknya diarahkan kepada konsumen yang memandang dirinya peduli terhadap kesehatan kulit dan lingkungan melalui komunikasi yang mengaitkan manfaat bahan alami dengan keamanan kulit dan tanggung jawab&#13;
lingkungan. Penerapannya perlu didukung oleh transparansi kandungan, bukti klaim keberlanjutan, konten edukatif, user-generated content, komunitas berbasis nilai estetika dan peduli lingkungan, serta kemudahan mencoba dan memperoleh produk.; As consumers have become more knowledgeable about product ingredients, public preferences have shifted from conventional skincare to natural-based skincare products. Natural-based skincare is perceived as safer, less likely to cause skin irritation, and more environmentally friendly than conventional skincare, which commonly contains synthetic ingredients such as fragrances, microplastics,&#13;
silicones, artificial colorants, and preservatives.&#13;
&#13;
Nevertheless, consumers' purchase intention toward natural-based skincare products continues to face several challenges, including perceptions of unaffordable prices, limited product accessibility, and switching barriers from products they have previously used. These conditions indicate that purchase intention is also influenced by consumers' psychological factors and personal values. This study aims to&#13;
analyze the factors influencing consumers' purchase intention toward natural-based skincare by extending the Theory of Planned Behavior (TPB) through the inclusion of self-identity as an additional construct and examining the moderating role of halal literacy in the relationship between attitude and purchase intention. &#13;
&#13;
This study employed a quantitative approach using a survey of 157 Muslim respondents in Indonesia who regularly use natural-based skincare products. Data were collected through an online questionnaire and analyzed using descriptive statistics and inferential analysis based on Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) to assess the validity, reliability, and structural relationships among the proposed variables.&#13;
&#13;
The findings reveal that attitude, perceived behavioral control, and self identity have positive and significant effects on consumers' purchase intention toward natural-based skincare products. In contrast, subjective norm and halal literacy have no significant effect on purchase intention. Furthermore, halal literacy does not moderate the relationship between attitude and purchase intention. The results indicate that self-identity is the strongest determinant of purchase intention, suggesting that consumers are more likely to purchase natural-based skincare products that reflect their personal values, lifestyle, and desired self-image.&#13;
&#13;
The findings indicate that natural-based skincare companies should use self identity as the basis for market segmentation and brand positioning. Marketing strategies should target consumers who see themselves as concerned about skin health and the environment by linking the benefits of natural ingredients with skin safety and environmental responsibility. This approach should be supported by ingredient transparency, verifiable sustainability claims, educational content, user generated content, aesthetic value and environment based communities, and easier opportunities to try and access the products.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Faktor-faktor yang Memengaruhi Loyalitas Penggunaan QRIS pada Generasi Z dan Generasi X</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177408" rel="alternate"/>
<author>
<name>RAHMELIA, ANISYA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177408</id>
<updated>2026-08-06T07:08:13Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Faktor-faktor yang Memengaruhi Loyalitas Penggunaan QRIS pada Generasi Z dan Generasi X
RAHMELIA, ANISYA
Perkembangan sistem pembayaran digital di Indonesia mendorong meningkatnya penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai alat transaksi non-tunai yang digunakan oleh berbagai kelompok usia, termasuk Generasi Z dan Generasi X, yang memiliki karakteristik, kebutuhan, dan perilaku penggunaan yang berbeda. Pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi loyalitas penggunaan QRIS pada kedua generasi menjadi penting untuk mendukung keberlanjutan sistem pembayaran digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi loyalitas penggunaan QRIS pada Generasi Z dan Generasi X.&#13;
Penelitian ini menganalisis beberapa variabel yang memengaruhi loyalitas penggunaan QRIS, yaitu kemudahan penggunaan, kepercayaan, persepsi risiko, program loyalitas, cashless society, dan kepuasan pengguna. Populasi penelitian adalah pengguna QRIS dari Generasi Z dan Generasi X di wilayah Jabodetabek. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik non-probability sampling dengan pendekatan voluntary sampling, dengan jumlah responden yang memenuhi kriteria penelitian sebanyak 175 responden. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner secara daring menggunakan Google Form. Analisis data menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui perangkat lunak SmartPLS.&#13;
Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan, program loyalitas, cashless society, dan persepsi resiko berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepercayaan pengguna QRIS. Selain itu, kemudahan penggunaan, program loyalitas, cashless society, dan kepercayaan juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pengguna QRIS. Sementara itu, persepsi risiko tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pengguna QRIS. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor kemudahan, manfaat program loyalitas, dan dukungan ekosistem pembayaran non-tunai lebih berperan dalam meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pengguna dibandingkan persepsi risiko.&#13;
Temuan ini memberikan beberapa implikasi manajerial, Implikasi manajerial penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan kemudahan penggunaan, kepercayaan, dan program loyalitas yang sesuai dengan karakteristik generasi untuk mendorong loyalitas penggunaan QRIS. Selain itu, penguatan ekosistem cashless society serta edukasi mengenai keamanan transaksi digital perlu terus dilakukan guna meningkatkan kepuasan, loyalitas, dan adopsi QRIS secara berkelanjutan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>ANALISIS PASAR DAN ELASTISITAS HARGA EKSPOR KAYU MANIS INDONESIA KE NEGARA ANGGOTA BRICS</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177362" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ramadhan, Zidan Faizal</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177362</id>
<updated>2026-08-06T03:08:18Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">ANALISIS PASAR DAN ELASTISITAS HARGA EKSPOR KAYU MANIS INDONESIA KE NEGARA ANGGOTA BRICS
Ramadhan, Zidan Faizal
Kayu manis merupakan salah satu komoditas rempah unggulan Indonesia &#13;
yang memiliki peran penting dalam perdagangan internasional dan potensi besar &#13;
untuk pengembangan pasar ekspor alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) &#13;
menganalisis struktur pasar dan elastisitas harga kayu manis Indonesia di negara&#13;
negara anggota BRICS, serta (2) merumuskan strategi diversifikasi ekspor kayu &#13;
manis Indonesia ke pasar negara-negara anggota BRICS berdasarkan hasil analisis &#13;
struktur pasar dan elastisitas harga. Kajian ini dilatarbelakangi oleh tingginya &#13;
ketergantungan ekspor rempah Indonesia terhadap pasar tradisional, khususnya &#13;
Amerika Serikat, sehingga diperlukan identifikasi potensi pasar alternatif yang &#13;
lebih berkelanjutan. &#13;
Penelitian menggunakan data sekunder deret waktu tahunan periode 2012&#13;
2024 yang diperoleh dari International Trade Centre (ITC), UN Comtrade, &#13;
FAOSTAT, Badan Pusat Statistik, serta sumber pendukung lainnya. Analisis &#13;
dilakukan menggunakan pendekatan Concentration Ratio Four-Firm (CR4), &#13;
Herfindahl-Hirschman Index (HHI), Almost Ideal Demand System (AIDS), dan &#13;
Ansoff Growth Matrix. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasar &#13;
negara BRICS memiliki struktur pasar yang sangat terkonsentrasi, terutama China, &#13;
Brazil, Iran, Mesir, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, sedangkan Afrika Selatan &#13;
menunjukkan tingkat konsentrasi sedang. Hasil estimasi AIDS menunjukkan &#13;
bahwa respons permintaan berbeda pada setiap negara tujuan. Pasar China, Brazil, &#13;
Afrika Selatan, dan Arab Saudi cenderung sensitif terhadap harga, sedangkan Mesir &#13;
relatif tidak sensitif. Hasil analisis Ansoff Growth Matrix menunjukkan bahwa &#13;
strategi diversifikasi pasar menjadi pendekatan yang paling relevan untuk &#13;
pengembangan ekspor kayu manis Indonesia di negara-negara BRICS. Dinamika &#13;
geopolitik global, khususnya meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah &#13;
dan potensi gangguan perdagangan di Selat Hormuz, berpotensi meningkatkan &#13;
biaya logistik, mengganggu rantai pasok, serta memengaruhi sensitivitas pasar &#13;
terhadap harga. Kondisi tersebut mendorong perlunya penguatan ekspor pada pasar &#13;
yang relatif lebih stabil dan memiliki risiko geopolitik lebih rendah. Berdasarkan &#13;
hasil analisis, China dan Afrika Selatan menjadi pasar yang paling potensial untuk &#13;
pengembangan ekspor kayu manis Indonesia karena memiliki prospek permintaan &#13;
yang besar, peluang pengembangan pasar jangka panjang, serta tingkat risiko &#13;
perdagangan yang relatif lebih rendah. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa &#13;
strategi ekspor kayu manis Indonesia perlu diarahkan pada diversifikasi pasar, &#13;
penguatan daya saing harga, peningkatan kualitas, dan keberlanjutan pasokan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
