<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MF - Economic and Management</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78</id>
<updated>2026-10-30T12:16:32Z</updated>
<dc:date>2026-10-30T12:16:32Z</dc:date>
<entry>
<title>Status Keberlanjutan Usahatani Vanili Petani Mitra dan Nonmitra di Pulau Lombok</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180219" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ningsih, Latifa Wahyu Septi Adi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180219</id>
<updated>2026-10-29T22:41:09Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Status Keberlanjutan Usahatani Vanili Petani Mitra dan Nonmitra di Pulau Lombok
Ningsih, Latifa Wahyu Septi Adi
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pengembangan usahatani vanili (Vanilla planifolia) berbasis pembangunan pertanian berkelanjutan yang berorientasi pada pendekatan Triple Bottom Line (aspek ekonomi/profit, sosial/people, dan lingkungan/planet). Pulau Lombok (Nusa Tenggara Barat) merupakan salah satu kawasan sentra vanili potensial yang telah mengadopsi sistem budidaya bervariasi, mulai dari konvensional, tumpangsari/agroforestri, hingga penerapan teknologi greenhouse serta budidaya bersertifikat organik. Komoditas vanili memiliki daya saing dan nilai ekonomis tinggi hingga mencapai harga ekspor organik Rp1,8 juta/kg kering. Usahatani vanili di tingkat petani masih dihadapkan pada fluktuasi produksi dan produktivitas ekspor, kerentanan serangan hama dan penyakit busuk batang, fluktuasi harga, serta keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan. Keberadaan pola kemitraan antara petani dengan eksportir seperti UD. Rempah Organik Lombok menciptakan adanya perbedaan tata kelola dengan kelompok petani nonmitra (mandiri), sehingga perlu dilakukan kajian status keberlanjutan usahatani petani mitra dan nonmitra di Pulau Lombok. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis status keberlanjutan usahatani vanili pada kelompok petani mitra dan nonmitra di Pulau Lombok pada dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan, serta (2) menganalisis atribut-atribut sensitif yang menjadi faktor pengungkit (leverage attributes) keberlanjutan usahatani vanili pada kedua kelompok petani tersebut. Pengumpulan data primer dilakukan pada September hingga Desember 2024 di empat wilayah sentra utama: Desa Sembalun Sajang (Kab. Lombok Timur) dan Desa Bayan (Kab. Lombok Utara) sebagai basis petani mitra; serta Desa Timbanuh (Kab. Lombok Timur) dan Desa Pemepek (Kab. Lombok Tengah) sebagai basis petani nonmitra. Sampel penelitian berjumlah 130 petani, terdiri atas 74 petani mitra yang ditarik menggunakan metode sensus (total sampling) dan 56 petani nonmitra yang ditarik melalui teknik snowball sampling berbasis titik jenuh (data saturation). &#13;
 Metode analisis yang digunakan adalah metode Multidimensional Scaling (MDS) berbasis pendekatan Rapid Appraisal for Vanilla (RAP-Vanilla). Pengukuran ordinasi mentransformasikan nilai ordinal 21 atribut (7 atribut ekonomi, 6 atribut sosial, dan 8 atribut lingkungan) ke dalam selang indeks keberlanjutan 0–100%. Selanjutnya, Analisis Leverage menggunakan besaran perubahan Root Mean Square/RMS diterapkan untuk menentukan atribut sensitif yang menjadi faktor pengungkit keberlanjutan usahatani vanili. Keandalan model dan kestabilan skor indeks diuji secara statistik dengan simulasi Monte Carlo pada selang kepercayaan 95% serta evaluasi goodness-of-fit berdasarkan parameter nilai Stress (&lt; 0,25) dan koefisien determinasi R² (&gt; 0,80). Kebijakan agribisnis vanili di Pulau Lombok harus difokuskan pada perbaikan atribut-atribut pengungkit untuk menjamin keberlanjutan ekonomi, sosial dan lingkungan dalam jangka panjang. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan usahatani vanili di tingkat petani mitra dan nonmitra menunjukkan nilai indeks yang berbeda. Pada dimensi ekonomi, petani mitra memiliki indeks keberlanjutan sebesar 73,63 dengan kategori status cukup berkelanjutan, lebih tinggi dibandingkan petani nonmitra sebesar 39,24 dengan kategori status kurang berkelanjutan. Pada dimensi sosial, baik petani mitra maupun nonmitra berada dalam kategori cukup berkelanjutan, dengan nilai indeks masing-masing sebesar 60,49 dan 68,04. Sementara itu, pada dimensi lingkungan, kedua kelompok petani juga berada pada kategori cukup berkelanjutan, dengan nilai indeks 60,58 pada petani mitra dan 61,41 pada petani nonmitra. Analisis leverage mengidentifikasi bahwa faktor pengungkit keberlanjutan berbeda pada setiap dimensi dan kelompok petani. Pada dimensi ekonomi, keberlanjutan petani mitra terutama dipengaruhi oleh peningkatan permintaan pasar dan kerja sama dengan pengepul atau eksportir, sedangkan pada petani nonmitra lebih ditentukan oleh kemampuan usahatani dalam memenuhi kebutuhan pendapatan rumah tangga. Pada dimensi sosial, tingkat pendidikan merupakan faktor pengungkit utama pada kedua kelompok petani, dengan keaktifan dalam kelompok tani menjadi faktor pendukung pada petani mitra dan partisipasi anggota keluarga pada petani nonmitra. Sementara itu, pada dimensi lingkungan, atribut penggunaan pestisida menjadi faktor yang paling sensitif pada petani mitra, sedangkan pada petani nonmitra keberlanjutan lebih dipengaruhi oleh luas lahan optimal. Temuan tersebut menunjukkan bahwa strategi peningkatan keberlanjutan usahatani vanili perlu dirancang secara spesifik sesuai dengan karakteristik masing-masing kelompok petani dan faktor pengungkit pada setiap dimensi, sehingga intervensi yang dilakukan dapat berlangsung secara lebih efektif dan berkelanjutan.; This research is based on the importance developing vanilla farming (Vanilla planifolia) based on sustainable agricultural development oriented to the Triple Bottom Line approach (economic / profit, social / people, and environmental / planetary aspects). The island of Lombok (West Nusa Tenggara) is one of the potential vanilla center areas that has adopted a variety of cultivation systems, ranging from conventional, intercropping/agroforestry, to the application of greenhouse technology and certified organic cultivation. Vanilla commodities have high competitiveness and economic value to reach an organic export price of Rp1.8 million/kg of dry. Vanilla farming at the farmer level is still faced with fluctuations in production and export productivity, vulnerability to pest and blight attacks, price fluctuations, and limited human and institutional capacity. The existence of a partnership pattern between farmers and exporters such as UD. Lombok Organic Spices creates a difference in governance with non-partner farmer groups (independent), so it is necessary to conduct a study on the sustainability status of partner and non-partner farmer farming on Lombok Island.&#13;
This study aims to: (1) analyze the sustainability status of vanilla farming in partner and non-partner farmer groups on Lombok Island in economic, social, and environmental dimensions, and (2) analyze sensitive attributes that are leverage attributes for the sustainability of vanilla farming in the two farmer groups. Primary data collection was carried out from September to December 2024 in four main center areas: Sembalun Sajang Village (East Lombok Regency) and Bayan Village (North Lombok Regency) as partner farmer bases; and Timbanuh Village (East Lombok Regency) and Pemepek Village (Central Lombok Regency) as non-partner farmer bases. The research sample amounted to 130 farmers, consisting of 74 partner farmers who were drawn using the census method (total sampling) and 56 non-partner farmers who were drawn through saturation data-based snowball sampling techniques.&#13;
The analysis method used was the Multidimensional Scaling (MDS) method based on the Rapid Appraisal for Vanilla (RAP-Vanilla) approach. The ordination measurement transformed the ordinal values of 21 attributes (7 economic attributes, 6 social attributes, and 8 environmental attributes) into a sustainability index interval of 0–100%. Furthermore, Leverage Analysis using the magnitude of the Root Mean Square/RMS change was applied to determine the sensitive attributes that are the leverage factors for the sustainability of vanilla farming. The reliability of the model and the stability of the index score were statistically tested with Monte Carlo simulations at a 95% confidence interval and goodness-of-fit evaluation based on the Stress value parameters (&lt; 0.25) and the R² determination coefficient (&gt; 0.80). Vanilla agribusiness policies in Lombok Island must be focused on improving leverage attributes to ensure economic, social and environmental sustainability in the long term.&#13;
The results showed that the sustainability status of vanilla farming at the level of partner and non-partner farmers showed different index values. In the economic dimension, partner farmers had a sustainability index of 73.63 with a fairly sustainable status category, higher than non-partner farmers of 39.24 with a less sustainable status category. In the social dimension, both partner and non-partner farmers were in the category of quite sustainable, with an index value of 60.49 and 68.04, respectively. Meanwhile, in the environmental dimension, both groups of farmers were also in the category of moderately sustainable, with an index value of 60.58 for partner farmers and 61.41 for non-partner farmers. The leverage analysis identified that the sustainability leverage factors were different in each dimension and group of farmers. In the economic dimension, the sustainability of partner farmers was mainly influenced by increased market demand and cooperation with collectors or exporters, while in non-partner farmers it was more determined by the ability of farmers to meet household income needs. In the social dimension, education level is the main leverage factor in both groups of farmers, with activity in the farmer group being a supporting factor for partner farmers and the participation of family members in non-partner farmers. Meanwhile, in the environmental dimension, the attribute of pesticide use is the most sensitive factor in partner farmers, while in non-partner farmers sustainability is more influenced by optimal land area. The findings show that strategies to increase the sustainability of vanilla farming need to be specifically designed according to the characteristics of each farmer group and the leverage factors in each dimension, so that the interventions carried out can take place more effectively and sustainably.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Strategi Peningkatan Digitalisasi Pelayanan Publik Daerah Sebagai Inovasi Sosial Di Kabupaten Bogor</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180166" rel="alternate"/>
<author>
<name>Kesuma, Dimas Jaya</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180166</id>
<updated>2026-10-23T13:24:35Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Strategi Peningkatan Digitalisasi Pelayanan Publik Daerah Sebagai Inovasi Sosial Di Kabupaten Bogor
Kesuma, Dimas Jaya
Digitalisasi pelayanan publik merupakan bentuk inovasi pemerintahan untuk meningkatkan efektivitas, kemudahan akses, dan kualitas pelayanan. Kabupaten Bogor telah menerapkan berbagai inovasi digital pada pelayanan administrasi kependudukan di tingkat kecamatan, namun penerapannya belum seragam. Kecamatan Cibinong memiliki penerapan digitalisasi yang relatif lebih berkembang, sedangkan Kecamatan Caringin masih menghadapi keterbatasan kapasitas aparatur, infrastruktur teknologi, dan pemahaman masyarakat. Kondisi tersebut menjadi dasar untuk mengkaji hubungan inovasi sosial, efektivitas pelayanan, dan kepuasan masyarakat.&#13;
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh inovasi sosial terhadap efektivitas pelayanan administrasi kependudukan berbasis digital, pengaruh efektivitas pelayanan terhadap kepuasan masyarakat, membandingkan kondisi pelayanan di Kecamatan Cibinong dan Kecamatan Caringin, serta merumuskan strategi peningkatan digitalisasi pelayanan publik. Penelitian menggunakan mixed methods dengan 150 responden yang dipilih melalui accidental sampling. Data kuantitatif dianalisis menggunakan regresi linear sederhana dan uji Mann–Whitney, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis SWOT dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) digunakan untuk merumuskan strategi.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas pelayanan, dengan koefisien regresi 0,856, signifikansi 0,000, dan R² sebesar 0,762. Artinya, inovasi sosial menjelaskan 76,2% variasi efektivitas pelayanan. Efektivitas pelayanan juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan masyarakat. Perbandingan menunjukkan adanya perbedaan kondisi pelayanan antara Kecamatan Cibinong dan Kecamatan Caringin, dengan Cibinong menunjukkan kondisi yang relatif lebih baik. Perbedaan tersebut berkaitan dengan penerapan digitalisasi, kapasitas aparatur, infrastruktur, pemanfaatan sistem digital, serta literasi masyarakat.&#13;
Strategi peningkatan digitalisasi diarahkan pada penguatan kapasitas aparatur, infrastruktur dan teknologi informasi, integrasi sistem pelayanan, peningkatan literasi digital masyarakat, serta monitoring dan evaluasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan digitalisasi pelayanan publik tidak hanya bergantung pada penyediaan sistem digital, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur, dan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan layanan.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Efektivitas Pelayanan, Inovasi Sosial, Kabupaten Bogor, Kepuasan Masyarakat, Pelayanan Publik Digital.; The digitization of public services is a form of government innovation aimed at improving effectiveness, accessibility, and service quality. Bogor Regency has implemented various digital innovations in civil registration services at the subdistrict level; however, implementation has not been uniform. Cibinong Subdistrict has a relatively more advanced level of digitization, while Caringin Subdistrict still faces limitations in civil service capacity, technological infrastructure, and public understanding. These conditions form the basis for examining the relationship between social innovation, service effectiveness, and public satisfaction.&#13;
This study aims to analyze the influence of social innovation on the effectiveness of digital-based civil registration services, the influence of service effectiveness on public satisfaction, compare service conditions in Cibinong Subdistrict and Caringin Subdistrict, and formulate strategies to enhance the digitization of public services. The study employed a mixed-methods approach with 150 respondents selected through accidental sampling. Quantitative data were analyzed using simple linear regression and the Mann–Whitney test, while qualitative data were obtained through interviews, observations, and documentation. SWOT analysis and the Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) were used to formulate strategies.&#13;
The results indicate that social innovation has a positive and significant effect on service effectiveness, with a regression coefficient of 0.856, a p-value of 0.000, and an R² of 0.762. This means that social innovation explains 76.2% of the variation in service effectiveness. Service effectiveness also has a positive and significant effect on public satisfaction. A comparison reveals differences in service conditions between Cibinong Subdistrict and Caringin Subdistrict, with Cibinong showing relatively better conditions. These differences are related to the implementation of digitalization, civil servant capacity, infrastructure, the utilization of digital systems, and public digital literacy.&#13;
Strategies for enhancing digitalization are focused on strengthening civil servant capacity, infrastructure, and information technology; integrating service systems; improving public digital literacy; and conducting monitoring and evaluation. This study indicates that the success of public service digitalization depends not only on the provision of digital systems but also on the readiness of human resources, infrastructure, and the public’s ability to utilize these services.&#13;
&#13;
Keywords: Service Effectiveness, Social Innovation, Bogor Regency, Public Satisfaction, Digital Public Services.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>DAMPAK KREDIT TERHADAP EFISIENSI TEKNIS USAHATANI AYAM RAS PETELUR DI INDONESIA</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180143" rel="alternate"/>
<author>
<name>Khairisa, Mutiara Amalina</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180143</id>
<updated>2026-10-21T01:04:04Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">DAMPAK KREDIT TERHADAP EFISIENSI TEKNIS USAHATANI AYAM RAS PETELUR DI INDONESIA
Khairisa, Mutiara Amalina
Telur ayam sangat penting untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, karena&#13;
harganya terjangkau dan mudah didapatkan oleh keluarga berpenghasilan rendah.&#13;
Stabilitas produksi telur sangat penting bagi ketahanan pangan nasional. Akses&#13;
kredit penting untuk mempertahankan keberlangsungan usahatani unggas,&#13;
meningkatkan efisiensi, mengadopsi teknologi, serta meningkatkan manajemen.&#13;
Studi ini menggunakan data sekunder dari Sensus Pertanian 2013 (Survei Rumah&#13;
Tangga Peternakan/RTUP 2014) yang memberikan informasi tentang pemanfaatan&#13;
sumber daya dari Badan Pusat Statistik (BPS). Metodologi Stochastic Frontier&#13;
Analysis (SFA) merepresentasikan fungsi produksi Cobb-Douglas secara log-linear&#13;
untuk mengestimasi fungsi produksi, serta menggunakan metode logit dan&#13;
propensity score matching (PSM) untuk menentukan faktor-faktor yang&#13;
memengaruhi keputusan peternak untuk mengambil kredit dan menganalisis&#13;
dampak kredit terhadap efisiensi teknis setelah mengontrol beberapa karakteristik&#13;
peternak yang teramati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kredit secara positif&#13;
meningkatkan efisiensi teknis usahatani ayam ras petelur. Seluruh faktor produksi&#13;
menunjukkan hasil yang signifikan dan menunjukkan increasing returns to scale,&#13;
terutama pada input tenaga kerja. Efisiensi teknis rata-rata adalah 51,1%,&#13;
menyisakan ruang 48,9% untuk peningkatan manajerial. Nilai gamma sebesar&#13;
68,4% berarti bahwa variasi total error didominasi oleh inefisiensi sebesar 68,4%&#13;
dan 31,6% sisanya disebabkan oleh noise. Akses terhadap kredit dan pengalaman&#13;
usaha berperan penting dalam mendorong efisiensi teknis. Kredit secara signifikan&#13;
berdampak positif terhadap efisiensi teknis, sementara status kepemilikan lahan&#13;
merupakan faktor penentu utama penggunaan kredit. Upaya kebijakan dapat berupa&#13;
perluasan inklusi keuangan dengan meringankan persyaratan agunan dan&#13;
pemberian insentif bagi peternak yang efisien guna mendorong kinerja usahatani&#13;
ayam ras petelur, sebagai upaya dalam mewujudkan peningkatan pasokan protein&#13;
hewani dan ketahanan pangan di Indonesia. Selain itu, intervensi kebijakan perlu lebih difokuskan pada peternak skala kecil yang secara historis belum memiliki akses&#13;
terhadap kredit. Intervensi ini juga harus menawarkan insentif untuk meningkatkan&#13;
efisiensi teknis dan produktivitas usahatani ayam ras petelur.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Pengaruh Sukuk terhadap Pertumbuhan Ekonomi dengan Peran Moderasi Financial Development</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180061" rel="alternate"/>
<author>
<name>Taqiyyah, Asma</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180061</id>
<updated>2026-10-05T06:10:52Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Pengaruh Sukuk terhadap Pertumbuhan Ekonomi dengan Peran Moderasi Financial Development
Taqiyyah, Asma
Meningkatnya permintaan dan penawaran sukuk menunjukkan pertumbuhan pasar sukuk. Sukuk dapat meningkatkan akumulasi modal dan inovasi sehingga akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Namun, penelitian terdahulu menunjukkan pengaruh yang tidak konsisten antara sukuk dengan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, peningkatan financial development cenderung melambat setelah terjadinya krisis global 2008. Hal ini dapat memengaruhi kontribusi sukuk terhadap pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji pengaruh sukuk terhadap pertumbuhan ekonomi dengan financial development sebagai variabel moderasi. Penelitian ini menggunakan data panel dari 14 negara penerbit sukuk selama periode 2016–2023. Financial development disusun menggunakan metode Analisis Komponen Utama, sedangkan hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan pendekatan data panel statis dan dinamis.&#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat financial development di negara sampel masih relatif rendah, dengan pola perkembangan yang beragam. Estimasi dari data panel statis dan dinamis menghasilkan temuan yang konsisten, yaitu belum terdapat bukti yang cukup bahwa sukuk, financial development, dan interaksi keduanya berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan sukuk belum mampu secara optimal mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama ketika tingkat financial development masih terbatas. Peningkatan financial development dapat difokuskan pada penguatan kredit domestik kepada sektor swasta dan nilai perdagangan saham sebagai indikator dengan bobot relatif terbesar pada masing-masing subindeks. Meskipun koefisien sukuk tidak signifikan, hasil tersebut tidak secara langsung menunjukkan bahwa sukuk tidak diperlukan, mengingat analisis deskriptif menunjukkan hubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi pada tingkat financial development yang lebih tinggi, sehingga pengembangan pasar sukuk tetap perlu dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan sistem keuangan dan karakteristik masing-masing negara.; The increasing demand for and supply of sukuk indicates the expansion of the sukuk market. Sukuk can boost capital accumulation and innovation, thereby influencing economic growth. However, previous studies have reported inconsistent relationships between sukuk and economic growth. On the other hand, the pace of financial development has tended to slow down following the 2008 global financial crisis. This may affect the contribution of sukuk to economic growth. Therefore, this study examines the effect of sukuk on economic growth, with financial development serving as a moderating variable. This study uses panel data from 14 sukuk-issuing countries over the 2016–2023 period. Financial development is measured using Principal Component Analysis, while the relationships among variables are analyzed using both static and dynamic panel data approaches.&#13;
The results of the analysis show that the level of financial development in the sample countries remains relatively low, with varying patterns of development. Estimates from static and dynamic panel data yield consistent findings: there is insufficient evidence that sukuk, financial development, and the interaction between sukuk and financial development significantly effects economic growth. These findings suggest that the existence of sukuk instruments has not yet been able to optimally drive economic growth, particularly when the level of financial system development remains limited. Efforts to strengthen financial development may focus on improving domestic credit to the private sector and stock market value, which have the highest relative weights within their respective sub-indices. Although the sukuk coefficient is statistically insignificant, the findings do not imply that sukuk are unnecessary, as the descriptive analysis indicates a positive relationship between sukuk and economic growth at higher levels of financial development. Therefore, the development of the sukuk market may continue alongside efforts to strengthen the financial system while considering country-specific characteristics.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
