<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MF - Agriculture Technology</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/76" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/76</id>
<updated>2026-08-13T00:43:22Z</updated>
<dc:date>2026-08-13T00:43:22Z</dc:date>
<entry>
<title>Preferensi Konsumen pada Beras Premium Lokal Indonesia di Wilayah Jakarta Raya</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178479" rel="alternate"/>
<author>
<name>ISMAIL, USMAN MAULANA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178479</id>
<updated>2026-08-12T10:54:09Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Preferensi Konsumen pada Beras Premium Lokal Indonesia di Wilayah Jakarta Raya
ISMAIL, USMAN MAULANA
Indonesia merupakan negara agraris dengan sebagian besar populasi masyarakatnya bergerak pada bidang pertanian. Pertanian padi sangat berperan penting dalam rangka memenuhi kebutuhan beras yang menjadi salah satu komoditas pangan pokok terbesar di Indonesia. Beras di Indonesia terdiri dari beragam varietas, karakteristik dan harga. Berdasarkan kelas mutunya beras di Indonesia digolongkan menjadi dua jenis yaitu beras premium dan beras medium. Beras premium adalah beras yang memiliki kualitas terbaik yang secara fisik lebih bersih dengan butir lebih seragam dan beras medium adalah beras dengan kualitas baik dengan kualitas dibawah dari beras premium. Perubahan pola konsumsi beras  di kalangan penduduk perkotaan telah menyebabkan peningkatan permintaan beras premium dan memperketat persaingan antara produk lokal dan produk impor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi konsumen beras terhadap beras premium lokal serta mengkarakterisasi sifat-sifat fisik, kimia dan sensori beras premium lokal, menginvestigasi profil teksturnya dan mengevaluasi korelasi parameter-parameter tersebut dengan tingkat kesukaan konsumen. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan survei dengan teknik purposive sampling dan eksperimen menggunakan sampel beras yang dilaksanakan di laboratorium. Penentuan jumlah responden 400 orang didasarkan pada perhitungan menggunakan rumus Slovin. Responden diharuskan berdomisili di wilayah Jakarta Raya yang meliputi area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (termasuk kota dan kabupaten didalamnya). Ada lima varietas beras premium lokal (Pandan Wangi, Mentik Wangi, Sintanur, Baroma, dan Rojolele) yang menjadi bahan kajian dan dua varietas beras premium impor (Jasmine dan Basmati) menjadi pembanding. Karakteristik fisikokimia beras yang dianalisis meliputi densitas kamba, profil tekstur, proksimat, dan kadar amilosa. Evaluasi sensori menggunakan metode Rate-All-That-Apply (RATA) dan uji hedonik. Analisis sidik ragam (ANOVA) dilakukan dengan menggunakan software SPSS 25. Analisis multivariat Orthogonal Partial Least Squares-Discriminant Analysis (OPLS-DA) menggunakan software SIMCA 14 dengan perlakuan Unit Variance (UV) scaling dilakukan untuk memetakan, membedakan, sekaligus menentukan penciri spesifik dari karakter fisik, kimia dan sensori pada varietas beras premium (Jasmine, Mentik Wangi, Basmati, Sintanur, Rojolele, Baroma dan Pandan Wangi). &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi konsumen terhadap beras premium di wilayah Jabodetabek dikendalikan paling kuat oleh karakter fisikokimia kimia beras. Melalui pemodelan OPLS-DA (R2Y = 0,79; Q2 = 0,60) kadar amilosa terbukti bertindak sebagai variabel pembeda utama dengan nilai VIP tertinggi (˜ 1,22), diikuti oleh komponen proksimat dan sifat fisik yang diukur dengan Texture Profile Analysis (TPA). Berdasarkan evaluasi menggunakan metode RATA, Varietas Jasmine dan Mentik Wangi dinilai unggul pada atribut aroma pandan, aroma manis dan rasa manis yang berhubungan langsung dengan sifat kelengketan (adhesiveness). Hal yang sebaliknya terjadi pada kelompok Varietas Pandan Wangi, Sintanur dan Rojolele yang disukai karena tingkat gumminess yang seimbang serta tampilan visual yang putih jernih. Varietas Basmati secara dominan dicirikan dengan nilai hardness tinggi dan aroma sereal yang kuat. Hasil evaluasi sensori ini juga didukung oleh profil demografi responden urban terdidik yang didominasi oleh 77% wanita, dangan 50% kelompok usia antara 26-35 tahun dan 67% lulusan D-IV/S-1 yang terkonsentrasi di Jakarta Timur (24%), Bekasi (16%), dan Depok (13%). Saat melakukan keputusan pembelian, kelompok responden ini menempatkan faktor higienitas produk sebagai parameter sangat penting (92,14%), diikuti oleh ketersediaan produk (74,29%) dan kenyamanan tekstur (65,00%). Hal ini berdampak pada tingginya preferensi pembelian melalui toko beras khusus (28%) dan retail modern (46%). Secara keseluruhan, pemenuhan standar mutu fisik-kimia yang konsisten serta jaminan higienitas pada rantai pasok menjadi faktor utama dalam merumuskan strategi dalam melakukan standarisasi mutu produk dalam rangka memperkuat daya saing komoditas beras premium lokal.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Profil dan Evaluasi Implementasi Persyaratan Pangan Steril Komersial pada Usaha Mikro dan Kecil di Indonesia</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178235" rel="alternate"/>
<author>
<name>Khodijah, Ikeu Siti</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178235</id>
<updated>2026-08-11T07:05:23Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Profil dan Evaluasi Implementasi Persyaratan Pangan Steril Komersial pada Usaha Mikro dan Kecil di Indonesia
Khodijah, Ikeu Siti
Pangan steril komersial merupakan pangan olahan berasam rendah yang dikemas secara hermetis dan telah mengalami proses sterilisasi komersial sehingga&#13;
aman disimpan pada suhu ruang. Produk ini memiliki risiko keamanan pangan yang tinggi apabila proses sterilisasi tidak dilakukan secara memadai karena berpotensi mendukung pertumbuhan mikroorganisme patogen, terutama Clostridium botulinum. Meskipun telah diatur dalam Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 27 Tahun 2021, informasi mengenai profil pangan steril komersial di Indonesia, khususnya yang diproduksi oleh usaha mikro dan kecil (UMK), serta implementasi persyaratan pangan steril komersial dan tingkat pemahaman pelaku usaha terhadap regulasi tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji profil pangan steril komersial yang terdaftar di BPOM, mengidentifikasi profil produk yang diproduksi oleh UMK, mengevaluasi implementasi persyaratan pangan steril komersial, serta menganalisis tingkat pemahaman pelaku usaha terhadap persyaratan yang berlaku.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan memanfaatkan data sekunder dan data primer. Data sekunder berupa database registrasi pangan olahan BPOM yang digunakan untuk mengidentifikasi 5.004 produk pangan steril komersial. Identifikasi skala usaha menghasilkan 291 produk yang diproduksi oleh 54 UMK. Evaluasi implementasi persyaratan dilakukan terhadap 110 produk melalui wawancara terstruktur, sedangkan tingkat pemahaman pelaku usaha diukur menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 41 responden dari 14 UMK.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pangan steril komersial terdaftar di BPOM didominasi oleh produk kategori minuman bukan susu. Sebaran pabrik&#13;
terkonsentrasi di Provinsi Jawa Timur. Dari sisi kemasan, produk nasional didominasi oleh karton laminat dan kaleng. Profil pangan steril komersial yang&#13;
diproduksi UMK menunjukkan karakteristik yang berbeda, yaitu didominasi oleh kategori daging dan produk daging, dengan sebaran pabrik terbesar di Provinsi DI Yogyakarta. Evaluasi implementasi persyaratan pada produk yang memiliki data pengujian menunjukkan nilai pH rata-rata 5,42 dan aw rata-rata 0,94, sehingga memenuhi karakteristik pangan olahan berasam rendah yang dikemas secara hermetis dan wajib menerapkan sterilisasi komersial. Seluruh produk menggunakan proses sterilisasi termal (100%), dengan nilai F0 berkisar antara 4,05–26,14 menit, serta 106 produk (96,4%) telah memiliki validasi kecukupan panas. Produk memiliki masa simpan 3–24 bulan dengan rata-rata 14,35 bulan. Pengukuran tingkat pemahaman terhadap 41 pelaku usaha menunjukkan rata-rata persentase jawaban benar sebesar 79,01%, dengan capaian tertinggi pada aspek titik kritis keamanan pangan (82,11%) serta proses dan validasi proses (81,46%), sedangkan aspek jenis dan klasifikasi pangan (75,61%) serta pengemasan dan jaminan mutu (76,83%) masih memiliki tingkat pemahaman yang relatif lebih rendah.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Rancangan Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Waktu Tanam Cabai Rawit Berbasis Prediksi Harga dan Spasial di Lombok Timur</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178175" rel="alternate"/>
<author>
<name>Aeni, Wardatul</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178175</id>
<updated>2026-08-11T09:43:05Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Rancangan Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Waktu Tanam Cabai Rawit Berbasis Prediksi Harga dan Spasial di Lombok Timur
Aeni, Wardatul
Cabai rawit merupakan komoditas hortikultura strategis dengan fluktuasi harga signifikan; di Kabupaten Lombok Timur harga dapat bergerak antara Rp10.000 hingga lebih dari Rp130.000 per kilogram dalam satu periode tahunan. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian bagi petani dalam menentukan waktu tanam, terlebih karena sistem informasi harga yang ada belum dimanfaatkan optimal dan petani masih mengandalkan pengumpul serta kebiasaan berulang. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi eksisting sistem informasi harga cabai rawit serta merancang sistem pendukung keputusan berbasis prediksi harga dan spasial untuk rekomendasi waktu tanam. Penelitian dilaksanakan Juli–Desember 2025 menggunakan data primer (wawancara 20 petani dan Dinas Ketahanan Pangan) dan data sekunder harga mingguan dari empat pasar (Pancor, Aikmel, Paok Motong, Sakra) periode 2021–2024. Model prediksi dikembangkan menggunakan Random Forest dengan 41 fitur prediktor, pembagian data kronologis 80:20, dan pendekatan rolling forecast untuk prediksi 12 minggu ke depan, yang diintegrasikan ke QGIS untuk visualisasi spasial. Model menunjukkan kinerja baik (R² 0,859–0,931; error Rp2.657–Rp4.206/kg), dengan fitur momentum dan lag lebih dominan dibanding fitur musiman. Prediksi harga mencapai puncak pada minggu ke-6, tertinggi di Pasar Paok Motong (Rp76.513/kg). Dihasilkan dua rekomendasi waktu tanam: November–Desember (panen Februari–Maret) dan Maret–April (panen Juni–Juli), diintegrasikan dalam sistem pendukung keputusan berbasis dashboard, prediksi harga, peta spasial, dan rekomendasi tanam.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>EVALUASI KEPATUHAN REGISTRASI DAN LABEL HALAL PADA PRODUK PANGAN BEKU: STUDI KASUS DI PASAR TRADISIONAL BOGOR</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178055" rel="alternate"/>
<author>
<name>hadijah, Wenni</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178055</id>
<updated>2026-08-10T20:20:21Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">EVALUASI KEPATUHAN REGISTRASI DAN LABEL HALAL PADA PRODUK PANGAN BEKU: STUDI KASUS DI PASAR TRADISIONAL BOGOR
hadijah, Wenni
Transformasi gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat telah memunculkan berbagai inovasi pangan, termasuk pangan beku, khususnya produk olahan daging sapi atau daging unggas seperti bakso, nuget, dan sosis. Produk ini menawarkan kepraktisan dan rasa khas yang diminati oleh berbagai kalangan. Namun, keberadaan produk pangan ini memerlukan perhatian terhadap aspek halal dan segi keamanan pangan sebagai wujud kepatuhan terhadap syariat Islam dan jaminan keamanan pangan. &#13;
Jaminan keamanan pangan pada produk pangan beku yang memiliki masa simpan di atas 7 hari diwajibkan memiliki izin edar produk yang dikeluarkan oleh BPOM RI karena dikategorikan sebagai pangan berisiko tinggi (high-risk food). Produk olahan beku memerlukan kontrol ketat karena sangat rentan terhadap kerusakan, kontaminasi mikroba dan penurunan kualitas jika tidak ditangani dengan benar. BPOM memastikan prosedur cold chain (penyimpanan dan distribusi beku) dipertahankan pada suhu -18°C untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Kewajiban produk pangan yang beredar di Indonesia untuk memiliki izin edar diatur dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012.  &#13;
Kewajiban sertifikasi halal, sebagaimana diatur dalam UU No. 33 Tahun 2014, menjadi instrumen penting untuk memastikan bahwa produk pangan memenuhi standar halal dan tayyib. Kewajiban sertifikasi halal terutama untuk produk daging sangat kritis kehalalannya, dikarenakan daging yang digunakan harus terjamin proses penyembelihan dan pengolahannya sudah sesuai dengan ketentuan syariat agama Islam agar bahan baku daging tidak kehilangan status halal. Selain itu, pencantuman logo dan nomor registrasi halal serta nomor izin edar produk pada kemasan menjadi langkah penting dalam memberikan kepercayaan kepada konsumen yang mayoritas beragama Islam (87,08%) di Indonesia, sehingga regulasi ini menjadi urgensi untuk mencegah praktik pemalsuan. &#13;
Konsumen diharapkan semakin bijak dalam memeriksa keabsahan label halal, sementara pelaku usaha dituntut untuk mematuhi regulasi yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis frozen food yang telah memenuhi registrasi halal dan BPOM serta mengevaluasi kepatuhan produk yang beredar di pasar terhadap regulasi tersebut.&#13;
Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder yang diperoleh dari pendataan produk yang terdapat di pasar tradisional Bogor dan database BPOM dan BPJPH. Pasar yang dijadikan target dipilih menggunakan metode simple random sampling dengan perhitungan menggunakan rumus Slovin. Pendataan untuk pedagang dan produk yang ada di pasar menggunakan metode total sampling. Data produk yang dihasilkan dari pasar tradisional dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil dari analisis deskriptif diuji dengan menggunakan metode uji Chi-Square untuk membuat kesimpulan mengenai hubungan antarvariabel pada populasi yang besar.&#13;
Hasil penelitian pendataan produk yang sudah teregistrasi BPOM dan yang sudah teregistrasi BPJPH menunjukkan perbedaan jumlah yang signifikan. Produk yang terdaftar di BPOM jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang sudah terdaftar di BPJPH. Hal tersebut terjadi karena setiap frozen food wajib memiliki izin edar yang sudah berlaku semenjak tahun 2012, berbeda dengan aturan kewajiban halal yang sampai saat ini masih bertransisi dari tidak wajib menjadi wajib. Selain faktor tersebut, faktor lainnya terjadi karena produk yang terdaftar pada BPOM tidak semuanya halal, seperti produk yang terbuat dari daging babi yang dikenakan kewajiban izin edar BPOM, tetapi tidak dikenakan kewajiban halal.&#13;
Survei produk dilakukan di pasar tradisional Bogor, dengan jumlah pasar yang dijadikan tempat survei adalah 32 pasar aktif. Tingkat kepatuhan pencantuman nomor izin edar BPOM dan logo halal pada produk frozen food yang paling rendah di pasar tradisional Kota dan Kabupaten Bogor adalah produk bakso. Tingkat kepatuhan paling tinggi terhadap aturan registrasi pencantuman nomor edar BPOM RI dan logo halal pada kemasan diantara ketiga produk yang dijadikan target sampel adalah produk sosis. Temuan ini diperkuat oleh hasil uji chi-square yang membuktikan bahwa perbedaan tingkat kepatuhan bukan kebetulan, melainkan adanya kemungkinan penyebab lain. Banyaknya frozen food yang sudah teregistrasi BPOM dan BPJPH bukan berarti semua produk yang terdapat di pasaran sudah mengikuti regulasi wajib tersebut. Hal ini kemungkinan dikarenakan kurangnya pemahaman pelaku usaha terhadap pemenuhan sistem regulasi yang berlaku ataupun pelaku usaha yang memang tidak mau mengikuti sistem regulasi yang berlaku.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
