<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MF - Forestry</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/75" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/75</id>
<updated>2026-11-01T06:50:05Z</updated>
<dc:date>2026-11-01T06:50:05Z</dc:date>
<entry>
<title>Model Penentuan Areal Prioritas Konservasi Habitat Julang Emas (Rhyticeros undulatus) di Pulau Jawa</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180195" rel="alternate"/>
<author>
<name>Pratama, Marshal Abdee</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180195</id>
<updated>2026-10-28T00:39:39Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Model Penentuan Areal Prioritas Konservasi Habitat Julang Emas (Rhyticeros undulatus) di Pulau Jawa
Pratama, Marshal Abdee
Julang emas (Rhyticeros undulatus) merupakan spesies rangkong berstatus rentan (Vulnerable) dalam IUCN Red List yang populasinya di Pulau Jawa terus mendapat tekanan akibat fragmentasi hutan dan kepadatan penduduk yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menentukan kawasan prioritas konservasi habitat julang emas di Pulau Jawa melalui integrasi model kesesuaian habitat Random Forest (RF) dan model kualitas habitat InVEST Habitat Quality (HQ). Model RF dibangun menggunakan 270 titik kehadiran dan 270 titik pseudo-absence dengan variabel fragmentasi lanskap, jarak antropogenik, jarak sumber daya, serta variabel topografi dan klimatik. Model tersebut menghasilkan kinerja yang tinggi dan menunjukkan kinerja lebih baik dibandingkan dengan model MaxEnt dan GLM, dengan Mean Patch Size dan Class Area sebagai variabel yang paling berpengaruh. Habitat yang tergolong sesuai hingga sangat sesuai hanya mencakup 19,49% dari total daratan Jawa. Parameter InVEST HQ diturunkan secara empiris dari hasil RF dan menunjukkan bahwa 83,23% wilayah tergolong berkualitas rendah hingga sangat rendah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan antropogenik berpotensi menurunkan fungsi habitat hingga melampaui tapak fisik gangguannya. Integrasi kedua model melalui perkalian konjungtif (CP = HS × HQ) dan klasifikasi Jenks Natural Breaks menghasilkan kawasan prioritas tinggi hingga habitat inti yang hanya mencakup 6,98% dari total daratan Jawa dan terkonsentrasi pada sisa hutan pegunungan, seperti Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Gunung Ungaran, dan Meru Betiri. Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan kesesuaian ekologis dan tingkat degradasi habitat dalam perencanaan konservasi julang emas serta merekomendasikan perlindungan dan peningkatan konektivitas hamparan hutan yang luas sebagai prioritas utama.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Karakteristik Tekstil Fungsional Berpewarna Alami  Ekstrak Kayu Secang – Indigo dengan Pelapisan N-Doped Carbon Dots Wax</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180043" rel="alternate"/>
<author>
<name>Susanti, Yuniar Duwi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180043</id>
<updated>2026-10-01T12:02:36Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Karakteristik Tekstil Fungsional Berpewarna Alami  Ekstrak Kayu Secang – Indigo dengan Pelapisan N-Doped Carbon Dots Wax
Susanti, Yuniar Duwi
Inovasi dalam bidang pewarna alami dan lapisan tekstil fungsional &#13;
menunjukkan potensi yang besar. Tekstil fungsional berkaitan dengan penggunaan &#13;
pewarna untuk estetika. Kayu secang (Caesalpinia sappan L.) mengandung &#13;
brazilein yang menghasilkan warna merah, sedangkan daun nila (Indigofera &#13;
tinctoria L.) mengandung indikan menghasilkan warna biru. Kombinasi antara zat &#13;
warna alami secang dan indigo dapat menghasilkan warna ungu. Pewarna alami  &#13;
memiliki sifat antimikroba, antioksidan, dan perlindungan terhadap UV sehingga &#13;
dapat meningkatkan nilai guna kain. Selain itu, tuntutan tekstil fungsional &#13;
mendorong inovasi teknologi pelapisan permukaan kain dengan carbon dots. &#13;
Carbon dots dengan doping nitrogen (N-CDs) yang disintetis kemudian &#13;
kombinasikan menggunakan candellia wax untuk menambahkan sifat hidrofobik &#13;
yang dapat diaplikasikan menjadi wrapped makanan. Penelitian ini bertujuan untuk &#13;
menerapkan pewarna alami yang berasal dari kayu secang dan daun nila yang &#13;
dikombinasikan dengan lapisan N-CDs serta candellia wax untuk menghasilkan &#13;
kain fungsional. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap yaitu persiapan &#13;
bahan baku, ekstraksi kayu secang dan daun nila, aplikasi tawas dan pewarna, &#13;
pembuatan N-CDs, pelapisan N-CDs dan candellia wax, uji karakterisasi, serta &#13;
analisis data.  &#13;
Hasil penelitian menunjukkan keberhasilan penyerapan pewarna ungu &#13;
dengan ketahanan warna yang baik. N-CDs berhasil disintesis dengan ukuran 10&#13;
13 nm. Hasil spektroskopi transformasi fourier inframerah dan difraksi sinar-X &#13;
menunjukkan adanya situs karbon dalam N-CDs serta kelimpahan gugus &#13;
fungsional. N-CDs berhasil disintesis dengan keberadaan gugus fungsi –NH dan C&#13;
N mengonfirmasi keberhasilan doping nitrogen menggunakan amonium, &#13;
sedangkan keberadaan gugus hidroksil dan domain karbon aromatik berperan &#13;
dalam meningkatkan aktivitas antioksidan, sifat hidrofilik, dan karakteristik optik &#13;
N-CDs. Difraktogram N-CDs menunjukkan dominasi fase amorf 65,5%. Proses &#13;
pewarnaan, pelapisan dengan N-CDs, dan perlakuan hidrofobik menghasilkan &#13;
sudut kontak sebesar 114,8°. Sampel kain hasil pewarnaan yang dilapisi N-CDs &#13;
memiliki nilai tertinggi pada elastisitas, kekuatan tarik, dan kekuatan maksimum. &#13;
Selain itu, pelapisan kain yang telah diwarnai dengan N-CDs dan candellia wax &#13;
untuk menjadi kain fungsional menghasilkan aktivitas antibakteri terbaik terhadap &#13;
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pemanfaatan Terak Nikel sebagai Media Perbanyakan Fungi Mikoriza Arbuskula</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179878" rel="alternate"/>
<author>
<name>Huwaida, Hanifah</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179878</id>
<updated>2026-09-02T00:49:02Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pemanfaatan Terak Nikel sebagai Media Perbanyakan Fungi Mikoriza Arbuskula
Huwaida, Hanifah
Peningkatan produksi nikel di Indonesia menghasilkan limbah terak nikel dalam jumlah besar. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 mengelompokkan terak nikel sebagai limbah non-B3. Karakteristik fisik terak nikel yang stabil, berpori makro, serta kaya kandungan silikon dan magnesium berpotensi dimanfaatkan sebagai media pembawa alternatif untuk perbanyakan inokulum fungi mikoriza arbuskula (FMA). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh terak nikel sebagai media perbanyakan FMA dibandingkan media standar, serta menguji kompatibilitas berbagai jenis tanaman inang dan spesies FMA pada media terak nikel.&#13;
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terbagi dalam dua tahap percobaan: (1) pengujian tiga media perbanyakan (zeolit, pasir, dan terak nikel) dengan empat spesies FMA (Glomus manihotis, Glomus etunicatum, Acaulospora tuberculata, dan Gigaspora margarita) pada inang sorgum; serta (2) pengujian media terak nikel pada empat spesies FMA dengan tiga jenis tanaman inang (Falcataria moluccana, Sorghum bicolor, dan Pueraria javanica). Parameter yang diamati meliputi persentase hidup tanaman, waktu perkecambahan spora, persentase kolonisasi akar, kepadatan spora, serta bobot kering tajuk dan akar.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa zeolit dan pasir menghasilkan persentase kolonisasi akar dan kepadatan spora yang lebih tinggi dibandingkan terak nikel, namun terak nikel terbukti mampu menopang kelangsungan hidup tanaman inang (73,33%) dan mendukung kolonisasi akar pada kategori tinggi (55,30%). Spesies Glomus manihotis menunjukkan waktu perkecambahan tercepat (5 hari setelah inokulasi), persentase kolonisasi tertinggi (75,91–77,81%), dan produksi spora terbanyak (75–89 spora per 20 g media) dibandingkan spesies lainnya. Ketiga jenis tanaman inang terbukti kompatibel dan mampu mempertahankan kelangsungan hidup yang tinggi (&gt;79%) pada media terak nikel, dengan sorgum menghasilkan akumulasi bobot kering tajuk tertinggi (3,38 g). Terak nikel layak digunakan sebagai media perbanyakan alternatif untuk memproduksi inokulum FMA dalam mendukung reklamasi lahan pascatambang.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pendugaan Parameter Genetik Pertumbuhan dan Kualitas Kayu Jabon Merah (Neolamarckia macrophylla (Roxb.) Bosser).</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179855" rel="alternate"/>
<author>
<name>Qolbi, Ruhul Hazuma Satya</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179855</id>
<updated>2026-08-28T03:43:01Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pendugaan Parameter Genetik Pertumbuhan dan Kualitas Kayu Jabon Merah (Neolamarckia macrophylla (Roxb.) Bosser).
Qolbi, Ruhul Hazuma Satya
Jabon merah (Neolamarckia macrophylla (Roxb.) Bosser) merupakan jenis&#13;
cepat tumbuh endemik Indonesia yang berpotensi untuk pengembangan hutan&#13;
tanaman, namun benih unggul hasil pemuliaan belum tersedia. Uji keturunan&#13;
diperlukan untuk menduga parameter genetik pertumbuhan dan kualitas kayu&#13;
sebagai dasar seleksi famili unggul.&#13;
Penelitian ini bertujuan menduga parameter genetik pertumbuhan dan&#13;
kualitas kayu, destruktif maupun nondestruktif, serta menganalisis strategi seleksi&#13;
untuk konversi tegakan menjadi kebun benih semai. Uji keturunan di Kawasan&#13;
Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Parungpanjang yang dibangun tahun&#13;
2017 menggunakan rancangan acak lengkap berblok dengan 6 blok, 10 provenansi,&#13;
dan 72 famili. Parameter yang diukur meliputi diameter, tinggi, volume, penetrasi&#13;
Pilodyn, kadar air, kerapatan, berat jenis, kecepatan ultrasonik, dan MOEd. Data&#13;
dianalisis melalui analisis ragam, pendugaan komponen ragam, heritabilitas,&#13;
korelasi rerata famili dan fenotipe, serta kemajuan dan perolehan genetik.&#13;
Tegakan berumur delapan tahun dengan tingkat hidup 46%. Rata-rata&#13;
diameter 18,56 cm, tinggi 12,55 m, penetrasi Pilodyn 29,59 mm, kerapatan kayu&#13;
0,726 g cm-3, berat jenis 0,423, kadar air 72,2%, kecepatan ultrasonik 3.417 m s-1,&#13;
dan MOEd 8,521 GPa. Faktor blok berpengaruh sangat nyata pada hampir seluruh&#13;
karakter, sedangkan faktor famili di dalam provenansi hanya nyata pada kerapatan&#13;
kayu ketika diuji terhadap kuadrat tengah interaksi blok × famili. Meskipun asal&#13;
materi mencakup wilayah monsunal dan anti-monsunal, provenansi menyumbang&#13;
paling kecil terhadap ragam total (0,03–1,55%), sementara interaksi blok × famili&#13;
menyumbang 3,3–33,1%. Heritabilitas individu berkisar 0,044–0,313 dan&#13;
heritabilitas famili 0,090–0,390, tertinggi pada kerapatan kayu (0,313 dan 0,390);&#13;
nilai mutlak digunakan bagi komponen ragam famili yang bernilai negatif. Korelasi&#13;
rerata famili nyata dan positif antara kerapatan kayu dengan berat jenis (0,822) dan&#13;
MOEd (0,494), sedangkan diameter tidak berkorelasi nyata dengan MOEd (0,079)&#13;
maupun kecepatan ultrasonik (-0,019) sehingga tidak ditemukan pola pertukaran&#13;
sifat antara pertumbuhan dan kualitas mekanik kayu. Perolehan genetik seleksi&#13;
famili berkisar 0,59–11,22% pada intensitas 5% dan 0,40–7,61% pada intensitas&#13;
20%, dengan kerapatan kayu 3,69% dan 2,50%. Kerapatan kayu juga berkaitan&#13;
dengan ketahanan terhadap rayap dan keamanan hidraulik saat kekeringan sehingga&#13;
seleksi pada sifat ini memberi manfaat ganda. Seleksi famili berbasis kerapatan&#13;
kayu pada intensitas sekitar 20% direkomendasikan sebagai dasar konversi menjadi&#13;
kebun benih semai, dengan penetrasi Pilodyn sebagai penyaring awal.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
