<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MT - Forestry</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/75" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/75</id>
<updated>2026-05-26T18:43:52Z</updated>
<dc:date>2026-05-26T18:43:52Z</dc:date>
<entry>
<title>Kontribusi Cadangan Karbon dalam Mitigasi Perubahan Iklim pada Ekosistem Hutan Alam, Agroforestri, dan Kebun Kelapa Sawit</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173172" rel="alternate"/>
<author>
<name>Salsabila, Juniarti</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173172</id>
<updated>2026-05-25T23:51:48Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kontribusi Cadangan Karbon dalam Mitigasi Perubahan Iklim pada Ekosistem Hutan Alam, Agroforestri, dan Kebun Kelapa Sawit
Salsabila, Juniarti
Peranan hutan sebagai penyerap karbon menjadi salah satu sorotan dunia karena dihadapkan pada persoalan efek rumah kaca salah satunya peningkatan suhu udara (pemanasan global). Hutan memiliki peranan penting dalam menjaga kestabilan iklim yang mana dalam kemampuan menyerap CO2. Perubahan penggunaan lahan (land use) dapat mempengaruhi jumlah karbon tegakan, nekromassa, tanah. Perbandingan karbon di beberapa tutupan lahan dapat memberikan manfaat dalam konteks lingkungan, ekonomi dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis vegetasi dan menduga cadangan karbon pada hutan alam, agroforestri, dan kebun kelapa sawit, serta menganalisis keterkaitan unsur edafis dan klimatis terhadap cadangan karbon. Penelitian dilakukan melalui tahapan seperti pembuatan petak contoh, pengambilan data tegakan, sampel tanah, tumbuhan bawah, nekromassa dan faktor lingkungan. Hutan alam dan lahan agroforestri di Taman Nasional Gunung Halimun Salak khususnya di zona rimba didominasi oleh tanaman kayu afrika (Maesopsis eminii) dan tegakan damar (Agathis dammara). Adapun kebun kelapa sawit jenis didominasi oleh kelapa sawit (Elaeis guineensis) dengan umur tegakan lebih dari 20 tahun. Sebaran individu pada hutan alam menjamin keberlangsungan hutan karena ketersedianya dalam regenerasi. Biomassa dan cadangan karbon dari 3 komponen seperti biomassa vegetasi, nekromassa, dan tanah menunjukkan bahwa nilai cadangan karbon total pada hutan alam memiliki nilai yang paling tinggi sebesar 136,82 tonC/ha. Adapun cadangan karbon total lahan agroforestri dan kebun kelapa sawit sebesar 62,78 tonC/ha dan 64,19 tonC/ha. Cadangan karbon tertinggi berada di biomassa vegetasi yaitu hutan alam (97,40 tonC/ha), agroforestri (32,51 tonC/ha), dan kebun kelapa sawit (36,44 tonC/ha). Persentase komponen karbon tertinggi pada hutan alam yaitu biomassa sebesar 71%, diikuti dengan tanah sebesar 18% dan nekromassa sebesar 11%. Selanjutnya, pada lahan agroforestri memiliki persentase cadangan karbon sebesar 52%, tanah sebesar 45%, dan nekromassa sebesar 3%. Adapun persentase di kebun kelapa sawit untuk tanah sebesar 41%, biomassa sebesar 57%, dan nekromassa sebesar 2%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hutan alam merupakan penyimpan karbon terbaik dibandingkan tipe penggunaan lahan lain yang disebabkan karena keragaman dan kerapatan vegetasi yang kompleks.; The role of forest as carbon absorbers has become a global concern due to the greenhouse effect, one of which is increasing air temperature (global warming). Forests have an important role in maintaining climate stability in terms of their ability to absorb CO2. Changes in land use can affect the amount of stock carbon, necromass, and soil. Comparison of carbon across multiple land covers can provide benefits in the context of environmental, economic and natural resource management policies. The aim of this research is to analyze vegetation and estimate carbon stocks in natural forests, agroforestry, and oil palm plantations, as well as to analyze the relationship between edaphic and climatic elements with carbon stocks. The research was conducted through stages such as creating sample plots, collecting stand data, soil samples, undergrowth, necromass and environmental factors. Natural forests and agroforestry lands in Mount Halimun Salak National Park, especially in the jungle zone, are dominated by kayu afrika (Maesopsis eminii) and damar (Agathis dammara). Oil palm plantations are dominated by oil palm plants (Elaeis guineensis) with a stand age of more than 20 years. The distribution of individuals in natural forests ensures the sustainability of the forest due to its availability for regeneration. Biomass and carbon stock from 3 components such as vegetation biomass, necromass, and soil show that the total carbon reserve value in natural forests has the highest value of 136,82 tonC/ha. The total carbon stocks of agroforestry land and oil palm plantations are 62,78 tonC/ha and 64,19 tonC/ha. The highest biomass and carbon stocks are in vegetation biomass, natural forests (97,40 tonC/ha), agroforestry (32,51 tonC/ha), and oil palm plantations (36,44 tonC/ha). The highest percentage of carbon components in natural forests is carbon stock at 71%, followed by soil at 18% and necromass at 11%. Furthermore, agroforestry land has carbon stock percentage of 52%, soil of 45%, and necromass of 3%. The percentage of soil in oil palm plantations is 41%, biomass is 57%, and necromass is 2%. This shows that natural forests are the best carbon storage compared to other types of land use due to the diversity and density of complex vegetation.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>COMMUNITY PERCEPTIONS AND ENGAGEMENT IN URBAN FOREST CONSERVATION: SOCIO-DEMOGRAPHIC, SPATIAL, AND INSTITUTIONAL ANALYSIS FROM SITU GEDE, BOGOR CITY</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173149" rel="alternate"/>
<author>
<name>Alexis, Mizero</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173149</id>
<updated>2026-05-22T06:45:07Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">COMMUNITY PERCEPTIONS AND ENGAGEMENT IN URBAN FOREST CONSERVATION: SOCIO-DEMOGRAPHIC, SPATIAL, AND INSTITUTIONAL ANALYSIS FROM SITU GEDE, BOGOR CITY
Alexis, Mizero
Urban forests play an important role in maintaining ecological balance while providing recreational and social benefits. However, land-use change and urbanization pose significant challenges to the sustainability of the Situ Gede urban forest. This study analyzes community perceptions and engagement in urban forest conservation in Situ Gede Village, Bogor City, and examines the influence of sociodemographic, spatial, and institutional factors on participation. The mixed-method design was applied, which included a household survey of 119 individuals, 5 key informant interviews, spatial proximity analysis with ArcMap 10.8, Spearman rank correlation, and the Analytical Hierarchy Process (AHP). The findings show that the perception of urban forest conservation is high at the community level (M = 4.20); more so in enhancing air quality (M = 4.38), flood mitigation (M = 4.31), and biodiversity preservation (M = 4.29). Conversely, the level of community engagement is moderate (M = 3.72) even though the desire to do so is quite high (M = 3.94). Financial incentives exhibit little effect on motivation (M = 3.22), meaning that the participation is more related to intrinsic and socio-cultural values. Spatial analysis indicates that respondents who reside within 0-500 m of the forest have a better perception score as compared to those living beyond that area, but there is no significant difference in the level of engagement. The results of Spearman correlation analysis indicate weak and moderate positive correlations among education and perception (r = 0.32, p &lt; 0.01), perception and engagement (r = 0.21, p &lt; 0.05) and perception and institutional trust (r = 0.29, p &lt; 0.01), with distance demonstrating a weak negative correlation with perception (r = -0.30, P&lt;0.01), The AHP findings indicate that the perceived benefits, distance and length of residence have a relatively higher position in their respective criteria structures. The weights, however, can only be understood in relation to each decision hierarchy and not directly in comparison between factors. On the whole, the results show that there is a discrepancy between high ecological knowledge and moderate involvement. The psychological and institutional factors seem to have stronger relationships with community engagement as compared to demographic features. The research paper emphasizes the significance of collaborative urban forest management, enhanced institutional trust, and spatially specific interventions in improving participatory and sustainable conservation.; Hutan kota berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekologi serta menyediakan sarana rekreasi dan sosial. Namun, perubahan penggunaan lahan dan urbanisasi menjadi tantangan bagi keberlanjutan hutan kota di Situ Gede. Penelitian ini menganalisis persepsi dan keterlibatan masyarakat dalam konservasi hutan kota di Situ Gede, Kota Bogor, serta mengkaji pengaruh faktor sosiodemografis, spasial, dan institusional terhadap partisipasi masyarakat.Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, meliputi survei rumah tangga terhadap 119 responden, wawancara dengan informan kunci, analisis kedekatan spasial menggunakan ArcMap 10.8, korelasi peringkat Spearman, serta Analytical Hierarchy Process (AHP). Sebagian besar responden berada pada usia produktif (47,9%), berpendidikan menengah atas (45,4%), dan telah tinggal lebih dari 10 tahun (80,7%). Sekitar 51,3% responden tinggal dalam radius 0–500 meter dari kawasan hutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap konservasi hutan kota tergolong tinggi (M = 4,20), terutama terkait manfaat peningkatan kualitas udara (M = 4,38), pengurangan banjir (M = 4,31), dan pelestarian keanekaragaman hayati (M = 4,29). Sebaliknya, tingkat keterlibatan masyarakat berada pada kategori sedang (M = 3,72), meskipun terdapat kecenderungan niat partisipasi yang relatif tinggi (M = 3,94). Insentif finansial menunjukkan pengaruh yang terbatas terhadap motivasi (M = 3,22), sehingga partisipasi lebih berkaitan dengan nilai intrinsik dan sosial-budaya. Analisis spasial menunjukkan bahwa responden yang tinggal dalam jarak 0–500 meter memiliki skor persepsi yang lebih tinggi (M = 4,36) dibandingkan dengan yang tinggal lebih jauh (M = 4,03), namun tidak terdapat perbedaan yang berarti dalam tingkat keterlibatan. Analisis korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif yang lemah hingga sedang antara pendidikan dan persepsi (r = 0,32; p &lt; 0,01), persepsi dan keterlibatan (r = 0,21; p &lt; 0,05), serta persepsi dan kepercayaan terhadap institusi (r = 0,29; p &lt; 0,01). Jarak menunjukkan korelasi negatif yang lemah terhadap persepsi (r = -0,30; p &lt; 0,01). Hasil AHP menunjukkan bahwa manfaat yang dirasakan, jarak, dan lama tinggal merupakan faktor dengan bobot relatif lebih tinggi dalam masing-masing struktur kriteria. Namun, bobot tersebut diinterpretasikan dalam konteks hierarki masing-masing dan tidak dibandingkan secara langsung antarfaktor. Secara umum, penelitian ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tingkat kesadaran ekologis yang tinggi dan keterlibatan masyarakat yang masih moderat. Keterlibatan masyarakat cenderung lebih dipengaruhi oleh faktor psikologis dan institusional dibandingkan dengan faktor demografis. Temuan ini menekankan pentingnya pengelolaan hutan kota yang kolaboratif, peningkatan kepercayaan terhadap institusi, serta intervensi berbasis spasial untuk mendorong konservasi hutan kota yang lebih partisipatif dan berkelanjutan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Dinamika Spasio-Temporal Ekosistem Mangrove Pascatsunami Berbasis Machine Learning dan Geospasial di Kepulauan Nias dan Sekitarnya</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173053" rel="alternate"/>
<author>
<name>Hulu, Amati Eltriman</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173053</id>
<updated>2026-05-07T22:43:39Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Dinamika Spasio-Temporal Ekosistem Mangrove Pascatsunami Berbasis Machine Learning dan Geospasial di Kepulauan Nias dan Sekitarnya
Hulu, Amati Eltriman
Peristiwa gempa bumi dan tsunami yang melanda Kepulauan Nias pada 26 Desember 2004 dan 28 Maret 2005 telah menyebabkan perubahan signifikan terhadap struktur dan fungsi ekosistem mangrove. Namun, kajian berbasis penginderaan jauh yang menganalisis dinamika spasial-temporal mangrove di wilayah ini masih terbatas. Selain itu, pendekatan yang membangun model deteksi berbasis satu waktu referensi (single-year model) untuk merekonstruksi kondisi historis mangrove pada periode sebelumnya juga belum banyak dikembangkan. Penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pengembangan model klasifikasi berbasis satu tahun acuan yang digunakan untuk menelusuri dan merekonstruksi dinamika perubahan mangrove secara multitemporal.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan spasial-temporal tutupan mangrove sebelum dan sesudah peristiwa gempa dan tsunami, mengembangkan serta mengevaluasi model pembelajaran mesin berbasis algoritma pohon keputusan (decision tree) dengan memanfaatkan data penginderaan jauh multitemporal yang terintegrasi dengan variabel sosio-biogeofisik, serta merekonstruksi lintasan dinamika mangrove pascabencana.&#13;
Data yang digunakan meliputi citra Landsat 5 dan Landsat 9 multitemporal yang diperkaya dengan variabel sosio-biogeofisik. Citra sintetis yang diturunkan dari Citra Landsat meliputi NDVI, NDBI, MNDWI, CMRI, SAVI, dan SI. Untuk mengharmonisasikan perbedaan karakteristik sensor antarperiode pengamatan, diterapkan pendekatan image regression. Model klasifikasi dibangun menggunakan dataset tahun 2025 sebagai tahun referensi, kemudian digunakan untuk merekonstruksi tutupan mangrove pada tahun 2003 dan 2006.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi variabel spektral dan sosio-bio-geofisik mampu mengidentifikasi kelas mangrove sedang dan rapat serta tutupan lahan lainnya dengan sangat baik (overall accuracy = 95,2%). Model tahun 2025 juga menunjukkan kinerja yang andal ketika diaplikasikan pada data historis, dengan akurasi 89,1% pada tahun 2003 dan 87,7% pada tahun 2006. Pada tahun 2025, luas mangrove tercatat sebesar 8.223,6 hektar. Periode 2003–2006 menunjukkan kehilangan signifikan sebesar 493,6 hektar (±46%), diikuti pemulihan parsial pada periode 2006-2025 sebesar 98,3 hektar (16,9%). Secara keseluruhan, pendekatan ini efektif dalam merekonstruksi dinamika mangrove jangka panjang untuk mendukung perencanaan rehabilitasi berbasis bukti.; The earthquake and tsunami events that struck the Nias Islands on 26 December 2004 and 28 March 2005 caused significant alterations to the structure and function of mangrove ecosystems. However, remote sensing–based studies analyzing the spatio-temporal dynamics of mangroves in this region remain limited. In addition, approaches that develop a single-year reference model to reconstruct historical mangrove conditions for earlier periods have not been widely explored. This study introduces a novel framework by developing a classification model based on a single reference year to trace and reconstruct multitemporal mangrove dynamics.&#13;
This study aims to analyze spatio-temporal changes in mangrove cover before and after the earthquake and tsunami events, to develop and evaluate a machine learning model based on the Decision Tree algorithm using multitemporal remote sensing data integrated with socio-biogeophysical variables, and to reconstruct post-disaster mangrove trajectories.&#13;
The analysis utilized multitemporal Landsat 5 and Landsat 9 imagery enriched with socio-biogeophysical variables. Spectral indices derived from Landsat imagery included NDVI, NDBI, MNDWI, CMRI, SAVI, and SI. To harmonize differences in sensor characteristics across observation periods, an image regression approach was applied. The classification model was trained using the 2025 dataset as the reference year and subsequently employed to reconstruct mangrove cover for 2003 and 2006.&#13;
The results demonstrate that integrating spectral and socio-biogeophysical variables effectively discriminated moderate and dense mangrove classes, as well as other land cover types, achieving an overall accuracy of 95.2%. The 2025-trained model also showed strong temporal transferability when applied to historical datasets, yielding accuracies of 89.1% (2003) and 87.7% (2006). In 2025, total mangrove cover was estimated at 8,223.6 hectares. The 2003–2006 period experienced a substantial loss of 493.6 hectares (±46%), followed by a partial recovery during 2006–2025, totaling 98.3 hectares (16.9%). Overall, the proposed approach effectively reconstructs long-term mangrove dynamics and provides a robust scientific basis for evidence-based rehabilitation planning.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Transformasi Perhutanan Sosial Pada Kawasan Hutan  Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) di Kabupaten Garut</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173046" rel="alternate"/>
<author>
<name>Nurkholid, Yayat</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173046</id>
<updated>2026-05-07T00:23:33Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Transformasi Perhutanan Sosial Pada Kawasan Hutan  Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) di Kabupaten Garut
Nurkholid, Yayat
Kebijakan pemerintah terkait perhutanan sosial sering mengalami perkembangan dan perubahan namun tidak diimbangi dengan internalisasi pemahaman yang cukup bagi pemegang persetujuan perhutanan sosial. Salah satu perubahan kebijakan pada perhutanan sosial khususnya dipulau jawa yaitu terkait dengan transformasi perhutanan sosial pada Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK). Dampak kebijakan tersebut adalah Izin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial (IPHPS) dan Skema Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (Kulin KK) yang telah terbit sebelumnya wajib untuk di transformasi. Terdapat kemungkinan pelaksanaan transformasi perhutanan sosial pada KHDPK belum dapat berjalan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran stakeholder dan implementasi kebijakan, serta merumuskan strategi yang tepat bagi pelaksanaan transformasi perhutanan sosial pada KHDPK di Kabupaten Garut. Analisis peran stakeholder dilakukan menggunakan analisis stakeholder dengan menafsirkan matriks kepentingan dan pengaruh pemangku kepentingan. Implementasi kebijakan transformasi perhutanan sosial pada KHDPK dilakukan dengan analisis kebijakan yang merujuk pada teori George C. Edwards III. Perumusan strategi transformasi perhutanan sosial pada KHDPK di Kabupaten Garut dilakukan menggunakan Matriks Strenghts-Weaknesses-Opportunities-Threats (SWOT). Hasil penelitian terkait peran stakeholder menunjukan 11 stakeholder terkait transformasi perhutanan sosial pada KHDPK di Kabupaten Garut. Terkait dengan implementasi kebijakan transformasi perhutanan sosial pada KHDPK menunjukan bahwa implementasi kebijakan terkait transformasi perhutanan sosial terkendala oleh komunikasi yang kurang efektif, keterbatasan SDM, anggaran, dan birokrasi yang belum optimal. Alternatif strategi yang dapat diterapkan dalam transformasi perhutanan sosial pada KHDPK di Kabupaten Garut yaitu strategi Weaknesses-Opportunities (WO), yaitu strategi dengan memanfaatkan seluruh peluang yang ada untuk menyelesaikan permasalahan atau kelemahan internal yang dimiliki dalam proses transformasi perhutanan sosial pada KHDPK di Kabupaten Garut.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
