<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MT - Forestry</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/75" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/75</id>
<updated>2026-05-06T11:50:47Z</updated>
<dc:date>2026-05-06T11:50:47Z</dc:date>
<entry>
<title>Pemodelan Prediksi Kerawanan Kebakaran  Lahan Gambut berdasarkan Tinggi Muka Air dengan Pendekatan Machine  Learning</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172991" rel="alternate"/>
<author>
<name>Wulandari, Ratu Mutiara</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172991</id>
<updated>2026-04-27T07:25:29Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pemodelan Prediksi Kerawanan Kebakaran  Lahan Gambut berdasarkan Tinggi Muka Air dengan Pendekatan Machine  Learning
Wulandari, Ratu Mutiara
Kebakaran lahan gambut di Asia Tenggara merupakan bencana berulang yang &#13;
semakin parah pada musim kemarau, diperparah oleh fenomena El Niño yang &#13;
meningkatkan kekeringan, terutama di Provinsi Jambi, Indonesia. Dampak &#13;
kebakaran gambut meliputi degradasi lingkungan, hilangnya habitat, kerusakan &#13;
ekosistem dan peningkatan emisi akibat kabut asap, sehingga pemantauan &#13;
kerawanan dan mitigasi menjadi sangat penting. Pemantauan berbasis tinggi muka &#13;
air, terutama melalui teknologi Internet of Things (IoT), telah terbukti efektif untuk &#13;
menilai kelembapan tanah secara real-time dan mendukung peringatan dini risiko &#13;
kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model prediksi kerawanan &#13;
berdasarkan tinggi muka air dan mengategorikan kerawanan kebakaran berbasis &#13;
data lingkungan dengan pendekatan machine learning, mengevaluasi performa &#13;
model, dan menerapkan model pada wilayah lain. Data dikumpulkan dari stasiun &#13;
pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) yang merekam delapan peubah &#13;
lingkungan setiap 15 menit selama 3 bulan di Desa Pematang Rahim. Peubah &#13;
prediktor yang diamati yaitu curah hujan, kelembapan udara, suhu, intensitas &#13;
cahaya, kelembapan tanah, arah angin dan kecepatan angin dengan target peubah &#13;
tinggi muka air. Secara ringkas, model dinyatakan dalam bentuk aturan IF–THEN &#13;
dominan : (1) IF SM &lt; 28 % THEN Y = -75 cm; (2) IF 28 = SM = 62 % AND RF &#13;
= 1,9 mm THEN -41 = Y = -22 cm; dan (3) IF SM  = 62 % AND = 23 TEM = &#13;
THEN  Y = -14 cm. Hasil prediksi menunjukkan nilai performa dengan nilai R² &#13;
0,93, RMSE 10,42, MAE 5,98, dan MAPE 0,76 % yang menunjukkan model yang &#13;
tidak bias. Selain itu, simulasi jumlah peubah dan waktu data menunjukkan bahwa &#13;
memungkinkan reduksi peubah prediktor menjadi tiga peubah utama, yaitu &#13;
kelembapan tanah, suhu, dan curah hujan dengan waktu terbaik selama 3 bulan. &#13;
Selanjutnya, klasifikasi kerawanan dibagi berdasarkan ambang batas kritis tinggi &#13;
muka air &lt; -40 cm untuk menentukan kategori kerawanan "rendah" dan "tinggi". &#13;
Hasil klasifikasi mencapai akurasi 97%. Model kemudian diterapkan pada data &#13;
Desa Teluk Dawan. Hasil penerapan model menunjukkan bahwa model belum &#13;
mampu diterapkan di daerah lain, sehingga perlu dilakukan pelatihan data agar &#13;
model dapat menyesuaikan peubah lingkungan di wilayah lain. Klasifikasi &#13;
kerawanan pada data baru dengan target titik panas menunjukkan bahwa hari tanpa &#13;
hujan, kelembapan tanah, tinggi muka air, dan suhu tanah secara berurutan &#13;
mempengaruhi kerawanan kebakaran. Hasil penelitian ini juga memberi &#13;
rekomendasi untuk menyeleksi peubah lingkungan dalam menduga tinggi muka air &#13;
menjadi tiga, yaitu kelembapan tanah, suhu, dan curah hujan sebagai strategi &#13;
monitoring pencegahan kebakaran hutan dan lahan gambut yang lebih efektif.; Peatland fires in Southeast Asia are recurring disasters that become increasingly &#13;
severe during the dry season and are exacerbated by El Niño, which intensifies &#13;
drought and expands affected areas, particularly in Jambi Province, Indonesia. The &#13;
impacts of peat fires include environmental degradation, habitat loss, ecosystem &#13;
damage, and increased haze-related emissions, underscoring the need for &#13;
vulnerability monitoring and mitigation. Groundwater level-based monitoring, &#13;
particularly through the Internet of Things (IoT), has proven effective for assessing &#13;
soil moisture in real time and for supporting early warning of fire risk. This study &#13;
aims to develop a prediction model based on groundwater levels, categorize fire &#13;
risk using environmental data using a machine learning approach, evaluate model &#13;
performance, and apply the model to other regions. Data were collected from an &#13;
Internet of Things (IoT)-based monitoring station that recorded eight environmental &#13;
variables every 15 minutes for 3 months in Pematang Rahim. The observed &#13;
predictor variables were rainfall, relative humidity, temperature, light intensity, soil &#13;
moisture, wind direction, and wind speed, with groundwater level as the target &#13;
variable. The model is expressed in the form of dominant IF–THEN rules: (1) IF &#13;
soil moisture &lt; 28% THEN groundwater level is in a very low condition (= -75 &#13;
cm); (2) IF soil moisture is 28–62% AND rainfall is = 1.9 cm THEN the &#13;
groundwater level is in a transition state from dry to wet (-41 to -22 cm); and (3) &#13;
IF soil moisture is = 62% AND soil temperature is low THEN the groundwater level &#13;
is relatively shallow (= -14 cm). The prediction results show an R2 of 0.93, RMSE &#13;
of 10.42, MAE of 5.98, and MAPE of 0.76%, indicating an unbiased model. In &#13;
addition, the simulation of the number of variables and data time shows that it is &#13;
possible to reduce the predictor variables to three main variables, namely soil &#13;
moisture, temperature, and rainfall, with the best time being 3 months. Furthermore, &#13;
vulnerability classification is divided based on a critical threshold of groundwater &#13;
level &lt; -40 cm to determine the categories of "low" and "high" vulnerability. The &#13;
classification results achieved 97% accuracy. The model was then applied to data &#13;
from Teluk Dawan Village. The results of the model application showed that it &#13;
could not yet be applied to other areas; training data were needed to enable the &#13;
model to adapt to environmental variables. The classification of vulnerability in the &#13;
new data with hotspot targets shows that, in sequence, days without rain, soil &#13;
moisture, water level, and soil temperature affect fire vulnerability. The results of &#13;
this study also provide recommendations for selecting environmental variables for &#13;
estimating water levels, namely soil moisture, temperature, and rainfall, as a &#13;
strategy for more effective monitoring of forest and peatland fire prevention.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Visual Evaluation Soil Structure (VESS) di Lahan Tambang Silika, Semak Belukar, Agroforestri, dan Hutan Tanaman</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172989" rel="alternate"/>
<author>
<name>Putra, Fernanda Reza</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172989</id>
<updated>2026-04-27T04:47:07Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Visual Evaluation Soil Structure (VESS) di Lahan Tambang Silika, Semak Belukar, Agroforestri, dan Hutan Tanaman
Putra, Fernanda Reza
Alih fungsi kawasan hutan menjadi areal pertambangan dan bentuk penggunaan lahan lainnya merupakan salah satu penyebab utama degradasi tanah di Indonesia. Kegiatan penambangan, khususnya penambangan silika, berdampak pada rusaknya sifat fisik tanah, terutama struktur tanah, akibat hilangnya vegetasi penutup dan bahan organik tanah. Struktur tanah merupakan indikator penting kualitas tanah karena berpengaruh langsung terhadap porositas, infiltrasi air, dan pertumbuhan akar tanaman. Evaluasi kualitas tanah umumnya dilakukan melalui analisis laboratorium yang membutuhkan waktu dan biaya relatif besar, sehingga diperlukan metode alternatif yang lebih cepat dan efisien. Visual Evaluation Soil Structure (VESS) merupakan metode penilaian struktur tanah secara visual yang sederhana dan berpotensi menggambarkan kualitas tanah secara menyeluruh.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan nilai VESS, sifat fisik dan kimia tanah, serta hubungan antara nilai VESS dengan sifat fisik dan kimia tanah pada empat jenis tutupan lahan, yaitu lahan tambang silika, semak belukar, agroforestri, dan hutan tanaman. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2024 hingga Januari 2025 di PT Gunung Walat Perkasa dan Hutan Pendidikan Gunung Walat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Penelitian dirancang menggunakan rancangan acak lengkap faktor tunggal dengan jenis tutupan lahan sebagai perlakuan. Pada setiap tutupan lahan dibuat satu petak contoh dengan lima subpetak pengambilan sampel. Penilaian struktur tanah dilakukan menggunakan metode VESS, sedangkan analisis sifat fisik tanah meliputi bobot isi, porositas, dan kadar air tanah. Analisis sifat kimia tanah meliputi pH tanah dan kandungan C-organik. Data dianalisis menggunakan uji sidik ragam (ANOVA), uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT), serta uji korelasi Pearson.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tutupan lahan memberikan pengaruh nyata terhadap nilai VESS, sifat fisik, dan sifat kimia tanah, kecuali pada beberapa parameter antara tutupan lahan hutan tanaman dan agroforestri. Nilai VESS tertinggi diperoleh pada lahan tambang silika yang dikategorikan memiliki kualitas struktur tanah buruk, sedangkan nilai VESS terendah diperoleh pada lahan agroforestri dan hutan tanaman yang memiliki kualitas struktur tanah baik. Lahan tambang silika dicirikan oleh bobot isi tinggi, porositas rendah, kadar air rendah, pH sangat masam, dan kandungan C-organik rendah. Sebaliknya, lahan agroforestri dan hutan tanaman memiliki bobot isi rendah, porositas dan kadar air tinggi, pH relatif lebih tinggi, serta kandungan C-organik tinggi. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa nilai VESS memiliki hubungan yang sangat kuat dan signifikan dengan seluruh parameter sifat fisik dan kimia tanah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode VESS efektif dan efisien sebagai alat evaluasi kualitas struktur tanah serta dapat digunakan sebagai metode pendugaan awal kualitas tanah pada berbagai tutupan lahan, khususnya pada lahan pascatambang dan lahan terdegradasi.; The conversion of forest areas into mining sites and other land uses is one of the main causes of soil degradation in Indonesia. Mining activities, particularly silica mining, negatively affect soil physical properties, especially soil structure, due to the loss of vegetation cover and soil organic matter. Soil structure is an important indicator of soil quality because it directly influences porosity, water infiltration, and root growth. Soil quality evaluation is commonly conducted through laboratory analyses that require considerable time and cost; therefore, alternative methods that are faster and more efficient are needed. Visual Evaluation of Soil Structure (VESS) is a simple visual assessment method that has the potential to represent overall soil quality.&#13;
This study aimed to analyze differences in VESS scores, soil physical and chemical properties, and the relationships between VESS scores and soil physical and chemical properties across four land cover types silica mining land, shrubland, agroforestry, and plantation forest. The research was conducted from December 2024 to January 2025 at PT Gunung Walat Perkasa and the Gunung Walat Educational Forest, Sukabumi Regency, West Java, Indonesia. The study was designed using a single-factor completely randomized design, with land cover type as the treatment. One sampling plot was established for each land cover type, consisting of five subplots for soil sampling. Soil structure was evaluated using the VESS method, while soil physical properties analyzed included bulk density, porosity, and soil moisture content. Soil chemical properties analyzed included soil pH and organic carbon content. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), Duncan’s Multiple Range Test (DMRT), and Pearson correlation analysis.&#13;
The results showed that land cover type had a significant effect on VESS scores, soil physical properties, and soil chemical properties, except for several parameters between plantation forest and agroforestry land covers. The highest VESS scores, indicating poor soil structural quality, were observed in silica mining land, while the lowest VESS scores, indicating good soil structural quality, were found in agroforestry and plantation forest land. Silica mining land was characterized by high bulk density, low porosity, low soil moisture content, very acidic pH, and low organic carbon content. In contrast, agroforestry and plantation forest lands exhibited lower bulk density, higher porosity and soil moisture content, relatively higher pH, and higher organic carbon content. Correlation analysis revealed that VESS scores had very strong and significant relationships with all measured soil physical and chemical parameters. This study concludes that the VESS method is effective and efficient for evaluating soil structural quality and can be used as a preliminary assessment tool for soil quality across various land cover types, particularly in post-mining and degraded lands.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Dampak Keberadaan Hutan Tanaman Industri PT. WKS terhadap Kondisi Sosial, Ekonomi, Lingkungan Masyarakat dan Perekonomian Wilayah</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172954" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ciptaningrum, Adzkia Chairunisa</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172954</id>
<updated>2026-04-20T03:29:32Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Dampak Keberadaan Hutan Tanaman Industri PT. WKS terhadap Kondisi Sosial, Ekonomi, Lingkungan Masyarakat dan Perekonomian Wilayah
Ciptaningrum, Adzkia Chairunisa
Kebutuhan bahan baku industri perkayuan tidak dapat lagi terpenuhi dari hasil penebangan Hutan Alam, sehingga pemerintah perlu menetapkan kebijakan untuk meningkatkan produktivitas kawasan hutan produksi melalui pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI). Kegiatan produksi HTI dapat menghasilkan dampak positif maupun negatif bagi kondisi lingkungan fisik serta aspek sosial ekonomi masyarakat desa di sekitarnya dan perkembangan ekonomi wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak HTI PT. Wirakarya Sakti (WKS) terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat desa di sekitar wilayah konsesi, serta mengkaji peran sektor kehutanan dalam perekonomian wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Provinsi Jambi. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan melalui metode survei dan wawancara. Data dianalisis menggunakan skala likert, analisis Location Quotient, dan analisis Input-Output untuk mengkaji peran sektor Hutan Tanaman Industri dalam perekonomian wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Provinsi Jambi. Uji-t berpasangan digunakan untuk mengetahui perbedaan rata-rata kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat sebelum dan sesudah beroperasinya HTI PT. WKS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sisi sosial keberadaan HTI berkontribusi positif terhadap penyerapan tenaga kerja, penyediaan fasilitas sosial, migrasi penduduk, dan perubahan pola kebiasaan masyarakat. Namun, juga menimbulkan dampak negatif berupa potensi konflik lahan. Dari sisi ekonomi memberikan dampak positif terhadap kondisi ekonomi masyarakat, peningkatan pendapatan masyarakat, terbukanya lapangan kerja baru, serta berkembangnya sektor perdagangan, jasa, dan usaha kecil di sekitar desa. Dari aspek lingkungan, memberikan dampak negatif terhadap peningkatan polusi udara, air, dan suara. Keberadaan sektor kehutanan pada industri kayu diharapkan dapat memberikan dampak yang positif dan lebih bermanfaat bagi masyarakat lokal. Analisis location quotient menunjukkan empat sektor basis dengan nilai LQ &gt; 1, yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan; pertambangan dan penggalian; industri pengolahan; serta jasa perusahaan. Sektor kehutanan dan penebangan kayu memiliki keterkaitan sektoral yang kuat, terutama dalam mendorong pertumbuhan sektor hilir dan memiliki nilai yang lebih besar dari satu. Analisis multiplier effect juga menunjukkan kontribusi sektor kehutanan dalam memperkuat hubungan antar sektor dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah Provinsi Jambi.; The demand for raw materials for the timber industry can no longer be sustainably supplied through the extraction of natural forests. Therefore, government policies are needed to increase the productivity of production forests through the development of industrial timber plantations (HTI). Production activities of HTI can cause positive and negative impacts on the physical environment, social and economic aspects of the surrounding villages as well as economic development of the region. This study aims to analyze the impact of establishment of industrial plantation forest managed by PT. Wirakarya (WKS) on the socio, economic and environmental conditions of surrounding villages the concession area, as well as to analyze the role of the forestry sector in the economy of Tanjung Jabung Barat Regency and Jambi Province. This study used a mixed qualitative and quantitative approach through surveys and interviews. Data were analyzed using a likert scale, location quotient analysis, and Input-Output analysis to determine the role of the industrial forestry sector in the economy of Tanjung Jabung Barat Regency and Jambi Province. Paired sample t-test were used to determine the differences in the average social, economic, and environmental conditions of the community before and after the operation of PT. WKS industrial forestry. The results of the research show that from a social aspects, the establishment of HTI has contributed positively to employment, the provision of social facilities, population migration, and changes in community habits. However, it also has a negative impact in the form of potential land conflicts. From an economic aspect, it has positive effect on the economic conditions of community, as seen from the increase in community income, the creation of new employment, and the growth of trade, service, and small business sectors around the village. From an environmental aspect, it has a negative impact on the increase in air, water, and noise pollution. The existence of the forestry sector in the timber industry was expected to provide positive and more beneficial impact for the local communities. Location Quotient analysis shows four base sectors with LQ values &gt; 1, namely agriculture, forestry, and fisheries; mining and quarrying; manufacturing; and business services. The forestry and logging sector has strong sectoral linkages, particularly in driving downstream sector growth, and has a value greater than one. The multiplier effect analysis also shows the contribution of the forestry sector in strengthening intersectoral linkages and driving economic growth in the Jambi Province.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Peningkatan Kualitas Sirap Bambu Laminasi melalui Pemipihan Bilah  Termodifikasi Panas dan Aplikasi Perekat Resorsinol Formaldehida</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172922" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sya'diah, Siti Masriva</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172922</id>
<updated>2026-04-12T23:40:11Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Peningkatan Kualitas Sirap Bambu Laminasi melalui Pemipihan Bilah  Termodifikasi Panas dan Aplikasi Perekat Resorsinol Formaldehida
Sya'diah, Siti Masriva
Fenomena pemanasan global  mendorong penerapan arsitektur hijau pada &#13;
bangunan gedung antara lain melalui penggunaan bahan bangunan ramah &#13;
lingkungan. Dalam kaitan ini bambu merupakan salah satu pilihan mengingat &#13;
berbagai keunggulan yang dimilikinya sebagai bahan bangunan. Namun,  &#13;
penggunaan bambu sebagai atap bangunan gedung sering terkendala oleh morfologi &#13;
(bulat berongga, dimensi terbatas) dan stabilitas dimensinya yang rendah. Studi ini &#13;
mencoba mengatasi keterbatasan tersebut melalui teknik laminasi bilah bambu &#13;
terpipihkan (lamina) menggunakan perlakuan panas dan aplikasi perekat berkinerja &#13;
tinggi yaitu resorsinol formaldehida (RF). Penelitian ini juga berfokus pada &#13;
optimasi rasio resorsinol (R) terhadap formaldehida (F) serta optimasi  durasi &#13;
pengempaan pada proses laminasi.   &#13;
Bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea) dipilih sebagai bahan &#13;
baku utama berdasarkan hasil analisis viskoelastisitasnya yang menunjukkan &#13;
kapasitas regangan tinggi, sehingga mampu meminimalkan kerusakan serat selama &#13;
proses pemipihan menggunakan kempa panas pada suhu 140 °C selama 15 menit. &#13;
Rasio molar R:F yang diaplikasikan adalah 1:1 hingga 1:4  dengan durasi kempa &#13;
dingin 150, 180, dan 210 menit. Karakterisasi perekat RF mencakup kadar padatan &#13;
dan sifat termal nya menggunakan Differential Scanning Calorimetry  dan &#13;
Thermogravimetric Analysis. Sementara itu karakteristik bilah bambu terpipihkan &#13;
dianalisis menggunakan Micro-CT scanner dan pengukuran indeks kristalinitas. &#13;
Kualitas akhir sirap bambu laminasi dievaluasi berdasarkan sifat fisis, yang &#13;
mencakup kadar air, delaminasi, dan stabilitas dimensi, serta sifat mekanis yang &#13;
meliputi Modulus of Elasticity , Modulus of Rupture, dan keteguhan rekat. &#13;
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa peningkatan kadar formaldehida &#13;
dalam perekat berbanding terbalik dengan kadar padatan. Rasio RF  1:3 dan 1:4 &#13;
menunjukkan sifat termal yang inferior. Sementara itu modifikasi panas terbukti &#13;
efektif menghasilkan bilah bambu terpipihkan dengan permukaan rata dan &#13;
intensitas retak minimal serta meningkatkan indeks kristalinitasnya. Hal ini  &#13;
memvalidasi peningkatan stabilitas dimensi (penurunan daya serap air mencapai &#13;
29,03%) dan kekuatan mekanis sirap bambu laminasi (peningkatan nilai MOE   &#13;
mencapai 51,38 %, sedangkan MOR mencapai 76,1 %). Selain itu, aplikasi perekat &#13;
RF mampu menghasilkan  sirap bambu laminasi yang tahan terhadap delaminasi  &#13;
(intensitas delaminasi = 0%), mengindikasikan ketahanan rekat yang sangat baik. &#13;
Studi ini menyimpulkan bahwa pemipihan lamina bambu dengan kempa panas, &#13;
aplikasi perekat RF pada rasio 1:2, dan durasi pengempaan 210 menit merupakan &#13;
perlakuan optimal untuk menghasilkan sirap bambu laminasi dengan kualitas yang &#13;
memenuhi SNI 01-5008.2-1999 dan SNI 01-5008.7-1999 atau setara dengan &#13;
formula 1:1  namun dengan biaya yang lebih efisien.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
