<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Faculty of Mathematics and Natural Sciences</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7470" rel="alternate"/>
<subtitle>Undergraduate Theses on Faculty of Mathematics and Natural Sciences</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7470</id>
<updated>2026-06-15T05:31:03Z</updated>
<dc:date>2026-06-15T05:31:03Z</dc:date>
<entry>
<title>Analisis Kualitas  Minyak Goreng Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Bersubsidi berdasarkan  Parameter Fisik dan Kimia</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173397" rel="alternate"/>
<author>
<name>Muslimah, Intan Sukma</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173397</id>
<updated>2026-06-12T08:49:56Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Kualitas  Minyak Goreng Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Bersubsidi berdasarkan  Parameter Fisik dan Kimia
Muslimah, Intan Sukma
Minyak goreng kelapa sawit merupakan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, sehingga untuk menjaga keterjangkauannya pemerintah menyediakan minyak goreng bersubsidi. Adanya isu ketidaksesuaian volume pada label kemasan dengan volume sebenarnya menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap mutu produk. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengukur kualitas minyak goreng kelapa sawit bersubsidi berdasarkan parameter fisik dan kimia, membandingkannya dengan minyak non-subsidi dan curah, serta menilai kesesuaiannya dengan standar mutu yang berlaku. Metode penelitian ini meliputi uji organoleptik dan pengukuran volume, kadar air, pengukuran asam lemak bebas, bilangan peroksida, angka Thiobarbituric Acid, bilangan iod serta profil asam lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas minyak goreng subsidi berada di antara minyak goreng non-subsidi dan curah. Hal ini terjadi karena tingkat oksidasi pada minyak subsidi yang melebihi standar, namun masih lebih rendah dibandingkan dengan minyak goreng curah. Hasil pengujian minyak subsidi menunjukkan warna kuning pekat, bau dan rasa tidak normal, kadar air 0,12%, kadar ALB 0,18%, bilangan peroksida 31,42 mek O2/kg, angka TBA 1,51 mg malonaldehid/kg sampel, bilangan iod 27,17 iod/100 g minyak dan total asam lemak 99,29%.; Palm cooking oil is a staple commodity for Indonesian society. To maintain its affordability, the government provides subsidized cooking oil. However, issues regarding discrepancies between the labeled volume on the packaging and the actual volume have raised public concerns about product quality. Therefore, this study aimed to evaluate the quality of subsidized palm cooking oil based on physical and chemical parameters, compare it with non-subsidized and bulk cooking oil, and assess its compliance with applicable quality standards. The research methods included organoleptic testing and measurements of volume, moisture content, free fatty acid content, peroxide value, iodine value, thiobarbituric acid value, and fatty acid profile. The results showed that the quality of subsidized cooking oil falls between non-subsidized and bulk cooking oil. This condition is attributed to the oxidation level in the subsidized oil, which exceeds the standard but remains lower than that of bulk cooking oil. The analysis of subsidized oil revealed a deep yellow color, abnormal odor and taste, moisture content of 0.12%, free fatty acid (FFA) content of 0.18%, peroxide value of 31.42 meq O2/kg, TBA value of 1.51 mg malondialdehyde/kg sample, iodine value of 27.17 g I2/100 g oil, and total fatty acids of 99.29%.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Tinjauan Pustaka Sistematis terhadap Siklus Dan Kandungan Atmospheric Microplastics dalam Awan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173388" rel="alternate"/>
<author>
<name>PUTRI, FATHANIA RADINKA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173388</id>
<updated>2026-06-12T05:42:03Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Tinjauan Pustaka Sistematis terhadap Siklus Dan Kandungan Atmospheric Microplastics dalam Awan
PUTRI, FATHANIA RADINKA
Atmospheric Microplastics (AMPs) merupakan partikel plastik berukuran 1 µm hingga 5 mm yang tersuspensi di atmosfer dan telah terdeteksi hingga wilayah terpencil. Beberapa penelitian menunjukkan terukurnya mikroplastik dalam air hujan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme sirkulasi AMPs di atmosfer, termasuk karakteristik partikel, sumber emisi, proses transport, hingga interaksi dengan awan, serta mekanisme deposisi berdasarkan literatur yang dikumpulkan secara sistematis. Metode tinjauan pustaka sistematis pada penelitian ini mengikuti pedoman PRISMA, dengan 62 studi ekstraksi dari Scopus dan Google Scholar tahun 2015–2025. Hasil menunjukkan morfologi paling umum dari mikroplastik adalah fibre dengan jenis polimer dominan polyethylene terephthalate (PET) dan ukuran partikel &lt;100 µm. Sumber emisi didominasi aktivitas urban dan mampu menempuh jarak hingga ribuan kilometer. Selama proses transport, aging mengubah permukaan partikel dari hidrofobik menjadi hidrofilik, memengaruhi proses masuknya AMPs dalam  awan. AMPs terperangkap dalam droplet melalui in-cloud dan below-cloud scavenging, berpotensi sebagai cloud condensation nuclei (CCN) yang memengaruhi ukuran droplet dan albedo awan, maupun ice nucleating particles (INP) yang memicu glasiasi pada suhu lebih hangat. Deposisi basah menjadi mekanisme yang paling sering terjadi, sehingga berpotensi terdeteksinya kandungan mikroplastik dalam air hujan. Sementara resuspensi memungkinkan terjadinya pengulangan siklus. Pengendalian emisi menjadi prioritas utama untuk menekan persistensi AMPs di atmosfer.; Atmospheric Microplastics (AMPs) are plastic particles ranging from 1 µm to 5 mm that remain suspended in the atmosphere and have been detected even in remote regions. Several studies have reported the presence of microplastics in rainwater. This study aims to analyze the circulation mechanisms of AMPs in the atmosphere, including particle characteristics, emission sources, transport processes, cloud interactions, and deposition mechanisms, based on systematically collected literature. A systematic literature review following the PRISMA guidelines was conducted using 62 studies from Scopus and Google Scholar published between 2015 and 2025. The results show that fibres are the most common microplastic morphology, with polyethylene terephthalate (PET) as the dominant polymer type and particle sizes generally below 100 µm. Urban activities are the primary emission sources, and AMPs can travel thousands of kilometers. During atmospheric transport, aging alters particle surfaces from hydrophobic to hydrophilic, influencing their incorporation into clouds. AMPs can be scavenged through in-cloud and below-cloud processes and may act as cloud condensation nuclei (CCN) or ice nucleating particles (INP), affecting cloud properties and glaciation. Wet deposition is the dominant removal mechanism, contributing to microplastic occurrence in rainwater, while resuspension enables repeated atmospheric cycling. Emission control remains essential to reduce AMP persistence in the atmosphere.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pemodelan Groundwater Level (GWL) Lahan Gambut Menggunakan Metode Random Forest Regression</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173353" rel="alternate"/>
<author>
<name>FIRNANDA, TIO</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173353</id>
<updated>2026-06-11T06:07:09Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pemodelan Groundwater Level (GWL) Lahan Gambut Menggunakan Metode Random Forest Regression
FIRNANDA, TIO
Lahan gambut tropis Indonesia menyimpan cadangan karbon masif dan berfungsi sebagai regulator air alami, namun degradasi akibat drainase berlebihan dan kebakaran berulang mengancam kestabilan Groundwater Level (GWL) yang menjadi kunci integritas ekosistemnya. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengevaluasi model Random Forest Regression untuk memprediksi fluktuasi GWL harian berdasarkan parameter meteorologi pada tiga tipe lahan gambut di Kalimantan Tengah, yaitu lahan terbakar berulang (DB), hutan berkanal (DF), dan hutan alami (UF) periode 2005–2015. Pemodelan dilakukan dengan menguji 15 skenario kombinasi variabel prediktor yang mengintegrasikan radiasi netto, suhu udara, Vapor Pressure Deficit, curah hujan harian, dan Lag curah hujan berdasarkan analisis Cross Correlation Function. Model terbaik (M15) mencapai nilai R² 0,61–0,67 dan Nash-Sutcliffe Efficiency 0,44–0,60 pada fase pengujian, dengan VPD dan radiasi netto sebagai prediktor paling dominan. Lahan terdegradasi merespons curah hujan lebih cepat (lag -1) dibandingkan hutan alami (lag -2). Hasil ini membuktikan bahwa pendekatan machine learning berbasis data meteorologi dapat menjadi alternatif pemantauan GWL yang efisien untuk mendukung mitigasi kebakaran gambut.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Variasi Naungan terhadap Pertumbuhan, Kadar Klorofil, dan Kadar Total Pati Tanaman Miana (Coleus scutellarioides (L) Benth.)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173344" rel="alternate"/>
<author>
<name>NUGRAHENI, LUTHFIA LAILA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173344</id>
<updated>2026-06-11T00:15:26Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Variasi Naungan terhadap Pertumbuhan, Kadar Klorofil, dan Kadar Total Pati Tanaman Miana (Coleus scutellarioides (L) Benth.)
NUGRAHENI, LUTHFIA LAILA
Tanaman miana (Coleus scutellarioides) merupakan tanaman herbal karena kandungan senyawa bioaktif serta sebagai tanaman hias karena karakteristik warna daun yang menarik. Intensitas cahaya menjadi faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan, kadar klorofil, dan kadar total pati tanaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi tingkat naungan terbaik untuk menghasilkan pertumbuhan, kadar klorofil, dan total pati paling tinggi pada tanaman miana. Variasi tingkat naungan yang digunakan yaitu 0%, 25%, 50%, dan 75%. Pengujian yang dilakukan yaitu parameter pertumbuhan, laju fotosintesis, kadar klorofil, dan kadar total pati daun miana. Perlakuan naungan menunjukkan perbedaan nyata pada tinggi tanaman (TT), jumlah daun (JD), jumlah cabang ( JC), dan jumlah tunas (JT) selama 8 minggu pengamatan. Perlakuan naungan 50% menghasilkan parameter pertumbuhan yang berkorelasi positif. Laju fotosintesis tertinggi terdapat pada perlakuan 50% dengan nilai 1,78 ± 0,80 µmol.m-2.s-1. Perlakuan naungan dengan total kadar klorofil tertinggi terdapat pada naungan 75% dengan nilai 2,26 ± 0,50 mg.g-1. Total pati tertinggi didapatkan pada perlakuan naungan 0% dengan nilai 15,60 ± 0,86 g/100g.; The miana plant (Coleus scutellarioides) is valued both as a medicinal herb, due to its bioactive compounds, and as an ornamental plant, owing to its attractive leaf coloration. Light intensity is a key environmental factor influencing plant growth, chlorophyll content, and total starch content. This study aimed to determine the optimal shading level to achieve maximum growth, chlorophyll content, and total starch content in miana plants. Shade treatments included 0%, 25%, 50%, and 75%. Researchers measured growth traits, photosynthetic rate, total chlorophyll, and total leaf starch. Shading treatments resulted in significant differences in plant height (PH), number of leaves (NL), number of branches (NB), and number of shoots (NS) throughout the 8-week observation period. Plants under 50% shade showed the best overall growth. The highest photosynthetic rate was found at 50% shade (1,78 ± 0,80a µmol.m-2.s-¹). The most chlorophyll was measured at 75% shade (2.26 ± 0.50 mg g?¹), while the most starch was found at 0% shade (15.60 ± 0.86 g 100 g?¹).
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
