<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Faculty of Forestry and Environment</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7469" rel="alternate"/>
<subtitle>Undergraduate Theses on Faculty of Forestry and Environment</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7469</id>
<updated>2026-06-11T08:32:07Z</updated>
<dc:date>2026-06-11T08:32:07Z</dc:date>
<entry>
<title>Kombinasi Marl dan Bahan Organik sebagai Amelioran Tanah untuk Mendukung Pertumbuhan Bibit Gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173367" rel="alternate"/>
<author>
<name>WAHYUDI, NASTITI KARIN</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173367</id>
<updated>2026-06-11T07:37:33Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kombinasi Marl dan Bahan Organik sebagai Amelioran Tanah untuk Mendukung Pertumbuhan Bibit Gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.)
WAHYUDI, NASTITI KARIN
Tanah podsolik merah kuning memiliki pH masam, kandungan Al tinggi, dan&#13;
ketersediaan hara terbatas sehingga diperlukan ameliorasi tanah. Penelitian ini&#13;
bertujuan menganalisis pengaruh aplikasi marl dan pupuk pabrikan kotoran ayam&#13;
terhadap pertumbuhan bibit gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan sifat kimia&#13;
tanah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor&#13;
dengan tiga taraf marl (0, 46, dan 92 g) dan pupuk pabrikan kotoran ayam (0, 60,&#13;
dan 180 g) per polybag. Parameter yang diamati meliputi persentase hidup bibit,&#13;
persentase kesehatan bibit, tinggi, diameter, berat basah total, berat kering total, dan&#13;
sifat kimia tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi marl dan pupuk&#13;
pabrikan kotoran ayam belum mampu meningkatkan pertumbuhan bibit selama 12&#13;
minggu. Aplikasi amelioran meningkatkan pH, P2O5 tersedia, dan Ca²?, serta&#13;
menurunkan Al³? dan H?. Namun perubahan tersebut tidak selalu diikuti&#13;
peningkatan pertumbuhan bibit akibat ketidakseimbangan kation dan antagonisme&#13;
hara.; Red-yellow podzolic soil is characterized by acidic pH, high aluminum (Al) content,&#13;
and limited nutrient availability, thus requiring soil amelioration. This study aimed&#13;
to analyze the effects of marl and commercial chicken manure fertilizer application&#13;
on the growth of agarwood (Aquilaria malaccensis Lam.) seedlings and soil&#13;
chemical properties. The experiment employed a two-factor Completely&#13;
Randomized Design (CRD) with three levels of marl (0, 46, and 92 g) and&#13;
commercial chicken manure fertilizer (0, 60, and 180 g) per polybag. The observed&#13;
parameters included seedling survival percentage, seedling health percentage,&#13;
height, diameter, total fresh weight, total dry weight, and soil chemical properties.&#13;
The results showed that the combination of marl and commercial chicken manure&#13;
fertilizer was not able to enhance seedling growth during the 12-week observation&#13;
period. The application of soil ameliorants increased soil pH, available P2O5, and&#13;
Ca²? content, while decreasing Al³? and H? concentrations. However, these changes&#13;
were not always accompanied by improved seedling growth due to cation imbalance&#13;
and nutrient antagonism.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kajian Sosial-Ekonomi Ketergantungan Masyarakat Hutan Pada Pekerjaan Penyadapan Getah Pinus</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173364" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ramadhani, Aditya Forestry</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173364</id>
<updated>2026-06-11T07:22:15Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kajian Sosial-Ekonomi Ketergantungan Masyarakat Hutan Pada Pekerjaan Penyadapan Getah Pinus
Ramadhani, Aditya Forestry
Di berbagai daerah di Indonesia, banyak ditemui masyarakat sekitar hutan yang menggantungkan hidupnya pada hasil hutan, termasuk hasil hutan bukan kayu, salah satunya getah pinus. Sebagian masyarakat sekitar hutan, menjadikan kegiatan penyadapan getah pinus sebagai pekerjaan utama, yang dilakukan melalui kerja sama dengan perusahaan yang mengelola hutan di wilayahnya. Masyarakat yang bekerja sebagai penyadap sebagian besar merupakan generasi kedua atau ketiga dari keluarga yang telah lama bekerja sebagai penyadap. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mendorong masyarakat sekitar hutan memilih bekerja sebagai penyadap getah pinus dan mengidentifikasi latar belakang masyarakat yang bertahan menjadi penyadap getah pinus secara turun-temurun. Penelitian dilakukan di TPG Cikakak, RPH Banteran, BKPH Lumbir, KPH Banyumas Barat. Jumlah sampel ditentukan berdasarkan prinsip ketercukupan data (data saturation), yaitu ketika informasi yang diperoleh sudah dianggap cukup dan tidak ada hal baru yang muncul. Pekerjaan turun-temurun serta mudah dilakukan menjadi faktor yang dominan menjadi alasan masyarakat sekitar hutan memilih bekerja sebagai penyadap getah pinus. Jam kerja yang tidak terikat menjadi salah satu alasan bagi sebagian besar penyadap memilih tetap menjadi penyadap getah pinus meskipun hasil yang didapatkan sering kali tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.; In various regions in Indonesia, many forest communities depend on forest products for their livelihoods, including non-timber forest products, one of which is pine resin. Most forest communities make pine resin tapping their primary occupation, conducted in collaboration with companies that manage the forests in their area. Most tappers are second or third generation members of families with long-standing tapping families. This study aims to analyze the factors that drive forest communities to choose pine resin tapping and to identify the background of those who persist in their hereditary pine resin tapping practices. The research was conducted at TPG Cikakak, RPH Banteran, BKPH Lumbir, KPH Banyumas Barat. The sample size was determined based on the principle of data saturation, which occurs when the information obtained is considered sufficient and no new information is available. Hereditary and easy-to-do work are the dominant factors behind why forest communities choose to work as pine resin tapping. Flexible working hours are among the reasons why most tappers choose to remain pine resin tapping, even though the income is often insufficient to meet their daily needs.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Identifikasi dan Uji Patogenesitas Cendawan Penyebab Penyakit Daun pada Jengkol (Archidendron pauciflorum Benth. I.C. Nielsen)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173352" rel="alternate"/>
<author>
<name>RIDWAN, MAULANA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173352</id>
<updated>2026-06-11T04:14:51Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Identifikasi dan Uji Patogenesitas Cendawan Penyebab Penyakit Daun pada Jengkol (Archidendron pauciflorum Benth. I.C. Nielsen)
RIDWAN, MAULANA
Jengkol dari famili Fabaceae merupakan komoditas biji-bijian populer di Indonesia. Penyakit daun pada tanaman jengkol menjadi pembatas pada fase pembibitan yang dapat menurunkan kualitas tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi cendawan penyebab penyakit daun pada jengkol serta menguji patogenesitasnya. Sampel daun yang menunjukkan gejala penyakit diambil dari Rancasari, Bandung; Ciampea, Bogor; dan Cibeber, Cianjur. Penelitian dilakukan dengan metode Postulat Koch. Hasil penelitian menunjukkan gejala penyakit pada daun jengkol berupa bercak dan hawar daun. Sembilan isolat murni berhasil diperoleh yang terdiri atas 7 isolat  Pestalotiopsis sp. (BD1, CJ1, CJ2, CJ3, BG1, BG2, BG3) dan 2 isolat Colletotrichum sp. (BD2, BD3). Seluruh isolat menunjukkan sifat patogenik karena mampu menimbulkan gejala nekrosis pada daun jengkol sehat, yaitu hawar daun muncul pada inokulasi cendawan Pestalotiopsis sp. dan bercak daun muncul pada inokulasi cendawan Colletotrichum sp. Kedua cendawan tersebut diketahui berperan dalam menyebabkan penyakit hawar daun dan bercak daun.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kajian dan Identifikasi koleksi Spesies Tanaman Obat  dan persepsi Masyarakat di Taman Sringanis, Bogor</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173351" rel="alternate"/>
<author>
<name>PANE, RAHMAT FAUZAN</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173351</id>
<updated>2026-06-11T04:11:42Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kajian dan Identifikasi koleksi Spesies Tanaman Obat  dan persepsi Masyarakat di Taman Sringanis, Bogor
PANE, RAHMAT FAUZAN
Tanaman obat merupakan bagian penting dari kearifan lokal Indonesia dan berperan sebagai alternatif pengobatan tradisional. Taman Sringanis di Bogor memiliki koleksi tanaman obat yang beragam, namun menghadapi tantangan dalam penerimaan masyarakat terhadap produk herbalnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies tanaman obat dan produk herbal yang dimanfaatkan oleh Taman Sringanis, menganalisis persepsi masyarakat sekitar serta menilai pengaruh faktor sosio-demografi terhadap persepsi dan pengetahuan tersebut. Produk herbal yang di pasarkan di dominasi oleh ramuan berbahan empon-empon dari famili Zingiberaceae seperti, temulawak dan kunyit hitam. Ramuan tersebut umumnya digunakan untuk mengatasi, hipertensi, diabetes serta meningkatkan stamina tubuh yang merupakan keluhan kesehatan yang banyak di jumpai oleh masyarakat. Hasil identifikasi tanaman obat  menunjukkan bahwa Taman Sringanis memiliki 63 spesies dari 36 famili, dengan daun sebagai bagian yang paling sering digunakan. Masyarakat memiliki keterampilan yang baik dalam pemanfaatan tanaman obat serta menunjukkan tingkat kepercayaan yang positif terhadap produk herbal Taman Sringanis, namun tingkat penghasilan merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap penerimaan masyarakat terhadap produk herbal oleh Taman Sringanis, keterbatasan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah menjadi faktor penghalang dalam pemanfaatan produk herbal yang tersedia di Taman Sringanis.; Medicinal plants are an important part of Indonesia's local wisdom and serve as an alternative traditional medicine. Taman Sringanis in Bogor houses a diverse collection of medicinal plants but faces challenges in community acceptance of its herbal products. This study aimed to identify the medicinal plant species at Taman Sringanis, analyze local community perceptions, and examine the influence of socio-demographic factors. Data were collected from 60 respondents through observation, interviews, and Likert-scale questionnaires, then analyzed descriptively and with chi-square tests. Results showed that Taman Sringanis hosts 63 species from 36 families, with leaves being the most commonly used part. The community demonstrated good knowledge and positive perceptions of herbal products, while only income level significantly influenced perceptions regarding the cost of traditional medicine.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
