<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Faculty of Forestry and Environment</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7469" rel="alternate"/>
<subtitle>Undergraduate Theses on Faculty of Forestry and Environment</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7469</id>
<updated>2026-08-13T01:54:33Z</updated>
<dc:date>2026-08-13T01:54:33Z</dc:date>
<entry>
<title>Pendugaan Cadangan Karbon Atas Permukaan pada Tegakan Jati (Tectona grandis L.f.) di BKPH Parung Panjang Kabupaten Bogor</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178419" rel="alternate"/>
<author>
<name>PUTRA, RAMADIAN HERTA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178419</id>
<updated>2026-08-12T04:53:09Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pendugaan Cadangan Karbon Atas Permukaan pada Tegakan Jati (Tectona grandis L.f.) di BKPH Parung Panjang Kabupaten Bogor
PUTRA, RAMADIAN HERTA
Tegakan hutan berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon dalam biomassa. Penelitian ini bertujuan mengestimasi biomassa dan cadangan karbon di atas permukaan pada tegakan jati (Tectona grandis L.f.) di BKPH Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Pengambilan data dilakukan menggunakan metode purposive sampling pada tegakan tahun tanam 2018, 2021, dan 2024. Biomassa pohon dan cadangan karbon dihitung menggunakan metode non-destuktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tegakan umur 8 tahun memiliki biomassa dan cadangan karbon tertinggi, yaitu 175,31 ton/ha dan 82,40 ton/ha, sedangkan tegakan umur 2 tahun memiliki nilai terendah, yaitu 8,00 ton/ha dan 3,76 ton/ha. Total cadangan karbon pada areal penelitian mencapai 1.351,58 ton C. Hasil ini menunjukkan bahwa tegakan jati berpotensi sebagai penyerap dan penyimpan karbon yang efektif dalam mendukung mitigasi perubahan iklim.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Karakteristik Lignin Kraft Kayu Tusam Hasil Isolasi Menggunakan Asam Maleat dan Asam Klorida</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178414" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fadhila, Qurroh Ayuniyya</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178414</id>
<updated>2026-08-12T04:47:35Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Karakteristik Lignin Kraft Kayu Tusam Hasil Isolasi Menggunakan Asam Maleat dan Asam Klorida
Fadhila, Qurroh Ayuniyya
Lindi hitam hasil proses kraft kayu tusam (Pinus merkusii) berpotensi sebagai sumber lignin terbarukan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penggunaan asam maleat dan asam klorida (HCl) terhadap rendemen dan karakteristik lignin hasil isolasi. Lignin diisolasi dari lindi hitam pada pH 2 menggunakan asam maleat 5% dan HCl 1 N. Parameter yang dianalisis meliputi rendemen, kemurnian, tipe monomer, berat ekuivalen, kandungan gugus hidroksil fenil (phOH), dan aktivitas antioksidan. Data dianalisis menggunakan uji Independent Samples T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua isolat memiliki kadar air di bawah 10%, sedangkan kadar abu lignin hasil isolasi menggunakan asam maleat pada pH 2 (LTMA) dan lignin hasil isolasi menggunakan asam klorida pada pH 2 (LTHA) berturut-turut sebesar 0,64% dan 0,82%. LTHA memiliki kemurnian lignin (92,21%), kandungan phOH (9,81 mmol/g), dan aktivitas antioksidan yang lebih tinggi (54,43% inhibisi), sedangkan LTMA memiliki berat ekuivalen yang lebih tinggi (1031,33 g/mL). Kedua isolat lignin didominasi oleh unit guaiasil (G).; Black liquor from kraft pulping of pine wood (Pinus merkusii) is a potential renewable source of lignin. This study evaluated the effect of maleic acid and hydrochloric acid (HCl) on the yield and characteristics of isolated lignin. Lignin was precipitated from black liquor at pH 2 using 5% maleic acid or 1 N HCl. The analyzed parameters included lignin yield, purity, monomer composition, equivalent weight, hydroxy phenolic (phOH) content, and antioxidant activity. Data were analyzed using an Independent Samples T-Test. Both isolated lignin had moisture contents below 10%, meanwhile, the ash contents of isolated lignin using maleic acid at pH 2 (LTMA) and hydrochloric acid at pH 2 (LTHA) were 0,64% and 0,82%. LTHA showed higher lignin purity (92,21%), phOH content (9,81 mmol/g), and antioxidant activity (54,43% inhibition), while LTMA had a higher equivalent weight (1031,33 g/mL). Both isolated lignin were dominated by guaiacyl (G) units.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Keawetan Kayu Pinus (Pinus merkusii) Termodifikasi Boron dan Polyurethane</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178408" rel="alternate"/>
<author>
<name>Febrian, Deva Riski Eka</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178408</id>
<updated>2026-08-12T04:39:23Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Keawetan Kayu Pinus (Pinus merkusii) Termodifikasi Boron dan Polyurethane
Febrian, Deva Riski Eka
DEVA RISKI EKA FEBRIAN. Keawetan kayu pinus (Pinus merkusii) termodifikasi Boron dan Polyurethane. Dibimbing oleh IMAM WAHYUDI.&#13;
&#13;
Kayu Pinus merkusii merupakan material yang banyak dimanfaatkan, tetapi memiliki keawetan alami yang rendah terhadap serangan organisme perusak. Oleh karena itu, pengawetan dan coating diperlukan untuk memperpanjang umur pakai serta meningkatkan nilai ekonomi kayu. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pengawetan dengan boron secara rendaman dingin dan clear coating polyurethane terhadap keawetan kayu pinus. Perlakuan terdiri atas kontrol, pengawetan dengan boron 3%, clear coating polyurethane, dan kombinasi keduanya. Pengujian lapangan dilakukan menggunakan graveyard test selama tiga bulan dengan parameter prosentase kehilangan berat dan tingkat kerusakan kayu. Selain itu diukur juga retensi dan penetrasi bahan pengawet serta daya lekat coating. Hasil penelitian menunjukkan retensi rata-rata bahan pengawet sangat minim, sebesar 1,15 kg/m³, dan penetrasinya tidak memenuhi persyaratan SNI 0674-2017. Daya lekat coating meningkat seiring mengeringnya coating. Kombinasi perlakuan pengawetan dan coating merupakan perlakuan terbaik dengan kehilangan berat hanya sebesar 6,86%, yang mengindikasikan adanya peningkatan ketahanan kayu pinus terhadap serangan organisme perusak.&#13;
&#13;
Kata kunci: clear coating, keawetan kayu, Pinus merkusii, polyurethane; DEVA RISKI EKA FEBRIAN. Durability of pine wood (Pinus merkusii) modified with Boron and Polyurethane. Supervised by IMAM WAHYUDI. &#13;
&#13;
Pinus merkusii wood is a natural material that is widely used, but it has low natural durability against attacking organisms. Preservation and coating treatments are needed to extend its lifespan and increase the wood's economic value. This study aimed to evaluate the effect of preservative treatment and polyurethane clear coating treatment on the durability of pine wood. The treatments included a control, 3% boron, polyurethane clear coating, and a combination of both. Field testing was done using a graveyard test over three months with parameters namely weight loss and wood damage level. Retention and penetration of boron as well as the quality level of coating adhesion were also analyzed. The results showed that the retention of boron was very low, i.e. 1.15 kg/m³ and the penetration did not meet the SNI 0674-2017 requirements. The adhesion of the coating increases as the coating dries. The combination of preservative and coating treatment provided the best durability level of the wood with the lowest weight loss (only 6.86%), making it more effective at increasing the resistance of pine wood against pests compared to other treatments.&#13;
&#13;
Keywords: clear coating, durability, Pinus merkusii, polyurethane
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Strategi Pengembangan Wisata Rendah Karbon di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178406" rel="alternate"/>
<author>
<name>MAHARAYA, BAGUS SENOPATI</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178406</id>
<updated>2026-08-12T04:37:00Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Strategi Pengembangan Wisata Rendah Karbon di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor
MAHARAYA, BAGUS SENOPATI
Perubahan iklim akibat peningkatan emisi gas rumah kaca mendorong pengembangan wisata rendah karbon sebagai bagian dari pariwisata berkelanjutan. Desa Malasari memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata rendah karbon karena didukung oleh sumber daya alam dan budaya lokal yang masih terjaga. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat pengetahuan masyarakat mengenai karbon dan emisi karbon, potensi emisi karbon pada komponen wisata 5A, serta strategi pengembangannya. Penelitian menggunakan metode wawancara, observasi, studi literatur, analisis deskriptif, dan analisis gap. Hasil menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat masih rendah dan potensi emisi karbon ditemukan pada seluruh komponen wisata 5A. Strategi pengembangan difokuskan pada peningkatan kapasitas masyarakat, efisiensi energi, pengelolaan limbah berkelanjutan, dan penguatan aktivitas wisata berbasis konservasi.; Climate change, driven by increasing greenhouse gas emissions, has encouraged the adoption of low-carbon tourism as part of sustainable tourism development. Malasari Village has the potential to become a low-carbon tourism destination due to its rich natural resources and preserved local culture. This study aimed to assess community knowledge of carbon and carbon emissions, identify potential carbon emission sources within the 5A tourism components, and formulate development strategies. The study employed interviews, field observations, literature reviews, descriptive analysis, and gap analysis. The results showed limited community knowledge and identified carbon emission sources across all tourism components. Recommended strategies include community capacity building, energy efficiency improvement, sustainable waste management, and the development of conservation-based tourism activities.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
