<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Faculty of Fisheries and Marine Science</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7467" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7467</id>
<updated>2026-04-13T19:45:29Z</updated>
<dc:date>2026-04-13T19:45:29Z</dc:date>
<entry>
<title>Arsitektur Hierarkis Prosoma Belangkas sebagai Blueprint Biomimetik untuk Desain Material Foam/Aerogel</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172826" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ghifari, Ahmad Faiz Al</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172826</id>
<updated>2026-03-09T06:04:03Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Arsitektur Hierarkis Prosoma Belangkas sebagai Blueprint Biomimetik untuk Desain Material Foam/Aerogel
Ghifari, Ahmad Faiz Al
Pengembangan material berpori ringan seperti biofoam dan aerogel memerlukan struktur dengan rasio kekuatan terhadap berat tinggi, stabilitas termal baik, serta arsitektur pori yang efisien. Pendekatan biomimetik memanfaatkan sistem struktural organisme laut sebagai inspirasi desain material maju. Eksoskeleton belangkas memiliki komposit berbasis kitin dengan arsitektur berlapis dan porositas alami yang berpotensi menjadi model biomaterial berpori. Penelitian bertujuan melakukan penentuan karakteristik arsitektur hierarkis prosoma belangkas Tachypleus gigas dan Tachypleus tridentatus serta mengevaluasi hubungan struktur dan sifat material sebagai dasar desain biomimetik. Karakteristik meliputi analisis makroskopis dan mikroskopis, FTIR, XRD, analisis proksimat, TGA, mekanik tarik, dan karakteristik akustik. Hasil menunjukkan bahwa T. gigas memiliki struktur lebih berpori dengan densitas lebih rendah, stabilitas termal dan kemampuan serap suara lebih tinggi, sedangkan T. tridentatus menunjukkan struktur lebih kompak dengan kuat tarik lebih tinggi namun regangan lebih rendah. Arsitektur hierarkis prosoma belangkas berpotensi menjadi blueprint biomimetik untuk desain biofoam atau aerogel berkelanjutan berkinerja tinggi.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Hydroacoustic Application For Estimating Zooplankton Abundance In The Southeastern Waters of Pari Island</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172817" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ravelino, Muhammad</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172817</id>
<updated>2026-03-06T00:55:20Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hydroacoustic Application For Estimating Zooplankton Abundance In The Southeastern Waters of Pari Island
Ravelino, Muhammad
This study evaluated the application of hydroacoustic technology for estimating zooplankton abundance in the southeastern waters of Pari Island using a 200 kHz Single Beam Echosounder and a 20 µm mesh size plankton net. Acoustic backscatter was recorded stationary at 14 stations using Echoview 4.0, resulting in volume strength (SV) ranging from -75 to -71 dB covering integrated zooplankton distributed over 0-55 meters depth were derived and compared with laboratory counts of zooplankton abundance (208.33 - 828.61 ind/L). The hydroacoustic measurements revealed clear vertical scattering layers and spatial gradients of zooplankton that coincided with variations in temperature, salinity, and sound speed, indicating heterogeneous but productive coastal conditions. However, SV showed only a weak positive correlation toward net-based zooplankton abundance (R² = 0.15), indicating suitable nature of hydroacoustic approach for spatial estimation of zooplankton distribution. Integration of hydroacoustic with plankton-net sampling remains essential for quantitative assessment, while the combined approach provides a useful basis for future near-real time zooplankton assessment in supports of coastal ecosystem ecosystem management in the Jakarta Bay; Penelitian ini mengevaluasi penerapan teknologi hidroakustik untuk menduga kelimpahan zooplankton di perairan tenggara Pulau Pari menggunakan Single Beam Echosounder 200 kHz dan jaring plankton diameter mesh 20 µm. Hamburan balik direkam secara stasioner menggunakan Echoview 4.0 di 14 stasiun, dan volumenya (SV) berkisar dari -75 hingga -71 dB terintegrasi untuk kedalaman 0-55 meter. Sampling zooplankton menghasilkan kelimpahan sebesar 208,33 - 828,61 ind/L. Pengukuran hidroakustik mengungkapkan adanya lapisan hambur balik yang jelas dan gradien spasial zooplankton yang dipengaruhu suhu, salinitas, dan kecepatan rambat suara di air. Namun, korelasi SV dengan kelimpahan zooplankton menunjukkan nilai positif yang rendah (R² = 0,15), menunjukkan bahwa pendekatan hidroakustik cocok untuk menduga distribusi spasial zooplankton. Oleh karena itu, integrasi teknologi hidroakustik dengan pengambilan sampel plankton tetap penting untuk pendugaan kuantitatif, sementara pendekatan terintegrasi memberikan dasar pengembangan masa depan pemantauan near-real time yang mendukung pengelolaan ekosistem pesisir di Teluk Jakarta.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Perubahan Kualitas Daging Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Pascatransportasi tanpa Aerasi pada Kepadatan Ikan yang Berbeda</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172803" rel="alternate"/>
<author>
<name>Prameswari, Windra Novia</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172803</id>
<updated>2026-03-03T06:21:12Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Perubahan Kualitas Daging Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Pascatransportasi tanpa Aerasi pada Kepadatan Ikan yang Berbeda
Prameswari, Windra Novia
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan komoditas perikanan penting&#13;
dengan produksi tinggi, namun proses transportasi berisiko menurunkan kualitas&#13;
daging akibat stres, terutama pada kepadatan tinggi tanpa aerasi. Penelitian ini&#13;
bertujuan menganalisis pengaruh perbedaan kepadatan transportasi terhadap&#13;
kualitas daging ikan nila. Tiga perlakuan kepadatan digunakan, yaitu 500, 625, dan&#13;
750 g/L. Parameter yang diamati meliputi kualitas air, kadar glukosa darah, pH,&#13;
Total Volatile Base (TVB), kapasitas mengikat air (WHC), cooking loss, serta&#13;
organoleptik selama penyimpanan suhu chilling (0–4 °C). Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa kepadatan tinggi menyebabkan penurunan kualitas air dan&#13;
peningkatan glukosa darah sebagai indikator stres. Mutu daging pada kepadatan&#13;
750 kg/m³ mengalami penurunan lebih cepat, ditandai dengan fluktuasi pH,&#13;
peningkatan TVB mendekati batas penerimaan, penurunan WHC, cooking loss&#13;
lebih tinggi, dan nilai organoleptik lebih rendah. Dengan demikian, kepadatan 500–&#13;
625 g/L lebih disarankan untuk mempertahankan kualitas daging ikan nila&#13;
pascatransportasi.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Estimasi Sampah Operasional Armada Jala Jatuh Berkapal di Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke Jakarta</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172781" rel="alternate"/>
<author>
<name>Lamsu, Angga Boy</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172781</id>
<updated>2026-03-02T00:10:21Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Estimasi Sampah Operasional Armada Jala Jatuh Berkapal di Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke Jakarta
Lamsu, Angga Boy
Kegiatan operasional armada jala jatuh berkapal di Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke berpotensi menimbulkan timbulan sampah dalam jumlah besar yang dapat berdampak terhadap pencemaran laut apabila tidak dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan komposisi sampah operasional, mengestimasi jumlah timbulan sampah armada jala jatuh berkapal berukuran 20–30 GT, serta mengkaji implikasi pengelolaannya terhadap penerapan kebijakan pengelolaan sampah kapal perikanan. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui observasi lapang dan wawancara terhadap 50 responden yang terdiri atas awak kapal dan pemilik kapal. Estimasi timbulan sampah dihitung berdasarkan rata-rata sampah yang dihasilkan per trip penangkapan dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik serta gap analysis terhadap regulasi yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata timbulan sampah operasional mencapai 201,93 kg per kapal per trip, dengan sampah konsumsi sebagai komponen terbesar sebesar 66%, diikuti sampah mesin 30% dan sampah alat tangkap 4%. Total timbulan sampah armada jala jatuh berkapal di PPN Muara Angke diperkirakan mencapai 971,46 ton per tahun. Pengelolaan sampah di atas kapal masih belum optimal akibat keterbatasan fasilitas penampungan dan rendahnya kesadaran nelayan, sehingga sebagian sampah masih dibuang ke laut. Hasil penelitian ini menunjukkan perlunya peningkatan fasilitas, pengawasan, dan edukasi sebagai upaya perbaikan pengelolaan sampah operasional kapal perikanan secara berkelanjutan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
