<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Faculty of Animal Science</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7466" rel="alternate"/>
<subtitle>Undergraduate Theses on Faculty of Animal Science</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7466</id>
<updated>2026-07-28T06:04:24Z</updated>
<dc:date>2026-07-28T06:04:24Z</dc:date>
<entry>
<title>Association of the GHR Gene With Growth and Litter Size Traits in Etawah Grade Goat</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176016" rel="alternate"/>
<author>
<name>ANDANIE, MUHAMMAD ZHEELAN AL GHIFARY</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176016</id>
<updated>2026-07-28T00:23:20Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Association of the GHR Gene With Growth and Litter Size Traits in Etawah Grade Goat
ANDANIE, MUHAMMAD ZHEELAN AL GHIFARY
The Etawah Grade (EG) goat is an Indonesian local breed with superior production and reproduction performance. This study aimed to investigate the association of the GHR gene (candidate gene for growth and litter size) in EG goats. A total of 130 EG goats were used to analyze the polymorphism of the GHR gene locus. The association of the GHR gene with growth traits was evaluated in 130 goats, whereas 58 does were examined to determine its association with litter size. A novel variant of the GHR gene (c.1231 A&gt;C) was genotyped using the PCRRFLP technique. The relationships between the genotypes and phenotypes were&#13;
analyzed using a general linear model. The GHR gene locus showed polymorphism with two genotypes, namely AA and AC. The genetic variant of the GHR gene was significantly associated (P&lt;0.05) with six-month weight. Goats with the AA genotype showed higher body weight than the AC genotype. The association of the GHR gene with birth weight, weaning weight, and litter size was not found statistically significant in this study, which might be due to smaller sample size. It is pospulated that this genetic variant of the GHR gene could be a marker for enhancing growth performance (post-weaning stage).; Kambing Peranakan Etawah (PE) adalah jenis kambing lokal Indonesia dengan performa produksi dan reproduksi yang unggul. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan gen GHR (gen kandidat untuk sifat pertumbuhan dan ukuran anak) pada kambing PE. Sebanyak 130 ekor kambing PE digunakan untuk menganalisis polimorfisme lokus gen GHR. Hubungan gen GHR dengan sifat pertumbuhan dievaluasi pada 130 ekor kambing, sedangkan 58 ekor kambing betina diperiksa untuk menentukan hubungannya dengan litter size. Varian baru gen GHR (c.1231 A&gt;C) diidentifikasi genotipnya menggunakan teknik PCR-RFLP. Hubungan antara genotip dan fenotip dianalisis menggunakan general linear model. Lokus gen GHR menunjukkan polimorfisme dengan dua genotip yang diamati, yaitu AA dan AC. Varian genetik gen GHR secara signifikan berhubungan (P&lt;0,05) dengan bobot badan enam bulan. Kambing dengan genotip AA menunjukkan berat badan lebih tinggi daripada genotip AC. Hubungan gen GHR dengan bobot lahir, bobot sapih, dan litter size tidak ditemukan signifikan secara statistik dalam penelitian ini, yang dapat diakibatkan jumlah sampel yang relatif sedikit. Diduga bahwa varian genetik gen GHR ini dapat menjadi penanda untuk meningkatkan performa pertumbuhan (periode pasca-sapih).
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pemanfaatan Ekstrak Daun Bambu Betung (Dendrocalamus asper) sebagai Antibakteri Alami terhadap Bakteri Patogen Penyebab Diare pada Ternak Ruminansia</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175995" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sulistyowati, Vini Fajrin</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175995</id>
<updated>2026-07-27T13:19:36Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pemanfaatan Ekstrak Daun Bambu Betung (Dendrocalamus asper) sebagai Antibakteri Alami terhadap Bakteri Patogen Penyebab Diare pada Ternak Ruminansia
Sulistyowati, Vini Fajrin
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi ekstrak daun bambu betung (Dendrocalamus asper) sebagai antibakteri alami terhadap bakteri patogen penyebab diare pada ternak ruminansia. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut aquades, etanol 96%, dan n-heksan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 6x3x5 dengan 5 ulangan dimana faktor A merupakan 6 jenis bakteri (Escherichia coli, Salmonella spp., Bacillus cereus, Clostridium perfringens, Lactobacillus sp., dan Bifidobacterium sp.), faktor B merupakan 3 jenis pelarut (Aquades, etanol 96 %, dan n- heksan), dan faktor C merupakan 5 dosis ekstrak (5 mg mL-1 ,10 mg mL-1, 15 mg mL, 20 mg mL-1). Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahwa daun bambu betung memiliki kandungan flavonoid, saponin, dan steroid. Pada konsentrasi 20 mg mL-1, ekstrak n-heksan menghasilkan zona hambat tertinggi terhadap B. cereus (12,24 mm), diikuti oleh ekstrak aquades terhadap Salmonella spp. (11,26 mm) dan ekstrak etanol 96% terhadap E. coli (11,12 mm). Zona hambat terhadap Lactobacillus sp. (2,10 mm) dan Bifidobacterium sp. (4,90) tergolong lemah (&lt;5 mm). Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun bambu betung (D. asper) memiliki potensi sebagai agen antibakteri alami untuk mengendalikan bakteri patogen tanpa mengganggu mikrobiota menguntungkan pada saluran pencernaan pada ternak ruminansia.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>STABILITAS MUTU DAGING SAPI YANG DIBERI PERLAKUAN METODE PENCUCIAN BERBEDA SELAMA PENYIMPANAN SUHU DINGIN</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175977" rel="alternate"/>
<author>
<name>Mahaputeri, Bintang Rheinjani Nafisya</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175977</id>
<updated>2026-07-27T08:52:27Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">STABILITAS MUTU DAGING SAPI YANG DIBERI PERLAKUAN METODE PENCUCIAN BERBEDA SELAMA PENYIMPANAN SUHU DINGIN
Mahaputeri, Bintang Rheinjani Nafisya
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh perlakuan metode pencucian berbeda dan lama penyimpanan pada suhu dingin terhadap stabilitas mutu daging sapi, serta menentukan kombinasi perlakuan yang paling efektif dalam mempertahankan mutu daging sapi. Daging sapi bagian paha belakang diberi berbagai perlakuan pencucian yang meliputi: 1) tanpa pencucian; 2) pencucian dengan air keran tanpa dibilas air siap minum dan tanpa pengeringan; 3) pencucian dengan air keran tanpa dibilas air siap minum dengan pengeringan; 4) pencucian dengan air keran dan dibilas air siap minum tanpa pengeringan; 5) pencucian dengan air keran dan dibilas air siap minum dengan pengeringan. Setelah dicuci kemudian dikemas dan disimpan pada refrigerator selama 0 atau 5 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan metode pencucian tidak menunjukkan pengaruh terhadap mutu fisikokimia maupun mutu mikrobiologis daging sapi. Penyimpanan dingin selama 5 hari nyata meningkatkan (p &lt; 0,01) kandungan malondiadehid (MDA) dan nilai total plate count (TPC) hingga melebihi batas ambang maksimum (6 log CFU/mL). Secara umum, seluruh metode pencucian dapat diterapkan dalam penanganan daging sapi tanpa menghasilkan penurunan mutu yang berarti.; This study aimed to analyze the effects of different washing methods and cold storage duration on the quality stability of beef, as well as to determine the most effective treatment combination for maintaining beef quality. Beef from the hind leg was subjected to five washing treatments: (1) no washing; (2) washing with tap water without rinsing with drinking water and without drying; (3) washing with tap water without rinsing with drinking water followed by drying; (4) washing with tap water followed by rinsing with drinking water without drying; and (5) washing with tap water followed by rinsing with drinking water and drying. After washing, the samples were packaged and stored in a refrigerator for 0 or 5 days. The results showed that the different washing methods had no significant effect on the physicochemical or microbiological quality of the beef. Cold storage for 5 days significantly increased (p &lt; 0.01) the malondialdehyde (MDA) content and total plate count (TPC), with TPC exceeding the maximum acceptable limit of 6 log CFU/g. Overall, all washing methods can be applied in beef handling without causing a significant deterioration in beef quality.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Evaluasi In Ovo feeding Probiotik Lactococcus lactis dan Bacillus licheniformis Terhadap Kualitas Day Old Chick dan Status Kesehatan Ayam  Yudistira</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175944" rel="alternate"/>
<author>
<name>SANTOSA, MARTHIN JOSEPH</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175944</id>
<updated>2026-07-27T06:27:57Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluasi In Ovo feeding Probiotik Lactococcus lactis dan Bacillus licheniformis Terhadap Kualitas Day Old Chick dan Status Kesehatan Ayam  Yudistira
SANTOSA, MARTHIN JOSEPH
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh in ovo feeding probiotik Bacillus licheniformis dan Lactococcus lactis terhadap daya tetas, kualitas fisik day old chick (DOC), profil darah, diferensiasi leukosit, dan organ imunitas ayam lokal. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Sebanyak 500 telur fertil ayam lokal dengan bobot seragam digunakan untuk ditetaskan. Perlakuan terdiri atas P0 telur tanpa injeksi, P1 telur yang diinjeksi 0,2 ml PBS, P2 telur yang diinjeksi 0,2 ml larutan 104 CFU/telur probiotik, P3 telur yang diinjeksi 0,2 ml larutan 105 CFU/telur probiotik, dan P4 telur yang diinjeksi 0,2 ml larutan 106 CFU/telur probiotik. Selanjutnya sebanyak 200 DOC dipelihara dalam kandang sekat sesuai perlakuan. Parameter yang diamati meliputi daya tetas, bobot tetas, ukuran tubuh DOC, skor kualitas fisik DOC, profil darah (hemoglobin, eritrosit, leukosit), diferensiasi leukosit, serta bobot organ imunitas. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), dan dilanjutkan uji lanjut Duncan apabila berbeda nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik secara in ovo tidak berpengaruh nyata (P&gt;0,05) terhadap daya tetas, kualitas fisik DOC, diferensiasi leukosit, dan bobot organ imunitas. Namun, perlakuan memberikan pengaruh nyata (P&lt;0,05) terhadap kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, dan jumlah leukosit. Perlakuan P3 menghasilkan kadar hemoglobin tertinggi (12,33 g/dL) dan jumlah leukosit yang lebih rendah (13,55×10?/L) dari P0 (13,92×10?/L), sedangkan perlakuan P4 menunjukkan kadar hemoglobin dan eritrosit terendah. Disimpulkan bahwa in ovo feeding probiotik Bacillus licheniformis dan Lactococcus lactis hingga dosis 106 CFU/telur tidak menurunkan daya tetas dan kualitas DOC, serta 105 CFU probiotik Bacillus licheniformis dan Lactococcus lactis berpotensi meningkatkan status fisiologis dan sistem imun ayam kampung Yudistira; This study aimed to evaluate the effect of in ovo feeding of probiotics Bacillus licheniformis and Lactococcus lactis on hatchability, the physical quality of DOC, blood profiles, leukocyte differentiation, and immunity organs of local chickens. The study employed a Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments and 4 replicates. A total of 500 fertile local chicken eggs with uniform weights were used for incubation. The treatments consisted of P0 (eggs without injection), P1 (eggs injected with 0.2 ml of PBS), P2 (eggs injected with 0.2 ml of a probiotic solution containing 104 CFU/egg), P3 (eggs injected with 0.2 ml of a probiotic solution containing 105 CFU/egg), and P4 (eggs injected with 0.2 ml of a probiotic solution containing 106 CFU/egg). Furthermore, a total of 200 DOCs were reared in partitioned pens according to their respective treatments. The observed parameters included hatchability, hatching weight, DOC body size, DOC physical quality scores, blood profiles (hemoglobin, erythrocytes, leukocytes), leukocyte differentiation, and immunity organ weights. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA), followed by a post-hoc test if significant differences were found. The results showed that in ovo feeding of probiotics had no significant effect (P&gt;0.05) on hatchability, DOC physical quality, leukocyte differentiation, and immunity organ weights. However, the treatments had a significant effect (P&lt;0.05) on hemoglobin levels, erythrocyte counts, and leukocyte counts. The P3 treatment produced the highest hemoglobin level (12.33 g/dL) and a relatively high leukocyte count (13.55 × 10?/L), while the P4 treatment showed the lowest hemoglobin and erythrocyte levels. It can be concluded that in ovo feeding of probiotics Bacillus licheniformis and Lactococcus lactis up to a dose of 106 CFU/egg did not decrease hatchability and DOC quality, and 105 CFU of probiotics Bacillus licheniformis and Lactococcus lactis has the potential to improve the physiological status and immune system of Yudistira native chickens.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
