<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Faculty of Animal Science</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7466" rel="alternate"/>
<subtitle>Undergraduate Theses on Faculty of Animal Science</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7466</id>
<updated>2026-05-11T01:04:17Z</updated>
<dc:date>2026-05-11T01:04:17Z</dc:date>
<entry>
<title>Evaluasi Kecernaan dan Fermentasi Rumen Silase Campuran Pelepah Sawit dan Hijauan Kacang Koro: Studi In Vitro</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173049" rel="alternate"/>
<author>
<name>Kemilau, Katarina Lintang</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173049</id>
<updated>2026-05-07T06:05:53Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluasi Kecernaan dan Fermentasi Rumen Silase Campuran Pelepah Sawit dan Hijauan Kacang Koro: Studi In Vitro
Kemilau, Katarina Lintang
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh silase campuran pelepah sawit dan hijauan kacang koro terhadap kecernaan dan fermentasi rumen secara in vitro. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 3×2 dengan 5 ulangan. Faktor pertama (campuran pelepah sawit dan hijauan kacang koro): A1 = 100% pelepah sawit + 0% hijauan kacang koro, A2 = 75% pelepah sawit + 25% hijauan kacang koro, A3 = 50% pelepah sawit + hijauan kacang koro. Faktor kedua (aditif glukosa): B1 = 0% glukosa, B2 = 5% glukosa. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi (P&lt;0,01) antara kedua faktor terhadap sintesis protein mikroba. Silase dengan perlakuan 100% pelepah sawit, 0% hijauan kacang koro, dan 0% glukosa menghasilkan sintesis protein mikroba tertinggi. Faktor tunggal campuran pelepah sawit dan hijauan kacang koro sangat nyata (P&lt;0,01) meningkatkan KcBK, KcBO, NH3, VFA, dan produksi gas. Faktor aditif glukosa sangat nyata (P&lt;0,01) meningkatkan KcBK, KcBO, NH3, dan VFA. Simpulan penelitian adalah perlakuan 50% pelepah sawit, 50% hijauan kacang koro, dan 5% glukosa memberikan kecernaan dan fermentasi rumen terbaik yang ditandai dengan nilai KcBK, KcBO, NH3, dan produksi VFA tertinggi. Kedua faktor tidak memengaruhi nilai pH rumen.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Efektivitas Penambahan Pupuk Kandang Sapi dan Asam Borat&#13;
(H3BO3) terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Rumput Pakchong (Pennisetum&#13;
purpureum cv. Thailand)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173016" rel="alternate"/>
<author>
<name>Arisa, Melia Nurizaz</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173016</id>
<updated>2026-05-04T01:50:20Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Efektivitas Penambahan Pupuk Kandang Sapi dan Asam Borat&#13;
(H3BO3) terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Rumput Pakchong (Pennisetum&#13;
purpureum cv. Thailand)
Arisa, Melia Nurizaz
Penelitian ini bertujuan menganalisis interaksi penambahan pupuk kandang sapi&#13;
dengan asam borat (H3BO3) untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi rumput&#13;
pakchong, serta mendapatkan level optimal kombinasi pupuk kandang sapi dan asam borat.&#13;
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 6 x 5 dengan 10&#13;
ulangan. Faktor A (pupuk kandang sapi berlevel) P1 = 0 ton ha-1, P2 = 2,5 ton ha-1, P3 = 5&#13;
ton ha-1, P4 = 7,5 ton ha-1, P5 = 10 ton ha-1, P6 = 12,5 ton ha-1. Faktor B (asam borat&#13;
berlevel) P0 = 0 ppm, P1 = 20 ppm, P2 = 40 ppm, P3 = 80 ppm, P4 = 100 ppm. Parameter&#13;
yang diukur terdiri atas pertumbuhan morfologi, produksi biomassa, warna daun, dan kadar&#13;
gula batang. Hasil penelitian menunjukkan pupuk kandang sapi efektif meningkatkan&#13;
pertumbuhan morfologi dan produksi biomassa rumput pakchong (P&lt;0,01). Simpulan&#13;
penelitian ini adalah pemberian level pupuk kandang sapi 7,5 ton ha-1 merupakan level yang&#13;
optimal dalam meningkatkan pertumbuhan morfologi dan produksi rumput pakchong.&#13;
Faktor asam borat tidak efektif meningkatkan pertumbuhan dan produksi rumput&#13;
pakchong.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Evaluasi Good Milking Practice menggunakan Analytical Hierarchy Process pada Peternakan Rakyat Koperasi Produsen Giri Tani</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172986" rel="alternate"/>
<author>
<name>FEBRIANTI, DWI RETNO</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172986</id>
<updated>2026-04-24T08:57:06Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluasi Good Milking Practice menggunakan Analytical Hierarchy Process pada Peternakan Rakyat Koperasi Produsen Giri Tani
FEBRIANTI, DWI RETNO
Evaluasi penerapan good milking practice (GMiP) berperan dalam upaya peningkatan kuantitas dan kualitas produksi susu, serta produktivitas usaha sapi perah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi faktor penentu yang paling berpengaruh dalam penerapan GMiP (aspek saat, sebelum, dan setelah pemerahan) pada peternak rakyat sapi perah di Koperasi Produsen Giri Tani. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November hingga Desember 2025. Aspek GMiP dievaluasi menggunakan analytical hierarchy process (AHP) dengan bantuan software Expert Choice, yang mengombinasi pendapat dari enam responden ahli berasal dari akademisi, praktisi, dan instansi pemerintah terkait, untuk mengidentifikasi faktor penentu yang paling berpengaruh. Wawancara dan observasi dilakukan kepada 22 peternak rakyat untuk menilai langsung kondisi peternakan. Hasil evaluasi GMiP aspek saat, sebelum, dan setelah pemerahan secara berturut-turut sebesar 28,79%; 27%; 16,89%. Nilai performa gabungan pengamatan dan vektor prioritas diperoleh sebesar 72,68% yang termasuk dalam kategori cukup.; The evaluation of the implementation of good milking practice (GMiP) plays an important role in improving both the quantity and quality of milk production as well as the productivity of dairy farming enterprises. This study aimed to evaluate the most influential determining factors in the implementation of GMiP (aspects when, before, and after) among smallholder dairy farmers at Koperasi Produsen Giri Tani. This research was conducted from November to December 2025. The GMiP aspects was carried out using the analytical hierarchy process (AHP) with the assistance of Expert Choice software, which combined the judgments of six expert respondents from academia, practitioners, and relevant government institutions to identify the most influential determining factors. Interviews and observations were also conducted with 22 smallholder dairy farmers to assess the conditions of the farms directly. The evaluation results of the GMiP aspects during, before, and after milking were respectively 28,79%, 27%, and 16,89%. The combined performance value of observation scores and priority vectors obtained is 72,68%, which is included in the sufficient category.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Nilai Hematologi Puyuh pada Akhir Periode Produksi dengan Penambahan Tepung Daun Senduduk dalam Pakan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172970" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fadilah, Rizki</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172970</id>
<updated>2026-04-21T23:43:26Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Nilai Hematologi Puyuh pada Akhir Periode Produksi dengan Penambahan Tepung Daun Senduduk dalam Pakan
Fadilah, Rizki
Puyuh merupakan salah satu jenis unggas kecil yang dijadikan sebagai ternak &#13;
untuk diambil telurnya. Kondisi lingkungan Indonesia berada di atas zona nyaman &#13;
puyuh. Hal ini dapat menyebabkan puyuh mengalami cekaman panas. Tepung daun &#13;
senduduk (TDS) memiliki kandungan antioksidan yang dapat mengatasi stres &#13;
seperti flavonoid, tanin, saponin, steroid, dan terpenoid. Penelitian ini bertujuan &#13;
menganalisis nilai hematologi puyuh periode akhir produksi dengan penambahan &#13;
tepung daun senduduk dalam pakan. Metode penelitian ini menggunakan rancangan &#13;
acak lengkap yang terdiri atas 4 taraf perlakuan dengan 3 ulangan yaitu P0 (Kontrol), &#13;
P1 (pakan + 2% TDS), P2 (pakan + 4% TDS), P3 (pakan + 6% TDS). Peubah yang &#13;
dianalisis yaitu sel darah merah (jumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit) dan sel &#13;
darah putih (jumlah leukosit, heterofil, limfosit, monosit, eosinofil, basofil). Hasil &#13;
penelitian menunjukkan penambahan tepung daun senduduk hingga level 6% tidak &#13;
berbeda nyata antar perlakuan terhadap sel darah merah (total eritrosit, hematokrit, &#13;
hemoglobin, dan indeks eritrosit), tetapi berbeda nyata pada sel darah putih (total &#13;
konsentrasi leukosit, persentase limfosit dan eosinofil).; Quails are a type of small poultry raised for their eggs. Indonesia’s &#13;
environmental conditions fall outside the quail’s comfort zone, which can cause &#13;
them to experience heat stress. Senduduk leaf powder (TDS) contains antioxidants &#13;
such as flavonoids, tannins, saponins, steroids, and terpenoids that can help alleviate &#13;
stress. This study aims to analyze the hematological values of quails in the late &#13;
production period with the addition of senduduk leaf powder in their feed. The &#13;
research method used a completely randomized design consisting of 4 treatment &#13;
levels with 3 replicates, namely P0 (Control), P1 (feed + 2% TDS), P2 (feed + 4% &#13;
TDS), and P3 (feed + 6% TDS). The variables analyzed were red blood cells (red &#13;
blood cell count, hemoglobin, hematocrit) and white blood cells (leukocyte count, &#13;
heterophils, lymphocytes, monocytes, eosinophils, basophils). The results showed &#13;
that the addition of senduduk leaf flour up to 6% did not result in significant &#13;
differences among treatments for red blood cells (total erythrocytes, hematocrit, &#13;
hemoglobin, and erythrocyte index), but did result in significant differences for &#13;
white blood cells (total leukocyte concentration, percentage of lymphocytes, and &#13;
eosinophils).
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
