<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Faculty of Animal Science</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7466" rel="alternate"/>
<subtitle>Undergraduate Theses on Faculty of Animal Science</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7466</id>
<updated>2026-06-17T05:27:20Z</updated>
<dc:date>2026-06-17T05:27:20Z</dc:date>
<entry>
<title>Konsentrasi IgY dan Titer ND Ayam IPB D2 dengan Suplementasi Jamu pada Air Minum</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173427" rel="alternate"/>
<author>
<name>NATASYA, PUTRI AMELIA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173427</id>
<updated>2026-06-15T08:36:41Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Konsentrasi IgY dan Titer ND Ayam IPB D2 dengan Suplementasi Jamu pada Air Minum
NATASYA, PUTRI AMELIA
Ayam IPB D2 sebagai galur hasil seleksi berbasis imunokompetensi memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk memastikan kestabilan respons imun pada kondisi pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi konsentrasi imunoglobulin Y (IgY) dan titer antibodi Newcastle Disease (ND) pada ayam IPB D2 yang diberi suplementasi jamu herbal melalui air minum. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 2 × 3 yang terdiri atas dua perlakuan, yaitu tanpa jamu (kontrol) dan pemberian jamu herbal, serta tiga umur pengamatan (4, 8, dan 12 minggu) dengan empat ulangan. Sampel darah diambil dari 12 ekor ayam pada setiap perlakuan dan umur pengamatan. Konsentrasi IgY dianalisis menggunakan metode ELISA, sedangkan titer antibodi ND diuji dengan metode HI. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jamu herbal dan interaksinya dengan umur tidak berpengaruh nyata terhadap konsentrasi IgY maupun titer antibodi ND (P&gt;0,05), sedangkan faktor umur berpengaruh nyata (P&lt;0,05).; IPB D2 chickens, as a line selected for immunocompetence, require further evaluation to ensure stable immune responses under field conditions. This study evaluated IgY concentration and ND antibody titers in IPB D2 chickens supplemented with herbal tonic through drinking water. The study used a completely randomized design (CRD) with a 2 × 3 factorial pattern consisting of treatment (control and herbal supplementation) and age (4, 8, and 12 weeks) with four replications. Blood samples were collected from 12 chickens in each treatment at each sampling time. IgY concentration was analyzed using ELISA, while ND antibody titers were measured using the HI test. Data were analyzed using ANOVA followed by Tukey’s test. The results showed that herbal supplementation and its interaction with age did not significantly affect IgY concentration and ND titer (P&gt;0.05), whereas age had a significant effect (P&lt;0.05).
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Karakteristik Pertumbuhan, Produksi dan Kandungan Mineral Rumput Gajah Varietas Berbeda Sebagai Hijauan Pakan Ternak</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173390" rel="alternate"/>
<author>
<name>SUSANTO, RUSTANDI</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173390</id>
<updated>2026-06-12T06:37:16Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Karakteristik Pertumbuhan, Produksi dan Kandungan Mineral Rumput Gajah Varietas Berbeda Sebagai Hijauan Pakan Ternak
SUSANTO, RUSTANDI
Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan hijauan pakan utama yang banyak dibudidayakan di daerah tropis karena pertumbuhannya yang cepat dan produksi biomassa yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik pertumbuhan, produksi biomassa, dan komposisi mineral dari tiga kultivar unggul, yaitu Taiwan, Gama Umami, dan Pakchong-2. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam ulangan menggunakan sistem planter bag di Laboratorium Lapang Agrostologi, Fakultas Peternakan, IPB University. Karakteristik agro-morfologi yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan, dan morfologi daun, serta produksi biomassa segar dan kering, nilai brix, dan kandungan mineral makro (Ca, P, K, dan Mg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pakchong-2 memiliki performa terbaik secara keseluruhan, ditandai dengan tinggi tanaman, dimensi daun, jumlah daun total, produksi biomassa, dan konsentrasi mineral makro tertinggi. Sebaliknya, Gama Umami menghasilkan jumlah anakan dan proporsi daun tertinggi, tetapi memiliki kandungan bahan kering terendah, sedangkan Taiwan menunjukkan pertumbuhan yang berada pada tingkat menengah dengan persentase bahan kering tertinggi. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pakchong-2 merupakan kultivar yang paling potensial untuk menghasilkan produktivitas biomassa dan kualitas nutrisi yang optimal di antara varietas yang dievaluasi.; Elephant grass (Pennisetum purpureum)  is a primary forage cultivated in tropical regions due to its rapid growth and high biomass yields. This research have aim to analyse the growth characteristics, biomass production, and mineral composition of three prominent cultivars: Taiwan, Gama Umami, and Pakchong-2. The research was arranged in a Completely Randomized Design (CRD) with six replications using a planter bag system at the Agrostology Field Laboratory, Faculty of Animal Science, IPB University. Agro-morphological traits (plant height, tiller number, and leaf morphology), fresh and dry biomass production, Brix values, and macromineral content (Ca, P, K, and Mg) were quantified. The results revealed that Pakchong-2 had superior overall performance, yielding the highest plant height, leaf dimensions, total leaf count, biomass production, and macromineral concentrations. In contrast, Gama Umami produced the highest tiller density and leaf proportion but recorded the lowest dry matter content, while Taiwan showed intermediate growth with the highest dry matter percentage. It concluded that Pakchong-2 has the most promising cultivar for optimal biomass productivity and nutritional quality among the evaluated varieties.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN KANDUNGAN MAKROMINERAL Pennisetum purpureum VARIETAS BERBEDA</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173383" rel="alternate"/>
<author>
<name>Prasetyo, Muchammad Ilham</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173383</id>
<updated>2026-06-12T05:32:33Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN KANDUNGAN MAKROMINERAL Pennisetum purpureum VARIETAS BERBEDA
Prasetyo, Muchammad Ilham
Rumput gajah (Pennisetum purpureum) dikenal sebagai salah satu sumber hijauan tropis penting karena potensi produksi dan biomassa nutrisi tinggi untuk mendukung kebutuhan pakan ternak ruminansia. Rumput gajah di Indonesia telah dikembangkan menjadi beberapa varietas dengan keunggulan masing-masing. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik morfologi dan kandungan kalsium dan fosfor  tiga varietas rumput gajah, yaitu Hawaii, Biograss, dan Pakchong-1. Rancangan acak lengkap dengan 6 ulangan digunakan dalam penelitian ini. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun, laju pertumbuhan, klorofil, warna daun, produksi biomassa segar dan kering, nilai Brix, serta kandungan kalsium (Ca) dan fosfor (P) hijauan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Pakchong-1 menunjukkan tinggi tanaman mencapai, panjang daun dan kandungan kalsium lebih tinggi berturut-turut  253,16 cm, 123,00 cm, serta kandungan kalsium sebesar 1,18% lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya Biograss menunjukkan konsentrasi fosfor 0,54%, Hawaii menunjukkan proporsi daun dan kadar abu 10,00%. Simpulan penelitian ini adalah varietas Pakchong-1 memiliki karakteristik morfologi terbaik dan kandungan kalsium tertinggi, varietas Hawaii memiliki kandungan abu tertinggi, sedangkan varietas Biograss unggul dalam kandungan fosfor.; Elephant grass (Pennisetum purpureum) is recognized as one of the most critical tropical forages due to its high biomass yield potential and favorable nutritional profile in supporting the dietary requirements of ruminant livestock. This research aimed to identify and characterize the morphological attributes and macromineral composition of three elephant grass varieties: 'Hawaii', 'Biograss', and 'Pakchong-1'. The research was arranged in a completely randomized design with six replications to evaluate various growth, biomass, and quality parameters. The results demonstrated significant variations among the varieties. The 'Pakchong-1' variety exhibited the most superior vegetative performance, reaching a plant height of 253.16 cm and a leaf length of 123.00 cm, accompanied by the highest calcium (Ca) concentration at 1.18%. The 'Biograss' variety excelled in phosphorus (P) accumulation, yielding a concentration of 0.54%. The 'Hawaii' variety was characterized by a distinct leaf proportion and a higher ash content of 10.00%. In summary, 'Pakchong-1' was distinguished by its superior morphological growth and high calcium content, 'Hawaii' by its high mineral ash content, and 'Biograss' by its exceptional phosphorus content. These findings suggest that variety selection should be strategically aligned with specific livestock mineral and biomass requirements.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Suplementasi Vitamin D3 dalam Ransum terhadap Performa Produktivitas Puyuh Petelur (Coturnix coturnix japonica)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173358" rel="alternate"/>
<author>
<name>SALSABILA, FEBITA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173358</id>
<updated>2026-06-11T06:38:20Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Suplementasi Vitamin D3 dalam Ransum terhadap Performa Produktivitas Puyuh Petelur (Coturnix coturnix japonica)
SALSABILA, FEBITA
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh suplementasi vitamin D3 dalam ransum terhadap performa produktivitas puyuh petelur pada fase produksi yang berbeda. Penelitian dilaksanakan selama enam minggu menggunakan 750 ekor puyuh yang dikelompokkan ke dalam tiga fase produksi. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 2×3, dengan faktor A berupa jenis pakan (tanpa dan dengan suplementasi vitamin D3) dan faktor B berupa produktivitas (awal produksi: 40-69 hari, puncak produksi: 70-112 hari, akhir produksi: 300-342 hari). Peubah yang diamati meliputi konsumsi pakan, quail day production (QDP), bobot telur, produksi massa telur, konversi pakan, mortalitas, dan income over feed cost (IOFC). Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi nyata antara suplementasi vitamin D3 dan fase produktivitas terhadap seluruh peubah yang diamati. Suplementasi vitamin D3 tidak memberikan pengaruh nyata (p&lt;0,05) terhadap seluruh peubah yang diamati. Faktor produktivitas memberikan pengaruh sangat nyata (p&lt;0,01) terhadap konsumsi pakan, quail day production (QDP), bobot telur, produksi massa telur, konversi pakan. Secara umum, suplementasi vitamin D3 membantu menjaga stabilitas performa produksi puyuh, meskipun belum memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan.; This study aimed to evaluate the effect of vitamin D3 supplementation in the diet on the productive performance of laying quail at different production phases. The study was conducted over six weeks using 750 quail grouped into three production phases. A completely randomized design (CRD) with a 2×3 factorial arrangement was used, with factor A being diet type (without and with vitamin D3 supplementation) and factor B being productivity phase (early production: 40–69 days, peak production: 70–112 days, and late production: 300–342 days). Variables observed included feed consumption, quail day production (QDP), egg weight, egg mass production, feed conversion ratio, mortality, and income over feed cost (IOFC). Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA). The results showed no significant interaction between vitamin D3 supplementation and productivity phase for all observed variables. Vitamin D3 supplementation did not significantly affect (p&lt;0.05) any of the observed variables. The productivity phase factor had a highly significant effect (p&lt;0.01) on feed consumption, quail day production (QDP), egg weight, egg mass production, and feed conversion ratio. Overall, vitamin D3 supplementation helped maintain the stability of quail production performance, although it did not yet provide a significant economic benefit.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
