<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - School of Veterinary Medicine and Biomedical Science</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7465" rel="alternate"/>
<subtitle>Undergraduate Theses on Veterinary Medicine and Biomedical Science</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7465</id>
<updated>2026-06-08T03:26:01Z</updated>
<dc:date>2026-06-08T03:26:01Z</dc:date>
<entry>
<title>Prevalensi Kejadian Kawin Berulang pada Sapi dan Metode Penanganannya</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173071" rel="alternate"/>
<author>
<name>Wardana, Prawira Eka</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173071</id>
<updated>2026-05-12T06:12:51Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Prevalensi Kejadian Kawin Berulang pada Sapi dan Metode Penanganannya
Wardana, Prawira Eka
Kawin berulang (repeat breeder) adalah  kondisi pada hewan yang mengalami kegagalan untuk menjadi bunting setelah dilakukan perkawinan lebih dari 2 kali dengan siklus estrus yang normal. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kejadian kawin berulang serta mengidentifikasi faktor penyebab dan teknik penanganan di berbagai negara selama periode 2020-2025. Data diperoleh  melalui penelusuran literatur dari jurnal ilmiah tentang kasus kawin berulang sebagai data sekunder. Artikel dicari di web google scholar dengan kata kunci “repeat breeder prevalence” diperoleh enam belas (16) artikel. Data yang dikumpulkan dirangkum dalam bentuk tabulasi meliputi jumlah kasus, faktor penyebab, cara penanganan dan tingkat keberhasilan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat prevalensi kejadian kawin berulang berkisar antara 23,6-65% dari sekitar 7499 ekor. Faktor penyebab meliputi abnormalitas saluran reproduksi, gangguan kontraktilitas uterus, gangguan hormonal, kualitas oosit yang rendah, penurunan regulasi gen, ketidaktepatan waktu inseminasi, kesalahan deteksi estrus, manajemen peternakan yang kurang optimal, dan endometritis. Teknik penanganan yang dilaporkan meliputi pemberian antibiotik, perbaikan siklus hormonal, dan perbaikan lingkungan uterus. Manajemen pengelolaan peternakan, pendidikan peternak, serta pemberian pakan ikut berkontribusi pada kejadian kawin berulang. Secara umum, kejadian kawin berulang dapat ditangani secara efektif apabila terapi dan manajemen disesuaikan dengan kausa penyebab kejadian.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Produksi Embrio In Vivo Pada Kuda: Kajian Terhadap Waktu Koleksi Embrio dan Pemberian Hormon Oksitosin</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172851" rel="alternate"/>
<author>
<name>Suryadi, Widyastuti Pratiwi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172851</id>
<updated>2026-03-27T02:53:13Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Produksi Embrio In Vivo Pada Kuda: Kajian Terhadap Waktu Koleksi Embrio dan Pemberian Hormon Oksitosin
Suryadi, Widyastuti Pratiwi
Praktik pengembangbiakan kuda di Indonesia masih sebatas perkawinan alam&#13;
dan inseminasi buatan (IB). Teknologi reproduksi berbantu Transfer Embrio (TE)&#13;
menjadi strategi peningkatan efisiensi reproduksi dibandingkan dengan perkawinan&#13;
alam dan IB. Prosedur TE memungkinkan untuk dihasilkannya lebih dari satu&#13;
anakan kuda dalam satu tahun dari seekor betina unggul dan untuk mempertahankan&#13;
genetik unggul tersebut tanpa mengganggu performa betina atlet. Tujuan dari&#13;
penelitian ini untuk menganalisis potensi pengembangan produksi embrio in vivo&#13;
pada kuda di Indonesia berdasarkan perbedaan waktu koleksi embrio, pemberian&#13;
oksitosin pada koleksi embrio dan durasi perkembangan folikel dominan terhadap&#13;
recovery rate embrio.&#13;
Penelitian ini dilakukan di Unit Rehabilitasi Reproduksi, Sekolah Kedokteran&#13;
Hewan dan Biomedis IPB dari Januari 2024 hingga Maret 2025. Metode penelitian&#13;
yang dilakukan meliputi seleksi betina donor embrio berdasarkan pemeriksaan fisik&#13;
dan aktivitas ovarium, sinkronisasi estrus, IB dan koleksi embrio menggunakan&#13;
prosedur flushing uterus. Koleksi embrio dilakukan pada hari ke 5, 6 dan 7 pasca&#13;
ovulasi. Tidak ada embrio yang berhasil dikoleksi pada kelompok hari ke-5. Koleksi&#13;
embrio pada hari ke 6 dan 7 masing-masing memiliki recovery rate embryo 66.7%&#13;
yaitu early blastocyst pada hari ke-6 dan blastosis pada hari ke-7. Donor embrio&#13;
yang memiliki durasi perkembangan folikel dominan =4 hari memberikan hasil yang&#13;
lebih baik terhadap recovery rate embrio. Pemberian oksitosin maupun tanpa&#13;
oksitosin tidak berpengaruh nyata terhadap recovery rate embrio pada penelitian ini.&#13;
Kelompok betina yang mengalami gangguan reproduksi pada proses penelitian tidak&#13;
berhasil untuk menghasilkan embrio meskipun koleksi embrio dilakukan pada hari&#13;
ke-6 dan ke-7. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai recovery&#13;
rate embrio dipengaruhi oleh penentuan waktu koleksi yang tepat, dinamika folikel&#13;
dan kondisi uterus yang optimal.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>EFEK PEMBERIAN KOMBINASI INFUSA DAUN ALPUKAT DAN CIPLUKAN TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ PADA TIKUS MODEL HIPEROKSALURIA</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172841" rel="alternate"/>
<author>
<name>NURHIDAYAT, SYAHRUL</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172841</id>
<updated>2026-03-11T00:34:06Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">EFEK PEMBERIAN KOMBINASI INFUSA DAUN ALPUKAT DAN CIPLUKAN TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ PADA TIKUS MODEL HIPEROKSALURIA
NURHIDAYAT, SYAHRUL
Daun alpukat (Persea americana Mill.) dan ciplukan (Physalis angulata Linn.) merupakan tanaman herbal yang memiliki kandungan sebagai antioksidan, antiinflamasi, diuretikum, dan antiurolit. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efek pemberian kombinasi infusa daun alpukat  dan ciplukan terhadap kadar ureum dan kreatinin pada tikus putih jenis Sprague-Dawley yang mengalami hiperoksaluria. Sebanyak 25 ekor tikus dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kelompok normal (tanpa perlakuan), kelompok negatif (inducer tanpa sediaan herbal), kelompok positif (inducer + sediaan komersil), kombinasi 1 (inducer + daun alpukat 30% dan ciplukan 10%), dan kombinasi 2 (inducer + daun alpukat 10% dan ciplukan 30%). Inducer yang digunakan merupakan etilen glikol 0,75% dan amonium klorida 2%. Pengambilan darah dilakukan pada hari ke-14 vena caudalis lateralis dan ke-28 intrakardial. Kadar ureum dan kreatinin dianalisis dengan alat Semi Auto Chemistry Analyzer Mindray-BA-88A. Data analisis diolah dengan perangkat lunak Microsoft Excel dan Minitab, dilanjut uji One Way Analiysis of Variance (ANOVA) Tukey selang kepercayaan 95%. Hasil penelitian menujukkan nilai kadar ureum kelompok kombinasi 1 mengalami penurunan yang berbeda nyata (p&lt;0,05) dibandingkan kelompok negatif pada hari ke-28. Kadar kreatinin setiap kelompok menunjukkan tidak berbeda nyata pada setiap kelompok (p&gt;0,05). Dengan demikian, kombinasi 1 mampu menurunkan kadar ureum dan mempertahankan kadar kreatinin pada tikus model hiperoksaluria.; Avocado leaves (Persea americana Mill.) and ciplukan (Physalis angulata Linn.) are herbal plants with antioxidant, antiinflammatory, diureticum, and antiurolithiasis. This study aimed to evaluate the effect of combined infusions of avocado leaves and ciplukan on blood ureum and creatinine levels in Sprague-Dawley rats induced with hyperoxaluria. A total 25 rats were divided into five groups: normal control (without treatment), negative control (induced without treatment), positive control (inducer + commercial preparation), combination 1 (inducer + avocado leaf 30% + ciplukan 10%), and combination 2 (inducer +  avocado leaf 10% + ciplukan 30%). Hyperoxaluria was induced using 0,75% ethylene glycol and 2% ammonium chloride. Blood samples were collected on day 14 vena caudalis lateralis and day 28 intracardially. Ureum and creatinine levels were analyzed using a Semi-Auto Chemistry Analyzer Mindray BA-88A. Data were analyzed using Microsoft Excel and Minitab software, followed by One Way Analysis of Variance (ANOVA) with Tukey’s test at a 95% confidence level. The results showed that the ureum level in the combination 1 group significantly decreased (p&lt;0,05) compared to the negative control group on day 28. Meanwhile, creatinine levels did not differ significantly among groups (p&gt;0,05). In conclusion, combination 1 effectively reduced ureum levels and maintained creatinine levels in hyperoxaluria induced rats.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengembangan Peranti Mikrofluida Kain Katun Berbasis Uji Mastitis California untuk Mendeteksi Mastitis Subklinis pada Sapi Perah</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172115" rel="alternate"/>
<author>
<name>Setiandri, Qiara Jasmine</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172115</id>
<updated>2026-01-15T22:56:27Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengembangan Peranti Mikrofluida Kain Katun Berbasis Uji Mastitis California untuk Mendeteksi Mastitis Subklinis pada Sapi Perah
Setiandri, Qiara Jasmine
Mastitis merupakan peradangan kelenjar ambing yang bersifat kompleks. Mastitis subklinis tidak menunjukkan perubahan pada ambing serta susu yang dihasilkan sehingga sulit untuk dideteksi. Namun, mastitis subklinis menyebabkan kerugian karena menyebabkan terjadinya penurunan produksi dan kualitas susu. Mastitis subklinis dapat dideteksi dengan melakukan monitoring jumlah sel somatik (JSS) yang hanya dapat dilakukan di laboratorium dan membutuhkan keahlian sehingga tidak praktis dilakukan di lapang. Penelitian ini bertujuan mengembangkan perangkat mikrofluida berbahan kain katun sebagai alat deteksi mastitis subklinis yang lebih sederhana, cepat, dan ekonomis.  Matriks kain katun diberi perlakuan berbeda, dilapisi reagen California mastitis test (CMT), dan dipasangi conjugate pad untuk memfasilitasi pewarnaan sampel. Sampel susu sehat, mastitis subklinis, dan mastitis klinis diuji untuk mengamati pola rembesan plasma dan koagulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kain katun yang dicuci dua kali memiliki laju perembesan yang paling baik, perbedaan JSS memengaruhi reaksi koagulasi serta jarak tempuh rembesan, di mana susu sehat memiliki jarak rembesan paling jauh dan mastitis subklinis paling pendek. Nilai Limit of Detection (LoD) dan Limit of Quantification (LoQ) menunjukkan kemampuan perangkat dalam mendeteksi variasi koagulasi pada sampel. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perangkat mikrofluida berbahan kain katun dengan reagen CMT mampu mendeteksi mastitis subklinis dalam waktu 60 detik dan berpotensi digunakan sebagai alat diagnostik di lapangan yang praktis dan murah.; Mastitis is a complex inflammation of the mammary gland. Subclinical mastitis does not cause visible changes in the udder or in the milk produced, making it difficult to detect. However, subclinical mastitis resulting in economic losses due to reduced milk production and quality. Subclinical mastitis can be detected by monitoring somatic cell count (SCC) that can only be performed in the laboratory and requires technical expertise, making it impractical for field use. This study aimed to develop a cotton-based microfluidic device as a simpler, faster, and more economical tool for detecting subclinical mastitis. The cotton matrices were subjected to different treatments, coated with California Mastitis Test (CMT) reagent, and equipped with a conjugate pad to facilitate sample staining. Milk samples from healthy, subclinical and clinical mastitis cows were tested to observe plasma and coagulum wicking patterns. The results showed that the fabric that washed twice has the best permeation rate, the differences in SCC affected coagulation reactions and wicking distances, with healthy milk exhibiting the longest wicking distance and subclinical mastitis the shortest. The Limit of Detection (LoD) and Limit of Quantification (LoQ) demonstrated the device’s ability to detect variations in sample coagulation. This study concludes that the cotton-based microfluidic device with CMT reagent can detect subclinical mastitis within 60 seconds and has strong potential for use as a practical and low-cost field diagnostic tool.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
