<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Faculty of Agriculture</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7461" rel="alternate"/>
<subtitle>Undergraduate Theses on Faculty of Agriculture</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7461</id>
<updated>2026-06-07T22:34:30Z</updated>
<dc:date>2026-06-07T22:34:30Z</dc:date>
<entry>
<title>ANALISIS KEMAMPUAN DAYA RUSAK Neochetina eichhorniae (COLEOPTERA: CURCULIONIDAE) TERHADAP DAUN DAN PERTUMBUHAN ECENG GONDOK  (Pontederia crassipes)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173266" rel="alternate"/>
<author>
<name>Raihan, Fadil</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173266</id>
<updated>2026-06-07T10:46:32Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">ANALISIS KEMAMPUAN DAYA RUSAK Neochetina eichhorniae (COLEOPTERA: CURCULIONIDAE) TERHADAP DAUN DAN PERTUMBUHAN ECENG GONDOK  (Pontederia crassipes)
Raihan, Fadil
Eceng gondok (Pontederia crassipes) merupakan gulma air invasif yang mengancam ekosistem perairan tawar di Indonesia. Perkembangbiakan vegetatifnya yang sangat cepat menurunkan penetrasi cahaya dan kadar oksigen terlarut, mempercepat sedimentasi, serta menimbulkan kerugian ekonomi pada sektor perikanan dan pembangkit listrik tenaga air. Metode pengendalian mekanis dan kimiawi relatif mahal serta berisiko mencemari lingkungan, sehingga pengendalian biologis dengan Neochetina eichhorniae menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mempelajari tingkat kerusakan akibat aktivitas makan kumbang N. eichhorniae pada daun dan tanaman eceng gondok, membandingkan perbedaan kerusakan antara kumbang jantan dan betina dewasa, serta menilai dampaknya terhadap pertumbuhan tanaman. Percobaan dilakukan di laboratorium dan lapangan dengan variasi kepadatan kumbang. Kerusakan daun diukur berdasarkan jumlah bekas makan dan luas area yang rusak, sedangkan respons tanaman dianalisis melalui parameter pertumbuhan dan laju pertumbuhan relatif berdasarkan biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerusakan meningkat seiring bertambahnya kepadatan kumbang dan lamanya paparan. Kumbang betina menyebabkan kerusakan lebih besar dibandingkan jantan, meskipun aktivitas makan individu sedikit menurun pada kepadatan tinggi. Pada skala tanaman, peningkatan kepadatan kumbang secara signifikan memperbesar intensitas kerusakan dan memperlambat waktu penggandaan biomassa, yang menunjukkan tertekannya pertumbuhan eceng gondok. Namun, kepadatan yang digunakan belum mampu menurunkan populasi eceng gondok, sehingga diperlukan kepadatan lebih tinggi atau integrasi dengan metode pengendalian lain untuk hasil yang optimal.; Water hyacinth (Pontederia crassipes) is an invasive aquatic weed that threatens freshwater ecosystems in Indonesia. Its rapid vegetative reproduction reduces light penetration and dissolved oxygen levels, accelerates sedimentation, and causes economic losses in fisheries and hydropower sectors. Mechanical and chemical control methods are relatively costly and pose risks of environmental pollution; therefore, biological control using Neochetina eichhorniae offers a more environmentally friendly alternative. This study aimed to evaluate the level of damage caused by the feeding activity of N. eichhorniae on water hyacinth leaves and plants, compare the differences in damage between adult male and female beetles, and assess its impact on plant growth. Experiments were conducted under laboratory and field conditions using different beetle densities. Leaf damage was measured based on the number of feeding scars and the damaged leaf area, while plant responses were analyzed through growth parameters and relative growth rate based on biomass. The results showed that feeding damage increased with higher beetle density and longer exposure duration. Female beetles caused greater damage than males, although individual feeding activity slightly decreased at higher densities. At the plant level, increased beetle density significantly intensified damage and prolonged biomass doubling time, indicating suppressed growth of water hyacinth. However, the applied densities were insufficient to significantly reduce plant populations, suggesting that higher beetle densities or integration with other control methods are required for optimal management.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Umur dan Jumlah Bibit pada Sistem Tanam Pindah terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Sawah Varietas IPB 13S</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173260" rel="alternate"/>
<author>
<name>ASMARA, AHMAD ARYA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173260</id>
<updated>2026-06-05T08:36:30Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Umur dan Jumlah Bibit pada Sistem Tanam Pindah terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Sawah Varietas IPB 13S
ASMARA, AHMAD ARYA
Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama di Indonesia&#13;
dengan tingkat konsumsi yang tinggi dan kebutuhan yang terus meningkat seiring&#13;
dengan pertambahan jumlah penduduk. Salah satu upaya peningkatan produksi&#13;
dapat dilakukan melalui perbaikan teknik budidaya antara lain perlu dikajinya&#13;
pengaruh dari perbedaan umur dan jumlah bibit pada sistem tanam pindah.&#13;
Penelitian ini menggunakan varietas unggul tipe baru IPB 13S yang memiliki&#13;
potensi hasil tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sawah Baru&#13;
IPB, Dramaga, Bogor, pada bulan September 2025 hingga Januari 2026 dengan&#13;
menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktorial.&#13;
Perlakuan percobaan terdiri dari umur bibit (10, 16, 22, dan 28 Hari Setelah Semai&#13;
(HSS)) dan jumlah bibit per rumpun (1, 3, dan 5 bibit). Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa umur bibit berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman,&#13;
jumlah anakan, bobot kering akar, bobot kering malai, nisbah akar tajuk, umur&#13;
berbunga, umur panen, jumlah gabah per malai, persentase gabah terisi, serta&#13;
bobot gabah ubinan dan bobot gabah per hektar. Jumlah bibit per rumpun&#13;
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, bobot kering tajuk,&#13;
indeks panen umur berbunga, umur panen, jumlah gabah per malai, dan bobot&#13;
gabah per rumpun. Interaksi antara faktor umur bibit dan jumlah bibit&#13;
menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada hampir seluruh peubah&#13;
pengamatan. Penggunaan bibit muda (10–16 HSS) dengan 1–3 bibit per rumpun&#13;
direkomendasikan untuk meningkatkan efisiensi dan memperoleh pertumbuhan&#13;
dan hasil yang optimal.; Rice (Oryza sativa L.) is a major food commodity in Indonesia, with high&#13;
consumption levels and continuously increasing demand in line with population&#13;
growth. One approach to increasing rice production is improving cultivation&#13;
practices, including optimizing age and the number of seedlings used in&#13;
transplanting systems. This study employed the newly developed high-yielding&#13;
rice variety IPB 13S. The experiment was conducted at the IPB Sawah Baru&#13;
Experimental Farm, Dramaga, Bogor, from September 2025 to January 2026&#13;
using a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD). The experimental&#13;
treatments consisted of seedling age (10, 16, 22, and 28 days after sowing (DAS))&#13;
and the number of seedlings per clump (1, 3, and 5 seedlings). The results showed&#13;
that seedling age significantly affected plant height, number of tillers, dry root&#13;
weight, dry panicle weight, root-to-shoot ratio, flowering time, harvest time,&#13;
grains per panicle, grain filling percentage, as well as grain weight per plot and&#13;
grain weight per hectare. The number of seedlings per hill had a significant effect&#13;
on plant height, number of tillers, dry weight of the canopy, harvest index,&#13;
flowering time, harvest time, number of grains per panicle, and grain weight per&#13;
hill. The interaction between seedling age and the number of seedlings showed no&#13;
significant differences in almost all observed variables. The use of young&#13;
seedlings (10–16 days after sowing) at a rate of 1–3 seedlings per clump is&#13;
recommended to improve efficiency and achieve optimal growth and yield.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Aplikasi Pupuk Majemuk (NPK 15-15-15 + B + S + Asam Humat) terhadap Pertumbuhan dan Komponen Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt L.).</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173210" rel="alternate"/>
<author>
<name>Pallawa, M Yusuf</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173210</id>
<updated>2026-06-03T08:31:58Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Aplikasi Pupuk Majemuk (NPK 15-15-15 + B + S + Asam Humat) terhadap Pertumbuhan dan Komponen Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt L.).
Pallawa, M Yusuf
Tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt L.) merupakan komoditas pertanian yang berpotensi dikembangkan di wilayah tropis seperti Indonesia, namun peningkatan kebutuhan setiap tahun menuntut upaya peningkatan produktivitas. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu melalui pemupukan yang menyediakan unsur hara makro dan mikro, termasuk boron, sulfur, serta asam humat yang berperan dalam mendukung pertumbuhan vegetatif dan pembentukan tongkol. Penelitian ini bertujuan mendapatkan dosis pupuk (NPK 15-15-15 + B + S + Asam humat) terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis. Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober 2024 hingga Januari 2025 di Kebun Percobaan IPB Sindangbarang, Kota Bogor, Jawa Barat pada ketinggian ±250 mdpl. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan  Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktor tunggal dengan enam taraf dosis pupuk NPK 15-15-15 + B + S + Asam humat (NPK uji) dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap karakter pertumbuhan jagung manis meliputi tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah daun pada umur 4–8 MST, serta memberikan pengaruh sangat nyata terhadap komponen hasil seperti panjang tongkol, bobot tongkol berkelobot, bobot tongkol tanpa kelobot, produksi per petak, dan dugaan produktivitas. Tidak berpengaruh nyata pada diameter tongkol. Perlakuan P5 (1,5 NPK uji) memberikan hasil terbaik dengan peningkatan produktivitas 1,04 kali lebih tinggi dibandingkan perlakuan NPK standar (P1) terhadap kontrol (P0), serta nilai EAR tertinggi (104,66%) dibandingkan perlakuan lainnya. Dengan demikian, dosis terbaik yang direkomendasikan adalah 1,5 NPK 15-15-15 + B + S + Asam humat (720 kg ha?¹) dengan tambahan 210 kg ha?¹ urea dan 120 kg ha?¹ KCl.&#13;
&#13;
Kata kunci: asam humat, boron, efisiensi hara, produktivitas, sulfur
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pembibitan Kelor (Moringa oleifera (L.)) Pada Variasi Posisi Setek dan Metode Pemberian Auksin</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173185" rel="alternate"/>
<author>
<name>Andriansyah, Rendy</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173185</id>
<updated>2026-06-03T03:42:34Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pembibitan Kelor (Moringa oleifera (L.)) Pada Variasi Posisi Setek dan Metode Pemberian Auksin
Andriansyah, Rendy
Kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman tahunan dengan potensi pengembangan yang besar dan dapat diperbanyak secara generatif maupun vegetatif. Perbanyakan vegetatif melalui setek batang banyak dipraktikkan, namun tingkat keberhasilannya relatif rendah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respons pertumbuhan setek kelor terhadap perbedaan orientasi setek dan metode pemberian auksin. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Leuwikopo pada Juni–Agustus 2025 menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktorial. Perlakuan terdiri dari dua taraf posisi setek (vertikal dan horizontal) dan tiga taraf metode aplikasi auksin (tanpa auksin, perendaman dalam larutan auksin 1500 ppm, dan pengolesan pasta auksin). Posisi peletakan setek secara horizontal menghasilkan persentase bertunas lebih tinggi dari posisi vertikal, tetapi peubah seperti bobot basah dan bobot kering daun posisi vertikal lebih berat daripada posisi horizontal. Hal tersebut dikarenakan panjang akar pada posisi vertikal lebih panjang dari posisi penanaman horizontal yang menjadi indikator keberhasilan setek atau setek dapat beradaptasi dengan baik. Sedangkan pada perlakuan metode aplikasi auksin, taraf tanpa auksin memiliki panjang akar yang lebih panjang daripada perendaman dan pengolesan auksin yang mengindikasikan setek berhasil beradaptasi atau setek tersebut hidup.; Moringa (Moringa oleifera) is a perennial plant with considerable development potential and can be propagated both generatively and vegetatively. Vegetative propagation using stem cuttings is widely practiced, yet survival rates are relatively low. This study evaluated growth responses of Moringa cuttings to different cutting orientations and auxin application methods. The experiment was conducted at the Leuwikopo Experimental Field from June to August 2025 using a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD). The treatments consisted of two cutting orientations (vertical and horizontal) and three auxin application methods (without auxin, soaking in 1500 ppm auxin solution, and application of auxin paste). The horizontal cutting position produced higher sprouting percentage than vertical position, however variables such as fresh leaf weight and dry leaf weight were greater in the vertical position than in the horizontal position. This was due to the longer root length in the vertical position compared to the horizontal planting position which served as an indicator of cutting establishment success or the ability of cuttings to adapt well. Meanwhile in auxin application treatment, without auxin level resulted in longer root length than soaking and auxin paste application treatments that indicating cuttings were able to adapt successfully or survive well.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
