<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Faculty of Agriculture</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7461" rel="alternate"/>
<subtitle>Undergraduate Theses on Faculty of Agriculture</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7461</id>
<updated>2026-07-21T16:58:52Z</updated>
<dc:date>2026-07-21T16:58:52Z</dc:date>
<entry>
<title>Kutudaun Aphis spp. dan Interaksinya dengan Cendawan  Entomophthorales pada Tanaman Kacang-kacangan di Bogor.</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175302" rel="alternate"/>
<author>
<name>PRASETYO, AGUNG</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175302</id>
<updated>2026-07-21T15:13:44Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kutudaun Aphis spp. dan Interaksinya dengan Cendawan  Entomophthorales pada Tanaman Kacang-kacangan di Bogor.
PRASETYO, AGUNG
Kutudaun merupakan hama penting pada tanaman kacang-kacangan yang menyebabkan kehilangan hasil 4,57–12%. Cendawan Entomophthorales berperan sebagai musuh alami karena kemampuannya dalam menekan populasi kutudaun. Penelitian ini bertujuan menganalisis Kutudaun Aphis spp. dan Interaksinya dengan Cendawan Entomophthorales pada Tanaman Kacang-kacangan di Bogor. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Oktober 2025–April 2026 di delapan lahan pada enam kecamatan di Bogor, meliputi komoditas kacang panjang, kacang tanah, kedelai, dan kecipir. Pengambilan sampel dan perhitungan populasi kutudaun dilakukan sebanyak satu kali sejumlah 50-100 individu pada setiap lahan dan dilakukan perhitungan populasi kutudaun. Sampel kutudaun dipreparasi menggunakan KOH 10%, alkohol bertingkat, dimounting dengan media balsam canada dan diidentifikasi spesiesnya, sedangkan identifikasi cendawan entomophthorales menggunakan metode pewarnaan lactophenol-cotton blue. Hasil penelitian menemukan dua spesies kutudaun, yaitu Aphis craccivora pada kacang panjang, kacang tanah, dan kecipir, serta A. glycines pada kedelai. Populasi kutudaun tertinggi ditemukan pada kacang panjang di Kecamatan Bogor Barat sebesar 268 individu per tanaman. Spesies cendawan Entomophthorales menginfeksi kutudaun adalah Neozygites fresenii. Fase cendawan yang ditemukan yaitu konidia sekunder, badan hifa, konidia primer, dan cendawan sekunder, sementara spora istirahat tidak ditemukan. Tingkat infeksi tertinggi sebesar 64% terjadi pada A. craccivora pada kacang panjang di Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat.; Aphids are important pests of legume crops, causing yield losses of 4.57–12%. The use of synthetic chemical pesticides poses risks of pest resistance and environmental pollution. Entomophthorales fungi act as biological control agents capable of suppressing aphid populations. This study aimed to analyze aphid species interacting with Entomophthorales fungi on legume crops in Bogor. The research was conducted from October 2025 to April 2026 across eight fields in six sub-districts, covering long bean, groundnut, soybean, and winged bean. Aphid sampling was conducted once per field, collecting 50–100 individuals with population counts recorded. Samples were prepared using 10% KOH, graded alcohol, and Canada balsam for species identification, while Entomophthorales fungi were identified using lactophenol-cotton blue staining. Two aphid species were found: Aphis craccivora on long bean, groundnut, and winged bean, and A. glycines on soybean. The highest aphid population was recorded on long bean in Bogor Barat at 268 individuals per plant. The infecting Entomophthorales fungus was identified as Neozygites fresenii. Infection stages observed included secondary conidia, hyphal bodies, primary conidia, and secondary fungi, while resting spores were not found. The highest infection rate of 64% was recorded in A. craccivora on long bean in Situ Gede, Bogor Barat.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Keragaman Genetik Karakter Agronomi dan Seleksi Genotipe Sorgum Generasi F4 Hasil Persilangan Pulut 3 x Soraya 3</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175196" rel="alternate"/>
<author>
<name>Khairunnisa, Nadya Syifa</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175196</id>
<updated>2026-07-20T13:45:03Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Keragaman Genetik Karakter Agronomi dan Seleksi Genotipe Sorgum Generasi F4 Hasil Persilangan Pulut 3 x Soraya 3
Khairunnisa, Nadya Syifa
Sorgum berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia sebagai bahan pangan alternatif. Pengembangan varietas sorgum dengan karakter unggul dan berdaya hasil tinggi masih terbatas. Perbaikan genetik diperlukan melalui persilangan yang berpotensi mengalami segregasi dan rekombinasi gen. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi keragaman genetik, aksi gen, dan jumlah gen yang mengendalikan karakter agronomi, serta memperoleh genotipe yang berdaya hasil lebih tinggi dibandingkan tetuanya. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sawah Baru, IPB pada bulan Oktober 2025 – Maret 2026. Penanaman sebanyak 243 genotipe F4 sorgum hasil persilangan Pulut 3 × Soraya 3 dengan metode single seed descent. Hasil penelitian menunjukkan populasi F4 memiliki keragaman genetik tinggi pada sebagian karakter. Karakter agronomi dikendalikan oleh aksi gen epistasis, dominan, dan aditif dengan jumlah gen yang mengendalikan banyak atau sedikit gen. Diameter malai dikendalikan aksi gen aditif. Sebagian karakter berkorelasi positif nyata terhadap karakter bobot biji per malai. Seleksi berdasarkan bobot biji per malai menghasilkan 25 genotipe terseleksi dengan daya hasil lebih tinggi dari tetua terbaik Soraya 3.; Sorghum has the potential to be developed in Indonesia as an alternative food source. The development of sorghum varieties with superior traits and high yields remains limited. Genetic improvement is necessary through crossbreeding, which has the potential to result in gene segregation and recombination. This study aims to obtain information on genetic variability, the action and number of genes associated with agronomic traits, and to identify genotypes with higher yields than the parental lines. The study was conducted at the Sawah Baru Experimental Farm, IPB, from October 2025 to March 2026. A total of 243 F4 sorghum genotypes resulting from the Pulut 3 × Soraya 3 cross were planted using the single seed descent method. The results showed that the F4 population exhibited high genetic variability for some traits. Agronomic traits are controlled by the action of epistatic, dominant, and additive genes, with the numbers of genes controlling the traits varying from multiple to few genes. Panicle diameter was controlled by additive gene action. Some traits showed a significant positive correlation with grain weight per panicle. Selection based on grain weight per panicle resulted 25 selected genotypes with higher yield potential than the best parent, Soraya 3.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengetahuan dan Perilaku Petani Sayuran di Kabupaten Cianjur terhadap Residu Pestisida</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174900" rel="alternate"/>
<author>
<name>Derin, Ujang</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174900</id>
<updated>2026-07-16T22:57:03Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengetahuan dan Perilaku Petani Sayuran di Kabupaten Cianjur terhadap Residu Pestisida
Derin, Ujang
Hama dan penyakit tanaman menjadi salah satu masalah utama yang memengaruhi produktivitas sayuran. Penggunaan pestisida merupakan salah satu upaya yang paling umum dilakukan oleh petani dalam mengatasi masalah tersebut.  Namun, penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak penggunaan pestisida terhadap kualitas hasil panen adalah dengan menerapkan Pre-harvest interval (PHI) yang bermanfaat untuk mengurangi residu pestisida pada produk pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan perilaku petani tentang residu pestisida pada produk pertanian, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penerapan PHI, dan menganalisis residu pestisida pada produk pertanian dan botol kemasan pestisida. Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga September 2024 di Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Survei petani dilakukan secara langsung dengan mewawancarai 50 petani di tiga desa, yaitu Ciloto, Cimacan dan Sindanglaya. Sampel yang diuji di laboratorium diambil dari lahan petani yang telah diaplikasikan pestisida golongan organofosfat terakhir pada 7 hari sebelum panen dan residu pestisida pada kemasan setelah dibilas beberapa kali. Uji kandungan residu dilakukan di Laboratorium Saraswanti Indo Genetech (SIG). Hasil menunjukkan bahwa  residu yang terdapat pada sampel sayuran yang diuji di laboratorium berada di bawah batas maksimum residu Indonesia. Kandungan residu yang rendah sesuai dengan tingkat pemahaman petani terhadap residu pestisida dan penerapan PHI oleh petani.  Hasil pembilasan botol pestisida menunjukkan bahwa membilas botol dengan metode triple rinsing dapat mengurangi kandungan residu pestisida pada kemasan.; Plant pests and diseases are two of the main problems affecting vegetable productivity. The use of pesticides is one of the most common methods farmers use to overcome this problem. However, improper use of pesticides can cause negative impacts on humans and the environment health. One measure that can be taken to reduce the impact of pesticide use on crop quality is by the implementation of a pre-harvest interval (PHI), which helps reducing pesticide residues in agricultural products. This study aimed to determine the relationship between farmers knowledge and behavior regarding pesticide residues in agricultural products, identify the factors influencing the implementation of PHI, and analyze pesticide residues in agricultural products and pesticide containers. The study was conducted from June to September 2024 in Cipanas District, Cianjur Regency, West Java Province. A farmer survey was conducted through interviews with 50 farmers in three villages, namely Ciloto, Cimacan, and Sindanglaya. The samples tested in the laboratory were taken from farmers' fields where organophosphate pesticides had been applied for the last 7 days before harvest and pesticide residues on packaging after being rinsed several times. Residue content tests were carried out at the Saraswanti Indo Genetech (SIG) Laboratory, Bogor. The results showed that the residues found in the vegetable samples tested in the laboratory were below the Indonesian maximum residue limit. The low residue content was consistent with the farmers' level of understanding of pesticide residues and their implementation of the PHI. The results of rinsing the pesticide bottles showed that rinsing the bottles using the triple rinsing method could reduce the pesticide residue content on the packaging.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Fungsi Wilayah Berdasarkan Tingkat Perkembangan dan Interaksi Spasial di Kabupaten Bogor</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174898" rel="alternate"/>
<author>
<name>Putri, Hazel Minerva</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174898</id>
<updated>2026-07-16T22:54:46Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Fungsi Wilayah Berdasarkan Tingkat Perkembangan dan Interaksi Spasial di Kabupaten Bogor
Putri, Hazel Minerva
Perbedaan tingkat perkembangan wilayah dan interaksi spasial antarwilayah mencerminkan variasi fungsi wilayah dalam suatu sistem pembangunan. Kabupaten Bogor sebagai wilayah dengan karakteristik pembangunan yang heterogen menunjukkan perbedaan kondisi ekonomi, ketersediaan fasilitas, serta intensitas interaksi antar kecamatan. Namun, kajian yang mengintegrasikan tingkat perkembangan wilayah dan Interaksi Spasial untuk mengidentifikasi fungsi wilayah masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat perkembangan wilayah, pola interaksi spasial, tipologi perkembangan dan mobilitas wilayah, serta kategori fungsi wilayah dan arahan pengembangannya di Kabupaten Bogor. Penelitian dilakukan pada 40 kecamatan di Kabupaten Bogor menggunakan metode skalogram, analisis Origin-Destination (OD), tipologi Klassen, dan decision tree. Hasil analisis skalogram menunjukkan bahwa rata-rata Indeks Perkembangan Kecamatan (IPK) meningkat dari 14,72 pada tahun 2020 menjadi 15,72 pada tahun 2024. Meskipun demikian, tipologi perkembangan wilayah masih didominasi oleh kategori tertinggal sebanyak 22 kecamatan (55%), sedangkan kategori maju hanya berjumlah 6 kecamatan (15%). Analisis interaksi spasial menghasilkan total pergerakan sebesar 3.538.430 trip/hari dengan pola interaksi yang terkonsentrasi pada wilayah tengah hingga timur Kabupaten Bogor serta memiliki keterkaitan kuat dengan kawasan metropolitan di sekitarnya. Tipologi interaksi spasial menunjukkan terdapat 14 kecamatan sebagai pusat aktivitas utama, 2 kecamatan sebagai wilayah penerima, 1 kecamatan sebagai wilayah pengirim, dan 23 kecamatan sebagai wilayah perifer. Integrasi tipologi perkembangan dan tipologi interaksi spasial melalui pendekatan decision tree menghasilkan lima kategori fungsi wilayah, yaitu 8 kecamatan sebagai Pusat Pertumbuhan, 2 kecamatan sebagai Pusat Pelayanan, 1 kecamatan sebagai Wilayah Pengirim, 7 kecamatan sebagai Wilayah Perifer, dan 22 kecamatan sebagai Wilayah Perifer Tertinggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan wilayah di Kabupaten Bogor tidak hanya tercermin dari dominasi wilayah tertinggal, tetapi juga dari rendahnya keterlibatan sebagian besar wilayah dalam sistem interaksi spasial. Konsentrasi fungsi wilayah pada sejumlah kecil pusat pertumbuhan dan dominasi wilayah perifer tertinggal mengindikasikan bahwa perkembangan ekonomi, pelayanan, dan mobilitas masih terpusat pada wilayah tertentu. Oleh karena itu, arahan pengembangan wilayah perlu difokuskan pada peningkatan pelayanan dasar, aksesibilitas, dan konektivitas untuk memperkuat integrasi wilayah dalam sistem aktivitas Kabupaten Bogor.; Differences in regional development levels and interregional spatial interaction reflect variations in regional functions within a development system. Bogor Regency, characterized by heterogeneous development patterns, exhibits disparities in economic conditions, service facilities, and interaction intensity among its sub-districts. However, studies integrating regional development and interregional mobility to identify regional functions remain limited. This study aims to identify regional development levels, analyze spatial interaction patterns, classify development and spatial interaction typologies, and formulate regional function categories and development directions in Bogor Regency. The study covers 40 sub-districts in Bogor Regency and employs scalogram analysis, Origin-Destination (OD) analysis, Klassen typology analysis, and a decision tree approach. The scalogram analysis shows that the average Sub-district Development Index (Indeks Perkembangan Kecamatan/IPK) increased from 14.72 in 2020 to 15.72 in 2024. Nevertheless, regional development remains dominated by the underdeveloped category, comprising 22 sub-districts (55%), while only 6 sub-districts (15%) are classified as advanced. Spatial interaction analysis reveals a total movement of 3,538,430 trips per day, with interactions concentrated in the central and eastern parts of Bogor Regency and strongly connected to the surrounding metropolitan areas. Spatial interaction typology identifies 14 sub-districts as Main Activity Centers, 2 as Receiving Areas, 1 as a Sending Area, and 23 as Peripheral Areas. The integration of development and mobility typologies through a decision tree approach produces five regional function categories: 8 Growth Centers, 2 Service Centers, 1 Sending Area, 7 Peripheral Areas, and 22 Underdeveloped Peripheral Areas. The findings indicate that regional disparities in Bogor Regency are reflected not only in the dominance of underdeveloped areas but also in the limited participation of most sub-districts within the interregional spatial interaction system. The concentration of regional functions in a small number of growth centers and the dominance of underdeveloped peripheral areas suggest that economic activities, public services, and mobility remain concentrated in specific areas. Therefore, regional development strategies should prioritize improving basic services, accessibility, and connectivity to strengthen regional integration within the activity system of Bogor Regency.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
