<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Faculty of Agriculture</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7461" rel="alternate"/>
<subtitle>Undergraduate Theses on Faculty of Agriculture</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7461</id>
<updated>2026-08-12T18:36:28Z</updated>
<dc:date>2026-08-12T18:36:28Z</dc:date>
<entry>
<title>Pengaruh Arah Baris Tanam terhadap Produksi  Tumpangsari Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) dan Ubi Jalar (Ipomoea batatas).</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178463" rel="alternate"/>
<author>
<name>KHAIZA, ARIFA AL</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178463</id>
<updated>2026-08-12T07:55:45Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Arah Baris Tanam terhadap Produksi  Tumpangsari Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) dan Ubi Jalar (Ipomoea batatas).
KHAIZA, ARIFA AL
Tumpangsari merupakan salah satu strategi intensifikasi pertanian yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan melalui pemanfaatan sumber daya yang lebih optimal. Pengaturan arah baris tanam dan pola tanam berpotensi mempengaruhi pertumbuhan, hasil, serta interaksi antar tanaman dalam sistem tumpangsari. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh arah baris tanam dan pola tanam terhadap pertumbuhan, hasil, dan efisiensi penggunaan lahan pada tumpangsari jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) dan ubi jalar (Ipomoea batatas). Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB University, Bogor, pada November 2025 hingga Maret 2026 menggunakan rancangan Split plot dua faktor dengan empat ulangan. Faktor pertama yaitu arah baris tanam sebagai petak utama dengan dua taraf yaitu arah baris tanam timur-barat (A1) dan utara-selatan (A2). Faktor kedua yaitu pola tanam yang terdiri dari empat taraf yaitu tumpangsari 1 dengan satu baris ubi jalar (B1), tumpangsari 2 dengan dua baris ubi jalar (B2), monokultur jagung (B3) dan monokultur ubi jalar (B4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumpangsari satu baris ubi jalar meningkatkan produktivitas jagung manis, sedangkan tumpangsari dua baris ubi jalar meningkatkan produktivitas ubi jalar. Seluruh kombinasi tumpangsari menghasilkan Nisbah Kesetaraan Lahan (NKL) lebih besar dari satu, menunjukkan bahwa sistem tumpangsari jagung manis dan ubi jalar lebih efisien dibandingkan sistem monokultur. Berdasarkan nilai agresivitas dan competitive ratio (CR), ubi jalar lebih dominan pada sistem tumpangsari yang diterapkan. Kombinasi arah baris timur-barat dengan satu baris ubi jalar (A1B1) menghasilkan nilai NKL tertinggi, sedangkan kombinasi arah baris utara-selatan dengan dua baris ubi jalar (A2B2) menghasilkan nilai Actual yield loss (AYL) tertinggi.; Intercropping is an agricultural intensification strategy that can improve land-use efficiency through more effective utilization of available resources. Row orientation and planting pattern are among the factors that may influence crop growth, yield, and interspecific interactions in an intercropping system. This study aimed to evaluate the effects of row orientation and planting pattern on growth, yield, and land-use efficiency in a sweet corn (Zea mays saccharata Sturt)-sweet potato (Ipomoea batatas) intercropping system. The experiment was conducted at the Leuwikopo Experimental Farm, IPB University, Bogor, from November 2025 to March 2026 using a two-factor Split-plot design with four replications. The main plot factor was planting row orientation, consisting of east-west (A1) and north-south (A2) orientations. The subplot factor was planting pattern, consisting of four treatments:intercropping with one row of sweet potato (B1), intercropping with two rows of sweet potato (B2), sweet corn monoculture (B3) and sweet potato monoculture (B4). The results showed that intercropping with one row of sweet potato increased sweet corn productivity, whereas with two rows of sweet potato increased sweet potato productivity. All intercropping combinations  produced a Land Equivalent Ratio (LER) greater than one, indicating that the sweet corn-sweet potato intercropping system was more efficient than the corresponding monoculture system. Based on the aggressivity and competitive ratio (CR) values, sweet potato was the dominant crop in the intercropping system. The combination of east-west row orientation with one row of sweet potato (A1B1) produced the highest LER value, while the combination of north-south row orientation with two rows of sweet potato (A2B2) resulted in the highest Actual Yield Loss (AYL) value.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Berbagai Dosis Nitrogen dan Aplikasi EM4 terhadap Pertumbuhan Vegetatif dan Biomassa Stevia (Stevia rebaudiana Bertoni)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178447" rel="alternate"/>
<author>
<name>MUMTAZ, FADHLURRAHMAN</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178447</id>
<updated>2026-08-12T05:54:27Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Berbagai Dosis Nitrogen dan Aplikasi EM4 terhadap Pertumbuhan Vegetatif dan Biomassa Stevia (Stevia rebaudiana Bertoni)
MUMTAZ, FADHLURRAHMAN
Stevia (Stevia rebaudiana Bertoni) merupakan tanaman penghasil pemanis alami yang produktivitasnya ditentukan oleh pertumbuhan vegetatif dan biomassa daun. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh dosis nitrogen dan aplikasi EM4 terhadap pertumbuhan vegetatif, kandungan klorofil relatif, dan biomassa stevia aksesi Majalengka. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo, IPB University, pada Februari hingga Mei 2026 menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak faktorial. Faktor pertama adalah dosis urea, yaitu 0%, 50%, dan 100% dosis acuan, sedangkan faktor kedua adalah tanpa dan dengan aplikasi EM4. Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 18 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi EM4 dan dosis nitrogen tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan nilai SPAD. Aplikasi EM4 meningkatkan jumlah cabang pada 8 MST, tetapi menurunkan luas daun serta bobot basah dan bobot kering batang. Dosis nitrogen berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot basah batang, dan bobot basah daun, tetapi tidak berpengaruh terhadap bobot basah akar maupun seluruh komponen bobot kering. Perlakuan tanpa &#13;
nitrogen menghasilkan jumlah daun, bobot basah batang, dan bobot basah daun tertinggi. Secara numerik, dosis nitrogen 100% menghasilkan bobot kering akar dan daun tertinggi, tetapi perbedaannya tidak nyata secara statistik. Interaksi antara aplikasi EM4 dan dosis nitrogen berpengaruh terhadap jumlah cabang pada 2 MST serta bobot basah akar, batang, dan daun. Tidak terdapat satu taraf perlakuan yang secara konsisten memberikan hasil terbaik pada seluruh peubah.; Stevia (Stevia rebaudiana Bertoni) is a natural sweetener-producing plant whose productivity is determined by vegetative growth and leaf biomass. This study aimed to analyse the effects of nitrogen dose and EM4 application on the vegetative growth, relative chlorophyll content, and biomass of the Majalengka accession of stevia. The study was conducted at the Leuwikopo Experimental Garden, IPB University, from February to May 2026 using a factorial randomised complete block design. The first factor was the urea dose, consisting of 0%, 50%, and 100% of the reference dose, while the second factor was EM4 application, consisting of treatments with and without EM4. Each treatment combination was replicated three times, resulting in 18 experimental units. The results showed that EM4 application and nitrogen dose had no significant effect on plant height and SPAD values. EM4 application increased the number of branches at 8 weeks after planting but reduced leaf area and the fresh and dry weights of stems. Nitrogen dose affected the number of leaves and the fresh weights of stems and leaves but had no significant effect on root fresh weight or any dry biomass component. The treatment without nitrogen produced the highest number of leaves and fresh weights of stems and leaves. Numerically, the 100% nitrogen dose produced the highest root and leaf dry weights, although the differences were not statistically significant. The interaction between EM4 application and nitrogen dose affected the number of branches at 2 weeks after planting and the fresh weights of roots, stems, and leaves. No single treatment level consistently produced the best result across all variables.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Studi Keragaman Komunitas dan Seed bank Gulma Pada Berbagai Jenis Naungan di Perkebunan Kopi Rakyat Sindangkerta Bandung</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178444" rel="alternate"/>
<author>
<name>Pamungkas, Faris Ghufron</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178444</id>
<updated>2026-08-12T05:49:27Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Keragaman Komunitas dan Seed bank Gulma Pada Berbagai Jenis Naungan di Perkebunan Kopi Rakyat Sindangkerta Bandung
Pamungkas, Faris Ghufron
Keberadaan gulma menjadi salah satu kendala utama budidaya kopi karena bersaing merebut air, hara, dan ruang tumbuh. Perbedaan naungan menciptakan kondisi lingkungan beragam yang memengaruhi komposisi gulma. Pemahaman gulma dominan dan cadangan bijinya di dalam tanah (seed bank) penting untuk strategi pengendalian. Penelitian ini bertujuan menganalisis keragaman komunitas dan seed bank gulma di Perkebunan Kopi Rakyat Sindangkerta, Bandung Barat. Penelitian dilakukan dengan metode survei pada tiga taraf naungan yaitu pinus, hutan, dan tanpa naungan. Analisis vegetasi dilakukan menggunakan metode kuadrat sensus, kemudian dilakukan pengamatan seed bank di dalam greenhouse. Hasil menunjukkan perbedaan komposisi, jumlah individu, dan spesies antar naungan. Lahan tanpa naungan memiliki biomassa dan populasi gulma tertinggi, sedangkan naungan hutan memunculkan spesies terbanyak, dan naungan pinus memiliki jumlah individu dan biomassa paling sedikit. Spesies didominasi oleh gulma berdaun lebar A. riparia (pinus), A. conyzoides (hutan), dan A. philoxeroides (tanpa naungan). Seed bank berbeda dari vegetasi permukaan, didominasi S. alata, A. conyzoides dan O. latifolia. Indeks keanekaragaman komunitas dan seed bank tergolong sedang. Koefisien komunitas (&lt;75%) menandakan heterogenitas komunitas gulma. Intensitas cahaya dan suhu menjadi faktor utama yang memengaruhi struktur komunitas. Pengendalian gulma perlu dilakukan secara terpadu dengan menyesuaikan jenis naungan, dominansi gulma dan potensi seed bank.; Weeds are a major constraint in coffee cultivation by competing for water, nutrients, and growing space. Different shade types create diverse environmental conditions that influence weed composition. Understanding dominant weeds and their soil seed bank is essential for effective control strategies. This study aimed to analyze weed community and seed bank diversity in smallholder coffee plantations in Sindangkerta, West Bandung. The research employed a survey method across three shade levels: pine, forest, and open area. Vegetation analysis was conducted using the census quadrat method, followed by seed bank observation in a greenhouse. Results showed differences in composition, abundance, and species richness across shade types. Open areas had the highest weed biomass and population, forest shade exhibited the highest species richness, while pine shade had the lowest individuals and biomass. Species were dominated by broadleaf weeds: A. riparia (pine), A. conyzoides (forest), and A. philoxeroides (open). The seed bank differed from surface vegetation, dominated by S. alata, A. conyzoides, and O. latifolia. Diversity indices for both communities and seed banks were moderate. Community coefficients (&lt;75%) indicated heterogeneous weed communities. Light intensity and temperature were key factors influencing community structure. Integrated weed control practices should be tailored to shade type, weed dominance, and seed bank potential.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengembangan Kunci Identifikasi Multiakses Dan Akses Tunggal Kumbang Kotoran (Coleoptera: Scarabaeidae) Di Perkebunan Kelapa Sawit Riau</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178411" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fata, Muhammad Reza Emillul</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178411</id>
<updated>2026-08-12T04:41:33Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengembangan Kunci Identifikasi Multiakses Dan Akses Tunggal Kumbang Kotoran (Coleoptera: Scarabaeidae) Di Perkebunan Kelapa Sawit Riau
Fata, Muhammad Reza Emillul
Kumbang kotoran (Coleoptera: Scarabaeidae) berperan sebagai bioindikator kualitas habitat, dekomposer, dan penyebar biji. Tingginya keragaman spesies serta kemiripan karakter morfologi menyebabkan identifikasi spesies memerlukan kunci identifikasi yang andal. Hingga saat ini, identifikasi kumbang kotoran di perkebunan kelapa sawit umumnya masih menggunakan kunci dikotomus, sedangkan kunci identifikasi multiakses khusus untuk habitat tersebut belum tersedia. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kunci identifikasi multiakses dan akses tunggal berbasis Program Lucid, memvalidasi penggunaannya berdasarkan tingkat ketepatan identifikasi oleh pengguna non-ahli, mengimplementasikannya dalam media interaktif berbasis website, serta mengkarakterisasi keragaman kumbang kotoran di perkebunan kelapa sawit. Penelitian menggunakan koleksi spesimen dari PT SMART Tbk, Riau, yang dikumpulkan pada tahun 2016–2024. Karakter morfologi disusun ke dalam matriks karakter menggunakan Program Lucid untuk menghasilkan kunci identifikasi multiakses dan akses tunggal yang dilengkapi gambar karakter diagnostik, glosarium, ilustrasi morfologi, dan tautan referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kunci identifikasi berhasil dikembangkan dan diimplementasikan dalam media interaktif berbasis website. Keragaman kumbang kotoran terdiri atas 18 spesies, 6 genus, dan 2 subfamili yaitu Scarabaeinae dan Aphodiinae, genus Onthophagus memiliki jumlah spesies terbanyak serta Onthophagus obscurior memiliki kelimpahan tertinggi. Hasil validasi menunjukkan bahwa kunci identifikasi dapat digunakan oleh pengguna non-ahli berdasarkan tingkat ketepatan identifikasi.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
