<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MT - Animal Science</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/74" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/74</id>
<updated>2026-05-09T21:13:38Z</updated>
<dc:date>2026-05-09T21:13:38Z</dc:date>
<entry>
<title>EVALUASI KUALITAS TANDAN KOSONG SAWIT SEBAGAI  FILLER TERHADAP PERFORMA DAN PERKEMBANGAN  SALURAN PENCERNAAN AYAM BROILER</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173057" rel="alternate"/>
<author>
<name>F, Tazkiya Qothrunnada A</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173057</id>
<updated>2026-05-08T05:38:38Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">EVALUASI KUALITAS TANDAN KOSONG SAWIT SEBAGAI  FILLER TERHADAP PERFORMA DAN PERKEMBANGAN  SALURAN PENCERNAAN AYAM BROILER
F, Tazkiya Qothrunnada A
Serat pangan telah diakui secara luas atas manfaatnya bagi kinerja unggas, &#13;
terutama dalam meningkatkan efisiensi pakan dan menjaga kesehatan pencernaan &#13;
pada ayam broiler. Namun, penggunaan sumber serat konvensional masih terbatas &#13;
karena biayanya yang tinggi dan ketergantungan pada impor. Studi ini bertujuan &#13;
untuk mengevaluasi potensi penggunaan tandan kosong sawit (TKS), hasil samping &#13;
industri kelapa sawit, sebagai sumber serat lokal yang tersedia, serta menilai &#13;
dampaknya terhadap kinerja pertumbuhan dan perkembangan saluran pencernaan &#13;
pada ayam broiler. Sebanyak 200 anak ayam Cobb berusia sehari (DOC) secara &#13;
acak dibagi ke dalam empat perlakuan pakan dengan lima ulangan selama 35 hari: &#13;
P0 (ransum kontrol tanpa sumber serat), P1 (ransum kontrol yang mengandung &#13;
0,8% serat komersial), P2 (ransum kontrol yang mengandung 0,8% TKS), dan P3&#13;
(ransum kontrol yang mengandung 0,8% TKS dengan suplementasi 0,02% enzim &#13;
koktail). Penggunaan TKS, baik dengan atau tanpa suplementasi enzim koktail,&#13;
tidak secara signifikan (P&gt;0,05) memengaruhi pertambahan bobot badan, konsumsi &#13;
pakan dan konversi pakan. Demikian pula, tidak terdapat perbedaan signifikan &#13;
(P&gt;0,05) dalam bobot dan panjang relatif saluran pencernaan antarpelakuan. &#13;
Temuan ini menunjukkan bahwa penambahan 0,8% TKS sumber serat pakan yang &#13;
dikombinasikan dengan 0,02% enzim koktail memiliki kinerja pertumbuhan dan &#13;
perkembangan saluran pencernaan yang setara dengan kontrol dengan potensi nilai &#13;
ekonomis yang lebih baik, sehingga dapat dikembangkan sebagai sumber serat &#13;
fungsional dalam pakan unggas.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Optimasi Nutrisi  Sapi Perah pada Sistem Peternakan Rakyat melalui Identifikasi Ransum  Pendukung Produksi dan Kualitas Susu</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173054" rel="alternate"/>
<author>
<name>Apriliana, Tri Wahyu</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173054</id>
<updated>2026-05-07T22:45:15Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Optimasi Nutrisi  Sapi Perah pada Sistem Peternakan Rakyat melalui Identifikasi Ransum  Pendukung Produksi dan Kualitas Susu
Apriliana, Tri Wahyu
Produksi susu dan kualitas susu, utamanya protein susu, pada sapi perah di Indonesia masih rendah sehingga perlu ditingkatkan. Ketinggian wilayah yang bervariasi di Indonesia memengaruhi produksi susu dan protein susu karena adanya perbedaan mikroklimat yang tercermin dalam nilai temperature-humidity index (THI). Selain itu, variasi ketinggian wilayah juga berkaitan dengan perbedaan ransum yang diberikan pada ternak, yang dipengaruhi oleh perbedaan potensi dan ketersediaan bahan pakan di masing-masing wilayah. Peternakan sapi perah rakyat yang mendominasi sektor persusuan nasional menunjukkan variasi yang cukup besar dalam praktik pemberian ransum. Perbedaan komposisi ransum menyebabkan perbedaan pasokan dan variasi kecukupan makro- dan mikronutrien yang dibutuhkan untuk sintesis susu, seperti zink dan sulfur. Selain itu, perbedaan ransum juga memengaruhi ketersediaan dan keseimbangan nutrien serta efisiensi pemanfaatan nitrogen oleh sapi perah yang tercermin dalam nilai Milk Urea Nitrogen (MUN), Plasma Urea Nitrogen (PUN), dan Urinary Nitrogen (UN). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengetahui ransum terbaik yang mampu &#13;
mendukung performa susu dengan tetap memperhatikan nilai MUN, PUN, dan UN. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan mengetahui keragaan produksi susu dan protein susu di peternakan sapi perah rakyat di ketinggian wilayah berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi susu dan produksi protein susu di dataran tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan di dataran rendah. Sementara itu, kualitas susu tidak menunjukkan adanya perbedaan antar wilayah. Ransum di dataran tinggi menggunakan konsentrat yang lebih tinggi (p&lt;0,05) sehingga dapat mendukung peningkatan produksi susu, MUN, PUN, UN, dan produksi komponen susu termasuk produksi protein susu. Ransum di dataran tinggi dengan imbangan hijauan:konsentrat sebesar 45:55 % bahan kering (BK) atau dengan penambahan onggok 4% dengan rasio hijauan:konsentrat:onggok sebesar 44:52:4 %BK memiliki kandungan nutrien yang lebih tinggi (p&lt;0,05) utamanya nutrien protein kasar (PK) serta signifikan lebih rendah (p&lt;0,05) kandungan SK (serat kasar)-nya. Selain itu, ransum tersebut juga memiliki kemampuan dalam memenuhi kebutuhan PK yang lebih baik dibandingkan dengan ransum di dataran rendah. Kondisi tersebut mendukung peningkatan produksi susu, MUN, PUN, UN, dan produksi komponen susu termasuk produksi protein susu yang signifikan lebih tinggi &#13;
dibandingkan di dataran rendah. Namun, penggunaan berbagai bahan pakan tambahan oleh peternak cenderung menurunkan produksi susu, sehingga ransum dengan imbangan hijauan:konsentrat sebesar 45:55 %BK merupakan ransum yang paling optimal dan berpotensi sebagai langkah awal dalam upaya peningkatan produksi susu dan protein susu di peternakan rakyat baik di dataran tinggi ataupun di dataran rendah karena bahan penyusunnya mudah diakses dan praktis.; Milk production and milk quality, particularly milk protein, of dairy cattle in Indonesia remain relatively low and therefore need improvement. Variations in altitude across Indonesia affect milk and milk protein production due to differences in microclimate, which are reflected in the temperature-humidity index (THI) values. In addition, differences in altitude are associated with variations in rations fed to the animals, influenced by differences in feed resource availability and potential in each region. Smallholder dairy farms, which dominate the national dairy sector, exhibit considerable variation in feeding practices. Differences in ration composition result in variations in the supply and adequacy of macro- and micronutrients required for milk synthesis, such as zinc and sulfur. Furthermore, ration differences influence nutrient availability and balance, as well as nitrogen &#13;
utilization efficiency in dairy cows, which is reflected in Milk Urea Nitrogen (MUN), Plasma Urea Nitrogen (PUN), and Urinary Nitrogen (UN) values. Therefore, this study aimed to identify the most suitable ration to support milk performance while maintaining balanced nitrogen metabolism, as reflected by MUN, PUN, and UN values. Additionally, this study evaluated milk yield and milk protein production performance in smallholder dairy farming systems across different altitudes. The results showed that milk yield and milk protein production of dairy cows in highland areas were higher than those in lowland areas. Meanwhile, milk quality did not differ between regions. Rations in highland areas contained a higher proportion of concentrate (p&lt;0.05), which supported increases in milk yield, MUN, PUN, UN, and milk component production, including milk protein. Rations in highland areas with a forage-to-concentrate ratio of 45:55 % dry matter (DM), or with 4% cassava pulp addition (forage:concentrate:cassava pulp ratio of 44:52:4 %DM), had higher nutrient content (p&lt;0.05), particularly crude protein (CP), and significantly lower crude fiber (CF) content (p&lt;0.05). These rations were also more capable of meeting crude protein requirements compared to those in lowland areas. This condition contributed to higher milk yield, MUN, PUN, UN, and milk &#13;
component production, including milk protein, in highland areas. However, the use of various additional feed ingredients by farmers tended to reduce milk production. Therefore, the ration with a forage-to-concentrate ratio of 45:55% DM was identified as the most optimal and has strong potential as an initial strategy to improve milk yield and milk protein production in smallholder dairy farms, both in highland and lowland areas, due to its practicality and accessibility of feed ingredients.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Evaluasi Susu Fermentasi Lactiplantibacillus plantarum subsp. plantarum IIA-1A5 dalam Menghambat Kanker Kolorektal pada Mencit BALB/c yang Diinduksi Senyawa Karsinogen</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173008" rel="alternate"/>
<author>
<name>Erlina, Iis</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173008</id>
<updated>2026-04-29T03:15:19Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluasi Susu Fermentasi Lactiplantibacillus plantarum subsp. plantarum IIA-1A5 dalam Menghambat Kanker Kolorektal pada Mencit BALB/c yang Diinduksi Senyawa Karsinogen
Erlina, Iis
Kanker kolorektal merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di dunia. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) yang dirilis oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2022, kasus kanker kolorektal menempati peringkat ketiga dengan jumlah 1.926.118 kasus baru di seluruh dunia, serta menempati peringkat kedua dalam jumlah kematian dengan total 903.859 jiwa. Metode pengobatan kanker kolorektal yang paling umum dilakukan meliputi operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Tingkat keberhasilan dari metode pengobatan tersebut sangat bervariasi, dengan berbagai efek samping yang masih menjadi tantangan. Oleh karena itu, eksplorasi bahan alami dengan potensi antikanker menjadi langkah penting dalam mengembangkan alternatif pengobatan yang lebih aman. Salah satu alternatif yang menjanjikan adalah senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat probiotik L. plantarum subsp. plantarum IIA-1A5.&#13;
Lactiplantibacillus plantarum subsp. plantarum IIA-1A5 dievaluasi secara in vivo pada mencit BALB/c yang diinduksi senyawa karsinogen yaitu azoxymethane (AOM) dan Dextran Sodium Sulfate (DSS) selama 70 hari. Terdapat 5 kelompok yang dijadikan perlakuan pada penelitian ini yaitu P1: Kontrol sehat; P2: Kontrol negatif; P3: Kontrol positif (5- FU); P4: Perlakuan probiotik sebelum induksi; P5: Perlakuan probiotik setelah induksi. Susu fermentasi yang diberikan pada hewan coba, dilakukan analisis kualitas terlebih dahulu. Pada parameter fisikokimia, total BAL, dan yang diamati sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Susu fermentasi L. plantarum IIA- 1A5 menghasilkan aktivitas antioksidan 84,43 %. Berdasarkan penelitian secara in vivo pada mencit BALB/c yang diinduksi AOM dan DSS, susu fermentasi L. plantarum subsp. plantarum IIA-1A5 efektif menghambat kanker kolorektal pada mencit BALB/c, dibuktikan dengan penurunan skor Aberrant Crypt Foci (ACF), kepadatan sel tumor, penghambatan imunohistokimia NF-kB, penurunan kadar kortisol yang mengindikasikan berkurangnya stres fisiologis, penurunan kadar malondialdehyde (MDA), dan penurunan E. coli.; Colorectal cancer is one of the leading causes of cancer-related mortality worldwide. According to data from the Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) released by the World Health Organization (WHO) in 2022, colorectal cancer ranked third in global incidence, with 1,926,118 new cases, and second in cancer-related mortality, accounting for 903,859 deaths. The most common therapeutic approaches for colorectal cancer include surgery, chemotherapy, and radiotherapy. However, the effectiveness of these treatments varies considerably and is frequently associated with significant adverse effects, which remain a major clinical challenge. Therefore, the exploration of natural products with anticancer potential represents an important strategy for developing safer and more effective alternative therapies. One promising candidate is the bioactive compounds produced by the probiotic lactic acid bacterium Lactiplantibacillus plantarum subsp. plantarum IIA-1A5.&#13;
Lactiplantibacillus plantarum subsp. plantarum IIA-1A5 was evaluated in vivo in BALB/c mice induced with the carcinogenic agents azoxymethane (AOM) and dextran sodium sulfate (DSS) for 70 days. The study consisted of five experimental groups: P1 (healthy control), P2 (negative control), P3 (positive control, 5-fluorouracil [5-FU]), P4 (probiotic treatment before induction), and P5 (probiotic treatment after induction). Prior to administration, the fermented milk was evaluated for quality parameters. Its physicochemical characteristics and total lactic acid bacteria (LAB) complied with the Indonesian National Standard (SNI). The fermented milk containing L. plantarum IIA-1A5 exhibited antioxidant activity of 84.43%. The in vivo results demonstrated that fermented milk containing L. plantarum subsp. plantarum IIA-1A5 effectively suppressed colorectal carcinogenesis in AOM–DSS-induced BALB/c mice. This effect was evidenced by reduced aberrant crypt foci (ACF) scores, decreased tumor cell density, downregulation of NF-?B expression based on immunohistochemical analysis, lower cortisol levels indicating reduced physiological stress, decreased malondialdehyde (MDA) levels, and reduced Escherichia coli populations.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pertumbuhan dan Produktivitas Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) cv. Samurai 1 dengan Aplikasi Boron pada Umur Panen Berbeda</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172849" rel="alternate"/>
<author>
<name>Romadhon, Achmad</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172849</id>
<updated>2026-03-16T00:17:00Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pertumbuhan dan Produktivitas Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) cv. Samurai 1 dengan Aplikasi Boron pada Umur Panen Berbeda
Romadhon, Achmad
Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh dosis boron yang berbeda terhadap pertumbuhan dan produktivitas sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) cv. Samurai 1  pada umur panen yang berbeda. Sorgum cv. Samurai 1 merupakan varietas unggul yang memiliki potensi genetik tinggi dalam produktivitas sebagai pakan ternak, namun pengembangan sorgum terkendala kondisi lahan margin seperti lahan dengan defisiensi unsur hara boron (B). Metode dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak kelompok faktorial (RAKF) 5×2×4 yang menghasilkan 40 satuan percobaan. Faktor pertama perlakuan yaitu pupuk boron dengan variasi dosis sebagai berikut, A0 = Tanpa penambahan asam borat; A1 = asam borat 10 ppm (setara 0,360 g H3BO3 5 L-1); A2 = asam borat 20 ppm (setara 0,720 g H3BO3 5 L-1); A3 = asam borat 30 ppm (setara 1,080 g H3BO3 5 L-1); A4 = asam borat 40 ppm (setara 1,440 g H3BO3 5 L-1). Faktor kedua adalah umur panen dengan variasi umur panen sebagai berikut B1 = 100 hari setelah tanam dan B2 = 105 HST (hari setelah tanam). Hasil penelitian menunjukan bahwa dosis 30 ppm secara signifikan   meningkatkan pertumbuhan tanaman, diameter batang, panjang malai dan hasil 1000 biji dibandingkan dengan perlakuan kontrol, sedangkan pada dosis 40 ppm secara signifikan (P&lt;0,05) memperlihatkan penurunan terhadap produktivitas tanaman sorgum. Selain itu umur panen secara signifikan (P&lt;0,05) berpengaruh terhadap pertumbuhan sorgum, namun umur panen 105 hari setelah tanam (HST) memberikan pengaruh signifikan (P&lt;0,05) dibandingkan dengan umur panen 100 HST. Kesimpulan penelitian ini yaitu aplikasi boron pada dosis 30 ppm di umur panen 105 HST dapat mengoptimalkan produktivitas sorgum cv. Samurai 1 pada lahan yang defisiensi boron.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
