<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MF - Fisheries</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73</id>
<updated>2026-07-10T15:09:32Z</updated>
<dc:date>2026-07-10T15:09:32Z</dc:date>
<entry>
<title>Peningkatan Protein Sparing Effect pada Ikan Nila (Oreochromis  sp.) yang Diberi Pakan Kombinasi Tepung Daun Kayu Manis dan  Daun Insulin.</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174155" rel="alternate"/>
<author>
<name>Putri, Syifa Zakia Hasna</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174155</id>
<updated>2026-07-07T08:48:26Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Peningkatan Protein Sparing Effect pada Ikan Nila (Oreochromis  sp.) yang Diberi Pakan Kombinasi Tepung Daun Kayu Manis dan  Daun Insulin.
Putri, Syifa Zakia Hasna
Penurunan protein dengan memperhatikan imbangan rasio Energi:Protein (E:P) merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menurunkan biaya &#13;
produksi akibat pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi kombinasi tepung daun kayu manis dan tepung daun insulin pada &#13;
penurunan protein pakan dari 30% menjadi 28% dengan level rasio Energi:Protein (E:P) berbeda terhadap kinerja pertumbuhan ikan nila (Oreochromis sp.). Penelitian &#13;
terdiri atas lima perlakuan dengan masing-masing tiga ulangan, terdiri dari 30:13 K (Kontrol pakan protein 30% dengan E:P 13 kkal Gross Energy (GE) g-1 tanpa tambahan suplementasi), 28:13 K1 (Kontrol pakan protein 28% dengan E:P 13 kkal GE g-1tanpa tambahan suplementasi), 28:14 K2 (Kontrol pakan protein 28% &#13;
dengan E:P 14 kkal GE g-1tanpa tambahan suplementasi), 28:13 P1 (Perlakuan pakan protein 28% dengan E:P 13 kkal GE g-1 dengan tambahan suplementasi kombinasi tepung daun kayu manis 0,5% dan tepung daun insulin 0,5%), dan 28:14 P2 (Perlakuan pakan protein 28% dengan E:P 14 kkal GE g-1 dengan tambahan suplementasi kombinasi tepung daun kayu manis 0,5% dan tepung daun insulin 0,5%). Ikan nila berbobot 16,37±0,02 g dipelihara pada hapa berukuran 1 x 1 x 1 m3 dengan tinggi air 0,8 m selama 60 hari dengan pada tebar 15 ekor per hapa dan diberi pakan secara at satiation. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan 28:13 P1 dan 28:14 P2 menghasilkan biomassa akhir, pertambahan biomassa, bobot akhir, penambahan bobot, feed conversion ratio, laju pertumbuhan spesifik, dan (NH4+) darah terbaik dibandingkan seluruh perlakuan. Perlakuan 28:13 P1 menghasilkan retensi protein berbeda nyata dibandingkan perlakuan pakan kontrol 28:13 K1 dan 28:14 K2. Perlakuan 28:14 P2 menghasilkan nilai retensi lemak dan retensi protein terbaik dibandingkan seluruh perlakuan, serta peningkatan jumlah konsumsi pakan terjadi dibandingkan perlakuan 28:14 K2. Perlakuan 28:13 P1 dan 28:14 P2menghasilkan nilai glukosa dan trigliserida (TAG) yang lebih rendah dibandingkan perlakuan 28:13 K1 dan 28:14 K2, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan 30:13 K. Kadar lemak daging ikan tertinggi pada perlakuan 28:13 K1 dan 28:14 K2 dibandingkan seluruh perlakuan. Perlakuan 28:14 P2 menghasilkan kadar lemak &#13;
hati yang lebih rendah dibandingkan perlakuan seluruh kontrol, tetapi tidak berbeda nyata dengan 28:13 P1. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penambahan &#13;
suplementasi kombinasi tepung daun kayu manis 0,5% dan tepung daun insulin 0,5% dapat menurunkan protein pakan menjadi 28% dengan E:P 14 kkal GE g-1 menghasilkan peningkatan efisiensi pemanfaatannutrien non-protein yang menunjang laju pertumbuhan ikan nila.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pencegahan Infeksi Vibrio parahaemolyticus pada Udang Vaname dengan Kombinasi Serbuk Batang Pisang dan Daun Kelor</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174039" rel="alternate"/>
<author>
<name>utama, fajri maulana</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174039</id>
<updated>2026-07-05T12:20:28Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pencegahan Infeksi Vibrio parahaemolyticus pada Udang Vaname dengan Kombinasi Serbuk Batang Pisang dan Daun Kelor
utama, fajri maulana
Litopenaeus vannamei yang lebih dikenal sebagai udang vaname, merupakan komoditas ekspor utama bagi sektor perikanan Indonesia, memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Budidaya udang berkembang pesat dan semakin intensif di berbagai negara berkembang sebagai salah satu sektor ekonomi yang menjanjikan. Udang putih pasifik (Litopenaeus vannamei) merupakan spesies dengan produktivitas tertinggi dalam budidaya. Nilai pasar sangat bergantung pada ukuran dan harga satuan udang yang tinggi, mengakibatkan pembudidaya mengoptimalkan pertumbuhan udang dalam jangka waktu produksi yang sesingkat mungkin untuk memaksimalkan pendapatan. Meskipun prospek budidaya udang memiliki potensi besar, peningkatan intensifikasi sering menghadapi kendala dikarenakan tingginya kepadatan stok yang dapat memperbesar risiko penularan penyakit dan menurunkan produktivitas. Sementara itu, udang memiliki tingkat ketahanan yang rendah terhadap berbagai kondisi stress. Kondisi ini yang membuat udang menjadi rentan terhadap penyakit seperti infeksi dari V. parahaemolyticus dan menyebabkan terjadinya wabah penyakit pada budidaya udang. Kerentanannya terhadap serangan Vibrio dapat meningkat jika kualitas air tidak memadai yang dapat mengakibatkan tingginya tingkat kematian yang akhirnya menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan dalam kegiatan budidaya perikanan. Patogen ini dapat menimbulkan berbagai gejala klinis pada udang, seperti nekrosis insang, letargi, penurunan nafsu makan, bahkan dapat menyebabkan kematian hingga mencapai tingkat 100% pada kondisi akut. Bakteri V. parahaemolyticus, penyebab penyakit vibriosis pada udang, menginfeksi udang dengan melekat pada permukaan tubuh udang melalui flagella yang dimilikinya. Setelah melekat, bakteri ini dapat menembus jaringan udang melalui luka atau membran mukosa, kemudian berkembang biak di dalam tubuh udang dan menyebabkan infeksi. Selain itu, V. parahaemolyticus juga dapat menghasilkan toksin yang merusak sel-sel udang dan menyebabkan gejala.&#13;
Penelitian ini bertujuan menguji kombinasi serbuk batang pisang (Musa spp.) dan daun kelor (Moringa oleifera) sebagai imunostimulan dalam pencegahan infeksi V. parahaemolyticus  pada udang vaname. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari kontrol positif (K+), kontrol negatif (K-), 0,25 g kg-1  serbuk batang pisang + 0,25 g kg-1  serbuk daun kelor (A), 0,50 g kg-1  serbuk batang pisang + 0,50 g kg-1  serbuk daun kelor (B) dan 0,75 g kg-1  serbuk batang pisang + 0,75 g kg-1 serbuk daun kelor (C). Hewan uji yang digunakan yaitu udang vaname dengan bobot 2-3 g yang dipelihara dalam drum fiber selama 30 hari. Udang diberi pakan komersial dengan kadar protein 40%, kemudian di-coating dengan serbuk batang pisang dan serbuk daun kelor. Udang diberi makan dengan frekuensi 5 kali sehari. Udang diinfeksi dengan bakteri V. parahaemolyticus dengan kepadatan 106 CFU mL-1 yang merupakan hasil dari uji lethal dose 50 (LD50) pada hari ke-31. Parameter yang diukur dan diamati dalam penelitian ini mencakup kinerja pertumbuhan, meliputi biomasa awal, biomasa akhir, laju pertumbuhan spesifik, tingkat kelangsungan hidup dan rasio konversi pakan. Selanjutnya, dilakukan analisis respons imun yang terdiri dari total hemocyte count (THC), aktivitas fagositosis (AF), aktivitas phenoloxidase (PO), dan aktivitas respiratory burst (RB). Pengamatan lainnya meliputi analisis ekspresi gen imunitas pada udang vaname saat diuji tantang meliputi ekspresi gen Lipopolysaccharide- and ß-1, 3-glucan-binding protein (LGBP), prophenoxosidase (proPO) dan peroxinextine (PE). Pengamatan keragaman mikrobiota pada organ hepatopankreas dan usus, uji histologi pada hepatopankreas dan usus, serta pengamatan gejala klinis juga dilakukan saat uji tantang.&#13;
Hasil penelitian ini menunjukkan kombinasi bubuk batang pisang dan daun kelor melalui pakan terbukti dapat menghasilkan performa pertumbuhan yang optimal, dengan pakan diberikan setiap hari selama 30 hari sebelum uji tantang. Perlakuan C (0,75 g kg-1 serbuk batang pisang dan daun kelor) menunjukkan laju pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya, yang kemungkinan disebabkan oleh dosis optimal yang efektif menstimulasi respons imun sekaligus mendukung pertumbuhan yang lebih cepat dan efisien. Kinerja pertumbuhan yang baik tersebut juga berkorelasi positif dengan peningkatan respons imun, sebagaimana ditunjukkan melalui parameter respiratory burst (RB), aktivitas enzim fenoloksidase (PO), jumlah total hemosit (THC), serta aktivitas fagositosis (AF). Selain meningkatkan respons imun, penggunaan bubuk batang pisang dan daun kelor dalam pakan udang vaname secara signifikan meningkatkan ekspresi gen terkait imun dibandingkan kelompok kontrol. Parameter ekspresi gen yang diamati meliputi Lipopolysaccharide- and ß-1,3-glucan-binding protein (LGBP), prophenoloxidase (proPO), dan peroxinectin (PE). Analisis histopatologi juga menunjukkan kerusakan jaringan hepatopankreas dan usus pada semua perlakuan kecuali kontrol negatif (K-). Perlakuan C tetap mempertahankan struktur vili yang lebih utuh dan sehat dibandingkan dengan kontrol positif, menandakan integritas jaringan usus yang lebih baik.&#13;
Secara umum, pemberian kombinasi batang pisang dan daun kelor melalui pakan terbukti mampu meningkatkan performa pertumbuhan, menekan populasi bakteri Vibrio parahaemolyticus pada organ pencernaan serta meningkatkan respon imun serta gen imunitasnya. Hasil tersebut menunjukkan pemberian imunostimulan berupa kombinasi serbuk batang pisang dan daun kelor dapat membatu udang vaname dalam melawan infeksi dari bakteri V. parahaemolyticus.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>ANALISIS TARGET STRENGTH IN SITU–EX SITU DAN DENSITAS IKAN TONGKOL KOMO (Euthynnus affinis) MENGGUNAKAN BROADBAND ECHOSOUNDER</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174004" rel="alternate"/>
<author>
<name>Hidayat, Moh. Rafli Furqan</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174004</id>
<updated>2026-07-03T08:37:33Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">ANALISIS TARGET STRENGTH IN SITU–EX SITU DAN DENSITAS IKAN TONGKOL KOMO (Euthynnus affinis) MENGGUNAKAN BROADBAND ECHOSOUNDER
Hidayat, Moh. Rafli Furqan
Tongkol komo (Euthynnus affinis) merupakan salah satu ikan pelagis ekonomis penting di Indonesia yang rentan terhadap tekanan penangkapan. Pengelolaan stok ikan memerlukan metode pemantauan yang lebih akurat, salah satunya menggunakan teknologi broadband echosounder yang mampu mengukur respons hambur balik ikan pada rentang frekuensi yang luas. Namun, informasi mengenai karakteristik target strength (TS) tongkol komo berbasis broadband masih terbatas.Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis hubungan antara panjang ikan, frekuensi akustik, sudut orientasi tubuh, dan nilai TS ikan tongkol komo, serta mengestimasi densitas schooling ikan secara in situ. Pengukuran ex situ dilakukan pada sembilan spesimen ikan tongkol komo dengan panjang cagak (fork length) 23,3–46,0 cm dengan orientasi 0°, -45°, dan 45° pada rentang frekuensi 160-260 kHz. Pengukuran in situ dilakukan di perairan Palabuhanratu menggunakan broadband echosounder untuk mendeteksi schooling ikan dan mengestimasi densitasnya berdasarkan nilai Nautical Area Scattering Coefficient (NASC). Pengolahan data akustik dilakukan menggunakan perangkat lunak ESP3, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan MATLAB melalui pendekatan regresi logaritmik, regresi linear berganda, serta konversi target strength menjadi backscattering cross-section (sbs) untuk estimasi densitas ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai TS ex situ berada pada kisaran -49,50 dB hingga -20,84 dB, sedangkan nilai TS in situ berada pada kisaran -44,1 dB hingga -27,88 dB. Nilai TS cenderung meningkat seiring bertambahnya ukuran ikan, namun hubungan tersebut tidak linier karena setiap ukuran ikan menunjukkan respons spektral yang berbeda. Pergeseran frekuensi minimum TS juga menunjukkan bahwa setiap ukuran ikan memiliki signature spektral yang berbeda. Pada orientasi 0° dan -45°, frekuensi minimum cenderung bergeser ke frekuensi yang lebih tinggi seiring bertambahnya ukuran ikan, sedangkan pada orientasi 45° pola tersebut tidak lagi konsisten karena pengaruh orientasi tubuh menjadi lebih dominan. Model regresi terbaik diperoleh pada orientasi 0° dengan R² = 0,82, sedangkan model gabungan panjang ikan, frekuensi, dan sudut orientasi menghasilkan R² = 0,86. Pada pengukuran in situ ditemukan tiga schooling ikan dengan estimasi densitas berturut-turut sebesar 2,53 × 107 ikan/nmi², 2,89 × 107 ikan/nmi², dan 2,01 × 108 ikan/nmi². Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa broadband echosounder mampu menggambarkan karakteristik akustik tongkol komo secara rinci dan dapat digunakan sebagai dasar pengembangan metode identifikasi spesies, estimasi biomassa, dan pemantauan stok ikan tongkol komo di perairan Indonesia.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Efikasi Ekstrak Pasak Bumi Eurycoma longifolia terhadap  Status Kesehatan Udang Vaname yang Diinfeksi Vibrio parahaemolyticus</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173922" rel="alternate"/>
<author>
<name>Azzahra, Fatasya</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173922</id>
<updated>2026-07-02T06:27:45Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Efikasi Ekstrak Pasak Bumi Eurycoma longifolia terhadap  Status Kesehatan Udang Vaname yang Diinfeksi Vibrio parahaemolyticus
Azzahra, Fatasya
FATASYA AZZAHRA. Efikasi Ekstrak Pasak Bumi Eurycoma longifolia terhadap &#13;
Status Kesehatan Udang Vaname yang Diinfeksi Vibrio parahaemolyticus &#13;
Dibimbing  oleh SRI NURYATI, SUKENDA, dan DINAMELLA WAHJUNINGRUM. &#13;
&#13;
Udang vaname (Litopanaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas &#13;
utama akuakultur yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berkontribusi besar &#13;
terhadap produksi perikanan nasional. Namun demikian, wabah penyakit &#13;
meningkat dalam budidaya udang terutama yang disebabkan oleh patogen.  Salah &#13;
satu patogen utama pada budidaya udang vaname adalah Vibrio parahaemolitycus &#13;
yang dapat menyebakan vibriosis dan acute hepatopancreatic necrosis disease &#13;
(AHPND), dengan tingkat mortalitas yang tinggi dan berdampak serius terhadap &#13;
keberlanjutan usaha budidaya. Penggunaan antibiotik secara berlebihan untuk &#13;
mengendalikan penyakit tersebut berpotensi menimbulkan resistensi bakteri serta &#13;
residu yang berbahaya bagi lingkungan dan konsumen. &#13;
Pemanfaatan bahan alami berupa fitobiotik menjadi alternatif yang lebih &#13;
aman dan berkelanjutan. Pasak bumi (Eurycoma longifolia) memiliki kadungan &#13;
senyawa bioaktif yang berperan dalam aktivitas antibakteri dan imunostimulan. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menguji efikasi ekstrak pasak bumi dengan metode &#13;
infusi menggunakan konsentrasi berbeda melalui pakan terhadap status kesehatan &#13;
udang vaname yang diinfeksi bakteri V. parahaemolyticus. Penelitian ini &#13;
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan dan &#13;
tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari atas kontrol positif (K+), kontrol negatif (K-), &#13;
serta tiga perlakuan pakan yang mengandung ekstrak pasak bumi dengan dosis &#13;
1,5%, 2%, dan 3%. Ekstrak pasak bumi dibuat menggunakan metode infusi dengan &#13;
pelarut air panas. Uji aktivitas antibakteri dilakukan secara in vitro melalui metode &#13;
difusi agar dan penentuan nilai MIC dan MBC. Uji in vivo dilakukan melalui &#13;
pemberian pakan selama masa pemeliharaan, dilanjutkan dengan uji tantang &#13;
menggunakan V. parahaemolyticus. Parameter yang diamati meliputi aktivitas &#13;
antibakteri, respons imun, kinerja produksi, kelimpahan Vibrio, dan histopatologi &#13;
udang vaname. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak pasak bumi dengan berbagai &#13;
dosis memiliki nilai penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri V. &#13;
parahaemolyticus secara in vitro. Konsentrasi terendah ekstrak pasak bumi yang &#13;
mampu menghambat pertumbuhan bakteri V. parahaemolyticus RfR adalah 2,5 &#13;
mg/ml yang mampu menghambat sebesar 62,82%, dan konsentrasi yang mampu &#13;
menghambat pertumbuhan bakteri 100% adalah 15 mg/mL.  &#13;
Pada uji in vivo menunjukkan bahwa pemberian ekstrak pasak bumi dengan &#13;
berbagai dosis berbeda (1,5%, 2%, dan 3%) melalui pakan meningkatkan &#13;
kelangsungan hidup udang vaname secara signifikan (76,7%, 83,3%, dan 73,3%) &#13;
dibandingkan kontrol positif (K+) yang hanya mencapai 36,7%. Perlakuan dengan &#13;
pemberian ekstrak pasak bumi juga mampu mengurangi populasi bakteri V. &#13;
parahaemolyticus pada organ usus serta terjadi peningkatan nilai respons imun &#13;
seperti aktivitas fagositik, total haemocyte count, respiratory burst, dan &#13;
phenoloxidase. Histopatologi jaringan hepatopankreas dan usus pada perlakuan ekstrak pasak bumi cenderung lebih normal dan kerusakan yang terjadi lebih sedikit &#13;
dibandingkan perlakuan K+ ditandai dengan terjadi nekrosis yang parah.  &#13;
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak pasak &#13;
bumi yang diekstraksi menggunakan metode infusi pada pakan udang vaname &#13;
mampu meningkatkan status kesehatan udang vaname dengan hasil terbaik pada &#13;
dosis 2%. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu perlu dilakukan uji lanjutan &#13;
ekspresi gen untuk menganalisis mekanisme molekuler dari respon imun udang &#13;
vaname terhadap pemberian ekstrak pasak bumu (E. longifolia) dengan metode &#13;
infusi sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai gen&#13;
gen yang berperan dalam sistem pertahanan udang.; FATASYA AZZAHRA. The Efficacy of Eurycoma longifolia Pasak Bumi Extract &#13;
on the Health Status of Vaname Shrimp Infected with Vibrio Parahaemolyticus. &#13;
Supervised by SRI NURYATI.  SUKENDA, and DINAMELLA WAHJUNINGRUM.  &#13;
Vaname shrimp (Litopanaeus vannamei) is one of the main aquaculture &#13;
commodities with high economic value and contributes significantly to national &#13;
fishery production. However, disease outbreaks in aquaculture systems have &#13;
increased, particularly those caused by pathogenic bacteria. One of the main &#13;
pathogens in vaname shrimp farming is Vibrio parahaemolyticus, which can cause &#13;
vibriosis and acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND), with high &#13;
mortality rates and a serious impact on the sustainability of farming business. &#13;
Excessive use of antibiotics to control these disease has the potential to cause &#13;
bacterial resistance and residues that are harmful to the environment and &#13;
consumers.  &#13;
The use of natural ingredients in the form of phytobiotics is a safer and more &#13;
sustainable alternative. Eurycoma longifolia contains bioactive compounds that &#13;
play a role in antibacterial and immunostimulatory activities. This study aims to test &#13;
the efficacy of Eurycoma longifolia extract using the infusion method with different &#13;
concentrations through feed on the health status of vaname shrimp infected with V. &#13;
parahaemolyticus. This study used a completely randomized design (CRD) &#13;
consisting of five treatments and three replicates. The treatments consisted of a &#13;
positive control (K+), a negative control (K-), and three feed treatments containing &#13;
Eurycoma longifolia extract at doses pf 1,5%, 2%, and 3%. Pasak bumi extract was &#13;
prepared using the infusion method with hot water as the solvent. Antibacterial &#13;
activity was tested in vitro using the agar diffusion method and determining the &#13;
MIC and MBC values. In vivo testing was conducted by feeding the shrimp during &#13;
the experimental period, followed by a challange test using V. parahaemolyticus. &#13;
The parameters observed included antibacterial activity, immune response, &#13;
production performance, Vibrio abundance, and histopathology of vaname shrimp.  &#13;
The result showed that E. Longifolia extract at various doses inhibited the &#13;
growth of V. parahaemolyticus bacteria in vitro. The lowest concentration of E. &#13;
Longifolia capable of inhibiting the growth of V. parahaemolyticus RfR bacteria was &#13;
2,5 mg/mL, which inhibited growth by 62,82%, and the concentration capable of &#13;
inhibiting bacterial growth by 100% was 15 mg/mL.  &#13;
In vivo test showed that administering E. Longifolia extract at various doses &#13;
(1,5%, 2%, and 3%) through feed significantly increased the survival rate of &#13;
vaname (76,7%, 83,3%, and 73,3%) compared to the positive control  (K+), which &#13;
only reached 36,7%. Treatment with E. Longifolia extract  also reduced the &#13;
population of V. parahaemolyticus bacteria in the intestinal organs  and increased &#13;
immune response values such as phagocytic activity, total haemocyte count, &#13;
respiratory burst, and phenoloxidase. Histopathology of the hepatopancreatic and &#13;
intestinal tissues in the E. Longifolia extract treatment tended to be more normal &#13;
and showed less damage compared to the K+ treatment, which was characterized &#13;
by severe necrosis. &#13;
Based on these results, it can be concluded that the administration of E. &#13;
Longifolia extract, extracted using the infusion method in vaname shrimp feed can &#13;
improve the health status of vaname shrimp, with the best result at dose pf 2%. &#13;
Recommendation for further research include conducting additional gene &#13;
expression tests to analyze the molecular mechanism of the vaname shrimp’s &#13;
immune response to E. Longifolia extract administered via infusion, thereby &#13;
gaining a deeper understanding of the genes involved in the shrimps’s defense &#13;
systems.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
