<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MF - Fisheries</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73</id>
<updated>2026-09-17T11:35:14Z</updated>
<dc:date>2026-09-17T11:35:14Z</dc:date>
<entry>
<title>Dinamika Spasio Temporal dan Distribusi Vertikal Ikan di Rumpon Hanyut Laut Dalam dengan  Metode Hidroakustik Aktif</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179819" rel="alternate"/>
<author>
<name>Alwafia, Ramadhini Zulfa</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179819</id>
<updated>2026-08-27T06:18:56Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Dinamika Spasio Temporal dan Distribusi Vertikal Ikan di Rumpon Hanyut Laut Dalam dengan  Metode Hidroakustik Aktif
Alwafia, Ramadhini Zulfa
Rumpon merupakan struktur terapung yang dimanfaatkan ikan pelagis sebagai lokasi berasosiasi, berlindung, dan mencari makan. Keberadaan rumpon dapat membentuk agregasi ikan yang bersifat dinamis secara spasial dan temporal. Namun, informasi mengenai karakteristik akustik, distribusi vertikal, serta dinamika spasio-temporal ikan yang berasosiasi dengan rumpon di wilayah utara Laut Maluku masih terbatas. Kondisi oseanografi Laut Maluku yang kompleks sebagai bagian dari sistem Indonesian Throughflow (ITF) juga berpotensi memengaruhi pola distribusi dan pergerakan ikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik akustik ikan pelagis berdasarkan Target Strength (TS) dan Volume Backscattering Strength (SV), mengkaji pengaruh waktu dan kedalaman, mengidentifikasi dinamika spasio-temporal, serta mengaitkannya dengan kondisi oseanografi.&#13;
Penelitian menggunakan data hidroakustik hasil survei pada 10 rumpon di Laut Maluku pada 5–17 Januari 2016. Akuisisi dilakukan menggunakan Single Beam Echosounder SIMRAD EK-15 berfrekuensi 200 kHz. Data akustik diolah menggunakan ESP3 untuk memperoleh TS melalui Single Target Detection dan SV melalui Echo Integration. Analisis mencakup statistik deskriptif, distribusi berdasarkan waktu dan kedalaman, visualisasi spasial, analisis distribusi vertikal, integrasi dengan suhu, salinitas, dan arus, serta Generalized Additive Model (GAM) untuk menguji hubungan waktu dan kedalaman terhadap TS dan SV.&#13;
Hasil menunjukkan nilai SV sebesar -52,29 ± 4,17 dB dan TS sebesar -51,36 ± 3,55 dB, yang menunjukkan variasi kepadatan agregasi dan karakteristik ukuran relatif target ikan pelagis yang terdeteksi di sekitar rumpon. Komposisi tangkapan mendukung interpretasi tersebut, dengan dominasi ikan layang (Decapterus spp.), tongkol (Euthynnus spp.), tuna sirip kuning/madidihang (Thunnus albacares), dan cakalang (Katsuwonus pelamis). Dinamika distribusi menunjukkan adanya perubahan posisi agregasi menurut siklus harian, dengan kecenderungan ikan berada lebih dalam pada siang hari dan kembali ke lapisan lebih dangkal pada sore hingga malam. Secara horizontal, agregasi membentuk pola linear, radial, bergeser, dan menyebar. Analisis GAM menunjukkan waktu pengamatan dan kedalaman berpengaruh signifikan terhadap TS dan SV. Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa distribusi ikan pelagis di sekitar rumpon bersifat dinamis dan mencerminkan interaksi antara perilaku ikan dan kondisi oseanografi perairan Laut Maluku.; Fishing aggregating devices (FADs) are floating structures used by pelagic fish as sites for aggregation, shelter, and foraging. The presence of FADs can lead to fish aggregations that are spatially and temporally dynamic. However, information regarding the acoustic characteristics, vertical distribution, and spatiotemporal dynamics of fish associated with FADs in the northern Maluku Sea remains limited. The complex oceanographic conditions of the Maluku Sea, as part of the Indonesian Throughflow (ITF) system, also have the potential to influence fish distribution patterns and movements. Therefore, this study was conducted to analyze the acoustic characteristics of pelagic fish based on Target Strength (TS) and Volume Backscattering Strength (SV), examine the effects of time and depth, identify spatiotemporal dynamics, and relate these to oceanographic conditions.&#13;
The study utilized hydroacoustic data collected during surveys at 10 fish aggregating devices (FADs) in the Maluku Sea from January 5–17, 2016. Data acquisition was performed using a SIMRAD EK-15 Single Beam Echosounder operating at 200 kHz. Acoustic data were processed using ESP3 to obtain TS via Single Target Detection and SV via Echo Integration. The analysis included descriptive statistics, distributions based on time and depth, spatial visualization, vertical distribution analysis, integration with temperature, salinity, and currents, as well as a Generalized Additive Model (GAM) to test the relationships between time and depth and TS and SV.&#13;
The results showed an SV value of -52.29 ± 4.17 dB and a TS value of -51.36 ± 3.55 dB, indicating variations in aggregation density and the relative size characteristics of pelagic fish targets detected around the FADs. The catch composition supports this interpretation, with a dominance of flying fish (Decapterus spp.), skipjack tuna (Euthynnus spp.), tuna sirip kuning/madidihang (Thunnus albacares), and skipjack tuna (Katsuwonus pelamis). Distribution dynamics revealed changes in aggregation positions according to a diurnal cycle, with fish tending to stay at deeper depths during the day and return to shallower layers in the afternoon through the evening. Horizontally, aggregations formed linear, radial, shifting, and dispersed patterns. GAM analysis showed that time and depth had a significant effect on TS and SV. Overall, the study indicates that the distribution of pelagic fish around fish aggregating devices is dynamic and reflects the interaction between fish behavior and the oceanographic conditions of the Maluku Sea.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Penilaian Jasa dan Valuasi Ekonomi Ekosistem Mangrove pada Kawasan Budidaya Wanamina</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179740" rel="alternate"/>
<author>
<name>Andhika, Laila Sari</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179740</id>
<updated>2026-08-19T03:46:20Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Penilaian Jasa dan Valuasi Ekonomi Ekosistem Mangrove pada Kawasan Budidaya Wanamina
Andhika, Laila Sari
Konversi lahan pesisir secara masif untuk sektor akuakultur sejak era Majapahit, yang kian tereskalasi oleh dinamika ekonomi pada akhir abad ke-20, telah memicu deforestasi dan degradasi ekologis yang ekstensif pada ekosistem mangrove di Indonesia. Tekanan antropogenik yang berakumulasi dengan stressor alami telah mendisrupsi kapasitas zona pesisir ini dalam mensuplai jasa ekosistem yang esensial. Meskipun integrasi antara akuakultur dan konservasi mangrove melalui sistem wanamina tradisional telah diimplementasikan guna mensinergikan resiliensi ekonomi lokal dengan restorasi pesisir, kajian empiris yang mengkomparasi performa aktualnya terhadap ekosistem alami masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi trade-off ekologis dan ekonomis antara ekosistem alami dan sistem yang termodifikasi secara antropogenik, guna merumuskan landasan empiris bagi tata kelola sumber daya pesisir yang seimbang dan berkelanjutan.&#13;
Penelitian lapangan dilaksanakan pada bulan September hingga Oktober 2024 di tiga desa pesisir di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah: Sawojajar, Kaliwlingi, dan Randusanga Wetan. Kondisi biofisik dikuantifikasi pada 18 plot sampel guna mengukur kerapatan spesies dan metrik diameter, sampling kualitas air, serta instrumen litter trap untuk estimasi produksi serasah. Secara simultan, data sosio-ekonomi dihimpun dari 64 responden nelayan dan petambak lokal melalui teknik purposive dan snowball sampling guna mendukung valuasi pasar (market valuation) dan non-pasar (non-market valuation), yang diintegrasikan dengan pemodelan contingent valuation untuk mengukur kesediaan membayar masyarakat. Seluruh luaran biofisik dan finansial selanjutnya dievaluasi menggunakan analisis regresi linier berganda, sementara perumusan hierarki manajemen strategis diformulasikan melalui Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan konsensus rata-rata geometrik (geometric mean) dari para pakar regional.&#13;
Analisis biofisik mengindikasikan bahwa kedua sistem ekosistem saat ini merepresentasikan tingkat keanekaragaman spesies yang tergolong rendah, namun dengan nilai dominansi dan kerapatan yang tinggi, yang secara mayoritas direpresentasikan oleh Rhizophora mucronata dan Avicennia marina. Secara khusus, persentase tutupan kanopi mangrove pada kawasan wanamina teridentifikasi hanya berkisar antara 7% hingga 40%, yang mana tereduksi secara kritis di bawah ambang batas optimal (65% hingga 80%) yang dipersyaratkan untuk menyokong produktivitas ekosistem.&#13;
Studi ini menyingkap divergensi yang signifikan dalam produktivitas ekonomi, di mana ekosistem mangrove alami menghasilkan Nilai Ekonomi Total (NET) yang jauh lebih superior sebesar Rp231,68 miliar (Rp1,25 miliar/ha/tahun) dibandingkan dengan sistem wanamina yang menghasilkan Rp12,82 miliar (Rp52,17 juta/ha/tahun). Kendati kedua sistem mentransmisikan klaster jasa ekosistem yang relatif ekuivalen, mangrove alami memegang keunggulan absolut dalam provisi manfaat tidak langsung (indirect benefits), seperti atenuasi gelombang, purifikasi air, dan sekuestrasi karbon, serta jasa kultural berupa&#13;
ekowisata. Sebaliknya, sistem wanamina secara dominan diutilisasi oleh masyarakat pesisir untuk mendulang nilai guna langsung (direct use values) melalui ekstraksi komoditas akuakultur.&#13;
Uji regresi linier berganda memvalidasi bahwa metrik kualitas lingkungan memberikan determinasi yang fluktuatif terhadap nilai ekonomi. Parameter kualitas air berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengembalian ekonomi (economic returns) masyarakat pada ekosistem wanamina, dan indeks kualitas ekosistem mangrove alami juga memperlihatkan pengaruh signifikan secara simultan. Namun demikian, indikator fisik spesifik pada sistem wanamina, yakni tutupan kanopi mangrove dan luas area tambak, tidak berkorelasi secara signifikan terhadap nilai ekonomi. Anomali statistik ini mengindikasikan bahwa luasan eksisting tutupan mangrove wanamina lokal (7-40%) berstatus sub-optimal, sehingga gagal mencapai kapasitas daya dukung ekologis yang direkomendasikan (65-80%) guna merealisasikan produktivitas ekonomi yang stabil.&#13;
Sintesis matriks pakar berbasis AHP memformulasikan prioritas strategis yang didominasi oleh urgensi aspek sosial (0,3756), disusul oleh determinan ekologis (0,3216) dan pertimbangan ekonomi (0,3026). Rekomendasi taktis yang menempati hierarki puncak mencakup legalisasi kelembagaan kelompok pengelola masyarakat melalui Surat Keputusan (SK) resmi, restorasi tambak tidak produktif untuk diintegrasikan kembali ke dalam sistem wanamina, serta konseptualisasi regulasi lokal guna memitigasi dan mendeterensi aktivitas pemancingan ilegal. Pada akhirnya, kerangka empiris ini membuktikan bahwa resolusi konflik tata kelola sosio-institusional dan pemulihan daya dukung ekologis merupakan prasyarat mutlak yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum optimalisasi ekonomi jangka panjang dapat tereksekusi secara berkelanjutan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Modifikasi Bagan Tancap Untuk  Mengetahui Celah Pelolosan di Teluk Palabuhanratu</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179738" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sudrajad, Dirfas Heronseva</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179738</id>
<updated>2026-08-19T03:43:15Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Modifikasi Bagan Tancap Untuk  Mengetahui Celah Pelolosan di Teluk Palabuhanratu
Sudrajad, Dirfas Heronseva
Nelayan bagan khususnya nelayan di Desa Sangrawayang ,Palabuhanratu &#13;
sering merasa hasil tangkapan bagan tidak maksimal. Hasil tangkapan sering kali &#13;
lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah ikan yang ada di daerah tangkapan &#13;
(catchable area). Hal tersebut dikarenakan permasalahan kecepatan penarikan &#13;
jaring bagan. Menurut nelayan desa sangrawayang, pada saat penarikan waring &#13;
bagan terdapat jeda waktu untuk ikan dapat melarikan diri atau keluar dari &#13;
catchable area bagan.  &#13;
Berdasarkan permasalahan tersebut dibuatlah inovasi berupa modifikasi &#13;
bagan tancap. Modifikasi berupa penambahan jaring di setiap sisi bagan tancap. &#13;
Jaring yang digunakan disetiap sisi depan-belakang dan kiri-kanan menggunakan &#13;
jaring gillnet 3 lapis (trammel net). Penelitian ini bertujuan untuk membuat desain &#13;
dan kontruksi bagan trammel net serta Analisis celah pelolosan bagan tancap &#13;
dengan jaring trammel net di Teluk Palabuhanratu. Pengambilan data dilakukan &#13;
menggunakan metode experimental fishing dan efektifitas bagan trammel net &#13;
dianalisis menggunakan rumus pendekatan efektivitas.  &#13;
Hasil penelitian menunjukan  alat tangkap bagan tancap dapat dimodifikasi &#13;
dengan penambahan jaring trammel net yang mengelilingi bagan tancap. Efektivitas &#13;
bagan tancap berada pada nilai 71%, nilai efektivitas tersebut termasuk kedalam &#13;
kategori efektif karena nilai efektivitas berada diatas 60%. Efektivitas jaring &#13;
trammel net berada di nilai 29% dimana ada sebesar 29% celah pelolosan untuk &#13;
ikan dapat keluar, jika nelayan menggunakan bagan tancap dengan jaring trammel &#13;
net nilai efektivitas menjadi 100%.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>KINERJA LOGISTIK IKAN, MUTU IKAN CAKALANG  (Katsuwonus pelamis) DAN STRATEGI PENINGKATANNYA DI  PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179730" rel="alternate"/>
<author>
<name>Amaliyah, Nurnazmi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179730</id>
<updated>2026-08-19T03:33:37Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">KINERJA LOGISTIK IKAN, MUTU IKAN CAKALANG  (Katsuwonus pelamis) DAN STRATEGI PENINGKATANNYA DI  PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN
Amaliyah, Nurnazmi
Perikanan tangkap merupakan sektor yang berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan dan perekonomian Indonesia, dengan pelabuhan perikanan berperan sebagai titik strategis dalam rantai pasok ikan mulai dari pendaratan hasil tangkapan hingga distribusi ke pasar domestik dan ekspor. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman, sebagai salah satu pelabuhan perikanan tipe A terbesar di Indonesia, memiliki kompleksitas logistik yang tinggi karena menjadi simpul utama pendaratan berbagai jenis kapal dan komoditas. Implementasi Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 58 Tahun 2021 di pelabuhan ini belum berjalan optimal, dengan tantangan berupa keterbatasan fasilitas rantai dingin, sistem pencatatan dan pengawasan mutu yang kurang efisien, serta waktu bongkar muat yang belum sesuai kebutuhan. Kondisi tersebut mendasari perlunya kajian yang mengintegrasikan aktivitas logistik, fasilitas, mutu ikan, dan kinerja logistik secara menyeluruh, sebagai dasar penyusunan strategi peningkatan yang tepat sasaran.&#13;
&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aktivitas dan fasilitas logistik serta mutu ikan, menganalisis kinerja logistik ikan, dan menyusun strategi peningkatan kinerja logistik ikan di PPS Nizam Zachman. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2025 hingga April 2026 menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, kuesioner, dan uji organoleptik, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen dan laporan statistik pelabuhan. Kinerja logistik ikan diukur menggunakan Indeks Kinerja Logistik Ikan (IKLI) yang terdiri atas lima dimensi, yaitu Pengelolaan Pengadaan Hasil Perikanan, Efisiensi, Konektivitas, Manfaat, dan Tata Kelola. Mutu ikan dinilai melalui uji organoleptik terhadap ikan cakalang pada kondisi beku dan setelah thawing, di titik palka kapal dan Unit Pengolahan Ikan (UPI). Selanjutnya, strategi peningkatan kinerja logistik ikan disusun melalui analisis SWOT berdasarkan faktor internal dan eksternal yang diperoleh dari hasil pengukuran IKLI serta wawancara dengan informan kunci.&#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas logistik ikan di PPS Nizam Zachman berlangsung dalam lima tahapan utama, yaitu kedatangan kapal, pembongkaran, penimbangan dan pencatatan, pelunasan Pungutan Hasil Perikanan, serta distribusi, yang seluruhnya mengacu pada kerangka SLIN dan didukung oleh sistem digital. Distribusi hasil perikanan didominasi pasar ekspor (62%) dibandingkan pasar domestik (38%), menegaskan peran PPS Nizam Zachman sebagai simpul logistik perikanan bernilai ekonomi tinggi berskala global. Namun demikian, mutu ikan cakalang mengalami penurunan yang signifikan sepanjang rantai penanganan dari palka kapal menuju UPI, dengan nilai organoleptik pada kondisi setelah thawing di UPI berada di bawah ambang batas minimum kelayakan konsumsi, menjadikan tahap thawing di UPI sebagai titik kritis yang memerlukan perhatian khusus.&#13;
&#13;
Pengukuran IKLI menunjukkan kinerja logistik ikan berada pada kategori Baik dengan skor agregat 75,38, dengan dimensi Manfaat mencapai skor tertinggi dan dimensi Tata Kelola mencapai skor terendah. Temuan penting dari penelitian ini adalah adanya kesenjangan antara penilaian kinerja logistik yang secara umum tergolong baik dengan kondisi mutu ikan cakalang aktual pada titik kritis tertentu, yang menunjukkan bahwa skor kinerja agregat belum tentu mencerminkan kondisi di setiap titik rantai penanganan.&#13;
&#13;
Hasil analisis Matriks Internal-Eksternal (IE) menempatkan posisi kinerja logistik ikan PPS Nizam Zachman pada Sel V Matriks IE, yang tergolong kelompok stabilitas, sehingga strategi yang paling sesuai adalah mempertahankan kinerja yang telah berjalan baik sambil melakukan perbaikan secara terukur. Strategi yang paling direkomendasikan adalah integrasi sistem pencatatan dan ketertelusuran data yang telah berjalan baik dengan sistem digital pelabuhan, guna memperkuat transparansi dan efisiensi distribusi ikan. Implikasi dari penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan pengendalian mutu pada tahap thawing di UPI serta peningkatan konektivitas dan tata kelola logistik, sebagai upaya mewujudkan sistem logistik ikan yang efektif, efisien, dan berkelanjutan di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
