<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MT - Veterinary Science</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/72" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/72</id>
<updated>2026-04-10T21:48:14Z</updated>
<dc:date>2026-04-10T21:48:14Z</dc:date>
<entry>
<title>Karakterisasi Molekuler dan Evaluasi Model Infeksi Bakteri Avibacterium paragallinarum Isolat Lokal Penyebab Penyakit Coryza pada Ayam</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172326" rel="alternate"/>
<author>
<name>Karunia, Nia</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172326</id>
<updated>2026-01-23T15:33:26Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Karakterisasi Molekuler dan Evaluasi Model Infeksi Bakteri Avibacterium paragallinarum Isolat Lokal Penyebab Penyakit Coryza pada Ayam
Karunia, Nia
Coryza merupakan salah satu penyakit pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Avibacterium paragallinarum (A. paragallinarum). Penyakit ini menimbulkan ancaman besar bagi kesehatan dan produktivitas unggas, terutama di negara-negara tropis seperti Indonesia. Meskipun kasusnya banyak dilaporkan, informasi mengenai karakteristik molekuler, patogenisitas, dan dinamika infeksi isolat lokal Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk karakterisasi molekuler dan mengevaluasi model infeksi A. paragallinarum dari ayam yang menunjukkan gejala klinis coryza.&#13;
&#13;
Sebanyak 60 sampel swab dikoleksi dari peternakan ayam di wilayah Kabupaten Bogor dan sekitarnya. Identifikasi dilakukan melalui pendekatan fenotipik (kultur pada media yang disuplemen Nicotinamide Adenine Dinucleotide [NAD], pewarnaan Gram, dan uji biokimia) serta konfirmasi molekuler menggunakan PCR HPG-2, ERIC-PCR, dan sekuensing gen 16S rRNA. Desain primer dilakukan menggunakan sekuens dari GenBank dan menargetkan gen HMTp210. Pada pemodelan infeksi, empat kelompok ayam digunakan yaitu kelompok kontrol, kelompok inokulasi A. paragallinarum, kelompok koinfeksi Staphylococcus aureus, dan kelompok transmisi. Bakteri diinokulasi ke sinus infraorbital, gejala klinis diamati, skor rata-rata harian dicatat, dan konfirmasi kembali dilakukan dengan PCR HPG-2. &#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 37 dari 60 sampel terkonfirmasi positif A. paragallinarum menggunakan PCR HPG-2, namun hanya delapan isolat yang berhasil dikultur. Uji biokimia memperlihatkan hasil uji katalase dan oksidase negatif, serta tampilan bakteri Gram negatif. Analisis sekuens menunjukkan homologi 95,7–99,2% dengan strain referensi A. paragallinarum di GenBank, dan homologi 96,5–99,2% antar isolat. Pohon filogenetik menunjukkan semua sampel berada dalam klade yang sama, namun berbeda klade dengan strain referensi. Evaluasi keragaman genetik dilakukan melalui ERIC-PCR, yang mengidentifikasi lima kelompok di antara isolat, menunjukkan variasi genomik yang cukup besar. Upaya desain primer baru yang dilakukan belum berhasil membedakan serovar isolat Indonesia secara spesifik. Sementara itu, uji patogenisitas dan pemodelan infeksi berhasil mengevaluasi gejala klinis kategori ringan yang ditunjukkan dari ayam yang telah ditantang dengan positif A. paragallinarum dari hasil uji PCR mulai hari ke-2 pasca infeksi.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengembangan Indirect ELISA Untuk Menguji Keberadaan Antibodi Gallibacterium anatis Pada Ayam Petelur</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172219" rel="alternate"/>
<author>
<name>Jannah, Raudatul</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172219</id>
<updated>2026-01-21T11:46:19Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengembangan Indirect ELISA Untuk Menguji Keberadaan Antibodi Gallibacterium anatis Pada Ayam Petelur
Jannah, Raudatul
Gallibacterium anatis merupakan bakteri patogen yang menyebabkan gallibacteriosis pada unggas. Infeksi oleh G. anatis menyebabkan penurunan produksi telur hingga 30% dan epididimitis pada ayam jantan. Kejadian infeksi G. anatis dilaporkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan digolongkan sebagai Emerging disease. Variabilitas genomik dan fenotipik antar isolat lapang, menjadi tantangan dalam pengembangan diagnostik dan vaksin yang efektif. Metode deteksi berbasis Polymerase Chain Reaction (PCR) selama ini lebih berfokus pada identifikasi agen penyakit, sementara data serologis G. anatis, khususnya di Indonesia masih terbatas. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan dan menyeleksi antigen G. anatis isolat lokal sebagai protein deteksi pada uji indirect Enzyme Link Immunosorbant Assay (ELISA) serta untuk memperoleh gambaran seroprevalensi G. anatis &#13;
	Penelitian diawali dengan karakterisasi isolat arsip secara biologis dan molekular. Isolat selanjutnya digunakan untuk pembuatan vaksin oil adjuvant untuk imunisasi serta produksi sel bakteri untuk ekstraksi antigen. Sampel antigen hasil perlakuan diukur konsentrasi antigennya dengan UV-Spektrofotometer, kemudian dianalisis dengan SDS-PAGE dan Western blotting. Serum kontrol positif digunakan dalam proses optimasi in-house ELISA, yang selanjutnya diterapkan menggunakan serum sampel lapang. &#13;
	Hasil penelitian menunjukan bahwa pengembangan indirect ELISA untuk menguji keberadaan antibodi G. anatis berhasil dilakukan. Berdasarkan hasil optimasi, antigen dengan perlakuan sonikasi pada konsentrasi 7,1 µg/mL terpilih sebagai kandidat optimal sebagai coating. Antigen sonikasi juga menunjukan risiko reaksi silang yang lebih rendah dibanding perlakuan lain. Pengujian konjugat antibodi sekunder diperoleh optimal pada pengenceran 1:8000 dan menghasilkan rasio P/N tertinggi (4,07) dengan background noise minimal. &#13;
Berdasarkan pengamatan uji patogenisitas, gejala klinis berupa pembengkakan pada infraorbital dan nassal discharge mulai muncul pada hari ke-2 pasca infeksi, dengan peningkatan gejala dominan pada kelompok infeksi antara hari ke-6 hingga ke-14. Sementara itu, pada kelompok transmisi gejala klinis terjadi pada hari ke-8 hingga ke-10 sebelum menurun pada hari ke-12 dan ke-14. Uji patogenisitas menunjukkan nilai S/P kelompok infeksi berada pada rentang 0,047–0,204, dengan nilai cut-off masing-masing 0,156 (±2SD) dan 0,189 (±3SD). Hasil sensitivitas dan spesifisitas yang diperoleh masing-masing 85% dan 94%.  Pada pengujian in-house ELISA dari 56 serum lapang diperoleh nilai seroprevalensi G. anatis 64%
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Karakterisasi Virus Penyakit Mulut&#13;
dan Kuku Isolat dari Provinsi Jawa Barat Tahun 2022-2023.</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172205" rel="alternate"/>
<author>
<name>Nurdiansyah, Muhammad Hanif</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172205</id>
<updated>2026-02-18T02:14:47Z</updated>
<published>2016-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Karakterisasi Virus Penyakit Mulut&#13;
dan Kuku Isolat dari Provinsi Jawa Barat Tahun 2022-2023.
Nurdiansyah, Muhammad Hanif
Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah infeksi virus akut dan sangat menular yang menyerang berbagai hewan berkuku genap/belah. Pada tahun 2022, PMK re-emerging di Indonesia, dengan wabah yang dilaporkan di beberapa provinsi, termasuk Jawa Barat. Kemunculan kembali ini telah menimbulkan kekhawatiran tentang pengelolaan dan pengendalian penyakit, terutama mengingat karakteristik virus yang kompleks. Virus PMK menunjukkan karakteristik yang berbeda berdasarkan serotipe. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi gejala klinis PMK pada beberapa jenis hewan yang rentan, mendeteksi, mengisolasi, dan mengkarakterisasi virus PMK penyebab wabah 2022-2023 di Jawa Barat. Studi ini mengumpulkan 31 sampel dari Kabupaten Sumedang dan Sukabumi di Provinsi Jawa Barat, yang terkena wabah PK antara tahun 2022 dan 2023. Pemeriksaan klinis dilakukan pada hewan yang diduga terinfeksi virus PMK; 31 sampel tersebut terdiri dari 20 sapi, 9 kerbau, dan 2 kambing. Pemeriksaan laboratorium yang digunakan adalah deteksi molekuler dengan RT-qPCR, isolasi dan serial passage, identifikasi dengan RT-PCR, dan karakterisasi molekuler dengan sekuensing. Gejala klinis yang diamati meliputi demam (52%), salivasi dan keluarnya cairan hidung berlebihan (45%), lepuh di mulut (42%), pincang (23%), dan lesi kaki (16%). Hasil RT-qPCR dari 30 dari 31 sampel (97%) menunjukkan positif virus PMK. Total 30 sampel positif PMK dengan RT-qPCR, 8 sampel diantaranya diidentifikasi sebagai serotipe O dengan ukuran amplikon RT-PCR 1135 bp. Virus PMK berhasil dikultur dalam sel BHK-21 dan menunjukan efek sitopatik (kematian atau kerusakan sel) dalam waktu 24–72 jam. Serial passage dan analisis sekuensing protein VP1 pada passage 1 (P1), passage 5 (P5), dan passage 10 (P10) menunjukkan mutasi titik substitusi. Titik mutasi P1 di protein terletak pada basa 618; P2 pada basa 618, 624, dan 667; P3 pada basa 618, 667, dan 790. Gejala klinis penyakit mulut dan kuku (PMK) yang diamati pada sapi, kerbau, dan kambing di Provinsi Jawa Barat konsisten dengan yang dilaporkan sebelumnya. Virus PMK terdeteksi pada 97% hewan yang menunjukkan gejala klinis dalam penelitian ini.; Foot and mouth disease (FMD) is an acute and highly contagious viral infection that affects various cloven-hoofed animals. In 2022, FMD re-emerged in Indonesia, with outbreaks reported in several provinces, including West Java. This resurgence has raised concerns about the management and control of the disease, especially given the virus's complex characteristics. FMD virus exhibits distinct characteristics based on serotypes. This study aims to identify clinical symptoms of FMD in different species, to detect, to isolate and to characterize the FMD virus causing the 2022-2023 outbreak in West Java. This study collected 31 samples from Sumedang and Sukabumi districts in West Java Province, which were affected by FMD outbreaks between 2022 and 2023. Clinical examinations were conducted on animals suspected of being infected with the FMD virus; the 31 samples comprised 20 cattle, 9 buffaloes, and 2 goats. The study method used was molecular detection with RT-qPCR, isolation and serial passage, identification with RT-PCR, and molecular characterization with sequencing. The observed clinical symptoms included fever (52%), excessive salivation and nasal discharge (45%), vesicles in the mouth (42%), lameness (23%), and leg lesions (16%). The RT-qPCR result of 30 out of 31 samples (97%) tested positive for FMD virus. Of the 30 samples that were positive for FMD, 8 were identified as serotype O, with an RT-PCR amplicon size of 1135 bp. FMD virus was successfully cultured in BHK-21 cells, producing a cytopathic effect (CPE) within 24–72 hours. Serial passage and sequencing analysis of the VP1 protein at passage 1 (P1), passage 5 (P5), and passage 10 (P10) revealed point substitution mutations. The point mutations in P1 in the VP1 protein are located at base 618; P2 at bases 618, 624, and 667; and P3 at bases 618, 667, and 790. The clinical symptoms of FMD observed in cattle, buffalo, and goats in West Java Province are consistent with those previously reported. FMD virus was detected in 97% of animals showing clinical signs in this study.
</summary>
<dc:date>2016-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Potensi Ekstrak Daun Ciplukan (Physalis angulata L.) untuk Perbaikan Reproduksi Tikus Betina Pasca Injeksi Busulfan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172171" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sulistyana , Yanti</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172171</id>
<updated>2026-02-18T02:19:55Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Potensi Ekstrak Daun Ciplukan (Physalis angulata L.) untuk Perbaikan Reproduksi Tikus Betina Pasca Injeksi Busulfan
Sulistyana , Yanti
Kanker merupakan penyebab kematian utama di dunia dan Indonesia.&#13;
Busulfan, sebagai salah satu obat kemoterapi untuk kanker hematopoietik dapat&#13;
mengganggu siklus reproduksi wanita dan menyebabkan kegagalan ovarium.&#13;
Ciplukan (Physalis angulata L.) mengandung fitosteroid yang berpotensi&#13;
menyeimbangkan homeostasis hormon reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk&#13;
menganalisis potensi ekstrak daun ciplukan dalam perbaikan siklus reproduksi dan&#13;
tingkat keberhasilan kebuntingan tikus betina setelah pemberian busulfan. Metode&#13;
meliputi uji in vitro, in vivo, dan in silico. Uji in vitro mengukur aktivitas&#13;
antioksidan, kandungan fitosteroid, total fenol, dan total flavonoid. Uji in vivo&#13;
menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan, yaitu: kontrol,&#13;
busulfan (dosis 300 mg/kgBB), ciplukan (dosis 40 mg/kgBB selama 28 hari),&#13;
busulfan diikuti ciplukan (selang 14 hari), dan busulfan bersamaan ciplukan&#13;
(bersamaan) untuk mengevaluasi perbaikan siklus reproduksi dan tingkat&#13;
keberhasilan kebuntingan. Profiling metabolit menggunakan LC-HRMS dan&#13;
analisis in silico menggunakan farmakologi jaringan dan penambatan molekuler&#13;
untuk menganalisis mekanisme molekuler dari kandungan metabolit. Ekstrak&#13;
ciplukan menunjukkan aktivitas antioksidan sedang, akibat peran kombinasi&#13;
fitosteroid, fenolik, dan flavonoid. Pemberian ekstrak ciplukan in vivo dapat&#13;
memperbaiki siklus estrus akibat kerusakan oleh busulfan, tetapi memiliki efek&#13;
menurunkan tingkat keberhasilan kebuntingan seperti pada pemberian busulfan.&#13;
Profiling metabolit menghasilkan 77 metabolit, dengan metabolit fitosteroid&#13;
Physalin F berperan sebagai modulator hormonal, sedangkan flavonoid Albanol A&#13;
dan Rutin berperan sebagai antioksidan. Physalin F menunjukkan sifat antagonis&#13;
terhadap estrogen reseptor 1 (ESR1), sebaliknya Albanol A bersifat agonis ESR1.&#13;
Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun ciplukan memiliki mekanisme ganda yang&#13;
mampu memperbaiki siklus reproduksi akibat busulfan tetapi menurunkan tingkat&#13;
keberhasilan kebuntingan pada tikus betina.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
