<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MF - Agriculture</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71</id>
<updated>2026-07-01T11:58:28Z</updated>
<dc:date>2026-07-01T11:58:28Z</dc:date>
<entry>
<title>Pemetaan Lahan Terbangun Berbasis Indeks Spektral dan Tingkat Kerawanan Banjir di Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173725" rel="alternate"/>
<author>
<name>APRILIANDI, MUH. WAHYU</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173725</id>
<updated>2026-06-26T07:58:57Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pemetaan Lahan Terbangun Berbasis Indeks Spektral dan Tingkat Kerawanan Banjir di Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa
APRILIANDI, MUH. WAHYU
Peningkatan jumlah penduduk menjadi salah satu fenomena demografis yang dialami oleh berbagai tingkat wilayah administratif di Indonesia, salah satunya Kecamatan Pallangga di Kabupaten Gowa. Peningkatan ini tidak terlepas dari posisinya sebagai kawasan penyangga aktivitas perkotaan karena berdekatan dengan ibu kota kabupaten serta didukung oleh aksesibilitas yang cukup baik. Peningkatan jumlah penduduk akan meningkatkan kebutuhan lahan terbangun, sehingga mendorong perluasan lahan terbangun yang umumnya berasal dari konversi lahan non-terbangun. Peningkatan lahan terbangun di Kecamatan Pallangga penting diperhatikan karena dapat memengaruhi kondisi wilayahnya. Sebagian besar wilayah Kecamatan Pallangga berada di bagian hilir DAS Jeneberang dan didominasi oleh lereng datar, sehingga perluasan lahan terbangun berpotensi memengaruhi proses hidrologi wilayah. Peningkatan lahan terbangun dapat mengurangi area resapan, menurunkan infiltrasi, dan meningkatkan limpasan permukaan yang berpotensi memicu genangan serta banjir. Kondisi tersebut dapat semakin meningkatkan kerawanan banjir di Kecamatan Pallangga. Dalam konteks tersebut, pemetaan kerawanan banjir menjadi penting untuk memberikan gambaran spasial mengenai wilayah yang berpotensi terdampak banjir. Kepadatan lahan terbangun menjadi salah satu parameter penting karena dapat menunjukkan sejauh mana permukaan kedap air mendominasi suatu area. Pemantauan lahan terbangun dapat dilakukan secara efektif dengan memanfaatkan data penginderaan jauh yang dikombinasikan dengan pendekatan berbasis indeks spektral untuk mengidentifikasi karakteristik lahan terbangun. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: (1) membandingkan akurasi hasil identifikasi tutupan lahan terbangun di Kecamatan Pallangga dengan menggunakan beberapa pendekatan berbasis indeks spektral pada citra Landsat-8 dan Sentinel-2; (2) menganalisis perubahan luas tutupan lahan terbangun di Kecamatan Pallangga tingkat desa/kelurahan pada tahun 2018 dan 2024; (3) menganalisis tingkat kerawanan banjir berdasarkan parameter kepadatan lahan terbangun, jarak sungai, elevasi relatif, dan kemiringan lereng di Kecamatan Pallangga; dan (4) merumuskan rekomendasi untuk meminimalisir risiko banjir berdasarkan kerawanan banjir di Kecamatan Pallangga. &#13;
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: (1) metode indeks spektral dan rule-based untuk mengidentifikasi tutupan lahan terbangun di Kecamatan Pallangga serta overall accuracy (OA) untuk menguji akurasi dari beberapa pendekatan berbasis indeks spektral yang digunakan dalam mengidentifikasi tutupan lahan terbangun; (2) aritmetika sederhana berupa selisih tutupan lahan terbangun tahun 2018 dan 2024 untuk mengetahui perubahan luas; overlay untuk mengidentifikasi status perubahan tutupan lahan tahun 2018 sampai 2024 dan konsistensi tutupan lahan terhadap rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten Gowa; (3) pembobotan untuk menentukan tingkat kerawanan banjir, dan (4) deskriptif untuk menentukan saran rekomendasi meminimalisir risiko banjir berdasarkan kerawanan banjir di Kecamatan Pallangga.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari enam pendekatan berbasis indeks spektral (NDBI; UI; SwiRed; ENDBI; KI; dan SIRBC) yang digunakan untuk memetakan tutupan lahan terbangun tahun 2024, pendekatan spectral index rule-based classification (SIRBC) memberikan akurasi tertinggi baik untuk citra Landsat-8 maupun Sentinel-2. Nilai overall accuracy (OA) SIRBC untuk citra Landsat-8 dan Sentinel-2 masing-masing sebesar 84,8% dan 88,6%. Hasil tersebut menjadi dasar untuk melanjutkan pengolahan data terkait perubahan luas tutupan lahan terbangun tingkat desa/kelurahan. Berdasarkan hasil selisih tutupan lahan terbangun tahun 2018 sampai 2024, setiap desa/kelurahan yang ada di Kecamatan Pallangga mengalami peningkatan tutupan lahan terbangun, meskipun masih didominasi oleh lahan non-terbangun pada tahun 2024. Berdasarkan perbandingan antara rencana tata ruang wilayah (RTRW) dengan tutupan lahan terbangun dan non-terbangun tahun 2024, terdapat ketidakselarasan antara rencana tata ruang wilayah dengan tutupan lahan. Ketidakselarasan tersebut khususnya terjadi di Kelurahan Parangbanoa, ditandai dengan kawasan pertanian terkonversi menjadi lahan terbangun. Tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Pallangga didominasi oleh kelas kerawanan sedang sebesar 50,8%, yang menunjukkan bahwa lebih dari setengah luas total wilayah Kecamatan Pallangga berada pada kondisi peralihan antara tingkat kerawanan rendah dan tinggi. Secara umum, rekomendasi untuk meminimalisir risiko banjir berdasarkan hasil analisis kerawanan banjir di Kecamatan Pallangga meliputi pengelolaan perkembangan lahan terbangun, pengelolaan sistem drainase, serta pengelolaan badan sungai.; Population growth is one of the demographic phenomena experienced by various administrative regions in Indonesia, including Pallangga District in Gowa Regency. This growth is closely linked to the district’s role as a buffer zone for urban activities, given its proximity to the regency capital and its relatively good accessibility. Population growth will increase the demand for built-up land, thereby driving the expansion of built-up areas, which typically result from the conversion of undeveloped land. The expansion of built-up land in Pallangga District needs to be closely monitored as it can impact the region’s conditions. Most of Pallangga District is located in the lower reaches of the Jeneberang Watershed and is dominated by flat slope, meaning that the expansion of built-up land has the potential to affect the region’s hydrological processes. Increased built-up land can reduce infiltration areas, decrease infiltration rates, and increase surface runoff, which has the potential to trigger waterlogging and flooding. These conditions could further increase flood susceptibility in Pallangga District. In this context, flood susceptibility mapping is crucial for providing a spatial overview of areas potentially affected by flooding. Built-up land density is a key parameter because it indicates the extent to which impervious surfaces dominate a given area. Monitoring of built-up land can be conducted effectively by utilizing remote sensing data combined with spectral index-based approaches to identify the characteristics of built-up land. Based on this, this study aims to: (1) compare the accuracy of built-up land cover identification results in Pallangga District using several spectral index-based approaches on Landsat-8 and Sentinel-2 imagery; (2) analyze changes in the area of built-up land cover in Pallangga District at the village/subdistrict level in 2018 and 2024; (3) analyze flood susceptibility level based on parameters of built-up land density, river distance, relative elevation, and slope in Pallangga District; and (4) formulate recommendations to minimize flood risk based on flood susceptibility in Pallangga District&#13;
The analytical methods used in this study include: (1) spectral index and rule-based methods to identify built-up land cover in Pallangga District, as well as overall accuracy (OA) to assess the accuracy of several spectral index-based approaches used to identify built-up land cover; (2) simple arithmetic, specifically the difference in built-up land cover between 2018 and 2024 to determine changes in area; overlay analysis to identify changes in land cover status from 2018 to 2024 and the consistency of land cover with the Gowa Regency Regional Spatial Plan (RTRW); (3) weighting to determine flood susceptibility level, and (4) descriptive analysis to formulate recommendations for minimizing flood risks based on flood susceptibility in Pallangga District.&#13;
The results of the study show that of the six spectral index-based approaches (NDBI; UI; SwiRed; ENDBI; KI; and SIRBC) used to map built-up land cover in 2024, the spectral index rule-based classification (SIRBC) approach provided the highest accuracy for both Landsat-8 and Sentinel-2 imagery. The overall accuracy (OA) values for SIRBC were 84.8% for Landsat-8 imagery and 88.6% for Sentinel-2 imagery. These results serve as the basis for further data processing regarding changes in the extent of built-up land cover at the village/subdistrict level. Based on the results of the difference in built-up land cover from 2018 to 2024, every village in Pallangga District experienced an increase in built-up land cover, although non-built-up land still dominated in 2024. Based on a comparison between the Regional Spatial Plan (RTRW) and built-up and non-built-up land cover in 2024, there is a mismatch between the Regional Spatial Plan and land cover. This mismatch is particularly evident in Parangbanoa Subdistrict, marked by agricultural areas being converted into built-up land. The flood susceptibility level in Pallangga District is dominated by the moderate susceptibility category at 50.8%, indicating that more than half of the total area of Pallangga District falls in the transitional zone between low and high susceptibility level. In general, recommendations to minimize flood risk based on the results of the flood susceptibility analysis in Pallangga District include managing the development of built-up areas, managing drainage systems, and managing river channels.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Arahan Kebijakan dan Strategi Pengelolaan DAS Ciliwung Hulu</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173724" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ain, Mihyal</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173724</id>
<updated>2026-06-26T07:57:19Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Arahan Kebijakan dan Strategi Pengelolaan DAS Ciliwung Hulu
Ain, Mihyal
Konservasi sumber daya air merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan berkelanjutan. Namun demikian, implementasinya menghadapi tantangan yang kompleks, terutama dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai sistem hidrologis yang sekaligus menjadi ruang interaksi berbagai aktivitas pembangunan. DAS Ciliwung Hulu mencerminkan kondisi tersebut, tekanan pemanfaatan ruang akibat ekspansi permukiman, pariwisata, dan infrastruktur telah mendorong perubahan penggunaan lahan secara signifikan, sehingga berdampak pada penurunan kualitas lingkungan wilayah dan daya dukung DAS Ciliwung Hulu. Status DAS Ciliwung sebagai DAS strategis nasional menuntut pengelolaan yang terintegrasi dan berkelanjutan, yang didukung oleh implementasi kebijakan secara konsisten hingga tingkat tapak untuk mengatasi berbagai tekanan yang memengaruhi daya dukung DAS. Namun, degradasi lahan serta kejadian bencana hidrometeorologi yang terus berulang menunjukkan bahwa pengelolaan DAS belum berjalan efektif, sekaligus mengindikasikan adanya policy-implementation gap antara kebijakan yang dirumuskan dengan realitas di lapangan sebagaimana mestinya. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi arahan kebijakan dan strategi pengelolaan DAS Ciliwung Hulu, menganalisis implementasinya terhadap kondisi eksisting, serta merumuskan arahan kebijakan yang lebih adaptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis berbasis content analysis untuk menelaah substansi kebijakan, yang diintegrasikan dengan analisis spasial melalui teknik overlay guna mengidentifikasi inkonsistensi pemanfaatan ruang, serta penilaian daya dukung DAS berdasarkan Permenhut P.61/Menhut-II/2014. Hasil analisis kemudian disintesis menggunakan Logical Framework Analysis (LFA) untuk merumuskan rekomendasi kebijakan yang sistematis dan kontekstual. Hasil analisis isi menunjukkan bahwa kawasan hulu diposisikan sebagai kawasan strategis yang berbasis pada fungsi lindung dan konservasi lingkungan. Kebijakan yang berlaku pada berbagai tingkat pemerintahan menekankan pentingnya perlindungan kawasan hulu sebagai penyangga sistem hidrologis wilayah yang lebih luas. Strategi pengelolaan yang dirumuskan umumnya berorientasi pada pendekatan pencegahan, perlindungan, dan pemulihan guna menjaga serta meningkatkan kualitas lingkungan dan fungsi ekologis DAS secara berkelanjutan. Analisis implementasi kebijakan dan strategi pengelolaan DAS Ciliwung Hulu dengan kondisi eksisting menunjukkan adanya policy implementation gap yang ditandai oleh tingginya inkonsistensi pemanfaatan ruang, yang mengindikasikan lemahnya efektivitas pengendalian tata ruang serta hasil penilaian daya dukung DAS Ciliwung Hulu yang berada pada kategori rendah dengan skor daya dukung DAS 120.75. Penurunan kapasitas ekologis dan hidrologis DAS Ciliwung Hulu yang tercermin dari rendahnya nilai daya dukung DAS menunjukkan bahwa tekanan pemanfaatan ruang dan degradasi lingkungan telah melampaui kemampuan sistem DAS dalam mempertahankan fungsinya secara optimal. Temuan ini menegaskan bahwa permasalahan DAS Ciliwung Hulu tidak terletak pada ketiadaan kebijakan atau instrumen pengelolaan, melainkan pada belum efektifnya tata kelola pembangunan dalam menempatkan daya dukung lingkungan sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Arahan kebijakan DAS Ciliwung hulu kedepannya difokuskan pada pengendalian dan penertiban pemanfaatan ruang serta pemulihan fungsi DAS. Adapun strategi utama yang dirumuskan dalam mendukung arahan kebijakan tersebut yaitu menghentikan eksploitasi pada kawasan lindung, penataan dan pengendalian tata ruang, pemulihan dan pelestarian ekosistem DAS, serta penguatan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Penerapan strategi tersebut diharapkan mampu memperbaiki kondisi biofisik DAS, mengurangi tekanan terhadap sumber daya lahan dan air, serta meningkatkan keberlanjutan pengelolaan DAS Ciliwung Hulu sebagai DAS strategis nasional.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Penentuan Tingkat Masak Fisiologis dan Efektivitas Seed Coating dalam Meningkatkan Daya Simpan Benih Pisang Liar Musa acuminata var. rutilifes</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173619" rel="alternate"/>
<author>
<name>Putri, Desi Anggia</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173619</id>
<updated>2026-06-24T00:03:29Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Penentuan Tingkat Masak Fisiologis dan Efektivitas Seed Coating dalam Meningkatkan Daya Simpan Benih Pisang Liar Musa acuminata var. rutilifes
Putri, Desi Anggia
Tanaman pisang terbagi menjadi pisang budidaya (tanpa biji) dan pisang liar (berbiji), salah satunya Musa acuminata var. rutilifes yang masih minim informasi di Indonesia. Keragaman plasma nutfah pisang liar ini penting dijaga melalui konservasi dan pengembangan lebih lanjut. Upaya pelestarian dapat dilakukan dengan karakterisasi benih, dimana mutu fisiologis benih sangat dipengaruhi oleh tingkat masak saat panen yang menentukan mutu awal sekaligus daya simpan. Penyimpanan benih merupakan strategi penting untuk menjaga mutu fisiologis dan konservasi genetik, meskipun tingkat masak fisiologis berbeda antar komoditas, aksesi, maupun varietas. Salah satu inovasi yang relevan untuk konservasi adalah penerapan teknologi seed coating yang berfungsi sebagai lapisan protektif dalam penyimpanan sekaligus media penghantar zat pengatur tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan masak fisiologis benih pisang liar Musa acuminata var. rutilifes berdasarkan karakteristik buah, viabilitas, vigor, dan bobot kering benih maksimum berdasarkan hari yang tepat setelah reseptif (HSR) serta mengevaluasi efektivitas seed coating dalam meningkatkan daya simpan benih yang telah masak fisiologis.&#13;
Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cibinong, Bogor, Jawa Barat pada bulan Februari 2025 hingga Januari 2026. Percobaan pertama disusun menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan satu faktor, yaitu umur panen yang terdiri atas lima taraf berdasarkan HSR. Percobaan kedua disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan rancangan tersarang (nested), melibatkan dua faktor, yaitu suhu ruang simpan sebagai faktor sarang dan seed coating serta periode simpan sebagai faktor tersarang.&#13;
Hasil percobaan pertama, karakteristik buah Musa acuminata var. rutilifes berubah sesuai umur panen, dengan panjang, diameter, dan bobot buah mencapai puncak pada 90–100 HSR, sedangkan kelunakan tertinggi (7,9 mm/152,5g/5 detik) dan jumlah benih per buah terendah (59 butir) terjadi pada 130 HSR. Masak fisiologis benih dicapai pada 130 HSR dengan bobot kering benih 0,32 g, vigor 22,66%, dan viabilitas maksimum 39,33% serta hasil uji tetrazolium benih viabel 82%. Analisis korelasi menunjukkan kelunakan buah berkorelasi positif dengan mutu benih, sedangkan diameter, bobot, dan jumlah buah berkorelasi negatif. Percobaan kedua, efektivitas coating belum terbukti dapat memperpanjang daya simpan benih yang disebabkan adanya faktor penghambat akibat testa tebal yang dominan membatasi perkecambahan. Hasil SEM memperlihatkan struktur testa berlapis dan mikropil yang tebal yang menjelaskan sifat impermeabel testa.; Banana plants are classified into cultivated bananas (seedless) and wild bananas (seeded), among which Musa acuminata var. rutilifes remains poorly documented in Indonesia. Preserving the genetic diversity of these wild bananas is essential through conservation and further development. Such efforts can be undertaken via seed characterization, as the physiological quality of seeds is strongly influenced by the maturity stage at harvest, which determines both initial quality and storability. Seed storage constitutes a crucial strategy for maintaining physiological quality and genetic conservation, although the stage of physiological maturity differs among commodities, accessions, and varieties. One relevant innovation for conservation is the application of seed coating technology, which serves both as a protective layer during storage and as a medium for delivering plant growth regulators. This study aimed to determine the physiological maturity of wild banana Musa acuminata var. rutilifes seeds based on fruit characteristics, viability, vigor, and maximum seed dry weight at the appropriate days after receptivity (DAR), and to evaluate the effectiveness of seed coating in enhancing the storability of physiologically mature seeds.&#13;
Experiments were conducted at the Experimental Field of the National Research and Innovation Agency (BRIN), Cibinong, Bogor, West Java, from February 2025 to January 2026. The first experiment was designed using a randomized complete block design with a single factor, harvest age, consisting of five levels based on DAR. The second experiment was designed using a randomized block design with a nested structure, involving two factors: storage room temperature as the main factor, and seed coating and storage period as the nested factors.&#13;
In the first experiment, the fruit characteristics of Musa acuminata var. rutilifes varied with harvest age, with fruit length, diameter, and weight peaking at 90–100 DAR, while the greatest softness (7.9 mm/152.5 g/5 seconds) and the lowest seed number per fruit (59 seeds) were observed at 130 DAR. Physiological seed maturity was demonstrated at 130 DAR, as indicated by maximum seed dry weight of 0.32 g, vigor of 22.66%, viability of 39.33% and tetrazolium test results showing 82% viable seeds. Correlation analysis revealed that fruit softness was positively associated with seed quality, whereas fruit diameter, weight, and number were negatively associated. In the second experiment, the effectiveness of seed coating in extending seed storability was not demonstrated, due to inhibitory factors associated with the thick testa, which more dominantly restricted germination. SEM observations revealed a multilayered testa structure and a thick micropyle, which explain the testa impermeability.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Potensi Carbon dots Kulit Nanas dan Buah Belimbing Wuluh dalam Mengendalikan Tobacco mosaic virus dan Aphis gossypii Glover.</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173227" rel="alternate"/>
<author>
<name>Huriyah, Zahrotul</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173227</id>
<updated>2026-06-03T06:07:20Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Potensi Carbon dots Kulit Nanas dan Buah Belimbing Wuluh dalam Mengendalikan Tobacco mosaic virus dan Aphis gossypii Glover.
Huriyah, Zahrotul
Carbon dots (CDs) adalah nanomaterial berbasis karbon berukuran &lt;10 nm tengah mendapat perhatian besar sebagai salah satu pendekatan berkelanjutan yang relatif lebih aman. CDs memiliki solubilitas tinggi, biokompatibel, dan toksisitas sangat rendah (negligible) dengan karakteristik khas fluoresens di bawah penyinaran ultraviolet. Selain itu, CDs memiliki karakteristik fungsional yang mudah dimodifikasi layaknya nanopartikel dalam mengendalikan virus tumbuhan. CDs dapat disintesis dengan strategi bottom-up dan top-down dari berbagai sumber, termasuk biomassa tanaman seperti kulit nanas dan belimbing wuluh yang banyak tersedia di lingkungan sekitar rumah. CDs selama ini lebih banyak dimanfaatkan dalam biomedicine sebagai antivirus, drug delivery, dan sensor. Pemanfaatannya dalam bidang proteksi tanaman masih jarang dikaji dan sampai saat ini belum terdapat laporan ilmiah terkait pemanfaatan CDs berbasis biomassa tanaman untuk mengendalikan virus tumbuhan dan serangga vektor, khususnya di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menyintesis dan mencirikan CDs dari kulit nanas [Ananas comosus (L.) Merr.] dan buah belimbing wuluh [Averrhoa bilimbi (L.)] serta mengkaji potensi pemanfaatannya dalam mengendalikan infeksi Tobacco mosaic virus (TMV) (Virgaviridae: Tobamovirus) dan aktivitas insektisidanya terhadap kutu daun Aphis gossypii Glover. (Hemiptera: Aphididae). TMV merupakan virus penting dengan kisaran inang luas, mudah ditularkan secara mekanis, serta memiliki stabilitas partikel dan virulensi yang tinggi. Kutu daun merupakan hama dan vektor penting yang menularkan dan menyebarkan virus tumbuhan. Keduanya digunakan sebagai objek penelitian ini karena peran pentingnya dalam pertanian.&#13;
Sintesis CDs dari ekstrak kulit nanas dan buah belimbing wuluh dilakukan menggunakan metode microwave dan hydrothermal. Sebagai pembanding digunakan CDs dari bahan kimia asam askorbat (ascorbic acid). CDs dicirikan berdasarkan bentuk dan ukuran, sifat optik, dan gugus fungsional. Analisis karakteristik CDs dilakukan menggunakan high resolution transmission electron microscope (HR-TEM) untuk menentukan bentuk dan ukuran CDs, spectrofluorometer untuk menguantifikasi sifat photoluminescence (PL), spektrofotometer UV-Vis untuk mengukur penyerapan cahaya, dan spektroskopi fourier transform infrared (FTIR) untuk mengetahui gugus fungsi CDs.&#13;
Potensi CDs dalam mengendalikan TMV dilakukan dengan penyemprotan daun tanaman indikator Chenopodium amaranticolor pada 24 jam sebelum dan sesudah inokulasi TMV pada konsentrasi 100, 200, 300, dan 400 ppm. Parameter yang diamati berupa masa inkubasi, jumlah lesio lokal nekrotik (LLN), akumulasi virus secara serologi, dan tingkat hambatan relatifnya. Aktivitas insektisida CDs terhadap kutu daun dilakukan dengan penyemprotan secara langsung menggunakan konsentrasi terbaik dari pengujian pada tanaman indikator. Parameter yang diamati yaitu mortalitas kutu daun pada 12, 24, dan 48 jam setelah penyemprotan CDs.&#13;
CDs kulit nanas dan buah belimbing wuluh berhasil disintesis berukuran 5,5–9,8 nm dengan bentuk amorf hingga kristalin, memiliki luminesensi tinggi dan kemampuan penyerapan pada daerah ultraviolet. Masing-masing CDs tersusun oleh gugus hidroksil dari pelarutnya, alkena hasil karbonisasi, dan isothiocyanate yang umumnya berasal dari senyawa alami tanaman. Aplikasi penyemprotan daun dengan CDs, baik sebelum maupun sesudah inokulasi TMV, mampu menunda masa inkubasi sehari lebih lama dibandingkan kontrol tanpa perlakuan. Gejala infeksi TMV pada daun C. amaranticolor diawali dengan lesio lokal klorotik yang berkembang menjadi LLN. Peningkatan konsentrasi CDs yang digunakan menyebabkan makin sedikit jumlah LLN yang muncul. Perlakuan CDs secara nyata menghambat gejala LLN dibandingkan kontrol tanpa perlakuan dengan tingkat hambatan relatif berkisar 31%–91% bergantung jenis dan konsentrasi CDs. Akumulasi virus pada perlakuan CDs terdeteksi negatif TMV dengan keefektifan dalam menurunkan titer virus sebesar 25%–53%. Berdasarkan hasil penelitian waktu aplikasi sebelum atau sesudah inokulasi virus menunjukkan keefektifan sebanding dan konsentrasi terbaik CDs 400 ppm.&#13;
Kutu daun Aphis gossypii Glover. teridentifikasi berdasarkan bentuk tubuh membulat, tungkai panjang dan ramping, sepasang antena tegak, serta warna tubuh beragam dari kuning kehijauan hingga hijau kehitaman. Secara mikroskopis, A. gossypii memiliki ciri morfologi khas yakni sepasang kornikel dan kauda dengan 2–3 setae pada ujung abdomen.  Aplikasi semprot CDs pada kutu daun A. gossypii mampu menyebabkan mortalitas berkisar 35%–55% pada pengamatan 48 jam setelah penyemprotan CDs. CDs kulit nanas dan buah belimbing wuluh menyebabkan mortalitas kutu daun lebih tinggi tetapi tidak berbeda nyata dengan CDs asam askorbat sebagai pembanding, mengindikasikan aktivitas biologis CDs relatif sama. Berdasarkan hasil penelitian, CDs kulit nanas dan buah belimbing wuluh terbukti mampu menekan gejala LLN oleh TMV dan memiliki aktivitas insektisida terhadap kutu daun; mengindikasikan potensi CDs sebagai penginduksi ketahanan, bersifat antivirus, dan nanobioinsektisida. Potensi ini perlu dikaji lebih lanjut keefektifannya terhadap infeksi mekanis TMV pada mentimun inang aslinya dan perlu ditingkatkan keefektifan CDs sebagai nanobioinsektisida melalui doping dengan bahan-bahan lainnya.; Carbon dots (CDs), carbon-based nanomaterials measuring &lt;10 nm, are gaining significant attention as a relatively safe and sustainable approach. CDs are highly soluble, biocompatible, and exhibit negligible toxicity, with characteristic fluorescence under ultraviolet irradiation. Furthermore, CDs possess functional properties that can be easily modified, similar to those of nanoparticles, to control plant viruses. CDs can be synthesized using bottom-up and top-down strategies from various sources, including plant biomass such as pineapple peel and bilimbi fruit, which are readily available in the home environment. CDs have primarily been used in biomedicine as antivirals, drug-delivery systems, and sensors. Their use in plant protection has been rarely studied, and to date, there have been no scientific reports on the use of plant biomass-based CDs to control plant viruses and insect vectors, particularly in Indonesia. Therefore, this study aimed to synthesize and characterize CDs from pineapple peel [Ananas comosus (L). Merr.] and bilimbi fruit [Averrhoa bilimbi (L.)]  and to assess their potential use in controlling Tobacco mosaic virus (TMV) (Virgaviridae: Tobamovirus) infections and their insecticidal activity against aphids Aphis gossypii Glover. (Hemiptera: Aphididae). TMV is an important virus with a wide host range, is easily mechanically transmitted, and exhibits high particle stability and virulence. Aphids are important pests and vectors that transmit and spread plant viruses. Both were included in this study because of their important role in agriculture.&#13;
The synthesis of CDs from pineapple peel and bilimbi fruit was carried out using microwave and hydrothermal methods. CDs derived from ascorbic acid were used as a comparison. CDs were characterized by shape and size, optical properties, and functional groups. Analysis of CD characteristics was performed using a high-resolution transmission electron microscope (HR-TEM) to determine CD shape and size, a spectrofluorometer to quantify photoluminescence (PL) properties, a UV-Vis spectrophotometer to measure light absorption, and Fourier transform infrared (FTIR) spectroscopy to determine CD functional groups.&#13;
The potential of CDs in controlling TMV was determined by spraying the leaves of the indicator plant Chenopodium amaranticolor 24 hours before and after TMV inoculation at concentrations of 100, 200, 300, and 400 ppm. The parameters observed were the incubation period, the number of necrotic local lesions (NLL), the virus accumulation by serological test, and the relative inhibition level. The insecticidal activity of CDs against aphids was determined by direct spraying using the best concentration from the test on indicator plants. The parameters observed were aphid mortality at 12, 24, and 48 hours after the CDs spraying.&#13;
Pineapple peel and bilimbi fruit CDs were successfully synthesized with a size of 5,5–9,8 nm with an amorphous to crystalline form, possessing high luminescence and ultraviolet absorption capabilities. Each CD is composed of hydroxyl groups from the solvent, carbonized alkenes, and isothiocyanates, which are generally derived from natural plant compounds. Foliar spraying with CDs, both before and after TMV inoculation, delayed the incubation period by 1 day compared with the untreated control. Symptoms of TMV infection on C. amaranticolor leaves began with local chlorotic lesions that developed into NLL. Increasing the concentration of CDs used resulted in fewer NLL numbers. CD treatment significantly inhibited LLN symptoms compared with the untreated control, with relative inhibition rates ranging from 31%–91% depending on the type and concentration of CDs. Virus accumulation in the CDs treatment was detected as TMV-negative, with an effectiveness of reducing virus titer by 25%–53%. Based on the research results, the CDs application before and after virus inoculation demonstrated comparable effectiveness at the optimal concentration of 400 ppm.&#13;
Aphids Aphis gossypii Glover. are identified by their rounded body shape, long, slender legs, a pair of erect antennae, and varying body color from greenish-yellow to blackish-green. Microscopically, A. gossypii has distinctive morphological characteristics: a pair of cornicles and a cauda, with 2–3 setae at the tip of the abdomen. Spraying CDs onto A. gossypii aphids caused mortality ranging from 35%–55% at 48 hours after spraying. CDs derived pineapple peel and bilimbi fruit caused higher aphid mortality, but not significantly different from the ascorbic acid CDs used as a comparison, indicating relatively similar biological activity. Based on the research results, CDs derived pineapple peel and bilimbi fruit suppressed NLL symptoms caused by TMV and exhibited insecticidal activity against aphids, indicating their potential as resistance inducers, antiviral agents, and nano-bioinsecticides. This potential needs to be further studied for its effectiveness against mechanical infection of TMV in its native host, cucumber, and the effectiveness of CDs as a nanobioinsecticide needs to be increased through doping with other materials.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
