<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MT - Agriculture</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71</id>
<updated>2026-05-18T20:41:26Z</updated>
<dc:date>2026-05-18T20:41:26Z</dc:date>
<entry>
<title>Serangan Ulat Grayak Spodotera frugiperda J.E Smith (Lepidoptera: Noctuidae) pada Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173086" rel="alternate"/>
<author>
<name>Nurfi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173086</id>
<updated>2026-05-17T06:11:37Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Serangan Ulat Grayak Spodotera frugiperda J.E Smith (Lepidoptera: Noctuidae) pada Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah
Nurfi
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu komoditas pangan utama di Sulawesi Tengah, namun keberlanjutan produksinya terancam oleh serangan hama invasif ulat grayak jagung (Spodoptera frugiperda). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika populasi larva S. frugiperda dan intensitas serangannya pada pertanaman jagung di lokasi penelitian, mengevaluasi keberadaan serta peran musuh alami yang berasosiasi dengan S. frugiperda pada pertanaman jagung, dan menganalisis pengaruh karakteristik petani dan praktik budidaya terhadap dinamika populasi Spodoptera frugiperda serta strategi pengendalian yang diterapkan oleh petani jagung di Kabupaten Sigi.&#13;
Penelitian dilaksanakan di lima kecamatan yang berada di Kabupaten Sigi yaitu Gumbasa, Tanambulava, Sigi Biromaru, Dolo Barat dan Sigi Kota pada Oktober 2024 hingga April 2025. Data populasi dan intensitas serangan dikumpulkan melalui pengamatan langsung pada 500 tanaman jagung dan wawancara terhadap 100 petani responden. Adapun parameter lain yang diamati meliputi keberadaan hama lain, serta musuh alami berupa predator dan parasitoid. Analisis data dilakukan dengan analysis of variance (ANOVA), rancangan acak kelompok (RAK) yang dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf kepercayaan 95%.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi dan intensitas serangan S. frugiperda berfluktuasi sepanjang pengamatan, dengan puncak serangan pada pengamatan 4 minggu setelah tanam (MST) saat fase vegetatif pertengahan. Kecamatan Gumbasa dan Tanambulava mencatat intensitas serangan tertinggi, sedangkan Sigi Kota terendah. Selain S. frugiperda, ditemukan pula hama lain seperti belalang, wereng jagung, dan kumbang daun, serta penyakit bulai, karat daun, dan hawar bakteri. Musuh alami yang ditemukan meliputi predator Rhinocoris sp., Menochilus sexmaculata, dan Chrysoperla sp. serta parasitoid telur Telenomus sp. yang berperan penting dalam menekan populasi hama.&#13;
Hasil wawancara menunjukkan mayoritas petani masih mengandalkan pestisida sintetik, sementara penggunaan pestisida nabati serta penerapan kultur teknis masih terbatas. Faktor karakter umum petani, termasuk umur, pendidikan, dan pengalaman bertani, turut memengaruhi strategi pengendalian hama yang diterapkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa S. frugiperda merupakan ancaman utama bagi produksi jagung di Kabupaten Sigi, dengan periode kritis serangan pada minggu kedua hingga keempat setelah tanam. Namun demikian, keberadaan musuh alami serta peluang peningkatan penerapan praktik budi daya berkelanjutan memberikan dasar penting bagi pengembangan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Rekomendasi yang diajukan mencakup peningkatan penyuluhan, konservasi musuh alami, pemanfaatan pestisida nabati berbasis bahan lokal, serta diversifikasi pola tanam untuk menekan risiko serangan hama.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>PROFIL FENOLAT Arachis pintoi DAN POTENSINYA SEBAGAI BIOHERBISIDA PRE-EMERGENCE</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173050" rel="alternate"/>
<author>
<name>Jasadin, Isma Muliani</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173050</id>
<updated>2026-05-07T06:07:19Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">PROFIL FENOLAT Arachis pintoi DAN POTENSINYA SEBAGAI BIOHERBISIDA PRE-EMERGENCE
Jasadin, Isma Muliani
Gulma merupakan salah satu faktor utama yang menurunkan produktivitas tanaman, sementara penggunaan herbisida sintetis secara intensif dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan serta meningkatkan risiko terjadinya resistensi. Arachis pintoi merupakan tanaman legum tropis yang diketahui memiliki potensi alelopatik karena kandungan metabolit sekundernya, terutama senyawa fenolat, sehingga berpeluang dikembangkan sebagai sumber bioherbisida alami. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi profil senyawa fenolat dalam ekstrak A. pintoi menggunakan analisis LC–MS, (2) mengevaluasi efektivitas berbagai konsentrasi ekstrak A. pintoi dalam menghambat perkecambahan dan pertumbuhan awal gulma, dan (3) menganalisis efektivitas berbagai konsentrasi ekstrak A. pintoi dalam mengendalikan gulma secara pre-emergence serta dampaknya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni–November 2025 melalui identifikasi profil senyawa fenolik ekstrak A. pintoi dengan LC-MS, bioassay di laboratorium dengan lima taraf konsentrasi ekstrak (0 g/L, 50 g/L, 100 g/L, 150 g/L dan 200 g/L), serta bioassay di lapangan dengan enam taraf, yaitu weed free, 0 g/L, 50 g/L, 100 g/L, 150 g/L dan 200 g/L. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak A. pintoi mengandung beberapa senyawa fenolik utama, termasuk asam salisilat, N-feruloilglisin, asetilsalisilat (aspirin), kurkumin, zingerol, asam gentisat, dan 4-hidroksibenzaldehida dengan total fenol sebesar 22.050,12 mg/kg. Bioassay di laboratorium menunjukkan bahwa penghambatan perkecambahan dan pertumbuhan awal gulma meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi, dengan penghambatan maksimum diamati pada 200 g/L sekitar 66% pada Eulesine indica, 64% pada Cyperus iria, dan 72% pada Borreria alata. Gulma berdaun lebar lebih sensitif daripada gulma rumput dan teki, sedangkan perkecambahan dan pertumbuhan awal jagung tidak berpengaruh secara signifikan. Bioassay di lapangan menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak A. pintoi secara pre-emergence mampu menekan pertumbuhan gulma. Konsentrasi 200 g/L memberikan penekanan gulma tertinggi dan menghasilkan berat tongkol jagung tanpa kelobot tertinggi dibandingkan perlakuan lain, tanpa menyebabkan gejala fitotoksisitas yang signifikan pada tanaman jagung. Temuan ini menunjukkan bahwa A. pintoi berpotensi dikembangkan sebagai bioherbisida pre-emergence yang selektif dan ramah lingkungan untuk pengendalian gulma secara berkelanjutan dalam sistem pertanian tropis.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pendugaan Mutu Benih Kacang Tanah Melalui Laju Respirasi Benih dengan Sensor NDIR CO2</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172935" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sukahet, I Gede Tirta</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172935</id>
<updated>2026-04-14T04:05:37Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pendugaan Mutu Benih Kacang Tanah Melalui Laju Respirasi Benih dengan Sensor NDIR CO2
Sukahet, I Gede Tirta
Benih kacang tanah (Arachis hypogaea L.) mudah menurun mutu fisiologisnya selama proses penyimpanan akibat kandungan lemak dan protein yang tinggi. Evaluasi mutu benih konvensional membutuhkan waktu yang lama oleh karena itu dibutuhkan metode yang cepat dan non-destruktif dalam mengetahui mutu fisiologis benih. Laju respirasi CO2 berpotensi sebagai metode uji cepat dalam menduga mutu benih. Namun, penelitian sebelumnya menemukan korelasi yang beragam antara mutu benih dengan laju respirasi pada berbagai komoditas. Penggunaan Sensor NDIR CO2 memungkinkan pengukuran laju respirasi secara real-time, bersifat objektif, dan bersifat non-destruktif terhadap benih. &#13;
	Penelitian terdiri dari dua percobaan. Percobaan 1 bertujuan untuk memperoleh berbagai lot benih kacang tanah dengan variasi mutu fisiologis pada varietas Kelinci dan Domba. Benih kacang tanah diberikan perlakuan pengusangan uap etanol dalam wadah vakum selama 0, 10, 20, 30, dan 40 menit. Benih yang telah diusangkan dilakukan pengujian mutu benih. Percobaan 2 bertujuan untuk mengukur laju respirasi selama 24 jam dengan interval 3 jam menggunakan sensor NDIR CO2. Hasil laju respirasi selanjutnya dikorelasikan dan dibuat persamaan regresi dengan mutu fisiologis yang diperoleh pada percobaan 1. &#13;
	Percobaan 1 menunjukkan bahwa pengusangan uap etanol selama 20 menit sudah mampu menurunkan vigor benih dan pengusangan 30 menit menurunkan viabilitas benih. Berdasarkan metode pengusangan uap etanol diperoleh empat lot benih varietas Kelinci dan tiga lot benih varietas Domba. Percobaan 2 menunjukkan lot vigor rendah memiliki laju respirasi yang lebih tinggi secara konsisten selama 24 jam. Namun, lot vigor rendah menunjukkan penurunan laju respirasi yang lebih cepat. Laju respirasi berkorelasi signifikan negatif dengan mutu benih, terutama pada varietas Kelinci. Sementara pada varietas Domba, hanya berkorelasi pada peubah mutu fisiologis tertentu. Pengukuran laju respirasi 3 jam dapat digunakan dalam menduga viabilitas dan vigor benih yang ditunjukkan dari nilai R2 &gt; 0,80 pada varietas Kelinci.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Strategi Pengelolaan Lanskap Budaya Desa Maria berbasis Budaya Suku Mbojo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172887" rel="alternate"/>
<author>
<name>Arista, M. Naufal</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172887</id>
<updated>2026-04-01T23:01:37Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Strategi Pengelolaan Lanskap Budaya Desa Maria berbasis Budaya Suku Mbojo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat
Arista, M. Naufal
Suku Mbojo merupakan suku yang menempati Desa Maria. Masyarakat Desa Maria datang dari Pulau Sumatra hingga berpindah hingga membangun permukiman tetap di tepi Jalan Lintas Sape sejak tahun 1925/1926. Karakter lanskap Desa Maria dipengaruhi oleh lanskap alami, buatan, dan budaya. Masyarakat dan Pemerintah Desa Maria memiliki permasalahan dalam pengelolaan desa dan budaya yaitu semakin hilangnya identitas dan keunikan budaya, alih fungsi lahan pertanian, kurangnya perangkat regulasi untuk pengelolaan dan pelestarian kawasan desa budaya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik tatanan lanskap dan hubungan peran Uma Lengge pada tatanan lanskap Desa Maria, mengevaluasi pengelolaan lanskap budaya dan wisata, menyusun strategi pengelolaan lanskap budaya berbasis Suku Mbojo di Desa Maria, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Pendekatan penelitian yang digunakan ialah Landscape Character Assessment (LCA) untuk mengidentifikasi karakteristik tatanan lanskap budaya, analisis signifikansi digunakan untuk mengetahui nilai penting dari lanskap budaya dan mengevaluasi pengelolaan lanskap budaya. Analisis pengelolaan lanskap budaya dan wisata menggunakan informasi yang diperoleh dari wawancara dengan narasumber kunci, data desa, dan aspek legal. Persepsi masyarakat digunakan untuk mengetahui pengetahuan masyarakat terhadap tatanan lanskap budaya mereka, sedangkan persepsi pengunjung digunakan untuk mengetahui pengetahuan pengunjung tentang lanskap budaya Suku Mbojo dan kepuasan kunjungannya. Rekomendasi&#13;
strategi pengelolaan diperoleh dengan menggunakan analisis Strength-Weakness-Opportunity-Threat (SWOT) terhadap faktor internal dan eksternal yang terkait dengan pengelolaan lanskap budaya di Desa Maria.&#13;
Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa tatanan lanskap dan nilai budaya Suku Mbojo di Desa Maria dipengaruhi oleh kondisi lanskap berlereng dengan tata ruang dari atas ke bawah berupa hutan adat, hutan masyarakat, tegalan, kebun, sawah tadah hujan, serta permukiman. Akses dari permukiman terhubung oleh jalan provinsi ke Kota Bima dan Kecamatan Sape, kearifan lokal terlihat dari respon terhadap alam dengan iklim kering baik dalam bertani mampu berkehidupan dalam tradisi budaya. Elemen kunci dalam tatanan lanskap budaya&#13;
Suku Mbojo adalah permukiman dengan elemen utama area Uma Lengge, persawahan dan hutan adat serta area sumber air. Rekomendasi strategi pengelolaan yang diusulkan adalah menjaga dan memelihara (hold and maintain) dengan 6 (enam) strategi yaitu penerapan kolaborasi pentahelix, penerapan zonasi pengelolaan, pengembangan wisata berwawasan pelestarian, menjaga ketersediaan air termasuk untuk pertanian, mengawasi perubahan tataguna lahan dan memelihara area Uma Lengge (cagar budaya), serta edukasi terkait pelestarian budaya Suku Mbojo kepada generasi muda.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
