<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MF - Agriculture</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71</id>
<updated>2026-08-12T21:00:47Z</updated>
<dc:date>2026-08-12T21:00:47Z</dc:date>
<entry>
<title>EVALUASI KERAGAAN KARAKTER HASIL DAN DAYA GABUNG GALUR-GALUR JAGUNG IPB UNTUK PERAKITAN VARIETAS JAGUNG SEMI</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178481" rel="alternate"/>
<author>
<name>Tampubolon, Naillah Azmi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178481</id>
<updated>2026-08-12T12:16:02Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">EVALUASI KERAGAAN KARAKTER HASIL DAN DAYA GABUNG GALUR-GALUR JAGUNG IPB UNTUK PERAKITAN VARIETAS JAGUNG SEMI
Tampubolon, Naillah Azmi
Jagung semi adalah jagung yang dipanen pada fase muda sebelum &#13;
penyerbukan, ketika bijinya belum berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk &#13;
mengevaluasi keragaan dan keragaman genetik pada tiga jenis jagung. Percobaan &#13;
dilakukan di Kebun Percobaan Pasir Kuda, Departemen Agronomi dan &#13;
Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB, dari bulan Juli sampai September 2025. &#13;
Percobaan dilakukan dengan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak &#13;
pola tersarang dengan perlakuan detasseling (pembuangan bunga jantan) dan &#13;
genotipe, yang disusun secara faktorial. Hasil menunjukkan bahwa genotipe secara &#13;
signifikan mempengaruhi semua karakter, sedangkan detasseling dan interaksi &#13;
genotipe x detasseling signifikan terhadap beberapa karakter. Jumlah buku, jumlah &#13;
tongkol per tanaman, bobot tongkol, dan bobot jagung semi pada perlakuan &#13;
detasseling lebih tinggi dibandingkan tanpa detasseling; namun, interaksi genotipe &#13;
x detasseling tidak signifikan, kecuali untuk karakter jumlah tongkol per tanaman. &#13;
Genotipe B2T13.1.8A.1 dan JPT10.1 berpotensi digunakan sebagai tetua dalam &#13;
perakitan varietas khusus jagung semi karena menghasilkan lebih dari tiga tongkol &#13;
per tanaman.; Baby corn is corn harvested in its young phase before pollination, when the &#13;
kernels have not yet developed. This study aimed to evaluate the performance and &#13;
genetic diversity of baby corn traits across three corn types. The experiment was &#13;
conducted at the Pasir Kuda Experimental Field, Department of Agronomy and &#13;
Horticulture, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University, from July to &#13;
September 2025. The experiment was conducted using a completely randomized &#13;
nested design with detasseling (panicle removal) and genotype treatments, arranged &#13;
in a factorial design. The results showed that genotype significantly affected all &#13;
characters, whereas detasseling and the genotype x detasseling interaction had &#13;
significant effects on only some characters. The number of nodes and the number &#13;
of cobs per plant, as well as the weight of cobs with and without husks in genotypes &#13;
with detasseling, were higher than those without detasseling; however, the effect of &#13;
the genotype x detasseling interaction was not significant except for the number of &#13;
cobs per plant. Genotypes B2T13.1.8A.1 and JPT10.1 have the potential to serve &#13;
as parents in the development of special semi-corn varieties because they produce &#13;
more than three cobs per plant
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Arahan Pengelolaan Perkebunan Kopi Berbasis Jasa Pengaturan Air di DAS Sekampung Hulu</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178476" rel="alternate"/>
<author>
<name>Maulana, Rama</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178476</id>
<updated>2026-08-12T10:18:27Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Arahan Pengelolaan Perkebunan Kopi Berbasis Jasa Pengaturan Air di DAS Sekampung Hulu
Maulana, Rama
Peningkatan permintaan kopi di pasar domestik maupun dunia mendorong konversi lahan menjadi perkebunan kopi non-agroforestri karena pertimbangan ekonomi jangka pendek. Konversi ini memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, namun berpotensi menurunkan fungsi jasa, terutama jasa pengaturan air, yang nilainya sering kali tidak menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan lahan. Provinsi Lampung, sebagai penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia, menghadapi tekanan konversi lahan tersebut secara nyata di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Sekampung Hulu, salah satu DAS prioritas nasional yang berkaitan langsung dengan keberlangsungan Bendungan Batutegi. Kondisi ini melatarbelakangi perlunya penilaian jasa pengaturan air sebagai dasar penentuan arahan pengelolaan perkebunan kopi yang berkelanjutan di wilayah tersebut.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengelolaan perkebunan kopi berkelanjutan berbasis jasa pengaturan air di DAS Sekampung Hulu, melalui tiga tujuan antara: memetakan tutupan lahan kopi non-agroforestri dan agroforestri pada periode 2000–2023; menduga jasa pengaturan air serta menguji keandalan model pada kedua sistem tanam tersebut; dan menentukan arahan perkebunan kopi berkelanjutan berdasarkan hasil pemodelan berbagai skenario tutupan lahan.&#13;
Pemetaan tutupan lahan dilakukan menggunakan citra satelit multi-temporal yang diklasifikasikan dengan algoritma random forest untuk memisahkan kelas kopi non-agroforestri dan agroforestri dari kelas tutupan lahan lain. Pendugaan jasa pengaturan air dilakukan menggunakan model hidrologi berbasis Hydrological Response Unit yang dikalibrasi dan divalidasi menggunakan data debit observasi, dilengkapi dengan analisis sensitivitas parameter untuk mengidentifikasi faktor pengendali utama kinerja model. Model kemudian digunakan untuk mensimulasikan tiga indikator jasa pengaturan air, yaitu limpasan permukaan, hasil air, dan pengisian air tanah, pada kondisi eksisting serta pada beberapa skenario intervensi konservasi tanah dan air dan skenario kesesuaian tata ruang wilayah. Skenario terbaik ditentukan melalui pendekatan pemeringkatan gabungan antarindikator serta perbandingan persentase perubahan terhadap kondisi eksisting.&#13;
Hasil klasifikasi tutupan lahan menunjukkan akurasi yang tinggi dan konsisten pada seluruh titik tahun analisis, membuktikan bahwa pendekatan yang digunakan cukup andal untuk merekam dinamika perkebunan kopi. Selama dua dekade terakhir, baik luasan kopi non-agroforestri maupun agroforestri sama-sama menyusut, dengan perluasan pertanian lahan kering campur, pertumbuhan permukiman, dan pembangunan bendungan sebagai pendorong utama perubahan tersebut. Pada sisi pemodelan hidrologi, ditemukan bahwa keandalan model dalam mereproduksi debit aktual di DAS Sekampung Hulu masih rendah, sehingga hasil pendugaan besaran jasa lebih tepat dimaknai sebagai pola perbandingan relatif antarsistem tanam dan antarskenario dibandingkan sebagai nilai mutlak. Temuan ini menjadi catatan penting bagi penerapan model hidrologi serupa pada wilayah DAS dengan karakteristik topografi dan tutupan lahan yang beragam.&#13;
Meski demikian, pola relatif yang dihasilkan tetap konsisten dengan mekanisme hidrologis yang berlaku umum pada sistem agroforestri kopi tropis. Limpasan permukaan pada sistem agroforestri secara konsisten lebih rendah dibandingkan non-agroforestri, namun keunggulan ini tidak selalu berlanjut pada indikator hasil air dan pengisian air tanah akibat trade-off antara peningkatan infiltrasi dan peningkatan evapotranspirasi oleh pohon penaung. Berdasarkan pemodelan berbagai skenario, ditemukan bahwa arahan konversi menyeluruh seluruh perkebunan kopi non-agroforestri menjadi agroforestri bukan merupakan pilihan yang paling optimal. Kombinasi terbaik pada tingkat individual diperoleh dari agroforestri yang diarahkan sesuai kesesuaian tata ruang wilayah, sedangkan pada tingkat lanskap, keseimbangan terbaik dicapai melalui konversi terarah kopi non-agroforestri yang berada pada lahan berlereng curam hingga sangat curam menjadi agroforestri, tanpa mengorbankan hasil air secara berarti.&#13;
Temuan ini mengimplikasikan bahwa arahan pengelolaan perkebunan kopi berkelanjutan di DAS Sekampung Hulu sebaiknya diarahkan pada pendekatan mozaik lanskap yang menempatkan agroforestri secara spasial-terarah pada lahan rentan erosi dan kawasan lindung, bukan pada kebijakan konversi seragam di seluruh wilayah. Pendekatan ini sejalan dengan kondisi kelembagaan pengelolaan lahan kopi rakyat di kawasan tersebut yang beragam, sehingga lebih realistis untuk diterapkan dan berpotensi memperbaiki fungsi tangkapan air DAS Sekampung Hulu tanpa mengorbankan produktivitas ekonomi masyarakat maupun ketersediaan pasokan air bagi Bendungan Batutegi.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Aplikasi Biochar diperkaya Bakteri Pelarut Fosfat terhadap Ketersediaan P pada  Andisol dan Ultisol</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178258" rel="alternate"/>
<author>
<name>Aindo, Sri Intan</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178258</id>
<updated>2026-08-11T07:43:49Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Aplikasi Biochar diperkaya Bakteri Pelarut Fosfat terhadap Ketersediaan P pada  Andisol dan Ultisol
Aindo, Sri Intan
Fosfor (P) merupakan unsur hara esensial bagi pertumbuhan tanaman, tetapi ketersediaannya pada tanah masam seperti Andisol dan Ultisol umumnya rendah akibat fiksasi oleh mineral amorf serta oksida aluminium (Al) dan besi (Fe). Bakteri pelarut fosfat (BPF) berpotensi meningkatkan ketersediaan P, tetapi efektivitasnya di lapangan sering terkendala oleh rendahnya viabilitas bakteri. Biochar berpotensi digunakan sebagai bahan pembawa (carrier) BPF karena memiliki karakteristik fisik dan kimia yang mendukung keberlangsungan hidup mikroba. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan biochar bambu dan biochar limbah ekstrak bromelin (LEB) sebagai carrier BPF dalam mempertahankan viabilitas dan aktivitas bakteri serta meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tanaman pada Andisol dan Ultisol. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2024–Juli 2025 melalui percobaan laboratorium dan rumah kaca. Tahap laboratorium meliputi isolasi, uji keamanan, identifikasi molekuler, dan pengujian kemampuan pelarutan fosfat BPF, serta pengujian viabilitas dan aktivitas bakteri pada biochar selama penyimpanan. Percobaan rumah kaca menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan faktor jenis biochar, jenis tanah, dan dosis pupuk anorganik. Hasil penelitian menunjukkan diperoleh tiga isolat BPF, yaitu Burkholderia territorii SS27, Bacillus sp. VPS11, dan Burkholderia multivorans APB. Ketiga isolat aman berdasarkan uji hipersensitivitas dan hemolisis, sedangkan B. multivorans APB memiliki kemampuan pelarutan fosfat tertinggi sebesar 597,14 ppm. Biochar bambu dan LEB mampu mempertahankan viabilitas BPF selama delapan minggu penyimpanan, dengan biochar bambu secara umum lebih efektif mempertahankan populasi bakteri. Kombinasi biochar dan BPF meningkatkan fosfat terlarut, dengan perlakuan biochar LEB yang diinokulasi B. multivorans APB menghasilkan nilai tertinggi sebesar 158,42 ppm. Pada percobaan rumah kaca, biochar diperkaya Bacillus sp. meningkatkan populasi BPF, ketersediaan P, serta pertumbuhan tanaman sawi, terutama tinggi tanaman dan jumlah daun. Biochar LEB memberikan respons pertumbuhan terbaik, sedangkan Ultisol menghasilkan berat kering tanaman lebih tinggi dibandingkan Andisol. Dosis pupuk anorganik tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman. Secara keseluruhan, biochar bambu dan LEB berpotensi sebagai carrier BPF yang efektif untuk meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tanaman, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai teknologi pupuk hayati yang ramah lingkungan dan berkelanjutan pada tanah dengan fiksasi P tinggi.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Evaluasi Toleransi Salinitas dan Karakterisasi Marka SCoT Terkait Bobot Malai Utama pada Hotong (Setaria italica (L.) Beauv.)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178254" rel="alternate"/>
<author>
<name>Rizwandi, Muhammad Anthony</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178254</id>
<updated>2026-08-11T07:34:12Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluasi Toleransi Salinitas dan Karakterisasi Marka SCoT Terkait Bobot Malai Utama pada Hotong (Setaria italica (L.) Beauv.)
Rizwandi, Muhammad Anthony
Hotong (Setaria italica L. Beauv.) merupakan salah satu serealia yang memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif di lahan marginal karena toleran terhadap kondisi suboptimal seperti kekeringan dan salinitas. Namun, hingga saat ini belum tersedia varietas unggul hotong di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mendukung program pemuliaan hotong dengan fokus pada dua aspek utama, yaitu evaluasi toleransi salinitas pada galur hasil persilangan ICERI 6 × Botok 4 dan identifikasi marka molekuler SCoT yang berasosiasi dengan bobot malai utama. Tujuan penelitian ini adalah memverifikasi alel SiDREB2 dan mengevaluasi toleransi galur F6 terhadap cekaman salinitas, mengidentifikasi dan mengarakterisasi lokus SCoT yang berasosiasi dengan bobot malai utama hotong, serta memvalidasi konsistensi lokus SCoT pada galur F5 hasil persilangan ICERI 6 × Botok 4. &#13;
Penelitian ini terdiri atas dua percobaan. Percobaan pertama dilakukan untuk memverifikasi alel SiDREB2 menggunakan marka SNAP dan mengevaluasi toleransi salinitas galur F6 di rumah kaca. Rancangan percobaan menggunakan RKLT faktor tunggal untuk menguji sembilan genotipe yang terdiri atas lima galur F5 (C1-6, C25-5, C8-7, C30-7, C16-6), genotipe tetua (ICERI-6 dan Botok-4), dan dua genotipe pembanding (Mauliru-2 dan Lokal Papua) pada kondisi optimum (0 mM NaCl) dan cekaman salinitas (30–60 mM NaCl). Hasil percobaan dianalisis menggunakan ragam gabungan untuk melihat interaksi antara genotipe dan lingkungan. Verifikasi menggunakan marka SNAP berbasis gen SiDREB2 menunjukkan semua galur F5 dan genotipe ICERI-6 memiliki alel A/A, sedangkan genotipe Botok-4, Mauliru-2 dan Lokal Papua memiliki alel G/G. Hasil pada pengujian di rumah kaca menunjukkan galur F6 C1-6 dan C8-7 memiliki performa agronomi dan hasil yang unggul pada kondisi optimum dan salin. Pendugaan toleransi genotipe terhadap cekaman salinitas dilakukan berdasarkan indeks toleransi TOL (tolerance index), GMP (geometric mean productivity), HM (harmonic mean), STI (stress tolerance index), K1MSTI (modified stress tolerance index), YI (yield index), dan K2MSTI (modified stress tolerance index). Berdasarkan indeks toleransi menggunakan data bobot biji per tanaman, genotipe C1-6 dan C8-7 menunjukkan toleransi terhadap cekaman salinitas.&#13;
Percobaan kedua dilakukan untuk mengidentifikasi lokus SCoT yang berasosiasi dengan bobot malai utama (BMU) dan dilanjutkan dengan validasi pada galur F5 hasil persilangan ICERI 6 × Botok 4. Sebanyak 109 lokus yang dihasilkan dari 12 primer SCoT diasosiasikan dengan karakter bobot malai utama pada tujuh genotipe hotong, meliputi ICERI-5, ICERI-6, ICERI-7, Botok-4, Mauliru-2, Hambapraing, dan NTB-1. Terdapat tujuh lokus yang berasosiasi dengan karakter BMU yang memiliki p-value &lt; 0,05.  Fragmen berukuran 700 pb yang diamplifikasi oleh primer SCoT32 (SCoT32_700) menjadi lokus terasosiasi paling konsisten yang merepresentasikan kelompok genotipe dengan bobot malai utama tinggi. Analisis sekuens lokus SCoT32_700 dari genotipe Hambapraing menunjukkan bahwa fragmen tersebut memiliki kesamaan 96% dengan wilayah genomik 17.772.614–17.773.312 pb pada kromosom 7 kultivar Yugu1. Berdasarkan analisis in silico, lokus SCoT32_700 diprediksi sebagai lncRNA (long non-coding RNA) Setaria italica yang diduga berperan sebagai triplet codon-amino acid adaptor activity. Posisi lokus SCoT32_700 pada kromosom 7 berada dalam wilayah LD-decay dan memiliki keterpautan dengan gen Seita.7G074000.1/2 yang memiliki domain Pkinase, leucine-rich repeat (LRR), dan NB-ARC. Validasi SCoT32_700 pada 20 galur F5 hasil persilangan ICERI 6 × Botok 4 menunjukkan bahwa SCoT32_700 dapat menjelaskan 17,2% variasi BMU. Penelitian ini mengindikasikan potensi penanda SCoT, khususnya SCoT32_700, sebagai penanda fungsional untuk sifat terkait BMU pada hotong.; Foxtail millet (Setaria italica L. Beauv.) is a cereal crop with potential as an alternative food source in marginal lands due to its tolerance to sub optimal conditions such as drought and salinity. However, no superior foxtail millet varieties are currently available in Indonesia. This study was conducted to support foxtail millet breeding programs, focusing on two main aspects: evaluation of salinity tolerance in progenies derived from the ICERI 6 × Botok 4 cross and identification of SCoT molecular markers associated with main panicle weight. The objectives of this research were to verify the SiDREB2 allele and evaluate salinity tolerance in F6 lines, identify and characterize SCoT loci associated with main panicle weight, and validate the consistency of SCoT loci in F5 progenies from the ICERI 6 × Botok 4 cross.&#13;
This research consisted of two experiments. The first experiment aimed to verify the SiDREB2 allele using SNAP markers and to evaluate salinity tolerance of F6 lines in a greenhouse. A single factor RCBD was used to test nine genotypes consisting of five F5 lines (C1 6, C25 5, C8 7, C30 7, C16 6), parental genotypes (ICERI 6 and Botok 4), and two check varieties (Mauliru 2 and Local Papua) under optimum (0 mM NaCl) and saline (30–60 mM NaCl) conditions. Combined analysis of variance was performed to assess genotype × environment interactions. SNAP marker verification based on the SiDREB2 gene revealed that all F5 lines and ICERI 6 carried the A/A allele, while Botok 4, Mauliru 2, and Local Papua carried the G/G allele. Greenhouse evaluation showed that F6 lines C1 6 and C8 7 exhibited superior agronomic performance and yield under both optimum and saline conditions. Genotypic tolerance to salinity stress was estimated using tolerance indices including TOL, GMP, HM, STI, K1MSTI, YI, and K2MSTI. Based on seed weight per plant, C1 6 and C8 7 were categorized as tolerant to salinity stress.&#13;
The second experiment aimed to identify SCoT loci associated with main panicle weight (MPW) and validate them in F5 lines derived from the ICERI 6 × Botok 4 cross. A total of 109 loci generated from 12 SCoT primers were associated with MPW in seven genotypes (ICERI 5, ICERI 6, ICERI 7, Botok 4, Mauliru 2, Hambapraing, and NTB 1). Seven loci showed significant association with MPW (p &lt; 0.05). Among them, a 700 bp fragment amplified by the SCoT32 primer (SCoT32_700) was the most consistent locus, representing genotypes with high MPW. The nucleotide sequence of SCoT32_700 from Hambapraing genotype shared 96% similarity with the genomic region 17,772,614–17,773,312 bp on chromosome 7 of the Yugu1 cultivar. Based on the in silico analyses, SCoT32_700 was predicted to be a long non coding RNA (lncRNA) in Setaria italica, potentially functioning in triplet codon–amino acid adaptor activity. Its position on chromosome 7 was within the LD-decay region and linked to the Seita.7G074000.1/2 gene, which contains Pkinase, leucine rich repeat (LRR), and NB ARC domains. Validation in 20 F5 lines derived from the ICERI 6 × Botok 4 cross partially confirmed this association, with the 700 bp fragment explaining 17.2% of MPW variation. This study highlights the potential of SCoT markers, particularly SCoT32_700, as functional markers for yield related traits in foxtail millet.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
