<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Landscape Architecture</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/69" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/69</id>
<updated>2026-07-01T11:59:04Z</updated>
<dc:date>2026-07-01T11:59:04Z</dc:date>
<entry>
<title>Identifikasi Persoalan Lanskap Perkotaan, Kawasan Terminal Laladon, Kabupaten Bogor</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173877" rel="alternate"/>
<author>
<name>Khrisrachmansyah, Rezky</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173877</id>
<updated>2026-07-01T06:46:06Z</updated>
<published>2026-06-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Identifikasi Persoalan Lanskap Perkotaan, Kawasan Terminal Laladon, Kabupaten Bogor
Khrisrachmansyah, Rezky
Suatu permasalahan lanskap kota dapat terjadi di sekitar kita, tidak terlepas di lingkungan lanskap perkotaan. Sebagai perencana dan perancang lanskap, kita dituntut untuk mengerti, memahami, mengidentifikasi, memformulasikan, serta memberikan pemecahan atau usulan terhadap permasalahan yang muncul. Tidak jarang perencana atau perancang yang mengidentifikasi dan menstrukturkan persoalan dengan salah atau yang biasa disebut kesalahan tipe III (error type III), akan memberikan dampak yang tidak baik bagi kawasan. Dengan mengerti, memahami, dan mengidentifikasi secara tepat persoalan tersebut, diharapkan dapat mengetahui permasalahan utama sehingga dapat memberikan solusi perancangan dengan efektif dan efisien. Kawasan Terminal Laladon terletak di Kabupaten Bogor. Terminal Laladon saat ini masih beroperasi namun sering mengalami kemacetan di jalan masuk terminal. Selain itu, kawasan terminal juga difungsikan sebagai pertokoan yang saat ini sudah tidak berfungsi optimal. Kondisi pertokoan saat ini sudah tidak optimum dan banyak toko yang sudah tutup. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi persoalan lanskap perkotaan yang terjadi di Kawasan Terminal Laladon dengan menggunakan metode “visual observation” kemudian dilakukan tiga pendekatan klasifikasi analisis yaitu (1) Klasifikasi persoalan berdasarkan desain dan non desain; (2) Klasifikasi persoalan berdasarkan analisis ends-means; dan (3) Klasifikasi persoalan berdasarkan well structured problem, moderately structured, dan ill structured problem (policy).
</summary>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Landscape Planning Of Cipeuteuy Village As A Bioregion-Based Conservation Village</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173876" rel="alternate"/>
<author>
<name>Pramukanto, Qodarian</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173876</id>
<updated>2026-07-01T06:41:03Z</updated>
<published>2026-06-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Landscape Planning Of Cipeuteuy Village As A Bioregion-Based Conservation Village
Pramukanto, Qodarian
Cipeuteuy Village is situated adjacent to the Gunung Halimun Salak&#13;
National Park, speci=ically within the Halimun-Salak Corridor, which connects the&#13;
ecosystems of Mount Halimun and Mount Salak. The village experiences ecological&#13;
pressures, including forest degradation from agricultural expansion, habitat&#13;
fragmentation, and limited community-based conservation efforts. As a part of the&#13;
national park buffer zone, Cipeuteuy Village plays a crucial role in supporting&#13;
restoration and conservation activities. A bioregion-based approach is needed to&#13;
harmonize ecological priorities with local socio-cultural conditions. The&#13;
term bioregion, derived from bio (life) and region (territory), refers to a living&#13;
system with boundaries de=ined by natural features that sustain the unique&#13;
activities of the biotic community within it. This study uses spatial and qualitative&#13;
analyses to examine biophysical characteristics and community dynamics. The&#13;
objectives of this study are: (1) to identify the landscape characteristics of&#13;
Cipeuteuy Village based on bioregion units, landscape units, and place units; (2)&#13;
to analyze the existing landscape zoning; and (3) to develop a landscape plan that&#13;
positions Cipeuteuy as a bioregion-based conservation village. the study&#13;
formulates an integrated landscape plan that prioritizes strengthened&#13;
conservation zones and an agroforestry landscape plan designed to enhance&#13;
ecological functions and support community-based conservation efforts. The&#13;
bioregional framework guides these strategies toward improving ecological&#13;
resilience and sustainable landscape development in Cipeuteuy Village.
</summary>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Efektivitas Pembelajaran Menggambar Sketsa Pada Mahasiswa Arsitektur Lanskap Ipb</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173855" rel="alternate"/>
<author>
<name>Nafar, Sholihin</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173855</id>
<updated>2026-07-01T02:35:37Z</updated>
<published>2026-06-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Efektivitas Pembelajaran Menggambar Sketsa Pada Mahasiswa Arsitektur Lanskap Ipb
Nafar, Sholihin
Arsitek lanskap merupakan profesi yang memanfaatkan ilmu pengetahuan,&#13;
teknologi, dan seni untuk menciptakan ruang terbuka hijau yang fungsional, estetik,&#13;
dan berkelanjutan. Pada perkembangannya, introduksi teknologi digital hingga&#13;
Artificial Intelligence memicu kekhawatiran arsitek lanskap akan hilangnya profesi&#13;
ini di kemudian hari. Walau demikian, aspek seni dan humanis dari arsitek lanskap&#13;
saat ini belum dapat tergantikan oleh teknologi tersebut. Penelitian ini dilakukan&#13;
untuk mengidentifikasi efektivitas pembelajaran teknik manual menggambar sketsa&#13;
sebagai bagian dari kompetensi arsitek lanskap pada mahasiswa arsitektur lanskap&#13;
IPB dan dampaknya terhadap kemampuan menggambar sketsa mahasiswa.&#13;
Berdasarkan hasil kuesioner dari 76 mahasiswa, observasi, dan diskusi di kelas,&#13;
sebagian besar mahasiswa tidak memiliki latar belakang pendidikan seni secara&#13;
formal sebelum memasuki program sarjana arsitektur lanskap IPB (81,6%), tetapi&#13;
mereka memiliki minat yang tinggi terhadap pembelajaran menggambar sketsa&#13;
dengan skor rata-rata 4,04 dari skala 5,00. Proses pembelajaran ini juga&#13;
berkontribusi nyata pada pemahaman awal mahasiswa terhadap ruang lingkup&#13;
arsitektur lanskap hingga teori-teori penting seperti pemahaman terhadap elemen&#13;
penyusun lanskap, elemen desain, dan prinsip desain. Sementara dari aspek&#13;
efektivitas pembelajaran, mahasiswa juga berpendapat bahwa pembelajaran&#13;
menggambar sketsa efektif dalam meningkatkan kemampuan mereka dengan skor&#13;
rata-rata 4,34 dari skala 5,00. Keseluruhan data ini secara langsung dapat digunakan&#13;
sebagai evaluasi pembelajaran sekaligus strategi dalam meningkatkan kualitas&#13;
pembelajaran menggambar sketsa pada mahasiswa arsitektur lanskap.
</summary>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Defining Regenerative Zoo Exhibits: A Cross- Cultural Evaluation of Visitor Preferences to  Enhance Experience and Animal Welfare through landscape-Based Design</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172893" rel="alternate"/>
<author>
<name>Nafar, Sholihin</name>
</author>
<author>
<name>Gunawan, Andi</name>
</author>
<author>
<name>Shibata, Shozo</name>
</author>
<author>
<name>Nurhayati</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172893</id>
<updated>2026-04-06T06:52:05Z</updated>
<published>2005-12-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Defining Regenerative Zoo Exhibits: A Cross- Cultural Evaluation of Visitor Preferences to  Enhance Experience and Animal Welfare through landscape-Based Design
Nafar, Sholihin; Gunawan, Andi; Shibata, Shozo; Nurhayati
Zoos, as part of the components of urban parks, offer significant&#13;
potential for integrating sustainability and regenerative landscape principles&#13;
within city environments. Although these principles have been widely applied in&#13;
urban and ecological contexts, their specific application in zoo environments,&#13;
particularly in balancing visitor experience, animal welfare, and enhancing urban&#13;
overall livability remains underexplored. This study investigates regenerative zoo&#13;
exhibit strategies by evaluating visitor preference towards landscape elements.&#13;
The research was conducted through two previous case studies: Ragunan Zoo in&#13;
Jakarta, Indonesia, and Kyoto City Zoo in Kyoto, Japan. Visitor preferences were&#13;
assessed through surveys and visual simulations of various exhibit design models,&#13;
focusing on key landscape elements such as trees, water features, shrubs, and&#13;
environmental enrichment. The findings show that while naturalistic elements&#13;
consistently enhance animal welfare, visitor satisfaction is often influenced by&#13;
visibility and spatial openness, highlighting a potential trade-off in exhibit design.&#13;
Cross-cultural analysis shows both Japanese and Indonesian preferred a&#13;
naturalistic landscape setting for the visitor satisfaction and animal welfare. The&#13;
most influential landscape elements that influence the naturalistic landscape&#13;
setting are trees, water features, and shrubs on both case studies. However, the&#13;
degree of naturalistic landscape setting tends to be higher in the Japanese case&#13;
study compared to Indonesian case, which may be influenced by cultural&#13;
perceptions of animals and recreational expectations. This study proposes a&#13;
framework for regenerative zoo exhibit design that integrates ecological aesthetic,&#13;
animal behavioral enrichment, and human-animal interaction. These findings&#13;
contribute to the practical strategies for supporting both sustainable and inclusive&#13;
landscape design, especially in zoological settings.
</summary>
<dc:date>2005-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
