<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Veterinary Clinic Reproduction and Pathology</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/64" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/64</id>
<updated>2026-07-13T05:13:12Z</updated>
<dc:date>2026-07-13T05:13:12Z</dc:date>
<entry>
<title>Laporan Kasus: Favus Pada Peternakan Ayam Pembibit</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173827" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sunartatie, Titiek</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173827</id>
<updated>2026-06-30T08:11:46Z</updated>
<published>2026-06-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Laporan Kasus: Favus Pada Peternakan Ayam Pembibit
Sunartatie, Titiek
Dermatofitosis merupakan infeksi cendawan superfisial pada jaringan yang mengandung keratin seperti kulit, rambut, dan kuku, yang disebabkan oleh kelompok kapang dermatofita. Tiga genus utama kapang dermatofita sebagai agen dermatofitosis adalah Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton (Ahmed et al. 2023). Berdasarkan habitatnya, kapang dermatofita dikelompokkan menjadi antropofilik, kapang ini lebih menyukai jaringan manusia; zoofilik menyukai jaringan hewan dan geofilik menyukai tanah sebagai habitatnya. Kapang ini memiliki kemampuan bertahan lama di lingkungan dan menjadi sumber infeksi, terutama pada kondisi lembab, sehingga mempermudah penyebaran pada unggas maupun inang lain (Moksaluk dan Woude 2023). Penyakit ini bersifat zoonosis dan dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan sumber infeksi, termasuk hewan ternak dan lingkungan yang terkontaminasi spora kapang (Gupta et al. 2025). Pada hewan, infeksi ini umumnya dikenal sebagai ringworm dan ditandai dengan lesi kulit berupa alopesia, eritema, dan kerak.&#13;
Salah satu spesies dermatofita yang penting pada unggas adalah Microsporum gallinae. M. gallinae dikenal sebagai penyebab favus pada ayam. Kapang ini bersifat zoofilik dengan inang utama unggas, namun juga dapat menginfeksi mamalia lain seperti kucing, anjing, dan bahkan manusia meskipun kasusnya jarang. Infeksi M. gallinae biasanya ditandai dengan terbentuknya lesi bersisik warna putih atau kerak putih pada area dengan sedikit bulu, jengger, dan pial, serta dapat menyebar ke bagian tubuh lain pada kasus berat (Thongkam et al. 2022).&#13;
Secara umum, dermatofitosis merupakan penyakit yang cukup sering ditemukan pada hewan domestik, dengan prevalensi yang bervariasi tergantung spesies dan kondisi lingkungan (Lopes et al. 2024). Namun, kasus yang disebabkan oleh M. gallinae tergolong jarang dibandingkan spesies lain seperti: M. canis. Infeksi M. gallinae lebih sering dilaporkan pada unggas di daerah dengan sistem pemeliharaan intensif. Penularan terjadi melalui kontak langsung antar hewan, fomites (kandang, alat, litter), dan spora yang bertahan lama di lingkungan. ...
</summary>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Laporan Kasus: Kasus Suspect Pneumonia pada Anjing di Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173207" rel="alternate"/>
<author>
<name>Emira, Intan</name>
</author>
<author>
<name>Padang, Ardy Armando</name>
</author>
<author>
<name>Razdian, Farahdhiya Bunga</name>
</author>
<author>
<name>Hidayat, Rayhan Arya</name>
</author>
<author>
<name>Arraudha, Naura Athira</name>
</author>
<author>
<name>Firdaus, Munira Laeli</name>
</author>
<author>
<name>Manika, Josephine Maria</name>
</author>
<author>
<name>Retno Wulansari</name>
</author>
<author>
<name>Deny Setyo Widodo</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173207</id>
<updated>2026-05-31T03:07:04Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Laporan Kasus: Kasus Suspect Pneumonia pada Anjing di Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB
Emira, Intan; Padang, Ardy Armando; Razdian, Farahdhiya Bunga; Hidayat, Rayhan Arya; Arraudha, Naura Athira; Firdaus, Munira Laeli; Manika, Josephine Maria; Retno Wulansari; Deny Setyo Widodo
Seekor anjing jantan bernama Jacko, ras mix golden berumur tiga tahun dengan warna&#13;
rambut golden datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP), Sekolah Kedokteran&#13;
Hewan dan Biomedis (SKHB) karena dicurigai menelan benda asing. Anjing Jacko kemudian&#13;
diarahkan untuk melakukan x-ray untuk melihat kondisi saluran pencernaan, namun tidak&#13;
ditemukan adanya benda asing (corpus alienum). Anjing jacko kemudian menjalani prosedur&#13;
ekokardiografi dan USG TFAST sebagai pemeriksaan lebih lanjut. Tidak ditemukan adanya&#13;
kelainan pada jantung, namun hasil USG menunjukkan adanya wet lung, lung pocket, dan&#13;
B-line pada daerah Chest Tube Site (CTS). Pada daerah Pericardial Site (PCS) juga terlihat&#13;
ada B-lines di daerah lobus cranial lung. Hal tersebut mengindikasikan kemungkinan anjing&#13;
Jacko mengalami pneumonia, bronchopneumonia, atau mild effusion. Terapi yang diberikan&#13;
kepada anjing Jacko berupa antibiotik, bronchodilator, furosemide, aspar-k, dan vitamin C.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Laporan Kasus: Squamous Cell Carcinoma (SCC) pada Anjing Ras Golden Retriever di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173206" rel="alternate"/>
<author>
<name>Yohan, Patricia</name>
</author>
<author>
<name>Aulia, Darapuspa Widyadhari</name>
</author>
<author>
<name>Zulfa, Andharani</name>
</author>
<author>
<name>Gotama, I Made</name>
</author>
<author>
<name>Salsabila, Aisyah</name>
</author>
<author>
<name>Raihan, Muhammad Ammar</name>
</author>
<author>
<name>Yen, Amabel See Li</name>
</author>
<author>
<name>Deny Setyo Wibowo</name>
</author>
<author>
<name>Retno Wulansari</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173206</id>
<updated>2026-05-31T03:01:34Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Laporan Kasus: Squamous Cell Carcinoma (SCC) pada Anjing Ras Golden Retriever di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University
Yohan, Patricia; Aulia, Darapuspa Widyadhari; Zulfa, Andharani; Gotama, I Made; Salsabila, Aisyah; Raihan, Muhammad Ammar; Yen, Amabel See Li; Deny Setyo Wibowo; Retno Wulansari
Squamous cell carcinoma (SCC) merupakan neoplasia ganas kulit yang berasal dari sel epitel&#13;
skuamosa dan bersifat invasif lokal dengan potensi destruksi jaringan sekitarnya. Laporan kasus&#13;
ini menggambarkan seekor anjing jantan ras Golden Retriever berusia sekitar 12 tahun bernama&#13;
Oscar dengan lesi ulseratif kronis pada regio siku kanan yang telah berlangsung selama dua tahun&#13;
dan mengalami progresi menjadi massa proliferatif yang tidak sembuh. Pemeriksaan fisik umum,&#13;
pemeriksaan hematologi lengkap, kimia darah, serta biopsi kulit untuk histopatologi dilakukan&#13;
sebagai penunjang diagnosis. Hasil histopatologi menunjukkan proliferasi sel-sel skuamosa&#13;
neoplastik yang membentuk pulau-pulau tumor dengan mutiara tanduk serta ulserasi akibat invasi&#13;
tumor, sehingga meneguhkan diagnosis SCC. Terapi yang diberikan meliputi tindakan bedah&#13;
pengangkatan jaringan terinfeksi beserta margin jaringan sehat, perawatan luka lokal, pemberian&#13;
antibiotik sistemik dan topikal, kortikosteroid, obat antikanker, serta multivitamin sebagai terapi&#13;
suportif yang memberikan perbaikan klinis berupa penurunan eksudat, bau, dan inflamasi&#13;
meskipun luka belum menutup sempurna. Kasus ini menegaskan pentingnya deteksi dini,&#13;
pemeriksaan penunjang komprehensif, dan penatalaksanaan multimodal pada SCC kutaneus&#13;
dengan ulserasi kronis pada anjing geriatri.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Cystic Endometrial Hyperplasia Pada Kucing Maya</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162468" rel="alternate"/>
<author>
<name>Rr. Soesatyoratih</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162468</id>
<updated>2025-06-13T01:53:01Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Cystic Endometrial Hyperplasia Pada Kucing Maya; STUDI KASUS
Rr. Soesatyoratih
Kucing merupakan salah satu jenis hewan yang banyak ditemukan di&#13;
lingkungan, baik sebagai hewan kesayangan (peliharaan) maupun sebagai&#13;
hewan liar. Beberapa faktor yang menyebabkan populasi kucing cukup tinggi&#13;
adalah siklus berahi, periode kebuntingan, dan frekuensi melahirkan yang cukup&#13;
sering dalam setahun. Kucing memiliki siklus birahi seasonal polyestrus, yaitu&#13;
birahi yang tidak bermusim, bisa terjadi kapan saja. Dalam satu periode&#13;
kebuntingan induk kucing dapat menghasilkan 1-6 ekor anak dan dalam setahun&#13;
kucing dapat beranak 1-3 kali. Apabila dikalkulasikan, seekor kucing dapat&#13;
menghasilkan sekitar 40 ekor anak selama 5 tahun masa hidupnya (Kennedy et&#13;
al. 2020).&#13;
Salah satu penyakit reproduksi yang dapat terjadi pada kucing betina yaitu&#13;
cystic endometrial hyperplasia (CEH). CEH merupakan suatu penyakit&#13;
reproduksi yang dikarakterisasikan dengan hiperplasia endometrium akibat&#13;
induksi progesteron yang disertai dengan keberadaan kista pada endometrium&#13;
(Agudelo 2005). CEH lebih jarang ditemukan pada kucing jika dibandingkan&#13;
dengan anjing. Hal ini disebabkan oleh rendahnya paparan progesterone&#13;
terhadap kucing karena kucing adalah hewan induced-ovulator, sehingga&#13;
perkembangan CEH memiliki risiko yang lebih rendah (Becha 2017). Pada&#13;
kucing, risiko kejadian CEH dapat meningkat seiring bertambahnya usia kucing&#13;
(Binder et al. 2020). CEH pada kucing umum ditemukan pada kucing betina yang&#13;
belum pernah melahirkan yang berusia lebih dari 3 tahun. ...
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
