<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Faculty of Veterinary</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5343" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5343</id>
<updated>2026-10-29T22:17:05Z</updated>
<dc:date>2026-10-29T22:17:05Z</dc:date>
<entry>
<title>Protokol Uji Sensorik Dan Pemeriksaan Laboratorium Untuk Melacak Teh Hijau Dan The Hitam Yang Mengandung Ampas Teh</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180202" rel="alternate"/>
<author>
<name>pribadi, Eko Sugeng</name>
</author>
<author>
<name>Ekasari, Iriana</name>
</author>
<author>
<name>Rohdiana, Dadan</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180202</id>
<updated>2026-10-28T08:31:28Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Protokol Uji Sensorik Dan Pemeriksaan Laboratorium Untuk Melacak Teh Hijau Dan The Hitam Yang Mengandung Ampas Teh
pribadi, Eko Sugeng; Ekasari, Iriana; Rohdiana, Dadan
Organisasi Internasional untuk Standardisasi (International Organization for&#13;
Standardization, ISO) mendefinisikan teh merupakan minuman aromatik yang disiapkan dari&#13;
daun, kuncup, dan pucuk muda yang telah diproses dari spesies tanaman Camellia sinensis.&#13;
Jadi, jelas bahwa minuman yang dibuat dari tumbuhan, herba, atau buah lain (seperti&#13;
kamomil, pepermin, dan lainnya) tidak tidak dapt disebut sebagai teh, tetapi infusi&#13;
herba/buah. ISO 20715:2023 Tea — Classification of tea types menggolongkan teh menjadi&#13;
teh hijau (green tea), teh putih (white tea), teh oolong (oolong tea), teh hitam (black tea), teh&#13;
kuning (yellow tea), dan dark tea (pu-erh). Sedangkan di Indonesia, SNI 1902:2016 - Teh&#13;
hitam menjelaskan acuan mutu baku untuk teh hitam, dan SNI 3945:2016 - Teh hijau&#13;
menjelaskan acuan mutu baku untuk teh hijau.&#13;
Saat ini sedang ramai dibicarakan mengenai penggunaan ampas teh, sering juga disebut&#13;
pastol, dalam produk teh kering. Sesungguhnya, ampas teh merupakan produk samping (by&#13;
product), malah ada beberapa yang menganggapnya sebagai limbah teh. Ampas teh&#13;
seharusnya dibuang, atau dikeringkan kembali dan dimanfaatkan untuk keperluan lain.&#13;
Tetapi, tidak sebagai produk teh kering karena polifenol yang terkandung di dalamnya sudah&#13;
jauh berkurang. Saat ini ampas teh kering masih dicampur lagi dengan teh hijau kering dan&#13;
cara ini dianggap mengabaikan hak konsumen mendapatkan seduhan teh hijau yang bermutu. ...
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Model Non-Hewan untuk Penelitian Dermatofitosis</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177489" rel="alternate"/>
<author>
<name>Budiono, Novericko Ginger</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177489</id>
<updated>2026-08-07T00:17:29Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Model Non-Hewan untuk Penelitian Dermatofitosis
Budiono, Novericko Ginger
Dermatofitosis adalah infeksi jamur kosmopolitan pada bidang kedokteran hewan dan veteriner,&#13;
yang disebabkan oleh jamur dermatofit dari genus Trichophyton, Nannizzia, Epidermophyton, dan&#13;
Microsporum, yang menginfeksi jaringan berkeratin melalui kontak langsung maupun tidak&#13;
langsung. Pemahaman mengenai interaksi yang kompleks antara jamur dermatofita dengan&#13;
inangnya membutuhkan model eksperimental. Tulisan ini dibuat untuk melakukan tinjauan&#13;
pustaka mengenai model non-hewan secara in vitro dan ex vivo untuk penelitian dermatofitosis.&#13;
Tulisan ini menguraikan bagaimana model nonhewan dermatofitosis dapat digunakan untuk&#13;
mengetahui mekanisme utama patogenesis jamur—termasuk adhesi, perkecambahan spora, invasi&#13;
jaringan, dan penghindaran sistem imun inang—sekaligus berfungsi sebagai alat penting untuk&#13;
evaluasi toksisitas praklinis, formulasi nanocarrier, serta pengujian efektivitas obat antijamur baru.&#13;
Kata kunci: dermatofita, model non-hewan, ringworm, tinea
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Panduan Praktikum Mata Kuliah Penyakit Bakterial Dan Mikal</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173828" rel="alternate"/>
<author>
<name>Budiono, Novericko Ginger</name>
</author>
<author>
<name>Sunartatie, Titiek</name>
</author>
<author>
<name>Indrawati, Agustin</name>
</author>
<author>
<name>Pribadi, Eko Sugeng</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173828</id>
<updated>2026-07-01T00:17:40Z</updated>
<published>2026-06-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Panduan Praktikum Mata Kuliah Penyakit Bakterial Dan Mikal; Topik : Dermatofitosis
Budiono, Novericko Ginger; Sunartatie, Titiek; Indrawati, Agustin; Pribadi, Eko Sugeng
Praktikum ke-9 ini bertujuan untuk dapat mengisolasi dan mengidentifikasi jamur dermatofit. Mahasiswa diharapkan dapat mengambil sampel dari hewan yang diduga menderita dermatofitosis.&#13;
Dermatofitosis pada hewan peliharaan adalah penyakit kulit dengan infeksi jamur pada struktur kulit organisme dengan keratin. Jamur yang menyebabkan penyakit ini adalah dermatofit. Tiga jenis dermatofit adalah zoofilik, geofilik, atau antropofilik. Genus jamur yang dikenal sebagai penyebab dermatofitosis yakni Microsporum, Trichophyton, Epidermophyton, Nannizzia, Lopophyton, Arthroderma, Paraphyton, dan Guarromyces. Dua genus pertama paling sering ditemukan pada anjing dan kucing. Dermatofitosis pada anjing dan kucing penting karena memiliki gejala klinis yang tidak spesifik (pleomorfik), menular, dan memiliki potensi zoonosis. Pada sebagian besar inang yang sehat, dermatophytosis adalah penyakit kulit yang sembuh dalam beberapa minggu hingga bulan. Kehadiran dermatofit tidak normal pada hewan, oleh karena itu, dapat menjadi indikasi penyakit pada hewan.
</summary>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Laporan Kasus: Favus Pada Peternakan Ayam Pembibit</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173827" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sunartatie, Titiek</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173827</id>
<updated>2026-06-30T08:11:46Z</updated>
<published>2026-06-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Laporan Kasus: Favus Pada Peternakan Ayam Pembibit
Sunartatie, Titiek
Dermatofitosis merupakan infeksi cendawan superfisial pada jaringan yang mengandung keratin seperti kulit, rambut, dan kuku, yang disebabkan oleh kelompok kapang dermatofita. Tiga genus utama kapang dermatofita sebagai agen dermatofitosis adalah Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton (Ahmed et al. 2023). Berdasarkan habitatnya, kapang dermatofita dikelompokkan menjadi antropofilik, kapang ini lebih menyukai jaringan manusia; zoofilik menyukai jaringan hewan dan geofilik menyukai tanah sebagai habitatnya. Kapang ini memiliki kemampuan bertahan lama di lingkungan dan menjadi sumber infeksi, terutama pada kondisi lembab, sehingga mempermudah penyebaran pada unggas maupun inang lain (Moksaluk dan Woude 2023). Penyakit ini bersifat zoonosis dan dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan sumber infeksi, termasuk hewan ternak dan lingkungan yang terkontaminasi spora kapang (Gupta et al. 2025). Pada hewan, infeksi ini umumnya dikenal sebagai ringworm dan ditandai dengan lesi kulit berupa alopesia, eritema, dan kerak.&#13;
Salah satu spesies dermatofita yang penting pada unggas adalah Microsporum gallinae. M. gallinae dikenal sebagai penyebab favus pada ayam. Kapang ini bersifat zoofilik dengan inang utama unggas, namun juga dapat menginfeksi mamalia lain seperti kucing, anjing, dan bahkan manusia meskipun kasusnya jarang. Infeksi M. gallinae biasanya ditandai dengan terbentuknya lesi bersisik warna putih atau kerak putih pada area dengan sedikit bulu, jengger, dan pial, serta dapat menyebar ke bagian tubuh lain pada kasus berat (Thongkam et al. 2022).&#13;
Secara umum, dermatofitosis merupakan penyakit yang cukup sering ditemukan pada hewan domestik, dengan prevalensi yang bervariasi tergantung spesies dan kondisi lingkungan (Lopes et al. 2024). Namun, kasus yang disebabkan oleh M. gallinae tergolong jarang dibandingkan spesies lain seperti: M. canis. Infeksi M. gallinae lebih sering dilaporkan pada unggas di daerah dengan sistem pemeliharaan intensif. Penularan terjadi melalui kontak langsung antar hewan, fomites (kandang, alat, litter), dan spora yang bertahan lama di lingkungan. ...
</summary>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
