<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Women Studies</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5227" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5227</id>
<updated>2026-04-19T08:55:05Z</updated>
<dc:date>2026-04-19T08:55:05Z</dc:date>
<entry>
<title>Analisis jender terhadap perilaku kenakalan pelajar  putra dan putri di kota bogor  (lanjutan kajian wanita tahun 2002)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7175" rel="alternate"/>
<author>
<name>Puspitawati, Herien</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7175</id>
<updated>2015-09-03T01:45:14Z</updated>
<published>2004-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis jender terhadap perilaku kenakalan pelajar  putra dan putri di kota bogor  (lanjutan kajian wanita tahun 2002)
Puspitawati, Herien
Secara khusus, studi ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan perilaku  kenakalan pelajar (apakah tergolong kategori kekerasan atau kenakalan kriminal/narkoba),  menganalisa perilaku kenakalan pelajar berdasarkan jenis kelamin mengkaji perbedaan karakteristik individu seperti sifat maskulin vs feminine, introvert vs ekstrovert, dan karakter pribadi antara pelajar putra dan putri,  mengetahui karakteristik keluarga pelajar baik aspek sosial, ekonomi maupun demografi, mengetahui perbedaan pola asuh orang tua terhadap anaknya antara pelajar putra dan putri, mengetahui perbedaan keadaan lingkungan teman (peer grup) antara pelajar putra dan putri baik berupa dukungan sosial,  pengaruh positif atau negatif, dan menganalisa faktor-faktor  latent yang sangat menentukan tingkat kenakalan pelajar baik putra maupun putri. 		 Penelitian dilakukan di kota Bogor di SMK-TI YKTB dan SMU PGRI 14. Contoh penelitian berjumlah 262 pelajar yang terdiri atas sebagian besar atau sejumlah 144 pelajar laki-laki dan sebagian kecil atau 118 pelajar berjenis kelamin perempuan berumur antara 16 sampai 18 tahun. 	 Pendidikan ayah contoh berkisar mulai dari tidak pernah sekolah sampai dengan tamat dari perguruan tinggi. Lebih dari setengah ayah contoh   laki-laki mempunyai pendidikan rendah yaitu hanya sampai tamat sekolah dasar, adapun lebih dari tujuh puluh persen ayah contoh perempuan mempunyai pendidikan sekolah menengah atas.  Keadaan pendidikan ibu contoh tidak berbeda jauh dengan keadaan pendidikan ayah contoh baik laki-laki maupun perempuan.  Total pendapatan keluarga contoh tertera pada Tabel 10 yaitu berkisar antara kurang dari Rp. 500.000,-  sampai dengan lebih dari Rp. 2.500.000,-, dan diketahui bahwa hampir tiga-perempat dari jumlah contoh laki-laki berasal dari keluarga yang berpendapatan rendah,  yaitu kurang dari Rp. 750.000,-  sebulan, dan bahkan 44% dari jumlah contoh laki-laki tersebut hidup dalam keluarga yang berpendapatan sangat rendah, yaitu kurang dari   Rp. 500.000,- sebulan.
</summary>
<dc:date>2004-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Sistem penunjang keputusan bagi peningkatan  kontribusi wanita dalam pemilihan model integrasi usaha sapi potong dan perkebunan kelapa sawit</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7173" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sukmawati, Anggraini</name>
</author>
<author>
<name>E.N.S.D, Lucia Cyrilla</name>
</author>
<author>
<name>Wardani, Dewi Ulfah</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7173</id>
<updated>2015-09-03T01:45:21Z</updated>
<published>2004-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Sistem penunjang keputusan bagi peningkatan  kontribusi wanita dalam pemilihan model integrasi usaha sapi potong dan perkebunan kelapa sawit
Sukmawati, Anggraini; E.N.S.D, Lucia Cyrilla; Wardani, Dewi Ulfah
Kontribusi wanita dalam pertanian terpadu atau crop-livestock systems (CLS) sistem “zero waste” dan “zero cost” dinilai penting.  Salah satu kunci keberhasilan dari pola usaha pertanian terintegrasi yang memanfaatkan sumberdaya local secara optimal ini adalah tidak ada bahan yang terbuang,  pemanfaatan inovasi secara benar dan efisien serta peningkatan kontribusi wanita dalam pengambilan keputusan usaha.  Hasil Rancangan Sistem Penunjang Keputusan pada model integrasi usaha sapi potong dan perkebunan kelapa sawit menunjukkan bahwa di tingkat peternak kompetensi inti yang dimiliki adalah pengadaan bahan baku.  Namun demikian diperlukan upaya perluasan kompetensi melalui penguasaan teknologi pengadaan bahan baku terutama pakan ternak.  Kelayakan usaha pengembangan usaha dalam bentuk  intergrasi penggemukan sapi potong dengan perkebunan sawit dilakukan dengan skenario pengembangan dengan memanfaatkan daun sawit sebagai sumber pakan hijauan layak di implementasikan.
</summary>
<dc:date>2004-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Dampak Keberadaan PPI terhadap Jaringan Sosial Wanita Nelayan (Studi Kasus Wanita “Bakul Seret” di Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5941" rel="alternate"/>
<author>
<name>Kusumastuti, Yatri</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5941</id>
<updated>2015-09-03T01:40:20Z</updated>
<published>2003-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Dampak Keberadaan PPI terhadap Jaringan Sosial Wanita Nelayan (Studi Kasus Wanita “Bakul Seret” di Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah)
Kusumastuti, Yatri
Dari tahun ke tahun jumlah “bakul seret” di Desa Bendar meningkat, sehingga persaingan di antara para “bakul seret” untuk mendapatkan “ikan lawuhan” semakin ketat. Untuk itu para “bakul seret” mulai bersaing untuk mengambil peluang agar “ikan lawuhan” senantiasa dijual kepada mereka, dengan kata lain menjadi langganan ABK. Cara para “bakul seret” agar ABK tetap selalu menjual “ikan lawuhan” kepada para bakul yaitu dengan memberikan uang yang diminta para ABK sebagai uang pinjaman, namun tidak berharap uang tersebuat akan kembali. Uang ini dijadikan semacam pengikat antara “bakul seret” dengan para ABK, supaya ada perasaan malu jika para ABK tidak menjual “ikan lawuhan” kepada para “bakul seret” tersebut, karena para ABK merasa menpunyai hutang.
</summary>
<dc:date>2003-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Curahan Waktu Kerja dan Proporsi Pendapatan Keluarga Wanita Bakul Ikan di Eretan Wetan dan Eretan Kulon, Indramayu setelah Kenaikan Harga Bbm</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5938" rel="alternate"/>
<author>
<name>Muflikhati, Istiqlaliyah</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5938</id>
<updated>2015-09-03T01:42:15Z</updated>
<published>2003-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Curahan Waktu Kerja dan Proporsi Pendapatan Keluarga Wanita Bakul Ikan di Eretan Wetan dan Eretan Kulon, Indramayu setelah Kenaikan Harga Bbm
Muflikhati, Istiqlaliyah
Peran wanita dalam rumah perekonomian rumah tangga dipedesaan merupakan hal yang wajar, termasuk di wilayah pesisir. Salah satu peran spesifik wanita di wilayah pesisir adalah sebagai wanita pedagang ikan (bakul ikan) yang menjadi perantara dari produsen kepada konsumen, seperti yang dilakukan di wilayah Eretan Wetan dan Eretan Kulon, Indramayu. Sejalan dengan fungsi tersebut, maka kebijakan menaikan harga BBM yang dilakukan pemerintah pada tahun 2002, diduga berimplikasi pada pendapatan wanita sebagai bakul ikan. Disamping itu adanya kebijakan tersebut juga diduga berpengaruh pada waktu kerja yang dialoksikan untuk kegiatan tersebut.
</summary>
<dc:date>2003-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
