<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Geophysics and Meteorology</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/36" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/36</id>
<updated>2026-10-11T03:34:04Z</updated>
<dc:date>2026-10-11T03:34:04Z</dc:date>
<entry>
<title>Potensi Serangan Hama Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda)&#13;
pada Tanaman Jagung Berdasarkan Faktor Musim di Kabupaten&#13;
Cianjur</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179985" rel="alternate"/>
<author>
<name>Nurmilawati, Suryani</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179985</id>
<updated>2026-09-28T07:12:55Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Potensi Serangan Hama Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda)&#13;
pada Tanaman Jagung Berdasarkan Faktor Musim di Kabupaten&#13;
Cianjur
Nurmilawati, Suryani
The fall armyworm (Spodoptera frugiperda) is one of the invasive pests in Indonesia that can reduce corn production. This pest can cause the failure of young shoot or leaf formation due to attacks on the plant's growing point, which in turn affects the quality and quantity of the yield. Pest development is influenced by seasonal meteorological factors, so an analysis of seasonal patterns is very important for making preventive decisions in controlling armyworm pests on corn plants. This research aims to analyze the potential of armyworm pest attacks in relation to seasonal patterns using a CLIMEX model, with the model output represented by Ecoclimatic Index (EI) values in Cianjur Regency. Daily meteorological data from 2015-2024 were obtained from the Pacet station, Cianjur Regency and cumulative additional infested area data were obtained from the Food Crops and Horticulture Plant Protection Agency of Region 1 Cianjur. The data were analyzed using CLIMEX 4.0 and analysis of the visual distribution. The modeling results show that the EI values range from 40 to 52, indicating that the meteorological conditions of the Cianjur region are moderately to well suited for the growth of armyworm pests even though there are another factors, for example the planting patterns, corn varieties, host plant availability, pest control, and the condition of the environment which also influences it.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Pengaruh Faktor Musim terhadap Potensi Serangan Hama Tikus Sawah pada Tanaman Padi di Kabupaten Subang</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179888" rel="alternate"/>
<author>
<name>Pakpahan, Astrid Louis Kathleen</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179888</id>
<updated>2026-09-03T00:39:24Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Pengaruh Faktor Musim terhadap Potensi Serangan Hama Tikus Sawah pada Tanaman Padi di Kabupaten Subang
Pakpahan, Astrid Louis Kathleen
Hama tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman utama yang menyebabkan kerugian besar pada budidaya padi. Perbedaan karakteristik musim diduga memengaruhi potensi serangan hama melalui perubahan kondisi iklim. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh faktor musim terhadap potensi serangan hama tikus sawah pada tanaman padi di Kabupaten Subang. Penelitian menggunakan data iklim harian observasi dan reanalisis ERA5 periode 2020–2024 serta data luas tambah serangan (LTS) hama tikus sawah. Data ERA5 dikoreksi menggunakan regresi linear sederhana, kemudian dianalisis menggunakan model CLIMEX untuk memperoleh nilai Ecoclimatic Index (EI) dan pola sebaran data untuk mengkaji hubungan parameter iklim dengan LTS pada musim hujan dan musim kemarau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koreksi data ERA5 meningkatkan kesesuaian terhadap data observasi sehingga layak digunakan dalam analisis. Model CLIMEX menghasilkan nilai EI sebesar 54 yang termasuk kategori sesuai, menunjukkan bahwa kondisi iklim Kabupaten Subang mendukung perkembangan hama tikus sawah. Musim hujan memiliki potensi serangan lebih tinggi dibandingkan musim kemarau, dengan LTS cenderung meningkat pada curah hujan sedang hingga tinggi, sedangkan kejadian serangan pada kedua musim terkonsentrasi pada suhu sekitar 26°C dan kelembapan udara 80–90%. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam penyusunan strategi pengendalian hama tikus sawah berbasis musim di Kabupaten Subang.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Variabilitas Iklim Musiman dan Hubungannya dengan Dinamika Luas dan Kondisi Kanopi Mangrove di Belitung Timur</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179763" rel="alternate"/>
<author>
<name>Syahputra, Muchayat Aziz</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179763</id>
<updated>2026-08-24T03:55:16Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Variabilitas Iklim Musiman dan Hubungannya dengan Dinamika Luas dan Kondisi Kanopi Mangrove di Belitung Timur
Syahputra, Muchayat Aziz
Variabilitas iklim musiman dapat berkaitan dengan perubahan kondisi hidroklimatologis dan respons kanopi mangrove. Penelitian ini menganalisis karakteristik iklim, dinamika luas area mangrove terdeteksi, kondisi kanopi, serta hubungan temporal di antara keduanya di Kabupaten Belitung Timur. Data iklim harian 2010-2025 dianalisis bersama citra Sentinel-2 Level-2A 2019-2025. Area mangrove diidentifikasi menggunakan Mangrove Vegetation Index (MVI) dengan ambang yang dikalibrasi terhadap Peta Mangrove Nasional 2024, sedangkan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) digunakan untuk mengklasifikasikan kondisi kanopi. Curah hujan lebih berfluktuasi dibandingkan suhu udara, dengan rata-rata curah hujan 8,88 mm/hari, suhu 26,66 °C dan hujan harian maksimum mencapai 232,3 mm. Juni-Agustus 2019 merupakan musim terkering dengan 160,8 mm hujan, 12 hari hujan, dan 40 consecutive dry days (CDD), sedangkan September-November 2022 merupakan periode terbasah. Rata rata luas mangrove berdasarkan MVI mencapai 9.133,15 ha, maksimum 10.686,75 ha pada September-November 2020 dan minimum 7.068,75 ha pada September November 2023, kanopi lebat mendominasi 82,11% area dengan NDVI valid. CDD satu musim sebelumnya menunjukkan hubungan temporal terkuat dengan kejadian penurunan luas dengan (R² = 0,704), sedangkan curah hujan maksimum satu hari paling lemah. Perubahan area MVI dan NDVI merupakan respons penginderaan jauh dan tidak dapat membuktikan kehilangan tegakan, kesehatan ekologis, atau hubungan kausal tanpa validasi lapangan.; Seasonal climate variability may be associated with hydroclimatic changes and mangrove canopy responses. This study analyzed climate characteristics, detected mangrove area dynamics, canopy condition, and their temporal relationships in East Belitung. Climate data from 2010-2025 were analyzed with Sentinel-2 Level-2A imagery from 2019-2025. Mangrove areas were identified using the Mangrove Vegetation Index (MVI), with thresholds calibrated against the 2024 National Mangrove Map, while the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) classified canopy condition. Rainfall fluctuated more strongly than air temperature, with daily rainfall averaging 8.88 mm/day, temperature 26.66 °C, and maximum daily rainfall reached 232.3 mm. June-August 2019 was the driest season, with 160.8 mm rainfall, 12 rainy days, and 40 consecutive dry days (CDD), whereas September-November 2022 was the wettest season. Mean MVI-detected mangrove area was 9,133.15 ha, reaching 10,686.75 ha in September-November 2020 and 7,068.75 ha in September-November 2023 within dense canopy dominated 82.11% of the NDVI-valid area. One-season-lagged CDD showed the strongest temporal relationship with detected area-decline events (R² = 0.704), whereas maximum one day rainfall was weakest. MVI and NDVI changes represent remotely sensed responses and could not demonstrate physical stand loss, ecological health, or causality without field validation.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Potensi Mitigasi Emisi CO2 Melalui Implementasi PLTS untuk Memenuhi Konsumsi Listrik Area BRIN KST B.J. Habibie</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179674" rel="alternate"/>
<author>
<name>Jaya, Adinda Salsabila Kesuma</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179674</id>
<updated>2026-08-19T02:17:10Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Potensi Mitigasi Emisi CO2 Melalui Implementasi PLTS untuk Memenuhi Konsumsi Listrik Area BRIN KST B.J. Habibie
Jaya, Adinda Salsabila Kesuma
Tingginya konsumsi listrik suatu area diduga berkontribusi terhadap emisi karbon, khususnya ketika pemenuhan listrik masih bergantung pada jaringan berbasis bahan bakar fosil, sehingga pemanfaatan energi terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi salah satu opsi mitigasi yang perlu dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi emisi baseline serta potensi implementasi dan reduksi emisi PLTS, serta mengevaluasi indikasi kelayakan biaya mitigasi melalui pendekatan Marginal Abatement Cost (MAC) di area BRIN KST B.J. Habibie. Analisis dilakukan menggunakan data konsumsi listrik tahun 2024 dari 81 pelanggan PLN, kajian potensi sumber daya surya, serta pendekatan Equivalent Annual Cost dengan asumsi umur teknis PLTS 25 tahun, tingkat diskonto 10%, dan biaya operasi-pemeliharaan tahunan sebesar 1% dari investasi awal secara konstan. Hasil perhitungan menunjukkan estimasi emisi baseline sebesar 24.861,69 tCO2/tahun. Pada skenario implementasi 100%, PLTS diestimasikan membutuhkan daya output aktual sebesar 15.896,52 kWp dengan energi aktual 26.724.867,31 kWh/tahun, serta berpotensi menurunkan emisi hingga 23.250,63 tCO2/tahun (93,52% dari baseline). Analisis MAC menghasilkan nilai negatif sekitar -Rp710.448/tCO2 pada seluruh skenario, yang mengindikasikan adanya potensi penghematan biaya dari implementasi PLTS pada kondisi asumsi yang digunakan. Namun, hasil ini masih merepresentasikan kondisi ideal dengan parameter teknis dan ekonomi yang diasumsikan konstan, sehingga diperlukan kajian lanjutan yang mempertimbangkan variabilitas cuaca, degradasi panel, serta dinamika kebijakan dan pasar untuk memperoleh gambaran yang lebih representatif.; High electricity consumption in an area is presumed to contribute to carbon emissions, particularly when electricity supply still relies on a fossil fuel-based grid, making the utilization of renewable energy such as Solar Photovoltaic (PV) power systems a mitigation option worth examining. This research aims to estimate baseline emissions along with the implementation and emission-reduction potential of solar PV, as well as to assess indications of mitigation cost feasibility through a Marginal Abatement Cost (MAC) approach in the BRIN KST B.J. Habibie area. The analysis employed 2024 electricity consumption data from 81 PLN customers, an assessment of solar resource potential, and an Equivalent Annual Cost approach assuming a 25-year technical lifetime, a 10% discount rate, and a constant annual operation and maintenance cost of 1% of the initial investment. The results indicate estimated baseline emissions of 24,861.69 tCO2/year. Under the 100% implementation scenario, the solar PV system is estimated to require an actual output capacity of 15,896.52 kWp, generating an actual energy output of 26,724,867.31 kWh/year, with a potential emission reduction of up to 23,250.63 tCO2/year (93.52% of baseline). The MAC analysis yielded a negative value of approximately -IDR 710,448/tCO2 across all scenarios, indicating a potential cost saving from solar PV implementation under the assumptions used. However, these results still represent idealized conditions with technical and economic parameters assumed constant, so further studies incorporating weather variability, panel degradation, and policy or market dynamics are needed to obtain a more representative picture.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
