<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Biology</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/31" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/31</id>
<updated>2026-10-31T15:28:26Z</updated>
<dc:date>2026-10-31T15:28:26Z</dc:date>
<entry>
<title>ANALISIS KOMUNITAS SERANGGA YANG BERASOSIASI DENGAN BUAH Ficus spp. DI HUTAN PENELITIAN DRAMAGA-SITU GEDE, BOGOR, JAWA BARAT</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180148" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ramadhani, Tiara Putri</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180148</id>
<updated>2026-10-21T06:16:19Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">ANALISIS KOMUNITAS SERANGGA YANG BERASOSIASI DENGAN BUAH Ficus spp. DI HUTAN PENELITIAN DRAMAGA-SITU GEDE, BOGOR, JAWA BARAT
Ramadhani, Tiara Putri
Pohon ara (Ficus spp.) merupakan tumbuhan kunci (keystone species) yang memiliki hubungan mutualisme obligat dengan tawon ara (fig wasp) sebagai penyerbuknya. Penelitian ini bertujuan menganalisis komunitas serangga yang berasosiasi dengan tiga spesies Ficus, yaitu Ficus septica, Ficus hispida, dan Ficus hirta di Hutan Penelitian Dramaga-Situ Gede, Bogor, Jawa Barat. Sebanyak 100 buah dari 10 pohon Ficus (empat pohon F. septica, empat pohon F. hispida, dan dua pohon F. hirta) dikoleksi dan dipelihara (rearing) selama dua minggu untuk memperoleh serangga yang muncul dari sikonium. Serangga yang diperoleh diidentifikasi berdasarkan karakter morfologi menggunakan mikroskop stereo. Sebanyak 37 buah (37%) menghasilkan serangga, dengan total 279 individu yang terdiri atas dua genus, yaitu Ceratosolen sp. (Agaonidae) sebagai tawon penyerbuk dan Philotrypesis sp. (Pteromalidae: Sycoryctinae) sebagai tawon non-penyerbuk. Ceratosolen sp. ditemukan pada F. septica dan F. hispida, sedangkan Philotrypesis sp. ditemukan pada ketiga spesies Ficus. Kelimpahan individu tertinggi ditemukan pada F. hispida sebanyak 232 individu (83,15%), diikuti F. septica sebanyak 37 individu (13,26%) dan F. hirta sebanyak 10 individu (3,58%). Rata-rata jumlah individu per buah tertinggi ditemukan pada F. hispida (5,80 ± 1,75 individu/buah), diikuti F. septica (0,93 ± 0,25) dan F. hirta (0,50 ± 0,28). Uji Kruskal–Wallis menunjukkan adanya perbedaan jumlah individu antarspesies Ficus (Hc = 7,044; df = 2; p = 0,02954). Uji Mann–Whitney dengan koreksi Bonferroni menunjukkan bahwa F. hispida berbeda nyata dengan F. hirta (p = 0,04591), sedangkan F. septica tidak berbeda nyata dengan F. hispida maupun F. hirta. Rasio jantan dan betina Philotrypesis sp. pada F. hispida dan F. hirta masing-masing sebesar 0:130 dan 0:10, sedangkan Ceratosolen sp. pada F. septica dan F. hispida masing-masing sebesar 1:20 dan 69:32.; Fig trees (Ficus spp.) are keystone species that have an obligate mutualistic relationship with fig wasps as their pollinators. This study aimed to analyze the insect community associated with three Ficus species, namely Ficus septica, Ficus hispida, and Ficus hirta in the Dramaga-Situ Gede Research Forest, Bogor, West Java. A total of 100 fruits from 10 Ficus trees (four F. septica, four F. hispida, and two F. hirta) were collected and reared for two weeks to obtain insects emerging from the syconia. The insects were identified based on morphological characteristics using a stereo microscope. A total of 37 fruits (37%) produced insects, with 279 individuals belonging to two genera, namely Ceratosolen sp. (Agaonidae) as pollinating fig wasps and Philotrypesis sp. (Pteromalidae: Sycoryctinae) as non-pollinating fig wasps. Ceratosolen sp. was found on F. septica and F. hispida, whereas Philotrypesis sp. was found on all three Ficus species. The highest abundance was recorded in F. hispida, with 232 individuals (83.15%), followed by F. septica with 37 individuals (13.26%) and F. hirta with 10&#13;
individuals (3.58%). The highest average number of individuals per fruit was found in F. hispida (5.80 ± 1.75 individuals/fruit), followed by F. septica (0.93 ± 0.25) and F. hirta (0.50 ± 0.28). The Kruskal–Wallis test indicated a significant difference in the number of individuals among Ficus species (Hc = 7.044; df = 2; p = 0.02954). The Mann–Whitney test with Bonferroni correction showed a significant difference between F. hispida and F. hirta (p = 0.04591), whereas no significant differences were found between F. septica and F. hispida or between F. septica and F. hirta. The male-to-female ratio of Philotrypesis sp. in F. hispida and F. hirta was 0:130 and 0:10, respectively, whereas that of Ceratosolen sp. in F. septica and F. hispida was 1:20 and 69:32, respectively.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Perilaku Prososial Masyarakat di Daerah Perkotaan dan Daerah Pedesaan di Wilayah Bogor: Pen-drop Social Experiment</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179811" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sitohang, Abigail Mutiara Natalia</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179811</id>
<updated>2026-08-19T04:41:44Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Perilaku Prososial Masyarakat di Daerah Perkotaan dan Daerah Pedesaan di Wilayah Bogor: Pen-drop Social Experiment
Sitohang, Abigail Mutiara Natalia
Empati merupakan kemampuan untuk merasakan kondisi emosi orang lain dengan pemahaman dan kepedulian. Perilaku prososial sendiri mencakup segala bentuk tindakan yang dilakukan secara sukarela untuk membantu individu lain. Penelitian mengenai perilaku prososial dapat dilakukan dengan pen-drop social experiment. Penelitian sebelumnya, berfokus pada daerah perkotaan, namun belum ada penelitian secara khusus membahas perbedaan perilaku prososial terhadap daerah perkotaan dan daerah pedesaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perilaku prososial di daerah perkotaan dan daerah pedesaan dan kaitannya terhadap faktor sosiodemografis. Sebanyak 409 subjek diamati berusia 18-78 tahun yang terdiri atas 201 subjek perempuan dan 208 subjek laki-laki. Respon subjek dikategorikan ke dalam lima tingkatan dan dikelompokkan menjadi menolong dan tidak menolong. Hasil penelitian menunjukkan respon kategori ‘tidak menolong’ lebih banyak ditemukan dibandingkan respon kategori ‘menolong’. Analisis regresi logistik Bayesian menunjukkan bahwa usia dan penggunaan hijab oleh experimenter berasosiasi positif dengan perilaku menolong, sedangkan wilayah perdesaan dan jumlah bystander lebih banyak berasosiasi negatif dengan perilaku menolong.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Keanekaragaman Udang Air Tawar Berdasarkan Karakteristik Morfologi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sepanjang Jalur Cianjur dan Purwakarta</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179793" rel="alternate"/>
<author>
<name>Nabila, Dizha Zahwa</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179793</id>
<updated>2026-08-19T04:32:55Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Keanekaragaman Udang Air Tawar Berdasarkan Karakteristik Morfologi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sepanjang Jalur Cianjur dan Purwakarta
Nabila, Dizha Zahwa
Udang air tawar merupakan anggota filum Arthropoda, subfilumCrustacea. dan Ordo Decapoda. Di Indonesia, keberadaan udang air tawar didominasi oleh dua&#13;
famili utama, yaitu Palaemonidae dan Atyidae. Wilayah Cianjur dan Purwakarta, yang termasuk dalam sistem drainase purba Paparan Sunda, berpotensi memiliki komposisi spesies yang beragam. Penelitian ini bertujuan menganalisis keanekaragaman spesies udang air tawar di daerah aliran sungai (DAS) sepanjangjalur Cianjur dan Purwakarta. Penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling pada enam titik sungai di sepanjang jalur tersebut untuk menganalisis keanekaragaman udang air tawar. Tahapan penelitian meliputi pengoleksiansampel, preparasi sampel, identifikasi morfologi, pengukuran telur dan pembuatansketsa. Sebanyak 40 individu berhasil diperoleh dan diidentifikasi menjadi tujuhspesies, yaitu M. pilimanus, M. cf. pilimanus 1, M. cf. pilimanus 2, M. empulipke, M. sintangense, M. cf .sintangense, dan M. lanchesteri. Karakter yangdiamati meliputi bentuk rostrum, jumlah gigi rostrum, dan bentuk pereiopod kedua.; Freshwater shrimps are members of the phylum Arthropoda, subphylumCrustacea, and order Decapoda. In Indonesia, the occurrence of freshwater shrimps&#13;
is dominated by two major families, namely Palaemonidae and Atyidae. The Cianjur and Purwakarta regions, which are part of the ancient Sunda Shelf drainage system, have the potential to support a diverse species composition. This study aimed toanalyze the species diversity of frteshwater shrimp in the watershade along the Cianjur and Purwakarta. This study was conducted using a purposive samplingmethod at six river sampling sites along the drainage system to identify the diversity of freshwater shrimps. The research stages included sample collection, sample preparation, morphological identification, egg measurement andmorphological illustration. A total of 40 individuals were successfully collectedand identified into seven species, namely Macrobrachium pilimanus, M. cf. pilimanus 1, M. cf. pilimanus 2, M. empulipke, M. sintangense, M. cf. sintangense, and M. lanchesteri. The morphological characters used for identification includedrostrum shape, the number of rostral teeth, and the morphological characteristics of the second pereiopod.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Pendegradasi Limbah Plastik pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179404" rel="alternate"/>
<author>
<name>Anindya, Syarla Khanisa</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179404</id>
<updated>2026-08-15T06:48:20Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Pendegradasi Limbah Plastik pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga
Anindya, Syarla Khanisa
Pencemaran plastik berdampak buruk terhadap kesehatan dan lingkungan. Low Density Polyethylene (LDPE) merupakan salah satu jenis plastik yang banyak digunakan dan sulit terdegradasi secara alami. Biodegradasi plastik dapat dilakukan oleh mikroorganisme tertentu. Penelitian ini bertujuan mengisolasi bakteri dari lingkungan tercemar limbah plastik di TPA Galuga, Kabupaten Bogor, menguji kemampuannya dalam mendegradasi LDPE, serta melakukan karakterisasi bakteri pendegradasi plastik berdasarkan morfologi dan fisiologi. Pengambilan sampel tanah dilakukan di TPA Galuga, Bogor. Isolasi bakteri dilakukan melalui metode pengenceran serial hingga diperoleh kultur murni. Penapisan bakteri pendegradasi plastik dilakukan menggunakan Mineral Salt Media (MSM) dengan dua perlakuan, yaitu kontrol dan media dengan penambahan plastik LDPE serta inokulum bakteri. Aktivitas degradasi diukur berdasarkan persentase kehilangan berat kering plastik. Total isolat yang berhasil diisolasi sebanyak dua belas, kemudian empat isolat terbaik dikarakterisasi menggunakan uji Congo Red Agar (CRA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat isolat mampu tumbuh pada MSM tanpa sumber karbon tambahan. Uji degradasi menunjukkan konsorsium isolat GAL01, GAL02, GAL03, dan GAL04 memiliki efektivitas tertinggi terhadap LDPE sebesar 47%, sedangkan isolat tunggal menunjukkan efektivitas bervariasi, GAL01 (25,49%), GAL02 (23,53%), GAL03 (5,88%), dan GAL04 (7,84%) . Bakteri asal TPA Galuga berpotensi dikembangkan sebagai agen biodegradasi LDPE untuk mengatasi pencemaran plastik.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
