<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Doctoral Final Assignments</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/27" rel="alternate"/>
<subtitle>Dissertations of IPB's Ph.D. student</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/27</id>
<updated>2026-10-30T08:53:07Z</updated>
<dc:date>2026-10-30T08:53:07Z</dc:date>
<entry>
<title>Model Ekologi Keluarga dalam Upaya Meningkatkan Status Gizi Balita pada Keluarga Berisiko Stunting</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180217" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sugiharto, Adam</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180217</id>
<updated>2026-10-29T22:32:22Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Model Ekologi Keluarga dalam Upaya Meningkatkan Status Gizi Balita pada Keluarga Berisiko Stunting
Sugiharto, Adam
Masalah stunting masih menjadi tantangan besar bagi pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, produktivitas, serta potensi ekonomi bangsa di masa depan. Upaya percepatan penurunan stunting membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan lintas sektor, termasuk dari perspektif ekologi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor mikrosistem, mesosistem, eksosistem, dan makrosistem keluarga yang memengaruhi pola asuh makan dan status gizi balita pada keluarga berisiko stunting, serta merumuskan model ekologi keluarga yang dapat digunakan sebagai dasar intervensi peningkatan status gizi balita. &#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif didukung data kualitatif. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten dengan menyasar tujuh desa (Desa Cigorondong, Kertamukti, Kertajaya, Sumberjaya, Tamanjaya, Tunggaljaya, dan Ujungjaya). Adapun alasan pemilihan lokasi kabupaten Pandeglang merupakan salah satu daerah terpencil yang memiliki jumlah keluarga berisiko stunting terbanyak ke-4 yaitu 109.812 keluarga, adapun untuk Kecamatan Sumur memiliki sekitar 900 Keluarga berisiko stunting (BKKBN 2024). Pengambilan data dilakukan pada bulan September 2025. Selain itu, penelitian ini telah lolos kaji etik di Komisi Etik Penelitian yang Melibatkan Subyek Manusia Institut Pertanian Bogor dengan Nomor: 1803/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2025. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan bantuan kuesioner terstruktur, indept interview dan Focus Group Discussion (FGD). Pengolahan dan analisis data menggunakan Microsoft Excel, Statistical Package for Social Science (SPSS) 25.0 untuk analisis deskriptif dan analisis inferensia (uji correlation pearson) dan SEM-PLS (Structural Equation Modelling Partial Least Square) untuk analisis uji pengaruh.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ekonomi keluarga umumnya sedang, namun alokasi waktu ibu untuk pengasuhan masih rendah. Meskipun pengetahuan gizi dan penerapan 8 fungsi keluarga tergolong cukup baik, keterbatasan pada aspek air, sanitasi, dan kebersihan masih menjadi hambatan. Pada tingkat mesosistem, akses terhadap fasilitas kesehatan belum optimal, sedangkan pada tingkat eksosistem sebagian besar keluarga memiliki modal sosial rendah hingga sedang. Di tingkat makrosistem, hanya sedikit keluarga yang merasakan manfaat langsung dari program pemberdayaan masyarakat. Secara keseluruhan, pola asuh makan sudah diterapkan cukup baik meski belum optimal, dan status gizi anak sebagian besar berada pada kategori normal, meskipun masih terdapat anak dengan berat badan sangat kurang. &#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor mikrosistem, seperti riwayat penyakit anak, alokasi waktu ibu, dan penerapan 8 fungsi keluarga, memiliki hubungan signifikan dengan pola asuh makan. Anak yang memiliki riwayat penyakit tertentu cenderung memperoleh perhatian lebih dalam hal pola makan. Kemudian, semakin besar waktu yang dialokasikan ibu untuk anak, semakin baik pula pola asuh makan yang diterapkan. Sementara itu, status gizi anak berdasarkan berat badan berhubungan signifikan dengan usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, pendapatan per kapita, serta kondisi air, sanitasi, dan kebersihan. Adapun status gizi berdasarkan panjang badan berhubungan dengan usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, alokasi waktu ibu, dan tekanan ekonomi subjektif. Faktor pada tingkat mesosistem, eksosistem, dan makrosistem seperti akses fasilitas kesehatan, modal sosial, serta program pemberdayaan masyarakat juga memiliki hubungan signifikan dengan pola asuh makan, namun tidak dengan status gizi anak. Hal ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan status gizi anak perlu memperhatikan peran tidak langsung dari faktor lingkungan sosial dan ekonomi keluarga.&#13;
Berdasarkan temuan-temuan yang dihasilkan maka diformulasikan sebuah model ekologi keluarga dalam upaya peningkatan status gizi balita pada keluarga berisiko stunting. Model ini terdiri atas empat sistem utama, yaitu mikrosistem, mesosistem, eksosistem, dan makrosistem yang saling berinteraksi. Pada tingkat mikrosistem, diperlukan penguatan peran keluarga melalui peningkatan pengetahuan gizi, penerapan 8 fungsi keluarga, serta perbaikan akses air bersih dan sanitasi. Pada tingkat mesosistem, optimalisasi akses layanan kesehatan dilakukan melalui revitalisasi posyandu, puskesmas, dan penguatan koordinasi lintas sektor. Pada tingkat eksosistem, pemanfaatan modal sosial diperkuat melalui dukungan komunitas dan kolaborasi antar lembaga masyarakat. Sedangkan pada tingkat makrosistem, pemberdayaan masyarakat dan lembaga lokal perlu ditingkatkan untuk mewujudkan ketahanan gizi keluarga secara berkelanjutan. Model ekologi keluarga ini diharapkan menjadi dasar bagi perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terintegrasi dalam upaya percepatan penurunan stunting di tingkat keluarga.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Evaluation of Coconut Fatty Acid Distillate (CFAD) as an energy supplement for dairy cattle</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180215" rel="alternate"/>
<author>
<name>Zahera, Rika</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180215</id>
<updated>2026-10-29T07:01:31Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluation of Coconut Fatty Acid Distillate (CFAD) as an energy supplement for dairy cattle
Zahera, Rika
This study addresses the utilization of coconut fatty acid distillate (CFAD) as an alternative energy source for dairy cattle, aiming to optimize its protection as calcium soap; evaluate the effects of varying protection ratios and supplementation levels on in vitro rumen fermentation, microbial populations, and fatty acid biohydrogenation; and investigate the effects of protected CFAD supplementation on nutrient utilization, blood metabolomic profiles, and lactating dairy cow performance. The research employs three experimental studies, including descriptive analysis of the protection characteristics of CFAD calcium soaps produced using CaO and CaCl2 at Ca:CFAD mole ratios of 1.0, 1.5, 2.0, and 2.5; an in vitro study using a 5 × 4 factorial randomized block design with varying protection ratios (100:0, 75:25, 50:50, 25:75, and 0:100) and supplementation levels (0%, 1%, 2%, and 3%); and an integrated study comprising an in vitro experiment using a 3 × 3 factorial randomized block design with different forage:concentrate ratios (60:40, 50:50, and 40:60) and protected CFAD supplementation levels (0%, 2%, and 4%), followed by an in vivo evaluation of protected CFAD supplementation (0%, 1%, and 2%) under smallholder dairy farming conditions. Results indicate that CaCl2 and a 2.5 mole ratio of Ca:CFAD enhanced calcium soap formation, as supported by the lowest acid value and reduced carboxylic acid detected by NIRS and FTIR. Completely protected CFAD maintained rumen fermentation while increasing the relative abundance of the genus Bacteroides, nutrient digestibility, and CLA yield during fatty acid biohydrogenation. Supplementation with 2% protected CFAD in dairy cows improved ether extract and crude protein digestibility, enhanced milk production and lactation persistency, and altered serum fatty acids and metabolomic profiles without adversely affecting nutrient intake, milk composition, and energy balance. The findings contribute to dairy nutrition and protected fat technology by providing an integrated understanding of CFAD utilization, from optimization of calcium soap formation to its in vitro and in vivo evaluation, offering new insights into the potential of CFAD as an alternative energy supplement for dairy cattle. In conclusion, this study demonstrates the importance of optimizing the protection ratio and supplementation level for effective CFAD utilization, with integrated in vitro and in vivo studies supporting 2% protected CFAD supplementation as a potential alternative energy strategy to improve nutrient utilization and dairy performance.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Market Power Ekspor Minyak Sawit Indonesia di Pasar Importir Utama</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180208" rel="alternate"/>
<author>
<name>Amalia, Dwi Nurul</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180208</id>
<updated>2026-10-29T00:30:45Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Market Power Ekspor Minyak Sawit Indonesia di Pasar Importir Utama
Amalia, Dwi Nurul
Penelitian mengenai perdagangan minyak sawit telah menggunakan berbagai pendekatan untuk menjelaskan permintaan, posisi pasar, daya saing, kebijakan perdagangan, dan kekuatan pasar. Pendekatan sistem permintaan digunakan untuk mengidentifikasi respons permintaan terhadap perubahan harga dan pengeluaran, sedangkan pendekatan daya saing digunakan untuk mengevaluasi posisi ekspor suatu negara dibandingkan negara pesaing. Kajian kebijakan perdagangan lebih banyak menelaah pengaruh pajak atau bea keluar dan pembatasan perdagangan terhadap ekspor serta industri minyak sawit. Sejumlah penelitian lainnya menggunakan pendekatan ekonometrik untuk mengidentifikasi kekuatan pasar eksportir melalui Residual Demand Elasticity (RDE). Keragaman pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perdagangan minyak sawit dapat dikaji dari sisi respons permintaan, posisi kompetitif, kebijakan perdagangan, maupun perilaku pasar; Kerangka pemikiran teoritis penelitian ini dibangun berdasarkan teori perdagangan internasional, permintaan impor, struktur pasar, market power, elastisitas permintaan residual, dan kebijakan perdagangan. Teori perdagangan internasional menjelaskan terbentuknya arus perdagangan melalui perbedaan kondisi penawaran, permintaan, harga, dan keunggulan relatif antarnegara. Teori permintaan impor menjelaskan respons negara importir terhadap perubahan harga dan kondisi ekonomi, sedangkan teori market power menjelaskan kemampuan eksportir memengaruhi harga dalam pasar tujuan. Konsep elastisitas permintaan residual digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan pasar eksportir setelah mempertimbangkan permintaan pasar dan respons pemasok pesaing. Kebijakan perdagangan menjadi bagian penting karena perubahan hambatan perdagangan dapat memengaruhi volume ekspor, kondisi persaingan, dan permintaan residual yang dihadapi eksportir.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Model Dinamis Pengelolaan Ruang Pesisir Berbasis Konservasi di Tepian Megacity Jakarta (Studi Kasus di Gugusan Pulau Tidung)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180135" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fitrianto, Imam</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180135</id>
<updated>2026-10-19T06:17:41Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Model Dinamis Pengelolaan Ruang Pesisir Berbasis Konservasi di Tepian Megacity Jakarta (Studi Kasus di Gugusan Pulau Tidung)
Fitrianto, Imam
Gugusan Pulau Tidung merupakan sistem sosial-ekologi pulau kecil yang berinteraksi langsung dengan megacity Jakarta. Kedekatan tersebut memberikan peluang berupa akses pasar, konektivitas, infrastruktur, dan aktivitas ekonomi, tetapi sekaligus meningkatkan tekanan wisata, pencemaran, kebutuhan ruang, dan kompleksitas tata kelola. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model dinamis pengelolaan ruang pesisir berbasis konservasi yang mengintegrasikan faktor penentu, struktur kelembagaan, status keberlanjutan, dan dinamika sistem sebagai dasar pengujian alternatif kebijakan.&#13;
Penelitian menggunakan rancangan sekuensial-integratif dalam empat tahap, yaitu systematic literature review publikasi Scopus 2015–2025, Interpretive Structural Modeling terhadap sebelas variabel kelembagaan berdasarkan penilaian sepuluh pakar, Multi-Aspect Sustainability Analysis terhadap 40 atribut dalam enam dimensi, serta model sistem dinamik periode 2026–2045. Model mengintegrasikan tekanan megacity, ekologi, tata kelola, masyarakat, ekonomi biru, ruang dan infrastruktur, ketahanan iklim, daya dukung, serta pariwisata, kemudian diuji melalui tiga skenario dan 2.000 Latin Hypercube Sampling runs.&#13;
Hasil penelitian mengidentifikasi 17 kelompok faktor yang memengaruhi efektivitas pengelolaan. Analisis kelembagaan menunjukkan bahwa kejelasan pembagian kewenangan antarlembaga merupakan penggerak struktural utama, sedangkan komitmen politik, sinkronisasi kebijakan, koordinasi, pendanaan, kapasitas sumber daya manusia, serta monitoring dan penegakan hukum menjadi faktor linkage. Indeks keberlanjutan agregat sebesar 70,14 tergolong berkelanjutan, tetapi menunjukkan sustainability asymmetry. Dimensi sosial dan spasial masing-masing bernilai 83,33, ekonomi biru 79,17, ketahanan iklim 75,00, dan ekologi 65,63, sedangkan kelembagaan hanya 34,38. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tata kelola merupakan faktor pembatas utama keberlanjutan.&#13;
Simulasi menunjukkan bahwa indeks keberlanjutan tahun 2045 mencapai 81,37 pada skenario kebijakan berjalan, 68,51 pada skenario tekanan megacity, dan 92,63 pada skenario konservasi terintegrasi. Pada skenario konservasi terintegrasi, indeks tata kelola mencapai 94,18 dan ekologi 89,57. Dynamic carrying capacity meningkat menjadi 372.097 visitor-days per tahun dengan tourism pressure 0,374, sedangkan pada skenario tekanan megacity daya dukung menurun menjadi 266.493 visitor-days dan tourism pressure meningkat menjadi 1,106. Peringkat skenario tetap stabil pada analisis ketidakpastian dan reformasi tata kelola menjadi parameter yang paling sensitif.&#13;
Kebaruan penelitian terletak pada arsitektur integrasi empiris yang dapat ditelusuri dari bukti literatur, struktur kelembagaan, diagnosis keberlanjutan, hingga simulasi kebijakan. Penelitian ini mengusulkan Megacity–Small Island Governance-Mediated Sustainability Framework dan konsep Governance-Mediated Capacity Dividend, yaitu mekanisme ketika penguatan tata kelola meningkatkan efektivitas pengendalian tekanan dan pemulihan sistem sehingga daya dukung dinamis meningkat. Temuan ini memperluas daya dukung dari batas yang relatif statis menjadi kapasitas yang berubah mengikuti kondisi sosial-ekologi dan kualitas tata kelola. Implikasi utamanya adalah penguatan kewenangan dan koordinasi perlu dilaksanakan bersama pengendalian limbah, perlindungan habitat, pengelolaan wisata berbasis daya dukung, pemberdayaan masyarakat, pembiayaan konservasi, dan peningkatan ketahanan iklim. Model digunakan sebagai laboratorium kebijakan adaptif, bukan sebagai proyeksi deterministik kondisi tahun 2045.; The Tidung Islands Cluster is a small-island social-ecological system directly connected to the Jakarta megacity. This proximity provides market access, connectivity, infrastructure, and economic opportunities, while simultaneously increasing tourism pressure, pollution, spatial demand, and governance complexity. This study aimed to develop a dynamic model of conservation-based coastal spatial management integrating management determinants, institutional structure, sustainability status, and temporal system dynamics as a basis for testing policy alternatives.&#13;
The study employed a sequential-integrative design comprising a systematic literature review of Scopus publications from 2015–2025, Interpretive Structural Modeling of eleven institutional variables based on assessments by ten experts, Multi-Aspect Sustainability Analysis of 40 attributes across six dimensions, and a system dynamics model for 2026–2045. The model integrated megacity pressures, ecology, governance, community capacity, blue economy, spatial and infrastructure capacity, climate resilience, carrying capacity, and tourism. Three scenarios were tested, together with 2,000 Latin Hypercube Sampling runs.&#13;
The results identified 17 factor groups influencing management effectiveness. Clarity of inter-institutional authority emerged as the main structural driver, while political commitment, policy synchronization, coordination, financing, human-resource capacity, monitoring, and enforcement formed critical linkage factors. The aggregate sustainability index was 70.14, classified as sustainable but characterized by substantial sustainability asymmetry. Social and spatial dimensions each scored 83.33, blue economy 79.17, climate resilience 75.00, ecology 65.63, and governance only 34.38, indicating governance as the primary sustainability bottleneck.&#13;
By 2045, the sustainability index reached 81.37 under current policy, 68.51 under megacity pressure, and 92.63 under integrated conservation. Under integrated conservation, governance increased to 94.18 and ecology to 89.57. Dynamic carrying capacity increased to 372,097 visitor-days per year with tourism pressure of 0.374, while under megacity pressure carrying capacity declined to 266,493 visitor-days and tourism pressure increased to 1.106. Scenario rankings remained stable under uncertainty analysis, with governance reform emerging as the most sensitive parameter.&#13;
The novelty of this study lies in a traceable empirical integration architecture linking literature-based evidence, institutional structure, sustainability diagnosis, and policy simulation. The study proposes a Megacity–Small Island Governance-Mediated Sustainability Framework and the concept of Governance-Mediated Capacity Dividend, describing how stronger governance improves pressure control and system recovery, thereby increasing dynamic carrying capacity. This extends carrying capacity from a relatively static limit to a dynamic property shaped by social-ecological conditions and governance quality. The main implication is that institutional strengthening should proceed together with pollution control, habitat protection, carrying-capacity-based tourism management, community empowerment, conservation financing, and climate resilience. The model is intended as an adaptive policy laboratory rather than a deterministic forecast of conditions in 2045.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
