<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Dissertations</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/27" rel="alternate"/>
<subtitle>Dissertations of IPB's Ph.D. student</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/27</id>
<updated>2026-05-30T13:51:09Z</updated>
<dc:date>2026-05-30T13:51:09Z</dc:date>
<entry>
<title>Integrasi Environmental, Social, dan Governance (ESG) dalam Pengukuran Efisiensi Operasional dan Kinerja Saham: Analisis pada Sektor Pertanian, Consumer Goods, dan Pariwisata</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173205" rel="alternate"/>
<author>
<name>Wybawa, Erika Pritasari</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173205</id>
<updated>2026-05-30T13:03:01Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Integrasi Environmental, Social, dan Governance (ESG) dalam Pengukuran Efisiensi Operasional dan Kinerja Saham: Analisis pada Sektor Pertanian, Consumer Goods, dan Pariwisata
Wybawa, Erika Pritasari
Keberlanjutan telah berkembang dari sekadar pelengkap tanggung jawab sosial perusahaan menjadi bagian strategis dalam pengambilan keputusan bisnis dan investasi. Dalam konteks Indonesia, penguatan regulasi pelaporan keberlanjutan, meningkatnya perhatian investor terhadap ESG, serta pentingnya sektor pertanian, consumer goods, dan pariwisata bagi perekonomian nasional menempatkan ESG sebagai isu yang relevan untuk dianalisis dari sisi kinerja internal maupun respons pasar. Namun, implementasi ESG di Indonesia masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan data, belum tersedianya skor ESG domestik yang luas, serta kemungkinan ketidakcocokan pembobotan global dengan karakteristik sektor dan konteks nasional. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran umum penerapan keberlanjutan pada perusahaan terbuka di Indonesia, mengukur efisiensi operasional dan return saham, mengukur skor environmental, social, dan governance beserta skor agregatnya melalui adaptasi model global yang dikontekstualisasikan untuk Indonesia, serta menganalisis pengaruh faktor-faktor finansial dan nonfinansial terhadap efisiensi dan return saham.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan sequential mixed methods. Unit analisis terdiri atas 75 perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2019–2024, yang mencakup 25 perusahaan sektor pertanian, 25 perusahaan sektor consumer goods, dan 25 perusahaan sektor pariwisata. Data sekunder diperoleh dari laporan tahunan, laporan keberlanjutan, dan data harga saham, sedangkan data primer untuk pembobotan ESG diperoleh dari 45 responden pakar yang mewakili akademisi, pelaku pasar, dan regulator. Analisis dilakukan melalui content analysis untuk penyusunan scoreboard ESG, metode Data Envelopment Analysis (DEA) berorientasi input dengan single bootstrap untuk mengukur efisiensi teknis, Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk memperoleh bobot indikator ESG, serta Generalized Estimating Equations (GEE) untuk menguji pengaruh faktor finansial, karakteristik perusahaan, dan ESG terhadap efisiensi serta return saham.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik keberlanjutan pada emiten sektor pertanian, consumer goods, dan pariwisata telah berkembang, tetapi struktur ESG belum seimbang. Sebelum pembobotan, pola pilar menunjukkan urutan S &gt; G &gt; E, sedangkan setelah pembobotan berubah menjadi S ˜ G &gt; E, yang menandakan bahwa pilar lingkungan tetap menjadi dimensi yang paling tertinggal. Pada tingkat indikator, pembobotan menggeser prioritas dari S.1 Workforce–G.1 Management–S.3 Community menjadi G.1 Management–S.1 Workforce–E.2 Resource Use, sehingga isu manajemen, tenaga kerja, dan efisiensi penggunaan sumber daya tampil sebagai fokus paling menonjol dalam konteks Indonesia. Penelitian ini juga berhasil membangun scoreboard ESG berbasis 10 indikator Refinitiv yang dikontekstualisasikan melalui pembobotan AHP, sehingga menghasilkan matriks penilaian yang lebih peka terhadap yurisdiksi Indonesia dibanding penggunaan skor global secara langsung.&#13;
Hasil pengukuran efisiensi menunjukkan bahwa median skor efisiensi terkoreksi bias sektor gabungan meningkat dari 0,910 pada 2019 menjadi 0,944 pada 2024, meskipun sempat menurun pada 2021. Secara sektoral, consumer goods merupakan sektor yang paling stabil dan efisien, sedangkan pariwisata mengalami kontraksi efisiensi paling tajam sebelum pulih kembali pada akhir periode observasi. Sementara itu, median return saham sektor gabungan bergerak dekat nol dan cenderung sedikit negatif, yaitu dari -0,018 pada 2019 menjadi -0,026 pada 2024, dan secara agregat tidak menunjukkan perbedaan median yang signifikan antartahun (?² = 10; p = 0,08). Temuan ini menunjukkan bahwa perbaikan efisiensi operasional selama periode penelitian tidak selalu diikuti oleh penguatan return saham yang konsisten. &#13;
Hasil estimasi GEE menunjukkan bahwa pada model efisiensi, variabel finansial yang konsisten berasosiasi dengan efisiensi yang lebih tinggi adalah return on equity, current ratio, dan earnings growth rate. Dari dimensi ESG, hanya pilar tata kelola yang berpengaruh signifikan terhadap RBCES, sedangkan pilar lingkungan, pilar sosial, dan skor agregat ESG tidak signifikan. Karena RBCES merupakan kebalikan dari skor efisiensi, temuan ini mengindikasikan bahwa penguatan tata kelola berkaitan dengan efisiensi teknis yang lebih rendah dalam jangka pendek, yang dapat dijelaskan oleh biaya penyesuaian, penguatan pengawasan, dan meningkatnya kompleksitas proses internal pada fase awal implementasi tata kelola yang lebih kuat. Pada model return saham, asset turnover ratio dan current ratio berpengaruh positif, sedangkan price-to-book ratio dan price-to-sales ratio berpengaruh negatif. Dari sisi ESG, hanya pilar lingkungan yang signifikan ketika masing-masing pilar diuji secara terpisah, sedangkan pilar sosial dan tata kelola tidak signifikan. Namun, skor ESG agregat tetap berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham serta tetap konsisten setelah pengendalian faktor makroekonomi. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa pasar cenderung lebih cepat merespons dimensi lingkungan, sedangkan tata kelola lebih bekerja melalui kanal internal perusahaan. &#13;
Implikasi manajerial penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak cukup hanya meningkatkan pengungkapan ESG secara umum, tetapi perlu memfokuskan strategi keberlanjutan sesuai kanal pengaruh tiap dimensi. Perbaikan kinerja lingkungan perlu diprioritaskan untuk memperkuat respons pasar dan persepsi investor, terutama pada sektor dengan intensitas sumber daya dan risiko lingkungan yang tinggi. Pada saat yang sama, penguatan tata kelola tetap penting untuk membangun disiplin proses, kontrol internal, dan ketahanan jangka panjang, meskipun manfaat efisiensinya belum tentu langsung terlihat dalam jangka pendek. Bagi investor, hasil ini menegaskan pentingnya membaca ESG tidak hanya sebagai skor agregat, tetapi juga sebagai kombinasi antarpilar dengan implikasi yang berbeda. Bagi regulator dan pembuat kebijakan, temuan ini menegaskan perlunya penguatan infrastruktur pelaporan dan pemeringkatan ESG domestik yang lebih kontekstual, transparan, dan berbasis materialitas spasial.; Sustainability has evolved from being merely a complement to corporate social responsibility into a strategic component of business and investment decision-making. In the Indonesian context, the strengthening of sustainability reporting regulations, growing investor attention to ESG, and the importance of the agriculture, consumer goods, and tourism sectors to the national economy have positioned ESG as a relevant issue to be examined from both the perspective of internal corporate performance and market response. However, ESG implementation in Indonesia still faces several challenges, including limited data availability, the absence of a widely established domestic ESG score, and the possibility that global weighting schemes may not fully align with sectoral characteristics and the national context. Against this background, this study aims to describe the general state of sustainability implementation among publicly listed companies in Indonesia, measure operational efficiency and stock returns, assess environmental, social, and governance scores as well as the aggregate ESG score through an adaptation of a global model contextualized to Indonesia, and analyze the effects of financial and non-financial factors on efficiency and stock returns. &#13;
This study employs a sequential mixed-methods approach. The unit of analysis consists of 75 publicly listed companies on the Indonesia Stock Exchange during the 2019–2024 period, comprising 25 firms from the agriculture sector, 25 from the consumer goods sector, and 25 from the tourism sector. Secondary data were obtained from annual reports, sustainability reports, and stock price data, while primary data for ESG weighting were collected from 45 expert respondents representing academics, market participants, and regulators. The analysis was conducted through content analysis for the development of the ESG scoreboard, input-oriented Data Envelopment Analysis (DEA) with single bootstrap to measure technical efficiency, the Analytic Hierarchy Process (AHP) to derive ESG indicator weights, and Generalized Estimating Equations (GEE) to test the effects of financial factors, firm characteristics, and ESG on efficiency and stock returns. &#13;
The results show that sustainability practices among listed firms in the agriculture, consumer goods, and tourism sectors have progressed, yet the ESG structure remains unbalanced. Before weighting, the pillar pattern was S &gt; G &gt; E, whereas after weighting it shifted to S ˜ G &gt; E, indicating that the environmental pillar remains the most lagging dimension. At the indicator level, weighting shifted the priority from S.1 Workforce–G.1 Management–S.3 Community to G.1 Management–S.1 Workforce–E.2 Resource Use, suggesting that management, workforce, and resource-use efficiency have emerged as the most prominent issues in the Indonesian context. This study also successfully developed an ESG scoreboard based on 10 Refinitiv indicators contextualized through AHP weighting, thereby producing an assessment matrix that is more sensitive to the Indonesian jurisdiction than the direct use of global ESG scores. &#13;
The efficiency measurement results indicate that the median bias-corrected efficiency score for the combined sectors increased from 0.910 in 2019 to 0.944 in 2024, although it temporarily declined in 2021. At the sectoral level, consumer goods was the most stable and efficient sector, whereas tourism experienced the sharpest contraction in efficiency before recovering by the end of the observation period. Meanwhile, the median stock return for the combined sectors remained close to zero and tended to be slightly negative, moving from -0.018 in 2019 to -0.026 in 2024, and overall did not show a statistically significant difference in median across years (?² = 10; p = 0.08). These findings indicate that improvements in operational efficiency over the study period were not always followed by a consistent strengthening of stock returns. &#13;
The GEE estimation results show that, in the efficiency model, the financial variables consistently associated with higher efficiency were return on equity, current ratio, and earnings growth rate. Among the ESG dimensions, only the governance pillar had a significant effect on RBCES, whereas the environmental pillar, the social pillar, and the aggregate ESG score were not significant. Because RBCES is the inverse of the efficiency score, this finding suggests that stronger governance is associated with lower technical efficiency in the short run, which may be explained by adjustment costs, tighter monitoring, and greater internal process complexity during the early phase of stronger governance implementation. In the stock return model, asset turnover ratio and current ratio had positive effects, whereas price-to-book ratio and price-to-sales ratio had negative effects. From the ESG perspective, only the environmental pillar was significant when each pillar was tested separately, whereas the social and governance pillars were not significant. However, the aggregate ESG score remained positive and significant in relation to stock returns and remained robust after controlling for macroeconomic factors. Overall, these results indicate that the market tends to respond more quickly to the environmental dimension, whereas governance operates more strongly through the firm’s internal channel. &#13;
The managerial implications of this study suggest that companies should not merely improve ESG disclosure in general, but should focus their sustainability strategies according to the influence channel of each dimension. Improvements in environmental performance should be prioritized to strengthen market response and investor perception, particularly in sectors with high resource intensity and environmental risk. At the same time, stronger governance remains important for building process discipline, internal control, and long-term resilience, even though its efficiency benefits may not be immediately visible in the short term. For investors, these findings underscore the importance of interpreting ESG not only as an aggregate score, but also as a combination of pillars with different implications. For regulators and policymakers, these findings underscore the need to strengthen a domestic ESG reporting and rating infrastructure that is more contextual, transparent, and grounded in spatial materiality.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Prototipe Model Pengambilan Keputusan Peningkatan Daya Saing Industri Fashion Muslim Dengan Pendekatan Kolaborasi Rantai Pasok</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173196" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ayuningtias, Jilly</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173196</id>
<updated>2026-05-30T12:26:47Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Prototipe Model Pengambilan Keputusan Peningkatan Daya Saing Industri Fashion Muslim Dengan Pendekatan Kolaborasi Rantai Pasok
Ayuningtias, Jilly
Industri fashion merupakan salah satu industri kreatif yang memberikan &#13;
kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia, baik dari sisi Produk &#13;
Domestik Bruto (PDB), ekspor, maupun penyerapan tenaga kerja. Saat ini industri &#13;
fashion tumbuh dan berkembang pesat, menciptakan ekosistem yang memberikan &#13;
dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi kreatif.  Namun, daya saing industri ini &#13;
masih menghadapi tantangan besar, seperti ketergantungan pada impor bahan baku, &#13;
rendahnya kolaborasi antar pelaku rantai pasok, lemahnya pemanfaatan teknologi &#13;
digital, perubahan permintaan secara mendadak yang mempengaruhi perubahan &#13;
jumlah pemesanan bahan baku kepada supplier sehingga tidak semua supplier &#13;
mampu memenuhi pesanannya, ditemukan bahan baku yang cacat, lama waktu &#13;
pengiriman bahan baku kepada perusahaan dan produk yang dikembalikan kepada &#13;
perusahaan karena tidak sesuai dengan pesanan, banjirnya produk impor pakaian &#13;
jadi dan kurangnya inovasi produk. Kondisi tersebut dibutuhkan pendekatan &#13;
komprehensif yang mampu menggabungkan evaluasi kinerja, analisis kompetitif &#13;
serta pemodelan strategi untuk peningkatan daya saing industri fashion, untuk itu &#13;
dibutuhkan pengembangan Model Pengambilan Keputusan untuk Peningkatan &#13;
Daya Saing Industri Fashion dengan Pendekatan Kolaborasi Rantai Pasok. Model &#13;
yang diusulkan bertujuan untuk membantu pemangku kepentingan dalam &#13;
mengembangkan strategi berdasarkan data dan mendorong kolaborasi antara &#13;
berbagai kelompok. Studi ini menggunakan Metodologi Sistem Lunak (SSM), &#13;
sebuah metode untuk menganalisis masalah kompleks yang melibatkan banyak &#13;
orang dan organisasi, dengan tujuan membantu semua pihak yang terlibat mencapai &#13;
kesepakatan. &#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method yang memadukan &#13;
analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan Data &#13;
Envelopment Analysis (DEA) untuk menilai efisiensi operasional 23 perusahaan &#13;
fashion muslim di Jakarta sebagai Decision Making Units (DMU), sedangkan &#13;
analisis kompetitif dilakukan dengan menggunakan Porter’s Five Forces untuk &#13;
mengukur intensitas persaingan. Selanjutnya, penentuan bobot prioritas strategi &#13;
dilakukan dengan Analytic Hierarchy Process (AHP) selanjutnya pengukuran &#13;
indikator kinerja rantai pasok diidentifikasi dan diukur dengan pendekatan Supply &#13;
Chain Operations Reference-Decision Support (SCOR-DS), dan Analytic Network &#13;
Process (ANP). Hasilnya kemudian dikombinasikan dengan Balanced Scorecard &#13;
(BSC) sebagai kerangka formulasi strategi, yang selanjutnya diwujudkan dalam &#13;
bentuk model pengambilan keputusan. &#13;
Temuan studi menunjukkan bahwa perusahaan mode menunjukkan tingkat &#13;
efisiensi yang bervariasi, dengan sekitar sepertiga di antaranya diklasifikasikan &#13;
sebagai efisien. Waktu tunggu, biaya produksi, ketepatan pengiriman, dan &#13;
kemampuan beradaptasi terhadap perubahan permintaan pasar merupakan faktor &#13;
utama yang menentukan baik efisiensi maupun daya saing. Analisis SCOR-DS &#13;
mengungkapkan bahwa indikator kinerja yang paling menentukan daya saing &#13;
adalah reliability (keandalan pengiriman), responsiveness (kecepatan merespons &#13;
permintaan), agility (kemampuan beradaptasi), cost (efisiensi biaya), dan asset &#13;
management (pengelolaan sumber daya). Analisis AHP dan ANP menunjukkan &#13;
bahwa prioritas strategi peningkatan kinerja lebih berfokus pada kolaborasi vertikal &#13;
(antara pemasok–produsen–distributor) dibandingkan kolaborasi horizontal (antar &#13;
produsen). &#13;
Kebaruan penelitian adalah pengembangan Model Pengambilan Keputusan &#13;
berbasis SSM yang mengintegrasikan analisis efisiensi operasional (DEA), tekanan &#13;
persaingan industri (Porter’s Five Forces), penentuan prioritas strategi kolaboratif &#13;
(AHP), penentuan keterkaitan antar elemen satu dengan yang lain (ANP) dan peta &#13;
strategi yang menghubungkan tujuan strategis dan indikator kinerja (BSC). Model &#13;
ini tidak hanya mampu bersifat evaluatif, tetapi juga mampu menghasilkan &#13;
rekomendasi strategis yang terstruktur dan siap diimplementasikan melalui model &#13;
pengambilan keputusan. &#13;
Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa Model Pengambilan Keputusan &#13;
dengan pendekatan kolaborasi rantai pasok dapat meningkatkan efisiensi, &#13;
memperkuat daya saing, dan memberikan keunggulan strategis bagi industri &#13;
fashion Indonesia. Kontribusi penelitian ini bersifat teoritis dan praktis. Secara &#13;
teoritis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan pengetahuan yang ada &#13;
mengenai integrasi Analisis Envelope Data (DEA), Lima Kekuatan Porter, Proses &#13;
Hirarki Analitis (AHP), Desain Referensi Operasi Rantai Pasokan dan Pasokan &#13;
(SCOR-DS), Proses Jaringan Analitis (ANP), dan metodologi Kartu Skor Seimbang &#13;
dalam pengembangan Model Pengambilan Keputusan di industri fashion. Secara &#13;
praktis, model pengambilan keputusan ini menyediakan alat strategis bagi &#13;
pemangku kepentingan industri dan berfungsi sebagai landasan untuk pembentukan &#13;
kebijakan pemerintah terkait industri mode nasional. &#13;
Namun, keterbatasan penelitian ini terletak pada cakupan datanya, yang &#13;
terbatas pada perusahaan mode Muslim yang beroperasi di Jakarta; oleh karena itu, &#13;
penerapan model ini memerlukan perluasan untuk mencakup wilayah geografis &#13;
lainnya. Selain itu, aspek sosial, lingkungan dan keberlanjutan belum digali secara &#13;
mendalam, sehingga menjadi peluang penelitian lanjutan. Dengan demikian, &#13;
penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan daya saing industri fashion &#13;
Indonesia dapat dicapai melalui kolaborasi rantai pasok yang efektif dan &#13;
pengambilan keputusan berbasis DSS.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Keragaman Bakteri Ulkus Diabetikum Sebagai Upaya Pendekatan Terapi dengan Menggunakan Bakteriofag pada Luka Penderita Diabetes</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173087" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ernawati, Andi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173087</id>
<updated>2026-05-18T06:12:11Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Keragaman Bakteri Ulkus Diabetikum Sebagai Upaya Pendekatan Terapi dengan Menggunakan Bakteriofag pada Luka Penderita Diabetes
Ernawati, Andi
The wound microbiome plays a crucial role in the development of diabetic ulcers. Understanding the pathogenic bacteria present in diabetic ulcers is essential for identifying the types of bacteria responsible for infection. Hemolysins are important virulence factors in pathogenic infections. Diabetic wounds are susceptible to bacterial infections that are resistant to multiple drugs, complicating treatment and recovery. Therefore, understanding the microbiota profiles and resistance mechanisms is essential for effective clinical management. Molecular sequencing has also improved our understanding of the complex microbial diversity found in diabetic ulcers. Pathogenic bacteria that cause infections in diabetic wounds must be isolated and controlled using bacteriophages.&#13;
 The objectives of this study are as follows: (1) to reveal the diversity of bacteria in wound infections in patients with diabetes, both cultivable and uncultivable, through metagenomic analysis using Oxford Nanopore Technologies (ONT). This study examined the hemolytic capacity of pathogenic bacteria, antibiotic resistance, strong biofilm formation, resistance to the blaTEM gene, resistance to the sul1 gene, and identification of the 16S rRNA gene in selected isolates, and (2) the isolation, characterization, and efficiency of phages capable of infecting pathogenic bacteria from diabetic wounds in vitro.&#13;
Wound samples from each patient were cultured using Eosin Methylene Blue Agar (EMBA), Maltose Salt Agar (MSA), and Pseudomonas Cetrimide Agar. Single bacterial colonies that grew were tested for hemolytic activity. This study yielded 70 isolates with hemolytic activity; of these, 15 were identified as ß-hemolysin, 8 as a-hemolysin, and 47 as ?-hemolytic.&#13;
Fifteen bacterial isolates showed ß-haemolysin activity, dominated by Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeruginosa. Six isolates showed a multiple antibiotic resistance (MAR) index &gt;0.4 and had the ability to form biofilms. Based on their ability to form biofilms, five bacterial isolates were classified as poor (P54A and P63AC2), weak (1PACP and 14PIBC), or moderate (bacterial isolate code 13MIPP). Bacterial isolates with weak and moderate biofilm formation abilities and a MAR index = 0.4 were proceeded to the DNA isolation stage, 16s RNA gene identification, ß-lactamase gene (blaTEM) detection, sulfonamide gene (sul1) detection, and sequencing. PCR results confirmed the presence of blaTEM and sul1 in three isolates (1PACP, 13MIPP, and 14PIBC). The three isolates identified using 16s rRNA were Pseudomonas aeruginosa 1PACP, Staphylococcus aureus 13MIPP, and Pseudomonas aeruginosa 14PIBC. These findings highlight the prevalence of multidrug-resistant and biofilm-forming bacteria in diabetic wounds, emphasising the need for targeted antimicrobial strategies and resistance monitoring.&#13;
Swab samples from each patient's wound were extracted for genomic analysis using nanopore sequencing. Samples from patients receiving antibiotics were coded 4, 7AB, and 8, whereas samples from patients not receiving antibiotics were coded 11. This study showed that the species with the highest abundance in sample 11 was Acinetobacter junii, in sample 4 was Proteus mirabilis, in sample 7AB were Alcaligenes faecalis and Pseudomonas aeruginosa, and in sample 8 was Acinetobacter baumannii. Patients who did not receive antibiotic treatment and those who did receive antibiotic treatment showed the presence of significant pathogenic microorganisms.&#13;
Staphylococcus aureus 13MIPP and Pseudomonas aeruginosa 14PIBC were selected to be controlled by bacteriophages isolated from various water sources in the environment. Bacteriophage FSA_2.2DS with host Staphylococcus aureus 13MIPP was successfully isolated, while bacteriophages with host Pseudomonas aeruginosa 14PIBC that were successfully isolated were FPA_14S6A2, FPA_14S3A, FPA_14S7A, FPA_14S8A, FPA_14S8B, and FPA_14S7E. The bacteriophages FPA_14S6A2, FPA_14S3A, FPA_14S7A, FPA_14S8A, FPA_14S8B, FPA_14S7E, and FSA_2.2DS were tested for their effectiveness against their respective specific hosts and characterised for their protein molecular weight using SDS-PAGE analysis.&#13;
SDS-PAGE analysis of the six bacteriophage isolates with the host P. aeruginosa strain 14PIBC showed protein bands, except for isolate code 4 (FPA_14S8A), which had no protein bands. Isolate code 1 (FPA_14S6A2) had three protein bands with molecular weights ranging from 59.35 kDa, 29.25 kDa, to 25.99 kDa. Isolate code 2 (FPA_14S3A) had three protein bands with molecular weights ranging from 59.35 kDa, 29.25 kDa, to 25.99 kDa. Isolate code 3 (FPA_14S7A) with three protein bands with molecular weights ranging from 59.35 kDa, 29.25 kDa, 25.99 kDa. Isolate code 5 (FPA_14S8B) with 1 band with a molecular weight ranging from 29.25 kDa. Isolate code 6 (FPA_14S7E) with two bands with molecular weights ranging from 59.35 kDa to 29.25 kDa.&#13;
The effectiveness test of bacteriophages against P. aeruginosa strain 14PIBC hosts showed that FPA_14S6A2 at 3-hour, 6-hour, and 9-hour incubations showed significantly different bacterial colony growth and a decrease in the number of bacterial colonies. Meanwhile, at 12 h of incubation, the number of bacterial colonies increased (not significantly different from 6 h of incubation), but at 24 h of incubation, there was a significant decrease in the number of bacterial colonies (105 CFU/mL) compared to the control at 24 h of incubation (1011 CFU/mL).&#13;
The test of the effectiveness of bacteriophages against the S. aureus 13MIPP host showed that FSA_2.2DS at 3 and 6 h of incubation showed significantly different bacterial colony growth and an increase in the number of bacterial colonies. Meanwhile, at 9, 12, and 24 h of incubation, the number of bacterial colonies remained constant (no significant difference), whereas at 24 h of incubation, the number of bacterial colonies was 107 CFU/mL, which was significantly different from the control at 24 h of incubation (number of bacterial colonies was 1010 CFU/mL). This indicates the potential of bacteriophages to lyse Staphylococcus aureus 13MIPP and Pseudomonas aeruginosa 14PIBC bacteria originating from wound swabs of patients with diabetes.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Optimizing LQ45 and ESG Stock Portfolios and Factors Affecting the Volatility of the Formed Portfolios</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173070" rel="alternate"/>
<author>
<name>Hapsari, Umi Indah</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173070</id>
<updated>2026-05-12T03:49:10Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Optimizing LQ45 and ESG Stock Portfolios and Factors Affecting the Volatility of the Formed Portfolios
Hapsari, Umi Indah
Integrasi faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola (Enviromental, Social, and Governance) ke dalam pengambilan keputusan investasi, relevan dalam lanskap keuangan global, terutama karena investor mencari strategi yang meningkatkan ketahanan selama periode ketidakpastian. Indonesia, mengalami pertumbuhan pesat dalam inisiatif keuangan berkelanjutan; namun, bukti empiris tentang bagaimana integrasi ESG memengaruhi dinamika risiko portofolio di pasar ini masih terbatas. Studi ini mengadopsi kerangka kerja analitis berbasis periode dengan memisahkan sampel menjadi empat rezim yang berbeda: pra-pandemi (2016–2019), pandemi (2020–2021), pemulihan pasca-pandemi (2022–2023), dan seluruh periode (2016-2023). Pendekatan ini bertujuan menganalisis dinamika volatilitas risiko imbal hasil saham, optimalisasi portofolio saham , dan pengaruh faktor-faktor makroekonomi dengan memperhitungkan perubahan dan pergeseran perilaku investor yang bergantung pada rezim. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data harga penutupan saham dengan periode data sejak 1 Januari 2016 sampai dengan 31 Desember 2023 dalam bentuk data time series harian, berasal dari Bursa Efek Indonesia dan Bloomberg. Penelitian dilakukan atas saham-saham kelompok Indeks LQ45 dan Indeks ESG per 31 Desember 2023. Yang mana Indeks ESG terdiri dari Indeks (IDX ESGL – ESG Leaders), Indeks SRI Kehati, Indeks ESG Sector Leaders IDX Kehati, Indeks ESG Quality 45 IDX Kehati per 31 Desember 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volatilitas tertinggi terdapat pada saham LQ45, diikuti oleh ESG dan ESGLQ45, yang keduanya merupakan bagian dari IHSG sehingga berkontribusi terhadap volatilitasnya. Berbeda dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan bahwa SRI/ESG unggul dalam imbal hasil dan risiko, studi ini menemukan bahwa imbal hasil dan volatilitas ESG masih lebih rendah daripada LQ45, kemungkinan karena penggunaan empat indeks ESG termasuk SRI KEHATI. LQ45 secara konsisten mencatat rata-rata imbal hasil dan tertinggi di semua periode, meskipun volatilitasnya juga paling tinggi. Perbedaan imbal hasil antar kelompok hanya signifikan selama Covid-19, ketika ESG mengungguli ESGLQ45, sementara perbedaan volatilitas signifikan di semua periode. Hasil-hasil ini memberikan rekomendasi – Menggunakan saham yang berfungsi sebagai ESG juga LQ45. Ada manfaat ganda pemakaiannya, yakni, imbal hasil akan lebih besar dari ESG namun volatilitas lebih rendah dari ESG. Di masa pandemi, ESG sebagai penjaga pencapaian imbal hasil yang tertinggi kedua setelah LQ45. - Mengoptimalkan portofolio dengan Mean return tertinggi dan sharpe risiko terbesar adalah pendekatan Mean CVaR. Jika menginginkan risiko terrendah dengan metode Mean Variance. - Menyesuaikan muatan portofolio dengan faktor makroekonomi dengan pertimbangan bahwa portofolio ESG tidak sepenuhnya terisolasi dari guncangan makroekonomi; namun, responsnya terhadap faktor eksternal seperti suku bunga, harga minyak, dan nilai tukar kurang terasa dibandingkan dengan portofolio konvensional. Meski investasi ESG lebih tangguh selama krisis keuangan, investasi tersebut masih rentan terhadap peristiwa pasar signifikan yang dipengaruhi oleh faktor makroekonomi.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
