<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Dissertations</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/27" rel="alternate"/>
<subtitle>Dissertations of IPB's Ph.D. student</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/27</id>
<updated>2026-05-06T11:50:22Z</updated>
<dc:date>2026-05-06T11:50:22Z</dc:date>
<entry>
<title>RESILIENSI PETANI PADI MENGHADAPI TEKANAN PERUBAHAN IKLIM: IMPLIKASI TERHADAP MODEL PENYULUHAN PERTANIAN</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173041" rel="alternate"/>
<author>
<name>Azhari, Rafnel</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173041</id>
<updated>2026-05-06T02:59:36Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">RESILIENSI PETANI PADI MENGHADAPI TEKANAN PERUBAHAN IKLIM: IMPLIKASI TERHADAP MODEL PENYULUHAN PERTANIAN
Azhari, Rafnel
Penelitian ini dilatar belakangi oleh tingginya tekanan perubahan iklim yang&#13;
dialami oleh petani padi di Indonesia. Tekanan yang terjadi menyebabkan stagnasi&#13;
dalam pencapaian sasaran Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus&#13;
kerentanan (vulnerability) pada rumah tangga petani. Hal ini menunjukkan perlunya&#13;
merancang tata kelola pertanian dengan perspektif resiliensi. Kemampuan petani untuk&#13;
mengatasi berbagai tekanan baik jangka pendek maupun jangka panjang&#13;
dikonseptualisasikan sebagai resiliensi. Sampai saat ini, tingkat kerentanan petani padi&#13;
masih tinggi, sehingga penelitian ini merumuskan masalah yang diteliti yakni tingginya&#13;
tingkat kerentanan padi akibat perubahan iklim dan bagaimana dengan tingkat&#13;
resiliensinya.&#13;
Tiga teori utama melandasi penelitian disertasi ini, yakni teori penyuluhan,&#13;
kapasitas resiliensi dan penghidupan berkelanjutan. Teori penyuluhan perubahan iklim&#13;
menyebutkan tiga cara yang dapat dilakukan oleh penyuluhan pertanian untuk&#13;
membantu petani menghadapi tekanan perubahan iklim: (1) memfasilitasi petani dan&#13;
menerapkan kebijakan serta program yang sesuai, (2) menyediakan informasi dan&#13;
memandu pengelolaan metode pertanian baru, dan (3) mengembangkan kapasitas&#13;
penyuluh menghadapi tekanan perubahan iklim. Kerangka teori ini digunakan untuk&#13;
membangun variabel penyelenggaraan penyuluhan dan melihat pengaruhnya terhadap&#13;
resiliensi petani terhadap perubahan iklim. Teori kedua adalah teori resiliensi yang&#13;
menekankan bahwa resiliensi adalah kemampuan petani untuk mengatasi tekanan yang&#13;
terjadi dan juga bertransformasi menjadi lebih baik. Terdapat tiga kapasitas resiliensi&#13;
yang perlu dibangun dan dikembangkan, yakni kapasitas stabilisasi, adaptasi dan&#13;
kapasitas transformasi. Teori ketiga adalah teori penghidupan berkelanjutan yang&#13;
menekankan strategi penghidupan dapat menjadi respon terhadap berbagai bentuk&#13;
tekanan dan guncangan yang terjadi. Teori ini menyebutkan bahwa strategi&#13;
penghidupan berkelanjutan mencakup lima modal, yakni modal manusia, modal&#13;
ekonomi, modal sosial, modal fisik dan modal alam.&#13;
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, pertanian pangan yang paling banyak&#13;
mendapatkan tekanan perubahan iklim adalah usahatani padi. Data BPS 2023 menunjukkan&#13;
bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan penghasil padi nomor dua terbesar di Indonesia&#13;
dengan produksi padi mencapai 9,10 juta ton gabah kering giling. Jawa Barat juga&#13;
merupakan daerah yang mengalami kerugian ekonomi paling tinggi akibat perubahan iklim&#13;
untuk sektor pertanian di Indonesia.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kerentanan rumah tangga petani&#13;
padi, menganalisis resiliensi petani padi di Jawa Barat, menganalisis faktor-faktor yang&#13;
berpengaruh terhadap resiliensi petani padi, menganalisis tingkat keberlanjutan usahatani&#13;
padi dan faktor-faktor yang memengaruhinya, serta merumuskan model penyuluhan&#13;
pertanian untuk mewujudkan resiliensi petani padi.&#13;
Metode survei yang dilakukan di dua kabupaten di Provinsi Jawa Barat yaitu&#13;
Kabupaten Karawang yang mewakili wilayah pertanian intensif dan Kabupaten Subang&#13;
yang mewakili wilayah pertanian semi intensif. Sejumlah 371 petani dipilih dari 5.083&#13;
petani padi yang merupakan anggota kelompok tani padi di delapan desa di Kecamatan&#13;
Cilamaya Wetan dan Cilamaya Kulon Kabupaten Karawang, serta kelompok tani padi di&#13;
empat desa di Kecamatan Pabuaran dan Kalijati. Kriteria petani terpilih adalah petani padi&#13;
skala kecil yang mengelola usahataninya. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan&#13;
kualitatif. Analisis kuantitatif menerapkan statistik induktif sedangkan analisis kualitatif&#13;
digunakan sebagai pelengkap analisis kuantitatif.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan tingkat kerentanan rumah tangga petani padi di&#13;
wilayah lumbung pangan Provinsi Jawa Barat berada pada kategori cukup rentan, dengan&#13;
nilai LVI sebesar 0,47 (Karawang) dan 0,43 (Subang). Karawang yang merupakan daerah&#13;
pinggiran kota dengan pertanian padi intensif, menunjukkan kerentanan yang lebih tinggi&#13;
dibandingkan Subang yang merupakan wilayah pedesaan dengan karakter pertanian semi&#13;
intensif. Komponen utama yang menyebabkan kerentanan di Karawang adalah strategi&#13;
penghidupan (0,61), jaringan sosial (0,47), kesehatan (0,32), pangan (0,46), air (0,68), serta&#13;
bencana alam dan variabilitas iklim (0,54). Petani di Subang lebih rentan dibandingkan&#13;
petani di Karawang pada dua komponen utama, yaitu sosiodemografi (0,46) dan lahan&#13;
(0,31). Nilai LVI-IPCC untuk Kabupaten Karawang dan Subang masing-masing adalah&#13;
0,03 dan 0,02. Kedua kabupaten termasuk dalam kategori cukup rentan berdasarkan&#13;
penilaian LVI-IPCC.&#13;
Kapasitas resiliensi petani padi mencakup tiga dimensi, yaitu kapasitas stabilisasi,&#13;
adaptasi dan transformasi. Kapasitas stabilisasi petani padi di Kabupaten Karawang berada&#13;
pada kategori rendah (42,91) sedangkan petani padi di Kabupaten Subang berada pada&#13;
kategori tinggi (50,30). Dalam hal kapasitas adaptasi, Kabupaten Subang dan Karawang&#13;
berada pada kategori rendah dengan nilai masing-masing yakni 38,24 dan 33,22. Kapasitas&#13;
transformasi petani padi di Karawang berada pada kategori sangat rendah, dengan nilai&#13;
indeks 16, sedangkan Subang berada pada kategori rendah dengan nilai indeks 32. Tingkat&#13;
keberlanjutan usahatani padi diukur melalui tiga dimensi utama, yaitu ekonomi, sosial,&#13;
dan lingkungan, yang masing-masing dibagi ke dalam empat kategori keberlanjutan, yaitu&#13;
(i) terjadi penurunan, (ii) tidak ada perubahan, (iii) peningkatan tinggi, dan (iv)&#13;
peningkatan sangat tinggi. Keberlanjutan usahatani dalam aspek ekonomi di Kabupaten&#13;
Karawang berada pada kategori terjadi penurunan dengan nilai indeks 17,43 dan Kabupaten&#13;
Subang berada pada kategori tidak ada perubahan dengan nilai indeks 34,60. Keberlanjutan&#13;
usahatani dalam aspek sosial di Kabupaten Karawang dan Subang berada pada kategori&#13;
tidak ada perubahan dengan nilai indeks masing-masing 33,84 dan 37,34. Keberlanjutan&#13;
usahatani dalam aspek lingkungan di Kabupaten Karawang berada pada kategori terjadi&#13;
penurunan dengan nilai indeks 16,28 dan Kabupaten Subang berada pada kategori tidak&#13;
ada perubahan dengan nilai indeks 25,85.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang berpengaruh positif dan signifikan&#13;
terhadap kapasitas resiliensi petani padi, meliputi modal manusia, penyelenggaraan&#13;
penyuluhan, modal alam, modal sosial dan modal finansial. Faktor-faktor yang&#13;
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberlanjutan usahatani padi dalam hal modal&#13;
manusia, penyelenggaraan penyuluhan, modal alam, modal fisik, modal sosial dan&#13;
kapasitas resiliensi petani. Model penyuluhan untuk meningkatkan resiliensi petani padi&#13;
terhadap perubahan iklim yang dibangun adalah model penyuluhan pluralistik-best fit&#13;
berbasis modal penghidupan di tingkat lokal. Model tersebut tersusun atas lima komponen,&#13;
yaitu kondisi kontekstual, karakteristik penyuluhan pertanian dalam sistem inovasi, kinerja&#13;
kualitas layanan penyuluhan, hasil pada rumah tangga petani dan dampak jangka panjang&#13;
terhadap keberlanjutan. Penelitian ini menawarkan kontribusi teoritis terhadap&#13;
pengembangan teori kapasitas resiliensi dan teori penyuluhan pertanian untuk perubahan&#13;
iklim serta implikasi kebijakan yang bisa digunakan untuk mereformulasi kebijakan&#13;
penyuluhan pertanian dalam menghadapi tekanan perubahan iklim.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Potensi Ekstrak Kangkang Katup (Phanera semibifida  (Roxb.) Benth) Asal Kepulauan Lingga sebagai Kandidat Antidiabetes Baru</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173037" rel="alternate"/>
<author>
<name>Suhendra, Meyla</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173037</id>
<updated>2026-05-05T23:41:14Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Potensi Ekstrak Kangkang Katup (Phanera semibifida  (Roxb.) Benth) Asal Kepulauan Lingga sebagai Kandidat Antidiabetes Baru
Suhendra, Meyla
Diabetes melitus atau DM adalah salah satu penyakit degeneratif yang dicirikan dengan tingginya kadar gula darah (hiperglikemia). International Diabetes Federation (IDF) menyatakan jumlah penderita diabetes di dunia akan terus meningkat dengan penderita terbanyak berada pada usia produktif. Indonesia menempati posisi lima besar kejadian diabetes terbanyak di dunia. Berbagai terapi diabetes terus dikembangkan termasuk penggunaan obat bahan alam. Tumbuhan yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai antidiabetes adalah Kangkang katup (Phanera semibifida). Penelitian terdahulu menyatakan bahwa genus ini mampu menghambat aktifitas enzim a-glukosidase dan mampu menurunkan kadar gula darah tikus Sprague Dawley. Tumbuhan ini telah digunakan oleh masyarakat Lingga sebagai bahan baku pembuatan ramuan khas daerah tersebut. Namun, pengujian tumbuhan sebagai antidiabetes belum pernah dilakukan. &#13;
Penelitian ini merupakan tipe eksperimental dengan pendekatan multi-tahap. Tahap pertama merupakan penelitian jenis eksplorasi serta preparasi sampel kangkang katup yang diperoleh dari desa Resun, Kepulauan Lingga, provinsi kepulauan Riau. Tahap kedua adalah tahap ekstraksi, screening fitokimia dan evaluasi profil metabolit kangkang katup. Tahap ketiga adalah studi bioinformatika dengan pendekatan molecular docking dan molecular dynamic antidiabetes pada senyawa kangkang katup. Tahap keempat adalah evaluasi potensi antidiabetes dan antioksidan kangkang katup secara in vitro (IC50). Tahap kelima adalah evaluasi ekstrak kangkang katup sebagai antidiabetes pada tikus diabetes dengan desain kelompok kontrol acak dan tahap keenam adalah formulasi ekstrak kangkang katup kedalam bentuk nanoekstrak (fitosom).&#13;
Tahap pertama dari penelitian ini berhasil mengoleksi dan mengidentifikasi dua sampel kangkang katup dari kepulauan Lingga. Selanjutnya dilakukan ekstraksi dengan menggunakan lima pelarut. Berdasarkan hasil screening uji kemampuan antidiabetes dan uji toksisitas pada 20 ekstrak, ekstrak etanol Phanera semibifida (Roxb.) Benth menunjukkan hasil terbaik jika dibandingkan dengan ekstrak lainnya. ekstrak ini mengandung flavonoid, terpenoid, saponin, dan tanin. Hasil LCMS-MS menunjukkan bahwa ekstrak etanol batang memiliki 26 senyawa sedangkan ekstrak daun memiliki 24 senyawa. Selanjutnya dilakukan  pengujian in silico dengan menggunakan 4 reseptor target yaitu aldosa reduktase, a-amilase, a-glukosidase dan Sodium-Glucose Linked Transporter (SGLT). Interaksi terbaik terdapat pada Aldose reductase dan asam Alfaketoapidik, a-amilase dan Ellagic acid, a-glukosidase dan SLGT-2 memiliki interaksi terbaik dengan Cianidanol. &#13;
Penelitian tahap ketiga adalah pengujian aktifitas antidiabetes dan antioksidan  (IC50) secara in vitro. Berdasarkan pengujian ini, ekstrak etanol batang secara konsisten menunjukkan hasil yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ekstrak daun. sehingga berdasarkan hasil ini, ekstrak etanol batang digunakan untuk pengujian in vivo serta dapat diformulasikan ke dalam bentuk nano-ekstrak (fitosom). Hasil uji in vivo menujukkan bahwa ekstrak etanol batang kangkang katup mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetes secara signifikan pada hari ke 4 dengan nilai terendah ditunjukkan oleh kelompok dosis 400 mg/kg BB pada hari ke 16. Ekstrak batang kangkang katup juga mampu memperbaiki bobot badan tikus diabetes dan tidak memengaruhi profil hematologi pada semua perlakuan. Hasil ini juga membuktikan ekstrak batang kangkang katup mampu memperbaiki biokimia kadar darah tikus diabetes (alanine aminotransferase (ALT), aspartate aminotransferase (AST), urea dan kreatinin)  serta memperbaiki profil lipid tikus diabetes dengan menurunkan kolesterol, trigliserida, HDL dan VLDL. &#13;
Formulasi nano-ekstrak dalam bentuk fitosom berhasil dilakukan dengan menggunakan metode thin-layer hidration. Fitosom yang dihasilkan memiliki ukuran partikel sebesar 120-300nm dan stabil hingga masa penyimpanan 3 bulan. Investigasi terhadap mekanisme kerja kangkang katup menunjukkan bahwa kangkang katup bekerja terhadap insulin, ginjal, glikogen hati dan enzim pencernaan. Kangkang katup menunjukkan potensi sebagai kandidat antidiabetes baru dan diharapkan memiliki kemampuan yang tidak lebih buruk jika dibandingkan obat sintetis; Diabetes mellitus (DM) is a degenerative metabolic disorder characterized by elevated blood glucose levels (hyperglycemia). The International Diabetes Federation (IDF) reports that the global prevalence of diabetes continues to increase, with the highest proportion of affected individuals belonging to the productive age group. Indonesia ranks among the top five countries with the highest number of diabetes cases worldwide.&#13;
Various therapeutic strategies for diabetes management have been extensively developed, including the exploration of natural product–based medicines. One plant with promising potential for development as an antidiabetic agent is Phanera semibifida (locally known as Kangkang katup). Previous studies have demonstrated that species in this genus exhibit inhibitory activity against the a-glucosidase enzyme and can reduce blood glucose levels in Sprague–Dawley rats. Furthermore, this plant has been traditionally used by the Lingga community as a primary ingredient in local herbal formulations. However, the comprehensive scientific evaluation of this plant as an antidiabetic agent remains limited.&#13;
This study was designed as an actual experimental research employing a multi-stage approach. The first stage involved exploratory research and sample preparation of Phanera semibifida (Kangkang katup), which was collected from Resun Village, Lingga Regency, Riau Islands Province, Indonesia. The second stage consisted of extraction, phytochemical screening, and metabolite profiling of Kangkang katup. The third stage involved a bioinformatics study that applied molecular docking and molecular dynamics to evaluate the antidiabetic potential of compounds identified from Kangkang katup. The fourth stage comprised in vitro evaluation of the antidiabetic and antioxidant activities of Kangkang katup extracts, including determination of IC50 values. The fifth stage involved assessment of the antidiabetic effects of Kangkang katup extract in diabetic rat models using a randomized controlled group design. The sixth stage focused on formulating Kangkang katup extract into a nano-extract delivery system (phytosome formulation).&#13;
The first stage of this study successfully collected and identified two Kangkang katup samples from the Lingga Islands, Indonesia. Subsequently, both samples were extracted using five different solvents. Based on the screening results of antidiabetic activity and toxicity assays conducted on 20 extracts, the ethanolic extract of Phanera semibifida (Roxb.) Benth demonstrated the most promising activity compared to the other extracts. Phytochemical screening revealed the presence of flavonoids, terpenoids, saponins, and tannins in this extract. LC–MS/MS analysis showed that the ethanolic stem extract contained 26 compounds, while the leaf extract contained 24 compounds. The LCMS/MS identified compounds were further subjected to in silico analysis using four receptor targets: aldose reductase, a-amylase, a-glucosidase, and sodium glucose linked transporter 2 (SGLT-2). The strongest predicted interactions were observed between aldose reductase and a-keto acid derivatives, a-amylase and ellagic acid, a-glucosidase and cianidanol, and SGLT-2 and gallic acid.&#13;
The third stage of the study involved in vitro evaluation of antidiabetic and antioxidant activities, including determination of IC50 values. Based on these assays, the ethanolic stem extract consistently showed better bioactivity than the leaf extract. Therefore, the ethanolic stem extract was selected for in vivo evaluation and for formulation into a nano-extract delivery system (phytosome). The in vivo results showed that the ethanolic stem extract of Phanera semibifida (Roxb.) Benth significantly reduced blood glucose levels in diabetic rats as early as day 4 of treatment. The most significant reduction was observed in the 400 mg/kg body weight group on day 16. In addition, the stem extract improved body weight in diabetic rats and did not adversely affect hematological parameters across all treatment groups. Consistently, the extract ameliorated biochemical markers in diabetic rats, including alanine aminotransferase (ALT), aspartate aminotransferase (AST), urea, and creatinine levels. Furthermore, it improved the lipid profile by reducing total cholesterol, triglycerides, HDL, and VLDL levels.&#13;
The nano-extract formulation in the form of a phytosome was successfully developed using the thin-layer hydration method. The resulting phytosomes exhibited particle sizes ranging from 120 to 300 nm and remained stable for up to three months of storage. Investigation of the mechanism of action of Phanera semibifida (Roxb.) Benth indicated that the extract exerts its effects by modulating insulin regulation, renal function, hepatic glycogen metabolism, and digestive enzymes. Overall, Phanera semibifida (Roxb.) Benth demonstrates considerable potential as a novel antidiabetic candidate and is expected to exhibit therapeutic efficacy comparable to synthetic antidiabetic drugs
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Model Strategi Inovasi Pemasaran untuk Meningkatkan Kinerja Pemasaran Produk Farmasi di PT XYZ</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173030" rel="alternate"/>
<author>
<name>ZULDEKRA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173030</id>
<updated>2026-05-05T02:27:26Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Model Strategi Inovasi Pemasaran untuk Meningkatkan Kinerja Pemasaran Produk Farmasi di PT XYZ
ZULDEKRA
Pendekatan pemasaran tradisional yang masih mendominasi industri farmasi, seperti tenaga penjual medical representatives dan hubungan langsung dengan tenaga medis, semakin kehilangan efektivitas di tengah perubahan perilaku konsumen dan digitalisasi. Kurangnya pemahaman mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan inovasi pemasaran menyebabkan banyak perusahaan farmasi mengalami stagnasi dalam pertumbuhan penjualan serta melemahnya daya saing di pasar yang semakin kompetitif. Pengembangan strategi inovasi pemasaran yang lebih adaptif, berbasis data, dan terintegrasi meningkatkan penetrasi pasar serta pertumbuhan penjualan produk farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis karakteristik demografi prescribers dan non-prescribers diindustri farmasi Indonesia; 2) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan inovasi pemasaran; 3) menyusun strategi inovasi pemasaran yang paling prioritas untuk meningkatkan kinerja pemasaran produk farmasi, dan 4) membangun model strategi inovasi pemasaran untuk meningkatkan kinerja pemasaran perusahaan. Penelitian ini dilakukan di PT XYZ karena perusahaan tersebut merupakan salah satu perusahaan farmasi multinasional terbesar di Indonesia dan memiliki posisi strategis sebagai penyedia utama produk nutrisi klinis, sehingga relevan sebagai studi kasus dalam analisis strategi inovasi pemasaran di industri farmasi nasional.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed-method). Data primer diperoleh melalui survei terhadap 174 dokter yang terdiri atas kelompok prescribers dan non-prescribers dari berbagai spesialisasi medis, serta dilanjutkan wawancara mendalam dengan delapan orang pakar yang memiliki kompetensi di bidang farmasi dan kesehatan, mencakup aspek klinis, regulasi, pemasaran, dan akses pasar. Para pakar dipilih secara purposive dengan mempertimbangkan pengalaman profesional, posisi strategis, serta keterlibatan langsung mereka dalam pengelolaan dan perumusan kebijakan di sektor farmasi. Teknik analisis yang digunakan meliputi analisis deskriptif untuk mengidentifikasi profil dan perbedaan karakteristik responden, Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji hubungan antarvariabel laten, serta Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP) dan Fuzzy Interpretive Structural Modeling (FISM) untuk menentukan prioritas dan keterkaitan antar strategi inovasi pemasaran.&#13;
Kebaruan dari penelitian ini adalah: 1) menghasilkan pendekatan segmentasi prescribers dan non-prescribers berbasis karakteristik demografi dan konteks praktik klinis dalam pemasaran farmasi; 2) mengungkapkan keberhasilan inovasi pemasaran farmasi bersifat selektif dan kontekstual, di mana hanya dimensi inovasi tertentu yang berpengaruh signifikan terhadap kinerja pemasaran; 3) merumuskan strategi inovasi pemasaran berbasis validasi kausal terhadap kinerja pemasaran dan proses penyaringan (empirical filtering) dimensi inovasi dengan daya ungkit tertinggi; 4) mengembangkan kerangka metodologis hibrida yang mengintegrasikan SEM-PLS, FAHP, dan FISM dalam satu alur analisis terstruktur untuk mendukung pengambilan keputusan strategis berbasis data dan konsensus pakar; serta 5) menghasilkan model strategi inovasi pemasaran farmasi yang non-linier dan non-hierarkis, yang merepresentasikan interaksi simultan antardimensi inovasi berdasarkan validasi empiris dan prioritas strategis sehingga lebih realistis untuk implementasi dalam industri farmasi yang highly regulated.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata antara prescribers dan non-prescribers dalam karakteristik demografi, latar belakang profesional, serta konteks praktik klinis, yang memperkuat relevansi penerapan strategi inovasi pemasaran farmasi yang bersifat tersegmentasi dan kontekstual. Analisis SEM-PLS mengungkap bahwa inovasi promosi dan inovasi distribusi berpengaruh signifikan terhadap kinerja pemasaran, dengan kemampuan eksplanatori model yang sangat tinggi (R² ˜ 0.897) dan relevansi prediktif yang kuat (Q² ˜ 0.871), serta didukung oleh validitas dan reliabilitas konstruk yang memadai. Hasil Fuzzy AHP menunjukkan bahwa inovasi promosi dan inovasi proses memiliki prioritas strategis tertinggi, sementara Fuzzy ISM memetakan keterkaitan simultan keenam elemen inovasi pemasaran dalam satu sistem yang dinamis dan adaptif, dengan inovasi promosi, inovasi proses, dan inovasi distribusi membentuk pola interaksi siklis sebagai pengungkit utama kinerja pemasaran. Berdasarkan sintesis menyeluruh atas hasil analisis deskriptif, SEM-PLS, Fuzzy AHP, dan Fuzzy ISM, penelitian ini pada akhirnya menghasilkan dua model akhir, yaitu model integrasi keenam elemen inovasi terhadap kinerja pemasaran dan model inovasi pemasaran efektif berdasarkan elemen dominan, yang menempatkan inovasi promosi, inovasi proses, dan inovasi distribusi sebagai elemen kunci dengan daya ungkit tertinggi terhadap peningkatan kinerja pemasaran, menunjukkan jalur pengaruh yang kontinu dan saling memperkuat antara ketiga elemen tersebut, sekaligus mengidentifikasi peran elemen pendukung lainnya, yaitu inovasi produk, inovasi harga, dan inovasi organisasi, yang tetap terintegrasi dalam sistem inovasi pemasaran dengan kontribusi relatif yang lebih rendah terhadap kinerja pemasaran. &#13;
Implikasi penelitian ini bersifat strategis dan operasional. Secara praktis, perusahaan farmasi disarankan memprioritaskan inovasi promosi berbasis edukasi klinis, inovasi proses pemasaran yang terintegrasi secara digital, serta penguatan inovasi distribusi untuk menjamin akses dan ketersediaan produk secara konsisten. Strategi pemasaran perlu disesuaikan dengan karakteristik demografi serta perbedaan peran prescribers dan non-prescribers melalui diferensiasi pesan, media, dan konten yang kontekstual dengan praktik klinis. Secara manajerial, hasil penelitian menekankan pentingnya pengelolaan inovasi pemasaran secara holistik dan non-linier melalui orkestrasi lintas fungsi, alokasi sumber daya berbasis prioritas empiris, serta mekanisme evaluasi dan pembelajaran berkelanjutan guna mendukung kinerja pemasaran yang berkelanjutan di industri farmasi.&#13;
Penelitian ini memiliki keterbatasan karena model strategi inovasi pemasaran dikembangkan dalam konteks satu perusahaan, sehingga karakteristik organisasi, budaya internal, dan strategi spesifik dapat membatasi generalisasi temuan ke perusahaan lain atau sub-sektor industri farmasi. Model juga menitikberatkan pada interaksi internal enam elemen inovasi pemasaran—produk, proses, organisasi, harga, promosi, dan distribusi—tanpa mengintegrasikan faktor eksternal seperti regulasi, persaingan, dinamika industri, dan kondisi ekonomi makro. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan melakukan replikasi dan validasi empiris pada konteks yang lebih luas serta mengeksplorasi studi longitudinal dan pendekatan metodologis hybrid untuk meningkatkan validitas dan relevansi praktis model.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Hubungan Ketahanan Pangan, Status Sosial Ekonomi Miskin dan Tidak Miskin, serta Mikrobiota Mulut Ibu Hamil dengan Outcome Kehamilan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173018" rel="alternate"/>
<author>
<name>OKTASARI, RINA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173018</id>
<updated>2026-05-04T07:52:59Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hubungan Ketahanan Pangan, Status Sosial Ekonomi Miskin dan Tidak Miskin, serta Mikrobiota Mulut Ibu Hamil dengan Outcome Kehamilan
OKTASARI, RINA
RINGKASAN&#13;
RINA OKTASARI. Hubungan Ketahanan Pangan, Status Sosial Ekonomi Miskin dan Tidak Miskin, serta Mikrobiota Mulut Ibu Hamil dengan Outcome Kehamilan. Dibimbing oleh HADI RIYADI, ALI KHOMSAN, KATRIN ROOSITA, dan YULIN LESTARI.&#13;
&#13;
Ketahanan pangan rumah tangga merupakan faktor mendasar dalam pemenuhan gizi ibu hamil. Rumah tangga dengan ketahanan pangan rendah sering memiliki pola konsumsi dengan jumlah terbatas dan kurang beragam, sehingga meningkatkan risiko kekurangan zat gizi dan outcome kehamilan yang merugikan. Kondisi ini diperberat oleh status sosial ekonomi yang menentukan kemampuan keluarga memperoleh pangan bergizi. &#13;
Selain faktor gizi, mikrobiota mulut juga berperan dalam mekanisme inflamasi selama kehamilan. Perubahan hormonal dan imunologis dapat menyebabkan disbiosis, meningkatkan risiko penyakit periodontal yang dikaitkan dengan berat badan lahir rendah (BBLR), panjang badan lahir pendek, preeklamsia, dan kelahiran prematur. Namun, penelitian yang mengintegrasikan ketahanan pangan, sosial ekonomi, mikrobiota mulut dan outcome kehamilan dalam satu model analitik masih terbatas, khususnya di Indonesia.&#13;
Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan ketahanan pangan, kondisi sosial ekonomi, dan outcome kehamilan antara Gakin dan Non-Gakin. Selain itu penelitian ini menilai hubungan ketahanan pangan dengan outcome kehamilan, mengevaluasi perbedaan mikrobiota mulut, serta menilai hubungan mikrobiota mulut dengan ketahanan pangan dan outcome kehamilan. &#13;
Desain penelitian menggunakan kohort prospektif pada ibu hamil trimester II – III di Kota Yogyakarta (Agustus 2024 – Februari 2025). Sebanyak 120 ibu hamil dianalisis untuk variabel utama, dan 12 ibu diikutsertakan sebagai subsampel untuk analisis mikrobiota menggunakan metode 16S rRNA. Data dikumpulkan melalui wawancara, pengukuran, pemeriksaan periodontal, serta tindak lanjut hingga persalinan.&#13;
Penelitian ini diharapkan memperkuat bukti ilmiah mengenai peran ketahanan pangan dan sosial ekonomi terhadap outcome kehamilan dengan mempertimbangkan mikrobiota mulut sebagai komponen biologis penting. Temuan diharapkan mendukung perumusan kebijakan lintas sektor dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan sosial ekonomi yang nyata antara Gakin dan Non-Gakin, terutama pada umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan pengeluaran. Adapun karakteristik obstetri ibu meliputi paritas, jarak kehamilan IMT pra hamil relatif serupa, hanya variabel umur ibu hamil yang berbeda signifikan. Usia kelompok Gakin secara signifikan lebih muda dibandingkan kelompok Non-Gakin. Kelompok Gakin mengalami kerawanan pangan yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok Non-Gakin. Frekuensi konsumsi jajanan manis dan asin secara signifikan lebih tinggi pada kelompok Gakin, sedangkan sebagian besar kelompok pangan lain serta asupan energi dan zat gizi tidak berbeda signifikan antara kedua kelompok. Keragaman pangan ibu hamil secara signifikan lebih rendah pada kelompok Gakin dibandingkan kelompok Non-Gakin.&#13;
Outcome kehamilan, termasuk panjang badan lahir pendek, BBLR, komplikasi maternal, dan kelahiran prematur, tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok Gakin dan Non-Gakin. Namun, terdapat kecenderungan proporsi panjang badan lahir pendek yang lebih tinggi pada kelompok Gakin. Paritas = 2 merupakan faktor protektif yang signifikan terhadap kelahiran prematur pada kedua kelompok sosial ekonomi, dengan efek yang lebih kuat pada kelompok Gakin. Faktor maternal lain, termasuk umur ibu dan status gizi pra-hamil, menunjukkan kecenderungan arah risiko tetapi belum signifikan secara statistik.&#13;
Status ketahanan pangan rumah tangga tidak berhubungan secara signifikan dengan panjang badan lahir pendek maupun berat badan lahir rendah pada kedua kelompok sosial ekonomi. Meskipun arah estimasi risiko menunjukkan kecenderungan peningkatan pada rumah tangga rawan pangan, hubungan tersebut tidak mencapai signifikansi statistik.&#13;
Analisis mikrobiota mulut menunjukkan bahwa komunitas inti relatif serupa antar kelompok, namun terdapat perbedaan ekologis pada tingkat komposisi. Kelompok Gakin cenderung didominasi genus anaerob inflamogenik seperti Prevotella, Veillonella, dan Fusobacterium, sedangkan kelompok Non-Gakin lebih banyak didominasi genus komensal protektif seperti Rothia, Corynebacterium, dan Actinomyces. Status ketahanan pangan rumah tangga pada sub-sampel ibu hamil (n=12) berhubungan dengan komposisi mikrobiota mulut. Rothia lebih dominan pada rumah tangga tahan pangan, sedangkan Prevotella meningkat seiring bertambahnya tingkat kerawanan pangan. Pola konsumsi antara kedua kelompok menunjukkan perbedaan. Kelompok gakin lebih sering mengonsumsi jajanan manis dan gula/pemanis, serta lebih jarang mengonsumsi buah. Sementara itu, konsumsi serealia, sayuran, dan pangan hewani relatif serupa. &#13;
Hubungan antara mikrobiota mulut dengan outcome kehamilan, khususnya berat badan lahir dan panjang badan lahir, tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik, namun arah asosiasi yang konsisten secara biologis mengindikasikan potensi peran mikrobiota mulut dalam pertumbuhan janin.&#13;
Simpulannya, ketahanan pangan dan status sosial ekonomi masih menjadi determinan penting kesehatan ibu hamil, serta berpotensi memengaruhi profil mikrobiota mulut. Integrasi ketahanan pangan, skrining periodontal, dan pemantauan kesehatan maternal dalam layanan antenatal berpotensi sebagai strategi penting untuk meningkatkan outcome kehamilan.&#13;
&#13;
Kata kunci: ibu hamil, ketahanan pangan, mikrobiota mulut, outcome kehamilan, status sosial ekonomi; SUMMARY&#13;
RINA OKTASARI. The Relationship between Household Food Security, Socioeconomic Status (Poor and Non-Poor), and the Oral Microbiota of Pregnant Women with Pregnancy Outcomes. Supervised by HADI RIYADI, ALI KHOMSAN, KATRIN ROOSITA, and YULIN LESTARI.&#13;
Household food security is a fundamental determinant of adequate maternal nutrition during pregnancy. Households with low food security often have limited and less diverse dietary patterns, thereby increasing the risk of nutrient deficiencies and adverse pregnancy outcomes. This condition is further shaped by socioeconomic status, which determines a household’s capacity to access safe and nutritious foods.&#13;
Beyond nutritional factors, the oral microbiota also plays a role in inflammatory mechanisms during pregnancy. Hormonal and immunological changes may induce oral dysbiosis, increasing the risk of periodontal disease, which has been associated with low birth weight (LBW), short birth length, preeclampsia, and preterm birth. However, studies integrating household food security, socioeconomic status, oral microbiota, and pregnancy outcomes within a single analytical framework remain limited, particularly in Indonesia.&#13;
This study aimed to analyze differences in household food security, socioeconomic conditions, and pregnancy outcomes between low-income (Poor) and non–low-income (Non-Poor) pregnant women. In addition, the study assessed the association between household food security and pregnancy outcomes, evaluated differences in oral microbiota composition, and examined the relationship between oral microbiota, food security, and pregnancy outcomes.&#13;
A prospective cohort design was conducted among pregnant women in their second and third trimesters in Yogyakarta City from August 2024 to February 2025. A total of 120 pregnant women were included for the main analyses, and 12 women were selected as a subsample for oral microbiota analysis using 16S rRNA sequencing. Data were collected through interviews, anthropometric measurements, periodontal examinations, and follow-up until delivery.&#13;
The results indicate a pronounced socioeconomic disparity between the Poor and the Non-Poor groups, particularly with respect to maternal age, education, occupation, income, and household expenditure. Baseline maternal characteristics, including parity, interpregnancy interval, and pre-pregnancy body mass index, were relatively similar between groups; however, maternal age differed significantly, with women in the Poor group being significantly younger than those in the Non-Poor group. The Poor group experienced a significantly higher level of household food insecurity compared with the Non-Poor group. The frequency of consumption of sweet and salty snacks was significantly higher among the Poor group, whereas most other food groups as well as energy and nutrient intakes did not differ significantly between groups. Dietary diversity among pregnant women was significantly lower in the Poor group than in the Non-Poor group.&#13;
Pregnancy outcomes including short birth length, low birth weight, maternal complications, and preterm birth did not differ significantly between Poor and Non-Poor groups. Nevertheless, a higher proportion of short birth length was observed among the Poor group. Parity of two or more births was a significant protective factor against preterm birth in both socioeconomic groups, with a stronger effect observed among Poor women. Other maternal factors, including maternal age and pre-pregnancy nutritional status, showed consistent risk directions but did not reach statistical significance.&#13;
Household food security status was not significantly associated with short birth length or low birth weight in either socioeconomic group. Although risk estimates suggested a tendency toward increased risk among food-insecure households, these associations did not achieve statistical significance.&#13;
Analysis of the oral microbiota showed that the core microbial community was relatively similar between groups; however, ecological differences were observed at the compositional level. The Poor group tended to be dominated by anaerobic, inflammogenic genera such as Prevotella, Veillonella, and Fusobacterium, whereas the Non-Poor group was more frequently dominated by protective commensal genera, including Rothia, Corynebacterium, and Actinomyces. Household food security status in a subsample of pregnant women (n=12) was associated with oral microbiota composition, with Rothia being more dominant in food-secure households and Prevotella increasing with greater levels of food insecurity. Dietary patterns differed between the two groups, with the Poor group consuming sweet snacks and sugar/sweeteners more frequently and fruit less frequently. In contrast, the consumption of cereals, vegetables, and animal-source foods was relatively similar between groups.&#13;
In conclusion, household food security and socioeconomic status remain important determinants of maternal health and may influence oral microbiota profiles during pregnancy. The integration of food security assessment, periodontal screening, and maternal health monitoring into antenatal care services could serve as an important strategy to improve pregnancy outcomes.&#13;
Keywords: household food security, oral microbiota, pregnancy outcomes, pregnant women, socioeconomic status
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
