<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Master Final Assignments</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/26" rel="alternate"/>
<subtitle>Master Final Assignments of IPB's master student</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/26</id>
<updated>2026-10-28T06:58:35Z</updated>
<dc:date>2026-10-28T06:58:35Z</dc:date>
<entry>
<title>EFEK KOMBINASI RESUSITASI CAIRAN DAN NOREPINEFRIN TERHADAP MORFOPATOLOGI USUS BABI PADA MODEL SYOK ENDOTOKSIK</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180200" rel="alternate"/>
<author>
<name>Samosir, Shellia Calista</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180200</id>
<updated>2026-10-28T06:47:52Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">EFEK KOMBINASI RESUSITASI CAIRAN DAN NOREPINEFRIN TERHADAP MORFOPATOLOGI USUS BABI PADA MODEL SYOK ENDOTOKSIK
Samosir, Shellia Calista
Syok endotoksik dapat menyebabkan gangguan hemodinamik dan perubahan&#13;
mukosa usus yang tidak selalu membaik sejalan dengan perbaikan tekanan darah&#13;
sistemik setelah resusitasi cairan dan norepinefrin. Penelitian ini bertujuan&#13;
mendeskripsikan perubahan makroskopis dan histopatologis duodenum, jejunum,&#13;
ileum, dan kolon serta membandingkan skor komposit kerusakan histopatologis&#13;
pada tingkat hewan di antara kelompok yangmenerima paparan endotoksin dan/atau&#13;
regimen hemodinamik yang berbeda.&#13;
Sebanyak 17 ekor anak babi jantan (Sus scrofa domesticus) yang berumur 8-&#13;
12 minggu dengan berat badan 35-40 kg dibagi menjadi lima kelompok, yaitu R (n&#13;
= 3), NE (n = 2), E+R (n = 4), E+NE (n = 4), dan E+R+NE (n = 4). Syok endotoksik&#13;
diinduksi menggunakan lipopolisakarida Escherichia coli hingga tekanan arteri&#13;
rata-rata (MAP) &lt; 65 mmHg. Duodenum, jejunum, ileum, dan kolon dievaluasi&#13;
secara makroskopis dan histopatologis menggunakan pewarnaan hematoksilineosin serta sistem skoring semikuantitatif. Babi merupakan unit eksperimen,&#13;
sedangkan keempat segmen usus merupakan pengukuran berulang pada hewan&#13;
yang sama. Skor keempat segmen dirangkum menjadi satu skor komposit per&#13;
hewan. Perbandingan skor komposit antarkelompok dianalisis menggunakan uji&#13;
Kruskal-Wallis, dilanjutkan dengan uji Dunn dan koreksi perbandingan berganda,&#13;
sedangkan perbedaan skor antarsegmen dianalisis menggunakan uji Friedman.&#13;
Secara makroskopis, kelompok Rdan NE tidak menunjukkan edema, petekie,&#13;
atau hemoragi nyata, sedangkan kelompok endotoksin menunjukkan hiperemia,&#13;
edema, penebalan dinding usus, petekie, dan hemoragi fokal dengan keparahan&#13;
bervariasi. Pemeriksaan histopatologis menunjukkan atrofi vili, deskuamasi dan&#13;
nekrosis epitel, perubahan jumlah sel goblet, kongesti vaskular,serta hemoragi pada&#13;
keempat segmen usus. Analisis tingkat hewan menunjukkan perbedaan skor&#13;
komposit di antara kelima kelompok (?² = 10,26; db = 4; p = 0,0362), tetapi uji lanjut&#13;
tidak menunjukkan perbedaan bermakna setelah koreksi perbandingan berganda.&#13;
Secara deskriptif, skor komposit kelompok E+NE lebih rendah daripada E+R,&#13;
sedangkan E+R+NE memiliki skor tertinggi, tetapi perbedaan tersebut belum&#13;
terkonfirmasi secara statistik. Skor kerusakan histopatologis juga tidak berbeda&#13;
secara bermakna antarsegmen usus (?² = 6,26; db = 3; p = 0,0997).&#13;
Penelitian ini menunjukkan adanya variasi perubahan morfopatologismukosa&#13;
usus antarkelompok, tetapi belum dapat menentukan regimen yang paling baik&#13;
dalam mempertahankan integritas mukosa usus. Karena tidak terdapat kelompok&#13;
endotoksin tanpa terapi, pengaruh kausal resusitasi cairan, norepinefrin, atau&#13;
kombinasi keduanya terhadap kerusakan mukosa usus belum dapat dipastikan.&#13;
Temuan ini menjadi dasar bagi penelitian lanjutan dengan jumlah hewan yang lebih&#13;
besar, kelompok pembanding yang memadai, serta pengukuran langsung&#13;
mikrosirkulasi dan fungsi sawar usus.; Endotoxic shock can cause hemodynamic disturbances and intestinal mucosal&#13;
changes that do not necessarily improve with systemic blood pressure following&#13;
fluid resuscitation and norepinephrine administration. This study aimed to describe&#13;
macroscopic and histopathological changes in the duodenum, jejunum, ileum, and&#13;
colon and compare animal-level composite histopathological injury scores among&#13;
groups exposed to endotoxin or different hemodynamic regimens.&#13;
Seventeen male piglets were allocated to five groups: fluid resuscitation&#13;
without endotoxin (R; n = 3), norepinephrine without endotoxin (NE; n = 2),&#13;
Escherichia coli endotoxin with fluid resuscitation (E+R; n = 4), endotoxin with&#13;
norepinephrine (E+NE; n = 4), and endotoxin with combined fluid resuscitation and&#13;
norepinephrine (E+R+NE; n = 4). Endotoxic shock was induced using E. coli&#13;
lipopolysaccharide until mean arterial pressure (MAP) &lt; 65 mmHg. The duodenum,&#13;
jejunum, ileum, and colon were evaluated macroscopically and histopathologically&#13;
using hematoxylin-eosin staining and a semiquantitative scoring system. Each pig&#13;
was considered an experimental unit, with the four intestinal segments as repeated&#13;
measurements within the same animal. Scores from the four intestinal segments&#13;
were summarized into a single composite score for each animal. Composite scores&#13;
were compared among groups using the Kruskal-Wallis test, followed by Dunn’s&#13;
test with multiple-comparison correction. Differences in histopathological scores&#13;
among the four intestinal segments were analyzed using the Friedman test.&#13;
Macroscopically, the Rand NE groupsshowed no apparent edema, petechiae,&#13;
or hemorrhage, whereas endotoxin-exposed groups exhibited hyperemia, edema,&#13;
intestinal wall thickening, petechiae, and focal hemorrhage of varying severity.&#13;
Histopathological examination revealed villous atrophy, epithelial desquamation&#13;
and necrosis, altered goblet cell numbers, vascular congestion, and hemorrhage in&#13;
all four intestinal segments. Animal-level analysis showed an overall difference in&#13;
composite scores among the five groups (?² = 10.26; df = 4; p = 0.0362), but no&#13;
pairwise comparison remained significant after multiple-comparison adjustment.&#13;
Descriptively, E+NE had a lower composite score than E+R, whereas E+R+NE had&#13;
the highest score, but these differences were not statistically confirmed.&#13;
Histopathological injury scores did not differ significantly among the duodenum,&#13;
jejunum, ileum, and colon (?² = 6.26; df = 3; p = 0.0997).&#13;
This study demonstrated variation in intestinal mucosal morphopathology&#13;
among the groups but did not establish which regimen was most effective in&#13;
preserving mucosal integrity. Because an untreated endotoxin group was not&#13;
included, the effects of fluid resuscitation, norepinephrine, or their combination on&#13;
intestinal mucosal injury could not be established. These findings provide a basis&#13;
for further studies with larger sample sizes, appropriate comparator groups, and&#13;
direct assessments of intestinal microcirculation and barrier function.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Model Prediksi Body Condition Score (BCS) Gajah Sumatera Berdasarkan Citra Fotogrametri Dron</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180198" rel="alternate"/>
<author>
<name>Saputro, Christiawan Eko</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180198</id>
<updated>2026-10-28T06:30:16Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Model Prediksi Body Condition Score (BCS) Gajah Sumatera Berdasarkan Citra Fotogrametri Dron
Saputro, Christiawan Eko
Gajah sumatera merupakan salah satu satwa dengan nilai ekologis tinggi yang dikategorikan sebagai spesies payung (umbrella species). Populasi gajah sumatera saat ini terus menurun secara signifikan, dari sekitar 2.800 sampai 4.800 ekor pada tahun 1985 menjadi sekitar 1.100 ekor pada tahun 2025, akibat rendahnya keberhasilan reproduksi yang diduga kuat terjadi karena fragmentasi habitat, konflik manusia–gajah, serta gangguan kesehatan dan kesejahteraan individu.&#13;
Taman Nasional Way Kambas (TNWK) adalah kawasan konservasi gajah sumatera, berfungsi sebagai pusat perlindungan, rehabilitasi, dan penelitian. Salah satu indikator kesejahteraan gajah adalah body condition score (BCS), yang mencerminkan kondisi fisik dan status gizinya.&#13;
Penelitian ini bertujuan mengembangkan model deep learning yang dapat memprediksi nilai BCS gajah sumatera secara otomatis dari citra fotogrametri dron. Pendekatan yang digunakan menggabungkan dua model, yaitu U-Net untuk segmentasi tubuh gajah dari latar belakang dan EfficientNetV2-M untuk memprediksi nilai BCS dari citra hasil segmentasi tersebut. Citra hasil segmentasi digunakan sebagai masukan pada tahap prediksi agar model lebih terfokus pada fitur tubuh gajah, sehingga nilai prediksi meningkat.&#13;
Dataset penelitian terdiri atas 2.995 citra RGB gajah sumatera dari 32 individu di TNWK, yang dibagi secara proporsional menjadi data latih (70%), validasi (15%), dan uji (15%). Model U-Net mencapai performa terbaik pada konfigurasi learning rate 0,0001 dan dropout 0,3, dengan Intersection over Union (IoU) sebesar 0,9742 pada data uji, yang menunjukkan kemampuan model untuk memisahkan area tubuh gajah dari latar belakang secara akurat. Pada tahap prediksi BCS, model EfficientNetV2-M dengan input citra hasil segmentasi U-Net mencapai performa terbaik pada konfigurasi learning rate 0,001 dan dropout 0,2, dengan Coefficient of Determination (R²) = 0,9504 dan Mean Absolute Error (MAE) = 0,1095 pada data uji. Performa ini lebih baik dibandingkan dengan model menggunakan citra asli tanpa segmentasi (R² = 0,9283; MAE = 0,1260), dengan penurunan MAE sebesar 13,1%, yang menunjukkan bahwa segmentasi U-Net berkontribusi nyata terhadap peningkatan akurasi prediksi.&#13;
Kombinasi U-Net dan EfficientNetV2-M menghasilkan estimasi BCS yang akurat dan konsisten. Pendekatan berbasis citra dron ini mengurangi risiko bagi peneliti, dan meminimalkan gangguan terhadap satwa. Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi deep learning berbasis citra dron berpotensi menjadi solusi alternatif yang konsisten dan efisien untuk mendukung pemantauan kesehatan dan program konservasi gajah sumatera.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Model Penentuan Areal Prioritas Konservasi Habitat Julang Emas (Rhyticeros undulatus) di Pulau Jawa</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180195" rel="alternate"/>
<author>
<name>Pratama, Marshal Abdee</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180195</id>
<updated>2026-10-28T00:39:39Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Model Penentuan Areal Prioritas Konservasi Habitat Julang Emas (Rhyticeros undulatus) di Pulau Jawa
Pratama, Marshal Abdee
Julang emas (Rhyticeros undulatus) merupakan spesies rangkong berstatus rentan (Vulnerable) dalam IUCN Red List yang populasinya di Pulau Jawa terus mendapat tekanan akibat fragmentasi hutan dan kepadatan penduduk yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menentukan kawasan prioritas konservasi habitat julang emas di Pulau Jawa melalui integrasi model kesesuaian habitat Random Forest (RF) dan model kualitas habitat InVEST Habitat Quality (HQ). Model RF dibangun menggunakan 270 titik kehadiran dan 270 titik pseudo-absence dengan variabel fragmentasi lanskap, jarak antropogenik, jarak sumber daya, serta variabel topografi dan klimatik. Model tersebut menghasilkan kinerja yang tinggi dan menunjukkan kinerja lebih baik dibandingkan dengan model MaxEnt dan GLM, dengan Mean Patch Size dan Class Area sebagai variabel yang paling berpengaruh. Habitat yang tergolong sesuai hingga sangat sesuai hanya mencakup 19,49% dari total daratan Jawa. Parameter InVEST HQ diturunkan secara empiris dari hasil RF dan menunjukkan bahwa 83,23% wilayah tergolong berkualitas rendah hingga sangat rendah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan antropogenik berpotensi menurunkan fungsi habitat hingga melampaui tapak fisik gangguannya. Integrasi kedua model melalui perkalian konjungtif (CP = HS × HQ) dan klasifikasi Jenks Natural Breaks menghasilkan kawasan prioritas tinggi hingga habitat inti yang hanya mencakup 6,98% dari total daratan Jawa dan terkonsentrasi pada sisa hutan pegunungan, seperti Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Gunung Ungaran, dan Meru Betiri. Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan kesesuaian ekologis dan tingkat degradasi habitat dalam perencanaan konservasi julang emas serta merekomendasikan perlindungan dan peningkatan konektivitas hamparan hutan yang luas sebagai prioritas utama.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Hubungan Plate Waste dengan Kontribusi Energi dan Zat Gizi Program Makan Bergizi Gratis pada Remaja Sekolah Perkotaan dan Perdesaan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180194" rel="alternate"/>
<author>
<name>Falindri, Jumania</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180194</id>
<updated>2026-10-27T22:43:21Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hubungan Plate Waste dengan Kontribusi Energi dan Zat Gizi Program Makan Bergizi Gratis pada Remaja Sekolah Perkotaan dan Perdesaan
Falindri, Jumania
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi remaja melalui penyediaan makanan bergizi di sekolah. Namun, tingginya plate waste berpotensi mengurangi kontribusi makanan yang disediakan terhadap pemenuhan kebutuhan gizi siswa karena sebagian zat gizi tidak dikonsumsi. Selain menimbulkan pemborosan pangan, plate waste juga dapat mengurangi pemanfaatan makanan yang telah disediakan dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi siswa. Perbedaan karakteristik wilayah perkotaan dan pedesaan diduga berkaitan dengan perilaku konsumsi, preferensi makan, dan besarnya plate waste. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan plate waste dengan kontribusi energi dan zat gizi Program Makan Bergizi Gratis pada remaja sekolah perkotaan dan perdesaan. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan comparative cross sectional study pada 183 siswa usia 16–18 tahun yang berasal dari sekolah penerima Program MBG di Kota Semarang dan Kabupaten Tegal. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner karakteristik dan preferensi makan, pengukuran antropometri, serta penimbangan sisa makanan selama satu siklus menu (10 hari) menggunakan metode food weighing. Analisis data meliputi uji perbedaan antar wilayah, uji hubungan, dan regresi linier berganda untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan  plate waste. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan karakteristik siswa dan keluarga antara wilayah perkotaan dan perdesaan, namun tidak terdapat perbedaan  signifikan pada rata-rata plate waste. Plate waste tertinggi di wilayah perkotaan berasal dari kelompok sayuran, sedangkan di wilayah perdesaan berasal dari makanan pokok. Siswa pada kedua wilayah menunjukan tingkat penerimaan yang baik terhadap makanan yang disajikan Program MBG. Selain itu, plate waste memiliki hubungan dengan pemenuhan energi, protein, lemak, karbohidrat, serat, zat besi, vitamin A, vitamin C, dan kalsium. Hal ini menunjukan bahwa semakin besar plate waste, semakin rendah pemenuhan kebutuhan gizi siswa dari makanan yang disediakan. Hasil analisis regresi menunjukan bahwa faktor yang berhubungan dengan plate waste di perkotaan adalah preferensi makan, sedangkan di wilayah perdesaan faktor yang berhubungan yakni preferensi makan, jenis kelamin, dan pendidikan ibu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengurangan plate waste perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah, antara lain melalui peningkatan kualitas dan penerimaan menu di wilayah perkotaan serta pelibatan keluarga dalam edukasi konsumsi pangan di wilayah perbedaan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan konsumsi aktual siswa dan mengoptimalkan pemenuhan gizi dari makanan yang disediakan melalui Program MBG.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
