<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Master Final Assignments</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/26" rel="alternate"/>
<subtitle>Master Final Assignments of IPB's master student</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/26</id>
<updated>2026-07-13T00:10:02Z</updated>
<dc:date>2026-07-13T00:10:02Z</dc:date>
<entry>
<title>Ekspresi, Puifikasi, dan Karakterisasi Enzim Trehalose Synthase dari Arthrobacter alpinus (AaTreS) untuk Produksi Trehalosa</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174423" rel="alternate"/>
<author>
<name>Azam, Rahmah Muthmainnah</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174423</id>
<updated>2026-07-12T13:37:25Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Ekspresi, Puifikasi, dan Karakterisasi Enzim Trehalose Synthase dari Arthrobacter alpinus (AaTreS) untuk Produksi Trehalosa
Azam, Rahmah Muthmainnah
Trehalosa merupakan disakarida non-reduksi yang banyak dimanfaatkan dalam industri pangan, farmasi, dan kosmetik karena memiliki stabilitas termal dan kimia yang tinggi serta kemampuan melindungi biomolekul. Produksi trehalosa secara enzimatik melalui jalur trehalose synthase (TreS) menjadi alternatif yang menjanjikan karena prosesnya lebih spesifik, sederhana, dan berlangsung pada kondisi reaksi yang relatif ringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengekspresikan, memurnikan, serta mengarakterisasi enzim TreS dari Arthrobacter alpinus (AaTreS) secara biokimia dan kinetika guna mengevaluasi potensinya sebagai biokatalis dalam produksi trehalosa. Gen treS dari A. alpinus diekspresikan secara heterolog dalam Escherichia coli BL21 StarTM (DE3), kemudian enzim rekombinan yang dihasilkan dimurnikan menggunakan kromatografi afinitas logam terimobilisasi. Hasil optimasi ekspresi menunjukkan bahwa kondisi induksi pada suhu rendah menghasilkan enzim AaTreS dalam fraksi larut dengan tingkat ekspresi yang lebih baik. Enzim hasil purifikasi terdeteksi sebagai protein berukuran sekitar 67 kDa berdasarkan analisis SDS-PAGE dan Western blot. Karakterisasi biokimia menunjukkan bahwa AaTreS memiliki aktivitas optimum pada suhu 30 °C dan pH 6,5. Enzim ini juga &#13;
menunjukkan stabilitas yang lebih baik pada suhu 20 °C dengan waktu paruh sekitar 11 jam dibandingkan dengan suhu 30 °C. Pengujian pengaruh ion logam menunjukkan bahwa AaTreS tidak memerlukan ion logam sebagai kofaktor utama, dengan aktivitas relatif yang tetap tinggi pada perlakuan EDTA dan sedikit peningkatan aktivitas pada perlakuan Ca2+ Analisis kinetika menunjukkan bahwa aktivitas AaTreS terhadap maltosa mengikuti model Michaelis – Menten dengan nilai afinitas sedang terhadap substrat. Uji biokonversi berbasis waktu menunjukkan bahwa AaTreS mampu mengkatalisis konversi maltosa menjadi trehalosa, dengan efisiensi konversi yang lebih tinggi pada konsentrasi substrat rendah. Profil biokonversi yang diperoleh mencerminkan karakter reaksi TreS yang reversibel dan sejalan dengan karakteristik kinetika enzim. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa TreS dari A. alpinus memiliki karakteristik ekspresi, aktivitas, dan stabilitas yang mendukung potensinya sebagai biokatalis dalam produksi trehalosa pada kondisi reaksi ringan dan hemat energi.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Strategi Pengelolaan Kepiting Bakau (Scylla spp.) di Desa Tongke-tongke Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174418" rel="alternate"/>
<author>
<name>MUYASSAR, AHMAD</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174418</id>
<updated>2026-07-12T13:24:24Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Strategi Pengelolaan Kepiting Bakau (Scylla spp.) di Desa Tongke-tongke Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan
MUYASSAR, AHMAD
Kepiting bakau (Scylla spp.) merupakan sumber daya perikanan penting bagi masyarakat pesisir Desa Tongke-tongke, Kabupaten Sinjai. Ekosistem mangrove mendukung kehidupan kepiting bakau sebagai habitat, tempat mencari makan, tempat berlindung, dan area asuhan. Pemanfaatan kepiting berukuran kecil dan keterbatasan pengawasan berpotensi menekan keberlanjutan sumber daya tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis bioekologi dan habitat kepiting bakau, menganalisis peran serta interaksi pemangku kepentingan, dan merumuskan prioritas strategi pengelolaannya. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi analisis bioekologi, distribusi spasial juvenil dan kepiting muda, analisis pemangku kepentingan, serta penentuan prioritas strategi dalam kerangka pengelolaan berbasis ekosistem mangrove.&#13;
Penelitian dilaksanakan pada Maret–Mei 2025 di ekosistem mangrove Desa Tongke-tongke. Data bioekologi dikumpulkan pada enam area pengamatan. Setiap area terdiri atas tiga plot berukuran 10 × 10 m. Kepiting bakau ditangkap menggunakan bubu bambu berumpan yang direndam selama 12 jam. Sampel hasil tangkapan diukur lebar karapas dan bobotnya, dicatat jenis kelaminnya, serta diidentifikasi spesiesnya. Kondisi habitat dianalisis berdasarkan vegetasi mangrove, substrat, dan kualitas perairan menggunakan Principal Component Analysis (PCA) dan Indeks Kualitas Habitat (IKH). Nursery area diidentifikasi melalui analisis spasial dan deskriptif berdasarkan distribusi kepiting fase juvenil dan muda. Peran pemangku kepentingan dianalisis menggunakan Matrix of Alliances and Conflicts: Tactics, Objectives, and Recommendations (MACTOR). Prioritas strategi pengelolaan ditentukan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) berdasarkan penilaian ahli.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove Desa Tongke-tongke merupakan habitat penting bagi S. olivacea dan S. serrata. S. olivacea mendominasi habitat mangrove berlumpur dengan vegetasi yang rapat. Struktur populasi kepiting bakau didominasi oleh individu berukuran sedang, juvenil, dan kepiting muda. Nisbah kelamin cenderung didominasi oleh individu jantan, terutama pada S. olivacea. Kerapatan mangrove yang sangat padat, dominasi Rhizophora mucronata, substrat lumpur hingga lempung berliat, dan kualitas habitat yang tergolong baik menunjukkan bahwa ekosistem mangrove Tongke-tongke berperan sebagai habitat pembesaran, perlindungan, dan jalur migrasi reproduktif kepiting bakau. Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan populasi Scylla spp. sangat bergantung pada perlindungan nursery area, pengaturan ukuran minimum tangkap, dan perlindungan betina matang gonad.&#13;
Pengelolaan kepiting bakau di Desa Tongke-tongke melibatkan pemerintah, pelaku usaha, nelayan, penyuluh, pengawas, pejabat karantina, dan kelompok masyarakat. Setiap aktor memiliki tingkat pengaruh yang berbeda. Aktor yang memiliki kewenangan formal, terutama Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi, Pengawas Perikanan, dan Pejabat Karantina, berperan dominan dalam menentukan arah pengelolaan. Nelayan dan pengumpul berada pada posisi bergantung karena memiliki daya tawar yang lebih rendah dalam proses pengambilan keputusan. Interaksi antara pemangku kepentingan menunjukkan potensi kerja sama yang cukup kuat, terutama pada tujuan perlindungan habitat mangrove dan penguatan pengelolaan. Potensi konflik masih muncul pada aktor pengumpul karena adanya perbedaan kepentingan antara orientasi ekonomi dan tujuan konservasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan kepiting bakau di Tongke-tongke memerlukan tata kelola kolaboratif yang mampu menyeimbangkan kewenangan pemerintah, kepentingan ekonomi pelaku usaha, dan partisipasi aktor lokal.&#13;
Strategi pengelolaan kepiting bakau di Desa Tongke-tongke perlu diarahkan pada perlindungan fungsi ekologis habitat sebagai prioritas utama. Strategi tersebut dapat dilakukan melalui perlindungan nursery area, penguatan pengawasan, dan peningkatan selektivitas alat tangkap. Keberlanjutan pemanfaatan Scylla spp. tidak dapat hanya bertumpu pada peningkatan hasil tangkapan. Keberlanjutan tersebut perlu didasarkan pada perlindungan habitat mangrove, pengendalian penangkapan individu muda dan betina reproduktif, penguatan kelembagaan pengawasan, serta pelibatan masyarakat dalam pengelolaan. Pendekatan tersebut dapat mendukung keberlanjutan populasi kepiting bakau dan menjaga manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir Desa Tongke-tongke.; Mud crab (Scylla spp.) is an important fishery resource for coastal communities in Tongke-tongke Village, Sinjai Regency. The mangrove ecosystem supports the life of mud crabs by providing habitat, feeding grounds, shelter, and nursery areas. The exploitation of small-sized crabs and limited monitoring may threaten the sustainability of this resource. This study aimed to analyze the bioecology and habitat of mud crabs, examine the roles and interactions of stakeholders, and formulate priority management strategies. The novelty of this study lies in integrating bioecological analysis, the spatial distribution of juveniles and young crabs, stakeholder analysis, and strategy prioritization within a mangrove ecosystem-based management framework.&#13;
The study was conducted from March to May 2025 in the mangrove ecosystem of Tongke-tongke Village. Bioecological data were collected from six observation areas. Each area consisted of three 10 × 10 m plots. Mud crabs were captured using baited bamboo traps that were deployed for 12 hours. The captured samples were measured for carapace width and body weight, recorded for sex, and identified to species level. Habitat conditions were analyzed based on mangrove vegetation, substrate, and water quality using Principal Component Analysis (PCA) and the Habitat Quality Index (HQI). Nursery areas were identified through spatial and descriptive analyses based on the distribution of juvenile and young crabs. Stakeholder roles were analyzed using the Matrix of Alliances and Conflicts: Tactics, Objectives, and Recommendations (MACTOR). Management strategy priorities were determined using the Analytical Hierarchy Process (AHP) based on expert judgment.&#13;
The results showed that the mangrove ecosystem of Tongke-tongke Village is an important habitat for S. olivacea and S. serrata. S. olivacea dominated muddy mangrove habitats with dense vegetation. Medium-sized individuals, juveniles, and young crabs dominated the population structure of mud crabs. The sex ratio tended to be male dominated, particularly in S. olivacea. Very dense mangrove stands, the dominance of Rhizophora mucronata, muddy to clay-loam substrates, and good habitat quality indicate that the Tongke-tongke mangrove ecosystem functions as a growth habitat, a shelter, and a reproductive migration pathway for mud crabs. These characteristics indicate that the sustainability of Scylla spp. populations strongly depend on the protection of nursery areas, the regulation of minimum capture size, and the protection of mature females.&#13;
Mud crab management in Tongke-tongke Village involves government agencies, business actors, fishers, extension officers, fisheries supervisors, quarantine officers, and community groups. Each actor has a different level of influence. Actors with formal authority, particularly the Provincial Marine and Fisheries Office, Fisheries Supervisors, and Quarantine Officers, play dominant roles in determining the direction of management. Fishers and collectors occupy dependent positions because they have lower bargaining power in decision-making. Stakeholder interactions indicate considerable potential for cooperation, particularly in strengthening mangrove habitat protection and management. However, potential conflict remains among collectors due to differences between economic interests and conservation objectives. This condition indicates that mud crab management in Tongke-tongke requires collaborative governance that can balance government authority, the economic interests of business actors, and the participation of local actors.&#13;
Mud crab management strategies in Tongke-tongke Village should prioritize protecting the ecological functions of the habitat. These strategies can be implemented through nursery area protection, strengthened monitoring, and improved selectivity of fishing gear. The sustainable use of Scylla spp. cannot rely solely on increasing catch production. It must be based on mangrove habitat protection, control of the capture of young individuals and reproductive females, strengthened monitoring institutions, and community involvement in management. This approach can support the sustainability of mud crab populations and maintain economic benefits for the coastal communities of Tongke-tongke Village.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Prediksi Penutupan Lahan Menggunakan Citra Resolusi Tinggi di Kecamatan Nagrak Kabupaten Sukabumi</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174408" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ramdan, Syahrul</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174408</id>
<updated>2026-07-12T13:05:50Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Prediksi Penutupan Lahan Menggunakan Citra Resolusi Tinggi di Kecamatan Nagrak Kabupaten Sukabumi
Ramdan, Syahrul
Perubahan penutupan lahan di kawasan penyangga berpengaruh terhadap&#13;
keseimbangan lingkungan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Kecamatan&#13;
Nagrak sebagai kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango&#13;
mengalami dinamika perubahan penutupan lahan akibat pertumbuhan penduduk&#13;
dan perkembangan wilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan&#13;
penutupan lahan tahun 2012, 2017, dan 2022, memprediksi kondisi penutupan&#13;
lahan tahun 2027 menggunakan model Future Land Use Simulation (FLUS), serta&#13;
mengevaluasi kesesuaian hasil prediksi terhadap RTRW Kabupaten Sukabumi&#13;
Tahun 2023–2043.&#13;
Data yang digunakan berupa citra SPOT 6 dan SPOT 7 resolusi spasial 1,5&#13;
meter. Klasifikasi penutupan lahan dilakukan secara visual menggunakan metode&#13;
on-screen digitizing berdasarkan SNI 7645:2010. Hasil interpretasi menghasilkan&#13;
sembilan kelas penutupan lahan, yaitu badan air, hutan lahan kering primer, hutan&#13;
tanaman, ladang, lahan kosong, permukiman, sawah, padang rumput, dan semak&#13;
belukar. Uji akurasi menunjukkan nilai overall accuracy sebesar 95% dan kappa&#13;
accuracy sebesar 94%, sehingga hasil klasifikasi dinilai memiliki ketelitian yang&#13;
baik.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan lahan kering primer merupakan&#13;
kelas penutupan lahan terluas selama periode penelitian. Perubahan yang paling&#13;
dominan terjadi pada peningkatan kawasan permukiman dan semak belukar yang&#13;
menunjukkan adanya tekanan aktivitas manusia terhadap kawasan penyangga.&#13;
Simulasi FLUS dilakukan menggunakan sembilan faktor pendorong, yaitu&#13;
elevasi, kemiringan lereng, kepadatan penduduk, jarak dari jalan, pusat&#13;
pemerintahan, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, bangunan eksisting, dan&#13;
pusat perdagangan. Hasil prediksi tahun 2027 menunjukkan peningkatan luas&#13;
permukiman menjadi 688,07 ha (9,97%) serta penurunan hutan lahan kering&#13;
primer menjadi 2.697,13 ha (39,08%). Analisis kesesuaian terhadap RTRW&#13;
Kabupaten Sukabumi Tahun 2023–2043 menunjukkan bahwa sebesar 6.251,35 ha&#13;
(90,57%) tergolong sesuai, sedangkan 650,73 ha (9,43%) tergolong tidak sesuai&#13;
dengan pola ruang RTRW. Penelitian ini diharapkan dapat mendukung evaluasi&#13;
tata ruang dan pengelolaan wilayah secara berkelanjutan.; Land cover change in buffer areas plays an important role in maintaining&#13;
environmental sustainability and controlling spatial utilization. Nagrak District, as&#13;
a buffer zone of Gunung Gede Pangrango National Park, has experienced&#13;
dynamic land cover changes due to population growth and regional development.&#13;
This study aimed to analyze land cover changes in 2012, 2017, and 2022, predict&#13;
land cover conditions in 2027 using the Future Land Use Simulation (FLUS)&#13;
model, and evaluate the conformity of the predicted land cover with the Regional&#13;
Spatial Plan (RTRW) of Sukabumi Regency 2023–2043.&#13;
The study used SPOT 6 and SPOT 7 imagery with a spatial resolution of 1.5&#13;
m. Land cover classification was conducted visually using the on-screen digitizing&#13;
method based on SNI 7645:2010. The interpretation identified nine land cover&#13;
classes, namely water bodies, primary dryland forest, plantation forest, dryland&#13;
farming, bare land, settlement, paddy field, grassland, and shrubland. The&#13;
classification accuracy assessment produced an overall accuracy of 95% and a&#13;
kappa accuracy of 94%, indicating a high level of classification accuracy.&#13;
The results showed that primary dryland forest was the dominant land cover&#13;
class during the study period. Significant land cover changes occurred in&#13;
settlement areas and shrubland, indicating increasing pressure from human&#13;
activities within the buffer zone.&#13;
The FLUS model simulated land cover change using nine driving factors,&#13;
including elevation, slope, population density, distance from roads, government&#13;
centers, educational facilities, health facilities, existing built-up areas, and trade&#13;
centers. The 2027 prediction indicated an increase in settlement area to 688.07 ha&#13;
(9.97%) and a decrease in primary dryland forest to 2,697.13 ha (39.08%). The&#13;
conformity analysis with the RTRW of Sukabumi Regency 2023–2043 showed&#13;
that 6,251.35 ha (90.57%) of the predicted area was classified as conforming,&#13;
while 650.73 ha (9.43%) was classified as non-conforming to the planned spatial&#13;
pattern. The results of this study are expected to support spatial planning&#13;
evaluation and sustainable regional management.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Daya Tolak Minyak Serai Wangi terhadap Lalat Buah Bactrocera carambolae Drew &amp; Hancock (Diptera: Tephritidae) pada Jambu Biji Kultivar Kristal</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174370" rel="alternate"/>
<author>
<name>Mustika, Puteri Auliya</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174370</id>
<updated>2026-07-10T07:03:44Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Daya Tolak Minyak Serai Wangi terhadap Lalat Buah Bactrocera carambolae Drew &amp; Hancock (Diptera: Tephritidae) pada Jambu Biji Kultivar Kristal
Mustika, Puteri Auliya
Jambu biji kristal merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi, namun produksinya sering terhambat oleh serangan Bactrocera carambolae. Pengendalian serangga hama ini pada jambu kristal umumnya menggunakan insektisida sintetis, namun pengendalian menggunakan insektisida sintetis yang tidak bijaksana dapat menimbulkan resistensi hama, pencemaran lingkungan dan residu senyawa pestisida pada produk buah jambu biji, sehingga diperlukan alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan melalui penggunaan repellent nabati seperti minyak asiri serai wangi (Cymbopogon nardus). Penelitian ini bertujuan mengkaji daya tolak dan persistensi minyak asiri serai wangi di lapangan.&#13;
Penelitian dilaksanakan melalui tiga kegiatan, yaitu pengujian respons olfaktori untuk mengamati orientasi perilaku imago lalat buah, pengujian lapangan menggunakan rancangan acak kelompok untuk mengevaluasi tingkat serangan dan analisis profil kimia menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) untuk mengetahui daya persistensi perlakuan. Uji respons olfaktori minyak asiri serai wangi terhadap lalat buah pada konsentrasi 2 dan 4% menunjukkan tingkat persentase penolakan berturut-turut 73 dan 87%. Pengujian lapangan menunjukkan bahwa minyak asiri serai wangi memiliki daya persistensi hingga 14 hari yang diindikasikan dengan tidak adanya serangan lalat buah pada buah jambu pada konsentrasi 2 dan 4%. Minyak asiri serai wangi berpotensi untuk digunakan sebagai repellent yang efektif, namun efektivitasnya di lapangan bergantung pada dinamika faktor lingkungan; Crystal guava is a horticultural commodity that have high economic value. Its production is often hindered by Bactrocera carambolae infestations. Management of this insect pest on crystal guava generally relies on synthetic insecticides. However, the unwise use of synthetic insecticides can lead to pest resistance, environmental pollution, and pesticide residues on the fruit products. Therefore, a more environmentally friendly alternative management is required through the use of plant-based repellents, such as citronella (Cymbopogon nardus) essential oil. This study aims to evaluate the repellency and persistence of citronella essential oil under field conditions.&#13;
The research was conducted through three activities: an olfactory response test to observe the behavioral orientation of adult fruit flies, a field test using a randomized block design to evaluate the level of infestation, and a chemical profile analysis using Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) to determine the persistence of the treatment. The olfactory response test of citronella essential oil against fruit flies at concentrations of 2 and 4% showed repellency rates of 73 and 87%, respectively. Field testing demonstrated that citronella essential oil has a persistence of up to 14 days, indicated by the absence of fruit fly infestations on the guava fruits at concentrations of 2 and 4%. Citronella essential oil has the potential to be used as an effective repellent, but its field effectiveness depends on the dynamics of environmental factors
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
