<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Undergraduate Theses</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/25" rel="alternate"/>
<subtitle>Undergraduate theses of IPB's bachelor student</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/25</id>
<updated>2026-06-11T20:49:57Z</updated>
<dc:date>2026-06-11T20:49:57Z</dc:date>
<entry>
<title>Karakteristik Bibit  Tanaman Uwi Ungu (Dioscorea alata L.) dan Gembili (Dioscorea esculenta L.)  Asal berbagai Potongan Umbi</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173374" rel="alternate"/>
<author>
<name>Putratama, Lintang</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173374</id>
<updated>2026-06-11T08:54:34Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Karakteristik Bibit  Tanaman Uwi Ungu (Dioscorea alata L.) dan Gembili (Dioscorea esculenta L.)  Asal berbagai Potongan Umbi
Putratama, Lintang
LINTANG PUTRATAMA. Karakteristik Bibit Tanaman Uwi Ungu (Dioscorea &#13;
alata L.) dan Gembili (Dioscorea esculenta L.) Asal berbagai Potongan Umbi. &#13;
Dibimbing oleh EDI SANTOSA. &#13;
Uwi ungu (Dioscorea alata L.) dan gembili (Dioscorea esculenta L.) &#13;
merupakan tanaman umbi yang berpotensi sebagai sumber pangan alternatif karena &#13;
kandungan karbohidratnya tinggi dan mampu tumbuh pada berbagai kondisi &#13;
lingkungan. Perbanyakan tanaman uwi umumnya menggunakan umbi, namun &#13;
penggunaan umbi utuh memerlukan bahan tanam yang cukup banyak sehingga &#13;
kurang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh ukuran potongan umbi &#13;
yang efektif untuk perbanyakan bibit uwi ungu dan gembili. Penelitian &#13;
dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikarawang, Departemen Agronomi dan &#13;
Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB University pada bulan Oktober–Desember &#13;
2025 menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan tiga &#13;
ulangan. Perlakuan yang diuji meliputi umbi 100 g, potongan umbi bagian ujung &#13;
50 g, potongan umbi bagian ujung 25 g, potongan umbi bagian ujung 15 g, dan &#13;
potongan umbi bagian tengah 15 g. Peubah yang diamati meliputi persentase &#13;
tumbuh, jumlah tunas, tinggi tanaman, jumlah daun, serta bobot basah dan bobot &#13;
kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran potongan umbi &#13;
berpengaruh nyata terhadap sebagian besar peubah pertumbuhan pada uwi ungu &#13;
dan gembili. Umbi 100 g menghasilkan pertumbuhan dan akumulasi biomassa &#13;
tertinggi, sedangkan potongan umbi bagian ujung 50 g menunjukkan pertumbuhan &#13;
yang relatif baik dan tidak berbeda nyata pada beberapa peubah. Potongan umbi &#13;
berukuran kecil (15 g) menghasilkan pertumbuhan yang lebih rendah. Perlakuan &#13;
ukuran potongan umbi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas. Pemotongan &#13;
umbi dapat menjadi cara perbanyakan cepat pada uwi ungu dan gembili.; LINTANG PUTRATAMA. Characteristics of Purple Yam (Dioscorea alata L.) and &#13;
Lesser Yam (Dioscorea esculenta L.) Plant Seeds from Various Tuber Pieces. &#13;
Supervised by EDI SANTOSA. &#13;
Purple yam (Dioscorea alata L.) and lesser yam (Dioscorea esculenta L.) are &#13;
tuber crops that have potential as alternative food sources due to their high &#13;
carbohydrate content and adaptability to various environmental conditions. Yam &#13;
propagation is generally carried out using tubers; however, the use of whole tubers &#13;
requires a large amount of planting material and is therefore less efficient. This &#13;
research aimed to determine the effective tuber cutting size for the propagation of &#13;
purple yam and lesser yam. The experiment was conducted at the Cikarawang &#13;
Experimental Field, Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of &#13;
Agriculture, IPB University, from October to December 2025. The study used a &#13;
Randomized Complete Block Design (RCBD) with three replications. The treatments &#13;
consisted of whole tubers (100 g), apical tuber cuttings (50 g), apical tuber cuttings &#13;
(25 g), apical tuber cuttings (15 g), and middle tuber cuttings (15 g). The observed &#13;
variables included budding percentage, number of shoots, plant height, number of &#13;
leaves, and fresh and dry weights of the plant. The results showed that tuber cutting &#13;
size significantly affected most growth variables irrespective yam species. Tubers of &#13;
100 g produced the highest growth and biomass accumulation, while apical tuber &#13;
cuttings of 50 g showed relatively good growth and were not significantly different in &#13;
several parameters. Smaller tuber cuttings (15 g) resulted in the lowest growth. Tuber &#13;
cutting size irrespective size and origin did not significantly affect the number of &#13;
shoots. Tuber cutting can be a method of rapid propagation for purple yam and lesser &#13;
yam.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pertumbuhan, Ekspresi Gen GH, dan Ghrelin Ikan Nila Nirwana (Oreochromis niloticus) Pascacekam Salinitas</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173373" rel="alternate"/>
<author>
<name>ANSORI, ELVARETTA CAHYA CAMILLA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173373</id>
<updated>2026-06-11T08:53:31Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pertumbuhan, Ekspresi Gen GH, dan Ghrelin Ikan Nila Nirwana (Oreochromis niloticus) Pascacekam Salinitas
ANSORI, ELVARETTA CAHYA CAMILLA
ELVARETTA CAHYA CAMILLA ANSORI. Pertumbuhan, Ekspresi Gen GH dan &#13;
Ghrelin Ikan Nila Nirwana (Oreochromis niloticus) Pascacekam Salinitas. &#13;
Dibimbing oleh ALIMUDDIN dan DINAR TRI SOELISTYOWATI. &#13;
Cekaman salinitas merupakan faktor lingkungan yang dapat memengaruhi &#13;
respons fisiologis ikan melalui tekanan osmotik. Ikan nila (Oreochromis niloticus) &#13;
bersifat euryhaline sehingga memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan &#13;
salinitas. Penelitian ini menganalisis ekspresi gen growth hormone (GH) dan &#13;
ghrelin serta hubungannya dengan performa pertumbuhan ikan nila nirwana yang &#13;
diberi cekaman salinitas sejak usia benih. Penelitian menggunakan rancangan acak &#13;
lengkap dengan dua perlakuan, yaitu kontrol dan cekaman salinitas 20 ppt selama &#13;
8 jam, masing-masing tiga ulangan. Benih pascacekaman dipelihara di media air &#13;
tawar selama 75 hari. Parameter yang diamati meliputi kualitas air, tingkat &#13;
kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, bobot dan panjang akhir, biomassa, &#13;
serta ekspresi gen GH dan ghrelin yang dianalisis menggunakan qPCR dengan ß&#13;
actin sebagai gen referensi. Hasil menunjukkan bahwa cekaman salinitas &#13;
meningkatkan ekspresi gen GH dan ghrelin pada ikan yang mampu bertahan hidup &#13;
hingga akhir pemeliharaan, dan biomassa akhir lebih tinggi pada kelompok ikan &#13;
jantan perlakuan. &#13;
Kata kunci: Cekaman salinitas, ekspresi gen, ghrelin, growth hormone, ikan nila &#13;
nirwana.; ELVARETTA CAHYA CAMILLA ANSORI. Growth, GH and Ghrelin Gene Expression of Nirwana Tilapia (Oreochromis niloticus) After Salinity Stress. Supervised by ALIMUDDIN and DINAR TRI SOELISTYOWATI.&#13;
Salinity stress is an environmental factor that can influence the physiological responses of fish through osmotic pressure. Nile tilapia (Oreochromis niloticus) is a euryhaline species with the ability to adapt to changes in salinity. This study analyzed the expression of growth hormone (GH) and ghrelin genes and their relationship with the growth performance of Nirwana tilapia strain subjected to salinity stress since the juvenile stage. The experiment used a completely randomized design with two treatments, namely a control and salinity stress of 20 ppt for 8 hours, each with three replicates. The juveniles were reared in freshwater for 75 days after the stress treatment. The observed parameters included water quality, survival rate, specific growth rate, final weight and length, biomass, and the expression of GH and ghrelin genes analyzed using qPCR with ß-actin as the reference gene. The results showed that salinity stress increased the expression of GH and ghrelin genes in fish that survived until the end of the rearing period, and higher final biomass in the male fish treatment group.&#13;
Keywords: Gene expression, ghrelin, growth hormone, nirwana tilapia, salinity stress.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>KETIDAKAMANAN TENURIAL DAN STRATEGI NAFKAH RUMAH TANGGA PETANI (Kasus: Kampung Pasir Karet Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173372" rel="alternate"/>
<author>
<name>HUTAURUK, GRESIA DWI CAHYANI</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173372</id>
<updated>2026-06-11T08:47:12Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">KETIDAKAMANAN TENURIAL DAN STRATEGI NAFKAH RUMAH TANGGA PETANI (Kasus: Kampung Pasir Karet Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor)
HUTAURUK, GRESIA DWI CAHYANI
Ketidakamanan tenurial merupakan kondisi ketika rumah tangga petani tidak memiliki kepastian hukum dan rasa aman atas lahan garapan sebagai sumber penghidupan utama. Kondisi ini memengaruhi pengelolaan modal nafkah dan pilihan strategi nafkah. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketidakamanan tenurial, kondisi modal nafkah, serta hubungannya dengan strategi nafkah rumah tangga petani di Kampung Pasir Karet. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain Sequential Explanatory terhadap 35 rumah tangga. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan observasi, serta dianalisis menggunakan Sustainable Livelihood Framework (SLF). Hasil menunjukkan bahwa ketidakamanan tenurial berkaitan dengan lemahnya modal nafkah, terutama modal finansial dan manusia. Dominasi modal nafkah rendah membatasi strategi ekspansif. Strategi nafkah didominasi diversifikasi informal lokal, sementara intensifikasi dan ekstensifikasi rendah serta migrasi tidak ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa ketidakpastian lahan mendorong strategi yang adaptif dan berorientasi pada keberlangsungan hidup.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Econometric Learning pada Model ARDL Teregularisasi untuk Peramalan Harga Beras Kalimantan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173371" rel="alternate"/>
<author>
<name>Diana, Nurul</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173371</id>
<updated>2026-06-11T08:38:30Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Econometric Learning pada Model ARDL Teregularisasi untuk Peramalan Harga Beras Kalimantan
Diana, Nurul
Pemantauan harga beras di Kalimantan memerlukan pendekatan yang rinci&#13;
karena pergerakan harga dapat berbeda antarpasar, kualitas beras, dan horizon&#13;
peramalan. Penelitian ini menganalisis dominasi level informasi dalam model&#13;
terbaik, mengevaluasi akurasi peramalan, dan menyusun kerangka peringatan dini&#13;
harga beras Kalimantan. Data yang digunakan berupa harga beras harian pada 12&#13;
pasar, 6 kualitas beras, serta horizon 1, 5, 10, dan 22 hari kerja. Model AR dan&#13;
ARDL teregularisasi dibandingkan melalui mekanisme horse race dengan evaluasi&#13;
pseudo out-of-sample. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat satu&#13;
model yang unggul pada seluruh kondisi. Riwayat harga sendiri lebih dominan pada&#13;
horizon pendek, sedangkan informasi dari pasar yang lebih luas semakin relevan&#13;
pada horizon panjang. Evaluasi RMSE menunjukkan akurasi menurun ketika&#13;
horizon semakin panjang. Temuan ini mendukung kerangka early warning system&#13;
yang spesifik menurut pasar, kualitas beras, dan horizon peramalan.; Rice price monitoring in Kalimantan requires a granular approach because&#13;
price movements may differ across markets, rice quality levels, and forecasting&#13;
horizons. This study analyzes the dominance of information levels in the best-&#13;
performing models, evaluates forecasting accuracy, and develops an early warning&#13;
framework for rice prices in Kalimantan. The data consist of daily rice prices from&#13;
12 markets, 6 rice quality levels, and forecasting horizons of 1, 5, 10, and 22&#13;
working days. Regularized AR and ARDL models are compared through a horse&#13;
race mechanism using pseudo out-of-sample evaluation. The results show that no&#13;
single model performs best across all conditions. Own price history is more&#13;
dominant at short horizons, while broader market information becomes more&#13;
relevant at longer horizons. The RMSE evaluation indicates that forecasting&#13;
accuracy declines as the horizon becomes longer. These findings support an early&#13;
warning system framework that is specific to each market, rice quality level, and&#13;
forecasting horizon.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
