<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>DT - Medicine and Nutrition</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160868" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160868</id>
<updated>2026-06-05T11:40:34Z</updated>
<dc:date>2026-06-05T11:40:34Z</dc:date>
<entry>
<title>Pengaruh Edukasi Gizi Berbasis Media Interaktif Terhadap Perubahan Perilaku Makan dan Aktivitas Fisik Remaja Kegemukan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173239" rel="alternate"/>
<author>
<name>Said, Irfan</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173239</id>
<updated>2026-06-04T08:49:30Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Edukasi Gizi Berbasis Media Interaktif Terhadap Perubahan Perilaku Makan dan Aktivitas Fisik Remaja Kegemukan
Said, Irfan
IRFAN SAID. Pengaruh Edukasi Gizi Berbasis Media Interaktif  terhadap Perilaku Makan dan Aktivitas Fisik Remaja Kegemukan. Dibimbing oleh DODIK BRIAWAN, CESILIA METI DWIRIANI dan ANNISA UTAMI SEMINAR.&#13;
&#13;
Kegemukan pada remaja merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Prevalensi obesitas pada remaja telah meningkat secara signifikan, dengan dampak buruk terhadap kesehatan jangka panjang, termasuk peningkatan risiko penyakit degeneratif seperti diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan metabolik, dan masalah psikologis. Di Indonesia, pada tahun 2018, prevalensi kegemukan pada remaja usia 13-15 tahun tercatat sebesar 16%, dengan 4,8% di antaranya mengalami obesitas. Penyebab utama kegemukan pada remaja adalah pola makan yang tidak sehat, seperti tingginya konsumsi makanan cepat saji yang kaya akan lemak, gula, dan garam, serta rendahnya tingkat aktivitas fisik. Faktor tidak langsung, seperti pengetahuan gizi dan sikap terhadap pola makan, juga berperan penting dalam meningkatkan risiko obesitas. Edukasi gizi berbasis media interaktif, khususnya menggunakan media sosial seperti TikTok, telah dipertimbangkan sebagai sarana efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan memengaruhi perubahan perilaku makan serta aktivitas fisik remaja. Media sosial memungkinkan penyampaian informasi yang menarik, interaktif, dan mudah diakses, yang dapat mendorong remaja untuk mengubah kebiasaan makan mereka serta meningkatkan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh edukasi gizi berbasis media interaktif terhadap perubahan perilaku makan dan aktivitas fisik pada remaja kegemukan.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi gizi berbasis media interaktif terhadap perubahan perilaku makan dan aktivitas fisik pada remaja kegemukan. Kegemukan pada remaja telah menjadi masalah kesehatan yang signifikan, dengan prevalensinya yang terus meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Data menunjukkan bahwa penyebab utama kegemukan pada remaja adalah ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi, yang dipengaruhi oleh pola makan yang tidak sehat dan rendahnya aktivitas fisik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi apakah edukasi gizi berbasis media interaktif, khususnya menggunakan media sosial seperti TikTok, dapat mempengaruhi perubahan perilaku makan dan meningkatkan aktivitas fisik pada remaja kegemukan.&#13;
Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen dengan metode pre-post test control group. Subjek penelitian terdiri dari remaja berusia 15-17 tahun yang dipilih dari dua sekolah di Jakarta Selatan, yang memiliki prevalensi obesitas tinggi. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah survei pendahuluan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kegemukan pada remaja, seperti pola makan, aktivitas fisik, pengetahuan, sikap, dan status gizi. Hasil survei menunjukkan bahwa faktor yang paling signifikan terkait kegemukan adalah rendahnya tingkat aktivitas fisik dan konsumsi makanan cepat saji yang tinggi kalori, gula, dan lemak. Temuan ini menjadi dasar bagi pengembangan media edukasi pada tahap selanjutnya.&#13;
Pada tahap kedua, dikembangkan media edukasi berbasis TikTok, yang terdiri dari video pendek yang menarik dan informatif tentang pola makan sehat dan pentingnya aktivitas fisik. Media ini dirancang khusus agar sesuai dengan karakteristik remaja dan diterima dengan baik oleh mereka. Uji coba terhadap media edukasi ini menunjukkan respons yang sangat positif dari remaja, dengan tingkat keterlibatan yang tinggi.&#13;
Tahap ketiga adalah intervensi dengan menggunakan media edukasi TikTok yang berlangsung selama enam minggu. Kelompok intervensi mendapatkan edukasi melalui media tersebut, sementara kelompok kontrol tidak menerima intervensi. Pengukuran dilakukan sebelum dan setelah intervensi untuk menilai perubahan perilaku makan, aktivitas fisik, dan status gizi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan berat badan (BMI) pada kelompok intervensi menunjukkan penurunan signifikan, dengan rata-rata BMI sebelum intervensi adalah 30,8±5,4 kg/m², yang turun menjadi 29,8±5,7 kg/m² setelah intervensi, dengan nilai P&lt;0,01. Selain itu, aktivitas fisik kelompok intervensi meningkat secara signifikan, dengan rata-rata perubahan aktivitas fisik sebesar 8,9±4,3 menit/hari, sedangkan pada kelompok kontrol terjadi penurunan sebesar -13,8±3,3 menit/hari, dengan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (P&lt;0,001). Selain itu, asupan lemak pada kelompok intervensi juga mengalami penurunan yang signifikan.&#13;
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa edukasi gizi berbasis media interaktif, seperti TikTok, efektif dalam meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku makan, dan meningkatkan aktivitas fisik pada remaja kegemukan. Oleh karena itu, media sosial dapat dijadikan sarana yang efektif untuk penyuluhan gizi, membantu remaja mengubah kebiasaan makan mereka dan meningkatkan tingkat aktivitas fisik, yang pada gilirannya dapat membantu mengatasi masalah obesitas pada remaja; IRFAN SAID. The Effect of Interactive Media-Based Nutrition Education on Eating Behavior and Physical Activity of Overweight Adolescents. Supervised by DODIK BRIAWAN, CESILIA METI DWIRIANI and ANNISA UTAMI SEMINAR.&#13;
&#13;
Obesity in adolescents is a health problem that is increasing around the world, including in Indonesia. The prevalence of obesity in adolescents has increased significantly, with adverse long-term health impacts, including an increased risk of degenerative diseases such as type 2 diabetes, hypertension, metabolic disorders, and psychological problems. In Indonesia, in 2018, the prevalence of obesity in adolescents aged 13-15 years was recorded at 16%, with 4.8% of them being obese. The main cause of obesity in adolescents is an unhealthy diet, such as high consumption of fast food rich in fat, sugar, and salt, as well as low levels of physical activity. Indirect factors, such as nutritional knowledge and attitudes towards diet, also play an important role in increasing the risk of obesity. Nutrition education based on interactive media, especially using social media such as TikTok, has been considered as an effective means to increase knowledge and influence changes in adolescents' eating behavior and physical activity. Social media allows for the delivery of engaging, interactive, and accessible information, which can encourage teens to change their eating habits as well as increase physical activity. This study aims to test the influence of interactive media-based nutrition education on changes in eating behavior and physical activity in obese adolescents.&#13;
This study aims to analyze the influence of interactive media-based nutrition education on changes in eating behavior and physical activity in obese adolescents. Childhood obesity has become a significant health problem, with its prevalence steadily increasing around the world, including in Indonesia. Data show that the main cause of obesity in adolescents is an imbalance between energy intake and energy expenditure, which is affected by an unhealthy diet and low physical activity. Therefore, this study aims to explore whether nutrition education based on interactive media, particularly using social media such as TikTok, can influence changes in eating behavior and increase physical activity in obese adolescents.&#13;
This study uses a quasi-experimental design with a pre-post test control group method. The study subjects consisted of adolescents aged 15-17 years who were selected from two schools in South Jakarta, which had a high prevalence of obesity. The research was conducted in three stages. The first stage is a preliminary survey to identify factors that affect obesity in adolescents, such as diet, physical activity, knowledge, attitudes, and nutritional status. The survey results showed that the most significant factors related to obesity were low levels of physical activity and consumption of fast food that was high in calories, sugar, and fat. These findings are the basis for the development of educational media at the next stage.&#13;
In the second stage, TikTok-based educational media was developed, which consisted of interesting and informative short videos about healthy eating and the importance of physical activity. This media is specifically designed to fit the characteristics of teenagers and be well received by them. This trial of educational media showed a very positive response from adolescents, with a high level of engagement.&#13;
The third stage is an intervention using TikTok educational media which lasts for six weeks. The intervention group received education through the media, while the control group did not receive the intervention. Measurements were taken before and after the intervention to assess changes in eating behavior, physical activity, and nutritional status. The results showed that  the change in body weight (BMI) in the intervention group showed a significant decrease, with the mean BMI before the intervention being 30.8±5.4 kg/m², which dropped to 29.8±5.7 kg/m² after the intervention, with a P value of &lt; 0.01. In addition, the physical activity of the  intervention group increased significantly, with an average change in physical activity of 8.9±4.3 minutes/day, while in the control group there was a decrease of -13.8±3.3 minutes/day, with significant differences between the two groups (P&lt;0.001). In addition, fat intake in the intervention group also decreased significantly.&#13;
Overall, the results of this study show that nutrition education based on interactive media, such as TikTok, is effective in increasing knowledge, changing eating behaviors, and increasing physical activity in obese adolescents. Therefore, social media can be used as an effective means for nutrition counseling, helping adolescents change their eating habits and increase physical activity levels, which in turn can help overcome the problem of obesity in adolescents
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Efikasi Minuman Lemon dan Madu Terhadap Tekanan Darah, Profil Lipid, Kadar Adma dan F2-Isoprostan Penderita Prahipertensi</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173051" rel="alternate"/>
<author>
<name>Jayadi, Yusma Indah</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173051</id>
<updated>2026-05-22T03:15:50Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Efikasi Minuman Lemon dan Madu Terhadap Tekanan Darah, Profil Lipid, Kadar Adma dan F2-Isoprostan Penderita Prahipertensi
Jayadi, Yusma Indah
Prahipertensi secara signifikan meningkatkan risiko penyakit &#13;
kardiovaskular dan mortalitas berdasarkan meta-analisis studi kohort prospektif &#13;
berskala besar, serta berpotensi berkembang menjadi hipertensi jika tidak ditangani. &#13;
Hipertensi merupakan kondisi medis serius yang meningkatkan risiko penyakit &#13;
jantung, stroke, gangguan ginjal, dan menjadi penyebab utama kematian dini secara &#13;
global, dengan estimasi 1,28 miliar orang dewasa usia 30–79 tahun terdampak &#13;
(33%), terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah, serta prevalensi &#13;
sedikit lebih tinggi pada laki-laki (34%) dibanding perempuan (32%). Upaya &#13;
pengendalian hipertensi di Indonesia mencakup pencegahan dan pengobatan &#13;
melalui pedoman pengelolaan, termasuk modifikasi faktor risiko yang dapat diubah &#13;
seperti pola makan tidak sehat dan rendah konsumsi buah serta sayuran. Citrus &#13;
limon telah lama dikonsumsi karena manfaat kesehatannya, mengandung &#13;
hesperidin dan eriocitrin yang berperan menurunkan mediator inflamasi dan spesies &#13;
oksigen reaktif (ROS), sehingga menghambat peroksidasi lipid termasuk F2-&#13;
isoprostan yang merusak membran sel dan memperkuat siklus stres oksidatif. Madu, &#13;
yang kaya asam ferulat, berkontribusi meningkatkan bioavailabilitas oksida nitrat &#13;
(NO) sebagai molekul vasodilator penting bagi kesehatan vaskular. Namun, &#13;
kombinasi lemon dan madu masih memerlukan pembuktian ilmiah melalui &#13;
penelitian laboratorium dan uji klinis terkontrol. Oleh karena itu, penelitian ini &#13;
bertujuan mengembangkan minuman lemon dan mengevaluasi efikasinya terhadap &#13;
tekanan darah, profil lipid, ADMA, dan F2-isoprostan pada kelompok prahipertensi.&#13;
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah mengkaji efek intervensi lemon atau &#13;
madu terhadap tekanan darah menggunakan sistematik literatur review dan &#13;
metaanalisis, mengkaji potensi metabolit sekunder yang terkandung dalam lemon &#13;
(Citrus limon) dan madu sebagai agen bioaktif yang mendukung aktivitas enzim &#13;
dimethylarginine dimethylaminohydrolase I (DDAH I) melalui pendekatan in silico, &#13;
mengembangkan minuman lemon dan madu yang dianalisis secara fisik, sensori, &#13;
kimia dan keamanan, mengkaji efikasi pemberian minuman lemon dan madu &#13;
terhadap potensinya pada tekanan darah, kadar profil lipid, ADMA dan F2-&#13;
isoprostan pada kelompok prahipertensi.&#13;
Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, diawali dengan sistematik literatur &#13;
review, meta-analisis, analisis profil metabolit sekunder in silico, kemudian &#13;
dilanjutkan dengan pengembangan produk serta analisis fisik, kimia, sensori, dan &#13;
mikrobiologi. Tahap berikutnya adalah uji klinis dengan desain quasi-experimental &#13;
The Matching Only Pretest–Posttest Control Group Design untuk mengevaluasi &#13;
pengaruh intervensi terhadap tekanan darah, profil lipid, ADMA, dan F2-isoprostan.&#13;
Pembuatan minuman lemon madu menggunakan peralatan seperti gelas ukur, &#13;
sendok, pisau, Heavy Duty Manual Juice Extractor, saringan, wadah pencampur, &#13;
kompor, panci, termometer, dan botol kaca. Bahan utama adalah lemon matang &#13;
(Citrus x limon (L.) Osbeck, suku Rutaceae) yang diperoleh dari petani lokal di T &#13;
Ciampea Farm, Bogor, dengan penggunaan 46 kg lemon per produksi. Madu &#13;
Kaliandra dan Itama (4000 mL) dan Akasia (20.000 mL) dibeli dari penangkar di &#13;
Jepara, Dumai, dan Kalimantan.&#13;
Pada tahap uji klinis, subjek harus memenuhi kriteria inklusi yaitu laki-laki &#13;
usia 30–55 tahun dengan tekanan darah sistolik 120–139 mmHg dan diastolik 80–&#13;
89 mmHg, mampu berkomunikasi dengan baik, tidak mengalami gastritis atau &#13;
GERD, bersedia berpartisipasi, dan menandatangani informed consent. Kriteria &#13;
eksklusi meliputi rencana meninggalkan kota lebih dari satu minggu, memiliki &#13;
penyakit kronis (seperti diabetes melitus atau gangguan ginjal), alergi terhadap &#13;
produk intervensi, mengikuti penelitian lain secara bersamaan, atau menjalani &#13;
terapi alternatif hipertensi seperti akupuntur dan lain-lain. Sebanyak 22 pegawai &#13;
KPKNL, KPPN, dan Bapenda Kota Bogor direkrut dan dibagi menjadi dua &#13;
kelompok (11 orang/kelompok), yaitu kelompok intervensi lemon madu dan &#13;
kelompok edukasi. Intervensi diberikan selama 4 minggu dengan konsumsi &#13;
minuman lemon madu 90 mL/hari. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan &#13;
inferensial dengan taraf signifikansi 0,05.&#13;
Kajian metaanalisis menunjukkan lemon menurunkan tekanan darah diastolik &#13;
dan madu menurunkan tekanan darah sistolik. Adapun Hasil UPLC-QtoF-MS/MS &#13;
dan in silico mengonfirmasi keberadaan senyawa hesperidin sebagai bioaktif yang &#13;
menunjukkan afinitas terendah terhadap enzim DDAH 1 yang menunjukkan &#13;
bioaktif paling kuat dan stabil. Formula lemon dan madu akasia dengan &#13;
perbandingan volume 50:40 (LM2) memiliki stabilitas fisikokimia dan bioaktif &#13;
terbaik, sedangkan formula lemon dan madu kaliandra dengan perbandingan yang &#13;
sama (LM1) memperoleh tingkat penerimaan tertinggi. &#13;
Karakteristik subjek antar kelompok intervensi homogen (p&gt;0,05) kecuali &#13;
usia namun setelah dilakukan ANCOVA usia tidak berperan sebagai faktor perancu &#13;
terhadap hasil intervensi dalam penelitian ini. Data konsumsi dan aktivitas fisik &#13;
yang dikumpulkan sebelum dan setelah intervensi, menunjukkan tidak terdapat &#13;
perbedaan signifikan (p&gt;0,05) antar kelompok kecuali asupan karbohidrat dan &#13;
energi hanya pada sebelum intervensi. Setelah intervensi asupan energi dan &#13;
karbohidrat telah homogen. Perubahan biomarker terjadi akibat intervensi yang &#13;
diberikan. Hasil uji klinis menunjukkan minuman lemon dan madu akasia (LM2) &#13;
menurunkan (p&lt;0,05) tekanan darah sistolik (9,55 mmHg), kadar F2-isoprostan&#13;
(54,68 pg/mL) dan ADMA (0,24 µmol/L) serta meningkatkan (p&lt;0,05) kadar HDL&#13;
(14,50 mg/dl) dibandingkan kelompok kontrol. Penelitian ini menyarankan &#13;
minuman lemon dan madu sebagai alternatif minuman fungsional untuk &#13;
pengelolssn prahipertensi dan peneliti selanjutnya dapat menambah biomarker lain &#13;
seperti profil glukosa.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Hubungan Ketahanan Pangan, Status Sosial Ekonomi Miskin dan Tidak Miskin, serta Mikrobiota Mulut Ibu Hamil dengan Outcome Kehamilan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173018" rel="alternate"/>
<author>
<name>OKTASARI, RINA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173018</id>
<updated>2026-05-22T03:17:17Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hubungan Ketahanan Pangan, Status Sosial Ekonomi Miskin dan Tidak Miskin, serta Mikrobiota Mulut Ibu Hamil dengan Outcome Kehamilan
OKTASARI, RINA
Ketahanan pangan rumah tangga merupakan faktor mendasar dalam pemenuhan gizi ibu hamil. Rumah tangga dengan ketahanan pangan rendah sering memiliki pola konsumsi dengan jumlah terbatas dan kurang beragam, sehingga meningkatkan risiko kekurangan zat gizi dan outcome kehamilan yang merugikan. Kondisi ini diperberat oleh status sosial ekonomi yang menentukan kemampuan keluarga memperoleh pangan bergizi. &#13;
Selain faktor gizi, mikrobiota mulut juga berperan dalam mekanisme inflamasi selama kehamilan. Perubahan hormonal dan imunologis dapat menyebabkan disbiosis, meningkatkan risiko penyakit periodontal yang dikaitkan dengan berat badan lahir rendah (BBLR), panjang badan lahir pendek, preeklamsia, dan kelahiran prematur. Namun, penelitian yang mengintegrasikan ketahanan pangan, sosial ekonomi, mikrobiota mulut dan outcome kehamilan dalam satu model analitik masih terbatas, khususnya di Indonesia.&#13;
Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan ketahanan pangan, kondisi sosial ekonomi, dan outcome kehamilan antara Gakin dan Non-Gakin. Selain itu penelitian ini menilai hubungan ketahanan pangan dengan outcome kehamilan, mengevaluasi perbedaan mikrobiota mulut, serta menilai hubungan mikrobiota mulut dengan ketahanan pangan dan outcome kehamilan. &#13;
Desain penelitian menggunakan kohort prospektif pada ibu hamil trimester II – III di Kota Yogyakarta (Agustus 2024 – Februari 2025). Sebanyak 120 ibu hamil dianalisis untuk variabel utama, dan 12 ibu diikutsertakan sebagai subsampel untuk analisis mikrobiota menggunakan metode 16S rRNA. Data dikumpulkan melalui wawancara, pengukuran, pemeriksaan periodontal, serta tindak lanjut hingga persalinan.&#13;
Penelitian ini diharapkan memperkuat bukti ilmiah mengenai peran ketahanan pangan dan sosial ekonomi terhadap outcome kehamilan dengan mempertimbangkan mikrobiota mulut sebagai komponen biologis penting. Temuan diharapkan mendukung perumusan kebijakan lintas sektor dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan sosial ekonomi yang nyata antara Gakin dan Non-Gakin, terutama pada umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan pengeluaran. Adapun karakteristik obstetri ibu meliputi paritas, jarak kehamilan IMT pra hamil relatif serupa, hanya variabel umur ibu hamil yang berbeda signifikan. Usia kelompok Gakin secara signifikan lebih muda dibandingkan kelompok Non-Gakin. Kelompok Gakin mengalami kerawanan pangan yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok Non-Gakin. Frekuensi konsumsi jajanan manis dan asin secara signifikan lebih tinggi pada kelompok Gakin, sedangkan sebagian besar kelompok pangan lain serta asupan energi dan zat gizi tidak berbeda signifikan antara kedua kelompok. Keragaman pangan ibu hamil secara signifikan lebih rendah pada kelompok Gakin dibandingkan kelompok Non-Gakin.&#13;
Outcome kehamilan, termasuk panjang badan lahir pendek, BBLR, komplikasi maternal, dan kelahiran prematur, tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok Gakin dan Non-Gakin. Namun, terdapat kecenderungan proporsi panjang badan lahir pendek yang lebih tinggi pada kelompok Gakin. Paritas = 2 merupakan faktor protektif yang signifikan terhadap kelahiran prematur pada kedua kelompok sosial ekonomi, dengan efek yang lebih kuat pada kelompok Gakin. Faktor maternal lain, termasuk umur ibu dan status gizi pra-hamil, menunjukkan kecenderungan arah risiko tetapi belum signifikan secara statistik.&#13;
Status ketahanan pangan rumah tangga tidak berhubungan secara signifikan dengan panjang badan lahir pendek maupun berat badan lahir rendah pada kedua kelompok sosial ekonomi. Meskipun arah estimasi risiko menunjukkan kecenderungan peningkatan pada rumah tangga rawan pangan, hubungan tersebut tidak mencapai signifikansi statistik.&#13;
Analisis mikrobiota mulut menunjukkan bahwa komunitas inti relatif serupa antar kelompok, namun terdapat perbedaan ekologis pada tingkat komposisi. Kelompok Gakin cenderung didominasi genus anaerob inflamogenik seperti Prevotella, Veillonella, dan Fusobacterium, sedangkan kelompok Non-Gakin lebih banyak didominasi genus komensal protektif seperti Rothia, Corynebacterium, dan Actinomyces. Status ketahanan pangan rumah tangga pada sub-sampel ibu hamil (n=12) berhubungan dengan komposisi mikrobiota mulut. Rothia lebih dominan pada rumah tangga tahan pangan, sedangkan Prevotella meningkat seiring bertambahnya tingkat kerawanan pangan. Pola konsumsi antara kedua kelompok menunjukkan perbedaan. Kelompok gakin lebih sering mengonsumsi jajanan manis dan gula/pemanis, serta lebih jarang mengonsumsi buah. Sementara itu, konsumsi serealia, sayuran, dan pangan hewani relatif serupa. &#13;
Hubungan antara mikrobiota mulut dengan outcome kehamilan, khususnya berat badan lahir dan panjang badan lahir, tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik, namun arah asosiasi yang konsisten secara biologis mengindikasikan potensi peran mikrobiota mulut dalam pertumbuhan janin.&#13;
Simpulannya, ketahanan pangan dan status sosial ekonomi masih menjadi determinan penting kesehatan ibu hamil, serta berpotensi memengaruhi profil mikrobiota mulut. Integrasi ketahanan pangan, skrining periodontal, dan pemantauan kesehatan maternal dalam layanan antenatal berpotensi sebagai strategi penting untuk meningkatkan outcome kehamilan.&#13;
&#13;
Kata kunci: ibu hamil, ketahanan pangan, mikrobiota mulut, outcome kehamilan, status sosial ekonomi; Household food security is a fundamental determinant of adequate maternal nutrition during pregnancy. Households with low food security often have limited and less diverse dietary patterns, thereby increasing the risk of nutrient deficiencies and adverse pregnancy outcomes. This condition is further shaped by socioeconomic status, which determines a household’s capacity to access safe and nutritious foods.&#13;
Beyond nutritional factors, the oral microbiota also plays a role in inflammatory mechanisms during pregnancy. Hormonal and immunological changes may induce oral dysbiosis, increasing the risk of periodontal disease, which has been associated with low birth weight (LBW), short birth length, preeclampsia, and preterm birth. However, studies integrating household food security, socioeconomic status, oral microbiota, and pregnancy outcomes within a single analytical framework remain limited, particularly in Indonesia.&#13;
This study aimed to analyze differences in household food security, socioeconomic conditions, and pregnancy outcomes between low-income (Poor) and non–low-income (Non-Poor) pregnant women. In addition, the study assessed the association between household food security and pregnancy outcomes, evaluated differences in oral microbiota composition, and examined the relationship between oral microbiota, food security, and pregnancy outcomes.&#13;
A prospective cohort design was conducted among pregnant women in their second and third trimesters in Yogyakarta City from August 2024 to February 2025. A total of 120 pregnant women were included for the main analyses, and 12 women were selected as a subsample for oral microbiota analysis using 16S rRNA sequencing. Data were collected through interviews, anthropometric measurements, periodontal examinations, and follow-up until delivery.&#13;
The results indicate a pronounced socioeconomic disparity between the Poor and the Non-Poor groups, particularly with respect to maternal age, education, occupation, income, and household expenditure. Baseline maternal characteristics, including parity, interpregnancy interval, and pre-pregnancy body mass index, were relatively similar between groups; however, maternal age differed significantly, with women in the Poor group being significantly younger than those in the Non-Poor group. The Poor group experienced a significantly higher level of household food insecurity compared with the Non-Poor group. The frequency of consumption of sweet and salty snacks was significantly higher among the Poor group, whereas most other food groups as well as energy and nutrient intakes did not differ significantly between groups. Dietary diversity among pregnant women was significantly lower in the Poor group than in the Non-Poor group.&#13;
Pregnancy outcomes including short birth length, low birth weight, maternal complications, and preterm birth did not differ significantly between Poor and Non-Poor groups. Nevertheless, a higher proportion of short birth length was observed among the Poor group. Parity of two or more births was a significant protective factor against preterm birth in both socioeconomic groups, with a stronger effect observed among Poor women. Other maternal factors, including maternal age and pre-pregnancy nutritional status, showed consistent risk directions but did not reach statistical significance.&#13;
Household food security status was not significantly associated with short birth length or low birth weight in either socioeconomic group. Although risk estimates suggested a tendency toward increased risk among food-insecure households, these associations did not achieve statistical significance.&#13;
Analysis of the oral microbiota showed that the core microbial community was relatively similar between groups; however, ecological differences were observed at the compositional level. The Poor group tended to be dominated by anaerobic, inflammogenic genera such as Prevotella, Veillonella, and Fusobacterium, whereas the Non-Poor group was more frequently dominated by protective commensal genera, including Rothia, Corynebacterium, and Actinomyces. Household food security status in a subsample of pregnant women (n=12) was associated with oral microbiota composition, with Rothia being more dominant in food-secure households and Prevotella increasing with greater levels of food insecurity. Dietary patterns differed between the two groups, with the Poor group consuming sweet snacks and sugar/sweeteners more frequently and fruit less frequently. In contrast, the consumption of cereals, vegetables, and animal-source foods was relatively similar between groups.&#13;
In conclusion, household food security and socioeconomic status remain important determinants of maternal health and may influence oral microbiota profiles during pregnancy. The integration of food security assessment, periodontal screening, and maternal health monitoring into antenatal care services could serve as an important strategy to improve pregnancy outcomes.&#13;
Keywords: household food security, oral microbiota, pregnancy outcomes, pregnant women, socioeconomic status
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
