<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Production Technology And Agricultural Community Development</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153671" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153671</id>
<updated>2026-07-21T19:54:04Z</updated>
<dc:date>2026-07-21T19:54:04Z</dc:date>
<entry>
<title>Analisis Praktik Budidaya Kopi dan Dampaknya  Terhadap Produktivitas Tanaman Kopi Arabika di Desa Lakmaras, Kabupaten  Belu</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174939" rel="alternate"/>
<author>
<name>SAFITRI, SALSA NABILA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174939</id>
<updated>2026-07-17T04:13:15Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Praktik Budidaya Kopi dan Dampaknya  Terhadap Produktivitas Tanaman Kopi Arabika di Desa Lakmaras, Kabupaten  Belu
SAFITRI, SALSA NABILA
SALSA NABILA SAFITRI. Analisis Praktik Budidaya Kopi dan Dampaknya Terhadap Produktivitas Tanaman Kopi Arabika di Desa Lakmaras, Kabupaten Belu. Dibimbing oleh MUHAMMAD IQBAL NURULHAQ dan RATIH KEMALA DEWI &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penerapan Good Agricultural Practices (GAP) pada budidaya kopi arabika, mengukur produktivitas kopi, serta menganalisis hubungan antara penerapan GAP dan produktivitas kopi di Desa Lakmaras. Penelitian menggunakan metode survei dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan Focus Group Discussion (FGD) terhadap 36 petani kopi. Tingkat penerapan GAP diukur menggunakan instrumen yang diadaptasi dari sebagian indikator Characterization of Agroecological &#13;
Transition (CAET) pada Tool for Agroecology Performance Evaluation (TAPE) Step 1 FAO dan disesuaikan dengan indikator praktik budidaya kopi berdasarkan prinsip GAP. Data dianalisis secara deskriptif dan hubungan antara penerapan GAP dengan produktivitas diuji menggunakan korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian &#13;
menunjukkan bahwa tingkat penerapan GAP berada pada kategori sedang dengan rata-rata sebesar 36%. Komponen panen dan pascapanen memiliki tingkat penerapan tertinggi, sedangkan pemupukan merupakan komponen dengan tingkat penerapan terendah. Rata-rata produktivitas kopi mencapai 745 kg/ha, sedikit lebih &#13;
tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Nusa Tenggara Timur, tetapi masih berada di bawah rata-rata nasional. Hasil uji Rank Spearman menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara penerapan GAP dan produktivitas kopi (r = 0,638; p &lt; 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan penerapan GAP berpotensi &#13;
meningkatkan produktivitas kopi arabika di Desa Lakmaras.; SALSA NABILA SAFITRI. Analysis of Coffe Cultivation Practice and Impact on&#13;
The Productivity of Arabica Coffe Plants in Lakmaras Village, Belu Regency.&#13;
Supervised by MUHAMMAD IQBAL NURULHAQ dan RATIH KEMALA&#13;
DEWI&#13;
This study aimed to analyze the level of Good Agricultural Practices (GAP)&#13;
implementation in Arabica coffee cultivation, measure coffee productivity, and&#13;
examine the relationship between GAP implementation and coffee productivity in&#13;
Lakmaras Village. The study employed a survey method, with data collected&#13;
through interviews, field observations, documentation, and Focus Group&#13;
Discussions (FGD) involving 36 Arabica coffee farmers. The level of GAP&#13;
implementation was assessed using an instrument adapted from selected indicators&#13;
of the Characterization of Agroecological Transition (CAET) within Step 1 of the&#13;
Tool for Agroecology Performance Evaluation (TAPE) developed by the Food and&#13;
Agriculture Organization (FAO), and adjusted to GAP based coffee cultivation&#13;
indicators. Data were analyzed descriptively, while the relationship between GAP&#13;
implementation and coffee productivity was examined using Spearman's Rank&#13;
Correlation. The results indicated that the overall level of GAP implementation was&#13;
categorized as moderate, with an average implementation rate of 36%. Harvesting&#13;
and post-harvest practices exhibited the highest level of implementation, whereas&#13;
fertilization was the least implemented component. The average coffee productivity&#13;
reached 745 kg/ha, which was slightly higher than the provincial average of East&#13;
Nusa Tenggara but remained below the national average. Spearman's Rank&#13;
Correlation analysis revealed a positive and significant relationship between GAP&#13;
implementation and coffee productivity (r = 0.638; p &lt; 0.001). These findings&#13;
suggest that improving the implementation of GAP has the potential to enhance&#13;
Arabica coffee productivity in Lakmaras Village.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>PENGUATAN KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI GONDANG MANIS DAN KELOMPOK TANI MANIS RENGGO DI DESA GONDANG MANIS, JOMBANG, JAWA TIMUR</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174927" rel="alternate"/>
<author>
<name>JOSELFYN, VEMITA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174927</id>
<updated>2026-07-17T02:29:31Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">PENGUATAN KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI GONDANG MANIS DAN KELOMPOK TANI MANIS RENGGO DI DESA GONDANG MANIS, JOMBANG, JAWA TIMUR
JOSELFYN, VEMITA
Kelembagaan kelompok tani memiliki peran penting sebagai wahana belajar, wadah kerja sama, dan unit produksi dalam mendukung keberlanjutan usaha tani. Akan tetapi, kelembagaan kelompok tani di Desa Gondang Manis masih berada pada tahap administratif-formal dan belum berfungsi secara optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi kelembagaan Kelompok Tani Gondang Manis dan Kelompok Tani Manis Renggo, mengidentifikasi peran Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), serta mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dalam proses penguatan kelembagaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi, Focus Group Discussion (FGD), dan wawancara mendalam, dengan analisis akar masalah menggunakan diagram fishbone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua kelompok tani telah terbentuk secara formal, tetapi fungsi kelembagaannya belum berjalan optimal. Kelompok Tani Gondang Manis relatif lebih aktif dibandingkan Kelompok Tani Manis Renggo, khususnya dalam komunikasi setiap anggota dan keteraturan pertemuan. Peran PPL dan BPP telah berjalan pada aspek teknis budidaya, tetapi belum terstruktur dan berkelanjutan dalam penguatan kelembagaan. Faktor penghambat berasal dari aspek internal dan eksternal, yaitu rendahnya partisipasi anggota, lemahnya administrasi, minimnya regenerasi pengurus, serta ketergantungan terhadap penyuluh. Penguatan kelembagaan perlu diarahkan pada peningkatan kemandirian kelompok, perbaikan administrasi, penguatan komunikasi, serta peningkatan partisipasi anggota secara berkelanjutan.; Farmer group institutions play an important role as a learning forum, a means of cooperation, and a production unit in supporting the sustainability of farming. However, the farmer group institutions in Gondang Manis Village remain at a formal-administrative stage and have not yet functioned optimally. This study aims to analyze the institutional conditions of the Gondang Manis Farmer Group and the Manis Renggo Farmer Group, to identify the roles of Agricultural Extension Workers (PPL) and the Agricultural Extension Center (BPP), and to identify the inhibiting factors in the institutional strengthening process. This study employed a qualitative approach through observation, Focus Group Discussions (FGD), and in-depth interviews, with root-cause analysis using a fishbone diagram. The results show that both farmer groups have been formally established, but their institutional functions are not yet optimal. The Gondang Manis Farmer Group is relatively more active than the Manis Renggo Farmer Group, particularly in inter-member communication and the regularity of meetings. The roles of PPL and BPP have been carried out in the technical aspects of cultivation but are not yet structured and sustainable in institutional strengthening. The inhibiting factors arise from internal and external aspects, namely low member participation, weak administration, a lack of management regeneration, and dependence on extension workers. Institutional strengthening needs to be directed toward increasing group independence, improving administration, strengthening communication, and enhancing member participation in a sustainable manner.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Peran Tengkulak dalam Situasi Sosial dan Ekonomi Petani Pala di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174848" rel="alternate"/>
<author>
<name>BUTARBUTAR, PESALMEN</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174848</id>
<updated>2026-07-16T05:40:30Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Peran Tengkulak dalam Situasi Sosial dan Ekonomi Petani Pala di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak
BUTARBUTAR, PESALMEN
Pala merupakan komoditas penting bagi masyarakat Orang Asli Papua (OAP) di Kabupaten Fakfak, tidak hanya sebagai sumber pendapatan tetapi juga sebagai bagian dari identitas sosial dan budaya yang melekat pada tanaman tahunan yang diwariskan turun-temurun serta dikelola di atas tanah ulayat marga. Petani pala di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey masih menghadapi keterbatasan akses modal, informasi harga, transportasi, dan kelembagaan pemasaran, sehingga menempatkan tengkulak sebagai aktor utama dalam sistem sosial-ekonomi petani. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran tengkulak dalam aktivitas ekonomi petani pala, situasi hubungan sosial antara petani dan tengkulak, faktor-faktor penyebab ketergantungan petani, serta dampak keberadaan tengkulak terhadap kondisi sosial dan ekonomi petani. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang didukung analisis ekonomi sederhana, dengan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, Focus Group Discussion, serta studi dokumentasi dan literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tengkulak berperan sebagai penyedia likuiditas prapanen melalui kasbon natura, agregator dan pemasar pascapanen, sekaligus penentu standar mutu pala. Hubungan petani dan tengkulak tidak bersifat statis, melainkan terbentuk, dipelihara, dan bertransformasi dari relasi jual beli menjadi relasi patron-klien yang ditopang oleh kepercayaan, bantuan ekonomi, rasa sungkan, loyalitas, dan utang budi; kehadiran tengkulak masa kini merupakan kelanjutan dari sistem pengepul-juragan yang telah berlangsung turun-temurun. Ketergantungan petani diperkuat oleh keterbatasan akses pembiayaan formal termasuk status tanah ulayat yang tidak dapat dijadikan agunan tingginya biaya logistik, lemahnya kelembagaan petani, dan asimetri informasi harga. Keberadaan tengkulak memberikan dampak ambivalen: membantu petani bertahan melalui kepastian pembelian dan bantuan darurat, tetapi sekaligus memperlemah posisi tawar, membatasi penguasaan nilai tambah, dan mempertahankan ketergantungan sosial-ekonomi dalam jangka panjang, sehingga ekonomi pala petani cenderung berputar sebagai sirkulasi tanpa akumulasi.; Nutmeg is an important commodity for Indigenous Papuan (OAP) farmers in Fakfak Regency, serving not only as a source of income but also as part of a social and cultural identity embodied in a perennial crop inherited across generations and cultivated on communal (ulayat) clan land. Nutmeg farmers in the Weri-Saharey Transmigration Area still face limited access to capital, price information, transportation, and marketing institutions, which positions intermediaries as key actors in the farmers' socio-economic system. This study aims to analyze the role of intermediaries in nutmeg farmers' economic activities, the social situations between farmers and intermediaries, the factors driving farmers' dependence, and the impacts of intermediaries on farmers' social and economic conditions. A descriptive qualitative approach supported by simple economic analysis was employed, with data collected through observation, in-depth interviews, Focus Group Discussions, and documentation and literature studies. The findings show that intermediaries act as providers of pre-harvest liquidity through in-kind credit, as post-harvest aggregators and marketers, and as determinants of nutmeg quality standards. The relationship between farmers and intermediaries is not static but is formed, maintained, and transformed from a trading relation into a patron-client relation sustained by trust, economic assistance, reluctance, loyalty, and moral indebtedness; present-day intermediaries represent a continuation of a long-standing, intergenerational collector-trader system. Farmers' dependence is reinforced by limited access to formal financing including the status of communal land that cannot serve as collateral high logistical costs, weak farmer institutions, and price information asymmetry. The presence of intermediaries produces ambivalent impacts: it helps farmers survive through purchase certainty and emergency assistance, yet simultaneously weakens their bargaining position, limits their control over added value, and sustains long-term socio-economic dependence, leaving the farmers' nutmeg economy circulating without accumulation.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Penyuluhan Pemanfaatan Limbah Sayuran Menjadi POC di Desa Ciputri Kabupaten Cianjur</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173667" rel="alternate"/>
<author>
<name>YUZA, FEIMAS BERINGIN</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173667</id>
<updated>2026-06-25T02:41:15Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Penyuluhan Pemanfaatan Limbah Sayuran Menjadi POC di Desa Ciputri Kabupaten Cianjur
YUZA, FEIMAS BERINGIN
Kegiatan pertanian hortikultura di Desa Ciputri, Kabupaten Cianjur, menghasilkan limbah sayuran dalam jumlah besar yang belum dikelola secara optimal dan berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan. Limbah tersebut umumnya dibuang di pinggir jalan atau ke aliran sungai, sehingga menimbulkan pencemaran dan bau tidak sedap. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi limbah sayuran, mendeskripsikan pelaksanaan penyuluhan pemanfaatan limbah sayuran menjadi pupuk organik cair (POC), serta menganalisis tingkat pengetahuan dan sikap petani terhadap pemanfaatan POC. Penelitian dilaksanakan pada Kelompok Tani Okiagaru dengan menggunakan metode kuantitatif sebagai metode utama yang diperkuat oleh data kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, sedangkan instrumen pengumpulan data berupa lembar pre-test dan post-test terhadap 23 responden. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan analisis naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluhan pemanfaatan limbah sayuran menjadi POC mampu meningkatkan pengetahuan dan membentuk sikap positif petani terhadap pengelolaan limbah organik. Petani menunjukkan minat dan kesiapan untuk menerapkan POC secara mandiri dalam kegiatan budidaya. Pemanfaatan limbah sayuran menjadi POC berpotensi mengurangi pencemaran lingkungan, menekan biaya produksi pertanian, serta mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan.; Horticultural farming activities in Ciputri Village, Cianjur Regency, generate large quantities of vegetable waste that has not been managed optimally and has the potential to cause environmental problems. This waste is commonly disposed of along roadsides or dumped into waterways, resulting in pollution and unpleasant odors. This study aims to identify the potential of vegetable waste, describe the implementation of extension activities on utilizing vegetable waste as liquid organic fertilizer (LOF), and analyze the level of knowledge and attitudes of farmers toward the use of LOF. The research was conducted with the Okiagaru Farmer Group using a quantitative method as the primary approach, supported by qualitative data. Data were collected through observation, interviews, while the data collection instruments consisted of pre-test and post-test sheets administered to 23 respondents. Data analysis employed descriptive statistics and narrative analysis. The results indicate that extension activities on converting vegetable waste into LOF were effective in increasing farmers' knowledge and fostering positive attitudes toward organic waste management. Farmers demonstrated interest and readiness to independently apply LOF in their cultivation practices. The utilization of vegetable waste as LOF has the potential to reduce environmental pollution, lower agricultural production costs, and support sustainable farming practices.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
