<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Production Technology And Agricultural Community Development</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153671" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153671</id>
<updated>2026-11-08T10:16:03Z</updated>
<dc:date>2026-11-08T10:16:03Z</dc:date>
<entry>
<title>Analisis Pengaruh dan Kepentingan Stakeholder dalam Penguatan Ekonomi Lokal di Kawasan Transmigrasi Tasifeto-Mandeu</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180258" rel="alternate"/>
<author>
<name>IRAWAN, RIZHA NUR</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180258</id>
<updated>2026-11-07T01:06:42Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Pengaruh dan Kepentingan Stakeholder dalam Penguatan Ekonomi Lokal di Kawasan Transmigrasi Tasifeto-Mandeu
IRAWAN, RIZHA NUR
Kawasan Transmigrasi Tasifeto-Mandeu, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, merupakan kawasan transmigrasi perbatasan dengan potensi komoditas pertanian yang beragam, seperti padi, jagung, kacang hijau, porang, kopi, cabai, dan tomat, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat masih bertumpu pada usahatani dan kegiatan turunannya. Penguatan ekonomi lokal di kawasan ini masih dihadapkan pada keterbatasan sumber daya air, sarana dan prasarana pertanian yang belum memadai, rendahnya pengelolaan pascapanen, serta fragmentasi kelembagaan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan situasi komunitas, mengidentifikasi stakeholder yang terlibat, dan menganalisis pengaruh dan kepentingan stakeholder dalam penguatan ekonomi lokal di empat desa kawasan tersebut, yaitu Desa Silawan, Tulakadi, Dafala, dan Loonuna. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan kuantitatif sederhana (mixed-methods) dengan 10 informan kunci dan 35 responden yang dipilih secara purposive sampling, dilengkapi teknik snowball sampling untuk menjangkau aktor informal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, studi dokumentasi, dan lembar penilaian pengaruh-kepentingan, kemudian diolah menggunakan RStudio dan dipetakan dalam matriks pengaruh-kepentingan. Hasil penelitian mengidentifikasi 35 stakeholder yang terbagi ke dalam empat kuadran, yaitu 13 stakeholder pada kuadran key player (didominasi Camat, kepala dinas teknis, pemerintah desa, dan pendamping desa), 10 stakeholder pada kuadran subject (kelompok tani, pelaku UMKM, dan BUMDes tertentu), 5 stakeholder pada kuadran context setter (tokoh masyarakat), dan 7 stakeholder pada kuadran crowd (sejumlah kelompok tani berskala kecil). Temuan menunjukkan bahwa penguatan ekonomi lokal di kawasan ini masih bersifat top-down dan didominasi aktor formal pemerintah, sementara kelompok tani dan pelaku usaha lokal memiliki kepentingan tinggi namun pengaruh yang masih terbatas. Penelitian merekomendasikan penguatan koordinasi lintas sektor, peningkatan kapasitas kelembagaan lokal, serta perluasan ruang partisipasi bagi stakeholder pada kuadran subject dan crowd agar penguatan ekonomi lokal berjalan lebih inklusif dan berkelanjutan.; The Tasifeto-Mandeu Transmigration Area in Belu Regency, East Nusa Tenggara, is a border transmigration area with diverse agricultural commodity potential, including rice, maize, mung bean, porang, coffee, chili, and tomato, with local economic activity still relying on farming and its derivative activities. Local economic strengthening in this area still faces constraints such as limited water resources, inadequate agricultural facilities and infrastructure, poor postharvest management, and fragmented local institutions. This study aims to describe the community situation, identify the stakeholders involved, and analyze the influence and interest of stakeholders in local economic strengthening across four villages, namely Silawan, Tulakadi, Dafala, and Loonuna. This study employed a descriptive qualitative approach combined with simple quantitative methods (mixed-methods), involving 10 key informants and 35 respondents selected through purposive sampling, complemented by snowball sampling to reach informal actors. Data were collected through in-depth interviews, field observations, documentation studies, and influence-interest assessment sheets, processed using RStudio, and mapped onto an influence-interest matrix. The results identified 34 stakeholders distributed across four quadrants: 13 stakeholders in the key player quadrant (dominated by sub-district heads, technical agency heads, village governments, and village facilitators), 10 stakeholders in the subject quadrant (farmer groups, MSME actors, and certain village-owned enterprises), 5 stakeholders in the context setter quadrant (community leaders), and 7 stakeholders in the crowd quadrant (several small-scale farmer groups). The findings indicate that local economic strengthening in this area remains top-down and dominated by formal government actors, while farmer groups and local business actors have high interest but limited influence. This study recommends strengthening cross-sector coordination, improving local institutional capacity, and expanding participation space for stakeholders in the subject and crowd quadrants so that local economic strengthening becomes more inclusive and sustainable.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Dampak Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dan Peran Kelompok Wanita Tani dalam Ketahanan Pangan (Kasus: Desa Sidorejo, Kecamatan Wonomulyo, Sulawesi Barat)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180185" rel="alternate"/>
<author>
<name>AZIS, MUHAMMAD FADHLAN RESTU</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180185</id>
<updated>2026-10-27T01:13:18Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Dampak Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dan Peran Kelompok Wanita Tani dalam Ketahanan Pangan (Kasus: Desa Sidorejo, Kecamatan Wonomulyo, Sulawesi Barat)
AZIS, MUHAMMAD FADHLAN RESTU
Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan rumah tangga melalui optimalisasi lahan pekarangan. Kelompok Wanita Tani (KWT) Sukma di Desa Sidorejo, Kecamatan Wonomulyo, merupakan salah satu kelompok yang menjalankan program ini sejak tahun 2020. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat pemanfaatan pekarangan, menganalisis peran KWT Sukma, serta mengevaluasi capaian program P2L terhadap ketahanan pangan rumah tangga anggota. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung data kualitatif, dengan seluruh 20 anggota KWT Sukma dijadikan sampel melalui teknik sensus. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara semi terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener, Indeks Kemerataan Jenis, dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan pekarangan anggota tergolong tinggi, dengan 80 persen anggota memanfaatkan pekarangan secara rutin dan 60 persen memperoleh hasil panen lebih dari 20 kg per bulan, meskipun indeks kemerataan jenis tanaman tergolong rendah (0,26) akibat dominasi tanaman sayuran. KWT Sukma terbukti berperan aktif pada keempat tahap partisipasi, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan hasil, dan evaluasi, meski evaluasi program masih bertumpu pada inisiatif internal tanpa pendampingan eksternal. Capaian ketahanan pangan rumah tangga tergolong baik pada dimensi kecukupan dan stabilitas ketersediaan pangan, serta cukup baik pada dimensi aksesibilitas, meskipun uji korelasi Rank Spearman menunjukkan hubungan yang rendah dan tidak signifikan (p&gt;0,05) antara tingkat pemanfaatan pekarangan maupun peran KWT dengan indikator ketahanan pangan tersebut. Program P2L melalui KWT Sukma dinilai berkontribusi positif terhadap ketahanan pangan rumah tangga, namun keberlanjutannya memerlukan penguatan pendampingan eksternal secara berkala.; The Sustainable Food Yard Program (Pekarangan Pangan Lestari/P2L) is a government initiative aimed at strengthening household food security through the optimal use of home yards. The Sukma Women Farmer Group (KWT) in Sidorejo Village, Wonomulyo District, is one of the groups that has implemented this program since 2020. This study aimed to identify the level of yard utilization, analyze the role of KWT Sukma, and evaluate the achievement of the P2L program in supporting members' household food security. This study employed a quantitative approach supported by qualitative data, involving all 20 members of KWT Sukma as a census sample. Data were collected through questionnaires, semi-structured interviews, observation, and documentation, then analyzed using descriptive statistics, the Shannon-Wiener Diversity Index, the Evenness Index, and Spearman's Rank Correlation test. The results showed that the level of yard utilization among members was high, with 80 percent routinely cultivating their yards and 60 percent obtaining harvest yields of more than 20 kg per month, although the evenness index of plant species was low (0.26) due to the dominance of vegetable crops. KWT Sukma actively participated in all four stages of participation planning, implementation, utilization of results, and evaluation although program evaluation still relied solely on internal group initiative without external assistance. Household food security achievement was categorized as good in terms of adequacy and stability of food availability, and fairly good in terms of accessibility, although Spearman's Rank Correlation test indicated low and statistically insignificant relationships (p&gt;0.05) between yard utilization and KWT's role with these food security indicators. The P2L program through KWT Sukma is considered to have contributed positively to household food security, although its sustainability requires strengthened and regular external assistance.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Gambaran Perilaku dan Non Perilaku Petani di Desa Ciputri Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur dalam Pengolahan Limbah Sayuran</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180128" rel="alternate"/>
<author>
<name>Agnia, Arba Wildan</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180128</id>
<updated>2026-10-17T00:51:22Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Gambaran Perilaku dan Non Perilaku Petani di Desa Ciputri Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur dalam Pengolahan Limbah Sayuran
Agnia, Arba Wildan
Sektor hortikultura menghasilkan limbah sayuran dalam jumlah besar, namun pengelolaannya di Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, masih belum optimal. Kegiatan yang umumnya petani lakukan mengenai limbah dibiarkan menumpuk, dibakar, atau dibuang ke sungai. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi permasalahan limbah sayuran serta mendeskripsikan faktor perilaku dan non perilaku petani dalam pengolahannya. Penelitian menggunakan mix methods dengan 23 petani yang dipilih menjadi responden melalui sensus dan 5 informan kunci. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah sayuran mengalami akumulasi karena perilaku dan non perilaku. Mayoritas petani memiliki pengetahuan pada kategori cukup dan sikap pada kategori tinggi, menunjukkan adanya kesadaran serta penerimaan terhadap pengolahan limbah. Namun, keterbatasan pengetahuan teknis serta sarana dan prasarana, seperti lahan pengolahan, rumah kompos, alat pencacah, dan bahan fermentasi, menjadi kendala utama dalam penerapan pengolahan limbah secara optimal dan berkelanjutan.; The horticultural sector generates large amounts of vegetable waste; however, its management in Ciputri Village, Pacet Subdistrict, Cianjur Regency, remains suboptimal. Farmers commonly leave vegetable waste to accumulate, burn it, or dispose of it in rivers. This study aimed to identify vegetable waste management problems and describe the behavioral and non-behavioral factors influencing farmers’ waste processing practices. The study employed a mixed-methods approach involving 23 farmers selected through a census and five key informants. Data were collected through observation, interviews, and questionnaires, then analyzed using descriptive quantitative and qualitative methods. The results indicated that vegetable waste accumulated due to behavioral and non-behavioral factors. Most farmers had a moderate level of knowledge and a high level of attitude toward vegetable waste processing, indicating awareness of and acceptance toward waste management practices. However, limited technical knowledge and inadequate facilities and infrastructure, including processing land, composting facilities, shredding equipment, and fermentation materials, remained the main obstacles to implementing effective and sustainable vegetable waste processing.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI PADA EMPAT UNIT USAHA DI HISRA FARM</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180123" rel="alternate"/>
<author>
<name>HISRA, ELCHINO FAJAR</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180123</id>
<updated>2026-10-16T06:22:21Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI PADA EMPAT UNIT USAHA DI HISRA FARM
HISRA, ELCHINO FAJAR
ELCHINO FAJAR HISRA. Analisis Kelayakan Usahatani pada Empat Unit Usaha di Hisra Farm. Dibimbing oleh MUHAMMAD IQBAL NURULHAQ.&#13;
&#13;
Hisra Farm mengelola empat unit usaha, yaitu itik petelur, pembesaran ikan nila, hidroponik Nutrient Film Technique (NFT), dan tanaman hias Aglonema. Diversifikasi tersebut belum tentu menunjukkan seluruh unit layak secara finansial. Penelitian ini bertujuan menganalisis biaya, penerimaan, dan pendapatan; menilai kelayakan berdasarkan Revenue Cost Ratio (R/C Ratio), Break Even Point (BEP), dan Return on Investment (ROI); serta membandingkan kinerja finansial keempat unit usaha. Penelitian dilaksanakan di Hisra Farm, Desa Pulau Terap, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar, Riau, dengan pendekatan kuantitatif yang didukung data kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, lalu diolah menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan hidroponik NFT, pembesaran ikan nila, dan Aglonema layak dijalankan, sedangkan usaha itik belum layak. Hidroponik NFT memiliki kinerja terbaik dengan R/C Ratio 1,22 dan ROI 53,40%. Ikan nila memperoleh R/C Ratio 1,07 dan ROI 41,00%, sedangkan Aglonema memperoleh R/C Ratio 1,05 dan ROI 4,51%. Usaha itik memperoleh R/C Ratio 0,74 dan ROI -113,51% karena penerimaan belum menutup biaya produksi. Tiga unit yang layak telah berada di atas BEP, sedangkan usaha itik belum mencapai BEP. Hidroponik NFT menjadi prioritas pengembangan, ikan nila dan Aglonema dapat dikembangkan secara bertahap, dan usaha itik perlu dievaluasi.&#13;
&#13;
Kata kunci: Hisra Farm, hidroponik NFT, kelayakan usahatani, R/C Ratio, ROI
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
