<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>IPB Scholar</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/121417" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/121417</id>
<updated>2026-04-18T23:34:11Z</updated>
<dc:date>2026-04-18T23:34:11Z</dc:date>
<entry>
<title>Tjatatan Perihal Lapangan Kerja dan Revolusi Hidjau dalam Pertanian</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172802" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sajogyo</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172802</id>
<updated>2026-03-03T03:52:14Z</updated>
<published>1971-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Tjatatan Perihal Lapangan Kerja dan Revolusi Hidjau dalam Pertanian
Sajogyo
Tulisan ini disusun sebagai bahan diskusi dalam Seminar Perencanaan Tenaga Kerja di LIPI pada Juni 1971. Fokus utamanya adalah menelaah hubungan antara pertumbuhan angkatan kerja, tekanan penduduk agraris di Jawa, dan dampak introduksi teknologi Revolusi Hijau terhadap penyerapan tenaga kerja di pedesaan. Sajogyo menggunakan data estimasi dari W. Brand, G.W. Jones, serta data primer dari Survey Agro Ekonomi (SAE) 1969 untuk menunjukkan kondisi ekstrem tekanan penduduk di Jawa dibandingkan pulau-pulau lain.&#13;
Sajogyo memaparkan bahwa pertanian rakyat di Jawa telah mencapai tingkat kepadatan tenaga kerja yang sangat tinggi (1,55 orang/ha) dengan penguasaan lahan yang sangat sempit (rata-rata 0,7 ha). Temuan riset menunjukkan bahwa budidaya padi di Jawa sangat intensif tenaga kerja namun memiliki produktivitas per orang-hari yang rendah jika dibandingkan dengan Filipina. Tulisan ini menyimpulkan bahwa meskipun teknologi baru (varietas unggul) meningkatkan penyerapan tenaga kerja, hal tersebut tidak serta-merta menjamin kesejahteraan tanpa adanya diversifikasi usaha dan integrasi pasar.
</summary>
<dc:date>1971-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Teknologi Pada Masyarakat Pedesaan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172801" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sajogyo</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172801</id>
<updated>2026-03-03T03:46:09Z</updated>
<published>1979-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Teknologi Pada Masyarakat Pedesaan
Sajogyo
Tulisan ini menelaah dampak penetrasi teknologi modern terhadap struktur sosial-ekonomi masyarakat pedesaan di Indonesia, dengan fokus utama pada pola pertanian sawah di Jawa. Sajogyo membedakan dua tipologi ekologi kebudayaan: pola sawah dengan pengairan dan pola berladang berpindah-pindah. Ia menganalisis struktur ekonomi desa melalui tiga fungsi lembaga adat: pengatur penguasaan sumber daya (tanah/air), pengatur pemanfaatan tenaga kerja, dan pengatur pembagian hasil produksi.&#13;
Naskah ini menyoroti transisi dari teknologi tradisional ke teknologi maju (seperti varietas unggul dan mekanisasi) yang dibawa oleh program modernisasi seperti Bimas. Sajogyo secara kritis mengamati bagaimana perubahan teknologi ini tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga mengubah hubungan kerja, seperti munculnya sistem "tebasan" yang membatasi partisipasi buruh tani dalam panen. Penulis menekankan adanya ancaman polarisasi sosial yang semakin tajam antara pemilik lahan dan golongan tunakisma (buruh tani) jika pembangunan tidak dibarengi dengan penguatan demokrasi ekonomi di tingkat desa.
</summary>
<dc:date>1979-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Modernization without Development in Rural Java</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172800" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sajogyo</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172800</id>
<updated>2026-03-03T03:40:27Z</updated>
<published>1973-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Modernization without Development in Rural Java
Sajogyo
san Tulisan&#13;
Tulisan ini menjelaskan bagaimana model pembangunan pemerintah melalui program percepatan produksi dan mekanisasi pertanian (modernisasi) menyebabkan beragam masalah. Modernisasi tanpa dibarengi dengan pembangunan masyarakat, menjadikan masyarakat masuk ke dalam jurang kemiskinan yang semakin dalam. &#13;
Pada 1984, intensifikasi pertanian berhasil meningkatkan produksi beras (swasembada), tetapi dampaknya tidak dirasakan oleh seluruh petani. Kelompok petani kecil seperti petani gurem yang tidak memiliki tanah dan juga buruh tani, tidak mengalami peningkatan kesejahteraan, bahkan cenderung semakin terpinggirkan. Di sisi lain, program intensifikasi di atas kepemilikan lahan yang sempit, tidak cukup untuk petani bertahan hidup, terutama pada lahan pertanian tanpa irigasi. Hal inilah yang kemudian menjadikan Sajogyo menyebut kritik atas program-program pembangunan pemerintah sebagai modernization without development.&#13;
Studi naskah ini dilakukan di desa-desa di Jawa yang menerima program intensifikasi pertanian, dengan mengolah data survei BPS tentang kepemilikan lahan dan panen yang dihasilkan dari lahan tersebut. Dalam survei yang dilakukan, menampilkan data-data kepemilikan tanah petani di Jawa sebanyak 52% memiliki tanah di bawah 0,5 hektar dan 21% memiliki tanah di atas 1,0 hektar, dengan rata-rata kepemilikan seluas 0,71 hektar (1 bau). Berdasarkan sensus tahun 1963; 59% mengelola lahan mereka sendiri, 34% mengelola lahan milik sendiri ditambah lahan lain dengan cara menyewa atau bagi hasil dan lainnya, 6% mengelola lahan sepenuhnya bukan milik sendiri. Hal Ini menunjukan bahwa pertanian tidak hanya dilakukan oleh mereka yang memiliki tanah, tetapi juga yang tidak memiliki tanah. ...
</summary>
<dc:date>1973-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kata Pengantar Ekologi Pedesaan: Sebuah Bunga Rampai</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172799" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sajogyo</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172799</id>
<updated>2026-03-03T03:32:09Z</updated>
<published>1987-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kata Pengantar Ekologi Pedesaan: Sebuah Bunga Rampai
Sajogyo
Tulisan ini merupakan pengantar bagi kumpulan karangan yang membahas peran manusia sebagai pengubah utama wajah alam, yang sering kali berujung pada kerusakan ekologis. Sajogyo menyoroti dualitas penyebab degradasi lingkungan di Indonesia: di satu sisi, kemiskinan di pedesaan memicu penggundulan hutan dan erosi (karena kebutuhan bertahan hidup), sementara di sisi lain, masuknya modal besar dan industri kayu telah mempercepat proses penghabisan hutan tropis demi devisa dan pasar luar negeri.&#13;
Tulisan ini merangkum pemikiran tokoh-tokoh dari masa kolonial hingga pasca-merdeka (seperti K.J. Pelzer, C.F. van der Meulen, E. de Vries, Thijsse, I Made Sandy, Anwas Adiwilaga, dan Soedarwono Hardjosoediro) yang membahas berbagai dimensi ekologi pedesaan: mulai dari sistem ladang berpindah, teknik restorasi lahan secara biologis, tata guna lahan berbasis peta, hingga krisis energi di pedesaan akibat ketergantungan pada biomassa (kayu bakar)
</summary>
<dc:date>1987-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
