<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Soil Science and Land Resources</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/119" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/119</id>
<updated>2026-04-11T17:45:00Z</updated>
<dc:date>2026-04-11T17:45:00Z</dc:date>
<entry>
<title>Aplikasi Spektroradiometer untuk Pengamatan Kelas Umur Padi pada Beberapa Kultivar</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172910" rel="alternate"/>
<author>
<name>Achmad, Alferdian</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172910</id>
<updated>2026-04-09T01:46:21Z</updated>
<published>2020-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Aplikasi Spektroradiometer untuk Pengamatan Kelas Umur Padi pada Beberapa Kultivar
Achmad, Alferdian
Beras merupakan bahan makanan pokok utama bagi sebagian besar (97%) masyarakat Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemantauan fase tumbuh padi menjadi salah satu faktor dalam menentukan perencanaan terkait ketersediaan beras. Teknologi penginderaan jauh digunakan untuk mengidentifikasi fase tumbuh/umur tanaman pada beberapa kultivar tanaman padi dengan menggunakan data spektral padi. Spektroradiometer digunakan untuk merekam iradians spektral dari rentang gelombang cahaya tampak (visible) sampai near-infrared (NIR) dengan menempatkan sensor pada perangkat portabel. Tujuan penelitian adalah menganalisis karakteristik spektral reflektan kelas umur pada beberapa kultivar tanaman padi berbasis data spektroradiometer dan implikasinya terhadap kanal Landsat 8. Sampel diambil sebanyak 35 titik yang terdiri dari tiga kultivar berbeda (Inpari 32, Padjadjaran Agritan, dan Siliwangi Agritan) untuk melihat perbedaan respons spektral antarkultivar. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menghitung data spektroradiometer menjadi nilai reflektan dan analisis deskriptif terhadap hubungan antara panjang gelombang spektroradiometer dengan nilai reflektan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ketiga kultivar yang diamati, semuanya menunjukkan respons reflektan yang sama yaitu semakin tua umur padi, maka semakin rendah reflektan pada rentang gelombang cahaya tampak dan sebaliknya pada reflektan di rentang gelombang NIR semakin tinggi. Selain itu, berdasarkan pola reflektan yang didapat pada tiga kelas umur yaitu kelas umur 21 HST dan 56 HST menunjukkan perbedaan yang signifikan di mana reflektan gelombang NIR dapat membedakan ketiga kultivar berdasarkan visual pola reflektan. Sementara pada 14 HST, reflektan gelombang NIR Inpari 32 dan Padjadjaran Agritan saling berhimpitan sehingga sulit dibedakan. Implikasi spektral spektroradiometer dengan kanal Landsat 8 mampu memisahkan kombinasi kelas umur dan kultivar padi secara signifikan pada kanal Red dan NIR.; Rice is the main staple food for the majority (97%) of Indonesians. Therefore, monitoring of the growth phase is one of the factors in determining planning related to rice availability. Remote sensing technology is employed to identify growth phase, age, or rice cultivar using spectral data. Spectroradiometer is designed to measures the spatial irradiance in the range from visible light to near-infrared (NIR) by placing sensor on portable device. This study aims to analyze the spectral variability of several rice cultivars based on spectroradiometer data and its implications for Landsat 8 spectra. There are 35 samples consist of three different cultivars (Inpari 32, Padjadjaran Agritan, and Siliwangi Agritan) to see the difference in spectral responses. The method used in this study is to transform the spectroradiometer data into reflectance values and descriptive analysis of the relationship between spectroradiometer wavelength and the reflectance value. In the three cultivars observed, all showed the same reflectance response, i.e. the older the rice, the lower the reflectance in the visible wavebands, while high NIR reflectance was maintained. In addition, based on reflectance patterns obtained in the three age classes, age classes 21 and 56 DAS showed clearest differences where the red edge and reflectance of NIR waves could distinguish the three cultivars based on visual reflectance pattern. Meanwhile, at 14 DAS, the reflectance of NIR waves on Inpari 32 and Padjadjaran Agritan coincided with each other, making it difficult to distinguish. The spectral implication of the spectroradiometer with Landsat 8 is able to separate the combination of age class and rice cultivar in Red and NIR wavebands.
</summary>
<dc:date>2020-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Perubahan Tutupan Lahan, Kecukupan, dan Pola Spasial Ruang Terbuka Hijau Kota Bekasi</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172629" rel="alternate"/>
<author>
<name>Hasanah, Tisa Azrun</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172629</id>
<updated>2026-02-17T23:56:52Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Perubahan Tutupan Lahan, Kecukupan, dan Pola Spasial Ruang Terbuka Hijau Kota Bekasi
Hasanah, Tisa Azrun
Kota Bekasi merupakan kota dengan dinamika pembangunan pesat dengan ruang terbuka hijau (RTH) yang terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan Kota Bekasi tahun 2019, 2022, dan 2025; menganalisis perbandingan sebaran dan luas RTH dengan Tutupan Lahan dan Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) Kota Bekasi tahun 2015-2035; menganalisis kecukupan RTH berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayah; serta menganalisis pola sebaran spasial lahan terbangun 2025, lahan bervegetasi 2025, RTH Tahun 2022, dan alokasi RTH dalam RDTR tahun 2015-2035 di Kota Bekasi. Analisis dilakukan menggunakan citra Sentinel-2 dengan algoritma Random Forest, melakukan tumpang susun data beberapa titik tahun, perhitungan kecukupan RTH, serta autokorelasi spasial (Indeks Moran dan LISA) di GeoDa. Hasil klasifikasi penggunaan lahan menghasilkan overall acuracy sebesar 0,97 dan Kappa sebesar 0,95. Kota Bekasi dalam 6 tahun terakhir (2019-2025) mengalami peningkatan lahan terbangun sebesar 7,38%, sedangkan lahan bervegetasi menurun sebesar - 8,14%; RTH di tahun 2022 berada di kawasan lahan terbangun, lahan terbuka, dan badan air; realisasi alokasi RTH dalam RDTR hanya 21% dari 1.002 ha yang direncanakan; dan ketersediaan RTH publik baru mencapai 6,3% dari luas kota, jauh di bawah ketentuan minimal 20% maupun standar 20 m2 per kapita. Hasil analisis LISA menunjukkan perbedaan pola spasial antara lahan terbangun 2025, lahan bervegetasi 2025, RTH tahun 2022, dan alokasi RTH dalam RDTR tahun 2015-2035. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya ketidakmerataan distribusi ruang hijau dalam struktur spasial Kota Bekasi. Hasil ini mengindikasikan tidak terealisasikannya rencana alokasi RTH dalam RDTR serta mendukung hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa penyediaan RTH di Kota Bekasi belum memenuhi target karena tekanan urbanisasi.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Pengaplikasian Biochar  Bambu dan Limbah Ekstrak Bromelin Terhadap Permeabilitas Tanah di Perkebunan Nanas</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172575" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fikri, Sayed Muhammad</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172575</id>
<updated>2026-02-05T03:17:16Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Pengaplikasian Biochar  Bambu dan Limbah Ekstrak Bromelin Terhadap Permeabilitas Tanah di Perkebunan Nanas
Fikri, Sayed Muhammad
Budidaya nanas intensif pada tanah Ultisol di lahan kebun PT. Great Giant Pineapple (GGP) memicu degradasi lahan yang ditandai dengan menurunnya kualitas sifat fisik tanah. Penelitian ini bertujuan mengukur dan menganalisis pengaruh pengaplikasian biochar bambu cacah (BC) dan biochar limbah ekstrak bromelin (LEB) terhadap permeabilitas tanah dan sifat fisik pendukungnya. Penelitian dilaksanakan di petak 80A milik PT. GGP, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok pada perlakuan biochar bambu cacah (BC) dan limbah ekstraksi bromelin (LEB). Taraf dosis yang dicobakan masing-masing adalah 0%, 50%, 100%, 150% SOP dengan empat ulangan. Parameter sifat fisik yang diamati meliputi permeabilitas, bobot isi, indeks stabilitas agregat, dan C-organik. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pengaplikasian biochar BC berpengaruh nyata (p &lt;0.05) terhadap permeabilitas tanah dalam 3 bulan pengamatan pada dosis 150% (4.1 ton/ha). Biochar LEB tidak memberikan pengaruh nyata terhadap permeabilitas maupun sifat fisik lainnya.; Intensive pineapple cultivation on Ultisol soil in PT. Great Giant Pineapple (GGP) plantation area has experienced land degradation characterized by a decline in the quality of soil physical properties. This study aims to measure and analyze the effect of the application of chopped bamboo biochar (BC) and bromelain extraction waste biochar (LEB) on soil permeability and its supporting physical properties. The study was conducted in plot 80A owned by PT. GGP, Central Lampung Regency, Lampung Province. The study was conducted using a randomized block design on the treatment of chopped bamboo biochar (BC) and bromelain extraction waste (LEB). The dose levels tested were 0%, 50%, 100%, 150% SOP with four replications, respectively. The physical property parameters observed included permeability, bulk density, aggregate stability index, and organic carbon. The results showed that the application of BC biochar had a significant effect (p &lt;0.05) on soil permeability within 3 months of observation at a dose of 150% (4.1 tons/ha). LEB biochar did not have a significant effect on permeability or other physical properties.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kekuatan Geser Tanah pada Tiga Tipe Pengelolaan Lahan di Desa Ciputri, Cianjur</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172368" rel="alternate"/>
<author>
<name>Pakunagaran, Yudhistira</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172368</id>
<updated>2026-02-09T07:27:32Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kekuatan Geser Tanah pada Tiga Tipe Pengelolaan Lahan di Desa Ciputri, Cianjur
Pakunagaran, Yudhistira
Pengelolaan lahan untuk pertanian memiliki potensi merubah nilai kekuatan geser tanah. Kekuatan geser tanah merupakan parameter ketahanan tanah terhadap beban dan gaya pendorong pada area berlereng. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis &#13;
pengaruh perbedaan tipe pengelolaan lahan terhadap kekuatan geser tanah serta implikasinya terhadap potensi longsor di Desa Ciputri. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juli 2025 dengan menggunakan pendekatan deskriptif eksploratif pada tiga tipe pengelolaan lahan, yaitu hutan sekunder (TPH), hortikultura intensif (TPI), dan hortikultura konservasi (TPK). Pengukuran kekuatan geser tanah dilakukan pada kedalaman 0–30 cm menggunakan alat Geonor H-60 Vane Shearmeter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe pengelolaan lahan berpengaruh nyata terhadap nilai kekuatan  geser dan sensitivitas tanah. Lahan hutan sekunder (TPH) memiliki nilai kuat geser tanah utuh tertinggi sebesar 0,78 kg/cm², diikuti oleh hortikultura konservasi (TPK) sebesar  0,26 kg/cm², sedangkan hortikultura intensif (TPI) menunjukkan nilai terendah sebesar 0,11 kg/cm². Kekuatan geser tanah memiliki korelasi positif yang sangat kuat dengan kadar air tanah (r = 0,833), kandungan C-organik (r = 0,755), dan stabilitas agregat tanah (r = 0,683). Penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan lahan hutan sekunder memiliki potensi risiko longsor yang lebih rendah dibanding lahan hortikultura intensif.; Agricultural land management plays a critical role in modifying soil shear strength, a key parameter governing soil resistance to applied loads and driving forces in sloping agricultural landscapes. This study evaluates the effects of different land management &#13;
practices on soil shear strength and their implications for landslide susceptibility in Desa Ciputri. Field research was conducted from March to July 2025 using a descriptive exploratory design across three land management types: secondary forest (TPH), intensive &#13;
horticulture (TPI), and conservation-based horticulture (TPK). Soil shear strength was measured at a depth of 0–30 cm using a Geonor H-60 vane shearmeter. The results demonstrate that land management type exerts a significant influence on soil shear strength &#13;
and soil sensitivity. Secondary forest showed the highest undisturbed soil shear strength (0.78 kg cm?²), followed by conservation-based horticulture (0.26 kg cm?²), whereas intensive horticulture recorded the lowest value (0.11 kg cm?²). Soil shear strength showed strong positive correlations with soil moisture content (r = 0.833), soil organic carbon (r = 0.755), and aggregate stability (r = 0.683). These findings indicate that secondary forest management enhances soil mechanical stability and reduces landslide susceptibility relative to intensive horticultural systems. Overall, the study underscores the importance of sustainable land management practices in improving soil strength and mitigating landslide risk in mountainous agricultural environments.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
