<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Soil Science and Land Resources</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/119" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/119</id>
<updated>2026-08-14T06:47:39Z</updated>
<dc:date>2026-08-14T06:47:39Z</dc:date>
<entry>
<title>Evaluasi Multi-Kriteria Kesesuaian Lahan Komoditas Cengkeh di Kabupaten Sukabumi Bagian Barat</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178656" rel="alternate"/>
<author>
<name>Amala, Fiilia Akhsanu</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178656</id>
<updated>2026-08-14T04:52:46Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluasi Multi-Kriteria Kesesuaian Lahan Komoditas Cengkeh di Kabupaten Sukabumi Bagian Barat
Amala, Fiilia Akhsanu
Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) merupakan komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi dan Kabupaten Sukabumi menjadi penghasil cengkeh tertinggi di Jawa Barat, terutama pada wilayah bagian barat yang memiliki luas pertanaman besar. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian lahan komoditas cengkeh di Kabupaten Sukabumi bagian barat. Metode yang digunakan adalah pendekatan multi-kriteria. Tahapan penelitian meliputi penentuan kriteria kesesuaian lahan, pembobotan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP), overlay peta setiap kriteria untuk menghasilkan peta kesesuaian lahan, serta analisis ketersediaan lahan berdasarkan penggunaan lahan dan RTRW. Kriteria yang digunakan meliputi elevasi, curah hujan, kemiringan lereng, drainase, kedalaman efektif, jenis tanah, formasi geologi, pH, KTK, KB, dan jarak ke pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria yang memiliki bobot paling besar adalah drainase, kedalaman efektif, dan curah hujan. Nilai Consistency Ratio (CR) keseluruhan sebesar 0,09 atau konsisten. Wilayah penelitian didominasi kelas cukup sesuai (S2) seluas 80.090,00 ha (55,81%) dan sangat sesuai (S1) seluas 53.840,30 ha (37,52%). Analisis ketersediaan lahan menunjukkan lahan tersedia seluas 18.012,67 ha (12,55%) dan potensi tersedia 1.398,91 ha (0,97%). Sementara itu, hasil analisis prioritas lahan menunjukkan wilayah sangat prioritas seluas 7.431,01 ha (5,18%) dan agak prioritas 12.495,90 ha (8,71%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan tersedia dengan tingkat kesesuaian tinggi menjadi prioritas utama pengembangan cengkeh di Kabupaten Sukabumi bagian barat.; Clove (Syzygium aromaticum L.) is a plantation commodity of high economic value, and Sukabumi Regency is the largest clove producer in West Java, particularly in its western region, which has an extensive cultivation area. This study aims to evaluate the land suitability for clove cultivation in western Sukabumi Regency. The method employed is a multi-criteria approach. The research stages include determining land suitability criteria, weighting using the Analytical Hierarchy Process (AHP), overlaying maps for each criterion to produce a land suitability map and analyzing land availability based on land use and the Regional Spatial Plan (RTRW). The criteria used encompass elevation, rainfall, slope, drainage, effective soil depth, soil type, geological formation, pH, cation exchange capacity (CEC), base saturation (BS), and distance to market. The results indicate that the criteria with the highest weights are drainage, effective soil depth, and rainfall. The overall Consistency Ratio (CR) value is 0,09, indicating consistency. The study area is dominated by the moderately suitable class (S2), covering 80.090,00 ha (55,81%), and the highly suitable class (S1), covering 53.840,30 ha (37,52%). Land availability analysis shows that available land amounts to 18.012,67 ha (12,55%), with potentially available land of 1.398,91 ha (0,97%). Meanwhile, land development priority analysis reveals that high-priority areas cover 7.431,01 ha (5,18%) and moderate-priority areas cover 12.495,90 ha (8,71%). The findings indicate that available land with high suitability levels constitutes the primary priority for clove development in western Sukabumi Regency.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Jenis Bahan Organik dan Kedalaman  Lubang Resapan Berbasis Biopori (LRB) Terhadap Hasil Jagung Manis (Zea mays L. var. saccharata)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178634" rel="alternate"/>
<author>
<name>HELPANA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178634</id>
<updated>2026-08-14T04:52:12Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Jenis Bahan Organik dan Kedalaman  Lubang Resapan Berbasis Biopori (LRB) Terhadap Hasil Jagung Manis (Zea mays L. var. saccharata)
HELPANA
Jagung manis (Zea mays L. var. saccharata) merupakan komoditas pangan bernilai ekonomi tinggi yang produktivitasnya dipengaruhi oleh ketersediaan air dan unsur hara dalam tanah. Penggunaan bahan organik melalui lubang resapan biopori berpotensi meningkatkan kesuburan tanah, infiltrasi air, serta ketersediaan unsur hara.  Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh ragam jenis bahan  organik dan kedalaman lubang resapan biopori terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis (Zea mays L. var. saccharata) dan sifat kimia tanah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Pendidikan Cikabayan, Institut Pertanian Bogor, pada September 2025–Maret 2026 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal yaitu ragam jenis bahan organik (brangkasan jagung manis dan &#13;
sampah pasar) dan kedalaman LRB (50 cm dan 100 cm) dan kontrol (tanpa bahan organik dan LRB) sehingga terdapat 5 perlakuan. Setiap perlakuan diulang 3 kali, sehingga diperoleh 15 satuan percobaan. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, hasil panen jagung manis dan sifat kimia tanah (C-organik, pH, N-total, P-tersedia, dan K-tersedia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam jenis &#13;
bahan organik dan kedalaman LRB tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada 4, 6, dan 8 Minggu Setelah Tanam (MST), hasil panen jagung, N-total, P-tersedia, C-organik, dan pH tanah, namun berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada 2 MST dan K-tersedia.; Sweet corn (Zea mays L. var. saccharata) is a food commodity of high economic value whose productivity is influenced by water availability and nutrient content in the soil. The application of organic materials through biopore infiltration holes has the potential to improve soil fertility, water infiltration, and nutrient availability. This study aimed to analyze the effect of organic material types and biopore infiltration hole (BIH) depth on the growth and yield of sweet corn (Zea mays L. var. saccharata) and soil chemical properties. The research was conducted at the Cikabayan Education Farm, IPB University, from September 2025 to March 2026, using a Randomized Complete Block Design (RCBD) with a single factor comprising combinations of organic material types (sweet corn stover and market waste) and BIH depths (50 cm and 100 cm), along with a control treatment (no organic material and no BIH), resulting in five treatment &#13;
levels. Each treatment was replicated three times, yielding 15 experimental units. Variables observed included plant height, sweet corn yield, and soil chemical properties (organic-C, pH, total-N, available-P, and available-K). The results showed that organic material types and BIH depths had no significant effect on plant height at 4, 6, and 8 Weeks After Planting (WAP), corn yield, total-N, available-P, organic-C, and soil pH; however, they had a significant effect on plant height at 2 WAP and available-K.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Skripsi a.n Lia Melawati (A1401221068)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178630" rel="alternate"/>
<author>
<name>Melawati, Lia</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178630</id>
<updated>2026-08-14T04:52:06Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Skripsi a.n Lia Melawati (A1401221068)
Melawati, Lia
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memegang peran sebagai pusat industri&#13;
timah nasional. Walaupun demikian penambangan timah menghasilkan secara luas&#13;
tailing yang merupakan sisa-sisa penambangan timah. Tailing penambangan timah&#13;
memiliki tekstur pasir yang lepas dan tidak memiliki kemampuan menjerap harahara. Sampel tailing timah yang diambil dari lokasi tersebut memiliki kriteria&#13;
kesuburan yang rendah ditandai jumlah fraksi pasir (&gt;90%), klei rendah (3,75%),&#13;
karbon organik sangat rendah (0,1%), KTK rendah sangat rendah (&lt;1 cmol??? kg?¹,&#13;
menyebabkan kemampuan tanah dalam menjerap hara seperti kalium (K) dan fosfor&#13;
(P) menjadi terbatas. Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya&#13;
dan bertujuan mengevaluasi perubahan beberapa sifat kimia tanah dan&#13;
mengevaluasi karakteristik erapan dengan persamaan Langmuir dan Freundlich&#13;
setelah pemberian kalium humat dan tanah kaya klei. Analisis erapan dilakukan&#13;
pada empat jenis perlakuan yaitu, tailing timah tanpa ameliorasi yang merupakan&#13;
perlakuan tailing kontrol (A0K0), perlakuan 0% (b/b) kalium humat dan 20% (b/b)&#13;
tanah kaya klei (A0K3), perlakuan 1,5% (b/b) kalium humat dan 0% (b/b) tanah&#13;
kaya klei (A3K0), serta perlakuan kombinasi 1,5% (b/b) kalium humat dan 20%&#13;
(b/b) tanah kaya klei (A3K3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan&#13;
ameliorasi berpengaruh nyata terhadap peningkatan kulitas sifat fisikokimia tanah&#13;
serta erapan K dan P. Perlakuan A0K3 nyata meningkatkan nilai klei dan KTK&#13;
tanah dibandingkan tailing kontrol. Perlakuan A3K0 nyata meningkatkan nilai pH&#13;
tanah, karbon (C)-organik dan KTK tanah dibandingkan tailing kontrol. Perlakuan&#13;
A3K3 nyata meningkatkan nilai klei, pH tanah C-organik dan KTK. Erapan K tidak&#13;
dapat disimulasikan dengan persamaan Langmuir akan tetapi dapat disimulasikan&#13;
dengan persamaan Freundlich. Perlakuan A0K3 menghasilkan konstanta kapasitas&#13;
erapan Freundlich (KF) 0,443 dan nilai n 0,744 yang lebih tinggi dibandingkan&#13;
perlakuan tailing kontrol (A0K0) yang memiliki nilai KF 0,047 dan n 0,468 walau&#13;
tidak nyata secara statistik. Erapan fosfor (P) dapat disimulasikan pada semua jenis&#13;
perlakuan dengan persamaan Langmuir ataupun Freundlich. Simulasi dengan&#13;
persamaan Langmuir menunjukkan bahwa perlakuan A0K3 dan A3K3 nyata secara&#13;
statistik meningkatkan nilai kapasitas erapan maksimum (b) dan energi ikatan&#13;
Langmuir (KL) dibandingkan perlakuan tailing kontrol. Perlakuan A0K3&#13;
menghasilkan nilai b dan KL yang paling tinggi yaitu, berturut-turut 250 (mg kg-1&#13;
)&#13;
dan 7,68 (L g-1&#13;
). Untuk perlakuan kombinasi kalium humat dan tanah kaya klei&#13;
(A3K3) memiliki nilai b yaitu, 194 (mg kg-1&#13;
) dan KL dengan nilai 3,07 (L g-1&#13;
) dan&#13;
perlakuan tailing kontrol (A0K0) mempuyai nilai b yaitu, 78,9 (mg kg-1&#13;
) dan nilai&#13;
KL sebesar 0,99 (L g&#13;
-1&#13;
). Hasil ini menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi kalium&#13;
humat dan tanah kaya klei meningkatkan pH tanah, C-organik tanah kadar klei&#13;
tanah, KTK tanah dan meningkatkan kemampuan retensi tanah terhadap P. Untuk&#13;
erapan atau retensi K pemberian tanah klei tanpa kombinasi dengan kalium humat&#13;
memberikan hasil yang lebih baik.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Laju Dekomposisi Bahan Organik dalam Teknik Lubang Resapan Berbasis Biopori (LRB) dan Pengaruhnya terhadap Jumlah Air yang Dapat Diserap</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178629" rel="alternate"/>
<author>
<name>ASYIFA, NURUL</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178629</id>
<updated>2026-08-14T04:52:04Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Laju Dekomposisi Bahan Organik dalam Teknik Lubang Resapan Berbasis Biopori (LRB) dan Pengaruhnya terhadap Jumlah Air yang Dapat Diserap
ASYIFA, NURUL
Air menjadi salah satu faktor pembatas pertumbuhan tanaman, terutama pada lahan pertanian yang mengandalkan curah hujan sebagai sumber utama air. Selain curah hujan, kemiringan lahan juga memengaruhi ketersediaan air, semakin besar kemiringan lahan semakin cepat air mengalir di permukaan tanah, sehingga volume air yang meresap ke dalam tanah semakin berkurang. Salah satu upaya menangani permasalahan ini yaitu dengan penerapan teknik lubang resapan berbasis biopori (LRB). LRB adalah lubang vertikal yang dibuat di dalam tanah dan diisi dengan bahan organik sehingga meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah dan meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui laju dekomposisi brangkasan jagung manis dan limbah sayuran dengan variasi kedalaman LRB terhadap beberapa sifat kimia bahan organik yaitu pH, EC, C-organik, N-total, basa-basa tersedia (K, Na, Ca dan Mg) serta laju aliran permukaan. Penelitian dilakukan di petak erosi menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal yaitu perbedaan jenis bahan organik dan variasi kedalaman LRB, terdiri dari lima perlakuan masing-masing diulang sebanyak tiga kali yaitu pemberian bahan organik brangkasan jagung manis dan limbah sayuran dengan variasi kedalaman LRB 50 cm dan 100 cm serta tanpa LRB sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis bahan organik pada 4 MSA (Minggu Setelah Aplikasi) berpengaruh nyata terhadap nilai rasio C/N, brangkasan jagung manis memiliki rasio C/N yang tinggi sedangkan limbah sayuran memiliki rasio C/N yang rendah. Perbedaan perlakuan bahan organik (brangkasan jagung manis dan sisa sayuran) ini juga menetralkan pH bahan organik, menurunkan nilai EC, Na dan Ca serta meningkatkan nilai K dan Mg bahan organik. Adapun variasi kedalaman LRB tidak berpengaruh nyata terhadap sifat kimia bahan organik. Perlakuan sisa sayuran pada kedalaman LRB 100 cm (BsD2) menjadi perlakuan yang memiliki resapan air tertinggi dengan rata-rata sebesar 1437,60 liter/petak dan volume resapan air ke dalam LRB tertinggi dengan rata-rata sebesar 3,03 liter/lubang.; Water is one of the factors limiting plant growth, especially on farmland that relies on rainfall as its primary water source. In addition to rainfall, the slope of the land also affects water availability, the steeper the slope, the faster water flows over the soil surface, resulting in a decrease in the volume of water that seeps into the soil. One approach to addressing this issue is the implementation of biopore-based infiltration pits (LRB). LRB consists of vertical holes dug into the soil and filled with organic matter, which enhances the activity of soil microorganisms and improves the soil’s ability to absorb water. This study was conducted to determine the decomposition rates of sweet corn stalks and vegetable waste at varying LRB depths, as well as their effects on several chemical properties of organic matter, namely pH, EC, organic carbon, total nitrogen, available bases (K, Na, Ca, and Mg), and surface runoff rate. The study was conducted on erosion plots using a single-factor randomized block design (RBD) with two factors: different types of organic matter and variations in LRB depth. It consisted of five treatments, each replicated three times: application of sweet corn stalks and vegetable waste with LRB depths of 50 cm and 100 cm, and a control treatment without LRB. The results of the study show that differences in the types of organic matter at 4 MSA (Weeks After Application) had a significant effect on the C/N ratio; sweet corn stalks had a high C/N ratio, while vegetable waste had a low C/N ratio. These differences in organic material treatments (sweet corn stalks and vegetable waste) also neutralized the pH of the organic material, reduced the EC, Na, and Ca values, and increased the K and Mg values of the organic material. Variations in LRB depth, however, had no significant effect on the chemical properties of the organic matter. The treatment using vegetable scraps at a depth of 100 cm in the LRB (BsD2) resulted in the highest water infiltration rate, averaging 1,437.60 liters per plot, and the highest volume of water infiltrated into the LRB, averaging 3.03 liters per hole.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
