<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Plant Protection</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118</id>
<updated>2026-07-18T23:01:02Z</updated>
<dc:date>2026-07-18T23:01:02Z</dc:date>
<entry>
<title>Pengetahuan dan Perilaku Petani Sayuran di Kabupaten Cianjur terhadap Residu Pestisida</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174900" rel="alternate"/>
<author>
<name>Derin, Ujang</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174900</id>
<updated>2026-07-16T22:57:03Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengetahuan dan Perilaku Petani Sayuran di Kabupaten Cianjur terhadap Residu Pestisida
Derin, Ujang
Hama dan penyakit tanaman menjadi salah satu masalah utama yang memengaruhi produktivitas sayuran. Penggunaan pestisida merupakan salah satu upaya yang paling umum dilakukan oleh petani dalam mengatasi masalah tersebut.  Namun, penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak penggunaan pestisida terhadap kualitas hasil panen adalah dengan menerapkan Pre-harvest interval (PHI) yang bermanfaat untuk mengurangi residu pestisida pada produk pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan perilaku petani tentang residu pestisida pada produk pertanian, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penerapan PHI, dan menganalisis residu pestisida pada produk pertanian dan botol kemasan pestisida. Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga September 2024 di Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Survei petani dilakukan secara langsung dengan mewawancarai 50 petani di tiga desa, yaitu Ciloto, Cimacan dan Sindanglaya. Sampel yang diuji di laboratorium diambil dari lahan petani yang telah diaplikasikan pestisida golongan organofosfat terakhir pada 7 hari sebelum panen dan residu pestisida pada kemasan setelah dibilas beberapa kali. Uji kandungan residu dilakukan di Laboratorium Saraswanti Indo Genetech (SIG). Hasil menunjukkan bahwa  residu yang terdapat pada sampel sayuran yang diuji di laboratorium berada di bawah batas maksimum residu Indonesia. Kandungan residu yang rendah sesuai dengan tingkat pemahaman petani terhadap residu pestisida dan penerapan PHI oleh petani.  Hasil pembilasan botol pestisida menunjukkan bahwa membilas botol dengan metode triple rinsing dapat mengurangi kandungan residu pestisida pada kemasan.; Plant pests and diseases are two of the main problems affecting vegetable productivity. The use of pesticides is one of the most common methods farmers use to overcome this problem. However, improper use of pesticides can cause negative impacts on humans and the environment health. One measure that can be taken to reduce the impact of pesticide use on crop quality is by the implementation of a pre-harvest interval (PHI), which helps reducing pesticide residues in agricultural products. This study aimed to determine the relationship between farmers knowledge and behavior regarding pesticide residues in agricultural products, identify the factors influencing the implementation of PHI, and analyze pesticide residues in agricultural products and pesticide containers. The study was conducted from June to September 2024 in Cipanas District, Cianjur Regency, West Java Province. A farmer survey was conducted through interviews with 50 farmers in three villages, namely Ciloto, Cimacan, and Sindanglaya. The samples tested in the laboratory were taken from farmers' fields where organophosphate pesticides had been applied for the last 7 days before harvest and pesticide residues on packaging after being rinsed several times. Residue content tests were carried out at the Saraswanti Indo Genetech (SIG) Laboratory, Bogor. The results showed that the residues found in the vegetable samples tested in the laboratory were below the Indonesian maximum residue limit. The low residue content was consistent with the farmers' level of understanding of pesticide residues and their implementation of the PHI. The results of rinsing the pesticide bottles showed that rinsing the bottles using the triple rinsing method could reduce the pesticide residue content on the packaging.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>EFEKTIVITAS EKSTRAK BUAH BINTARO (Cerbera manghas L.) MUDA DAN TUA TERHADAP MORTALITAS DAN AKTIVITAS MAKAN LARVA Crocidolomia pavonana</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174325" rel="alternate"/>
<author>
<name>Butar-butar, Bella Elisabeth</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174325</id>
<updated>2026-07-10T00:16:18Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">EFEKTIVITAS EKSTRAK BUAH BINTARO (Cerbera manghas L.) MUDA DAN TUA TERHADAP MORTALITAS DAN AKTIVITAS MAKAN LARVA Crocidolomia pavonana
Butar-butar, Bella Elisabeth
Crocidolomia pavonana merupakan hama utama pada tanaman kubis yang menyebabkan kerusakan serius dan kehilangan hasil panen. Buah bintaro (Cerbera manghas) mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan sebagai insektisida nabati ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas ekstrak buah bintaro muda dan tua terhadap larva C. pavonana menggunakan metode celup daun dan topikal, serta menilai aktivitas penghambatan makan. Ekstrak buah bintaro diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut heksana. Penelitian terdiri atas uji pendahuluan dan uji lanjutan menggunakan beberapa konsentrasi. Ekstrak buah muda diformulasikan menggunakan aseton dan diklorometana, sedangkan ekstrak buah tua hanya menggunakan aseton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak buah tua memiliki toksisitas lebih tinggi daripada ekstrak buah muda. Hasil uji pendahuluan menunjukkan ekstrak buah tua menghasilkan mortalitas tertinggi, yaitu 87,5% pada metode celup daun dan 90,0% pada metode topikal pada konsentrasi 8% pada 72 jam setelah perlakuan. Uji lanjutan menunjukkan nilai LC50 metode celup daun dan topikal berturut-turut sebesar 1,14 dan 1,33%. Penghambatan makan meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi uji, meskipun aktivitas antifeedant lemah. Tingginya mortalitas larva diduga berkaitan dengan adanya glikosida kardiak dalam buah bintaro tua. Ekstrak buah bintaro tua berpotensi sebagai insektisida nabati yang ramah lingkungan.; Crocidolomia pavonana is a major pest of cabbage, causing serious damage and significantly yield losses. Bintaro (Cerbera manghas) fruit contains various bioactive compounds with the potential to be developed as an environmentally friendly botanical insecticide. This study aimed to evaluate the effectiveness of young and mature bintaro fruit extracts against C. pavonana larvae using leaf-dipping and topical application methods, as well as to assess feeding inhibition activity. Bintaro fruit extracts were obtained by maceration using hexane as a solvent. The study consisted of preliminary and advanced tests using several extract concentrations. Young fruit extract was formulated with acetone and dichloromethane to obtain a homogeneous solution, whereas mature fruit extract was formulated with acetone only. The results showed that mature fruit extract exhibited higher toxicity than young fruit extract. The preliminary test showed that mature bintaro fruit extract resulted in the highest mortality, reaching 87.5% in the leaf-dipping method and 90.0% in the topical application method at an 8% concentration at 72 hours after treatment. The advanced test showed LC50 values for the leaf-dipping and topical application methods were 1.14 and 1.33%, respectively. Feeding inhibition increased with increasing the extract concentration, although the antifeedant activity was categorized as weak. High larval mortality was thought to be associated with toxic cardiac glycosides present in mature bintaro fruit. Mature bintaro fruit extract has the potential to be developed as an environmentally friendly botanical insecticide.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Uji Preferensi Makan dan Peracunan Sekunder Burung Hantu (Tyto alba) akibat Konsumsi Tikus Terpapar Kumatetralil</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174320" rel="alternate"/>
<author>
<name>MUKTI, GIGIH TRI JAYA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174320</id>
<updated>2026-07-10T07:25:41Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Uji Preferensi Makan dan Peracunan Sekunder Burung Hantu (Tyto alba) akibat Konsumsi Tikus Terpapar Kumatetralil
MUKTI, GIGIH TRI JAYA
Kumatetralil merupakan rodentisida antikoagulan yang digunakan dalam mengendalikan populasi tikus di pertanian. Kumatetralil berpotensi menimbulkan dampak toksik tidak langsung terhadap predator non-target seperti burung hantu (Tyto alba). Penelitian ini bertujuan mengkaji preferensi makan burung hantu terhadap jenis umpan yang berbeda dan potensi terjadinya peracunan sekunder setelah makan tikus yang telah mengonsumsi kumatetralil. Pengamatan uji preferensi makan dilakukan selama 7 hari, sedangkan peracunan sekunder selama 45 hari untuk mengevaluasi perilaku konsumsi, gejala klinis, dan perubahan makroskopis organ. Hasil uji preferensi makan T. alba lebih menyukai burung puyuh dan mencit dibandingkan ikan nila dan katak sawah. Peracunan sekunder pada T. alba mengalami gejala klinis berupa perdarahan dari lubang kumlah dan perubahan makroskopis organ vital. Kumatetralil menimbulkan peracunan sekunder yang fatal terhadap T. alba dengan rata-rata kematian 15,5 hari pada perlakuan setiap hari dan 17,5 hari pada perlakuan selang satu hari. Diperlukan penyesuaian dosis aplikasi, kadar bahan aktif, dan regulasi pengelolaan kumatetralil agar meminimalkan dampak toksik pada organisme non-target.; Coumatetralyl is an anticoagulant rodenticide widely used to control rodent populations in agricultural ecosystems. Coumatetralyl has the potential to cause indirect toxic effects on non-target predators such as barn owl (Tyto alba). This study aimed to evaluate the feeding preferences of T. alba toward different prey types and to assess the potential for secondary poisoning following the consumption of rats exposed to coumatetralyl. Feeding preference observations were conducted for seven days, while the secondary poisoning trial lasted for 45 days to evaluate feeding behavior, clinical signs of toxicity, and macroscopic changes in vital organs. The result of the preference test showed that T. alba preferred quail and mice compared to Nile tilapia and rice-field frogs. Secondary poisoning resulted in clinical manifestations characterized by hemorrhagic discharge from the oral cavity and macroscopic changes in vital organs. Coumatetralyl causes fatal secondary poisoning in T. alba with an average mortality of 15,5 days in daily treatment and 17,5 days in treatment every other day. It is necessary to adjust the application dose, active ingredient concentration, and coumatetralyl management regulations to minimize toxic effects on non-target organisms.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Arah Mata Angin, Budi Daya, dan Cuaca terhadap Intensitas Serangan Ceroplastes sp. di Tenjolaya, Kabupaten Bogor.</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174275" rel="alternate"/>
<author>
<name>Zahro, Nur Hidayatus</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174275</id>
<updated>2026-07-09T02:45:40Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Arah Mata Angin, Budi Daya, dan Cuaca terhadap Intensitas Serangan Ceroplastes sp. di Tenjolaya, Kabupaten Bogor.
Zahro, Nur Hidayatus
NUR HIDAYATUS ZAHRO Pengaruh Arah Angin, Budi daya, dan Cuaca terhadap Intensitas Serangan Ceroplastes sp. di Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Dibimbing oleh DEWI SARTIAMI dan RULY ANWAR.&#13;
Jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Namun, produktivitasnya dapat menurun akibat serangan hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas infestasi Ceroplastes sp. pada varietas jambu biji merah getas di Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Penelitian dilakukan pada lima petak lahan dengan metode purposive sampling. Observasi dilakukan berdasarkan tiga perlakuan, yaitu arah mata angin, praktik budidaya, dan faktor cuaca. Data dianalisis menggunakan ANOVA, uji Tukey, dan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah mata angin tidak berpengaruh signifikan terhadap intensitas infestasi Ceroplastes sp., sedangkan waktu observasi dan perbedaan kondisi lahan berpengaruh sangat signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh faktor cuaca praktik budidaya yang diterapkan oleh pemilik lahan.&#13;
&#13;
Kata kunci:  curah hujan, kelembapan, kutu tempurung, suhu, tingkat kerusakan; NUR HIDAYATUS ZAHRO. The Effect of Wind Direction, Cultivation, and Climate on the Intensity of Ceroplastes sp. Attacks in Tenjolaya, Bogor Regency.. Supervised by DEWI SARTIAMI dan RULY ANWAR. &#13;
Guava (Psidium guajava L.) is one of the horticultural commodities widely cultivated in Indonesia, particularly in West Java. However, its productivity can decline due to pest attacks. This study aimed to determine the intensity of Ceroplastes sp. infestation on red getas guava variety in Gunung Malang Village, Tenjolaya District, Bogor Regency. The research was conducted on five land plots using a purposive sampling method. Observations were carried out based on three treatments, namely cardinal directions, cultivation practices, and weather factors. The data were analyzed using ANOVA, Tukey’s test, and Pearson correlation. The results showed that cardinal directions did not significantly affect the intensity of Ceroplastes sp. infestation, whereas observation time and differences in land conditions had a highly significant effect. This was influenced by weather factors and cultivation practices applied by the landowners.&#13;
&#13;
Keywords: humidity, infestation severity, rainfall, temperature, wax scale insect.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
