<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Plant Protection</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118</id>
<updated>2026-08-12T17:05:52Z</updated>
<dc:date>2026-08-12T17:05:52Z</dc:date>
<entry>
<title>Pengembangan Kunci Identifikasi Multiakses Dan Akses Tunggal Kumbang Kotoran (Coleoptera: Scarabaeidae) Di Perkebunan Kelapa Sawit Riau</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178411" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fata, Muhammad Reza Emillul</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178411</id>
<updated>2026-08-12T04:41:33Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengembangan Kunci Identifikasi Multiakses Dan Akses Tunggal Kumbang Kotoran (Coleoptera: Scarabaeidae) Di Perkebunan Kelapa Sawit Riau
Fata, Muhammad Reza Emillul
Kumbang kotoran (Coleoptera: Scarabaeidae) berperan sebagai bioindikator kualitas habitat, dekomposer, dan penyebar biji. Tingginya keragaman spesies serta kemiripan karakter morfologi menyebabkan identifikasi spesies memerlukan kunci identifikasi yang andal. Hingga saat ini, identifikasi kumbang kotoran di perkebunan kelapa sawit umumnya masih menggunakan kunci dikotomus, sedangkan kunci identifikasi multiakses khusus untuk habitat tersebut belum tersedia. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kunci identifikasi multiakses dan akses tunggal berbasis Program Lucid, memvalidasi penggunaannya berdasarkan tingkat ketepatan identifikasi oleh pengguna non-ahli, mengimplementasikannya dalam media interaktif berbasis website, serta mengkarakterisasi keragaman kumbang kotoran di perkebunan kelapa sawit. Penelitian menggunakan koleksi spesimen dari PT SMART Tbk, Riau, yang dikumpulkan pada tahun 2016–2024. Karakter morfologi disusun ke dalam matriks karakter menggunakan Program Lucid untuk menghasilkan kunci identifikasi multiakses dan akses tunggal yang dilengkapi gambar karakter diagnostik, glosarium, ilustrasi morfologi, dan tautan referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kunci identifikasi berhasil dikembangkan dan diimplementasikan dalam media interaktif berbasis website. Keragaman kumbang kotoran terdiri atas 18 spesies, 6 genus, dan 2 subfamili yaitu Scarabaeinae dan Aphodiinae, genus Onthophagus memiliki jumlah spesies terbanyak serta Onthophagus obscurior memiliki kelimpahan tertinggi. Hasil validasi menunjukkan bahwa kunci identifikasi dapat digunakan oleh pengguna non-ahli berdasarkan tingkat ketepatan identifikasi.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Karakter Biologi Rhizoctonia theobromae dan Phytophthora palmivora Kakao Asal Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178341" rel="alternate"/>
<author>
<name>RAMADHAN, MUHAMMAD HAFIZT</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178341</id>
<updated>2026-08-12T02:44:50Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Karakter Biologi Rhizoctonia theobromae dan Phytophthora palmivora Kakao Asal Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah
RAMADHAN, MUHAMMAD HAFIZT
Penyakit mati pucuk dan busuk buah merupakan penyakit penting yang dapat menurunkan produktivitas tanaman kakao. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penyakit VSD dan busuk buah pada tanaman kakao di Kabupaten Sigi serta mengevaluasi hubungan kondisi lingkungan dan sensitivitas patogen terhadap fungisida berbahan aktif tembaga. Pengamatan perkembangan penyakit dilakukan selama enam minggu pada pertanaman kakao rakyat di Kecamatan Palolo. Identifikasi patogen dilakukan berdasarkan karakter morfologi dan molekuler, sedangkan sensitivitas fungisida diuji menggunakan metode poisoned food dan analisis probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit VSD dan busuk buah mengalami perkembangan selama periode pengamatan. Isolat busuk buah berhasil diidentifikasi sebagai Phytophthora palmivora, sedangkan isolat VSD secara morfologi mengarah pada genus Rhizoctonia, namun hasil analisis menunjukkan kemiripan dengan genus Diaporthe. Kelembapan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan VSD namun berkaitan perkembangan busuk buah. Keragaman kelembapan tidak memiliki dampak yang erat terhadap dua penyakit tersebut. Uji sensitivitas menunjukkan P. palmivora masih sensitif terhadap fungisida berbahan aktif tembaga, sedangkan isolat VSD memiliki sensitivitas lebih rendah dengan nilai EC50 sebesar 1416 ppm. Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi dasar dalam pengelolaan penyakit kakao melalui identifikasi patogen dan penggunaan fungisida yang sesuai.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Huanglongbing sebagai Penyakit Dominan Tanaman Jeruk di Bogor dan Diagnosisnya secara Molekuler</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178089" rel="alternate"/>
<author>
<name>SHALSABILA, NAYYA NAQIYYA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178089</id>
<updated>2026-08-10T20:58:47Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Huanglongbing sebagai Penyakit Dominan Tanaman Jeruk di Bogor dan Diagnosisnya secara Molekuler
SHALSABILA, NAYYA NAQIYYA
Jeruk merupakan salah satu komoditas utama yang dibudidayakan di Indonesia, dengan produksi nasional mencapai 2,4 juta ton pada tahun 2025. Produksi jeruk Indonesia tidak terlepas dari kendala masalah gangguan hama dan penyakit, termasuk penyakit Huanglongbing (HLB) atau citrus vein phloem degeneration (CVPD), dengan perkiraan kerugian setara 120 miliar rupiah per tahun. Agen penyebab HLB adalah Candidatus Liberibacter asiaticus (CLas) yang merupakan bakteri fastidious dan bersifat parasit obligat. Penelitian bertujuan untuk menilai intensitas penyakit HLB, mengevaluasi variasi pola gejala HLB pada daun, dan mendeteksi CLas sebagai agen penyebab di tiga lokasi pertanaman jeruk di Bogor. Lokasi pertanaman A menunjukkan insidensi (IP) = 100% dan severitas penyakit (SP) = 49,5% memberikan hasil deteksi positif PCR pada tiga contoh, pertanaman B dengan IP = 100% dan SP = 45,2% positif HLB pada semua contoh, dan pertanaman C dengan IP = 57,7% dan SP = 15,5% positif HLB pada enam contoh. Penyakit HLB di pertanaman menunjukkan pola spasial secara acak. Gejala penyakit yang ditemukan meliputi enam tipe yang semuanya berasosiasi dengan hasil deteksi PCR yang positif, sedangkan contoh tanpa gejala memberikan hasil negatif. Umur dan jenis tanaman jeruk tidak memberikan hubungan yang tegas dengan keberadaan patogen melalui deteksi molekuler. Agen penyebab huanglongbing dikonfirmasi melalui analisis PCR dan BLAST dari sekuens nukleotida gen RNA 16S parsial sebagai Ca. L. asiaticus, menunjukkan kemiripan 100% dengan aksesi yang berasal dari India (PV185788.1, MH473390.1, MH473395.1, PV185787.1), dan Trinidad dan Tobago (MN575695.1).; Oranges are one of the main commodities cultivated in Indonesia, with national production reaching 2.4 million tons by 2025. Indonesia's orange production is hampered by pest and disease problems, including huanglongbing (HLB) or citrus vein phloem degeneration (CVPD), which is estimated to cause losses equivalent to 120 billion rupiah per year. The causative agent of HLB is Candidatus Liberibacter asiaticus (CLas) is an obligate fastidious parasitic bacterium. The study aimed to assess the intensity of Huanglongbing disease, evaluate variations in HLB symptom patterns on leaves, and detect CLas as the causative agent in three citrus orchards in Bogor. Orchard A showed a disease incidence (DI) of 100% and severity (DS) of 49.5%, yielding positive PCR results in three samples. Orchard B, with an DI of 100% and DS of 45.2%, positive HLB in all samples, and Orchard C, with an DI of 57.7% and DS of 15.5%, positive HLB in six samples. The disease symptoms found included six types, all of which were associated with positive PCR detection results, while symptomatic leaf samples yielded negative. The age and type of citrus plant did not provide a clear relationship with the presence of the pathogen through molecular detection. The causative agent of huanglongbing was confirmed through PCR and BLAST analysis of partial 16S RNA gene nucleotide sequences as Ca. L. asiaticus, showed 100% similarity to accessions originating from India (PV185788.1, MH473390.1, MH473395.1, PV185787.1), and Trinidad and Tobago (MN575695.1).
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Eksplorasi Parasitoid Telur Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae) pada Pertanaman Bawang Merah di Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) dan Nganjuk (Jawa Timur)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177922" rel="alternate"/>
<author>
<name>Tarawita, Ligar</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177922</id>
<updated>2026-08-09T10:39:19Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Eksplorasi Parasitoid Telur Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae) pada Pertanaman Bawang Merah di Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) dan Nganjuk (Jawa Timur)
Tarawita, Ligar
Keberadaan parasitoid telur Spodoptera exigua sebagai agen pengendali hayati yang potensial pada agroekosistem bawang merah di sentra produksi nasional belum dikaji sejak lebih dari dua dekade silam, sementara kondisi agroekosistem terus mengalami perubahan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keberadaan parasitoid telur Spodoptera exigua pada agroekosistem bawang merah di Kabupaten Brebes dan Nganjuk. Kelompok telur S. exigua dikumpulkan secara menyeluruh dari lima lahan yang tersebar di tiga lokasi berbeda di Kabupaten Brebes dan Nganjuk dengan menggunakan bedeng sebagai unit ulangan pengamatan. Selanjutnya, telur dipelihara hingga menetas dan parasitoid telur yang muncul diidentifikasi. Setelah itu, dilakukan perhitungan terhadap tingkat parasitisasi telur. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dengan mengaitkan hasil wawancara petani dan kondisi agroekosistem. Selain itu, dilakukan perbandingan antar lahan di Kabupaten Nganjuk menggunakan uji Mann-Whitney U (a=0,05). Hasil penelitian menunjukkan keberadaan parasitoid Trichogramma pada salah satu lahan di Kabupaten Brebes dengan tingkat parasitisasi 2,59% serta parasitoid Telenomus pada kedua lahan di Kabupaten Nganjuk dengan tingkat parasitisasi 2,81% dan 4,14%. Rendahnya tingkat parasitisasi di seluruh lahan diduga terjadi akibat tingginya penggunaan pestisida sintetis yang berlangsung sejak lama serta keterbatasan sumber daya ekologis. Pendekatan konservasi dan augmentasi dapat menjadi upaya meningkatkan populasi dan memperkuat peran parasitoid sebagai pengendali hayati di agroekosistem bawang merah.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
